Anda di halaman 1dari 12

SURAT KEPUTUSAN

No.0665.AKR/Kpts-S0/PBA-A10/31.10.16
TENTANG
TIM NYERI

DIREKTUR RS. PERTAMEDIKA UMMI ROSNATI

Menimbang : a. Bahwa untuk memberikan hak pasien mendapatkan asesmen dan


pengelolaan nyeri dari efek yang tidak diharapkan secara fisik dan
psikologis dari rasa nyeri ;
b. Bahwa dalam upaya membantu pengelolaan rasa nyeri pada
pasien perlu adanya proses komunikasi dan mendidik pasien dan
keluarganya tentang rasa sakit ;
c. Bahwa dalam upaya membantu pengelolaan rasa nyeri diperlukan
kualifikasi staf yang dapat memberikan asuhan nyeri sesuai dengan
pedoman manajemen nyeri;

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;


2. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
3. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/Menkes/Per/IV/2007
tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 90/Menkes/Per/III/2008
tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 519/Menkes/Per/III/2011
tentang Pedoman Penyelenggaraan Anestesiologi dan terapi
intensif di rumah sakit;

MEMUTUSKAN.....
-2-

Surat Keputusan
Nomor : 0665.AKR/Kpts-S0/PBA-A10/31.10.16

MEMUTUSKAN

Menetapkan :
PERTAMA : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG
AMIN TENTANG PEMBERLAKUAN TIM NYERI RUMAH SAKIT
PERTAMEDIKA UMMI ROSNATI.

KEDUA : Kebijakan Tentang Pembentukan Tim Nyeri Nyeri Rumah Sakit


Pertamedika Ummi Rosnati, sebagaimana dimaksud dalam
Diktum kesatu Sebagaimana tercantum dalam Lampiran
Keputusan ini.

KETIGA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila


dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini, akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Banda Aceh


Pada Tanggal : 31 Oktober 2016
RS. Pertamedika Ummi Rosnati
Direktur ,

dr. Rahmad, MARS


Lampiran I Surat Keputusan Direktur
Tentang : Penetapan Tim Manajem Nyeri RS Pertamedika Ummi Rosnati
Nomor : 0665.AKR/Kpts-S0/PBA-A10/31.10.16

TIM MANAJEMEN NYERI


RUMAH SAKIT PERTAMEDIKA UMMI ROSNATI

Ketua : dr. Wirawan Anggoromotomo, Sp, An


Sekretaris : dr. Mizar Arivianto, Sp.B
Anggota :
dr. Fitriyani, Sp, S
dr. Teguh, Sp, B
dr. Rinto hadiarto
Emi Lukman, S. Farm, Apt
Nopriani, Amd. Kep
Andi Indio, Amd. Kep
Ns. Irma Agustina, S .Kep
Ns. Jabar, S. Kep
Ns. Mukayin Asyisifa, S.Kep
` Roro, Amd. Fis
Heru Prasetyo, Amd. Kep
Joko purnoma Amd. An

Ditetapkan di : Banda Aceh


Pada tanggal : 31 Oktober 2016

RS. Pertamedika Ummi Rosnati


Direktur,

Dr. Rahmad, MARS


Lampiran II : Struktur Tim Nyeri Rs. Pertamedika Ummi Rosnati

dr. Wirawan Anggoromotomo, Sp, An


KETUA TIM

dr. Mizar Arivianto, Sp.B


SEKRETARIS

dr. Teguh, Sp, B dr. Fitriyani, Sp, S dr. Rinto hadiarto


ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA

Ns. Mukayin Asyisifa, S.Kep Heru Prasetyo, Amd. Kep Joko purnoma Amd. An
ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA

Ns. Jabar, S. Kep Andi Indio, Amd. Kep Ns. Irma Agustina, S .Kep
ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA

Roro, Amd. Fis Nopriani, Amd. Kep Emi Lukman, S. Farm, Apt
ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA
LAMPIRAN III

TUGAS, TANGGUNG JAWAB, TATA KERJA, WEWENANG & HUBUNGAN


KERJA TIM MANAJEMEN NYERI
RS. PERTAMEDIKA UMMI ROSNATI

Tim Manajemen Nyeri


Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas dari pelayanan pasien maka
perlu disusun suatu kelompok kerja atau tim yang menilai, mengawasi dan
meningkatkan kualitas pelayanan manajemen nyeri.
Jadi tim manajemen nyeri adalah "Tim yang terdiri dari tenaga kesehatan yang
terlibat di dalam pelayanan kesehatan, dalam rangka membantu komite medis agar
penyelenggaraan pelayanan pasien berkualiatas".
Dari penjelasan di atas dapat dijelaskan bahwa tim manajemen nyeri dibentuk oleh
Komite Medis.

