Anda di halaman 1dari 9

1.

Pengertian Pengambilan Keputusan


Salah satu mendefinisikan pengertian pengambilan ke putusan pada dasarnya
adalah pemilihan dari berbagai alternatif tindakan yang mungkin dipilih yang
prosesnya melalui mekanisme tertentu, dengan harapan akan menghasilkan suatu
keputusan yang terbaik.
Penyusunan model keputusan adalah suatu cara untuk mengembangkan
hubungan-hubungan yang logis yang mendasari persoalan suatu keputusan ke dalam
suatu model matematis, yang mencerminkan hubungan yang terjadi diantara faktor-
faktor yang terlibat. Pada umumnya para penulis sependapat bahwa kata keputusan
(decision) berarti pilihan (choice), yaitu pilihan dari dua atau lebih kemungkinan.
Pengambilan keputusan hampir tidak merupakan pilihan antara yang benar
hampir benar dan yang mungkin salah. Keputusan yang diambil biasanya
dilakukan berdasarkan pertimbangan situasional, bahwa keputusan tersebut adalah
keputusan terbaik. Keputusan pada kaitannya dengan proses adalah keadaan terakhir
dari suatu proses yang lebih dinamis yang diberi label pengambilan keputusan.
Keputusan dipandang sebagai proses karena terdiri atas seri aktivitas yang berkaitan
dan tidak hanya dianggap sebagai tindakan bijaksana. Dengan kata lain keputusana
merupakan suatu kesimpulan yang dicapai sesudah dilakukan pertimbangan, yang
terjadi setelah satu kemugkinan, sementara yang lain dikesampingkan. Pertimbangan
ialah menganalisis beberapa kemungkinan atau alternalif, lalu memilih satu
diantaranya.
Pengambilan keputusan merupakan inti kepemimpinan karena pengambilan
keputusan adalah kegiatan intelektual yang secara sadar dilakukan oleh seseorang
sehingga lebih menjamin bahwa hal-hal yang dihadapi oleh suatu organisasi telah
diperhitungkan sebelumnya dan dengan demikian terhindar dari berbagai resiko yang
tidak diinginkan. Analisa keputusan akan sangat bermanfaat dalam menghadapi
masalah yang yang sifatnya adalah:
1. Unik, yaitu bahwa masalah tersebut tidak mempunyai preseden dan dimasa yang
akan datang mungkin tidak akan berulang kembali.
2. Tak pasti, yaitu bahwa faktor-faktor yang diharapkan mempengaruhi jawaban
memiliki kadar pengetahuan atau informasi yang rendah.
3. Jangka panjang, yaitu bahwa implikasinya memiliki jangkauan yang cukup jauh ke
depan dan melibatkan sumber-sumber usaha yang penting.
4. Kompleks, yaitu dalam pengertian bahwa preferensi pengambilan keputusan atas
resiko adan waktu memiliki peranan yang besar.
2. Analisa Keputusan
Melihat sifat permaslahan yang akan memberikan efektifitas yang tinggi pada
pemakaian analisa keputusan, maka nampak bahwa analisa keputusan memiliki ciri-
ciri sebagai berikut:
1. Adanya pengambilan yang belum dapat memutuskan tindakan yang sebaiknya
diambil dalam menghadapi suatu permasalahan.
2. Penstrukturan anilisis, dimana dijabarkan semua alternatif yang dapat
diamabilnya, segala informasi yang dapat dikaitkan pada setiap alternatif, dan
eksperimentasi yang mungkin dapat dilaksanakannya.
3. Pengambil keputusan menjajahi besaran kemungkinan yang mencerminkan
ketidakpastian untuk dipasangkan pada diagram keputusan.
4. Merupakan preferensi pengambil keputusan terhadap resiko dalam bentuk
utility, sehingga ekspektasi utility tersebut dapat menjadi dasar kriteria
penetapan tindakan yang optimal.
5. Memilih tindakan terbaik yang akan memaksimumkan harapan yang
dinyatakan dengan ekspektasi utility. Ini merupakan dasar strategi bagi
pengambil keputusan pada saat tertentu dalam seluruh permasalahan.
3. Proses Pengambilan Keputusan
Apabila memperhatikan konsekuensi-konsekuensi yang muncul sebagai
akibat dari suatu keputusan, hampir dapat dikatakan bahwa tidakakan ada satupun
yang dapat menyenangkan setiap orang. Satu keputusan hanya bisa memuaskan
sekelompok atau sebagian besar orang, selalu ada saja kelompok atau pihak yang
merasa dirugikan dengan keputusan itu. Oleh karena itu, apabila kerugian yang
dirasakan itu kurang objektif, tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk melakukan
reaksi negatif terhadap keputusan itu. Pada sisi lain, suatu keputusan untuk satu
kelompok tertentu dapat pula mempunyai dampak bagi sebagaian besar anggota
organisasi. Itulah sebabnya para ahli teori pengambilan keputusan mengingatkan agar
sebelumnya keputusan itu ditetapkan, diperlukan pertimbangan yang menyeluruh
tentang kemungkinan konsekuensi yang bisa timbul.
Simon mengajukan model yang menggambarkan proses pengambilan keputusan.
Proses ini terdiri dari tiga fase yaitu :
1. Intellegence
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendekatan dari lingkup
problematika serta proses pengambilan masalah. Data masuk diperoleh, di
proses dan diuji dalam rangka mengidentifikasikan masalah.
2. Design
Tahap ini merupakan proses menemukan, mengembangkan dan menganalisis
alternative tindakan yang bisa dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk
mengerti masalah, menurunkan solusi dan menguji kelayakan solusi.
