Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIKUM STUDI KASUS

FARMASI RUMAH SAKIT DAN KLINIK


SUPERFICIAL FUNGAL INFECTION (CANDIDA VAGINITIS)

Semester I
Kelas A

Disusun Oleh:

Ari Wahyu Utomo 1720343727

Arum Dwi Nur Fadzilah 1720343728

Astrid Scendhia Raka 1720343729

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
2017
BAB I
PENDAHULUAN
Jamur yang dapat menyebabkan infeksi antara lain Candida albicans dan Trichophyton
rubrum. Candida albicans adalah suatu ragi lonjong, bertunas yang menghasilkan
pseudomiselium baik dalam biakan maupun dalam jaringan maupun eksudat. Ragi ini adalah
anggota flora normal selaput mukosa saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan genitalia
wanita. Pada genitalis wanita Candida albicans menyebabkan vulvovaginitis yang menyerupai
sariawan tetapi menimbulkan iritasi, gatal yang hebat, dan pengeluaran sekret. Hilangnya pH
asam merupakan predisposisi timbulnya vulvovaginitis kandida. Dalam keadaan normal pH yang
asam dipertahankan oleh bakteri vagina. Candida albicans dapat tumbuh secara optimum pada
pH 4, tetapi juga dapat tumbuh antara pH 3-7
Wanita memiliki cairan dari vagina, Ini adalah proses normal yang menjaga daerah
mukosa vagina lembab. Tetapi tidak hanya itu daerah vagina yang lembab bisa berubah menjadi
sarang berkumpulnya bakteri-bakteri,jamur serta virus yang bisa dengan mudah hidup di daerah
tersebut dan bisa menimbulkan penyakit,seperti yang terdapat di daerah vagina yang biasa di
sebut sebagai vaginitis.
Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan vagina. Vaginitis dapat terjadi secara
langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum, permukaan mokusa membengkak dan
kemerahan, terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus.
Vaginitis di sebabkan oleh jamur dan bakteri akibat tidak bersihnya genetalia, gejala pada
vaginitis biasanya di sertai keluar cairan vagina atau keputihan yang abnormal,di katakan
abnormal karena keputihan tersebut sangat berlebihan berbau dan terjadi iritasi di sekitar vagina,
vaginitis bisa juga di sebabkan bawaan pada saat bersalin karena kurangnya keseterilan dari alat
atau dari handskun si penolong yang kurang seteril.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI

Vaginal Candidiasis merupakan infeksi pada vagina dikarenakan pertumbuhan yang tidak
terkendali dari Candida sp. terutama Candida albicans (Sobel et al. 1998). Candidiasis sendiri
merupakan penyebab keputihan (vaginal discharge) yang paling sering sebesar 40% dan cairan
yang keluar biasanya kental, putih seperti susu, bau dan disertai rasa gatal yang hebat pada
kemaluan.

Patofisiologi

B. ETIOLOGI
Penyebab tersering ialah Candida albicans yang dapat diisolasi dari kulit, mulut, selaput
mukosa vagina dan feses orang normal. Candida tumbuh sebagai mikroorganisme komensal pada
40-80% manusia sehat berupa blastospora bentuk oval tanpa kapsul, dan bereproduksi melalui
pembentukan tunas, hifa yang pipih, memanjang tidak bercabang dan dapat tunbuh dalam biakan
atau in vivo sebagai tanda penyakit yang aktif atau budding.
Candida albicans secara alami sebenarnya terdapat pada membrane mukosa dalam tubuh
kita, paling banyak terdapat dalam saluran pencernaan. Selain itu, Candida juga ditemukan
dalam vagina yang sehat, mulut, dan rektum. Jika pertumbuhannya terlalu pesat, Candida dapat
menginfeksi vagina, sehingga terjadi peradangan, yang disebut candidiasis. Candidiasis bisa
menyerang wanita di segala usia, terutama usia pubertas. Keparahannya berbeda antara satu
wanita dengan wanita lain dan dari waktu ke waktu meski pada wanita yang sama. Gejalanya,
bibir vagina dan kulit di sekitarnya membengkak, menjadi kemerahan, nyeri, dan gatal. Vagina
terasa panas setiap kali buang air kecil. Dapat juga mengenai mulut, kulit, kuku, bronki, atau
paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis
etiologi kandidosis vulvovaginitis menjadi : Kandidosis vulvovaginitis akut, disebabkan
oleh Candida albicans (90%). Kandidosis vulvovaginitis kambuhan, disebabkan oleh Candida
glabrata (15%), C.parapsilois, Saccaromyces cereviceae.

