Anda di halaman 1dari 10

Teori Kepribadian Timur

Posted on November 13, 2015 by Ina Ismi Fatmawati Leave a comment

Makalah Psikologi Kepribadian

TEORI KEPRIBADIAN ABHIDHAMMA

Abhidhamma telah berkembang 15 abad yang lalu, merupakan wawasan-wawasan dari budha
Gautama. Buddhisme sendiri berkembang menjadi beberapa aliran yaitu Mahayana dan
hinayana.

. A. UNSUR-UNSUR KEPRIBADIAN

Dalam abhidhamma kata kepribadian serupa dengan konsep atta atau diri (self)
menurut konsep barat, menurut adbhidamma tidak ada diri yang bersifat kekal atau abadi , benar-
benar kekal, yang ada hanyalah sekumpulan proses impersonal yang timbul dan menghilang,
yang nampak sebagai kepribadian terbentuk dari perpaduan antara proses proses impersonal ini,
apa yang nampak sebagai diri tidak lain adalah bagian keseluruhan jumlah bagian-bagian tubuh
yakni pikiran, penginderaan, hawa nafsu, dsb. Satu-satunya benang bersenimbungan atau
bersambung menyambung dalam jiwa adalah bhava yakni kesinambungan kesadaran diri waktu
ke waktu.

Setiap momen yang berturut-turut dalam kesadaran manusia ,dibentuk oleh momen sebelumnya,
dan pada gilirannya akan menentukan momen-momen yang berikutnya. Bhavalah yang
menghubungkan momen kesadaran yang satu dengan momen kesadaran berikutnya, jadi semua
proses kejiwaan manusia itu berkesinambungan.

Menurut abhidahmma, bahwa kepribadian manusia itu sama seperti sungai memiliki
bentuk yang tetap, seolah-olah satu identitas ,walaupun tidak setetes air pun tidak berubah seperti
pada momen sebelumnya.dalam pandangan ini tidak ada aktor terlepas dari aksi, tidak ada
orang yang mengamati terlepas dari persepsi ,tidak ada subjek sadar dibalik kesadaran (dalam
kata-kata Buddha ,samyutta nikaya ,1972,135:hall,p.237)

Yang menjadi fokus study psikologi abhidhamma adalah rangkaian peristiwa, yakni hubungan
terus menerus antara keadaan-keadaan jiwa dan objek-objek indera misalnya perasaan bihari
(keadaan jiwa) pada seorang wanita cantik (objek indera). Keadaan-keadaan jiwa itu selalu
berubah dari momen ke momen dan perubahan itu ternyata sangat cepat. Metode dasar yang
dipakai untuk meneliti perubahan yang sangat banyak dalam jiwa adalah intropeksi ,yakni suatu
observasi teliti dan sistematik yang dilakukan oleh seseorang terhadap pengalamannya sendiri.
Yang menjadi subjek psikologi abhidhamma adalah :

1. Penginderaan dari panca indera


2. Pikiran-pikiran yang dianggap sebagai indera keenam
3. Setiap keadaan jiwa terdiri atas sekumpulan sifat-sifat jiwa yang disebut faktor-faktor
jiwa, sifat-sifat jiwa misalnya cinta, benci, adil, bengis, social, dsb.
Abhidhamma menemukan 53 kategori faktor kejiwaan, yang lain menemukan 175 macam :

Prinsip-prinsip keadaan jiwa dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Setiap keadaan jiwa hanya sebagian kecil kumpulan faktor yang hadir
2. Kualitas-kualitas keadaan jiwa ditentukan oleh faktor-faktor mana yang digabungkan
3. Abhidhamma yakin, bahwa setiap keadaan jiwa berasal dari pengaruh biologis dan
pengaruh situasi ,disamping pemindahan pengaruh dari momen psikologis sebelumnya.
4. Setiap keadaan jiwa pada gilirannya menentukan kombinasi khusus faktor-faktor dalam
keadaan jiwa berikutnya.

