Anda di halaman 1dari 23

CASE BASE DISCUSSION

Otitis Eksterna Difusa Auris Sinistra

DISUSUN OLEH :
Rima Wulansari
30101206717

DOSEN PEMBIMBING :
Kolonel Ckm (Purn) dr. Budi Wiranto. Sp.THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2017
LEMBAR PENGESAHAN

REFLEKSI KASUS
OTITIS EKSTERNA DIFUS AURIS SINISTRA

Diajukan untuk memenuhi syarat


mengikuti Kepaniteraan Klinik
di bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok
RST Tingkat II 04.05.01
dr. Soedjono Magelang

Telah disetujui dan dipresentasikan


pada tanggal: Mei 2017

Disusun oleh:
Rima Wulansari
30101206717

Magelang, Mei 2017


Dosen Pembimbing,

Kolonel Ckm (Purn) dr. Budi Wiranto Sp.THT-KL

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan oleh
bakteri dapat terlokalisir atau difus, telinga rasa sakit. Faktor ini penyebab timbulnya
otitis eksterna, yaitu kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi.
Faktor ini menyebabkan berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari
epitel skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal yang mengakibatkan bakteri
masuk melalui kulit, inflasi dan menimbulkan eksudat. Bakteri patogen pada otitis
eksterna akut adalah pseudomonas (41 %), strepokokus (22%), stafilokokus aureus (15%)
dan bakteroides (11%) atau jamur.Istilah otitis eksterna akut meliputi adanya kondisi
inflasi kulit dari liang telinga bagian luar.
Otitis eksterna ini merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar yangdapat
menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruhliang telinga
terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat dianggappembentukan lokal otitis
eksterna.
Penyakit ini sering dijumpai pada daerah-daerah yang panas dan lembab dan
jarang pada iklim-iklim sejuk dan kering. Patogenesis dari otitis eksterna sangat komplek
dan sejak tahun 1844 banyak peneliti mengemukakan faktor pencetus dari penyakit ini
seperti Branca (1953) mengatakan bahwa berenang merupakan penyebab dan
menimbulkan kekambuhan. Senturia dkk (1984) menganggap bahwa keadaan panas,
lembab dan trauma terhadap epitel dari liang telinga luar merupakan faktor penting untuk
terjadinya otitis eksterna.Howke dkk (1984) mengemukakan pemaparan terhadap air dan
penggunaan lidi kapas dapat menyebabkan terjadi otitis eksterna baik yang akut maupun
kronik.

4
BAB II

LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. E
Umur : 38 tahun
Agama : Islam
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Pinggirrejo 92 RT 01/ RW 6 Magelang

2. ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan di poliklinik THT-KL Magelang.

Keluhan Utama : Nyeri pada telinga kiri

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan nyeri pada telinga kiri sejak 4 hari sebelum
masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluh rasa tidak enak di telinga yang sama. Keluhan
semakin meningkat ketika telinga bagian depan ditekan. Pada awalnya pasien merasa
gatal di telinga kiri namun saat dilakukan pemeriksaan sudah tidak terasa gatal lagi tetapi
hanya nyeri. Pasien mengeluh pendengarannya juga berkurang.

Pasien mengaku sebelumnya kemasukan air pada telinga kiri saat mandi.
Kemudian pasien berusaha mengeluarkan air dengan memasukkan air lebih banyak lagi
ke telinga kiri. Pasien masih mengeluh tidak enak pada telinga kirinya, kemudian
membersihkan telinganya dengan cotton buds. Pasien memiliki riwayat membersihkan
telinga menggunakan cotton buds hampir setiap hari. Keluhan lain rasa tersumbat di
telinga kiri (+), berdenging (-), rasa penuh di telinga (-). Tidak ada keluhan pada telinga
kanan. Riwayat batuk, demam, pilek disangkal. Gangguan menelan dan gangguan
penciuman juga disangkal.

5
Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat keluhan serupa disangkal


Riwayat gangguan pendengaran saat bayi disangkal
Riwayat trauma, keluar darah dari telinga disangkal
Sering mengorek telinga (+)
Riwayat alergi makanan/obat disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat keluhan serupa disangkal
Riwayat alergi disangkal

Riwayat pengobatan
Pasien mengaku belum berobat ke dokter dan belum menimum obat untuk menurunkan
keluhannya.

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga. Biaya kesehatan ditanggung BPJS. Kesan
ekonomi baik.

3. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis :
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Kooperatif : Kooperatif
Status Gizi : Cukup
Tanda vital :
TD : 110/80
Nadi : 84x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 36C

6
Status Lokalis (Telinga, Hidung, Tenggorokan)
a. Kepala dan leher :
Kepala : mesocephale
Wajah : simetris
Leher : pembesaran kelenjar limfe (-)
b. Gigi danMulut :
Gigi geligi : normal
Lidah : normal, kotor (-), tremor (-)
Pipi : bengkak (-)
c. Telinga :
Kanan Kiri
Auricula Bentuk normal Bentuk normal
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Edema (-) Edema (-)
Pre-auricular Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Edema (-) Edema (-)
Fistula (-) Fistula (-)
Nyeri tekan tragus (-), nyeri tarik (-) Nyeritekan tragus (+), nyeri tarik (+)

Retro- Hiperemis (-) Hiperemis (-)


auricular Edema (-) Edema (-)
Fistula (-) Fistula (-)
Nyeritekan (-) Nyeritekan (-)

Mastoid Bengkak (-) Nyeri tekan (-) Bengkak (-) Nyeri tekan (-)

CAE Serumen (-) Serumen (+)


Edema (-) Edema (+)
Eritema (-) Eritema (+)
Furunkel (-) Furunkel (-)
Otorea (-) Otorea (-)

Membran Intak (+) Sulit dinilai


timpani - Perforasi (-)
- Reflek cahaya (+) arah jam

7
5
- Warna = putih keabu-abuan
mengkilat seperti mutiara

d. Hidung dan Sinus Paranasal :


Luar Kanan Kiri
Bentuk Normal Normal
Sinus Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Inflamasi/tumor (-) (-)

Rhinoskopi anterior Kanan Kiri


Sekret (-) (-)
Mukosa Edema (-) Edema (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Konka media Hipertrofi (-) Hipertrofi (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Konka inferior Hipertrofi (-) Hipertrofi (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Tumor (-) (-)
Septum Deviasi (-)
Massa (-) (-)

e. Faring :
Orofaring Kanan Kiri
Mukosa Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Dinding faring Granular (-) Granular (-)
Palatum mole Ulkus (-) Ulkus (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Arcusfaring Simetris (+) Simetris (+)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Uvula Ditengah
Edema (-)
Tonsil :
- Ukuran T1 T1
- Permukaan Rata Rata

8
- Warna Hiperemis (-) Hiperemis (-)
- Kripte Melebar (-) Melebar (-)
- Detritus (-) (-)

4. RESUME

1) Anamnesis (RPS)
- AS otalgia 4 hari yang lalu
- AS pendengaran menurun
- AS gatal

RPD
- -Riwayat sering mengorek telinga dengan cotton buds (+)

2) Pemeriksaan Fisik (AS)


-Nyeri tekan tragus (+)
-Nyeri tekan preaurikula (+)
-Nyeri tarik auricula (+)
Otoscopy:
- CAE serumen (-/+), edem(-/+), hiperemis(-/+), sekret (-/-)
- Membran timpani AS sulit dinilai

5. Diagnosa Banding

Otitis Eksterna Difus Auris Sinistra


Otitis Eksterna Sirkumkripta Auris Sinistra
Serumen Obsturan
Otomikosis

6. Diagnosis Primer
Otitis Eksterna Auris Sinistra Difus

7. Diagnosis Sekunder
Serumen Obsturan
8. Usulan pemeriksaan tambahan
Pemeriksaan bakteriologi mengetahui mikroorganisme penyebab

9
Pemeriksaan laboratorium tanda infeksi akut lab rutin : Hb, Ht, Leukosit,
Trombosit, LED, Eritrosit, GDS
Tes Audiometri mengetahui jenis derajat ketulian jika sudah sembuh

9. Terapi
Non medikamentosa
Debridement telinga
Memasukkan tampon mengandung antibiotika ke liang telinga

Medikamentosa
Obat pencuci telinga H2O2 3% 2x3 tetes AD selama 6 hari, 50 ml
Ottopain , teteskan pada telinga AD 2-3x/ hari 4 tetes
Antibiotik: Ciprofloxacin 500 mg, 2x/hari
Kortikosteroid Dexamethasone 0,5mg
Analgesik Asam mefenamat 500mg jika nyeri

10. Edukasi
Menjaga higiene telinga
Telinga kanan jangan terkena air dahulu, bila mandi tutup dengan kapas
Tidak diperbolehkan untuk berenang untuk sementara waktu
Konsumsi antibiotik teratur dan sampai habis
Kembali kontrol ke THT bila masih ada keluhan

