Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENYEMPURNAAN I

Penganjian Kain Poliester Menggunakan Variasi Kanji PVA, Tapioka, dan CMC

Nama Anggota : Insan Nur Alam S 15020068

Maria Siahaan 15020070

M.Bintang S 15020074

Yulia Anggraeni 15020090

Dinosius Daniel 15020122

Dosen : Wulan S.ST.M.T.

Asisten Dosen : - Yayu E. Y,. S.S.T

- Destriana

POLITEKNIK STTT BANDUNG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Praktikum Penyempurnaan bahan tekstil atau sering disebut dengan proses
Finishing, merupakan salah satu proses basah tekstil yang bertujuan untuk
menambah daya jual dipasaran. Proses tersebut dilakukan sesuai dengan tujuan
akhir pemakain produk yang diinginkan. Proses penyempurnaan tekstil sangat
beragam. Salah satunya adalah Penyempurnaan Penganjian.
Penyempurnaan penganjian ini bertujuan diantaranya sebagai berikut, untuk
memperbaiki kenampakan kain, memperbaiki kekakuan dan untuk menambah
kekuatan tarik pada bahan. Bahan yang diberikan penyempurnaan penganjian
diantaranya kain kapas, serat campuran poliester-kapas serta poliester-rayon.
Sementara kanji yang biasa dipakai untuk proses ini adalah kanji Tapioka ,kanji PVA
dan CMC.
Proses penyempurnaan penganjian ini diberikan variasi terhadap resep
penggunaan kanjinya. Yaitu menggunakan kanji Tapioka, kanji PVA, dan campuran
keduanya. Proses tersebut sangat sederhana, setelah pembuatan larutan kanji
sesuai dengan resep dan variasi bahan dimasukkan kedalam larutan tersebut secara
merata kemudian di pad dan dilakukan proses pemanasan awal. Lalu pada akhirnya
bahan disetrika. Setelah proses penyempurnaan penganjian selesai dilakukan
evaluasi terhadap bahan hasil penganjian tersebut. Pengujian yang dilakukan adalah
perhitungan besar penambahan berat bahan, dan pengujian nilai kekakuan pada
bahan hasil resep penggunaan kanji yang bervariasi.

1.2 Maksud
Untuk mengetahui dan memahami bagaimana cara proses penyempurnaan
penganjian dengan menggunakan kanji PVA terhadap kain polyester.

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana hasil dari evaluasi kain polyester setelah
dilakukan proses penganjian
Untuk memberikan lapisan film yang rata pada kain yang akan memperbaiki.
kenampakkan, memperbaiki kekuatan tarik dan menambah kekakuan bahan.
1.4 Hipotesa
Proses penyempurnaan penganjian bertujuan untuk memperbaiki kenampakan
kain,memperbaiki kekakuan, dan menambah kekuatan tarik pada bahan. Bahan
yang diberikan penyempurnaan penganjian diantaranya kain polyester. Sementara
kanji yang kami gunakan adalah kanji PVA.
Variasi yang digunakan oleh kelompok kami perbedaan penggunaan zat pelapis
polyester, dari kanji PVA, kanji tapioca, dan CMC. Perbedaan penggunaan zat kanji
mempengaruhi kekauan hasil kain polyester. PVA ditujukan untuk penganjian
benang-benang lusi yang terbuat dari serat-serat sintetik. PVA banyak digunakan
pada industri tekstil karena sifat fleksibilitas dan ketahanan terhadap abrasinya
berkat gugus-gugus OHnya yang membentuk dwikutub.
BAB II

TEORI DASAR

2.1 Serat poliester

Poliester pertama kali mulai dikembangkan oleh J.R. Whinfield dan J.T. Dickson,
yaitu para ahli dari perusahaan Inggris Calico Printers Association Ltd . Pembuatan serat
poliester yang pertama kali dilakukan pada tahun 1944, kemudian pada tahun 1952 perusahaan ICI
(Imperial Chemical Industries, Ltd ) di Inggris mulai memproduksi serat poliester secara
komersial. Oleh Imperial chemical Industries,Ltd 9ICI), hasil penelitian J.R

Whinfield dan J.T Dickson ini diberi nama Terylene. Menyusul kemudian pada tahun 1953, E.I Du pont
de Numours di Amerika Serikat memberi nama Dacron. Kedua
poliester tersebut memiliki senyawa kimia pembentuk yang sama yaitu etilena tereftalat.
Proses polimerisasi asam tereftalat dan etilena glikol dilakukan dalam kondisi suhu tinggi dan ruang
hampa.