3. Choice
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif
tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian
diimplementasikan dalam proses pengambilan keputusan.
4. Implementation
Meskipun implementasi termasuk tahap ketiga, namun ada bebarapa pihak
berpendapat bahwa tahap ini perlu dipandang sebagai bagian yang terpisah
guna maenggambarkan hubungan antar fase secara lebih kompetitif.
Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi dan lazim kita praktekan dalam
kehidupan sehari-hari. Untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dari keputusan
tersebut maka dikembangkan suatu sistematika yang dikenal dengan Analisis
Keputusan.
Analisis keputusan menurut Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto dapat juga
dipandang saebagai suatu gabungan dari suatu ilmu yang telah ada sebelumnya yaitu
Teori Keputusan dan Metodelogi Pemodelan Sistem, yaitu sebagai berikut:
1. Teori kaputusan adalah teori yang mempelajari bagaimana sikap pikir yang
rasioanal dalam situasi yang amat sederhana, tetapi mengandung
ketidakpastian. Karena itu maka peranannya dalam menghadapi situasi yang
kompleks adalah sangat kecil.
2. Metodologi Pemodelan Sistem yaitu mempelajari bagaimana memperlakukan
aspek dinamis dan kompleks dari suatu lingkungan. Jadi analisis keputusan
merupakan gabungan dari keduanya, mengkombinasikan kemampuan untuk
menangani sistem yang kompleks dan dinamis dan kemampuan untuk
menangani ketidakpastian, dalam suatu disiplin keilmuan.
Analisais keputusan pada dasarnya adalah suatu prosedur logis kuantikatif
yang tidak hanya menerangkan mengenai proses pengambilan keputusan tetapi juga
merupakan sutau cara untuk membuat keputusan. Dengan kata lain cara untuk
membuat suatu model keputusan yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaaan
dan pengujian.
4. Ciri Analisa Keputusan
Melihat sifat permasalahan yang akan memberikan efektivitas tinggi pada
pemakaian Analisis Keputusan, terdapat beberapa ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pengambil keputusan belum dapat memutuskan tindakan yang sebaiknya diambil
dalam menghadapi suatu masalah.
2. Penstrukturan analisis, di mana dijabarkan semua alternatif yang dapat diambil,
segala informasi yang dapat dikaitkan pada setiap alternatif, dan eksperimentasi
yang mungkin dapat dilaksanakannya. Hal tersebut kesemuanya dituangkan
dalam diagram keputusan yang menggambarkan seluruh perspektif
permasalahannya.
3. Pengambil Keputusan menjajaki besaran kemungkinan yang mencerminkan
ketidakpastian untuk dipasangkan pada diagram keputusan. Penjajakan
kemungkinan ini dilaksanakan dengan menggunakan informasi yang ada,
pengungkapan kepercayaan berdasarkan pandangan para ahli, dan pertimbangan
subjektif dari pengambil keputusan.
4. Mengungkapkan preferensi pengambil keputusan terhadap risiko dalam bentuk
utility sehingga ekspektasi utility tersebut dapat menjadi dasar kriteria penetapan
tindakan yang optimal.
5. Memilih tindakan terbaik yang akan dapat memaksimalkan ekspektasi yang
dinyatakan dengan ekspektasi utility. Ini merupakan dasar strategi bagi pengambil
keputusan pada saat-saat tertentu dalam seluruh perspektif permasalahan.
Seluruh sistematika dalam pendekatan permasalahan akan terisi penuh dengan
ciri tersebut. Ciri tersebutlah yang membedakannya dengan metoda keputusan
tradisional atau intuitif. Di sini seluruh proses di-dekomposisikan sehingga dapat
tampak jelas konsistensi-nya, sehingga jawaban yang rasional dapat diperoleh.
Dengan proses tersebut tampak juga bahwa dengan makin banyaknya
alternatif yang dapat ditetapkan maka akan makin baik pula hasil yang dapat
diperoleh. Demikian pula halnya dengan kriteria yang terkait dengan setiap alternatif.
Semakin banyak kriterianya, dalam pengertian makin komprehensif dalam mewakili
kenyataan, maka makin baik pula representasinya terhadap permasalahan yang
dihadapi.
Kemampuan manusia dalam menghimpun alternatif dan menghayati kriteria
yang banyak inilah yang selama ini membatasi efektivitas pengambilan keputusan.
Manusia pada umumnya terbatas kemampuannya. Dalam keterbatasan inilah
seseorang bergerak untuk mencipta, mengkaji, dan memilih, walaupun melalui
analisis keputusan, seseorang tetap mencoba untuk mendesak keterbatasan ini.
Hal di atas adalah tersis yang dikenal dengan rasionalitas yang terbatas dari
manusia yang melahirkan pendekatan deskriptif dalam pengambilan keputusan.
Pendekatan tersebut berusaha mencari jawaban keputusan dengan mengikuti perilaku
manusia yang sebenarnya dalam menghadapi masalah keputusan.
Dalam mengambil keputusan sesorang mengambil posisi yang mengikuti
suatu norma, yaitu: lebih menguntungkan lebih baik sehingga yang lebih
menguntungkan itulah yang akan memberiarah bagi pemilihan keputusan terbaik.
Pendekatan ini yang lazim dikenal sebagai pendekatan normatif.
5. Perbedaan Pengambilan keputusan dengan Analisis Keputusan