Faktor Resiko
Faktor-faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan untuk mendapatkan infeksi candidiasis ialah:

1. Umur terutama wanita yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah.
2. Diabetes mellitus disebabkan karena kadar gula darah yang tinggi sehingga lebih
memudahkan bakteri atau jamur untuk berkembangbiak.
3. Kebiasaan konsumsi antibiotik berspektrum luas yang dapat mengganggu keseimbangan
flora normal didalam tubuh.
4. Pemakaian jenis alat kontrasepsi dan lama pemakaian alat kontrasepsi.
5. Perilaku higiene seksual dimana wanita yang menggunakan jenis pakaian dalam dari bahan
nilon meningkatkan risiko hampir 3 kali lebih besar terhadap kejadian kandidiasis vaginalis
dibandingkan jenis pakaian dalam dari bahan katun.
6. Penggunaan kortikosteroid dan imunosupresan.
7. Penderita HIV AIDS.
8. Kehamilan. Pada saat kehamilan pembukaan vagina dapat meningkatkan risiko infeksi dan
berakhir pada peningkatan prevalensi colonisasi Candida dan prevalensi vaginitis
simptomatik. Kadar hormon reproduksi yang tinggi menyebabkan kadar glikogen pada
jaringan vagina berlimpah, sehingga dapat menjadi sumber karbon bagi Candida.Selain itu
estrogen juga dapat meningkatkan adhesi sel ragi pada mukosa vagina. Menurut studi,
hormon seks yang melekat pada Candida dapat meningkatkan formasi mycelial oleh ragi
sehingga meningkatkan virulensi.
C. MANIFESTASI KLINIK
Candida albican penyebab yang paling umum dari vulvovaginitis. Hilangnya pH asam
merupakan predisposisi timbulnya vulvovaginitis candida. Dalam keadaan normal pH yang asam
dipertahankan oleh bakteri vagina. Diabetes, kehamilan, progesteron, atau pengobatan antibiotik
merupakan predisposisi penyakit ini. Biasanya sering terdapat pada penderita Diabetes Melitus
karena kadar gula darah dan urin yang tinggi dan pada wanita hamil karena penimbunan
glikogen dalam epitel vagina.
Vulvovaginitis menyerupai sariawan tetapi menimbulkan iritasi, gatal yang hebat dan
pengeluaran sekret. Pada yang berat terdapat pula rasa panas, nyeri sesudah miksi dan
dispareunia. Pada pemeriksaan yang ringan tampak hiperemia didaerah labia minora, introitus
vagina dan vagina terutama 1/3 bagian bawah. Sering pula terdapat kelainan yang khas yaitu
bercak-bercak putih kekuningan. Pada kelainan yang berat juga terdapat edema pada labia
minora dan ulkus-ulkus yang dangkal pada labia minora dan sekitar introitus vagina. Fluor albus
pada kandidosis vagina berwarna kekuningan. Tanda yang khas ialah disertai gumpalan-
gumpalan sebagai kepala susu berwarna putih kekuningan. Gumpalan tersebut berasal dari massa
yang terlepas dari dinding vulva atau vagina terdiri atas bahan nekrotik, sel-sel epitel dan jamur

