Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH FARMASI BAHARI

SOFT CORALS

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2

ARDIATMA G 701 11 045


ANDIMUTIA NUR.F G 701 13 091
METI AR DINA G 701 13 073
DEWI MASITA G 701 14 160
NURFAIDA G 701 15 101
AMIRAH ABDULLAH G 701 15 069
REZKY MULYANI G 701 15 075
M JUMRATUL MU MININ G 701 15 095
LULU ANDRIANI G 701 15 099
NURFAIDA G 701 15 101
JELITA G 701 15 102
USWATUN HASANAH G 701 15 103

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.1 Latar Belakang
Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan
sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Terumbu karang termasuk dalam
jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut
terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang
keduanya dibedakan secara asal-usul,Morfologi dan Fisiologi.
Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut Polip. Dalam
bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk
tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi
oleh Tentakel. Namun pada kebanyakan Spesies, satu individu polip karang akan
berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni. Hewan ini memiliki
bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan CaCO3. Terumbu
karang merupakan habitat bagi berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut,
dan mikroorganisme laut lainnya.
Selama satu tahun rata-rata karang hanya dapat menghasilkan batu karang setinggi
1 cm saja. Jadi selama 100 tahun karang batu itu hanya tumbuh 100 cm. Kalau begitu,
jika karang yang tingginya 5 meter dirusak, diperlukan 500 tahun agar kembali seperti
semula. Terumbu karang termasuk ekosistem yang paling tua di bumi ini. Tahap
pertama evolusi terumbu karang terjadi kira-kira 500 juta tahun yang lalu. Terumbu
karang modern ada sejak lebih dari 50 juta tahun yang lalu. Waktu yang dibutuhkan
terumbu karang untuk tumbuh adalah antara 5000 sampai 10.000 tahun, pada makalah
ini akan lebih jauh dibahas mengenai proses terbentuk maupun evolusi dari karang
dan terumbu karang.
BAB II
PEMBAHASAN

Alcyonaria telah dikenal sejak zaman Cretaceous kira-kira 65 juta tahun yang
lalu. Hal ini terbukti dengan adanya fosil-fosil spikula di dalam endapan di laut,
terutama di daerah pasang surut atau di daerah terumbu karang. Fosil spikula inilah
yang merupakan unsur kapur terbanyak di dalam endapan. Spikula sangat memegang
peranan penting dalam mengidentifikasi karang lunak. Semua jenis Alcyonaria cara
hidupnya membentuk koloni dan tidak ada yang soliter. Pada Ekspedisi Siboga di
perairan Timur Jauh (zona Indo-Malaya) termasuk Indonesia, tercatat karang lunak 4
suku, 28 marga dan 219 jenis.

Segi lain dari karang lunak yang telah banyak diteliti adalah kandungan
kimianya. Beberapa peneliti telah mengisolasi senyawa terpen dari beberapa jenis
karang lunak. Senyawa terpen merupakan senyawa kimia yang dihasilkan secara
alamiah oleh tumbuh-tumbuhan dan mengandung aroma atau bau yang harum.
Senyawa terpen ini telah menarik perhatian para ahli kimia terutama yang meneliti
senyawa-senyawa alamiah karena dapat digunakan dalam bidang farmasi sebagai
antibiotika, anti jamur dan senyawa anti tumor. Sedangkan kegunaannya bagi karang
lunak itu sendiri ialah sebagai penangkal terhadap serangan predator, dalam hal
memperebutkan ruang lingkup, dan dalam proses reproduksi. Senyawa terpen karang
lunak dihasilkan oleh zooxanthella yaitu alga uniseluler yang bersimbiosis dengan
karang lunak.

