Anda di halaman 1dari 17

Pengertian Al Qur'an

1. Pengertian Al Qur'an secara etimologi (bahasa)


Ditinjau dari bahasa, Al Qur'an berasal dari bahasa arab, yaitu bentuk jamak dari kata benda
(masdar) dari kata kerja qara'a - yaqra'u - qur'anan yang berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca
berulang-ulang. Konsep pemakaian kata tersebut dapat dijumpai pada salah satu surah al Qur'an
yaitu pada surat al Qiyamah ayat 17 - 18.

2. Pengertian Al Qur'an secara terminologi (istilah islam)


Secara istilah, al Qur'an diartikan sebagai kalm Allah swt, yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw sebagai mukjizat, disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah swt sendiri
dengan perantara malaikat jibril dan mambaca al Qur'an dinilai ibadah kepada Allah swt.

Al Qur'an adalah murni wahyu dari Allah swt, bukan dari hawa nafsu perkataan Nabi
Muhammad saw. Al Qur'an memuat aturan-aturan kehidupan manusia di dunia. Al Qur'an
merupakan petunjuk bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Di dalam al Qur'an terdapat
rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Al Qur'an merupakan petunjuk
yang dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang.

Nama-Nama Al-Quran Dan Dalilnya

Diantara nama-nama lain dari Al-Quran diantaranya:

Al-Kitab

Yang artinya buku atau kitab. Nama ini diambil dari firman Allah berikut ini.

Artinya: Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 2)

Al-Furqan
Artinya pembeda. Maksudnya adalah Al-Quran menerangkan secara jelas mana yang benar dan
mana yang salah. Nama ini diambil dari firman Allah berikut ini.

Artinya: Maha suci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya
(Muhamad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al-Furqan : 1)

Adz-Dzikru

Yang berarti peringatan. Al-Quran dikatakan Adz-Dzikru karena banyak ayat-ayatnya yang
berisi peringatan kepada manusia. Nama ini diambil dari firman Allah yaitu:

Artinya: Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Quran dan pasti Kami (pula) yang
memelihranya. (QS. Al-Hijr: 9)

Al-Huda

Artinya petunjuk. Al-Quran dikatakan Al-Huda karena ayat-ayatnya berisi petunjuk bagi
manusia. Nama ini diambil dari firman Allah berikut ini.

Artinya: Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara
yang benar dan yang bathil),(QS. Al-Baqarah: 185)

Al-Bayyinah

Artinya keterangan. Dikatakan Al-Bayyinah karena ayat-ayatnya berisi beberapa keterangan.


Nama ini diambil dari firman Allah berikut ini.
Artinya: Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan
meninggalkan (agama) mereka sampai datang kepada mereka bukti yang nyata. (QS. Al-
Bayyinah: 1)

An-Nur

Berarti cahaya. Dikatakan An-Nur karena petunjuk-petunjuknya adalah sebagai penerang hati.
Nama ini diambil dari firman Allah berikut ini.

Artinya: Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak memiliki
cahaya sedikitpun. (QS. An-Nur: 40)

Asy-Syifa

Artinya obat atau penyembuh. Nama ini diambil dari ayat berikut ini.

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

At-Tanzil

Artinya yang diturunkan. Nama ini Allah gunakan dalam firmanNya berikut ini.
Artinya: Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.
(QS. Asy Syuara: 192)

Pengertian sunnah
Pengertian sunnah menurut bahasa adalah kebiasaan yang diikuti. Sunnah dalam makna ini bisa
berupa kebaikan dan keburukan. Contohnya sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut ini :

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang memulai kebiasaan


yang baik dalam Islam (sehingga menjadi kebiasaan ummat), maka dia akan memperoleh
pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka
sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai kebiasaan yang buruk (sehingga menjadi
kebiasaan ummat), maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya
dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. (HR Muslim).