D. DIAGNOSA
Diagnosa vaginal candidiasis dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

1. Pemeriksaan langsung
- Melakukan penilaian dari pendekatan simpton yang terjadi (rasa gatal dan panas pada
vaginal, terasa nyeri ketika membuang air kecil serta keluarnya cairan atau sekret pada
vagina yang berwarna kuning, berbau/tidak berbau yang kental).
- Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan
pewarnaan gram. Hasilnya positif apabila terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu.
2. Pemeriksaan biakan
- Bahan atau spesimen yang akan diperiksa ditanam dalam agar dektrosa glukosa
Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah
pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37C,
koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony.Identifikasi Candida
albicans dilakukan dengan membiakkan tumbuhan tersebut pada corn meal agar.
Hasilnya positif apabila jamur candida tumbuh pada media pertumbuhan.
E. TATALAKSANA
1. Terapi Farmaklogi
Candidiasis Vulvavaginal yang Tidak Rumit
Tingkat penyembuhan untukVVC yang tidak rumit yaitu dengan azol topikal atau
oral (antara 80% dan 95%) dan nistatin (antara 70% dan 90%). Tidak ada perbedaan
signifikan dalam aktivitas in-vitro atau kemanjuran klinis antara agen azol topikal.
Pemilihan topikal azol harus didasarkan terutama pada preferensi pasien individu pasien
untuk formulasi produk. Beberapa produk topikal bisa menyebabkan pembakaran
vagina, menyengat, atau iritasi; Sebaliknya, pembawa yang digunakan dalam krim
topikal atau gel dapat memberikan kelegaan gejala awal. Perhatikan, sediaan paling
topikal bisa menurunkan khasiat lateks kondom dan diafragma (Dipiro et al 2008).
Candidiasis Vulvavaginal yang rumit
a. VVC yang rumit terjadi pada pasien yang immunocompromised atau memiliki
diabetes melitus yang tidak terkontrol. Orang-orang ini membutuhkan rencana
perawatan lebih agresif. Rekomendasi saat ini adalah dengan memperpanjang terapi
10-14 hari tanpa memperhatikan rute pemberian. Pilihan terapi sama seperti yang
tercantum dalam tabel terapi candidiasis yang tidak rumit.
Sebuah studi tentang terapi flukonazol oral pada wanita dengan VVC yang rumit
ditunjukkan tingkat penyembuhan meningkat dari 67% dengan terapi dosis tunggal
sampai 80% ketika 150 mg dosis flukonazol diulang 72 jam setelahnya dosis awal
(Dipiro et al 2008).
b. VVC selama kehamilan juga bisa dianggap rumit karena pertimbangan faktor host
seperti perubahan hormon yang dapat mempengaruhi flora normal sehingga sangat
penting dalam memilih rejimen terapeutik. Agen topikal dianggap aman selama
kehamilan. Agen oral dikontraindikasikan pada kehamilan karena kekhawatiran
komplikasi janin. ACOG menganjurkan untuk menghindari terapi oral sebagai dosis
flukonazol yang lebih besar telah dikaitkan dengan kelahiran cacat. ACOG
merekomendasikan terapi imidazol topikal selama 7 hari (Dipiro et al 2008).
c. Infeksi HIV
Tingkat kolonisasi vagina Candida antara perempuan dengan infeksi HIV lebih tinggi dari
pada wanita seronegatif dengan karakteristik demografi dan risiko perilaku yang sama, dan
tingkat kolonisasi berkorelasi dengan meningkatnya keparahan imunosupresi. Symptomatic
VVC juga lebih sering terjadi pada wanita dengan infeksi HIV dan juga berkorelasi dengan
tingkat keparahan imunodefisiensi. Selain itu, di antara perempuan dengan infeksi HIV, paparan
azole sistemik dikaitkan dengan isolasi nonalbicans spesies Candida dari vagina.
Berdasarkan data yang tersedia, terapi untuk VVC yang tidak rumit dan rumit pada wanita
dengan infeksi HIV tidak berbeda dengan wanita seronegatif. Meskipun terapi profilaksis jangka
panjang dengan flukonazol pada dosis 200 mg mingguan telah efektif dalam mengurangi C.
albicans kolonisasi dan gejala VVC, regimen ini tidak dianjurkan untuk wanita dengan infeksi
HIV dengan tidak adanya rumit VVC. Meskipun VVC dikaitkan dengan peningkatan
serokonversi HIV pada perempuan HIV-negatif dan peningkatan tingkat cervicovaginal HIV
pada wanita dengan infeksi HIV, efek pengobatan untuk VVC pada perolehan dan penularan
HIV tetap tidak diketahui (Anonim 2015).
Candidiasis Vulvovaginal berulang
Candidiasis Vulvovalginal rekuren (RVVC), biasanya didefinisikan sebagai empat
atau lebih episode VVC simtomatik dalam 1 tahun, mempengaruhi persentase kecil
wanita (<5%). Patogenesis RVVC kurang dipahami dan kebanyakan wanita dengan
RVVC tidak memiliki predisposisi atau kondisi yang jelas. Spesies C.
