Anda di halaman 1dari 16

MANAJEMEN STRATEGI

PROSEDUR PEMERIKSAAN SIKLUS BELANJA

OLEH :
KELOMPOK 2

FIRDAYUNINGSIH B1C1 14 016


GEBY DIAH FERDILIAH S.B. B1C1 14 018
HASNAWATI B1C1 14 020
IRA NOVIANTI B1C1 14 024
IRNA SISTRIYANI IRSA B1C1 14 026
JUSRIN B1C1 14 030
LA ODE RIZAL B1C1 14 034
MUH. BAKRI LAMLANTO B1C1 14 036
MUH. FADLY AKBAR ALI B1C1 14 038

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2017

i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji hanya milik Allah SWT, Rabb semesta alam atas limpahan rahmat dan
hidayah-Nya, kami selaku Mahasiswa sekaligus penyusun dapat menyelesaikan makalah
dengan judul Prosedur Pemeriksaan Siklus Belanja. Shalawat serta salam mudah-
mudahan selalu tercurah kepada rasul kita tercinta Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan
para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.

Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah
Praktikum Audit Sektor Publik, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Halu Oleo. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu, khususnya kepada Dosen mata kuliah Praktikum Audit Sektor Publik, dimana
beliau telah membimbing sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit hambatan yang dihadapi. Kami
menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, meskipun demikian mudah-
mudahan makalah ini bisa bermanfaat bagi semua orang. Amin. Oleh karena itu, kami sangat
membutuhkan kritik dan saran demi perbaikan di masa yang akan datang.

Kendari, 28 Sepmtember 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I : PENDAHULUAN 1

BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Kasus Pemeriksaan Siklus Belanja
2.2 Tujuan Pemeriksaan Siklus Belanja
2.3 Internal Control Siklus Belanja
2.4 Dokumen Pemeriksaan Siklus Belanja
2.5 Tahap Prosedur Pemeriksaan Siklus Belanja
2.6 Kertas Kerja Pemeriksaan Siklus Belanja

BAB III : PENUTUP


3.1 Kesimpulan 19

DAFTAR PUSTAKA 20

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Audit terhadap sektor publik menjadi fokus perhatian karena dinilai instansi
pemerintah tidak terbuka terhadap masyarakat mengenai kondisi keuangan sebenarnya dan
instansi sektor publik rawan akan penyalahgunaan dana sehingga dibutuhkan aturan yang
ketat dan audit yang independen terhadap pemeriksaan laporan keuangan instansi
pemerintahan.

Audit terhadap sektor publik sangat penting dilakukan hal ini merupakan bentuk
tanggung jawab sektor publik (pemerintah pusat dan daerah) untuk
mempertanggungjawabkan dana yang telah digunakan oleh instansi sehingga dapat diketahui
pemanfaatan dana tersebut dilaksanakan sesuai prosedur dan standar atau tidak.

Pemerintah (Pusat dan Daerah) saat ini sedang melakukan perubahan tata pembukuan
dari sistem pembukuan menjadi sistem akuntansi dalam menyusun laporan keuangannya.
Peraturan Pemerintah No. 105 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban
Keuangan Daerah merupakan pijakan awal kewajiban Pemerintah Daerah menerapkan
akuntansi yang menghasilkan laporan pertanggungjawaban berupa Laporan perhitungan
APBD, Laporan Aliran Kas, dan Neraca Daerah. Unsur laporan tersebut berbeda dari laporan
pertanggungjawaban yang lama, terutama adanya Laporan Aliran Kas dan Neraca Daerah.
Neraca Daerah merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan pemerintah
mengenai aktiva, hutang dan ekuitas dana pada suatu tanggal tertentu.

Perubahan tata usaha keuangan daerah tersebut tentunya tidak dapat dipisahkan
dengan penyiapan proses auditing (pemeriksaan). Audit atas tata usaha keuangan Pemda
(audit sektor publik) juga harus mengalami perubahan dimana tujuannya adalah
menunjukkan, dengan dasar yang cukup dan tepat dari bukti-bukti audit, apakah laporan
keuangan disajikan secara wajar posisi keuangan Pemerintah Daerah, hasil operasi, dan
perubahan ekuitas sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Pemeriksaan Siklus Belanja

Tujuan pemeriksaan siklus belanja adalah untuk memperoleh bukti mengenai masing-
masing asersi signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus belanja. Tujuan
pemeriksaan ditentukan berdasar atas kelima kategori asersi laporan keuangan yaitu sebagai
berikut.