Pengertian sunnah secara istilah memiliki beberapa makna yang berbeda. Diantaranya adalah
sebagai berikut :

1. Menurut ahli hadist dan ushul fiqih, sunnah adalah periwayatan yang disandarkan
kepada Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam baik berupa perkataan, perbuatan,
ketetapan, dan sifat beliau.
2. Menurut ulama fiqih, sunnah adalah semua amalan yang berpahala ketika dikerjakan dan
tidak berdosa ketika ditinggalkan.
3. Menurut ulama aqidah, sunnah adalah seluruh petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa
sallam dalam pondasi agama dan cabang-cabangnya, baik berupa keyakinan, amalan,
maupun petunjuk lain. Dalam masalah ini, sunnah adalah lawan dari bidah. Terkadang
sunnah sendiri bermakna agama secara total.
Pengertian Sunnah dalam Islam juga berarti seluruh kebaikan, ketaatan, keutamaan, ibadah,
dakwah, jihad fii sabilillah, ilmu dan seluruh bentuk pendekatan kepada Allah subhanahu wa
taala. Sunnah seperti ini tidak boleh diubah oleh seorang hamba, perubahan dalam sunnah
seperti ini tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa taala.

Sunnah seperti ini harus diikuti, dijalankan dan harus diagungkan karena bersumber dari
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diajarkan kepada manusia-manusia yang mulia
yaitu para sahabat Beliau shallallahu alaihi wa sallam.

Sunnah seperti ini disebut juga al-hikmah yang diajarkan oleh Allah subhanahu wa taala kepada
Nabi-Nya. Allah subhanahu wa taala berfirman :


)(

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan Hikmah
(sunnah shallallahu alaihi wa sallam). Sesungguhnya Allah adalah maha lembut lagi maha
mengetahui. (QS.al-ahzab[33]:34)

Sunnah seperti ini adalah lawan dari keburukan, kebidahan, kemaksiatan, jauh dari Allah,
penipuan, kesyirikan, dan kekufuran. Segala puji bagi Allah subhanahu wa taala yang telah
menjadikan kita sebagai Ahlussunnah.

Pengertian Hadits
Pengertian Hadits Menurut Bahasa dan Istilah

Dalam hal ini kita baru membahas pengertian dari kata hadisnya saja, belum soal apa itu hadits
Nabi?. Dan untuk ini kami membaginya dalam dua ulasan:

Menurut bahasa:

Ada tiga kata yang dijadikan makna dari hadis itu sendiri, yaitu:
Khabar Ini artinya warta atau berita, dalam istilahnya ini banyak diartikan dengan
segala sesuatu yang diperbincangkan atau ucapan yang dipindahkan dari seseorang
kepada orang lain atau yang lebih dikenal dengan ma yatahaddatsu bihi wa yunqalu.
Dari makna ini yang kemudian disebut perkataan hadis Nabi
Jadid Artinya baru, ini adalah lawan kata dari qadim yang berarti yang sudah lama.
Jadi, hadis bisa juga diartikan dengan sesuatu yang baru jika disandarkan dalam katanya
saja, kecuali jika disandarkan pada nabi maka maknanya lain lagi.
Qarib Bermakna yang dekat, atau yang belum lama ini berlangsung atau terjadi,
misalnya dalam kalimat haditsul ahdi bil-Islam yang artinya orang yang baru masuk
Islam. Adapun jamaknya huduts atau hidats.

Jamak dari kata hadis bisa hudtsan atau hidtsan dan biasa juga disebut ahadits. Bahkan jamak
yang terakhir disebut inilah yang selalu digunakan untuk mengungkapkan hadis-hadis yang
bersumber dari nabi, yakni Ahaditsul Rasul.

Perlu diketahui bahwa kata ahadits yang merupakan bentuk jamak bukanlah jamak dari kata
hadits, melainkan isim jamak, sedangkan kata tunggal atau mufradnya yang sebenarnya adalah
dari kata uhdutsah yang berarti berita yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain. Ini
sepaham dengan pendapat Az-Zumakhsyary dalam kitab Al-Kasysyaf.

Adapun dalil yang mengungkapkan bahwa hadis bermakna khabar adalah dalam surah Ath-Thur
ayat 34:

Maka hendaklah mereka mendatangkan suatu khabar yang sepertinya jika mereka orang yang
benar.

Menurut istilah dari ahli hadis

Oleh al-Hafidh dalam syarah Al-Bukhary menyebukan soal pengertian hadis ini, yakni


Segala ucaban Nabi saw., segala perbuatannya dan juga segala keadaan beliau.

Dikatakan juga bahwa makna segala keadaan Nabi adalah termasuk juga dengan apa yang
diriwayatkan dalam kitab sejarah yang sahih, seperti kelahiran beliau, tempatnya dan segal yang
menyangkut dengan itu.

