Anda di halaman 1dari 83

Lilin-lilin

melawan angin


ii
Lilin-lilin
melawan angin

Kumpulan Puisi
Slamet Riyadi Sabrawi

Pengantar
Ashadi Siregar

iii
Lilin-lilin
Melawan Angin

© 2009

Penulis: Slamet Riyadi Sabrawi


Desain cover: Andri Reno Susetyo
Layout:Arif Nr

Gunung Gempal Rt027 Rw012 Giripeni Wates


Kulon Progo - Yogyakarta 55612
Untuk orang-orang tercinta:
istriku, anak-anakku,cucu-cucuku.
Catatan
Seorang Sahabat

Akhirnya, sebuah kumpulan puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi


terbit juga. Bukan sembarang karya. Inilah kumpulan karya yang
lahir ketika ia telah menjadi kakek dua orang cucu.

Cukup banyak puisi yang diterbitkan ini bertanda 2009. Tanda


tahun yang bisa menyesatkan, seakan Slamet baru mulai menjadi
pujangga pada usia 56 tahun.

Padahal, “karier” Slamet berpuisi telah dimulai jauh hari


sebelumnya. Ia satu dari sejumlah penyair muda Yogya yang
ditelurkan Umbu Landu Paranggi di awal 70-an.

Bahkan, ia tergolong lebih “senior” daripada Emha Ainun Najib.


Menurut catatan Slamet, ia lebih dulu berhasil menembus Sabana.

Rubrik puisi yang diasuh Umbu di surat kabar Pelopor Yogya


memiliki dua jenjang yang menunjukkan peringkat. Yang pertama
adalah Persada, yang merupakan peringkat untuk pemula.

Bila puisi berhasil lolos masuk halaman Persada, maka inilah


pembaptisan menjadi penyair. Sebuah kebanggaan tentu, karena
ketatnya kriteria dan kerasnya persaingan.

vii
Yang kedua adalah Sabana. Ini peringkat di atas Persada. Puisi
yang dimuat di halaman Sabana adalah pengakuan lebih lanjut
akan mutu sastra. Sang karya telah naik kelas, dan tentu dengan
sendirinya sang penyair.

Slamet Riyadi berhasil menembus batas Persada. Karyanya


nangkring di Sabana.

Begitulah, antara lain cara Umbu menciptakan kompetisi dan


pengakuan. Itulah sebabnya sangat menggairahkan menyaksikan
halaman Persada dan Sabana tiap pekan. Dan memang pada masa
itu dari sinilah lahir para penyair muda Yogya. Ini jelas jasa besar
Umbu Landu Paranggi.

Saya mengenal Slamet pada 1976 di Gelora Mahasiswa, surat


kabar mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Slamet, mahasiswa
Fakultas Kedokteran Hewan, sudah lebih dahulu mengasuh
Gelora ketika saya bergabung. Jadi, dia adalah senior saya dalam
jurnalistik. Dalam perjalanan kemudian, Slamet menjadi Pemimpin
Redaksi dan saya menjadi Pemimpin Umum sampai koran itu
dibredel rektor Prof.Dr.Sukadji Ranuwihardjo.

Di Gelora Mahasiswa antara lain saya bertugas meliput hal ihwal


kesenian dan kebudayaan. Saya dan Slamet-lah yang menyeleksi
puisi yang layak muat di Gelora Mahasiswa.

Akan tetapi, saya tak tahu kapan tepatnya Slamet mengalami


“moratorium” berpuisi. Yang pasti, suatu hari ia bikin kejutan,
setidaknya mengejutkan saya. Slamet menyutradarai pementasan
Joko Tarub di Purna Budaya, Yogya.

viii
Pementasan itu mengejutkan karena dua hal. Pertama, karena
Slamet tidak pernah bercerita secuil pun bahwa ia sedang
mempersiapkan sebuah pementasan yang ia sutradarai. Slamet
memang lebih banyak diam dan senyum.