Faktor-faktor jiwa berperan sebagai :

1. Faktor-faktor sebagai kunci menuju karma (menurut istilah barat),karma menurut istilah
pali, istilah teknis bagi abhidamma artinya karma adalah prisip bahwa setiap perbuatan
dimotivasi oleh keadaan-keadaan jiwa yang melatarbelakangi.
2. Menurut psikologi timur bahwa suatu tingkah laku pada hakikatnya secara moral ialah
netral
3. Sifat moral tingkah laku ditinjau dari motif-motif yang melatarbelakangi orang yang
melakukan perbuatan itu
4. Perbuatan seseorang memiliki campuran faktor-faktor jiwa negatif
5. Dhammapada adalah kumpulan sajak yang dahulu diucapkan oleh budha Gautama ,mulai
tentang ajaran karma dan kamma.
6. Intinya: bahwa segala apa yang ada pada manusia adalah sebagai akibat yang pikirannya
yakni berdasarkan pikirannya dan dibentuk oleh pikirannya juga

Jika orang bertindak atau berbicara dengan pikiran jahat maka pikiran sakit akan mengikutinya,
sama seperti roda yang mengikuti lembu yang menariknya. sebaliknya , jika kita berbicara atau
bertindak dengan pikiran murni ,maka kebahagiaan akan mengikutinya, sama seperti bayang-
bayang yang tidak pernah meninggalkannya ( babbit,1965,p.3,hall,240).

1. MACAM-MACAM FAKTOR JIWA

Mengenai faktor-faktor jiwa dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yakni:

1. Kusula : berarti murni, baik, sehat


2. Akusula : berarti tidak murni, tidak baik, tidak sehat

Kebanyakan faktor jiwa perseptual, kognitif, dan afektif cocok untuk dimasukkan ke dalam
kategori sehat atau tidak sehat. Penilaian tentang sehat atau tidak sehat dicapai secara
empiris, berdasarkan pengalaman kolektif sejumlah besar petapa Buddhis pertama. Kriterium
mengenai faktor jiwa sehat-tidak sehat adalah bahwa apakah suatu faktor jiwa khusus tertentu
mempermudah atau mengganggu usaha mereka untuk mengheningkan jiwa dalam samadi
(pertapaan). Dalam hal ini, faktor jiwa yang menganggu samadi disebut faktor jiwa tidak sehat.
Sedangkan yang mempermudah jalannya untuk mengheningkan jiwa disebut faktor jiwa sehat.
Selain faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat, terdapat juga tujuh sifat netral yang ada dalam
setiap keadaan jiwa, yakni:

Phasa : appersepsi, adalah kesadaran semata-mata ke suatu objek


Sanna : persepsi, adalah pengenalan pertama bahwa kesadaran semata-mata pada suatu
objek yang tersebut termasuk dalam salah satu indera. Misalnya: penglihatan,
pendengaran, dan sebagainya.
Cetana : kemauan, yakni reaksi terkondisi yang menyertai suatu objek
Vedana : perasaan, aneka penginderaan yang dibangkitkan oleh objek itu
Ekaggata : keterarahan kepada suatu titik, yakni pemusatan kesadaran
Manasikara : perhatian spontan, yakni pengarahan perhatian yang tidak disengaja karena
daya tarik dari suatu objek
Jivitindriya : energi psikis, yang memberi vitalitas dan mempersatukan keenam faktor
jiwa lainnya. (Hall, p. 241).

Faktor-faktor tersebut diatas merupakan sejenis kerangka dasar kesadaran tempat tertanamnya
faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Namun kombinasi khusus faktor-faktor tersebut
berbeda-beda dari momen ke momen.

1. FAKTOR-FAKTOR JIWA TIDAK SEHAT

A). Beberapa contoh faktor tidak sehatnya pada jiwa dari kelompok kognitif antara lain :

1. 1. Moha : delusi, bersifat perseptual, sentral yakni kegelapan jiwa, penyebab persepsi
salah pada objek kesadaran.
2. Aditthi : pandangan salah, pemahaman tidak tepat karena pengaruh delusi, karena
pandangan atau pemahaman salah maka semua yang tertuju menjadi tidak menyenangkan
, misalnya pandangan diri sebagai yang tetap model barat, secara timur hal-hal tersebut
adalah aditthi.
3. 3. Vicikiccha : kebingungan, mencerminkan ketidak mampuan untuk menentukan atau
membuat suatu keputusan yang tepat.
4. Ahirika : sikap tidak tahu
5. Anottapa : tanpa belas kasihan, bengis, kejam, sadis.
6. Mana : egoisme, egoistis, mementingkan diri sendiri

