Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TEKANAN DARAH

HEMODIALISIS PADA KLIEN GAGAL GINJAL KRONIK (STUDI


KASUS DI RS TELOGOREJO SEMARANG)
Rika Lolyta *)., Ismonah **)., Achmad Solechan ***)

*) Alumni Program Studi S1Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang


**) Dosen Program Studi S1 Studi S1Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
***) Dosen Program Studi Sistem Informasi STIMIK ProVisi Semarang

ABSTRAK
Gagal Ginjal Kronik (GGK) kini telah menjadi persoalan serius kesehatan masyarakat di dunia.
GGK sering menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya pada kardiovaskuler. Hipertensi
merupakan salah satu penyakit kardiovaskuler yang sering menyebabkan mortalitas pada klien
GGK yang menjalani cuci darah (hemodialisis). Pada tahun 2010 di Indonesia terdapat sekitar
220.000 klien yang menjalani hemodialisis dan kemungkinan mortalitas akibat gangguan
kardiovaskuler hampir 40%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap tekanan darah hemodialisis pada klien dengan gagal ginjal kronik di RS
Telogorejo Semarang. Desain penelitian ini adalah explanatory, jumlah sampel 48 responden
dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara usia, jenis kelamin, penggunaan obat antihipertensi, dan UFR dengan tekanan
darah klien yang menjalani hemodialisis (p>0,05). Sedangkan untuk riwayat keluarga, diet dan
IDWG memiliki pengaruh yang signifikan dengan tekanan darah klien yang menjalani
hemodialisis (p<0,05). Dari ketiga variabel yang signifikan tersebut yang mempunyai hubungan
paling kuat adalah diet, dengan hasil B pada regresi logistik (B = 2.495). Rekomedasi hasil
penelitian ini adalah diharapkan klien dapat memperhatikan diet baik makanan maupun
minuman agar tidak terjadi pertambahan berat badan lebih dari yang diharapkan sehingga tidak
terjadi komplikasi pada kardiovaskuler.

Kata Kunci: GGK, Tekanan Darah, Hemodialisis

ABSTRACT
Chronic Renal Failure (CRF) now has become a serious problem for peoples health in the
world. CRF often causes various complications, one of them is cardiovascular. Hypertension is
one of the cardiovascular disease that often causes mortality for CRF clients who undergo
hemodialysis. In 2010, there were about 220.000 clients in Indonesia who did hemodialysis and
probably the mortality happened because of cardiovascular problem was about 40%. This
research is aimed to analyze factors influencing hemodialysis blood pressure to the clients who
suffer from chronic renal failure in Telogorejo Hospital Semarang. The design of this research is
explanatory, with the total number of 40 respondents using purposive sampling technique. The
result of the research shows that there is no significant effect between age, sex, the use of anti
hypertension drug, and UFR with the clients blood pressure who undergo hemodialysis
(p>0.05). Whereas for family history, diet and IDWG, they have significant effects to the
clients blood pressure who undergo hemodialysis (p<0.05).From these three significant
variables, diet has the strongest relationship, with the result B in logistic regression (B = 2.495).
This research recommends that clients should pay attention to the diet, both for their food and
drink so that there will be no more weight gained so that there will be no complication to the
cardiovascular.