2.1 Biologi Karang Lunak Sarcophyton sp.

Sarcophyton sp. adalah karang lunak sub-kelas Alcyonaria yang memiliki tangkai
dan ukuran koloni yang besar. Koloni karang ini mampu mencapai ukuran 1,5 m,
namun pada umumnya berukuran 10-20 cm (Fabricius, 1995). Taksonomi karang
lunak Sarcophyton sp. menurut Lesson (1839) in Hardiningtyas (2009) adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Coelenterata
Kelas : Anthozoa
Sub-kelas : Octocorallia (Alcyonaria)
Ordo : Alcyonacea
Famili : Alcyoniidae
Genus : Sarcophyton

Octocorallia bersifat kosmopolit namun untuk genus Sarcophyton hanya


ditemukan di wilayah Indo-Pasifik. Genus Sarcophyton memiliki dua tipe polip, yaitu
autosoid dan sifonosoid. Polip sifonoid ini lebih kecil ukurannya dari autosoid dan
tidak memiliki tentakel atau memiliki tentakel yang belum sempurna (Manuputty,
2005).
Alga simbion zooxanthellae yang hidup di dalamnya menyokong kebutuhan
nutrisi dari Sarcophyton sp. yang diperoleh dari hasil fotosintesis dengan bantuan
sinar matahari. Makanan lainnya yang juga dapat diperoleh yaitu mikroplankton, larva
udang, dan segala makanan yang mampu didapatkan oleh jenis invertebrata filter
feeder. Morfologi dari karang lunak Sarcophyton sp. hasil transplantasi di Area
Perlindungan Laut Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Morfologi Karang Lunak Sarcophyton sp.

Terumbu karang termasuk karang lunak Sarcophyton sp. tumbuh dan


berkembang optimal pada perairan bersuhu rata-rata tahunan 23-25C tetapi dapat
mentoleransi suhu sebesar 36-40C dan salinitas sebesar 32-35 . Habitatnya harus
berada pada rataan terumbu karang yang mendapatkan sinar matahari sehingga
zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan karangnya mampu melakukan
fotosintesis. Gelombang laut memberikan pasokan oksigen terlarut, plankton, dan
membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang,
namun gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur karang lunak (Nybakken,
1982).

2.2 Morfologi Karang Lunak


Karang lunak (Octocorallia, Alcyonacea) memiliki tubuh yang lunak tapi
lentur. Jaringan tubuhnya disokong oleh spikula yang tersusun sedemikian rupa
sehingga tubuhnya lentur dan tidak mudah sobek. Spikula tersebut mengandung kalsium
karbonat yang berfungsi sebagai penyokong seluruh tubuh karang lunak mulai dari
bagian basal tempat melekat sampai ke ujung tentakel. Bentuk dasar spikula bagi bangsa
Octocorallia adalah bentuk kumparan sederhana (spindle), berujung tumpul atau juga
runcing, dengan permukaan mempunyai tonjolantonjolan (Manuputty, 1998).

Secara sepintas karang lunak tampak seperti tumbuhan, karena bentuk koloninya
bercabang seperti pohon, memiliki tangkai yang identik dengan batang dan tumbuh
melekat pada substrat dasar yang keras (Manuputty, 1998). Tubuhnya yang lunak dan
kenyal disebabkan karena tidak memiliki kerangka kapur luar yang keras seperti karang
keras. Karang lunak ditunjang oleh tangkai berupa jaringan berdaging yang diperkuat
oleh suatu matriks dari partikel kapur yang disebut sklerit (Allen dan Steene, 1994 in
Sandy, 2000).

Polip merupakan bagian yang fertil pada karang lunak. Menurut Hyman (1940) in
Fabricius dan Alderslade (2001), terdapat dua tipe polip pada karang lunak, yaitu
autozooid dan siphonozooid. Sebagian besar karang lunak memiliki tipe autozooid, yaitu
setiap individu hanya memiliki satu tipe polip (monomorphic). Polip pada tipe autosoid
terdiri dari delapan tentakel dan delapan septa yang berkembang baik. Selain itu,
beberapa karang lunak juga memiliki tipe polip siphonozooid. Polip pada tipe ini tidak
memiliki tentakel, atau tentakel dan septa yang tereduksi, umumnya lebih kecil dari
autozooid dan bersifat steril.

Polip dapat dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu antokodia, kaliks, dan
antostela. Antokodia merupakan bagian yang terdapat dipermukaan koloni dan bersifat
retraktil. Pada antokodia ditemukan tentakel yang berjumlah delapan dengan deretan
duri-duri disepanjang sisinya. Duri ini disebut pinnula yang berfungsi untuk membantu
mengalirkan air dan zat-zat makanan ke dalam mulut. Pada daerah kaliks ditemukan
rongga gastrovaskuler atau rongga perut, terusan dari farinks yang terbagi menjadi
delapan dan disebut septa. Septa membagi rongga perut menjadi delapan
ruangan. Bagian antostela merupakan bagian basal 8 polip yang mengandung jaring-
jaring solenia. Hubungan antara polip satu dengan lainnya terjadi melalui jaring-jaring
solenia ini (Manuputty, 2002).