11. Komplikasi
Perikondritis dan kondritis
Selulitis
Erisipelas

12. Prognosis

o Qou ad vitam : ad bonam


o Qou ad sanam : dubia ad bonam
o Quo ad functionam : dubia ad bonam

10
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 ANATOMI TELINGA LUAR

Anatomi telinga luar Secara anatomi, telinga dibagi atas 3 yaitu telinga luar, telinga
tengah dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi mengumpulkan dan menghantarkan
gelombang bunyi ke struktur struktur telinga tengah. Telinga luar terdiri dari daun telinga
dan liang telinga sampai membran timpani.
Daun telinga terletak di kedua sisi kepala, merupakan lipatan kulit dengan dasarnya
terdiri dari tulang rawan yang juga ikut membentuk liang telinga bagian luar. Hanya cuping
telinga atau lobulus yang tidak mempunyai tulang rawan, tetapi terdiri dari jaringan lemak
dan jaringan fibros. Permukaan lateral daun telinga mempunyai tonjolan dan daerah yang
datar. Tepi daun telinga yang melengkung disebut heliks. Pada bagian postero-superiornya
terdapat tonjolan kecil yang disebut tuberkulum telinga (Darwintubercle). Pada bagian
anterior heliks terdapat lengkungan disebut anteheliks. Bagian superior anteheliks
membentuk dua buah krura antiheliks,dan bagian dikedua krura ini disebut fosa triangulari.Di
atas kedua krura ini terdapat fosa skafa. Di depan anteheliks terdapat konka ,yang terdiri atas
bagian yaitu simba konka ,yang merupakan bagian antero superior konka yang ditutupi oleh
krus heliks dan kavum konka yang terletak dibawahnya berseberangan dengan konka dan
terletak dibawah krus heliks terdapat tonjolan kecil berbentuk segi tiga tumpulan yang
11
disebut tragus. Bagian diseberang tragus dan terletak pada batas bawah anteheliks disebut
antitragus. Tragus dan antitragus dipisahkan oleh celah intertragus.Lobulus merupakan
bagian daun yang terletak dibawah anteheliks yang tidak mempunyai tulang rawan dan terdiri
dari jaringan ikat dan jaringan lemak. Di permukaan posterior daun telinga terdapat juga
tonjolan dan cekungan yang namanya sesuai dengan anatoni yang membentuknya yaitu
sulkus heliks, sulkus krus heliks, fosa antiheliks,eminensia konka dan eminensia skafa.
Rangka tulang rawan daun telinga dibentuk oleh lempengan fibrokartilago elastik. Tulang
rawan tidak terbentuk pada lobulus dan bagian daun telinga diantara krus heliks dan .tulang
rawan daun telinga ini ditutupi oleh kulit dan hububungkan dengan sekitar nya oleh
ligametum dan otot-otot. Tulang rawan daun telinga berhubungan dengan tulang rawan liang
telinga melalui bagian yang disebut isthmus pada permukaan posterior perlekatannya tidak
terlalu erat karena ada lapisan lemak supdermis yang tipis. Kulit daun telinga oleh rambut-
rambut halus yang mempunyai kelenjar sebasea pada akarnya.Kelenjar ini banyak terdapat
dikonka dan fosa skafa.
Liang telinga luar yang sering disebut meatus, merupakan suatu struktur berbentuk
S ang panjang kira-kira 2,5 cm, membentang dari konka telinga sampai mambran timpani.
Disebebkan kedudukan membran timpani miring menyebabkan liang telinga bagian belakang
atas lebih pendek kira-kira 6 mm dari dinding anterior inferior. Bagian lateral liang telinga
adalah tulang rawan meluas kira-kira panjang liang telinga. Agar sedikit lebih panjang
bagian tulang sebelah dalam yang merupakan terowongan langsung ketulang temporal.
Bagian tulang rawan liang telinga luar sedikit mengarah keatas dan kebelakang dan bagian
sedikit kebawah dan kedepan. Penarikan daun telinga kearah belakang atas luar, akan
membuat liang telinga cenderung lurus sehingga memungkinkan terlihatnya membran
timpani pada kebanyakan liang telinga.

OTITIS EKSTERNA DIFUSA


3.2 DEFINISI
Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan oleh
bakteri dapat terlokalisir atau difus. Faktor penyebab timbulnya otitis eksterna, yaitu
kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Faktor ini menyebabkan
berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari epitel skuamosa. Keadaan ini
menimbulkan trauma lokal yang mengakibatkan bakteri masuk melalui kulit, inflasi dan
menimbulkan eksudat. Istilah otitis eksterna akut meliputi adanya inflasi kulit liang telinga
bagian luar.
12
Otitis eksterna merupakan infeksi liang telinga bagian luar dapat menyebar ke pina,
periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh liang telinga terlibat, tetapi pada
furunkel liang telinga luar dianggappembentukan lokal otitis eksterna. Otitis eksterna difusa
merupakan infeksi bakteri patogen paling umum disebabkanpseudomonas, streptococcus,
stafilokokus danproteus, atau jamur.
Patogenesis dari otitis eksterna komplek sejak tahun 1844 banyak peneliti
mengemukakan faktor pencetus penyakit ini seperti Branca (1953) mengatakan bahwa
berenang merupakan penyebab dan menimbulkan kekambuhan. Senturia dkk (1984)
menganggap bahwa keadaan panas, lembab dan trauma terhadap epitel dari liang telinga luar
merupakan faktor terjadinya otitis eksterna.Howke dkk (1984) mengemukakan pemaparan
terhadap air dan penggunaan lidi kapas dapat menyebabkan terjadi otitis eksterna.
Otitis eksterna difusa adalah infeksi bakteri pada 2/3 dalam liang telinga yang
disebabkan oleh rusaknya kulit pada liang telinga/berkurangnya produksi serumen sebagai
pelindung liang telinga dari kelembaban dan temperatur yang tinggi. Trauma ketika
membersihkan liang telinga dengan kuku jari atau kapas pengorek telinga diketahui sebagai
faktor lokal penyebab otitis eksterna difusa yang paling sering terjadi.