Kedua, karena mutunya. Pementasan itu di mata saya bukan hanya


layak tapi bernilai untuk diresensi. Dan itulah yang saya lakukan di
Gelora Mahasiswa.

Namun ternyata bukan hanya Slamet muda yang bisa membuat


kejutan. Dalam usianya sebagai kakek, ia pun mengejutkan saya,
ketika suatu hari ia menelepon dan mengatakan akan menerbitkan
kumpulan puisi dengan swadana dan meminta saya memberi catatan.
“Saya sengaja memilih orang untuk memberi catatan ini bukan dari
kalangan penyair (sastrawan atawa pengamat sastra) tetapi lebih
pada orang yang pernah bersama dalam perjalanan hidup ketika
muda”, tulis Slamet dalam emailnya (Jumat, 19 Juni 2009).

Bersama surat elektronik itu datanglah ke hadapan saya 55 puisi


yang akan dibukukan dengan tajuk “Lilin-lilin Melawan Angin”.
Isinya terbentang antara makna perjalanan dan makna bergumul
dengan waktu.

“Lilin-lilin Melawan Angin” adalah judul puisi perihal Danau Toba


yang, menurut Slamet, /... Seingatku kau sudah melarangku untuk
menanam luka yang kukemas dengan berbagai cara padahal itu
membuatmu terpaku pada pintu peluangmu, seingatku kau selalu
memilih kata yang mudah dieja tanpa suara .../

Slamet prihatin dengan kondisi Danau Toba. /...Kudengar suaramu


resah, limbah datang tak bertuah.../, tulisnya dalam “Toba Nan
Rapuh”.

ix
Pergumulan dengan waktu tampak pada sejumlah sajak seperti
“Siang”, “Petang”, “Malam”, “Ulang Tahun”, “Usia”, dan tentu
puisi menyambut kelahiran dan ulang tahun sang cucu.

/Kutemukan tubuh tuaku lekang oleh jam. Waktu terus


menggerusku/ (“Usia”)

Dengan terbitnya kumpulan puisi ini, sejarah sastra boleh mencatat


telah bertambah seorang lagi penyair yang dokter hewan bersama
Asrul Sani dan Taufiq Ismail.

Saur M. Hutabarat
Jakarta, 26 Juli 2009


Pengantar

Dari Pekalongan ke Yogyakarta, masuk ke Universitas Gadjah


Mada, maksudnya untuk menjadi dokter hewan. Memang berhasil,
dia lulus dan berhak meyandang gelar Dokter Hewan (Drh). Tapi
apakah dia selanjutnya mengurusi para binatang yang sakit?

Kalau sekarang berpuisi, ada apa dengan Drh Slamet Riyadi?

Dunia Slamet Riyadi terentang antara kampus UGM yang disitu


dia menghadapi preparat dan tubuh hewan-hewan. Lalu asrama
anak-anak Pekalongan yang belajar atau kuliah di Yogyakarta. Pada
tahun ‘70an, ada sejumlah penghuni asrama itu yang menggulati
kegiatan teater. Saya pernah menonton pertunjukan drama komedi
berupa monolog yang dimainkan Slamet Riyadi. Jadi jauh sebelum
Butet Kertarajasa ditabalkan sebagai raja monolog, Slamet sudah
pernah mengusung monolog (walaupun tidak sampai merajai)
ke berbagai daerah. Pada masa perkuliahannya dia juga aktif
dalam kelompok diskusi dan pers mahasiswa, dua sayap kegiatan
yang tidak terpisahkan dari kehidupan aktivis mahasiswa. Saat
dia bersama Saur Hutabarat (belakangan pimpinan teras di
Media Group) memimpin Gelora Mahasiswa, koran mahasiswa

xi
itu dibredel oleh rektor UGM. Boleh jadi pembredelan itu ada
hikmahnya, sebab ‘memaksa’ sejumlah aktivis yang tadinya lalai,
dapat menyelesaikan studinya. Setelah selesai kuliah, dia sempat
bekerja di bidang farmasi, memasarkan obat-obatan. Saya tidak
tahu, obat untuk manusia atau hewan.

