Anda di halaman 1dari 9

FAKO-EMULSIFIKASI

Indikasi fako-emulsifikasi : Insisi kecil pada katarak slightly hard moderately hard (grade 2
dan 3).
Keuntungan fako-emulsifikasi:
BMD selalu terbentuk
Insisi kecil
Astigmatisme menurun
Penutupan luka mudah
Rehabilitasi tajam penglihatan cepat
Kerugian fako-emulsifikasi:
Instrumen mahal
Tidak semua senter mempunyai alat fako-emulsifikasi.
Biaya pemeliharaan alat lebih tinggi.
Learning curve lebih lama

SICS :
Indikasi SICS: Insisi 5-6 mm untuk katarak slightly hard- moderately hard (grade 2 dan 3, lihat
lampiran)
Keuntungan SICS:
Lebih murah dibanding fako-emulsifikasi
Astigmatisme lebih kecil dibanding ECCE
Rehabilitasi tajam penglihatan hampir sama dibanding fako-emulsifikasi
Komplikasi seperti nucleus tenggelam ke vitreous dan keratopati bulosa lebih sedikit
Jika dilakukan seorang yang ahli, operasi hanya membutuhkan waktu 6 8 menit dan
hampir tidak tergantung dari kekerasan nukleus
Kerugian SICS:
Insisi lebih lebar dari pada fako-emulsifikasi.
Komplikasi kornea lebih sering dari pada fako-emulsifikasi
ECCE :
Indikasi ECCE: Hard nuclei-cataract (grade 5, lihat lampiran) dan katarak pada bayi
Keuntungan ECCE:
Dapat insersi IOL PC
Jarang komplikasi vitreous di BMD (dibanding ICCE)
Angka kejadian CME dan ablasio retina lebih jarang (dibanding ICCE)
Bila terjadi ablasio retina, lebih mudah diatasi dan prognosis lebih baik
Dapat dilakukan pada penderita umur < 40 tahun
Kerugian ECCE
Perlu learning curve lebih lama (dibanding ICCE)
10 50 % terjadi katarak sekunder setelah 3 5 tahun
Tidak dapat dilakukan pada penderita dengan uveitis khronis yang aktif

ICCE:
Indikasi ICCE: Dislokasi lensa atau fasilitas operasi yang tidak memungkinkan untuk
operasi yang lain..
Keuntungan ICCE:
Tehnik telah dikenal lebih lama, sehingga sangat dipahami oleh ahli bedah mata
Tidak mungkin terjadi katarak sekunder
Instrumen lebih murah dan sederhana, dapat dilakukan dalam kondisi yang minimal.
Merupakan pilihan tehnik operasi untuk lensa dengan sub-luksasi
Kerugian ICCE:
Tidak dapat dilakukan insersi IOL PC di bilik mata belakang
Tidak dapat dilakukan untuk penderita berumur kurang dari 35 tahun,
(sebab ligamen kapsulo-hyaloid masih intak dan alfa-khemotripsin tidak dapat
mencapai jaringan ini).
Sering terjadi komplikasi vitreous pada segmen anterior, inkarserasi iris, glaucoma blok
pupil, kerusakan endotel di superior
Angka kejadian Irvine-Gass syndrome (=CME), 50 % terjadi sementara, 2 4% terjadi
CME yang menetap.
Ablasio retina lebih tinggi dibanding ECCE
Penyembuhan luka lebih lama
Rehabilitasi visus dicapai lebih lambat, sering terjadi astigmatisme against the rule
Teknik Operasi

a. Fakoemulsifikasi
1. Insisi
2. Kapsulotomi anterior
3. Hidro-diseksi dan hidro-delineas
4. Emulsifikasi nukleus : ada 3 tahap yaitu : sculpting (mengeruk), mobilisasi nucleus
dengan second-instrument dan emulsifikasi sisa nucleus. Keberhasilan setiap tahap
akan mempermudah tahap berikutnya. Sculpting relatif mudah, terutama jika ada
adhesi antara nucleus dan korteks, sehingga nucleus tidak menjauhi tip sewaktu
emulsifikasi. Jumlah yang di sculpting tergantung dari kerasnya nucleus. Nucleus
yang lebih keras memerlukan sculpting sebanyak mungkin supaya second-
instrument dapat memegang inti lensa.
Perlu diketahui, kapsul anterior harus sudah tidak ada, karena dapat ter-aspirasi.
Pedal fako-emulsifikasi (posisi 3) hanya diinjak seperlunya saja, untuk menghemat
waktu fako (phaco-time). Dalamnya sculpting sangat bervariasi diantara kasus satu
dengan yang lain. Bagi pemula, cukup melakukan tahap sculpting, kemudian
pindah pada ECCE yang biasa, sampai beberapa kasus tercapai. Perlu juga untuk
menghindari nucleus grade 1, sebab bila terdapat nucleus grade 1 yang melekat pada
kapsulnya, mudah terjadi kerusakan kapsul atau zonula. Tahap berikutnya adalah
mobilisasi nucleus (manipulation and loosening). Tujuannya untuk melepaskan
nucleus dari perlekatannya di posterior dengan nucleus mikro-manipulator atau
irigasi (hidrodiseksi). Pedal fako posisi 1, nucleus di putar untuk mengetahui
apakah sudah lepas dari perlekatannya di posterior. Pedal posisi 2 dan terakhir 3,
sehingga pinggir nucleus mulai di emulsifikasi. Demikian seterusnya sampai tahap
emulsifikasi sisa nucleus.
5. ( Pada saat ini terdapat banyak sekali tehnik fako-emulsifikasi mutakhir, misalnya
tehnik Stop-Chop, Chop-chop-chop, maupun Pre-chop, yang memerlukan alat
yang sangat bervariasi, perlu ketrampilan yang berbeda dan memerlukan waktu
fako yang lebih pendek, sehingga komplikasinya sangat minimal