Gambar 2.I. Penampang serat polyester


Sumber : academia.edu.com/laporanpenganjian

Susunan rantai molekul Poliester terbentuk secara kondensasi menghasilkan polietena


tereftalat yang merupakan satu ester dari komponen dasar asam dan alkohol, yaitu asam tereftalat
dan etilena glikol. Ini merupakan pengembangan pembuatan poliester yang pada
mulanya terbuat dari dimetil teraftalat sebagai asamnya dan etilena glikol sebagai
alkoholnya dan dikenal dengan nama Terylene. Penggunaan asam tereftalat sebagai bahan
baku poliester menyebabkan beberapa perbedaan sifat poliester, diantaranya titik leleh
poliester yang dihasilkan lebih tinggi dan hampir larut dalam glikol. Pembuatan poliester dari
asam tereftalat lebih menguntungkan dibandingkan poliester dari metil tereftalat. Serat
poliester dibuat dengan cara pemintalan leleh. Serpihan-serpihan poliester dilelehkan dan
dilewatkan melalui lubang spineret yang mempunyai bentuk dan diameter tertentu.
Filamen yang terjadi ditarik dalam keadaan panas sampai lima kali panjang semula, sedangkan
untuk filamen yang kasar ditarik dalam keadaan dingin. Untuk memperoleh benang stapel,
dapat dilakukan dengan mengeritingkan filamen dan dipotong-potong dengan panjang tertentu. Sifat
kimia poliester adalah sebagai berikut :
1. Larut dalam meta-kresol panas, asam trifluoro asetat-orto-klorofenol.
2. Tahan terhadap zat-zat oksidator, alkohol, keton dan sabun dan zat zat
pencucian kering.
3. Tahan terhadap asam lemah, meskipun pada suhu didih dan tahan terhadap asam kuat dalam
keadaan dingin.
4. Tahan terhadap alkali lemah, tetapi kurang tahan terhadap alkali kuat.
5. Mempunyai kritalinitas yang tinggi, bersifat hidrofob dan tidak mengandung gugus
gugus aktif sehingga sukar untuk dicelup.

Sifat fisika Poliester Sifat fisika merupakan sifat yang berhubungan dengan kukuatan,
sifat fisika poliester meliputi :
1. Kekuatan dan mulur Serat poliester mempunyai kekuatan dan mulur yang tinggi,
yang dalam keadaan kering dan basah tidak mengalami perubahan. Kekuatan
serat poliester sebesar 4,0 -6,9 g/d dan mulur poliester sebesar 11 20%.
2. Elastisitas Poliester mempunyai elastisitas yang baik sehingga kain poliester bersifat tahan
kusut. Jika benang pliester ditarik kemudian dilepaskan pemulihan yang terjadi dalam 1 menit
adalah :
Penarikan 2% . Pemulihan 97%
Penarikan 4% . Pemulihan 90%
Penarikan 8% . Pemulihan 80%
3. Moisture regain Moisture regain poliester pada kondisi standar (270C dan RH 65%)
sebesar 0,4%. Dalam RH 100% moisture regainnya hanya 0,6 0,8%.
4. Berat jenis Berat jenis poliester adalah 1,38 gram/cm3
5. Titik leleh Poliester tidak akan menguning pada suhu tinggi. Poliester mulai meleleh pada
suhu 250 2900C dan terbakar, namun tidak meneruskan nyala api.
6. Ketahanan sinar Poliester berkurang kekuatannya dalam penyinaran yang cukup
lama, tetapi ketahanan sinarnya masih lebih baik dibandingkan dengan serat lain.
7. Mengkeret Serat poliester jika direndam dalam air mendidih akan mengkeret sampai 7%.
Beberapa zat organik seperti aseton, kloroform, trikloretilen pada titik didihnya
akan mengakibatkan serat poliester mengkeret.
8. Morfologi Penampang melintang serat poliester berbentuk bulat dan di dalamnya
terdapat bintik-bintik, sedangkan penampang membujurnya berbentuk silinder
dinding kulit yang tebal 9. Pembakaran Poliester meskipun dapat dibakar tetapi nyala api
tidak dapat menjalar karena serat yang terbakar akan meleleh sehingga tidak meneruskan
pembakaran.