B). Sedangkan yang termasuk dalam kelompok afektif ialah :

1. Uddhacca : keresahan , rasa tidak tentram

2 Kukkucca : kekhawatiran, yakni keadaan bingung, linglung, penyesalan

3. Lobha : tamak, rakus, serakah


4. Macchariya : kekikiran , pelit
5. Issa : iri hati, menyebabkan keterikatan pada objek
6. Dosa : kemuakan, merupakan sisi negatifnya dan selalu berhubungan dengan delusi
7. Thina : kontraksi , pengerutan, kejang-kejang, gemetar
8. Middha : kebekuan, sikap dingin .

Faktor-faktor tersebut penyebab jiwa menjadi kaku, tidak luwes, dan jika dominan maka orang
menjadi lamban.

Faktor-faktor jiwa sehat bersifat polar dengan lawannya. Jalan tengah tidak ada. Prinsip polar
tersebut dijadikan cara untuk membuat jiwa yang sehat, yakni mengganti faktor-faktor tidak
sehat. Hal ini merupakan prinsip resiprokal yang menghambat timbal balik.

1. FAKTOR JIWA SEHAT DARI KOGNITIF


2. Panna : pemahaman, insight, lawan dari delusi, persepsi yang jelas. Panna dan moha
tidak dapat hadir bersama .
3. 2. Sati : sikap penuh perhatian, mind fulnness , pemahaman yang jelas dan kontinyu pada
objek. Panna dan sati menyebabkan orang menjadi tenang selalu, dapat untuk menekan
semua faktor tidak sehat
4. Hiri : rendah hati , menghambat tidak tahu malu
5. Ottappa : sikap penuh hati-hati , sikap tanpa penyesalan
6. Cittujjukata : kejujuran, gandengan dari ottappa ( kejujuran )
7. Saddaha : kepercayaan, yakni kepastian berdasarkan pada persepsi yang tepat, kombinasi
dari hiri, ottapa , cittjjukata dan saddha.

1. DINAMIKA KEPRIBADIAN

Dinamika kepribadian adalah gerak kepribadian yang terjelma dalam tingkah laku, baik yang
nampak maupun tidak nampak dan terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa sehat dan
tidak sehat. Jika terjadi dominasi dari faktor-faktor sehat atau tidak sehat tertentu, akan
menghasilkan tipe-tipe kepribadian atau tingkah laku tertentu pada individu yang bersangkutan.

Beberapa contoh interaksi berbagai faktor jiwa dan bagaimana prilaku yang terjadi, atau
menyebabkan sifat-sifat tingkah laku tertentu adalah sebagai berikut:

Kelompok faktor tidak sehat yang terdiri dari ketamakan, kekikiran, irihati, dan
kemuakan dilawan oleh faktor-faktor ketidakterikatan (alobha), adosa (ketidakmuakan),
tatramajjhata (tidak memihak), dan passadhi (sikap tenang), maka akan mencerminkan
ketenangan fisik dan jiwa yang terjadi karena berkurangnya perasaan keterikatan.
Sikap-sikap alobha, adosa, tatramjjhata, dan passadhi menggantikan sikap rakus atau
sebaliknya, sikap menolak, dengan sikap penuh perhatian terhadap apa saja yang
mungkin timbul dalam kesadaran seseorang, yang menyebabkan timbulnya sikap
menerima apa adanya.
Faktor-faktor sikap egois, irihati, kemuakan, menyebabkan orang haus atau
mendambakan pekerjaan yang terpandang, tinggi dan mewah, atau iri hati terhadap orang
lain yang mempunyai pekerjaan.
Sebaliknya, sikap-sikap tenang, bebas, ketidakmuakan, netral, menyebabkan orang
mempertimbangkan keuntungan-keuntungan berupa upah dan prestasi dengan keinginan-
keinginan seperti tekanan dan ketegangan yang lebih besar serta menilai secara adil.
Sedangkan sikap netral memandang seluruh situasi dengan tenang.
Jika faktor-faktor kegembiraan (ahuta), luwes/fleksibel (muduta), dan kecakapan
(paqunata) muncul pada prilaku, maka seseorang akan berpikir dan bertindak dengan
leluasa dan mudah, mewujudkan ketrampilan-ketrampilannya secara maksimal.
Faktor tersebut menekan faktor-faktor kontraksi dan kebekuan yang tidak sehat itu, yang
menguasai jiwa dalam keadan-keadaan tertentu seperti depresi. Dalam kehidupan sehari-
hari, faktor sehat tersebut menyebabkan orang dapat menyesuaikan diri secara fisik dan
psikis terhadap keadaan-keadaan yang senantiasa berubah serta dapat menghadapi
tantangan-tantangan manapun yang mungkin timbul.