Key words: CRF, Blood Pressure, Hemodialysis

-1-
PENDAHULUAN
Sebagaimana diketahui jumlah penduduk Hal ini menyebabkan tubuh dipenuhi
di Indonesia adalah yang kelima terbesar dengan air dan racun sehingga timbul
di dunia. Dengan pergeseran pola gejala seperti mual, muntah dan sesak
kependudukan ini bergeser pula pola di napas yang memerlukan hemodialisis
dalam masyarakat dan penyakit, salah darah sesegera mungkin.
satunya adalah penyakit tidak menular
(Baraas, et al., 1996, hlm.3). Salah satu Dalam kepustakaan dikenal macam-
jenis penyakit tidak menular yaitu macam dialisis seperti dialisis
penyakit gagal ginjal. perikardial, dialisis pleural, dialisis
gastrointestinal, dialisis peritoneal, dan
Menurut proses terjadinya penyakit, hemodialisis (Sukandar, 2006, hlm.107).
gagal ginjal dibagi menjadi dua bagian Hemodialisis merupakan suatu proses
yaitu gagal ginjal kronik dan gagal ginjal yang digunakan pada klien dalam
akut. Gagal Ginjal Kronik (GGK) keadaan sakit akut dan memerlukan
merupakan gangguan fungsi renal yang terapi dialisis jangka pendek (beberapa
progresif dan irreversible dimana hari hingga beberapa minggu) atau klien
kemampuan tubuh manusis gagal untuk dengan penyakit ginjal stadium akhir
mempertahankan metabolisme, dan (End Stadium Renal Disease, ESRD)
keseimbangan cairan dan elektrolit, yang memerlukan terapi jangka panjang
sehingga menyebabkan uremia (retensi atau permanen (Suharyanto, 2009,
urea dan sampah nitrogen lain dalam hlm.202).
darah) (Smeltzer, 2001, hlm.1448). Pada
suatu derajat tertentu, memerlukan terapi Penelitian terbaru telah memberitakan,
pengganti ginjal yang tetap, berupa penyakit kardiovaskuler merupakan
dialisis atau transplantasi ginjal (Suwitra, faktor risiko kematian akibat penyakit
dalam Sudoyo, 2006, hlm.570). GGK, diperkirakan 10 sampai 30 kali
lebih tinggi pada klien hemodialisis
Menurut World Health Organization daripada di populasi umum (Bahous, et
(WHO) tahun 2008 dan Global Burden al., 2006, hlm.220). Hipertensi
of Disease (GDB), penyakit ginjal merupakan salah satu penyakit
menyebabkan 163.275 kematian setiap kardiovaskuler yang sering menyebabkan
tahunnya (WHO, 2008). Berdasarkan mortalitas pada klien GGK yang
hasil studi dokumentasi dari bagian menjalani hemodialisis (Sukandar, 2006,
pencatatan dan pelaporan di Renal Unit hlm.225).
RS Telogorejo Semarang, tercatat selama
kurun waktu bulan Januari sampai Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
dengan Juni 2011, klien yang dirawat darah persisten dimana tekanan
dengan GGK dan perlu menjalani proses sistoliknya di atas 140 mmHg dan
hemodialisis mencapai 92 orang (RS tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg
Telogorejo, 2011) (Smeltzer, 2001, hlm.896). Sebagian
besar hipertensi pada penyakit GGK
Gangguan ginjal yang telah berada pada disebabkan hipervolemia akibat retensi
tahap berat (faal ginjal tidak lebih dari 5 natrium dan air. Hipertensi seperti itu