3.3 STADIUM
Stadium otitis eksterna difusa terdiri dari 2 stadium :
1. Stadium akut.
Rasa tidak nyaman hingga nyeri didalam dan sekitar liang telinga yang sesuai dengan
pergerakan dari rahang. Dalam kasus berat terdapat pembengkakan di sekitar jaringan
lunak dan bagian luar dari aurikula. Pada pemeriksaan, kulit dari liang telinga
berwarna merah, edema dan sangat sensitif. Dijumpai nanah pada liang telinga dan
sebagai perkembangan penyakit dari deskuamasi epitel pada liang telinga yang
terbentuk dari massa debris seperti keju didalam liang telinga serta membran timpani
sering tidak jelas terlihat.
2. Stadium kronis.
Gejala stadium kronis adalah iritasi dan keluarnya cairan dari telinga. Dapat terjadi
tuli sebagai hasil dari akumulasi debris pada liang telinga. Tidak ada rasa sensitif pada
liang telinga tetapi terjadi penebalan pada kulit liang telinga serta lumen liang telinga
yang menyempit.

13
3.4 EPIDEMIOLOGI
Insidensi otitis eksterna difusa tinggi pada daerah tropis dan sub tropis dengan
kelembaban yang tinggi dan pada daerah ini keluhannya sering lebih berat dengan angka
kekambuhan yang lebih sering. Banyak faktor yang melibatkan serangan dari otitis eksterna
difusa tetapi infeksi diduga menjadi faktor sekunder dari trauma kulit liang telinga luar. Jika
stratum corneum dari kulit liang telinga luar mengalami trauma, infeksi dapat masuk.

3.5 ETIOLOGI
1. Trauma.
Trauma merupakan penyebab umum disebabkan oleh garukan karena gatal pada
telinga dengan apapun yang dapat digunakan (kuku jari, batang korek api, kertas, kep
rambut dan cotton bud). Meskipun memberikan kepuasan pada penderita, yang dapat
melukai kulit, misalnya terjadi infeksi sekunder. Pada keadaan lain juga menyebabkan
iritasi ataualergi.

2. Iritasi.
Bahan kimia saat dipakai ke kulit menyebabkan iritasi yang kemudian menimbulkan
reaksi alergi.Perbedaan antara kedua reaksi ialah terjadi jika pemakaian dari bahan
iritan secara lama dan pada konsentrasi yang cukup tinggi.Reaksi iritasi lebih berat
pada permukaan kulit yang lembab dan mekanisme pertahanan secara alami
terganggu.Reaksi alergi hanya terjadi pada beberapa individu dengan munculnya
reaksi hipersensitivitas tipe 4 setelah periode sensitisasi terhadap alergen.Zat iritan
sering kali masuk ke dalam telinga setelah periode sensitisasi terhadap alergen.

4. Alergi.
Pada kebanyakan alergi antibiotik (misalnya: neomisin, framisetin, gentamisin,
polimiksin), antibakterial (misalnya: clioquinol) dan anti histamin. Bahan sensitif
lainnya yang sering dipakai untuk menggaruk telinga seperti bahan-bahan dari logam,
kertas dan kep rambut. Sebagai tambahan, reaksi alergi dapat disebabkan oleh kuku
jari, kosmetik dan ramuan obat-obatan rambut.
5. Bakteri
Bakteri yang umumnya menyebabkan otitis eksterna akut difusa adalah Pseudomonas
aeruginosa, Proteus mirabilis, Staphylococci, Streptococci dan Bacillus gram negatif.
Untuk infeksi yang ringan atau tidak mengalami komplikasi, kultur mikroorganisme
pada liang telinga tidak dilakukan, karena biasanya menunjukkan pertumbuhan pola
14
kuman yang beragam.Untuk infeksi berat, kultur diperlukan untuk mengidentifikasi
mikroorganisme yang dominan dan membantu pemilihan terapi antibiotik.
6. Faktor iklim/lingkungan.
Faktor resiko yang paling sering menyebabkan terjadinya otitis eksterna pada daerah
dengan iklim panas dan lembab dibandingkan iklim yang dingin. Terdapat beberapa
hal yang berpotensi menyebabkan terjadinya otitis eksterna, seseorang yang berenang
pada cuaca yang panas, menyebabkan mekanisme pertahanan kulit liang telinga
terganggu, telinga menjadi basah yang dapat menimbulkan iritasi dan erupsi
disebabkan oleh adanya zat kimia didalam kolam renang.