1. PSIKODINAMIKA KEPRIBADIAN

Psikodinamika kepribadian dapat terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa dengan
mekanisme sebagai berikut:

Faktor-faktor jiwa yang sehat dan tidak sehat saling menghambat


Tetapi tidak selalu terdapat hubungan satu lawan satu antara sepasang faktor-faktor sehat
dan tidak sehat.
Kehadiran yang satu menekan faktor tandingannya.
Dalam beberapa hal satu faktor sehat akan menghambat sekumpulan faktor tidak sehat,
misalnya, ketidakterikatan mampu secara sendirian menghambat ketamakan, kekikiran,
irihati dan kemuakan.
Faktor-faktor kunci tertentu juga mampu menghambat sekumpulan faktor tandingan
secara keseluruhan, misalnya jika terjadi delusi, maka tidak satupun faktor baik dapat
timbul dan hadir secara bersamaan.
Karma seseoranglah sebagai penentu, apakah ia akan mengalami keadaan jiwa sehat atau
keadaan jiwa tidak sehat.
Suatu kombinasi faktor merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh biologis dan pengaruh-
pengaruh situasi disamping juga merupakan pindahan pengaruh dari keadaan jiwa
sebelumnya. Faktor-faktor tersebut biasanya timbul sebagai suatu kelompok, baik positif
maupun negatif.
Dalam setiap keadaan jiwa tertentu, faktor yang membentuk keadaan jiwa tersebut
muncul dengan kekuatan-kekuatan yang berbeda.
Faktor apa saja yang paling kuat, akan menentukan bagaimana seseorang mengalami dan
bertindak dalam suatu momen tertentu
Meskipun mungkin semua faktor buruk hadir, namun keadaan yang dialami akan sangat
berbeda, tergantung pada apakah misalnya ketamakan atau kebekuan yang mendominasi
jiwa.
Hierarki kebutuhan dari faktor-faktor tersebut menentukan apakah keadaan spesifik itu
akan menjadi positif atau negatif.
Jika faktor tertentu atau sekumpulan faktor seringkali muncul dalam keadaan jiwa
seseorang, maka faktor tersebut akan menjadi sifat kepribadian.
Jumlah keseluruhan faktor-faktor jiwa yang sudah menjadi kebiasaan pada seseorang,
menentukan sifat-sifat kepribadiannya.

Daftar sifat-sifat kepribadian menurut faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat sebagai berikut :
1. Perseptual (kognitif)
2. Pemahaman (insight) : Delusi
3. Sikap penuh perhatian : Pandangan yang salah
4. Sikap rendah hati : Sikap tak tahu malu
5. Sikap penuh hati-hati : kecerobohan
6. Kepercayaan : Egois
7. Afektif
8. Ketenangan : keresahan
9. Ketidak-terikatan : ketamakan
10. Ketidak-muakan : kemuakan
11. Kenetralan : Iri hati
12. Kegembiraan : kekikiran
13. Fleksibilitas : kekhawatiran
14. Kemampuan adaptasi : pengerutan
15. Kecakapan : kebekuan
16. Kejujuran : kebingungan.