a. Asersi keberadaan atau kejadian


Berkaitan dengan asersi keberadaan atau keterjadian, auditor menekankan pada
apakah seluruh utang dan aktiva tetap benar-benar eksis atau ada pada tanggal
neraca. Disamping itu, asersi ini juga menekankan pada apakah seluruh transaksi
belanja daerah yang terdiri dari pembelian dan pengeluaran kas yang tercatat
benar-benar terjadi dan bukan rekaan manajemen. Berikut ini rincian tujuan audit
asersi keberadaan atau keterjadian, yaitu:
- Utang tercatat sesuai jumlah yang menjadi kewajiban enitas pada tangga
neraca
- Aktiva tetap tercatat sesuai aset yang dapat digunakan pada tanggal neraca
- Transaksi pembelian tercatat sesuai barang dan jasa yang diterima selama
periode dilaksanakannya audit
- Pengeluaran kas tercatat sesuai pembayaran yang dibuat selama periode
tersebut.
b. Asersi kelengkapan
Asersi ini menekankan apakah seluruh transaksi dan saldo yang semestinya
tercantum dalam laporan keuangan sudah dicatat dan disajikan. Berikut ini rincian
tujuan audit asersi kelengkapan, yaitu:
- Semua jumlah yang menjadi kewajiban entitas pada pihak ketiga pada tanggal
neraca sudah masuk dalam utang
- Saldo aktiva tetap dan barang habis pakai tetelah mencakup pengaruh semua
transaksi dan kejadian
- Pembelian dan pengeluaran kas mencakup semua transaksi yang terjadi
c. Asersi hak dan kewajiban

2
Auditor berkaitan dengan asersi ini, berusaha memastikan apakah entitas
mempunyai hak kepemilikan yang sah atas aktiva tetap dan kewajiban yang
tercatat. Berikut adalah rincian tujuan audit asersi hak dan kewajiban.
- Utang adalah kewajiban legal entitas pada tanggal neraca,
- Entitas memiliki dan berhak atas semua aktiva tetap dan persediaan barang
habis pakai pada tanggal neraca.
d. Asersi penilaian dan pengalokasian
Berkaitan dengan asersi penilaian, auditor akan berusaha memperoleh bukti
mengenai saldo biaya, utang, dan aktiva tetap telah disajikan dalam laporan
keuangan pada jumlah yang tepat. Auditor akan memastikan apakah saldo tersebut
diperoleh melalui penilaian sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Berikut ini adalah rincian tujuan audit asersi penilaian atau pengalokasiam, yaitu:
- Utang ditetapkan atau dinilai pada jumlah yang tepat sesuai jumlah yang wajib
dibayar
- Aktiva tetap dan peralatan ditetapkan atau dinilai sesuai kas dikurangi
akumulasi depresiasi
- Saldo biaya tercatat sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum
e. Asersi pelaporan dan pengungkapan
Selain memperoleh bukti mengenai keempat asersi diatas, auditor perlu
menghimpun bukti mengenai apakah transaksi dan saldo yang tercatat telah tepat
diklasifikasikan, dijelaskan dan diungkapkan dalam neraca. Berikut ini adalah
rincian tujuan audit asersi pelaporan dan pengungkapan yaitu:
- Utang dan aktiva tetap telah tepat diidentifikasi dan diklasifikasikan dalam
neraca
- Pengungkapan dilakukan secara tepat sesuai metode depresiasi yang dipakai
entitas