b. SICS
1. Anestesi, jahitan kendali dan insisi khusus, sehingga insisi 6 mm tanpa jahitan bias
kedap air, antara lain bentuk Chevron ( Pallin 1990), bentuk Frown atau bentuk
Lurus, semua dengan struktur 3 bidang, termasuk membuat sleral tunnel dengan
pisau khusus.
2. Visko-elastik
3. Kapsuloreksis
4. Hidro-diseksi (tidak memerlukan hidro-delineasi)
5. Visko-elastik
6. Nukleus diprolaps (prolapsing, flipping) ke bilik mata depan (lihat video) dengan
kanula hidro-diseksi atau dengan Sinskey hook.
7. Visko-elastik sebagai bantal di depan dan belakang nucleus
8. Irrigating-vectis, nucleus diekstraksi
9. Pada tiap tiap tahap di atas, bila tidak tercapai tujuan yang dimaksudkan, dapat
dilakukan konversi ke ECCE dengan beberapa jahitan luka operasi.Hal ini perlu
diingat oleh operator, karena jika operator terlalu menuruti ego-nya akan berakibat
terjadi trauma pada endotel yang berat, terjadi komplikasi vitreous prolaps, maupun
komplikasi lain yang amat berbahaya bagi penderita kelak.
10. Irigasi dan aspirasi sisa masa lensa
11. Visko-elastik
12. Lensa intra-okuler.
13. dan seterusnya.