Tugas tim manajemen nyeri


1) Menentukan standar dan kebijakan pelayanan
2) Mengusulkan bentuk formulir terkait manajemen nyeri
3) Mengusulkan upaya yang perlu dalam penanggulangan pelayanan manajemen
nyeri
4) Menganalisis tingkat kualitas informasi dari manajemen nyeri di rumah sakit
5) Menentukan jadwal dan materi rapat rutin tim manajemen nyeri

Tanggung Jawab Tim Manajemen Nyeri


1) Memberikan saran - saran dan pertimbangan - pertimbangan dalam hal
penyimpanan manajemen nyeri dan menjamin bahwa semua informasi teranalisis
sebaik - baiknya dan tercatat dalam rekam medis juga menjamin tersedianya data
yang diperlukan untuk menilai pelayanan dalam bentuk manajemen nyeri (scale)
yang diberikan kepada seorang pasien.
2) Menjamin telah dijalankannya dengan baik penilaian manajemen nyeri,
penganalisisan nyeri, dan pemberian tatalaksana manajemen nyeri sesuai
indikasi nyeri yang dialamai oleh pasien.
3) Mengajukan usul - usul kepada Direktur RS tentang perubahan dari isi
manajemen nyeri setiap kali ada perubahan yang mendasar terkait tatalaksana
manajemen nyeri.
4) Membina hubungan antar anggota tim manajemen nyeri terkait keharmonisan
dalam memberikan pelayanan pasien.

Wewenang Tim Manajemen Nyeri


1) Memberikan penilaian akhir terhadap kualitas penilaian manajemen nyeri
2) Menolak manajemen nyeri yang tidak memenuhi standar
3) Menerapkan tindakan - tindakan ke arah perbaikan pelayanan pasien terkait
manajemen nyeri yang tidak memuaskan.
4) Merekomendasikan untuk memberi sanksi bagi tenaga kesehatan yang
berkewajiban
memberikan tatalaksana sesuai permintaan tim manajemen nyeri, tetapi menolak
untuk melakukan tatalaksana manajemen nyeri.

Tata Kerja Tim Manajemen Nyeri


1) Mengadakan pertemuan satu kali dalam sebulan (bila perlu)
2) Harus mempelajari manajemen nyeri baik terhadap penilaian maupun tatalaksana
dengan fokus perhatian pada mutu
3) Menilai kasus - kasus tanpa diagnosa nyeri, perbedaan pendapat tentang
diagnosa dan sebab sebab kematian.
4) Tim juga dapat menilai kasus pasien yang di rawat inap, rawat jalan serta secara
rutin pada pasien IGD dan secara khusus melakukan penilaian pada pasien yang
berada di perawatan intensive.
5) Melakukan penyeragaman bentuk formulir manajemen nyeri
6) Penilaian manajemen nyeri dapat dilakukan dengan Numerick scale (pasien
sadar dan anak usia > 7 tahun), wong baker faces pain scale (dewasa dan anak-
anak > 3tahun ), flacc pain scale (Neonatus 0 6 bulan), comfort pain scale
(pasien tidak sadar di ruang intensive)
7) Dibuat jadwal rutin penilaian