Belakangan dia berhenti sebagai pemasar produk farmasi itu, dan


menerjuni bidang pers kembali, bekerja sampai level redaktur
pelaksana pada salah satu penerbitan besar di Jakarta. Kemudian
kegiatan sebagai praktisi pers ini pun ditinggalkannya. Tahun 1992
dia kembali ke Yogyakarta, dan mengelola Lembaga Penelitian
Pendidikan Penerbitan Yogya (LP3Y), sebuah organisasi nir-
laba yang bergerak dalam bidang pengembangan jurnalisme dan
media massa. Disini kegiatan masih berkaitan dengan dunia pers,
karena banyak memberikan pelatihan profesi bagi jurnalis. Selama
aktif di lembaga ini, dia mengembangkan kegiatan komunikasi
dengan berfokus pada isu AIDS (acquired immune deficiency
syndrome). Ratusan jurnalis telah mendapat pelatihan tentang
masalah ini. Pelajaran bukan hanya keterampilan pragmatis untuk
membuat berita, tetapi lebih jauh dengan titik tolak dari fenomena
AIDS menumbuhkan penyadaran bagi para jurnalis tentang nilai
kehidupan dan hak azasi manusia. Pada masa ini sekaligus dia
berkiprah sebagai aktivis penanggulangan AIDS, terlibat dalam
banyak program internasional di bidang ini.

Nah, dengan sedikit latar itu tentunya belum diperoleh jawaban


pertaliannya dengan puisi. Walaupun ada dokter hewan yang
menjadi penyair angkatan ’45 seperti Asrul Sani atau angkatan
’66 seperti Taufik Ismail, bukan berarti dunia hewan-hewan akan
memberikan dorongan berpuisi. Mungkin berteater dekat dengan
dunia puisi, tapi tidak setiap teaterwan akan menjadi penyairpuisi.

xii
Begitu juga dunia jurnalisme yang mengolah kata dapat memberi
kekuatan pada proses berpuisi. Tetapi semuanya tetaplah bukan
dunia puisi.

Puisi adalah dunia tahun ‘70an di Malioboro. Nah, disini Slamet


Riyadi runtang-runtung dengan sejumlah anak muda yang
mengitari Umbu Landu Paranggi. Membayangkan dunia kesenian
di Yogya pada masa itu adalah dari Tugu yang terpacak di utara
Malioboro, menyusuri jalan ke selatan, sampai ke Gedung Seni
Sono di pinggir Istana Negara di ujung selatan Malioboro. Lalu
ke barat, menyusuri jalan sampai di Gampingan, di sini bermarkas
anak-anak sekolah seni rupa. Jika ditarik garis imajiner, ada
semacam ‘mandala”, wilayah yang berbentuk segitiga yang selalu
diramaikan oleh anak-anak muda yang menggeluti dunia seni kata
dan seni rupa.

Seni Sono, sayang sekali gedung yang sudah diratakan dengan


tanah kini, menyimpan banyak kenangan. Secara berganti, tempat
itu menjadi ajang bagi anak-anak muda mengekspresikan diri
dalam seni kata dan seni rupa. Saat itu ada gedung lain yang biasa
digunakan untuk pertunjukan teater atau pameran seni rupa. Tetapi
untuk penampilan seni berbau eksperimen, biasanya dilangsungkan
di gedung Seni Sono. Karenanya nama gedung ini sering disebut
dalam berbagai tulisan yang mengulas dinamika kesenian di
Yogyakarta tahun 70 – 80an.

Slamet Riyadi pernah berkiprah dalam seni peran, tampil di Seni


Sono. Seingat saya dia memainkan suatu lakon komedi. Bahwa
dia melucu di panggung boleh jadi bagian dalam proses menikmati
dunia yang berbeda dari kesehariannya. Saya tidak tahu seberapa
intens seni peran digelutinya, dan apakah ada bekas dalam dirinya.

xiii
Tetapi dengan menghadapi puisi-puisi yang ditulisnya sekarang,
setidaknya ada dunia Maliboro yang tertinggal, dan bangkit
kembali setelah lebih seperempat abad. Maliboro agaknya sebagai
faktor yang menghidupkan penghayatan alam puitik dalam dirinya.