3
2.3 Evaluasi Internal Control Siklus Belanja

2.4 Dokumen Pemeriksaan Siklus Belanja


Dalam transaksi pembelian, dokumen dan catatan yang dipakai sebagai bukti audit
antara lain:
a. Kartu Sediaan, merupakan dokumen lampiran atas surat permohonan pembelian
barang dan dikirimkan kepada bagian yang mengotorisasi (kepala dinas atau kepala
daerah) untuk membeli barang dan jasa.
b. Buku Barang, dokumen yang berisi nama baran, keterangan soal barang, jumlah
satuan, tanggal kontrak, berita acara, tanggal dikeluarkannya, pihak yang
menerima, jumlah dan tanggal penyerahan.
c. Buku Pengadaan Barang, dokumen ini berisi jenis barang, keterangan surat
kontak, bukti SKO/SPMU/Kuitansi, harga dan penggunaan pada unit.
d. Berita Acara Serah Terima Gudang, merupakan dokumen bukti serah terima
barang oleh pihak yang memasukkan maupun mengeluarkan barang dari gudang.
e. Surat Permohonan, merupakan dokumen permintaan yang dibuat oleh
bendaharawan barang dan dikirimkan kepada bagian yang mengotorisasi (kepala
dinas atau kepala daerah) untuk meminta persetujuan atas pembelian barang dan
jasa.
f. Bukti Memorial, merupakan lampiran dari surat permohonan sebagai bukti
pemakaian persediaan dan dijadikan bukti pembebanan penyusutan aktiva tetap.
g. Buku Inventaris Barang, buku ini berisi tentang inventaris barang yang dimiliki
unit kerja beserta dengan kondisinya.
h. Laporan Penerimaan Barang, yaitu dokumen yang dibuat oleh setiap barang
yang diterima dari pihak ketiga. Dokumen ini berisi tanggal penerimaan, dokumen,
dasar penerimaan, kuantitas, jenis barang, harga barang. Berdasar dokumen ini,
entitas melakukan pengeluaran kas dan mengakui adanya utang.

4
i. Surat Ketetapan Otorisasi (SKO), merupakan bukti tindakan kepala daerah yang
akan mengakibatkan pembebanan pada Anggaran Belanja Daerah. Dasar
penerbitan SKO adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang ditetapkan
oleh pemerintah daerah dan disahkan oleh pejabat yang berwenang, serta DIKDA
dan DIPDA yang disahkan oleh kepala daerah.
j. Surat Permintaan Pembayaran (SPP),merupakan dokumen yang diajukan oleh
Pemegang Kas kepada Kepala Daerah dalam hal ini Biro/Bagian Keuangan
berdasarkan SKO/DIKDA/DIPDA yang telah diterima, untuk kepentingan dalam
pelaksanaan APBD. SPP ditanda tangani oleh Pemegang Kas dan diketahui oleh
atasan langsung atau pimpinan proyek.
k. Surat Perintah Membayar (SPM), dokumen ini digunakan untuk mengeluarkan
uang yang dikeluarkan oleh Biro/Bagian Keuangan melalui Bagian/Sub Bagian
Perbendaharaan sebagai dasar Kas Daerah/Kasda merealisasikan pengeluaran
(SPM dapat dibayar secara tunai melalui Kasda).
l. Surat Petanggungjawaban (SPJ), merupakan formulir yang digunakan untuk
mengesahkan laporan pertanggungawaban bendaharawan belanja baik modal
maupun selain modal oleh bagian verifikasi atas SPM yang telah dan belum
dibelanjakan oleh pemegang kas-bendaharawan.

2.5 Tahap Prosedur Pemeriksaan Siklus Belanja

5
2.6 Kasus Pemeriksaan Siklus Belanja

Informasi Umum Perusahaan

Kementerian Cokodot adalah instansi pemerintah yang mempunyai kegiatan


utama dalam penyusunan dan penetapan kebijakan pemerintah di bidang perumahan
dan pemukiman. Dalam pelaksanaan kegiatannya, Kementerian Cokodot sangat
terkait dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang menjadi subyek kebijakan
tersebut. Tuntutan masyarakat terhadap campur tangan pemerintah dalam
meningkatkan kualitas dan kuantitas perumahan/permukiman bagi masyarakat
terutama yang berpenghasilan rendah, mendorong Kementerian Cokodot melakukan
berbagai tindakan yang diharapkan dapat menjadi stimulus bagi berkembangnya
sektor perumahan/permukiman.

Organisasi Kemeterian Cokodot memiliki 5 (lima) unit Eselon I, 6 satuan kerja


dan 1 BLU sebagai berikut:

1. Sekretariat Kementerian
2. Pusat Pengembangan Perumahan
3. Pembiayaan Perumahan
4. Pengelolaan Kawasan
5. Pemberdayaan Perumahan Swadaya
6. Pengembangan Perumahan Formal
7. Badan Layanan Umum Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan

Dalam operasionalnya kementerian Cokodot memiliki risiko-risiko terkait


Tupoksi, Organisasi, Stakeholders, Faktor Ekonomi dan Sosial, dan Peraturan Terkait
yang Dapat secara Signifikan Mempengaruhi Pertanggungjawaban Pengelolaan
Keuangan Entitas.

Informasi Umum Pemeriksaan

Surat Tugas : No. 22/ST/V-XVI/01/2012, ditandatangani oleh Plt. Tugas

Anggota III BPK RI.

