Anda di halaman 1dari 12

TUGAS KELOMPOK KEPERAWATAN INTENSIVE

PNEUMONIA

Disusun Oleh :

1. Arnis Prilli Dharmastuti P 27220012 102


2. Herviani Valentina Putri P 27220012 117
3. Kristna Adi Nugraha P 27220012 125
4. Triatmojo Agung Purnadi P 27220012 141

PRODI D IV KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
2016
SKENARIO KASUS

Pasien bernama Ny. M usia 50 tahun dirawat diruang ICU dengan diagnosa medis

Pneumonia. Keadaan pasien Composmentis, GCS E4M6V5,Tekanan Darah 140/88 mmHg,

Nadi 80x/menit, Suhu 39,5 0C, RR 24x/menit, terpasang O2 denan Nasal Kanul 3 liter/menit,

SPO2 98%, terpasang infus RL 20 tetes per menit. Tiba-tiba pasien mengalami sesak nafas,

SPO2 menurun menjadi 87%, kemudian diberikan O2 dengan NRM 10 liter/menit. Tingkat

kesadaran pasien menurun, GCS pasien menjadi E2M3V1 pasien mengalami gagal nafas dan

gagal jantung Tekanan Darah terakhir 90/60 mmHg, Suhu 40,50C, Nadi 135 x/menit,

gambaran EKG Ventrikel Takikardi.

ALGORITMA

A. ALGORITMA PNEUMONIA

Dalam hal ini tatalaksana peneumonia, maka para klinis akan dihadapkan pada beberapa

masalah :

1. Apakah penanganan peneumonia membutuhkan antibiotik atau tidak.

Idealnya tatalaksana peneumonia sesuai dengan kuman penyebabnya. Namun karena

berbagai kendala diagnostik etiologi, untuk semua pasien peneumonia diberikan

antibiotika secara empiris. Walaupun peneumonia viral dapat ditatalaksana tanpa

antibiotika,tetapi pasien diberikan antibiotika karena kesulitan membedakan infeksi virus

dengan bakteri, kesulitan diagnosis virologi dan kesulitan dalam isolasi penderita,

disamping itu kemungkinan infeksi bakteri sekunder tidak dapat disingkirkan.

2. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik, apakah menggunakan antibiotika

spektrum sempit dan luas.


Golongan beta laktam(Penisilin, sefalosporin, karbapenem dan monobaktam)

merupakan jenis-jenis antibiotika yang sudah dikenal cukup luas. Biasanya digunakan

untuk terapi peneumonia yang disebabkan oleh bakteri seperti Streptococcus

peneumoniae, Haemophillus influenza dan Staphylococcus aureus. Pada kasus yang

berat diberikan golongan sefalosporin sebagai pilihan, terutama bila penyebabnya belum

diketahui. Sedangkan pada kasus yang ringan sedang. Dipilih golongan penisilin.

Streptokokus dan pneumokokus merupakan kuman gram positif yang dapat dicakup oleh

ampisilin, sedangkan hemofilus sebagai kuman gram negatif dapat dicangkup oleh

ampisilin dan kliramfenikol. Dengan demikian keduanya dapat dipakai sebagai

antibiotika lini pertama untuk kasus peneumonia anak tanpa komplikasi. Pada passien

peneumonia yang community acquired, umumnya ampisilin dan kloramfenikol masih

sensitif. Pilihan berikutnya adalah obat golongan sefalosporin.

Penanganan peneumonia pada neonatus serupa dengan penanganan infeksi

neonatus pada umumnya. Antibiotika yang diberikan harus dapat mencangkup kuman

kokus gram positif terutama Streptococcus group B dan batang gram negatif. Penisilin

dan derivatnya merupakan pilihan utama untuk gram positif sedangkan untuk kuman

gram negatif terutama Escherichia coli dan Proteus mirabilis digunakan golongan

aminoglikosida. Kombinasi kloksasilin dan gentamisin efektif untuk terapi peneumonia

dibawah 3 bulan karena dapat mencangkup kuman Staphylococcus aureus. Umur

kehamilan, berat badan lahir dan umur bayi akan menentukan dosis dan frekuensi

pemberian obat khususnya untuk golongan untuk golongan aminoglikosida. Sefalosporin

generasi 3 dapat digunakan jika ada kecurigaan penyebab bakteri batang gram negatif.