c. ECCE :
1. Pasang jahitan kendali.
2. Flap konjungtiva dengan forsep St Martin dan gunting konjungtiva.
3. Dilakukan grooving dengan pisau super sharp, fragmen razor blade, pisau
diamond atau pisau Graefe.
4. Kapsulotomi anterior
5. Bilik mata depan ditembus dengan pisau.
6. Dilebarkan dengan gunting Troutman atau Castroveijo.
7. Ekspresi nukleus dengan dua tangan. Sistotom di tangan kanan menekan sclera
2 mm. di belakang insisi untuk melepaskan pole superior inti dari korteksnya, pupil
akan terlihat melebar ke superior. Pole inferior diekspresi dengan lens expressor
atau kait otot dengan tangan kiri, dengan goyangan halus tangan kanan dan kiri.
Jika pole superior sudah tampak dibibir luka, dapat ditolong dengan sistotom yang
tajam untuk mengeluarkan inti.
8. Jika pole superior tetap berada di bawah iris, insisi mungkin perlu dilebarkan atau
iris perlu disingkirkan dengan sistotom.
9. Ekspresi nucleus dengan satu tangan. Gunakan irrigating vectis. Kapsulotomi
harus agak lebar, inti dilepaskan denga sistotom atau hidro diseksi. Dengan vectis
irigasi BSS pada tangan kanan, dibantu jari telunjuk tangan kiri, menyusur belakng
lensa dengan menekan iris, irigasi dikaukan terus sehingga inti hanyut keluar. Hati
hati, mudah terjadi ruptur kapsul posterior.
10. Ekspresi nucleus dengan tehnik inter kapsuler. Kapsulotomi bentuk D,
kemudian hidro-diseksi, ekspresi nucleus dengan dua tangan. Dapat juga dibantu
VEM di bilik mata depan.
11. Pembersihan korteks. Korteks lunak dan penderita tua akan mudah sekali
dibersihkan, cukup dengan irigasi. Korteks yang keras dan penderita muda
memerlukan irigasi dan aspirasi. Cara manual dengan menggunakan McIntyre,
Simcoe atau Pearce. Cara otomatik dengan Alcon, SITE, OMS atau Storz.
12. Yang perlu diperhatikan adalah : jahit kornea kadang belum perlu dilakukan, lubang
aspirasi menghadap ke kornea, lubang aspirasi dengan cara otomatik harus tertutup
korteks, (tetapi jika kapsul teraspirasi, aspirasi segera dihentikan), aspirasi korteks
jam 12 sering kali sulit dilakukan, demikian juga aspirasi pada PSC (katarak sub-
kapsuler posterior) mungkin memerlukan poles atau vakum. Kapsul posterior yang
teraspirasi memberikan gambaran seperti bintang. Aspirasi ujung kapsul akan
menyebabkan pupil tertarik. Kapsul penderita tua lebih kaku. Tehnik inter-kapsuler
memerlukan irigasi yang lebih sedikit. Korteks bersih adalah hal yang ideal,
tetapi lebih baik menyisakan sedikit korteks yang akhirnya di resorbsi
daripada menghadapi resiko robekan kapsul posterior dan prolaps vitreous.
13. Pembersihan kapsul posterior untuk menghindari kontraksi, distorsi atau Elschnigs
Pearls dengan menggunakan iigasi aspirasi, Kratz scratcher, olive bulb polisher atau
Terry squeegee.
d. ICCE :
1. Jahitan kendali muskulus rektus superior, bertujuan untuk menstabilisir bola mata
dan mempertahankan bola mata tetap mengarah ke bawah, sehingga limbus tampak
selebar mungkin.
2. Insisi dibuat sejauh mungkin dengan zonula yang ruptur (pada kasus subluksasi
lensa) untuk menghindari prolaps vitreous. Jenis insisi : stab dengan super blade,
kemudian dilanjutkan dengan gunting korneo-sklera kiri dan kanan.
3. Iridektomi perifer, untuk mencegah blok vitreous. Dilakukan dengan forsep Mc
Pherson, gunting de Wecker dan jahitan nilon 10-0 untuk menarik kornea.
4. Zonulisis dilakukan bila tidak terjadi subluksasi dan usia penderita < 60 tahun. Hal
ini dilakukan untuk memudahkan pengeluaran lensa dan mencegah ruptur kapsul.
Caranya dengan irigasi Alfa-khemotripsin menggunakan kanula kedalam bilik mata
belakang melalui lubang iridektomi, kadang kadang dilakukan irigasi juga pada jam
6. Tetapi enzim ini harus diirigasi dengan BSS selama 2 menit. Secara teoritis hal
ini juga akan membersihkan zonula yang telah lisis dan mencegah kenaikan tekanan
intra-okuler.
5. Pengeluaran lensa dengan krio, spons segitiga, kanula dan asetil-kholin khlorida.
Caranya: rucingkan ujung spons, kendurkan jahitan kendali dan speculum untuk
menghilangkan tekanan positip, Krio ditest untuk pembekuan dan perlekatan.
Asisten menarik kornea, bila insisi kurang lebar, dilakukan pelebaran dengan
guntung korneo-sklera. Keringkan permukaan lensa dengan spons. Bila kurang
kering akan mempercepat pelebaran bunga es. Iris disingkirkan dengan spons baru,
ujung krio ditempelkan pada daerah pre-ekuator jam 12. Pembekuan dilakukan
dengan pedal, tunggu 2 detik, kemudian terjadi perlekatan, lensa ditarik keatas
sedikit, lalu ke kiri dan kanan. Bila bunga es telah sampai diluar bola mata, asisten
mengendurkan jahitan kornea untuk mencegah prolaps vitreous.
6. Irigasi Asetil-kholin khlorida dengan kanula.
7. Luka di jahit.
Lampiran

- Grade I : Soft nucleus : mudah ditembus tip U/S atau instrumen lain ( spatula), warna
abu-abu muda, Pada umumnya kekeruhan pada korteks / subkapsuler, Sering
ditemukan pada katarak pre-senilis
- Grade II : Slightly hard nucleus : bila ditembus tip U/S ada tahanan sedikit, Warna abu-
abu muda atau kuning keabuan, sering ditemukan pada katarak pre-senilis terutama
katarak sub-kapsuler posterior
- Grade III :Moderately hard nucleus : sangat tepat untuk ahli bedah pemula
Berwarna kuning jika katarak nuclear predominan pada bagian
perifer lensa, atau berwarna abu2 pada katarak kortiko-kapsuler pada
penderita umur 60-65 tahun
- Grade IV : Hard nucleus : perlu waktu lama dan manipulasi lebih banyak untuk
fragmentasi material lensa sehingga tidak cocok untuk ahli bedah pemula, tehnik yang
cocok adalah nukleo-fraksi, berwarna kuning-coklat, terdapat pada katarak senilis
lanjut dengan nucleus yang besar
- Grade V : Very hard nucleus : Tidak cocok untuk tehnik fako-emulsifikasi, nukleus
berwarna coklat-hitam. Katark sudah sangat lama diderita.