3.6 PATOLOGI
Dasar patologi otitis eksterna difusa adalah dermatitis pada kulit dan otitis eksterna
difusa dibedakan secara histologi antara tipe klinis atau etiologi.
Ada beberapa stadium selama lesi dijumpai. Pertama, stadium akut dengan hiperemia
dan edem interseluler (spongiosis). Edema meningkatkan pembentukan vesikel-vesikel kecil
yang berisi cairan serosa didalam beberapa sel-sel inflamasi. Pada stadium lanjut, vesikel-
vesikel ruptur dan cairan serosa keluar ke permukaan kulit. Perbedaan antara stratum
granulosum dan corneum adalah hilangnya produksi sel-sel keratotic nucleated
(parakeratosis) yang berguguran. Walaupun kondisi ini biasanya reversible tetapi dapat
menjadi fibrotik kronis fase indurasi.
Perlindungan liang telinga dari infeksi dengan membuat lapisan pelindung berupa
serumen, yang menghasilkan suasana asam dan kaya akan lisosim. Ketika produksi serumen
berkurang menghasilkan pertumbuhan bakteri, yang dapat menyebabkan retensi cairan dan
debris yang berlebihan, menjadikan lingkungan yang ideal untuk tumbuhnya bakteri. Hal ini
dapat terjadi bila liang telinga sering terpapar oleh air seperti pada perenang dan penyelam.
Kulit yang basah dan lembut pada saluran telinga mudah terinfeksi oleh bakteri atau
jamur.Trauma lokal oleh benda asing pada telinga dapat menyebabkan infeksi di dalam liang
telinga. Infeksi menjadi nyata, terjadi maserasi dan inflamasi lokal, yang menyebabkan
timbulnya gejala penyakit.
Gejala dan tanda penyakit muncul setelah 3 bulan atau lebih yang mengindikasikan
terjadinya otitis eksterna kronik. Meskipun otitis eksterna kronik merupakan hasil dari otitis
eksterna akut yang pengobatannya tidak adekuat, biasanya otitis eksterna kronik berasal dari
infeksi non bakteri. Penyebab umum otitis eksterna kronik adalah dermatitis kontak dari
benda-benda seperti : anting-anting logam, zat kimia didalam kosmetik dan sampo, alat bantu
15
dengar atau alat pelindung telinga yang terbuat dari plastik. Kondisi-kondisi kulit pada
umumnya seperti dermatitis atopik (misal : eksema) atau psoriasis menjadi sulit untuk diobati
karena berdekatan dengan liang telinga.

3.7 GEJALA DAN TANDA KLINIS


Rasa nyeri adalah gejala umum yang berhubungan dengan infeksi bakteri. Rasa nyeri
yang hebat bila daun telinga atau tragus dilakukan manipulasi. Rasa sakit bisa tidak
sebanding dengan derajat peradangan. Ini diterangkan bahwa kulit dari liang telinga luar
langsung berhubungan dengan periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis
menekan serabut saraf mengakibatkan rasa sakit yang hebat, kulit dan tulang rawan 1/3 luar
liang telinga bersambung dengan kulit dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang
sedikit saja dari daun telinga akan dihantarkan kekulit dan tulang rawan dari liang telinga luar
dan mengkibatkan rasa sakit yang hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.
Rasa gatal dijumpai pada infeksi yang disebabkan bakteri, pada infeksi jamur dan semua
otitis eksterna kronis.Rasa penuh pada telinga dan berkurangnya pendengaran dijumpai pada
beberapa kasus otitis eksterna difusa dengan akumulasi debrisliang telinga, edema kulit liang
telinga, sekret yang sorous atau purulen, penebalan kulit yang progresif pada otitis eksterna
yang lama, sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif.
Otorrhea adalah gejala umum dari infeksi bakteri.

Gejala klinis penderita otitis eksterna difusa adalah :


1. Rasa gatal pada telinga.
2. Rasa tidak nyaman pada telinga (aural fullness).
3. Otalgia.
4. Keluarnya cairan dari telinga (pada awalnya cairan jernih dan tidak berbau, tetapi secara
cepat berubah menjadi purulen serta cairan yang berbau).
5. Pendengaran yang berkurang.
6. Tinitus.

Pada pemeriksaan fisik dijumpai :


a. Rasa nyeri pada tragus.
b. Eritema dan edema pada liang telinga luar.
c. Cairan purulen.
d. Eksema pada daun telinga.
e. KGB regional membesar & nyeri tekan
16
f. Kasus berat, infeksi meluas ke jaringan lunak, termasuk glandula parotis.