Defenisi hadits Nabi menurut ulama Ushul Hadits

Ada yang berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh ulama Ushulul Hadis, yang mana ada
penegasan di akhirnya bahwa segala yang disandarkan kepada Nabi hanya pada hal yang
berkaitan dengan hukum. Sebagaimana disebutkan:

Segala perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi, yang berkaitan dengan masalah hukum.

Ini artinya, walaupun disandarkan kepada Nabi tapi tidak ada kaitannya dengan soal hukum
maka ia tidak termasuk hadis Nabi. Kurang lebih seperti itu maknanya jika kita merujuk pada
pendapat ini.

Proses Turunnya Al-Quran


Proses Turunnya Al-Quran---Tidak diragukan lagi, bahwa Al-Quran merupakan Kalamullah,
bukan perkataan manusia. Karna dalam Al-Quran mencakup dan memnuhi semua kebutuhan
umat manusia.

Al-Quran diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril.
turunnya Al-Quran ini tidak dengan sekali turun, tetapi berangsur-angsur dari waktu kewaktu.
Turunnya ayat Al-Quran ini menurut sebagian ulama ada latar belakang (azbab An-nuzul)
terlebih dahulu.

Al-Quran turun pertama kali pada malam lailatul qadar, sebagai pemberitahuan kepada penduduk
samawi (para malaikat) bahwa betapa mulianya ummat Nabi Muhammad Saw.

Proses turunya
Al-Quran ada dua tahap, yaitu :

1. Dari lauhil mahfuz ke sama' (langit) dunia secara sekaligus pada malam lailatul qadar :

Hal ini dipertegas dengan Firman Allah Swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 185 :

"bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk
dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)" Al-
Baqarah : 185

Diperkuat dengan pernyataan Ibnu Abbas dan pengikutnya bahwa proses turunnya Al-Quran dari
baitul izzah ke langit dunia itu dunia pada malam lailatul qodar.

2. Dari sama' (langit) dunia secara berangsur-angsur.

Para ulama Islam sangat memahami bahwa Proses turunnya Al-Quran kepada Nabi Muhammad
Saw melalui perantara Malaikat Jibril tidaklah sekaligus dalam bentuk satu kitab sperti yang kita
lihat sekarang. Al-Quran diturunkan secara bertahap, terkadang hanya satu ayat, terkadang
beberapa ayat, namun ada juga yang turun satu surat sekaligus.

Proses turunnya Al-Quran dari langit dunia ke bumi menurut satu riwayat AL-Quran diturun
dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu dari malam 17 ramadhan, saat Nabi berusia
40 tahun, sampai dengan 9 dzulhijjah pada haji wada', saat usia Nabi Muhammad 63 tahun, 10
H.

Sejarah Kodifikasi Al-Quran


Ditulis pada September 28, 2006

(sumber; mail archive : daarut tauhid)


Mushaf Al Quran yang ada di tangan kita sekarang ternyata telah melalui perjalanan panjang
yang berliku-liku selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun yang silam dan mempunyai latar
belakang sejarah yang menarik untuk diketahui. Selain itu jaminan atas keotentikan Al Quran
langsung diberikan oleh Allah SWT yang termaktub dalam firman-Nya QS.AL Hijr -(15):9:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al Quran), dan kamilah yang akan
menjaganya..

Al-Quran pada jaman Rasulullah SAW.

Pengumpulan Al Quran pada zaman Rasulullah SAW ditempuh dengan dua cara:

Pertama : al Jamu fis Sudur

Para sahabat langsung menghafalnya diluar kepala setiap kali Rasulullah SAW menerima
wahyu. Hal ini bisa dilakukan oleh mereka dengan mudah terkait dengan kultur (budaya) orang
arab yang menjaga Turast (peninggalan nenek moyang mereka diantaranya berupa syair atau
cerita) dengan media hafalan dan mereka sangat masyhur dengan kekuatan daya hafalannya.