ml/menit/1,73 m2) ditunjukkan dengan biasanya memberikan respon terhadap
ketidakmampuan ginjal membuang sisa- restriksi natrium dan pengendalian
sisa zat metabolisme dari dalam tubuh.
-2-
volume tubuh melalui hemodialisis METODE PENELITIAN
(OCallagnan, 2007, hlm.94). Penelitian ini termasuk jenis penelitian
explanatory, yaitu suatu penelitian yang
Penelitian ini didukung oleh penelitian menjelaskan hubungan kausal antara
yang dilakukan oleh Rajiv Agarwal variabel-variabel melalui pengujian
(2010, hlm.762), menunjukkan hipotesis yang berdasarkan kepada
pengukuran tekanan darah sebelum dan pengembangan konsep dan
sesudah hemodialisis tidak terlalu penghimpunan data (Singarimbun, 1995,
disetujui oleh orang-orang yang berada hlm.114). Untuk mencapai tujuan dalam
di unit hemodialisis, serta tidak dipahami penelitian ini maka peneliti
dengan baik. Di antara 326 klien menggunakan uji analitik dengan regresi
hemodialisis jangka panjang, tekanan logistik (Sastroasmoro, 2008, hlm.270).
darah diukur selama selang intradialisis,
sebelum dan setelah hemodialisis lebih Populasi adalah seluruh subyek atau data
dari 2 minggu Selama tindak lanjut dari dengan karakteristik tertentu yang akan
32 bulan (SD 20), 102 klien meninggal diteliti (Nursalam, 2008, hlm.236).
(31%), menghasilkan data kasar. Dengan Populasi studi ini meliputi semua klien
uji analisis multivariat menunjukkan GGK yang menjalani hemodialisis di RS
peningkatan kuartil tekanan darah Telogorejo Semarang. Sampel yang
sistolik rawat jalan dan rumah digunakan dalam penelitian ini adalah
dihubungkan dengan semua penyebab klien yang diteliti dan dianggap mewakili
kematian. Mortalitas terendah ketika seluruh populasi (sesuai kriteria).
tekanan darah sistolik rumah adalah Populasi klien GGK yang menjalani
antara 120-130 mmHg dan tekanan darah hemodialisis di RS Telogorejo Semarang
sistolik rawat jalan adalah antara 110 pada tahun 2011 yaitu 92 orang. Dari
hingga 120 mmHg. Pencatatan tekanan jumlah populasi tersebut diambil sampel
darah sebelum dan sesudah dialisis tidak sebanyak 48 orang yang didapatkan dari
signifikan secara statistik (Probability perhitungan menggunakan rumus Slovin
value (P value) 0,17 untuk predialisis, (Notoatmodjo, 2005, hal 92).
dan P value 0,997 untuk postdialisis)
dalam memprediksi kematian (rasio Teknik pengambilan sampel pada
kemungkinan uji, P value 0,05). Oleh penelitian ini adalah purposive sampling,
karena itu, manajemen hipertensi pada yaitu suatu teknik penetapan sampel
klien ini harus fokus pada rekaman. dengan cara memilih sampel di antara
populasi sesuai dengan kriteria inklusi
Faktor-faktor yang dianalisis dalam dan eksklusi yang telah ditetapkan oleh
penelitian ini, antara lain: peneliti, sehingga sampel tersebut dapat
1. Usia mewakili karakteristik populasi yang
2. Jenis Kelamin telah dikenal sebelumnya (Nursalam,
3. Riwayat Keluarga 2008, hlm.94).
4. Diet
5. Penggunaan Obat Antihipertensi Alat pengumpulan data yang digunakan