glabrata dan nonalbicans lainnya Candida diamati pada 10%-20% dari wanita dengan
RVVC. Terapi antimikotik konvensional tidak begitu efektif melawan spesies non-
albicans ini dibandingkan dengan C. albicans. Setiap episode individu RVVC yang
disebabkan oleh C. albicans memberikan respon yang baik dengan durasi pendek terapi
azol oral atau topikal. Namun, untuk mempertahankan kontrol klinis dan mycologic,
beberapa spesialis merekomendasikan durasi terapi awal yang lebih lama (misalnya terapi
topikal 7-14 hari atau dosis flukonazol oral 100 mg, 150 mg, atau 200 mg setiap hari
ketiga untuk Total 3 dosis [hari 1, 4, dan 7]) untuk mencoba remisi mycologic sebelum
memulai regimen antijamur perawatan.
Flukonazol oral (yaitu dosis 100 mg, 150 mg, atau 200 mg) setiap minggu selama
6 bulan adalah regimen perawatan lini pertama. Jika regimen ini tidak layak
dilakukan, perawatan topikal yang digunakan sebentar-sebentar juga bisa
dipertimbangkan. Terapi pemeliharaan supresif efektif dalam mengurangi
RVVC. Namun, 30%-50% wanita akan mengalami penyakit kambuhan setelah terapi
perawatan dihentikan. Wanita simtomatik yang kultur tetap positif meski terapi
perawatan harus dikelola melalui konsultasi dengan spesialis (Anonim 2015).
Kandidiasis Vaksinasi Antifungal Resisten
Ketahanan terhadap antijamur azol harus dipertimbangkan pada individu yang
memiliki kultur ragi yang terus-menerus positif dan gagal merespons terapi meskipun
kepatuhan terhadap regimen yang ditentukan. Infeksi ini dapat diobati dengan asam
borat atau 5-flucytosine. Asam borat diberikan sebagai kapsul intravagina 600 mg
setiap hari selama 14 hari terapi induksi, kemudian dilanjutkan dengan regimen
perawatan satu kapsul intravagina 2 kali seminggu. Asam borat seharusnya tidak
diberikan secara oral karena beracun. Krim 5-Flucytosine diberikan per vagina, 1.000
mg dimasukkan setiap malam selama 7 hari (Dipiro et al 2008).
Evaluasi Hasil Terapeutik
Pengobatan VVC akan dianggap memiliki hasil positif jika gejala VVC
diselesaikan dalam waktu 24 sampai 48 jam dan tidak ada pengobatan yang merugikan
setelah dialami. Penilaian sendiri gejala lega sesuai untuk kebanyakan kasus
VVC. Jika gejala tetap tidak terselesaikan atau terulang, maka pengujian dan
perawatan lebih lanjut dapat dilakukan diperlukan (Dipiro et al 2008).
2. Terapi Non-Farmakologi (Dipiro et al 2008)
Hindari sabun dan parfum yang keras yang dapat menyebabkan atau memperburuk
vulva gangguan.
Jaga agar area genital tetap bersih dan kering dengan menghindari penyempitan
pakaian
Douching tidak direkomendasikan untuk pencegahan atau perawatan.
konsumsi harian dari 240 mL yogurt mengandung Lactobacillus
acidophilus menurunkan kolonisasi dan gejala infeksi VVC pada wanita dengan
infeksi berulang.
KASUS 5 : SUPERFICIAL FUNGAL INFECTION (CANDIDA VAGINITIS)
Nama : Ny. S
Umur : 32 th
Alamat : Karanganyar
Keluhan Utama :
Pasien mengalami keluhan gatal di vagina dengan rasa seperti terbakar dan nyeri
dirasakan lebih parah saat setelah melakukan hubungan intim. Nyeri pada vagina juga dialami
saat berkemih. Pasien menemukan cairan putih, kering dan dadih dari vaginanya. 2 minggu yang
lalu pasien pernah pergi ke dokter dan diberi supositoria
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien 3 minggu yang lalu didiagnosis oleh dokternya infeksi Candida vagina. Pasien
diberi supositoria nistatin 100.000 unit secara intravagina selama 14 malam. Setelah minum obat
selama 1 minggu pasien sudah merasa lebih baik. Namun, 3 hari kemudian Dia mulai merasakan
gatal ringan di vagina. Dia pikir itu karena memakai celana dalam dan kemudian berhenti
memakainya, tapi Rasa gatal memburuk dan menjadi cukup parah dengan sensasi terbakar.
Terdapat cairan putih, kering, seperti dadih yang keluar dari vagina. Cairan tersebut tidak berbau
Ini seperti yang dialami 3 minggu yang lalu.
Riwayat Penyakit Terdahulu :
Pasien menderita Diabetes tipe 1 sejak usia 11 tahun. Glukosa darahnya terkontrol
dengan baik. Sering mengalami Ulkus dan infeksi di kaki dan sering diresepkan antibiotik.
Riwayat Sosial :
Pasien sudah menikah dan sedang hamil 7,5 bulan
Riwayat Pengobatan :
Insulin glargine 15 unit pada pagi hari satu tahun lalu Insulin lispro 6 unit 15 menit
sebelum sarapan pagi, 8 unit 15 menit sebelum makan siang, dan 10 unit 15 menit sebelum
makan malam selama 4 bulan terakhir
Materna 1x1 pagi hari
Pemeriksaan Umum
TD 120/78 mmHg; BB 70 kg, tinggi 165 cm
Pemeriksaan Cairan Vagina : viskositas kental, berwarna putih, tidak berbau, pH 4.