2.2 Kanji

Zat kanji / pati (starch) atau bahasa latinnya amylum, yang berarti tepung halus,
adalah suatu substansi glukosida. Zat kanji tersebut terdiri dari butiran-butiran sferik
yang kecil sekali dengan ukuran dan bentuk beragam.

Konstitusi kimia zat kanji sangat beragam. Bila diberi air panas kemudian didinginkan
maka zat-zat kanji tersebut akan membentuk pasta atau gel, yang terjadi oleh adanya
hidrasi, penggembungan dan akhirnya perekahan butir zat kanji tersebut. Zat kanji
merupakan campuran dua polisakarida, yaitu amilosa dan amilopektin yang berasal dari
penambahan molekul-molekul glukosa. Air panas dapat menyebabkan zat kanji terpisah
menjadi dua bagian, yaitu yang bersifat tidak larut (amilopektin) dan yang larut dalam air
(amilosa). Rantai molekul amilosa berbentuk linier dengan ikatan pada 1,4 (1,4
linkage), sedangkan amilopektin juga linier tapi dengan ikatan pada posisi 1,6.

Kesesuaian suatu zat kanji untuk penganjian (juga dalam penghilangan kanji) sangat
bergantung pada jenis kanji tersebut berasal dan kandungan amilosa dan
amilopektinnya. Zat kanji dengan amilopektin tinggi dapat menimbulkan masalah pada
proses penghilangan kanjinya, bahkan dengan enzim amylase sekalipun.

2.2.1. Macam-Macam Zat Kanji

Berdasarkan komposisi kimia maka kanji dapat digolongkan sebagai berikut :

Kanji/pati.
Kanji yang dimodifikasi.
Turunan-turunan selulosa, CMC.
Kanji dengan bahan dasar PVA (polivinilalcohol).
Poliakrilat (PAC).
Galaktomanan (GM).
Kanji-kanji polyester (PES).
Homopolimer dan kopolimer dari vinil, akrilat dan stirena.
Lilin dan lemak.
Paraffin, silicon, pelembut, fungisida dan lain-lain.

2.2.2. Kanji Tapioka

Larutan tapioka berbentuk gel yang transparan dan memberikan hasil akhir yang
tipis, mengkilap dan fleksibel. Dalam penggunaannya sering dicampur dengan kanji lain
untuk mendapatkan modifikasi sifat-sifat yang diinginkan, umpama dengan kanji kentang
akan mendapatkan hasil akhir dengan pegangan yang fleksibel dan keras.

2.2.3. Kanji Polivinilalkohol (PVA)

Polivinilalkohol atau PVA tidak dibuat dari monomer, tetapi dari polimerisasi
monomer vinil asetat. Bila reaksi hidrolisanya dikendalikan maka akan diperoleh PVA
yang terhidrolisis penuh. Bila reaksi hidrolisanya tidak terkendali maka akan diperoleh
PVA yang terhidrolisa sebagian. PVA yang terhidrolisa penuh masih mengandung 1 - 2
% gugus eter, dan jumlah tersebut menunjukan banyaknya (OCOCH3) yang diganti
oleh gugus OH. PVA yang terhidrolisa sebagian, misalnya PVA 88% lebih mudah larut
dalam air. Semakin panjang rantai makromolekulnya makin tinggi viskositasnya.

PVA terutama ditujukan untuk penganjian benag-benang lusi yang terbuat dari serat-
serat sintetik, disamping juga untuk benang-benang kapas dan rayon viskosa. PVA
adalah polimer yang dibuat dari asetilena dan asam asetat. Asetilena dibuat dari kalsium
karbida yang berasal dari batu kapur dengan mereaksikannya dalam air. Reaksi
pembuatan asetilena dapat dituliskan sebagai berikut:

CaCO3 CaO + CO2


3 C + CaO CaC2 + CO
CaC2 + 2 H2O Ca(OH)2 + C2H2

Sebagian asetilena dirubah menjadi asam asetat dengan penambahan air dan oksidasi :

C2H2 + H2O + O CH3COOH

Asam asetat kemudian direaksikan dengan asetilena dengan menggunakan seng asetat
sebagai katalisator dan terbentuk vinil asetat :
CH3COOH + C2H2 Seng Asetat
CH3COCN:CH2

Vinil asetat dilarutkan dalam methanol dan dipolimerisasikan menjadi polivinil asetat
dengan penambahan katalisator peroksida:

n CH3COOH : CH2 (-CH2CH-OCOCH3) n

Kemudian kedalam larutan methanol ditambahkan natrium hidroksida untuk


menyabunkan polivinil asetat menjadi polivinil alcohol yang mengendap.