1. TIPE-TIPE KEPRIBADIAN

Mengenai bagaimana timbunya beberapa tipe kepribadian menurut ajaran Abhidhamma adalah
sebagai berikut:

1. Bahwa tipe-tipe kepribadian menurut Abhidhamma, secara langsung diturunkan dari


prinsip bahwa faktor-faktor jiwa muncul dalam kekuatan yang berbeda-beda.
2. Motif pada manusia berasal dari analisis mengenai faktor-faktor jiwa dan pengaruh fakor-
faktor tersebut pada tingkah laku. Motif itu menentukan keadaan jiwa seseorang untuk
mencari sesuatu atau menjauhinya.
3. Buku Visuddhimagga (Buddhaghosa, 1976), merupakan pedoman untuk meditasi sesuai
dengan ajaran Abhidhamma abad kelima Masehi.

Tipe-tipe manusia menurut Visudhimagga antara ain ialah:

1. Tipe orang suka kenikmatan: berpenampilan menarik, sopan dan menjawab dengan
hormat jika disapa. Mereka melakukan tugas-tugas mereka dengan seni, rapi, sangat
berhati-hati. Jika melihat objek yang menyenangkan, mereka akan berhati-hati untuk
mengaguminya, terpesona oleh tindakan, dan tidak memperhatikan kekurangannya. Jika
mereka meninggalkan objek yang yang indah dengan rasa sesal.
2. Tipe orang pembenci: berdiri dengan kaku, tempat tidur dibereskan dengan serampangan
dan tergesa-gesa, berdiri dengan tegang, dan marah jika dibangunkan. Jika bekerja,
mereka kasar dan sembrono, jika menyapu berbunyi keras dan gaduh. Berpakaian ketat
dan tidak rapi. Senang pada makanan pedas dan asam, makan tergesa-gesa dan tidak
memperhatikan cita rasa, tidak suka makanan hambar. Mereka tidak tertarik pada objek-
objek yang indah, memperhatikan kekurangan sampai yang kecil-kecil, sementara
mengabaikan kebaikan-kebaikannnya, sering marah, penuh kebencian, kejam, mudah iri
hati dan kikir.
1. Tipe orang delusi, dapat dideskripsikan sebagai berikut :
2. Pakaiannya compang-camping, benangnya berselawiran, kasar seperti rami,berat dan
tidak enak dipakai.
3. Mangkuknya dari tanah liat yang buruk atau mangkuk logam yang berat, bentuknya tidak
serasi, memuakkan,tidak rata, tidak ada di desa sekitarnya.
4. Desa yang cocok adalah desa yang tidak teratur, orangnya lalu-lalang seolah-olah tidak
melihatnya.
5. Orang yang menyalaminya adalah orang-orang yang kasar, kotor, tak sedap dipandang
mata, makanan kotor, berbau dan menjijikkan.
6. Makannya bubur yang telah hancur, dadih basi (langit-langit susu), bubur yang asam, kari
dari sayuran tua-tua, atau apa saja asal dapat mengisi perut. Mengisi mulut sepenuh-
penuhnya, ceroboh, mengotori muka (dalam bahasa jawa gabres).
7. Cara berdiri seenaknya, suka tidur terlentang, bangun lamban, suka menggerutu, banyak
keluh kesah, tempat tidur tidak rapi.
8. Sebagai pekerja mereka tidak terampil, jorok, mereka menyapu dengan kaku dan
serampangan, tidak bersih.
9. Mereka tidak mempunyai ide baik atau jelek pada benda, percaya saja apa yang dikatakan
oleh orang lain, lalu turut memuja atau mencelanya.
10. Sering berkelakuan malas, kaku, kacau, mudah menyerah, dan bingung, dapat juga keras
kepala dan bandel.

Tujuannya untuk melatih mengalahkan gejala- gejala psikologis yang dominan dengan demikian
menjadikan jiwa mereka seimbang, sehingga dapat disebut manusia yang harmonis.

Sebaliknya, kondisi-kondisi untuk tipe orang penuh kebencian, semuanya dibuat serba seenak
dan semudah mungkin. Bagi tipe delusi, segala sesuatunya harus dibuat sederhana dan jelas,
menyenangkan serta enak, seperti kondisi untuk tipe penuh kebencian.