Mengenai penggunakan makrolid pada peneumonia atipik yang diduga disebabkan

oleh kalamidia dan mikoplasma, telah banyak dilaporkan. Pemberian azitromisin dan

klaritromisin sama efektifnya dengan pemberian amoksisilin asam klavulanik. Pemberian


azitromisin tolerabilitasnya cukup baik serta efeksampingnya minimal bila dibandingkan

dengan amoksisilin asam klavulanik. Pemberian azitromisin sekali sehari selama 3 hari

efektifitasnya setara dengan pemberian amoksisilin asam klavulanik selama 10 hari.

Penggunakan klaritromisin secara multisenter pada peneumonia mendapatkan hal yang

cukup baik dalam hal efektifitas dan efek samping. Efek samping gangguan

gastroistestinal seperti mual, muntah, nyeri abdomen didapatkan pada sebagian kecil

pasien yang tidak berbeda bermakna dengan antibiotika lain.

Evaluasi pengobatan dilakukan setiap 48-72 jam. Bila tidak ada perbaikan klinis

dilakukan perubahan pemberian antibiotika sampai anak dinyatakan sembuh. Lama

pemberian antibiotik tergantung pada kemajuan klinis penderita, hasil laboratoris, foto

polos dada dan jenis kuman penyebab. Jika kuman penyebab adalah stafilokokus

diperlukan pemberian terapi 6-8 minggu secara parental, Jika penyebab Haemophylus

influenza atau Streptococcus pneumoniae pemberian terapi secara parental cukup 10-14

hari. Secara umum pengobatan antibiotik untuk pneumonia diberikan 10-14 hari.

Pada keadaan imunokomprais ( gizi buruk, penyakit jantung bawaan, gangguan

neuromuskular, keganasaan, pengobatan kortikosteroid jangka panjang, fibrosis kistik,

infeksi HIV), pemberian antibiotik harus segera dimulai saat tanda awal pneumonia

didapatkan dengan pilihan antibiotik : sefalosporin generasi 3.

Dapat dipertimbangkan juga pemberian :

a. Kotrimoksasol pada pneumonia pneumokistik karinii

b. Anti viral (Asiklovir, gansiklovir) pada pneumonia karena sitomegalovirus

c. Anti jamur (Amphotericin B, ketokenazol, flukonazol) pada pneumonia karena jamur

d. Pemberian imunoglobulin

3. Pemakaian antibiotika secara oral atau parental


WHO menyarankan untuk pengobatan pneumonia (adanya nafas cepat tanpa

penarikan dinding dada/chest indrawing) sebaiknya dirawat secara poliklinis dengan

menggunakan antibiotik oral. Pilihan antibiotik yang digunakan adalah amoksilin,

ampisilin, trimetoprim/sulfametoksazol atau penisilin prokain selama 5 hari. Tetapi

ketika didiagnosis dengan pneumonia berat (didapatkan chest indrawing) maka pasien

dirawat inapkan dan diberikan antibiotika secara parental seperti benxylpenisilin atau

ampisilin. Kloramfenikol juga dapat diberikan, dimana pada beberapa daerah tertentu

dapat diberikan secara intramuskular. Pada bayi berumur kurang dari 2 bulan, WHO

merekomendasi pemberian penisilin dan gentamisin. Dengan penerapan kriteria WHO

ini, terjadi penurunan angka kematian karena infeksi saluran nafas dinegara-negara

berkembang.

British Thoracic Society (BTS) merekomendasikan bahwa antibiotik secara

parental diberikan pada anak-anak dengan pneumonia berat atau anak yang tidak bisa

menerima antibiotik oral.

4. Kapan pasien diindikasikan rawat inap

Pada anak dengan pneumonia, penentuan rawat inap diputuskan apabila terdapat :

a. Penderita tampak toksik

b. Umur kurang dari 6 bulan

c. Distress pernafasan berat

d. Hipoksemia (Saturasi oksigen kurang dari 93-94% pada kondisi ruangan)

e. Dehidrasi atau muntah

f. Terdapat efusi pleura atau abses paru

g. Kondisi imunokompromais

h. Ketidakmampuan orang tua untuk merawat

i. Didapatkan penyakit penyerta lain, misalnya penyakit jantung bawaan


j. Pasien membutuhkan pemberian antibiotika secara parental

Terapi suportif yang diberikan kepada penderita pneumonia

a. Pemberian oksigen melalui kateter hidung atau masker. Jika penyakitnya berat dan

sarana tersedia, alat bantu nafas mungkin diperlukan terutama bila terdapat tanda

gagal nafas.

b. Pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat. Cairan rumatan yang diberikan

mengandung gula dan elektrolit yang cukup. Jumlah cairan sesuai berat badan,

kenaikan suhu dan status hidrasi. Pasien yang mengalami sesak yang berat dapat

dipuasakan, tetapi bila sesak sudah berkurang asupan oral dapat segera diberikan.