Waktu Pemeriksaan : Januari 2012

Tim Auditor : Badan Pemeriksan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI)

6
Terdiri dari :

Penanggung jawab
Wakil penanggung jawab
Pengendali teknis
Ketua tim (1 orang, bersertifikasi Ketua Tim Senior
(KTM))
Anggota tim (3 orang bersertifikasi Anggota Tim Senior
(ATS) dan 1 orang Auditor BPK RI

Pengujian Pengendalian Internal

Risiko yang dapat mempengaruhi pertanggungjawaban pengelolaan keuangan


Kementerian Cokodot antara lain:

a. Belum terbentuk sinergi antara Kementerian Cokodot dan Pemda dalam


pengelolaan Rusunawa yang berakibat pada pengakuan hasil pengelolaan aset
tersebut dalam lapora keuangan Kementerian Cokodot.
b. Adanya birokrasi pemberian ijin dalam hibah atas aset yang hendak dialihkan
kepada pihak lain sebagai pengelola aset Rusunawa tersebut.
c. Dalam proses pengadaan Barang dan Jasa pada Kementerian Cokodot telah
membentuk Unit Pelayanan Terpadu. Namun atas kebijakan pimpinan jumlah
paket yang dilelang pada ULP terpadu tersebut belum seluruhnya karena
masih dibolehkan beberapa satker untuk tetap melelang paket pada ULP
masingmasing dan untuk beberapa paket yang nilai besar dan kompleks ULP
Kementerian Cokodot meminta ULP Kementerian PU untuk melelang paket
tersebut.

Sesuai Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), dalam pemeriksaan


atas Laporan Keuangan Kementerian Cokodot tersebut diatas, BPK telah melakukan
pengujian atas sistem pengendalian intern Kementerian Cokodot untuk
menentukan prosedur pemeriksaan dengan tujuan untuk menyatakan pendapat
atas laporan keuangan. Berdasarkan pengujian atas SPI Kementerian Cokodot,
BPK RI memukan kondisi yang dapat dilaporkan berkaitan dengan sistem
pengendalian intern dan operasinya.

7
Pengujian Ketaatan (Compliance Test)

Berdasarkan pemeriksaan sehubungan dengan pengujian khususnya pada


realisasi belanja modal diketahui bahwa :

Pebandingan Anggaran dan Realisasi belanja modal Tahun 2011 (dalam Rupiah)

Anggaran Realisasi Selisih Persentasi


1.920.752.629.000 1.360.447.460.591 560.305.168.409 70,83 %

Rincian Perbandingan Realisasi Belanja Modal Tahun 2011 dan Tahun 2010

Tahun 2010 Kenaikan Naik/


Uraian Tahun 2011 (Rp)
(Rp) (Penurunan) (Turun)
Belanja modal 10.476.950.235 1.426.422.000 9.050.528.235 634,49%
peralatan dan mesin
Belanja model 632.203.697.194 242.587.042.739 389.616.654.455 160,61%
gedung dan bangunan
Belanja modal jalan, 715.145.480.462 76.200.730.473 638.944.749.989 838,5%
irigasi dan jaringan
Belanja modal BLU 2.621.332.700 0 2.621.332.700 100%
Jumlah 1.360.447.460.591 320.214.195.212 1.040.233.265.379 324,86%

Berdasarkan penelusuran lebih lanjut terhadap Belanja Modal yang menjadi


fokus dari pemeriksaan setelah mempertimbangkan resiko yang tinggi pada akun
tersebut, diketahui bahwa realisasi belanja modal khususnya Belanja modal
peralatan dan mesin pada TA 2011 berimplikasi terhadap penambahan nilai Aset
Peralatan dan Mesin Tahun 2011 sebesar Rp38.138.696.743.