6. Intradyalitic Weight Gain (IDWG) dalam penelitian ini adalah kuesioner.
7. Ultrafiltrasi Rate (UFR) Pengumpulan data dilakukan dengan
datang ke klien GGK yang menjalani
hemodialisis yang sesuai dengan kriteria
inklusi dan eksklusi, serta melakukan
-3-
wawancara menggunakan kuesioner. Tidak
29 60.4 5 10.4 34 70.8
Memiliki
Sebelum pengisian kuesioner, peneliti Memiliki 6 12.5 8 16.7 14 29.2
menjelaskan dahulu tentang tujuan, Diet
manfaat, peran serta responden, dan hak- Tidak
31 64.6 8 16.7 39 81.2
Melakukan
hak responden yang akan dilindungi oleh Melakukan 4 8.3 5 10.4 9 18.8
peneliti, setelah itu responden diminta Antihiperten
untuk menandatangani lembar si
Tidak Rutin 15 31.2 3 6.2 18 37.5
persetujuan yang menyatakan bersedia Rutin 20 41.7 10 20.8 30 62.5
menjadi responden dalam penelitian ini. IDWG
Setelah menandatangani lembar Tidak Lebih
20 41.7 3 6.2 23 47.9
dari 5%
persetujuan, peneliti menjelaskan kepada Lebih dari
15 31.2 10 20.8 25 52.1
responden tentang bagaimana cara untuk 5%
mengisi kuesioner dan memberikan UFR
<10
pengarahan apabila responden tidak 8 16.7 4 8.3 12 25
ml/kg/jam
mengerti tentang maksud pertanyaan. 10-13 ml/kg/jam 9 18.8 3 6.2 12 25
>13
Peneliti juga melakukan observasi ml/kg/jam 18 37.5 6 12.5 24 50
tentang tekanan darah, IDWG, dan UFR
klien baik secara langsung maupun Tabel 2. Rangkuman Hasil Analisis
melalui status pasien. Multivariat
Variabel B Sig Hasil
Penelitian ini dilakukan di RS Telogorejo Tidak
Usia .082 0.880
Semarang. Pengambilan data dilakukan Signifikan
Tidak
pada November-Desember 2011. Jenis Kelamin -.576 0.580
Signifikan
Riwayat
1.767 0.048 Signifikan
Keluarga
HASIL PENELITIAN Diet 2.495 0.038 Signifikan
Faktor-faktor yang dianalisis antara lain Natrium 3.379 0.003 Signifikan
Tidak
umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, Protein -.955 0.319
Signifikan
diet, penggunaan obat antihipertensi, Kalium 3.049 0.016 Signifikan
Intradyalitic Weight Gain (IDWG), dan Tidak
Cairan -1.089 0.361
Signifikan
kecepatan ultrafiltrasi (ultrafiltrasi rate, Antihipertensi .828 0.408
Tidak
UFR). Signifikan
IDWG 2.160 0.049 Signifikan
Tidak
UFR -.514 0.411
Tabel 1. Rangkuman Hasil Analisis Signifikan
Constant -2.975 0.312
Bivariat
Tidak Terjadi
*Berpengaruh signifikan apabila p<0,05
Terjadi Peningka-
Variabel Peningkatan tan Total
Tekanan Tekanan
Hasil analisis multivariat menunjukkan
Darah Darah ada 3 (tiga) variabel bebas yang memiliki
n % n % n % pengaruh signifikan terhadap tekanan
Usia
30-39 2 4.2 0 0 2 4.2 darah hemodialisis pada klien dengan
40-49 9 18.8 5 10.4 14 29.2 GGK. Tiga variabel tersebut terlihat pada
50-59 17 35.4 5 10.4 22 45.8 tabel 2 di atas.
>60 7 14.6 3 6.2 10 20.8
Jenis
Kelamin PEMBAHASAN
Perempuan 8 16.7 6 12.5 14 29.2 Hasil analisis multivariat menunjukkan
Laki-laki 27 56.2 7 14.6 34 70.8
Riwayat bahwa riwayat keluarga, diet, dan IDWG
Keluarga memiliki pengaruh yang signifikan