Dapat dibenarkan pemberian retriksi cairan 2/3 dari kebutuhan rumatan, untuk

mencegah edema paru dan edema otak akibat SIADH (Syndrome of Inappropriate

Anti Diuretic Hormone).

c. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal untuk

memperbaiki transpor mukosiliar.

d. Koreksi kelainan elektrolit atau metabolik yang terjadi misalnya hipoglikemia,

asidosis metabolik.

e. Mengatasi penyakit penyerta seperti kejang, demam, diare dan lainnya serta

komplikasi bila ada.


B. ALOGARITMA ASISTOLE

BHD
INTUBASI

Adrenalin 1 Mg

BHD (2 menit)

Evaluasi (Asistole)
Kosongan

BHD ( 2 Menit)

Evaluasi (Asistole)

BHD (2 Menit)

Keterangan:
1. Cek Elektroda cek lead
2. Tindakan hanya dilakukan BHD dan adrenalin
3. Obat pilihan pada asistole hanya adrenalin, dosis 1 mg, bisa diulangi 3-5 menit cara
pemberian cepat bisa flush 20cc dan bila adrenalin tidak tersedia bisa diganti
vasopresin 40 mg untuk VT tdk ada nadi/ VF (diberikan hanya sekali saja).
4. Bila obat diberikan melalui ETT dosis 2-2,5 kali dosis biasa.
C. ALOGARITMA VT (Tanpa Nadi)

BHD

DEFIBRILASI MONOFASIK 360 J/


DEFIBRILASI BIFASIK 200J

BHD (2 Menit)
Adrenalin 1mg

EVALUASI (VT nadi -)


DEFIBRILASI MONOFASIK 360 J/
DEFIBRILASI BIFASIK 200J

BHD (2 Menit) , INTUBASI


Amiodaron 300 mg
MgSO4 1-2 gr (TORSADE DE POINTES)

EVALUASI (VT nadi -)


DEFIBRILASI MONOFASIK 360 J/
DEFIBRILASI BIFASIK 200J

BHD (2 Menit)
Adrenalin 1mg

EVALUASI (VT nadi -)


DEFIBRILASI MONOFASIK 360 J/
DEFIBRILASI BIFASIK 200J

BHD (2 Menit)
Amiodaron 150 mg

EVALUASI (VT nadi -)


DEFIBRILASI MONOFASIK 360 J/
DEFIBRILASI BIFASIK 200 J
Sumber:

AsihRetno, dkk. 2006. Jurnal Kesehatan Continuing Education Pneumonia. FK Unair

Surabaya.

Eny Widaryanti. 2016. Handout keperawatan intensif


SKENARIO MEGACODE

1. Kristna Adi N : Leader tim keperawatan ICU

2. Arnis Prilli D : Co Leader tim keperawatan ICU

3. Herviani V. P : Perawat ICU

4. Triatmojo A. P : Perawat ICU

5. Dokter

6. Keluarga

Pasien bernama Ny. M usia 50 tahun dirawat diruang ICU dengan diagnosa medis

Pneumonia. Keadaan pasien Composmentis, GCS E4M6V5, Tekanan Darah 140/88 mmHg,

Nadi 80x/menit, Suhu 39,5 0C, RR 24x/menit, terpasang O2 dengan Nasal Kanul 3 liter/menit,

SPO2 98%, terpasang infus RL 20 tetes per menit. Saat perawat hervia mengobservasi kondisi

pasien, Tiba-tiba pasien mengalami sesak nafas, SPO2 menurun menjadi 87%, kemudian

perawat hervia mengganti nasal kanul dengan NRM 10 liter/menit. Selang beberapa menit

kemudian Tingkat kesadaran pasien menurun, GCS pasien menjadi E2M3V1. Tiba-tiba pasien

mengalami gagal nafas dan gagal jantung. Tekanan Darah terakhir 90/60 mmHg, Suhu 40,5
0
C, Nadi 0 x/menit, gambaran EKG Asistole.

Hervia : Pak kristna pasien Ny. M asistole.. cod blue cod blue..