(-CH2CH-OCOCH3) n + n NaOH (CH2CH-OH)n + CH3COONa

PVA kemudian dijadikan bentuk bubuk dan dikeringkan. Bubuk berwarna putih, tetapi
jika dilarutkan didalam air akan menjadi larutan tembus cahaya.PVA banyak digunakan
pada industri tekstil karena sifat fleksibilitas dan ketahanan terhadap abrasinya berkat
gugus-gugus OH-nya yang membentuk dwikutub.Pemanasan akan menyebabkan
kristalisasi kanji dimana bentuk terkristalisasi ini membuatnya menjadi tidak mudah larut
dalam air. Oleh sebab itu, perlakuan panas pada suhu tinggi sebelum penghilangan
kanji harus dihindari. Prinsip penghilangan kanji adalah :

PEMBASAHAN PENGGEMBUNGAN PENDISPERSIAN

(Wetting) (Swelling) (Dispersion)

Makin tinggi suhu makin baik untuk kondisi penghilangan kanji. Penghilangan PVA juga
akan lebih baik dengan penambahan surfaktan dan pelunak air. Dengan adanya zat-zat
tersebut serat menjadi lebih mudah terbasahi dan ini akan menyebabkan
penggembungan kanji sehingga akan terdispersi dengan mudah.PVA tidak dapat di-
biodegradasi tetapi dapat dengan mudah didaur-ulang dengan ultrafiksasi. Sifat lain
yang kurang menguntungkan adalah sangat peka terhadap elektrolit dan pH alkali.

2.2.4 CMC
CMC adalah ester polimer selulosa yang larut dalam air dibuat dengan
mereaksikan Natrium Monoklorasetat dengan selulosa basa (Fardiaz, 1987). Menurut
Winarno (1991), Natrium karboxymethyl selulosa merupakan turunan selulosa yang
digunakan secara luas oleh industri makanan adalah garam Na karboxyl methyl selulosa
murni kemudian ditambahkan Na kloroasetat untuk mendapatkan tekstur yang baik.
Selain itu juga digunakan untuk mencegah terjadinya retrogradasi dan sineresis pada
bahan makanan. Adapun reaksi pembuatan CMC adalah sebagai berikut:
ROH + NaOH R-Ona + HOH
R-ONa + Cl CH2COONa RCH2COONa + NaCl

Carboxy Methyl Cellulose (CMC) merupakan turunan selulosa yang mudah larut
dalam air. Oleh karena itu CMC mudah dihidrolisis menjadi gulagula sederhana oleh
enzim selulase dan selanjutnya difermentasi menjadi etanol oleh bakteri (Masfufatun,
2010).
Carboxy Methyl Cellulose (CMC) adalah turunan dari selulosa dan ini sering
dipakai dalam industri makanan untuk mendapatkan tekstur yang baik. Fungsi CMC ada
beberapa terpenting, yaitu sebagai pengental, stabilisator, pembentuk gel,sebagai
pengemulsi, dan dalam beberapa hal dapat merekatkan penyebaran antibiotik (Winarno,
1985).
Sebagai pengemulsi, CMC sangat baik digunakan untuk memperbaiki
kenampakan tekstur. Sebagai pengental, CMC mampu mengikat air sehingga molekul-
molekul air terperangkap dalam struktur gel yang dibentuk oleh CMC (Manifie, 1989).
Untuk industri-industri makanan biasanya digunakan sukrosa dalam bentuk
kristal halus atau kasar dan dalam jumlah yang banyak dipergunakan dalam bentuk
cairan sukrosa (sirup). Pada pembuatan sirup gula pasir (sukrosa) dilarutkan dalam air
dan dipanaskan, sebagian sukrosa akan terurai menjadi glukosa dan sukrosa yang
disebut gula invert (Winarno, 1995).

2.2.5. Penyempurnaan Kanji pada Kain

Tujuan penyempurnaan kanji pada kain adalah untuk memberkan lapisan film yang rata
pada kain, menyempurnakan kenampakan, menstabilkan dimensi dan menambah berat
kain. Hasil penganjian sangat dipengaruhi oleh viskositas larutan kanji dan penetrasinya
pada serat.