Kedua : al Jamu fis Suthur

Yaitu wahyu turun kepada Rasulullah SAW ketika beliau berumur 40 tahun yaitu 12 tahun
sebelum hijrah ke madinah. Kemudian wahyu terus menerus turun selama kurun waktu 23 tahun
berikutnya dimana Rasulullah. SAW setiap kali turun wahyu kepadanya selalu membacakannya
kepada para sahabat secara langsung dan menyuruh mereka untuk menuliskannya sembari
melarang para sahabat untuk menulis hadis-hadis beliau karena khawatir akan bercampur dengan
Al Quran. Rasul SAW bersabda Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al Quran,
barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al Quran maka hendaklah ia menghapusnya
(Hadist dikeluarkan oleh Muslim (pada Bab Zuhud hal 8) dan Ahmad (hal 1).

Biasanya sahabat menuliskan Al Quran pada media yang terdapat pada waktu itu berupa ar-
Riqa (kulit binatang), al-Likhaf (lempengan batu), al-Aktaf (tulang binatang), al-`Usbu (
pelepah kurma). Sedangkan jumlah sahabat yang menulis Al Quran waktu itu mencapai 40
orang. Adapun hadis yang menguatkan bahwa penulisan Al Quran telah terjadi pada masa
Rasulullah s.a.w. adalah hadis yang di Takhrij (dikeluarkan) oleh al-Hakim dengan sanadnya
yang bersambung pada Anas r.a., ia berkata: Suatu saat kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita
menulis Al Quran (mengumpulkan) pada kulit binatang .

Dari kebiasaan menulis Al Quran ini menyebabkan banyaknya naskah-naskah (manuskrip) yang
dimiliki oleh masing-masing penulis wahyu, diantaranya yang terkenal adalah: Ubay bin Kaab,
Abdullah bin Masud, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Salin bin Maqal.
Adapun hal-hal yang lain yang bisa menguatkan bahwa telah terjadi penulisan Al Quran pada
waktu itu adalah Rasulullah SAW melarang membawa tulisan Al Quran ke wilayah musuh.
Rasulullah s.a.w. bersabda: Janganlah kalian membawa catatan Al Quran ke wilayah musuh,
karena aku merasa tidak aman (khawatir) apabila catatan Al Quran tersebut jatuh ke tangan
mereka.

Kisah masuk islamnya sahabat `Umar bin Khattab r.a. yang disebutkan dalam buku-bukus
sejarah bahwa waktu itu `Umar mendengar saudara perempuannya yang bernama Fatimah
sedang membaca awal surah Thaha dari sebuah catatan (manuskrip) Al Quran kemudian `Umar
mendengar, meraihnya kemudian memba-canya, inilah yang menjadi sebab ia mendapat hidayah
dari Allah sehingga ia masuk islam.

Sepanjang hidup Rasulullah s.a.w Al Quran selalu ditulis bilamana beliau mendapat wahyu
karena Al Quran diturunkan tidak secara sekaligus tetapi secara bertahap.

Al-Quran pada zaman Khalifah Abu Bakar as Sidq

SEPENINGGAL Rasulullah SAW, istrinya `Aisyah menyimpan beberapa naskah catatan


(manuskrip) Al Quran, dan pada masa pemerintahan Abu Bakar r.a terjadilah Jamul Quran yaitu
pengumpulan naskahnaskah atau manuskrip Al Quran yang susunan surah-surahnya menurut
riwayat masih berdasarkan pada turunnya wahyu (hasbi tartibin nuzul).
Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya sebab-sebab yang melatarbelakangi pengumpulan
naskah-naskah Al Quran yang terjadi pada masa Abu Bakar yaitu Atsar yang diriwatkan dari
Zaid bin Tsabit r.a. yang berbunyi: Suatu ketika Abu bakar menemuiku untuk menceritakan
perihal korban pada perang Yamamah , ternyata Umar juga bersamanya. Abu Bakar berkata
: Umar menghadap kepadaku dan mengatakan bahwa korban yang gugur pada perang
Yamamah sangat banyak khususnya dari kalangan para penghafal Al Quran, aku khawatir
kejadian serupa akan menimpa para penghafal Al Quran di beberapa tempat sehingga suatu saat
tidak akan ada lagi sahabat yang hafal Al Quran, menurutku sudah saatnya engkau wahai
khalifah memerintahkan untuk mengumpul-kan Al Quran, lalu aku berkata kepada Umar :
bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah s. a. w.
? Umar menjawab: Demi Allah, ini adalah sebuah kebaikan. Selanjutnya Umar selalu saja
mendesakku untuk melakukannya sehingga Allah melapangkan hatiku, maka aku setuju dengan
usul umar untuk mengumpulkan Al Quran.