3.8 DIAGNOSIS
1. Inspeksi.
Dijumpai adanya pembengkakan difusa kulit liang telinga luar disertai adanya
akumulasi debris dan sekresi pada liang telinga. Sekresi pada liang telinga awalnya keruh
kemudian menjadi kuning kehijau-hijauan. Rasa nyeri hebat bila daun telinga ditarik ke
belakang dan ke atas. Kulit pada sebagian tulang liang telinga dan membran timpani tidak
mengalami inflamasi, tetapi terdapat kesulitan menilai rasa nyeri secara umum dan
mengurangi pembengkakan liang telinga.
2. Pemeriksaan Otoskop
Dilakukan pemeriskaan telinga dalam menggunakan otoskop untuk melihat tanda-
tanda peradangan pada telinga seperti adanya edem, eritem, atau melihat adanya discharge
pada liang telinga.
3. Pemeriksaan bakteriologi.
Mengidentifikasi mikroorganisme patogen.
4. Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium darah rutin untuk mengidentifikasi adanya infeksi akut
serta kadar gula darah untuk menyingkirkan diabetes.
Pemeriksaan kultur dan sensitivitas sekret telinga dilakukan untuk menentukan jenis
kuman yang biasa berperan pada otitis eksterna akut difusa adalah Pseudomonas aeruginosa,
Proteus mirabilis dan kadang-kadang Staphylococcus albus, Escherichia coli dan
Enterobacter aerogenes dan kultur juga diperlukan untuk pemilihan antibiotik yang sesuai
terhadap kuman tersebut.

3.9 DIAGNOSA BANDING


Diagnosa banding untuk otitis eksterna difusa antara lain adalah :
1. Otitis eksterna sirkumskripta (Furunculosis)
Otitis eksterna sirkumskripta merupakan infeksi folikel rambut, bermula sebagai
folikulitis kemudian meluas menjadi furunkel. Organisme penyebab biasanya
Staphylococcus. Umumnya kasus ini disebabkan oleh trauma garukan pada liang
telinga. Kadangkadang furunkel disebabkan oleh tersumbat serta terinfeksinya

17
kelenjar sebasea di liang telinga, sehingga frekuensi penyakit ini meningkat dalam
musim panas.
2. Otomikosis
Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi, yang
tersering ialah Pityrosporum, Aspergillus,Candida albikan. Gejala biasanya berupa
rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga, tetapi sering pula tanpa keluhan.
3. Serumen Obsturan
Adanya penumpukan serumen dan menyebabkan sumbatan pada canalis auditorius
eksternus. Sumbatan ini dapat menimbulkan gejala berupa nyeri, berdenging, rasa
penuh di telinga, dan penurunan pendengaran.

3.10 PENATALAKSANAAN
Setelah liang telinga dibersihkan, kain kassa atau cotton bud dengan pemberian
larutan alkohol 70% dan steroid (seperti : larutan Volon atau Kenacort- A tincture atau
betametason plus natrium sulfasetamid) dimasukkan ke dalam liang telinga. Kain kassa
diletakkan di liang telinga selama 2 3 hari dan dipakai tetes telinga hingga beberapa kali
sehari. Setelah inflamasi pada liang telinga berkurang, kain kassa yang diolesi krem antibiotik
atau antimikotik dengan steroid dimasukkan ke dalam liang telinga dan dibiarkan selama 1 -
2 hari. Kepada penderita diberitahukan agar tidak mengorek telinga selama masa
pengobatan.Tetes telinga antibiotik dengan steroid dapat digunakan tetapi kelemahan dari
penggunaan dari antibiotik dengan steroid menyebabkan pertumbuhan dari jamur
(otomikosis). Setelah edema liang telinga berkurang, pemberian zat pengering topikal seperti
larutan Castellani, gentian violet atau iodopovidone dapat digunakan. Pemberian antibiotik
oral diindikasikan hanya pada kasus otitis eksterna berat dengan selulitis atau limfadenitis,
dan pada penderita diabetes.Pemberian analgetik oral juga diperlukan.
Pengasaman liang telinga bersifat toksik untuk berbagai jenis bakteri (termasuk
Pseudomonas) dan jamur, dan efektif untuk pengobatan berbagai infeksi dini. Larutan asam
asetat (Vosol) atau asam asetat dengan aluminium asetat (Domeboro) juga dapat
digunakan.Larutan bersifat asam juga dapat dipakai sebagai profilaksis untuk penderita yang
beresiko, seperti sesudah berenang. Alat pengering telinga yang diatur pada suhu rendah
dapat dipakai untuk mengeringkan liang telinga secara hati-hati.
Tetes telinga antibiotik untuk pengobatan utama otitis eksterna, idealnya tetes telinga
memiliki hal-hal berikut ini :
1. Spektrum luas untuk bakteri patogen.

18
2. Bersifat asam.
3. Tidak bersifat ototoksik, penting untuk membran timpani perforasi.
4. Tidak menimbulkan reaksi alergi.
5. Tidak menyebabkan terjadinya pengendapan bila diteteskan.
6. Harga yang murah.
7. Mengurangi edema dan rasa nyeri lebih cepat dengan steroid.