2.2.6. Fiksasi Zat Kanji

Penyempurnaan menggunakan campuran zat kanji merupakan pelapisan serat


dengan lapisan film pelindung yang pada akhirnya lapisan tersebut harus mudah
dihilangkan pada saat proses penghilangan kanji. Oleh sebab itu, suatu ikatan yang
terlalu kuat antara serat dan zat kanji bukan merupakan hal yang utama. Lebih disukai
ikatan tersebut berupa ikatan hidrogen atau van der waals atau jenis ikatan
elektrostatik yang relatif lemah, dan sifatnya fisik. Fiksasi tersebut dapat berbentuk
gaya-gaya dwikutub atau elektrolit. Suatu dwikutub listrik terdiri dari dua pusat dengan
muatan sama tapi berlawanan. + dan -, terpisahkan dengan jarak yang kecil sekali.
Banyak molekul-molekul yang memperlihatkan sifat-sifat dwikutub karena bentuk
geometri dan distribusi dari muatan dalam ikatan intra-atomnya. Hal ini terlihat jelas
pada molekul air yang memperlihatkan karakter dwikutub yang kuat sekali.

Pada penganjian H +

R O H . O

- + H

Pada penghilangan kanji

Substansi kimia yang dikenal dengan elektrolit merupakan komposit ionic (asam, basa,
garam) dan disebut kation bila ionnya positif dan anion bila ionnya negatif. Zat-zat
tersebut bersama dalam bentuk terlarut dan mampu berlaku sebagai medium konduktif.
Hal penting pada elaktrolit adalah kelarutannya yang cepat berkat afinitasnya yang tinggi
terhadap air, sehingga mudah dihilangkan dalam pencucian.

Untuk kopolimer-kopolimer tertentu, pertambahan sifat kelarutannya diperoleh dengan


konjugasi dua gugusan, yaitu gugus dwikutub dan elektrolit yang berada pada molekul
yang sama.
BAB III

PROSEDUR

3.1 Alat dan Bahan.

3.1.1. Alat :

Baker gelas 500 ml


Pengaduk
Mesin stenter
Setrika
Mesin padder
Timbangan digital
Kasa

3.1.2. Bahan :

Kain Poliester
Kanji PVA 5%
Tapioka 5%
CMC 5%

3.2 Resep

Variabel Kelompok 6
PVA 5%
Tapioka 5%
CMC 5%
Suhu Padding 700C
WPU 60%

15
Tapioka =100 100 = 5

15
CMC= 100 = 5
100

15
PVA= 100 = 5
100

1
Pembasah= 1000
100 = 0,1 /
3.3 Fungsi Zat

PVA : Untuk memperbaiki kenampakan kain,memperbaiki kekakuan dan untuk


menambah kekuatan tarik pada bahan
Tapioka : Untuk memperbaiki kenampakan kain,memperbaiki kekakuan dan
untuk menambah kekuatan tarik pada bahan
CMC : Untuk memperbaiki kenampakan tekstur, mengikat air sehingga molekul-
molekul air terperangkap dalam struktur gel yang dibentuk oleh CMC

3.4 Diagram Alir

Timbang Kain

Persiapan Bahan

Pemanasan larutan
kanji (60-70oC)

Padding WPU 60%

Dyeing 100oC
(3 menit)
Setrika
(120-140oC)

Evaluasi
(Berat,Kekakuan,%Pe
nambahan tarik

BAB IV

DATA PERCOBAAN

Tabel berat bahan kain

Kain Contoh Uji Berat Kain (gram)


1 (Tapioka) 15,0
2 (CMC) 15,3
3 (PVA) 15,5

4.1 Kain yang telah di evaluasi

No. RESEP KAIN


1. Tapioka
2. PVC

3. CMC

4.2 Hasil perhitungan evaluasi

Tabel evaluasi kekuatan Tarik dan mulur

CMC PVA TAPIOKA


Kekuatan Tarik Mulur Kekuatan Tarik Mulur Kekuatan Tarik Mulur (%)
(kg) (%) (kg) (%) (kg)
22 44 28 46,6 16,5 33,5
32,5 34,6 29 45,3 33 36
26,5 33,3 27,5 44 17,5 29,3
Rata-Rata = 27 37,3 28,16 45,3 22,33 32,93

Tabel evaluasi kelengkungan

Kain Berat kain 10 Lengkungan W


Contoh Uji 10 (gram)
1 (Tapioka) 1,3 2,1 100 100
W= 1010
1,3 = 130

2 (CMC) 1,2 3,3 100 100


W= 1010
1,2 = 120

3 (PVA) 1,3 2,8 100 100


W= 1010
1,3 = 130

Tabel kekauan

Kain contoh uji Kekakuan kain contoh uji


1 (Tapioka) 0,1 130 (0,5 2,1) = 13,65 mg/cm
2 (CMC) 0,1 120 (0,5 3,3) = 19,80 mg/cm
3 (PVA) 0,1 130 (0,5 2,8) = 18,20 mg/cm