FORM DATA BASE PASIEN


UNTUK ANALISIS PENGGUNAAN OBAT
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S No Rek Medik :
Umur : 32 Tahun Dokter Yg Merawat :
Alamat : Karanganyar
Ras :
Pekerjaan :-
Pendidikan :-
BB/TB : 70 Kg/165 cm
DIAGNOSA : Infeksi candida vagina
RIWAYAT MASUK RS
-
RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU
- Pasien menderita diabetes tipe 1 sejak usia 11 tahun.
- Sering mengalami ulkus dan infeksi bakteri di kaki sehingga sering di resepkan
antibiotik
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
- 3 minggu yang lalu didiagnosis infeksi candida vagina dan diterapi dengan suppositoria
Nistatin 100.000 unit selama 14 malam. Setelah 3 hari gejala 3 minggu yang lalu
kembali kambuh.
RIWAYAT SOSIAL :
- Pasien sudah menikah dan sudah hamil 7,5 bulan
Kegiatan Keterangan
Pola makan/diet
- Vegetarian tidak
Merokok tidak
Meminum Alkohol tidak
Meminum Obat herbal tidak

KELUHAN / TANDA UMUM :


1. Subyektif
Tanggal Data Subyektif
3 minggu Gatal di vagina dengan rasa seperti terbakar dan nyeri
yang lalu dirasakan lebih parah saat setelah melakukan hubungan intim.
Nyeri pada vagina setelah berkemih
Saat Gatal ringan yang semakin memburuk dan menjadi cukup
sekarang parah dengan sensasi terbakar. Gejala yang dialami sama
persis seperti 3 minggu yang lalu (Terdapat cairan putih,
kering seperti dadih yang keluar dari vagina yang tidak
berbau)
2. Objektif
a. Tanda Vital:
- TD = 120/78 mmHg (Normal : 120/80 mmHg)
- BB = 70 Kg
- TB = 165 cm
b. Pemeriksaan Cairan Vagina
- Viskositas kental, berwarna putih, tidak berbau dan pH = 4
RIWAYAT PENYAKIT DAN PENGOBATAN
a. Pengobatan Terdahulu
Nama Penyakit Terapi

Diabetes tipe 1 1. Insulin glargine 15 U pagi hari 1 tahun lalu


2. Insulin Lispro 6 U 15 sebelum sarapan
pagi, 8 U 15 sebelum makan siang & 10
U 15 sebelum makan malan selama 4
bulan terakhir
Ulkus dan infeksi bakteri Antibiotik

Infeksi candida vagina Suppositoria nistatin 100.000 unit untuk 14 malam


OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI

No. Nama Obat Indikasi Dosis Rute Interaksi ESO Outcome Terapi
Pemberian

1. Insulin Lispro Diabetes melitus Kebutuhan harian Injeksi - Hipoglikemik, Kadar gula darah dapat
tipe 1 (IONI hal = 0,5-1 UI/KgBB subcutan dan dapat terjadi terkontrol dengan baik
487) iritasi kulit pada
(Disesuaikan
tempat suntikan
dengan individu)

2. Nistatin Kandidiasis 100.000 UI/tab Suppositoria Diare, sakit Mengatasi infeksi yang
Vagina (Info Obat - perut, dan iritasi disebabkan oleh jamur
hal 276)

3. Materna Susu ibu hamil 1 gelas/hari pada Oral - - Memberikan gizi yang
pagi hari cukup bagi ibu dan bayi
yang ada didalam
kandungan.
Problem
Subyektif Objektif Terapi DRP
Medik
Infeksi Gatal ringan yang semakin Terdapat cairan putih, Nistatin 100.000 UI Pemilihan obat
candidiasis memburuk dan menjadi cukup kering dan dadih yang selama 14 malam kurang tepat
vaginal parah dengan sensasi terbakar. keluar dari vaginanya.
nyeri dirasakan lebih parah saat
setelah melakukan hubungan
intim. Nyeri pada vagina juga
dialami saat berkemih.