1. KEPRIBADIAN SEHAT DAN GANGGUAN JIWA

Definisi operasional Kepribadian dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Pribadi sehat : Tidak ada faktor-faktor tidak sehat atau selalu ada faktor sehat.
2. Jiwa terganggu : Ada faktor jiwa tidak sehat. Gangguan jiwa timbul karena faktor tidak
sehat menguasai kejiwaan seseorang.
3. Kriterium untuk kesehatan jiwa : Adanya faktor-faktor yang sehat dan ketiadaan faktor-
faktor yang tidak sehat dalam sistem pengelolaan sumber daya psikologis seseorang.

Beberapa contoh faktor sehat :

1. Karuna : Kebaikan hati yang penuh kasih.


2. Mudita : merasakan nikmat dalam kebahagiaan orang lain.
3. Dalam kitab suci Buddha ada disebut oleh Buddha : semua orang yang tertarik hal-hal
duniawi adalah gila.
4. Annusaya : kecenderungan-kecenderungan laten dari jiwa mengarah ke keadaan-keadaan
jiwa tidak sehat.
5. Meditasi : Sarana menuju Kepribadian Sehat.

1. MENGEMBANGKAN KESEHATAN JIWA DAN KEPRIBADIAN

Setelah orang mengetahui faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat maka dapat merasakan sendiri.
Strategi untuk mencapai keadaan-keadaan jiwa sehat buka berupa usaha langsung mencari
ataupun menunjukan sikap muak terhadap keadaan-keadaan tidak sehat. Pedekatan yang
dianjurkan adalah melakukan meditasi atau samadi.

Kegiatan meditasi ada dua cara, yaitu meditasi dengan terkonsentrasikan dan metode
meditasi dengan sikap netral terhadap apa saja yang muncul dan hilang dalam arus kesadaran.
Metode pertama disebut metode konsentrasi dan metode kedua disebut metode dengan sikap
penuh perhatian.

1). Meditasi Dengan Konsentrasi

Metode meditasi dengan konsentrasi adalah seserorang yang melakukan meditasi (meditator)
berusaha untk mengarahkan perhatian kepada hanya satu objek atau satu titik pusat. Selama
mengembangka meditasi, meditator berusaha melampaui apa yang biasanya kita anggap sebagai
batas- batas normal untuk mempertahankan hanya satu objek dalam kesadaran. Semakin
mendalam konsentrasi, maka jiwa meditator makin stabil, dan faktor-faktor tidak sehat dapat
ditekan.

Faktor faktor yang mempercepat konsentrasi adalah :

1. Vicara dan Vitakka : artinya perhatian yang diterapkan dan dipertahankan, memusatkan
perhatian hanya pada satu objek secara terus menerus.
2. Piti : perasaan perasaan terpesona
3. Virinya : energi, tenaga
4. Uphekka : ketenangan hati

Tingkatan samadi melalui dua cara, yaitu :

1. Konsentrasi : pada tingkatan ini membangun ketenangan hati. Yang disebut konsentrasi
adalah sebagai jalan masuk, keadaan faktor-faktor ini akan berfluktuasi. Dengan
konsentrasi terus menerus pada satu objek, fluktuasi akan berubah menjadi stabilitas.
2. Jhana : keadaan diluar kesadaran. Dalam beberapa tradisi Budha dan Hindu disebut
samadi. Dalam jhana persepsi-persepsi dan pikiran-pikiran normal berhenti sama sekali.

2). Jalan Menuju Perubahan Kepibadian

Pada metode meditasi dengan sikap penuh perhatian, meditator tidak perlu mengatur arus
kesadaran. Dengan metode ini, meditator berusaha mancapai kesadaran penuh kepada setiap dan
semua isi jiwa. Meditator tidak membiarkan perhatiannya terpusat pada pikiran atau perasaan
tertentu, tetapi berusaha mempertahankan sikap menjadi saksi yang netral terhadap semua itu.
Dalam samadi dengan penuh perhatian, terdapat tiga tingkat, ialah :

1. Tahap Vipassana

Dimana sikap penuh perhatian begitu kuat, sampai membentuk kesinambungan dan masuk pada
tahap kedua dalam proses meditasi yang disebut tahap pemahaman (insight) atau vipassana.
Datangnya vipassana ditandai dengan persepsi yang semakin halus dan semakin tepat pada
semua macam kegiatan kejiwaan. Meditator menyadari bahwa jiwanya terus-menerus berubah.
Jiwa yang selalu berubah dan impersonal ini menyebabkan orang ingin melarikan diri. Akhirnya
vipassana atau insight mencapai puncaknya disebut dengan nibbhana, jika semua proses
kejiwaan berhenti secara total disebut dengan nirvanik yang bersifat nirvana.