Banyak orang yang pernah tinggal di Yogyakarta, menyimpan


kenangan atas sepenggal jalan ini. Agaknya romantisme itu
mengusik tanda tanya. Bagaimana melihat Malioboro?

Bagaimana membayangkan Maliboro tahun 70-an? Pada awalnya


Malioboro adalah selarik jalan menghubungkan Kraton dan Tugu.
Konon ini adalah garis imajiner bagi kekuasaan spiritual kerajaan
Yogyakarta dari Laut Selatan sampai ke Gunung Merapi. Tetapi
kemudian Maliboro adalah ajang niaga, kiri-kanannya disesaki
oleh pertokoan, termasuk pasar gede Beringharjo, gang-gang
yang bermuara ke jalan ini berasal dari permukiman yang dihuni
kebanyakan pedagang Tionghoa, ditambah dengan “sarkem” (dari
sebutan jalan Pasar Kembang sebagai penanda bagi perkampungan
Sosrowijayan dan sekitarnya yang diisi oleh pekerja seks
komersial).

Pada masa Hindia Belanda, sepanjang jalan ini dapat disebut


sebagai simbol kekuasaan kolonial di satu pihak dan terkikisnya
kekuasaan Sultan Yogyakarta pada pihak lain. Di sini didirikan
gedung besar hunian gubernur kolonial (kini sebagai Gedung
Negara), berseberangan dengan benteng detasemen tentara
Belanda. Di jalan ini pula dijalankan pusat pemerintahan pribumi
guna menghadapi kekuasaan pemerintahan kraton, yaitu Kepatihan.
Pemerintahan pribumi bentukan kolonial ini menjadikan institusi
tradisional yang semula mengabdi sepenuhnya pada Sultan,
kemudian bermajikan pada kolonial Belanda.

xiv
Setelah kemerdekaan, Sultan Hamengkubuwono IX melikuidasi
institusi kepatihan, untuk kemudian beliau berkantor sepenuhnya
sebagai Kepala Daerah di gedung itu. Untuk waktu yang lama
masyarakat Yogyakarta tetap menjuluki gedung perkantoran itu
sebagai ‘kepatihan’. Di Malioboro juga terdapat gedung parlemen
daerah dan kantor polisi wilayah. Disini juga ada perpustakaan
wilayah, isinya buku-buku tua, suatu sarana yang berharga di
tengah kelangkaan perpustakaan dunia pendidikan saat itu. Di
antara buku itu ada koleksi Bung Hatta, sebelum di pindah ke
perpustakaan Yayasan Hatta di Jalan Solo. (Kini yang tersisa di
Malioboro hanya gedung pemerintahan dan parlemen daerah.
Sedangkan lainnya adalah deretan pertokoan dan mal).

Di Maliboro siang-malam berlangsung kegiatan ekonomi formal


dan informal, yaitu orang-orang yang menjadikan selajur jalan ini
sebagai sumber kehidupan. Datang ke Maliboro, ya untuk belanja.
Karenanya tempat ini menjadi persinggahan bagi pembeli di toko
dan penjaja makanan, wisatawan dari luar kota dan penjenguk
etalase (tidak berbelanja, ramai terutama sabtu malam), tiga
macam pesinggah yang relevan bagi kehidupan Malioboro. Jadi
membicarakan Malioboro otomatis mengacu pada perbelanjaan
dan pengunjungnya.

Tak masuk akal jika dunia niaga semacam itu berhasil


meninggalkan jejak romantisme. Lantas apa yang perlu dikenang?
Inilah dia.