No Pengambilan Keputusan Analisis Keputusan


1 Diprogram berdasarkan kebiasaan Diprogram dengan teknik riset
operasi
2 pengambilan keputusan yang pengambilan keputusan yang
didasarkan pada intuisi (perasaan) didasarkan pada perhitungan
matematis dengan statistik dan
penggunaan instrumen modern
seperti komputer, dengan
pengetahuan bisnis modern.
3 Keputusan dari kegiatan-kegiatan Keputusan dari kegiatan-kegiatan
rutin berupa prosesdur-prosedur berulang-ulang yang diolah secara
pengoperasian standar elektronik
4 Struktur organisasi pengharapan Struktur organisasi pengharapan
umum system tujuan saluran-saluran khusus system tujuan saluran-
informasi yang disusun dengan baik saluran informasi yang disusun
dengan baik
5 Kebijaksanaan instuisi dan kreatifitas Kebijaksanaan pengolahan data
lapangan
6 Pengambilan keputusan berdasarkan Pengambila keputusan berdasarkan
data yang diperoleh dari coba-coba hasil data yang diperoleh dilapangan
atau hipotesa secara actual
7 Kebijaksanaan disusun tidak sehat Kebijaksanaan disusun dengan sehat
dan jelas
8 Ditangani dengan proses pemecahan Ditangani dengan proses pemecahan
masalah umum masalah yang khusus dan dominan
9 Dalam pengembangan alternative Dalam pengembangan alternative
usaha-usaha para pengambil usaha-usaha para pengambil
keputusan tidak dapat melakukan keputusan dapat memungkinkn
pencarian secara luas dalam berbagai pencarian lebih luas dalam berbagai
bidang fungsional organisasi bidang fungsional organisasi
10 Efisien bila keputusan harus dibuat Pembuatan keputusan kelompok
secara cepat. adalah tidak efisien bila keputusan
harus dibuat secara cepat.
11 Berdasarkan pertimbangan nilai dari Berdasarkan pertimbangan nilai dari
waktu sebagai dari salah satu sumber waktu sebagai dari salah satu sumber
daya organisasi, pengambilan daya organisasi, pengambilan
keputusan sangat memakan biaya keputusan sangat memakan biaya
yang minim. yang besar.
12 Keputusan dari berbagai kasus dapat Dalam pemilihan alternatif, pihak
merupakan hasil kompromi atau kelompok pengambil keputusan
bukan sepenuhnya keputusan dari lebih dapat menerima resiko
pihak yang bersangkutan atau hanya dibanding pembuatan keputusan
dari atasan. individual(atasan).
6. Persamaan Pengambilan Keputusan secara Intuisi dan Analisis
Keputusan
No Pengambilan Keputusan secara Intuisi dan Analisis Keputusan
1 Proses pengambilan keputusan tidak bisa dilihat sebagai suatu tindakan
tunggal dan tidak sebagai suatu tindakan yang Seragam yang berlaku untuk
semua keadaan serta dapat digunakan oleh pengambil keputusan yang
berbeda dengan tingkat efektifitas yang sama. Proses pengambilan keputusan
terdiri dari berbagai ragam keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh
dari pengalaman dalam kehidupan berorganisasi.
2 proses pengambilan keputusan menyangkut dengan naluri, daya pikir, dan
serangkaian metode intuitif yang keseluruhannya dirangkum yang menjadi
suatu kreatifitas (pendekatan holistik).
3 Mengambil suatu tindakan dapat ditentukan secara pasti, kapan pemecahan
berakhir dan proses pengambilan keputusan dimulai.
4 Pengambilan keputusan memperhitungkan probabilitas (kemungkinan)
keberhasilan atau kekurang-berhasilan pelaksanaan suatu keputusan.
5 Seorang manajer atau pengambil keputusan harus memiliki pengetahuan
yang memadai tentang Informatika untuk pengambilan keputusan yang
efektif serta harus menuntut agar tersedia baginya informasi yang memenuhi
persyaratan kemutakhiran, kelengkapan, dapat dipercaya dan disajikan dalam
bentuk yang tepat.
6 Untuk mengkomprehensifkan persoalan, dalam menentukan sejumlah
kriteria perlu mengusahakan agar sejumlah kriterianya sedikit mungkin.