Perawat Kristna mengecek elektroda dan nadi pasien, tidak ada nadi.

Kristna : Perawat jojo lakukan RJP segera pada pasien, dan perawat arnis siapkan BVM,

troli emergency dan defibrilator. Langsung berikan oksigenasi dengan BVM.

Arnis : Baik pak. Sudah dilakukan oksigenasi dengan BVM pak.

Jojo : Siap RJP pak.

Kristna : Perawat hervia tolong berikan injeksi adrenalin 1 mg, siapkan laringoskop dan ET,

dan segera lapor dokter.


Hervia : Baik pak krist, injeksi adrenalin 1 mg sudah masuk, laringoskop dan ET siap.

Arnis : Perawat krist keluarga pasien tolong dihubungi untuk menjelaskan kondisi pasien

dan meminta inform konsen pada keluarga.

Kristna : Iya mbk. Perawat hervi sekalian panggilkan keluarga pasien

Hervia : baik pak krist.

Perawat hervia menghubungi dokter dan menjelaskan kondisi pasien kepada dokter serta

memanggil keluarga pasien.

Hervia : Pak krist dokter sudah dihubungi dan sekarang perjalanan menuju ICU, keluarga

pasien sudah berada di nurse station pak, saya suruh menunngu disana tapi tadi

sudah saya jelaskan kondisi pasien saat ini dan sudah saya mintai inform konsen.

Kristna : Oke mbk hervi, oh iya mbk arnis sudah berapa siklus RJP yang dilakukan?

Arnis : Sudah 5 siklus selesai dan sekarang baru dievalusi pak, tidak ada nadi tetapi

gambaran EKG Ventrikel Takikardi pak.

Kristna : baik, siapkan defibrilator ya, perawat jojo tetap lakukan RJP.

Dokter datang dan memeriksa kondisi pasien.

Dokter : Perawat kristna segera lakukan defibrilasi, kekuatan 200 joule dan siapkan

adrenalin 1 mg, tadi sudah diberikan terapi apa saja mbk?

Arnis : tadi sudah diberikan adrenalin 1 mg dok, waktunya 5 menit yang lalu dok.

Dokter : Oke langsung masuk kan saja adrenalin 1 mg.

Kristna : Defibrilator siap dok, charge, ready, im clear, you clear? Everybody clear? And

shock.

Jojo : Masih VT dok, nadi belum ada. ( melanjutkan RJP)

Hervia : Injeksi Adrenalin sudah masuk 1 mg dok.

Dokter : Lakukan Defib lagi masih 200 joule dan evaluasi lagi, setelah defib berikan injeksi

amiodaron 300mg dan siapkan intubasi. Dimana keluarga pasien?


Hervia : Di ruang perawat dok, menunggu disana. Tadi sudah saya jelaskan kepada keluarga

dok.

Dokter : Baik saya jelaskan lagi ke keluarga pasien dulu. Nanti kalau RR masih rendah dan

SpO2 masih dibawah 85% segera lakukan intubasi dan pasang ventilator.

Kristna : Baik dok. Defibrilator siap, charge, ready, im clear, you clear? Everybody clear?

And shock.

Arnis : Gambaran EKG pasien sudah berubah pak, menjadi sinus bradikardi. TD: 90/50

mmhg, RR: 5 x/m, SpO2: 80%, N: 50x/m. Injeksi amiodaron sudah masuk pak

300mg.

Kristna : Perawat jojo segera lakukan intubasi dan lakukan suction.

Jojo : Baik pak, intubasi sudah dipasang dan sudah disuction.

Kristna : Lakukan hiperoksigenasi sampai saturasi 100% dan segera pasang ventilator

Arnis : Baik pak. Ventilator sudah tersambung dengan ET.

Kristna : Monitor mbak hervi

Hervia : oke pak, TD: 100/60 mmhg, RR: 18 x/m, N: 55 x/m, SpO2 97%.

Kristna : Baiklah sekarang kondisi pasien sudah mulai stabil, lakukan monitor per 15 menit

dan segera lapor dokter ya mbk arnis.

Arnis : Baik pak krist.

Selang satu jam kondisi pasien sudah stabil, pasien terpasang ventilator. Gambaran EKG

Sinus Rhytm, TD: 110/70 mmhg, RR: 18 x/m, N: 60 x/m, SpO2: 98%, S: 36,5 C.

Pasien dipantau setiap satu jam.