Zaid berkata: Abu bakar berkata kepadaku : engkau adalah seorang pemuda yang cerdas dan
pintar, kami tidak meragukan hal itu, dulu engkau menulis wahyu (Al Quran) untuk Rasulullah s.
a. w., maka sekarang periksa dan telitilah Al Quran lalu kumpulkanlah menjadi sebuah mushaf.

Zaid berkata : Demi Allah, andaikata mereka memerintahkan aku untuk memindah salah satu
gunung tidak akan lebih berat dariku dan pada memerintahkan aku untuk mengumpulkan Al
Quran. Kemudian aku teliti Al Quran dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, lempengan
batu, dan hafalan para sahabat yang lain).
Kemudian Mushaf hasil pengumpulan Zaid tersebut disimpan oleh Abu Bakar, peristiwa tersebut
terjadi pada tahun 12 H. Setelah ia wafat disimpan oleh khalifah sesudahnya yaitu Umar, setelah
ia pun wafat mushaf tersebut disimpan oleh putrinya dan sekaligus istri Rasulullah s.a.w. yang
bernama Hafsah binti Umar r.a.

Semua sahabat sepakat untuk memberikan dukungan mereka secara penuh terhadap apa yang
telah dilakukan oleh Abu bakar berupa mengumpulkan Al Quran menjadi sebuah Mushaf.
Kemudian para sahabat membantu meneliti naskah-naskah Al Quran dan menulisnya kembali.
Sahabat Ali bin Abi thalib berkomentar atas peristiwa yang bersejarah ini dengan mengatakan :
Orang yang paling berjasa terhadap Mushaf adalah Abu bakar, semoga ia mendapat rahmat Allah
karena ialah yang pertama kali mengumpulkan Al Quran, selain itu juga Abu bakarlah yang
pertama kali menyebut Al Quran sebagai Mushaf).

Menurut riwayat yang lain orang yang pertama kali menyebut Al Quran sebagai Mushaf adalah
sahabat Salim bin Maqil pada tahun 12 H lewat perkataannya yaitu : Kami menyebut di negara
kami untuk naskah-naskah atau manuskrip Al Quran yang dikumpulkan dan di bundel sebagai
MUSHAF dari perkataan salim inilah Abu bakar mendapat inspirasi untuk menamakan naskah-
naskah Al Quran yang telah dikumpulkannya sebagai al-Mushaf as Syarif (kumpulan naskah
yang mulya). Dalam Al Quran sendiri kata Suhuf (naskah ; jamanya Sahaif) tersebut 8 kali,
salah satunya adalah firman Allah QS. Al Bayyinah (98):2 Yaitu seorang Rasul utusan Allah
yang membacakan beberapa lembaran suci. (Al Quran)

Al-Quran pada jaman khalifah Umar bin Khatab

Tidak ada perkembangan yang signifikan terkait dengan kodifikasi Al Quran yang dilakukan
oleh khalifah kedua ini selain melanjutkan apa yang telah dicapai oleh khalifah pertama yaitu
mengemban misi untuk menyebarkan islam dan mensosialisasikan sumber utama ajarannya
yaitu Al Quran pada wilayah-wilayah daulah islamiyah baru yang berhasil dikuasai dengan
mengirim para sahabat yang kredibilitas serta kapasitas ke-Al-Quranan-nya bisa
dipertanggungjawabkan Diantaranya adalah Muadz bin Jabal, `Ubadah bin Shamith dan Abu
Darda.

Al-Quran pada jaman khalifah Usman bin `Affan

Pada masa pemerintahan Usman bin Affan terjadi perluasan wilayah islam di luar Jazirah arab
sehingga menyebabkan umat islam bukan hanya terdiri dari bangsa arab saja (Ajamy). Kondisi
ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif.

Salah satu dampaknya adalah ketika mereka membaca Al Quran, karena bahasa asli mereka
bukan bahasa arab. Fenomena ini di tangkap dan ditanggapi secara cerdas oleh salah seorang
sahabat yang juga sebagai panglima perang pasukan muslim yang bernama Hudzaifah bin al-
yaman.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa suatu saat Hudzaifah yang pada waktu itu
memimpin pasukan muslim untuk wilayah Syam (sekarang syiria) mendapat misi untuk
menaklukkan Armenia, Azerbaijan (dulu termasuk soviet) dan Iraq menghadap Usman dan
menyampaikan kepadanya atas realitas yang terjadi dimana terdapat perbedaan bacaan Al Quran
yang mengarah kepada perselisihan.