-4-
terhadap tekanan darah hemodialisis sehingga tekanan darah akan naik
pada klien dengan GGK. (Almatsier, 2001, hlm.20-22).
Selain natrium, kalium juga memiliki
Variabel riwayat keluarga menunjukkan kontribusi besar pada responden GGK
nilai koefisien positif sebesar 1,767 yang menjalani hemodialisis. Salah satu
dengan probabilitas variabel sebesar komplikasi yang paling serius pada
0,048. Mekanisme penyakit genetik, responden hemodialisis uremia adalah
dapat melibatkan sejumlah tipe dari hiperkalemia. Hiperkalemi (kadar kalium
mutasi deoxyribonucleic acid (DNA), darah yang tinggi) adalah suatu keadaan
salah satunya yaitu penyusunan kembali. dimana konsentrasi kalium darah lebih
Suatu penyusunan kembali yang tak dari 5 mEq/L darah. Bila kalium serum
lazim terjadi pada suatu sindroma mencapai kadar sekitar 7 mEq/L, dapat
hipertensi yang dapat diobati dengan terjadi disritmia yang serius dan juga
deksametason. Pada sindroma ini, henti jantung. Karena alasan ini, jantung
promotor untuk suatu gen yang biasanya responden harus dipantau terus untuk
diekspresikan dalam zona fasikulata mendeteksi efek hiperkalemia (dan efek
adrenal telah disusun kembali untuk semua ion lain) terhadap konduksi
menghubungkannya dengan rangkaian jantung (Sukandar, 2006. hlm.20).
penyandi dari suatu gen yang biasanya
diekspresikan dalam zona glomerulosa
yang produknya mengubah kortikosteron Variabel IDWG menunjukkan nilai
menjadi aldosteron. Hal ini koefisien positif sebesar 2,160 dengan
menyebabkan produksi aldosteron yang probabilitas variabel sebesar 0,049.
berlebihan dalam zona fasikulata Kontrol volume yang buruk pada klien
sehingga menimbulkan hipertensi GGK dapat memperburuk hipertensi dan
dependen Andrenocorticotrophic Hormone mengakibatkan segudang efek yang
(ACTH) (Baxter, 1998, hlm.18). merugikan pada sistem kardiovaskular.
Awal risiko yang terjadi akibat
Variabel diet menunjukkan nilai kandungan natrium dan air yang
koefisien positif sebesar 2,495 dengan berlebihan dalam tubuh memperlihatkan
probabilitas variabel sebesar 0,038. bahwa pertambahan berat badan antara
tubuh memiliki mekanisme untuk hemodialisis lebih dari 4,8% (yaitu, 3,4
mengeluarkan kelebihan natrium, namun kg pada orang 70 kg), merupakan
karena tingginya garam yang diasup, cerminan dari natrium dan asupan air
ginjal menjadi kesulitan untuk yang berlebihan (National Kidney
mengeluarkannya. Akibatnya jumlah Foundation, 2006, 7).
natrium di dalam tubuh meningkat.
Padahal natrium memiliki sifat mengikat Berat kering didefinisikan sebagai berat
cairan (retensi cairan). Bila terlalu badan terendah responden yang dapat
banyak air keluar dari tubuh, volume ditoleransi tanpa gejala hipotensi, dapat
darah dan tekanan darah akan turun. Sel ditentukan secara akurat, namun metode
sel ginjal akan mengeluarkan enzim ini tidak tersedia dalam pengaturan klinis
renin. Renin mengaktifkan protein rumah sakit (misalnya, penggunaan
didalam darah yang dinamakan spektroskopi bioimpedance multi-
angiotensinogen ke dalam bentuk frekuensi). Sebaliknya, berat badan
aktifnya angiotensin. Angiotensin akan kering biasanya ditentukan secara klinis
mengecilkan diameter pembuluh darah dengan mengevaluasi tingkat tekanan
-5-
darah, sebagai bukti overload cairan. pada klien dengan gagal ginjal kronik
Perlu dicatat bahwa responden dapat yaitu diet, dengan hasil B pada
memiliki kelebihan cairan dalam tubuh regresi logistik (B = 2.495).
dengan ketiadaan bukti klinis, fenomena
tersebut yaitu "Silence Overhydration Berdasarkan hasil penelitian yang telah
(National Kidney Foundation, 2006, 7). dilakukan maka penulis mengusulkan
saran sebagai berikut:
SIMPULAN DAN SARAN 1. Bagi Pelayanan Kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah Setelah dilakukan penelitian terhadap
dilakukan pada 48 responden klien GGK tekanan darah pada klien GGK yang
yang menjalani hemodialisis di RS menjalani hemodialisis, diharapkan
Telogorejo Semarang disimpulkan para perawat lebih memperhatikan