2. Tahap Nirvana

Dalam tahap nirvana tidak mengalami kebahagiaan dan ketenangan hati. Nirvana adalah keadaan
yang lebih hampa dari pada jhana. Dalam abhidhamma bahwa tahap nirvana mengubah keadaan
jiwa seseorang secara radikal dan kekal. Dengan melaksanakan samadi dengan penuh perhatian
menuju vipassana (insight) atau pemahaman terus masuk ke nirvana adalah jalan menuju
kepribadian yang sehat. Meskipun nirvana merupakan suatu langkah kunci, namun bukan
merupakan akhir dari jalan Abhidhamma. Jika jalan jhana mempunyai pengaruh bagi
kepribadian seseorang maka pengaruh nirvana tidak terusik lagi.

3. Tahap Arahat

Tingkat arahat adalah tingkat ideal kepribadian sehat. Arahat merupakan hakikat dari kesehatan
jiwa dan kepribadian manusia menurut Abhidhamma. Sifat-sifat kepribadian seorang arahat
diubah secara permanen atau tetap. Bahwa semua motif, persepsi, atau perbuatan yang dibawah
pengaruh faktor tidak sehat akan lenyap. Artinya semua motif, persepsi dan perbuatan orang
arahat di bawah pengaruh faktor jiwa yang sehat.

I.TENTANG MIMPI

Abhidhamma mengatakan bahwa mimpi adalah sifat istimewa lain dari aharat. Ada empat
macam tipe mimpi pada manusia, yakni:

1. Tipe pertama, mimpi yang disebabkan oleh sejenis gangguan pada organ atau otot, dan
biasanya menyangkut suatu persaan fisik yang menakutkan, misalnya jatuh, terbang, atau
dikejar-kejar harimau. Bermacam-macam mimpi buruk termasuk tipe mimpi ini.
2. Tipe kedua, mimpi yang ada hubungannya dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan
orang pada siang harinya, dan menggemakan pengalaman-pengalaman yang sudah
berlalau tersebut. Mimpi semacam ini kerap terjadi.
3. Tipe ketiga, mimpi tentang suatu peristiwa aktual sebagai mana peristiwa itu terjadi,
mirip dengan prinsip sinkronitas pada pendapat C.G.Jung.
4. Tipe keempat, mimpi yang bersifat waskita (clairvoyant), suatu ramalan yang tepat
tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Jika seorang arahat bermimpi maka
mimpinya itu selalu bersifat waskita (Van Aung, 1972).
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Abhidhamma telah berkembang 15 abad yang lalu, merupakan wawasan-wawasan dari budha
Gautama. Buddhisme sendiri berkembang menjadi beberapa aliran yaitu Mahayana dan
hinayana.

kepribadian abhidhamma serupa dengan konsep atta atau diri (self) menurut adbhidamma
hanyalah sekumpulan proses impersonal yang timbul dan menghilang, yang terbentuk dari
perpaduan antara proses proses impersonal yakni pikiran, penginderaan, hawa nafsu, dsb.

Jiwa berperan sbahwa segala apa yang ada pada manusia adalah sebagai akibat yang pikirannya
yakni berdasarkan pikirannya dan dibentuk oleh pikirannya juga

Terdapat tujuh sifat netral yang ada pada setiap keadaan jiwa yang merupakan kerangka dasar
kesadaran tempat tertanamnya faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Namun kombinasi khusus
faktor-faktor tersebut berbeda-beda dari momen ke momen.

Dinamika kepribadian adalah gerak kepribadian yang terjelma dalam tingkah laku, baik yang
nampak maupun tidak nampak dan terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa sehat dan
tidak sehat. Psikodinamika kepribadian dapat terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa
dengan mekanisme.

Strategi untuk mencapai keadaan-keadaan jiwa sehat dengan Pedekatan yang dianjurkan adalah
melakukan meditasi atau samadi.