Hubungan Kerja
1) Unit Rekam Medis, Unit Rawat Jalan, Unit Rawat Inap, Unit Gawat Darurat dan
unit lain yang terkait, bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan Tim
manajemen nyeri sesuai dengan batas wewenang dan tanggung jawabnya.
2) Dalam melaksanakan tugasnya, Ka. Tim manajem nyeri berkewajiban
menerapkan koordinasi, integritas dan sinkronisasi baik dalam lingkungan intern
unit dengan unit - unit lain yang terkait, sesuai dengan tugas masing masing.
3) Ka. Unit manajemen nyeri dan unit - unit yang terkait dengan pelaksanaan
kegiatan manajemen nyeri, bertanggung jawab dan mengkoordinasikan
bawahannya masing - masing serta memberikan petunjuk bagi pelaksanaan bagi
petugas bawahannya.
4) Ka. Unit manajemen nyeri dan unit - unit lain yang terkait dengan pelaksanaaan
kegiatan manajemen nyeri, wajib mengikuti dan memenuhi petunjuk dan
tanggung jawab kepada atasan masing - masing dan menyampaikan laporan
berkala tepat pada waktunya.
5) Dalam melaksanakan tugasnya Ka. Tim manajemen nyeri dan unit - unit lain yang
terkait dengan pelaksanaan kegiatan manajemen nyeri, dalam rangka pembinaan
dan pemberian bimbingan wajib mengadakan rapat berkala baik antar petugas
manajemen nyeri, maupun antar pimpinan unit - unit lain yang terkait dengan
pelaksanaan kegiatan manajemen nyeri di Rumah Sakit.
6) Tatalaksana Pasien Nyeri
Melakukan assasmen nyeri dengan :
a) CRIES Scale untuk pasien anak berusia 0 2 bulan
b) FLACC( Face,Leg,Activity,Cry,Consolability ) Scale untuk pasien anak berusia
< 7 tahun
c) VAS ( Visual Analog Scale ) untuk pasien berusia lebih dari 7 tahun
d) CCPOT ( Critical Care Pain Observation Tool ) untuk pasien dengan ventilator
atau sedasi

Lampiran IV : Penatalaksanaan Nyeri


1. Standar WHO 1986

Adjuvant : obat-obatan yang diberikan untuk mengatasi adversed reaction


dari opioid atau anti nyeri tambahan untuk meningkatkan efek analgesia.
Secara farmakologis bukan analgesik murni.
2. Apabila setelah dilakukan 3 langkah tersebut, nyeri masih ada (terutama
pada kasus kanker), dapat dipertimbangkan untuk melakukan langkah ke-4,
yaitu tindakan intervensional :
a. Blok (somatik, simpatetik)
b. Spinal medication
c. Spinal cords stimulation
d. Bedah
Cara penatalaksanaan nyeri kronik menggunakan analgesik opioid :
1. Pasien dan keluarga harus diedukasi mengenai :
a. Efek adiksi narkotik
b. Toleransi
c. Ketergantungan fisik
d. Efek samping lain yang mungkin terjadi
2. Peresepan analgetik opioid dan adjuvan psikotropika harus dilakukan sesuai
prosedur peresepan narkotika dan psikotropika
3. Apabila terdapat pertanyaan atau keluhan selama mendapat penatalaksanaan
nyeri kronik di rawat jalan, pasien harus segera menghubungi UGD Rumah Sakit
Pertamina bintang amin di 0721273601 atau kontrol langsung ke Rumah Sakit
untuk dievaluasi ulang oleh DPJP.
I. Privacy
Setiap pasien yang dilakukan penatalaksanaan nyeri wajib dilindungi privacy-nya
sesuai standar prosedur operasional.
II. Risiko yang dihadapi
Setiap petugas yang melakukan penatalaksanaan nyeri mewaspadai terhadap
risiko yang mungkin terjadi, antara lain :
a. Syok neurogenik
b. Syok anapilaktik
III. Monitoring Pasien
Pengkajian Ulang Nyeri :
1. Perawat melakukan penilaian ulang nyeri pada keadaan sebagai berikut :
a. Pasien yang berpotensi mengalami nyeri (pasien pasca operasi, pasien
Onkologi, pasien dengan nyeri kronik): sedikitnya setiap 2 jam pada 24
jam pertama, kemudian setiap 4 jam pada 24 jam berikutnya.
b. Dalam waktu 15-30 menit setelah intervensi penanganan nyeri dengan
obat intravena, 60-120 menit setelah intervensi melalui jalur oral atau
intramuskular.
c. Dapat lebih sering apabila rasa nyeri tidak teratasi
d. Bila nyeri telah teratasi, kembali dilakukan setiap shift perawat
e. Untuk rawat jalan, penilaian ulang dilakukan apabila diperlukan sesuai
dengan proses kunjungan pasien (misalnya apabila terjadi perubahan
terapi atau dilakukan tindakan rawat jalan)
2. Pada penilaian ulang nyeri dikaji:
a. Ada/ tidaknya nyeri
b. Intensitas nyeri
c. Lokasi nyeri, bila berubah
d. Kualitas nyeri, bila berubah
e. Onset nyeri, lama nyeri, variasi, dan pola nyeri, bila berubah
f. Efek samping obat nyeri yang diberikan
g. Pemeriksaan fisik berkaitan dengan lokasi nyeri
3. Hal-hal yang perlu segera dilaporkan ke dokter penanggung jawab pasien
adalah sebagai berikut :
a. Nyeri yang tidak terkontrol, tidak dapat diatasi
b. Intervensi nyeri yang tidak mencapai tujuan penanganan nyeri dalam
jangka waktu yang sesuai dengan intervensi
c. Nyeri baru atau nyeri yang memberat
d. Efek samping pengobatan nyeri, termasuk namun tidak terbatas pada:
depresi napas, sesak napas, perubahan status mental, mioklonus, mual
dan muntah yang tidak teratasi, retensi
e. Sensorik/ motorik