Bila dibandingkan dengan nilai aset Peralatan dan Mesin Tahun 2010 sebesar
Rp25.497.137.108 terdapat kenaikan sebesar Rp12.641.559.635 atau 49,58%

Kenaikan sebesar Rp12.641.559.635,00 atau 49,58% diperoleh dari realisasi


Belanja Modal Peralatan dan mesin pada Tahun 2011 dengan rincian sebagai berikut:

8
Penambahan
Realisasi
Aset
MA Uraian Belanja Selisih
Peralatan dan
Modal
Mesin
BM Peralatan dan
532111 10.476.950.235 10.107.764.935 369.185.300
Mesin
BM Peralatan dan
Mesin BLU Pusat
537112 2.621.332.700 2.533.794.700 87.538.000
Pembiayaan
Perumahan
Jumlah Belanja 13.098.282.935 12.641.559.635 456.723.300

Selisih sebesar Rp.456.723.300 pada akun Peralatan dan Mesin disebabkan


karena:

Pengadaan inventaris kantor yang nilai harga satuannya telah memenuhi


kapitalisasi namun tidak dicatat pada neraca sebesar Rp77.320.800
Terjadi kesalahan perekaman pada aplikasi bendahara Satuan Kerja BLU
Pusat Pembiayaan Perumahan yang seharusnya berada pada belanja barang
dan belanja gaji dan tunjangan, tetapi terekam kedalam belanja modal
sebesar Rp87.270.000
Pengadaan software komputer dicatat sebagai aset tak berwujud sebesar
Rp266.918.000
Adanya pengadaan peralatan kantor pada Satuan Kerja Dekonsentrasi
Propinsi Kalimantan Selatan yang berasal dari belanja barang, yang
seharusnya dicatatat sebagai persediaan tetapi dicatat sebagai peralatan dan
mesin sebesar Rp25.217.500

Kementerian Perumahan Cokodot pada Tahun Anggaran 2011 melaksanakan


kegiatan Dana Dekonsentrasi dengan nilai anggaran sebesar Rp50.000.000.000
dan realisasi anggaran sebesar Rp42.904.672.458 yang diberikan ke 33 provinsi,
497 kabupaten/kota di seluruh wilayah Indonesia. Provinsi Kalimantan Selatan
mendapatkan anggaran sebesar Rp1.471.703.000,00 dan realisasi anggaran sebesar
Rp957.862.637,00 dengan rincian sebagai berikut:

Rincian Realisasi Anggaran Dana Dekonsentrasi SKPD Provinsi Kalimantan


Selatan.

% Realisasi
Uraian Anggaran Realisasi
Anggaran

9
Honor Terkait
37.935.000,00 37.330.000,00 98,41%
Operasional Satuan
Belanja Bahan 45.000.000,00 44.999.800,00 100,00%
Belanja Barang Non
813.238.000,00 549.457.050,00 67,56%
Operasional Lainnya
Belanja Langganan daya 3.000.000,00 1.887.137,00 62,90%
Belanja Sewa 27.715.000,00 25.955.000,00 93,65%
Belanja Jasa Profesi 156.375.000,00 97.250.000,00 62,19%
Belanja Biaya
Pemeliharaan Peralatan 28.155.000,00 25.217.500,00 89,57%
dan Mesin
Belanja Perjalanan
360.285.000,00 175.766.150,00 48,79%
Lainnya
Jumlah 1.471.703.000,00 957.862.637,00 65,09%

Sumber: Laporan Keuangan SKPD Provinsi Kalimantan Selatan

Dari total realisasi belanja sebesar Rp957.862.637,00 terdapat belanja pemeliharaan


peralatan dan mesin sebesar Rp25.217.500,00. Namun berdasarkan pemeriksaan
dokumen pendukung SP2D No.144569V tanggal 24 Oktober 2011 dan SPM
No.00027/150015/ KEMENTERIAN COKODOT/2011 tanggal 19 Oktober 2011
diketahui bahwa belanja pemeliharaan peralatan mesin tersebut digunakan oleh
SKPD untuk pengadaan peralatan mebeulair yang seharusnya menggunakan belanja
modal dengan rincian sebagai berikut:

Harga Jumlah
No. Jenis Barang Satuan Kuantitas
Satuan (Rp) Harga (Rp)
1. Brankast Unit 1 12.750.000,00 12.750.000,00
2. Meja kerja 1 biro Unit 2 1.035.000,00 2.070.000,00
3. Meja kerja biro Unit 6 580.000,00 3.480.000,00
4. Kursi staf Unit 6 585.000,00 3.510.000,00
5. Kursi Pejabat Unit 1 1.115.000,00 1.115.000,00
Jumlah 22.925.000,00
PPN 10% 2.292.500,00
Jumlah Harga 25.217.500,00

Sumber: SPK No. 050/049/SPK/KEMENTERIAN COKODOT/2011 tanggal 16 September 2011

10
2.7 Kertas Kerja Pemeriksaan Siklus Belanja

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

12
DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2003. Audit Sektor Publik. Jakarta : Visi Global Media

13