Tidak ada obat-obatan tetes telinga yang memiliki semua kriteria seperti yang tersebut
diatas. Dalam beberapa tahun, pengobatan utama adalah kombinasi larutan polimiksin,
neomisin, dan hidrokortison (PNH) (Cortisporin).Kombinasi ini tersedia dalam bentuk
larutan dan suspensi.Polimiksin efektif untuk Pseudomonas, polimiksin dan neomisin juga
efektif untuk S.aureus dan mikroorganisme gram negatif lainnya.
Antibiotik kuinolon tersedia untuk tetes telinga dan mata.Tetes telinga dan mata berisi
zat tunggal yang efektif untuk bakteri patogen, dengan tanpa resiko terjadinya dermatitis
kontak atau ototoksik. Ofloksasin (Floksin) tersedia untuk pengobatan penyakit telinga luar
dan tengah dan sama efektif dengan pemakaian PNH. Kelemahan utama dari ofloksasin
adalah bekerja pada pH netral (6,2 - 6,8), tidak dijumpai pada steroid dan mahal.
Siprofloksasin juga tersedia dalam bentuk tetes telinga yang dikombinasikan dengan
hidrokortison dan sebagai formulasi kombinasi baru yang lebih poten dari deksametason
(Cipro HC dan Ciprodex).Larutan ini bersifat asam dan berisi steroid. Hidrokortison dalam
Cipro HC meninggalkan endapan dalam liang telinga, kedua obat tetes tersebut mahal.

3.11 KOMPLIKASI
Komplikasi otitis eksterna difusa :
1. Perikondritis dan kondritis
Perikondritis, inflamasi dari perikondrium, dan kondritis , inflamasi dari kartilago,
merupakan komplikasi dari infeksi pada liang telinga luar atau hasil dari trauma
yang tidak disengaja atau trauma akibat pembedahan pada daun telinga.
Gambaran klinis rasa nyeri, dan penderita sering mengeluhkan rasa gatal yang
hebat di dalam liang telinga. Seiring berjalannya waktu, kulit pada daerah yang
terinfeksi menjadi krusta dengan debris, dan melibatkan kartilago. Dapat dijumpai
pembengkakan dan kemerahan pada telinga, sering dijumpai pembengkakan pada
liang telinga.

19
2. Selulitis
Selulitis dari telinga secara khas merupakan hasil dari perluasan otitis eksterna
atau luka tusuk. Selulitis berbeda dengan perikondritis oleh pembengkakan yang
minimal. Manifestasi selulitis sebagai eritema pada telinga. Pengobatan antibiotik
antistaphylococcal sistemik.

3. Erisipelas
Erisipelas adalah infeksi yang disebabkan oleh Streptococcus pada kulit yang
menyebabkan kemerahan, edema dan erupsi dengan batas tepi yang jelas.Daun
telinga menjadi merah dan bengkak dan penyebaran infeksi ke dalam kulit dari
wajah yang biasanya ditandai oleh gejala sistemik dengan temperatur yang tinggi
dan nadi cepat.

20
3.12 PROGNOSIS
Pada banyak pasien otitis eksterna difusa memberikan hasil yang baik dalam 48-72
jam setelah pemberian antibiotik. Bila pengobatan tidak memperlihatkan perbaikan dalam 2-3
hari dilakukan evaluasi kembali dengan cepat tentang diagnosa penyakit penderita oleh
dokter. Penyembuhan otitis eksterna difusa pada eksema terjadi dengan mengontrol kondisi
kulit yang sehat.

21
BAB IV

PEMBAHASAN

Keluhan utama yang dirasakan oleh pasien adalah nyeri pada telinga kiri sejak 4
hari yang lalu. Telinga semakin terasa nyeri apabila di tekan. Hal ini bisa disebabkan oleh
karena adanya reaksi inflamasi / peradangan pada liang telinga. Peradangan yang terjadi pada
liang telinga akibat adanya infeksi oleh mikroorganisme baik yang terjadi di liang telinga
atau infeksi kulit di sekitanya.
Keluhan lain yang dirasakan adalah rasa tidak nyaman dan penurunan
pendengaran. Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan
penimbunan air yang masuk ke dalam saluran pada saat mandi atau berenang. Kulit yang
basah pada saluran telinga akan lebih mudah mengalami infeksi oleh bakteri atau jamur.
Proses infeksi lokal inflamasi peningkatan suhu perubahan rasa nyaman dlm telinga.
Berkurangnya pendengaran dapat terjadi pada OED akibat adanya edem CAE, sekret purulen,
penebalan kulit yang progresig pada OE yang lama, sering menyumbat lumen kanalis dan
timbul tuli konduktif. Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis
eksterna akut. Edem kulit liang telinga, sekret yang serous atau purulen, penebalan kulit yang
progresif pada otitis eksterna yang lama, sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan
timbulnya tuli konduktif. Keratin yang deskuamasi, rambut, serumen, debris, dan obat-obatan
yang digunakan ke dalam telinga bisa menutup lumen yang menyebabkan peredaman
hantaran suara.
Pasien memiliki riwayat membersihkan telinga dengan cotton buds setiap hari. hal ini
dapat menyebabkan trauma perlukaan pada daerah liang telinga sehingga timbul iritasi atau
lesi. Lesi kulit pada liang telinga dapat menjadi media perkembangbiakan kuman yang dapat
mencetuskan terjadinya infeksi liang telinga yang disebut dengan otitis eksterna.
Riwayat trauma bisa menyebabkan terjepitnya saraf pendengaran, antara inkus dan
maleus berjalan cabang n.fasialis yang disebut korda timpani. Bila terdapat radang di telinga
tengah atau trauma, korda timpani bisa terjepit sehingga timbul gangguan pengecap.
Di dalam telinga dalam terdapat alat keseimbangan dan alat pendengaran. Pemakaian
obat-obatan ototoksik dapat merusak stria vaskularis, sehingga saraf pendengaran rusak dan
terjadi tuli sensorineural. Setelah pemakaian obat ototoksik seperti streptomisin dapat terjadi
gejala gangguan pendengaran berupa sensorineural dan gangguan keseimbangan.