IV. Penatalaksanaan Nyeri


Pada nyeri ringan skor 1-3, pasien dapat dilakukan terapi non farmakologik yang
meliputi distraksi dan relaksasi, ataupun fisioterapi. Jika dibutuhkan dapat
ditambahkan terapi farmakologik. Terapi farmakologik disesuaikan dengan
ringan sampai beratnya nyeri, dengan mengikuti Three Step Ladder Analgetic.
Pada pasien dengan nyeri akut dan berat (skor 7-10) digolongkan pasien
emergency yang membutuhkan pertolongan segera (ESI 2). Nyeri akut dan
berat dengan nilai VAS 7-10 sebaiknya langsung diberikan obat-obatan yang
kuat dengan dosis optimal, dapat memakai tramadol injeksi atau OAINS injeksi
yang cukup poten seperti ketorolak injeksi, natrium diklofenak injeksi, ketoprofen
injeksi, meloksikam injeksi, dynastat injeksi, dan sebagainya jika masih nyeri
dapat menggunakan golongan narkotika.
Pada prinsipnya, pengobatan nyeri akut dan berat sebaiknya diberikan obat
yang paling poten dulu. Bila intensitas nyerinya sudah menurun, dosis obat
diturunkan seperti menuruni anak tangga (lihat gambar 1).
Obat pilihan untuk nyeri kronik dan intensitas nyeri tinggi atau nyeri berat adalah
morfin. Sebaiknya pemberian secara peroral bila pasien masih dapat menelan.
Dosisnya antara 10-100 mg tergantung intensitas nyeri. Makin tinggi dosis obat,
makin tinggi efek analgetiknya. Pada umumnya pemberian around the clock lebih
menguntungkan daripada pemberian as needed (Tollison, 1998).
Terapi Farmakologi Nyeri Kronik karena Keganasan (Chronic Malignant Pain). Ikuti
Three Step Analgesic Ladder

1. Langkah pertama
Aspirin, asetaminofen atau OAINS dikombinasikan dengan obat-obatan ajuvan
analgesik.

2. Langka kedua
Bila langkah pertama kurang efektif, maka obat pada langkah pertama
diteruskan ditambah dengan narkotik oral dan ajuvan analgesik
Narkotik pilihan adalah Codein. Bisa dikombinasikan dengan aspirin,
asetaminofen atau OAINS.

3. Langkah ketiga
Langkah ketiga diambil bila langkah kedua kurang efektif. Obat-obatan
dilangkah kedua dihentikan, obat dilangkah pertama diteruskan, ditambah grup
narkotika yang lebih poten. Obat pilihan adalah morfin dengan dosis dapat
dinaikan tanpa batas, sementara diawasi respirasi, mental status dan
kesiagaan.(Catatan: pada penderita kanker dengan fase terminal, pemberian
morfin dosis tinggi dapat menyebabkan komunikasi terganggu, maka dapat
diberikan stimulan, misalnya methylphenidate, (Ritalin).

Disetujui Oleh
Direktur,

dr. Rahmad, MARS