Maliboro pada titik tertentu, menjadi penanda tempat bertemu


(rendezvous). Tetapi jangan lupa, ini hanya karena ‘kemiskinan’.
Tak lain untuk efisiensi akibat keterbatasan sarana komunikasi,
tidak ada telepon umum apalagi telepon rumah. Kalau mau kontak

xv
teman, berkunjunglah (syukur kalau ada sepeda) ke tempat kosnya,
dan manakala tidak bertemu harus meninggalkan nota secarik
kertas: janjian ketemu malam nanti di “gudek bu Amat” atau
“warung pak Pujo” (kalau yang janjian punya potensi meneraktir),
“teteg sepur” (palang kereta api) atau depan Hotel Garuda (kalau
sedang bokek), dan sebagainya, semua di sepanjang Malioboro.

Betapa susah-payahnya untuk dapat berkontak satu sama lain.


Sehingga Maliboro bagaikan sinar terang bagi laron di malam
gelap. Lampu-lampu pertokoan membuatnya sangat kontras
dengan kawasan-kawasan permukiman yang hanya berfasilitas
listrik bertegangan 110 volt dengan lampu jalanan jarang menyala.
Saat pertokoan buka, pengunjung bermandi cahaya. Begitu masuk
jam 9 malam, toko-toko menutup pintu dan etalase, kaki lima
menjadi labirin yang suram. Hanya satu dua penjual makanan
buka lesehan. Jadi Malioboro yang romantis itu adalah: setelah di
Malioboro hanya ada sinar teplok penjual gudek atau gorengan
ketela atau pisang. Karenanya jangan membayangkan Maliboro
yang penuh lampu mal dan iklan.

Agaknya keterbatasan komunikasi dan gerak, serta suasana yang


suram itulah yang menjadikan kebersamaan sangat berarti sehingga
selalu dikenang. Atau karena bergelandang setelah pertokoan
tutup, tanpa disadari sesungguhnya menjadikan kelompok orang
muda tahun ’70-an itu berada pada wilayah pinggiran, yang sangat
berguna dalam mengembangkan diri dalam proses kreatif.

Pergaulan yang intens sepanjang Malioboro yang suram bagaikan


hidup dalam sanggar. Suatu sanggar hadir dengan seorang empu.
Untuk dunia puisi di Malioboro ada Umbu Landu Paranggi.
Seorang empu berfungsi sebagai sumber semangat yang

xvi
mengikat agar warga sanggar memeroses diri guna menemukan
perkembangannya. Totalitas pergaulan sanggar itulah sebagai
proses “untuk menjadi” (to be) suatu istilah yang sangat penting
dalam dunia kesenian. Membayangkan “menjadi” harus bertumpu
kepada proses personal yang berlangsung atas diri seseorang.
Alat ukurnya tidak ditentukan oleh suatu kekuasaan dan struktur
tertentu, melainkan dari kedirian pelaku dengan karya-karyanya
di tengah lingkungannya. Pada tahap pertama dalam lingkaran
kecil dari rekan sesanggar yang mengakui keberadaan dan karakter
karya yang dihasilkan. Pengakuan ini boleh saja dieksplisitkan,
tetapi yang paling utama adalah kesadaran dalam kejujuran dunia
dalam (inner world) untuk mengakui keberadaan suatu karya
seseorang. Dari interaksi semacam ini setiap orang dalam sanggar
akan menemukan dirinya “menjadi”.

Saat itu empu Umbu Landu Paranggi mengasuh rubrik kebudayaan


di koran Pelopor Yogya, dan didalamnya ada halaman untuk
menampung puisi. Tetapi yang penting bukan pemuatannya,
melainkan sebelum suatu puisi terpublikasi. Umbu Landung
Paranggi menghidupkan suasana sanggar ini di sepanjang jalan
Maliboro, di warung-warung kecil, atau perjalanan ke luar kota.
Anak-anak muda yang terpesona akan dunia puisi, penuh gairah
menjalani proses yang berlangsung.