2.3 Reproduksi karang Luanak


Pada umumnya karang memiliki kemampuan reproduksi secara aseksual dan
seksual. Reproduksi aseksual adalah reproduksi yang tidak melibatkan peleburan gamet
jantan (sperma) dan gamet betina (ovum). Pada reproduksi ini, polip/koloni karang
membentuk polip/koloni baru melalui pemisahan potonganpotongan tubuh atau
rangka. Karang lunak memiliki cara bereproduksi yang berbeda-beda tergantung pada
kondisi lingkungan sehingga memungkinkan untuk bisa pulih pada kondisi awal
(Fabricius dan Alderslade, 2001).

Reproduksi seksual adalah reproduksi yang melibatkan peleburan sperma dan ovum
(fertilisasi). Sifat reproduksi ini lebih komplek karena selain terjadi fertilisasi, juga
melalui sejumlah tahap lanjutan (pembentukan larva, penempelan baru kemudian
pertumbuhan dan pematangan) (Manuputty, 1996). Larva yang terbentuk memiliki silia
atau bulu getar, kemudian berenang bebas atau melayang sebagai plankton untuk kurun
waktu beberapa hari sampai beberapa minggu, hingga mendapat tempat perlekatan di
substrat dasar yang keras untuk selanjutnya berubah bentuk (metamorfosis) tumbuh
menjadi polip muda kemudian membentuk koloni baru (Manuputty, 2002).

2.4. Transplantasi Karang Lunak


Transplantasi karang merupakan upaya memperbanyak koloni karang dengan metode
fragmentasi dan koloni tersebut diambil dari induk koloni tertentu di alam. 5
Transplantasi karang dilakukan dengan memotong-motong karang hidup lalu ditanam di
tempat lain yang mengalami kerusakan. Tujuan transplantasi karang adalah mempercepat
regenerasi terumbu karang yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan dan peningkatan
kualitas habitat/koloni karang. Kegiatan transplantasi karang merupakan salah satu usaha
pengembangan populasi berbasis alami di habitatnya atau habitat buatan untuk produksi
anakan yang dapat dipanen secara berkelanjutan (Ditjen PHKA, 2008). Menurut
Soedharma dan Arafat (2005) manfaat transplantasi karang adalah mempercepat
regenerasi terumbu karang yang telah rusak, merehabilitasi lahan kosong atau yang
rusak, menciptakan komunitas baru dengan memasukkan spesies baru ke dalam
ekosistem terumbu karang di daerah tertentu, mengkonservasi plasma nutfah, dan
memenuhi keperluan perdagangan. Menurut Hakim (2010) tingkat kelangsungan hidup
karang lunak Sarcophyton crassocaule yang ditransplantasikan mencapai 88,33-100%
pada dua kedalaman yang berbeda.
2.4. Senyawa Bioaktif Karang Lunak
Menurut Khatab (2008) in Hardiningtyas (2009) senyawa bioaktif adalah senyawa
kimia aktif yang dihasilkan oleh organisme melalui jalur biosintetik metabolit sekunder.
Metabolit sekunder yang dihasilkan oleh karang lunak memiliki keragaman yang tinggi
dan struktur kimia yang unik. Hal tersebut dipengaruhi oleh tingginya keanekaragaman
organisme laut dan pengaruh lingkungan laut, yaitu salinitas, intensitas cahaya, arus, dan
tekanan.
Menurut Muniarsih (2005), metabolit sekunder diproduksi oleh organisme pada saat
kebutuhan metabolisme primer sudah terpenuhi dan digunakan dalam mekanisme 6
evolusi atau strategi adaptasi lingkungan. Kompetisi ruang dan makanan yang kuat juga
mendorong organisme laut menghasilkan metabolit sekunder. Harper (2001) in
Hardiningtyas (2009) menjelaskan bahwa karang lunak menghasilkan senyawa metabolit
sekunder berfungsi untuk menghadapi serangan predator, media kompetisi, mencegah infeksi
bakteri, membantu proses reproduksi, dan mencegah sengatan sinar ultraviolet. Karang lunak
menghasilkan beberapa dari golongan senyawa hasil metabolit sekunder, antara lain alkaloid,
steroid, flavonoid, fenol, saponin, terpen dan peptida. Karang lunak Sarcophyton sp.
dilaporkan memiliki kandungan senyawa bioaktif alkaloid, steroid, dan flavonoid
(Hardiningtyas, 2009). Struktur kimia dari senyawa flavonoid, yaitu flavonol, flavones, dan
flavanone dapat dilihat pada Gambar 2.