22
Pada Pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan tragus, nyeri tekan preaurikula, dan
nyeri tarik auricula. Sedangkan pada pemeriksaan otoskopi didapatkan CAE AS edema,
eritema, dan terdapat serumen. Pada otitis eksterna difus ditemukan pada kulit liang telinga
tampak hiperemis dan edem yang batasnya tidak jelas. Tidak terdapat furunkel. Gejalanya
sama dengan gejala otitis eksterna sirkumkripta. Kadang ditemukan sekret yang berbau
namum tidak bercampur lendir (musin). Lendir merupakan sekret yaang berasal dari kavum
timpani dan kita temukan pada kasus otitis media.

Patofisiologi
Secara alami, sel-sel kulit yang mati, termasuk serumen, akan dibersihkan dan
dikeluarkandari gendang telinga melalui liang telinga. Cotton bud dapat
mengganggumekanisme pembersihan tersebut sehingga sel-sel kulit mati dan serumen akan
menumpuk disekitar gendang telinga. Masalah ini juga diperberat oleh adanya susunan
anatomis berupa lekukanpada liang telinga.Keadaan ini dapat menimbulkan timbunan air
yang masuk ke dalam liang telinga ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah, lembab,
hangat, dan gelap pada liang telinga merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan bakteri
dan jamur.
Adanya faktor predisposisi otitis eksterna dapat menyebabkan berkurangnya lapisan
protektif yang menimbulkan edema epitel skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal
yang memudahkan bakteri masuk melalui kulit, terjadi inflamasi dan cairan eksudat. Rasa
gatal memicu terjadinya iritasi, berikutnya infeksi lalu terjadi pembengkakan dan akhirnya
menimbulkan rasa nyeri.
Proses infeksi menyebabkan peningkatan suhu lalu menimbulkan perubahan rasa
nyaman dalam telinga. Selain itu, proses infeksi akan mengeluarkan cairan/nanah yang bisa
menumpuk dalam liang telingasehingga hantaran suara akan terhalang dan terjadilah
penurunan pendengaran.
Otalgia pada otitis eksterna disebabkan kulit liang telinga luar beralaskan periostium
& perikondrium bukan bantalan jaringan lemak sehingga memudahkan cedera atau trauma.
Selain itu, edema dermis akan menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang
hebat.

23
FaktorPredisposisi
Etiologi trauma akibat sering mengorek telinga
Bakteri perubahan pH
Jamur kelembabandansuhuudara yang tinggi
keadaanumum yang burukakibat anemia, DM

Jaringanlemakterbuka TandaRadang
jaringanlemaksebagaifaktor bengkak
pelindungterbuka hiperemi
kepekaan jar. apopilosebaseus sekretencer/purulen
terhadapinfeksi nyeri (otalgia)

Terapi Kasus

Pada kasus ini, dilakukan penatalaksanaan baik medikamentosa, pada pasien dengan
otitis ekstern difus, dimana pada pemeriksaan di dapatkan gejala peradangan dan sekret,
sehingga diberikan obat cuci telinga (ear toilet) H2O2 3% selama 3 - 5 hari serta antibiotik
yang adekuat. Pada kasus ini diberikan antibiotik oral yaitu amoxicilin 3x500mg selama 7
hari. Selain itu, pada pasien diberikan anti inflamasi berupa kortikosetroid (deksametason)
untuk mengatasi gejala peradangannya.
Pada kasus ini dibutuhkan pentalaksanaan secara dini dan akurat, karena jika terapi
terlambat diberikan, terapi tidak adekuat atau karena penyebab lain yang mendukung seperti
virulensi kuman yang tinggi, daya tubuh pasien yang rendah serta hygiene pasien yang buruk,
akan mengakibatkan komplikasi.

24