7 Memiliki proses memilih suatu alternatif craa bertindak dengan metode yang
efisien sesuai situasi.
8 Sama-sama memiliki fungsi untuk menemukan dan menyelesaikan masalah
yang ada pada organisasi maupun individu.
9 Sama-sama memiliki tingkat keberhasilan yang belum pasti.
10 Dalam sistem pengambilan keputusan baik keputusan secara intuisi maupun
analisis sama-sama membutuhkan data untuk menentukan suatu keputusan
yang akan diambil seperti data yang akan diambil dari hasil penelitian
ataupun data pengalaman pribadi.
11 Smaa-sama dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan secara intuisi
ataupun analisis sering digunakan secara simultan sehingga saling
melengkapi, walaupun setelah keputusan tersebut diambil para pengambil
keputusan berupaya untuk mengemas keputusan tersebut dalam bentuk
analisis dengan maksud agar dapat diakuntailitasikan dan dijelaskan
mengapa keputusna tersebut diambil.
12 Pengambilan keputusan secara intuisi dan analisis tidak memiliki batasan
yang tegas, dimana pengambilan keputusna yang dilakukan oleh seorang
individu sangat dimungkinkan mengandung ciri-ciri dan kedua gaya
pengambilan keputusna tersebut.
STUDY KASUS

Tuan Anton seorang pengusaha pabrik peralatan elektronik berminat untuk


menambah jenis produk yang diproduksi. Untuk maksud tersebut hingga saat ini
terdapat dua pilihan. Pilihan pertama adalah produk audio. Meskipun teknologi yang
diperlukan bagi pembuatan produk Audio belum tersedia, tatapi dia yakin bahwa staff
engineering yang ada akan mampu menguasai teknologi tesebut. Dengan
mempertimbangkan berbagai hal tersebut maka dapat ditetapkan bahwa kemungkinan
untuk berhasilnya usaha tersebut adalah 0,5, dengan nilai Rp 2 milyar dan sebaliknya
rugi Rp 200 juta. Produk yang ke dua adalah produk TV, untuk produk ini tidak dapat
dibutuhkan teknologi baru, namun demikian dirasakan bahwa masih ada
kemungkinan untuk gagal, yaitu sebesar 0,2, dengan nilai kerugian Rp 20 juta, dan
sebaliknya Rp 800 juta.