sebagai berikut: mengenai diet klien yang akan
1. Variabel usia menunjukkan nilai berimplikasi kepada IDWG klien
koefisien positif sebesar 0,082 serta ada atau tidaknya riwayat
dengan probabilitas variabel sebesar keluarga yang menderita hipertensi.
0,880 di atas signifikansi 0,05 (5%). Sehingga akan dapat tercapai berat
2. Variabel jenis kelamin menunjukkan kering, dan mengurangi morbiditas
nilai koefisien negatif sebesar 0,576 serta mortalitas klien akibat penyakit
dengan probabilitas variabel sebesar kardiovaskuler. Perawat juga perlu
0,580 di atas signifikansi 0,05 (5%). memberikan pendidikan kesehatan
3. Variabel riwayat keluarga mengenai diet bagi penderita GGK
menunjukkan nilai koefisien positif secara menyeluruh agar klien dapat
sebesar 1,767 dengan probabilitas memilih makanan atau minuman
variabel sebesar 0,048 di bawah yang dapat dikonsumsi serta takaran
signifikansi 0,05 (5%). yang diperbolehkan.
4. Variabel diet menunjukkan nilai 2. Bagi Institusi Pendidikan
koefisien positif sebesar 2,495 Penelitian ini dapat digunakan
dengan probabilitas variabel sebesar sebagai masukan bagi institusi
0,038 di bawah signifikansi 0,05 pendidikan dan menambahkannya
(5%). sebagai materi dalam perkuliahan
5. Variabel penggunaan obat tentang hemodialisis.
antihipertensi menunjukkan nilai 3. Bagi Penelitian Selanjutnya
koefisien positif sebesar 0,828 Untuk penelitian selanjutnya agar
dengan probabilitas variabel sebesar merencanakan pengambilan sampel
0,408 di atas signifikansi 0,05 (5%). lebih besar. Penambahan faktor
6. Variabel IDWG menunjukkan nilai seperti penyakit yang mendasari,
koefisien positif sebesar 2,160 volume plasma, dan pemeriksaan
dengan probabilitas variabel sebesar penunjang lainnya dapat digunakan
0,049 di bawah signifikansi 0,05 untuk memberikan hasil yang
(5%). maksimal bagi penelitian selanjutnya.
7. Variabel UFR menunjukkan nilai Perlu dilakukan penelitian lebih
koefisien negatif sebesar 0,514 lanjut yang bersifat prospektif,
dengan probabilitas variabel sebesar mengingat adanya kekurangan-
0,411 di atas signifikansi 0,05 (5%). kekurangan yang terdapat dalam
8. Faktor yang paling yang berpengaruh penelitian ini yang meliputi
terhadap tekanan darah hemodialisis
-6-
keterbatasan dalam berbagai
informasi. Nursalam. (2009). Konsep dan
penerapan metodologi penelitian
DAFTAR PUSTAKA ilmu keperawatan: pedoman skripsi,
Agarwal, Rajiv. (2010). tesis, dan instrumen penelitian
Hypervolemia Is Associated With keperawatan. Jakarta: Salemba
Increased Mortality Among Medika.
Hemodialysis.http://hyper.ahajournal
s.org, diperoleh 11 Mei 2011. Sastroasmoro, S. (2008). Dasar-
dasar metodologi penelitian klinis.
Almatsier, S. (2005). Prinsip dasar Jakarta: CV. Agung Seto.
ilmu gizi. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta. Singarimbun, M. (1995). Metode
Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.
Bahous, S., Stephan A., Blacher J.,
Safar M. (2006). Aortic Stiffness, Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku
Living Donors, and Renal ajar keperawatan medikal bedah
Transplantation,http://hyper.ahajourn Brunner&Suddart. Edisi 8. Jakarta:
als.org, diperoleh 8 April 2011. EGC.

Baraas, F., Lily, I. R., Santoso, K., Suharyanto dan Abdul, Madjid.
Poppy, S. R. (1996). Buku ajar (2009). Asuhan keperawatan pada
kardiologi. Jakarta: Gaya Baru klien dengan gangguan sistem
perkemihan. Trans Info Media:
Baxter, Jhon D. (1998). Jakarta.
Endokrinologi dasar & klinik.
Jakarta: EGC. Sukandar, Enday. (2006). Gagal
National Kidney Foundation, (2006). ginjal dan panduan terapi dialisis.
NKF KDQOI introduction. Bandung: FK UNPAD.
http://www.kidney.org/professionals/
kdoqi/guideline_uphd_pd_va/hd_gui WHO. (2008). World health
de5.htm, diperoleh 22 Mei 2011. organization: Departement of
measurement and health
Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi information.http://www.who.int/evid
penelitian kesehatan. Jakarta : ence/bod, diperoleh tanggal 22 Mei
Rineka Cipta. 2011.

-7-