Flavonol Flavone Flavanone

Gambar 2. Struktur Kimia Flavonol, Flavones, dan Flavanone (USDA, 200


senyawa metabolit sekunder (komponen bioaktif) karena beberapa senyawa
metabolit sekunder merupakan hasil samping dari metabolisme primer termasuk asam
amino. Adanya limbah organik yang menyebabkan lingkungan perairan menjadi
subur juga berpengaruh terhadap kandungan bioaktif karang lunak. Perairan yang
subur menyebabkan banyaknya alga yang tumbuh di kolom perairan sehingga
terjadinya kompetisi dalam memperoleh cahaya matahari. Semakin banyaknya alga
yang hidup di kolom perairan (marak alga), maka semakin sedikit cahaya yang
mencapai habitat karang lunak sehingga zooxanthellae yang bersimbion di dalam
tubuh karang lunak tidak mampu untuk berfotosintesis dan kemudian mati (coral
bleaching). Zooxanthellae diduga memiliki kandungan bioaktif yang akan terdeteksi
ketika dilakukan ekstraksi terhadap karang lunak.

2.5 Ekstraksi Karang Lunak

Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menurut petunjuk Rachmaniar


(1994, 1995), yang mengikuti prosedur berikut: karang lunak dipotong-potong kecil,
dikeluarkan bahan-bahan pengotornya lalu ditimbang sebanyak 25 g bobot segar dan
selanjutnya diblender sampai halus, kemudian dimaserasi dengan metanol p.a 80%
sebanyak 35 ml. Setelah dimaserasi selama 24 jam, suspensi pekat di-sentrifuge
selama 15 menit dengan kecepatan 3500 rpm. Setelah itu, ekstrak yang didapatkan
disaring dengan kertas saring kemudian dicukupkan volumenya. Ekstrak disimpan di
dalam lemari pendingin untuk dilakukan pengujian bioaktivitas.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Alcyonaria telah dikenal sejak zaman Cretaceous kira-kira 65 juta tahun yang lalu. Hal
ini terbukti dengan adanya fosil-fosil spikula di dalam endapan di laut, terutama di
daerah pasang surut atau di daerah terumbu karang.

2. karang memiliki kemampuan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi


aseksual adalah reproduksi yang tidak melibatkan peleburan gamet jantan (sperma)
dan gamet betina (ovum).

3. Karang lunak menghasilkan beberapa dari golongan senyawa hasil metabolit sekunder,
antara lain alkaloid, steroid, flavonoid, fenol, saponin, terpen dan peptida. Karang lunak
Sarcophyton sp. dilaporkan memiliki kandungan senyawa bioaktif alkaloid, steroid, dan
flavonoid (Hardiningtyas, 2009).
DAFTAR PUSTAKA

Manuputty, A. E. W. 1992. Sebaran, Keanekaragaman dan Komposisi Jenis Karang


Lunak di Teluk Jakarta. Seminar Ekologi Laut dan Pesisir I. Jakarta 27 29
November 1989. hlm 287 293

Ofwagen, L. P van dan J. Vennam, 1994. Result of Rumphius Biohistorical Expeditions to


Ambon (1990). Part 3. The Alcyoniidae (Octocorallia: Alcyonacea). Zool. Med. Leiden
68 (14), 15.vii.: 135 158; figs. 1- 20.

Rachmaniar, R. 1994. Penelitian Produk Alam Laut Skreening Substansi Bioaktif.


Laporan Penelitian Tahun Anggaran 1993/1994. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Puslitbang Oseanologi.

Rachmaniar, R. 1995. Penelitian Produk Alam Laut Skreening Substansi Bioaktif.


Laporan Penelitian Tahun Anggaran 1994/1995. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Puslitbang Oseanologi. Sammarco, P. W., J. C. Coll, S. La Barre dan B. Willis,1983.