Ia berkata : wahai usman, cobalah lihat rakyatmu, mereka berselisih gara-gara bacaan Al Quran,
jangan sampai mereka terus menerus berselisih sehingga menyerupai kaum yahudi dan nasrani .

Lalu Usman meminta Hafsah meminjamkan Mushaf yang di pegangnya untuk disalin oleh
panitia yang telah dibentuk oleh Usman yang anggotanya terdiri dari para sahabat diantaranya
Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin alAsh, Abdurrahman bin al-Haris dan lain-lain.

Kodifikasi dan penyalinan kembali Mushaf Al Quran ini terjadi pada tahun 25 H, Usman
berpesan apabila terjadi perbedaan dalam pelafalan agar mengacu pada Logat bahasa suku
Quraisy karena Al Quran diturunkan dengan
gaya bahasa mereka.

Setelah panitia selesai menyalin mushaf, mushaf Abu bakar dikembalikan lagi kepada Hafsah.
Selanjutnya Usman memerintahkan untuk membakar setiap naskah-naskah dan manuskrip Al
Quran selain Mushaf hasil salinannya yang berjumlah 6 Mushaf.

Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam
dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk ia simpan di Madinah yang belakangan
dikenal sebagai Mushaf al-Imam.

Tindakan Usman untuk menyalin dan menyatukan Mushaf berhasil meredam perselisihan
dikalangan umat islam sehingga ia manual pujian dari umat islam baik dari dulu sampai sekarang
sebagaimana khalifah pendahulunya Abu bakar yang telah berjasa mengumpulkan Al Quran.
Adapun Tulisan yang dipakai oleh panitia yang dibentuk Usman untuk menyalin Mushaf adalah
berpegang pada Rasm alAnbath tanpa harakat atau Syakl (tanda baca) dan Nuqath (titik sebagai
pembeda huruf).

Tanda Yang Mempermudah Membaca Al-Quran

Sampai sekarang, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir adalah salinan mushaf
hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit pada masa khalifah Usman bin Affan. Mushaf
pertama ditemukan di
kota Tasyqand yang tertulis dengan Khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh kekaisaran Rusia
pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard (sekarang St.PitersBurg) dan umat
islam dilarang untuk melihatnya.

Pada tahun yang sama setelah kemenangan komunis di Rusia, Lenin memerintahkan untuk
memindahkan Mushaf tersebut ke kota Opa sampai tahun 1923 M. Tapi setelah terbentuk
Organisasi Islam di Tasyqand para anggotanya meminta kepada parlemen Rusia agar Mushaf
dikembalikan lagi ketempat asalnya yaitu di Tasyqand (Uzbekistan, negara di bagian asia
tengah).

Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di


kota Kairo mesir dan Mushaf ketiga dan keempat terdapat di
kota Istambul Turki. Umat islam tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang asli apa
adanya.

Sampai suatu saat ketika umat islam sudah terdapat hampir di semua belahan dunia yang terdiri
dari berbagai bangsa, suku, bahasa yang berbeda-beda sehingga memberikan inspirasi kepada
salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah pada waktu itu yang bernama
Abul-Aswad as-Dualy untuk membuat tanda baca (Nuqathu Irab) yang berupa tanda titik.
Atas persetujuan dari khalifah, akhirnya ia membuat tanda baca tersebut dan membubuhkannya
pada mushaf. Adapun yang mendorong Abul-Aswad ad-Dualy membuat tanda titik adalah
riwayat dari Ali r.a bahwa suatu ketika Abul-Aswad adDualy menjumpai seseorang yang bukan
orang arab dan baru masuk islam membaca kasrah pada kata Warasuulihi yang
seharusnya dibaca Warasuuluhu yang terdapat pada QS. At-Taubah (9) 3 sehingga bisa
merusak makna.