Tabel penambahan berat

Kain Contoh Uji %Penambahan Berat

1 (Tapioka) 15,3 15,0


100% = 1,96%
15,3
2 (CMC) 15,5 15,3
100% = 1,29%
15,5

3 (PVA) 15,9 15,5


100% = 2,51%
15,9
Grafik kekuatan Tarik

50

45 45.3

40
37.3
35
32.93
30
28.16
27
25
22.33
20 19.8
18.2
15
13.65
10

5
2.51
1.96
1.29
0
kekuatan tarik mulur kekauan penambahan berat
CMC PVA tapioka
BAB V
DISKUSI DAN KESIMPULAN

5.1. DISKUSI
Pada praktikum kali ini, dilakukan proses penyempurnaan penganjian pada kain
poliester dengan variasi kanji yang berbeda. Kain tersebut adalah kain yang belum
dilakukan proses pencelupan atau pencapan (kain masih putih) sehingga pori
pori serat belum tertutup zat zat apapun.
1. Penganjian dengan Tapioka
Larutan tapioka berbentuk gel yang transparan dan memberikan hasil finis yang tipis,
mengkilap, dan fleksibel pada serat, Namun kanji ini memiliki kelemahan yaitu
stabilitas yang rendah, sangat tergantung pada perubahan temperature dan cepat
menggumpal (proses gellatinisasi), dan juga lapisan film nya kurang kuat serta jika
dilakukan penghilangan kanji akan sangat sulit melihat dari daya rekat yang dihasilkan
sangat tinggi. Penambahan kekuatan tariknya pun bisa dibilang lebih rendah
dibandingkan dengan jenis kanji PVA dan CMC, sehingga bisa disimpulkan bahwa
penggunaan kanji tapioca dengan jenis serat polyester kurang cocok, melihat dari
syarat proses sizing dianggap baik apabila:
- Mampu meningkatkan tahan gesek benang, walau pada mesin dengan rpm tinggi
- Mampu meningkatkan kekuatan tarik benang (standart: meningkat 75%)
- Mampu mempertahankan kelembutan (soft surface) dan fleksibilitas.
- Mampu mempertahankan daya mulur
- Mampu menyimpan kandungan air yang cukup untuk mencegah static electricity
- Mampu dihilangkan kanjinya dengan mudah
- Mampu bertahan dari serangan jamur dan cendawan.

2. Penganjian dengan PVA dan CMC


PVA merupakan kanji sintetik yang bersifat mudah larut dalam air, viskositas
rendah, kekuatan filmnya tinggi sehingga membuat penambahan kekuatan
tariknya pun tinggi. Kanji ini pun mudah dihilangkan dengan non-ionik surfaktan ,
proses oksidasi akan menyebabkan gugusan alkohol berubah menjadi gugus
aldehid, pada pembentukan gugus aldehid terjadi pemutusan rantai molekul
sehingga size PVA mudah larut dalam pencucian. Sifat dari kanji PVA hampir
sama dengan kanji CMC sehingga jika dilhat dari grafiknya sendiri pun perbedaan
kekuatan tariknya lebih baik dibandingkan dengan tapioca
5.2. KESIMPULAN
Dari hasil evaluasi yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa pentingnya
pemilihan jenis kanji yang tepat terhadap serat tertentu.Dari data tersebut
menunjukan nilai dari penambahan kekuatan tarik berbanding lurus dengan
mulur kainnya. Dan juga penggunaan kanji PVA lebih baik digunakan untuk
kain polyester dibandingkan dengan tapioca dan CMC.
DAFTAR PUSTAKA

Miwitiingsun.blogspot.co.id/2013/01/sizing-process-proses-penganjian.html?m=1
(4 April 2016 21:20 WIB)
S. Hendroyantopo, dkk. 1998. Teknologi Penyempurnaan. Bandung : Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil.
Soeparman, Surdia, Budiarti, Hendrodyantopo. 1973. Teknologi
Penyempurnaan. Bandung, ITT.
Soeparman, Dkk. 1977. Teknologi Penyempurnaan Tekstil. Bandung : Institut
Teknologi Tekstil.

Anda mungkin juga menyukai