Diabetes - - Insulin glargine 15 U Terapi telah


tipe 1 pagi hari 1 tahun lalu dihentikan

Insulin Lispro 6 U 15 Terapi telah tepat


sebelum sarapan pagi, 8
U 15 sebelum makan
siang & 10 U 15
sebelum makan malan
selama 4 bulan terakhir
Infeksi - - Antibiotik Penggunaan
bakteri dan antibitoik dapat
ulkus pada meningkatkan resiko
kaki terjadinya
candidiasis vaginal
CARE PLAN
1. Infeksi candidiasis vaginal yang diderita oleh pasien dapat disebabkan
oleh faktor pemicu seperti kehamilan, diabetes melitus, penggunaan
antibiotik dan kegemukan Untuk mengobati infeksi candidiasis vaginal
direkomendasikan untuk menggunakan topikal golongan Imidazole seperti
klortimazol, Merekomendasikan pemberian sediaan topikal klortimazol
1% yang digunakan 1 kali sehari pada malam hari sebelum tidur selama 7
hari. Terapi Nistatin diganti sebab berdasarkan penelitian penggunaan obat
topikal golongan Azole lebih baik dibandingkan dengan Nistatin. (Jurnal
penelitian dapat dilihat pada makalah).
2. Berdasarkan riwayat penyakit pasien diketahui sering mengalami Ulkus
dan infeksi bakteri pada kaki sehingga menyebabkan pasien sering
menerima resep antibiotik dapat menjadi pemicu lain munculnya dan
kambuhnya candidiasis vaginal, sebaiknya dilakukan kultur bakteri pada
ulkus yang terjadi di kaki, sehingga dapat diketahui jenis bakterinya dan
dapat diberikan antibiotik spektrum sempit
3. Merekomendasikan untuk tetap mengontrol kadar gula darahnya agar tetap
normal dan menghindarkan resiko melahirkan bayi dengan BB yang
berlebih. Pemberian insulin lispro tetap dilanjutkan insulin lispro 6 U 15
sebelum sarapan pagi, 8 U 15 sebelum makan siang & 10 U 15 sebelum
makan malam untuk tetap mengontrol kadar gula darah pasien.
4. Nyeri yang dialami oleh pasien ketika berkemih dan setelah melakukan
hubungan intim disebabkan oleh infeksi Candidaalbicans
Merekomendasikan untuk diberikan obat anti nyeri yang digunakan
apabila diperlukan saja. Disarankan agar pasien untuk sementara waktu
tidak melakukan hubungan intim bersama suami kalaupun melakukan
hubungan intim disarankan untuk menggunakan kondom agar pasangan
tidak tertular jamur candida albicans Rekomendasi pemberian
Paracetamol 500 mg bila perlu (prn) untuk nyeri yang diderita oleh pasien.
5. Penggunaan susu Materna yang merupakan susu ibu hamil berkaitan
dengan kondisi pasien saat ini yang sedang hamil 7,5 bulan,
Merekomendasikan penggunaan susu Materna tetap dilanjutkan 1 kali
sehari pada pagi hari dan apabila akan menggunakan obat paracetamol
untuk diberikan jeda minimal 1 jam
DAFTAR PUSTAKA

Adelberg, E.A. Jawetz, E. Melnick, J.L. (1986). Mikrobiologi untuk Profesi


Kesehatan. Jakarta: EGC.
Haram K, Gigranes A. 1978. Vulvovaginal Candidiasis In Pregnancy Treated
With Clotrimazole. Acta Obstet Gynecol Scand 57: 453-455.

Magdalena, Maria. 2009. Candida Albicans. Departemen Mikrobiologi Fakultas


Kedokteran Usu
Sobel J.D. 1985. Vaginal Candidosis A Common Problem In : Candidosis and
its treatment with oral itraconazole Symposium San.
Casari, E. (2010). Gardnerella, Trichomonas vaginalis, Candida. United States of
America.