Abul-Aswad ad-Dualy menggunakan titik bundar penuh yang berwarna merah untuk menandai
fathah, kasrah, Dhammah, Tanwin dan menggunakan warna hijau untuk menandai Hamzah. Jika
suatu kata yang ditanwin bersambung dengan kata berikutnya yang berawalan huruf Halq
(idzhar) maka ia membubuhkan tanda titik dua horizontal seperti adzabun alim dan
membubuhkan tanda titik dua Vertikal untuk menandai Idgham seperti ghafurrur rahim.

Adapun yang pertama kali membuat Tanda Titik untuk membedakan huruf-huruf yang sama
karakternya (nuqathu hart) adalah Nasr bin Ashim (W. 89 H) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf
as-Tsaqafy, salah seorang gubernur pada masa Dinasti Daulah Umayyah (40-95 H). Sedangkan
yang pertama kali menggunakan tanda Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, dan Tasydid seperti
yang-kita kenal sekarang adalah al-Khalil bin Ahmad al-Farahidy (W.170 H) pada abad ke II H.

Kemudian pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin
mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Al Quran khususnya bagi orang selain arab
dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa Isymam, Rum, dan Mad.

Sebagaimana mereka juga membuat tanda Lingkaran Bulat sebagai pemisah ayat dan
mencamtumkan nomor ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca),
menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri dari nama, tempat turun, jumlah
ayat, dan jumlah ain.

Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Al Quran adalah Tajzi yaitu tanda pemisah
antara satu Juz dengan yang lainnya berupa kata Juz dan diikuti dengan penomorannya
(misalnya, al-Juz-utsalisu: untuk juz 3) dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa
seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah Juz dan Juz itu sendiri.

Sebelum ditemukan mesin cetak, Al Quran disalin dan diperbanyak dari mushaf utsmani dengan
cara tulisan tangan. Keadaan ini berlangsung sampai abad ke16 M. Ketika Eropa menemukan
mesin cetak yang dapat digerakkan (dipisah-pisahkan) dicetaklah Al-Quran untuk pertama kali
di
Hamburg, Jerman pada tahun 1694 M.

Naskah tersebut sepenuhnya dilengkapi dengan tanda baca. Adanya mesin cetak ini semakin
mempermudah umat islam memperbanyak mushaf Al Quran. Mushaf Al Quran yang pertama
kali dicetak oleh kalangan umat islam sendiri adalah mushaf edisi Malay Usman yang dicetak
pada tahun 1787 dan diterbitkan di St. Pitersburg Rusia.

Kemudian diikuti oleh percetakan lainnya, seperti di


Kazan pada tahun 1828, Persia Iran tahun 1838 dan Istambul tahun 1877. Pada tahun 1858,
seorang Orientalis Jerman , Fluegel, menerbitkan Al Quran yang dilengkapi dengan pedoman
yang amat bermanfaat.

Sayangnya, terbitan Al Quran yang dikenal dengan edisi Fluegel ini ternyata mengandung cacat
yang fatal karena sistem penomoran ayat tidak sesuai dengan sistem yang digunakan dalam
mushaf standar. Mulai Abad ke-20, pencetakan Al Quran dilakukan umat islam sendiri.
Pencetakannya mendapat pengawasan ketat dari para Ulama untuk menghindari timbulnya
kesalahan cetak.

Cetakan Al Quran yang banyak dipergunakan di dunia islam dewasa ini adalah cetakan Mesir
yang juga dikenal dengan edisi Raja Fuad karena dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis
berdasarkan Qiraat Ashim riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344
H/ 1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Al Quran dicetak dengan
tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan memakai
huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang ahli kaligrafi
turki yang terkemuka Said Nursi.
Daftar pustaka

http://ulumulislam.blogspot.co.id/2014/04/pengertian-al-quran-menurut-
bahasa.html#.WdHaOLgxPCM

http://www.catatanmoeslimah.com/2015/12/nama-nama-al-quran-dan-penjelasannya.html

http://www.caraspot.com/06393-pengertian-hadits-menurut-bahasa-dan-istilah.html

http://hasmidepok.org/kajian-islam/pengertian-sunnah-menurut-bahasa-dan-istilah.html

http://coretanbinderhijau.blogspot.co.id/2013/04/proses-turunnya-al-quran.html

https://dennyhendrata.wordpress.com/2006/09/28/sejarah-kodifikasi-al-quran/

tugas ini diselesaikan pada : Senin, 2 Oktober 2017 (13.30)