Keunikan proses berlangsung adalah dengan menjadikan proses


kreatif bagai di dalam pertandingan sepakbola. Pemuatan karya
ibarat menjebol gawang lawan. Untuk itu pemain terbagi dua
kategori, kategori pertama bagi pemula yang karyanya dimuat
dalam kolom ‘Persada’, dan kategori kedua dimuat di kolom
‘Sabana’. Kegairahan yang terpacu dalam interaksi sempat saya
‘tonton’ di antara anak-anak muda yang mengitari Umbu. Berhasil

xvii
dimuat di “Persada’ membuat penyairnya berbinar-binar. Tetapi
yang luar biasa adalah saat berhasil menembus kolom ‘Sabana’,
yang dalam pandangan sesamanya adalah sebagai puncak kerja
keras.

Mungkin pembaca koran Pelopor Yogya tidak berperhatian adanya


pemilahan kategori ini, sebab hanya anak-anak muda di sekitar
Umbu yang mengalami ekstasi dalam proses penghayatan dunia
puitik, sampai karyanya dimuat apakah di ‘Persada’ ataupun
‘Sabana’. Dari pinggir saya hanya menyaksikan semangat
dalam berpuisi, suatu gairah yang mungkin sangat langka dapat
ditemukan saat ini. Mungkin suasana penghayatan dunia puitik
berbeda pada setiap generasi.

Slamet Riyadi adalah satu generasi di antara anak-anak muda


tahun ’70-an, secara personal berbeda dengan Emha Ainun Nadjib
yang ekspresif, atau Linus Suryadi yang pendiam dan biasa
menggerutu. Keduanya termasuk anak didik Umbu Landu Paranggi
yang menjadi penyair dengan kekhasan masing-masing. Sedang
Slamet Riyadi mengikuti setiap proses dengan sabar, dan kemudian
mengejutkan teman-teman sekelompoknya saat puisinya nongol
di ‘Sabana’. Apakah karena dia tidak banyak cingcong sehingga
dia mendapat perhatian khusus dari Umbu, sedang beberapa
lainnya sering disergah karena cerewet, saya kurang tahu. Seingat
saya keberhasilannya menembus ‘Sabana’ relatif cepat dibanding
dengan anak-anak muda lainya dalam kelompok itu.

Sayang sekali saya tidak dapat membaca ulang puisi-puisi yang


ditulisnya dari tahun-tahun ‘Persada’ dan ‘Sabana’. Tetapi agaknya
penghayatan dunia puitik Slamet Riyadi tidak bisa hilang, sebab
akhirnya dia kembali berpuisi. Walaupun tentunya suasana

xviii
sangat berbeda, saat ini tidak ada pertandingan yang diikuti, tidak
ada gawang yang perlu dijebol. Jadi penghayatan dunia puitik
sepenuhnya dari dirinya sendiri.

Yogyakarta, Agustus 2009


ASHADI SIREGAR

xix
Daftar Isi

Catatan Seorang Sahabat.................................... v


Pengantar.............................................................xi
Daftar Isi............................................................. xxi

Suatu malam, kuterpaku di antara


dua dinding batu.................................................. 1
Sujud.................................................................... 2
Suara Suara Itu................................................... 3
Anakku................................................................. 4
Bom..................................................................... 5
Peron.................................................................... 6
Kesaksian............................................................. 7
Mikail.................................................................... 8
Malam Kelam....................................................... 9
Sekutuku............................................................ 10
Mimpi................................................................. 11
Dering Itu............................................................ 12
Embun................................................................ 13
Ruang................................................................ 14
1
Kepada: Ataya Naveen Izzan............................ 15
2

xxi
Kepada: Naura Aqeela Falisha.......................... 16
Danau Luka....................................................... 17
Samosir Getir..................................................... 18
Toba nan Rapuh................................................. 19
Lilin-lilin Melawan Angin.................................... 20
Kutulis Ini Sebagai Duri....................................... 21
Manaku.............................................................. 22
Perlukah Puisi.................................................... 23
Bulan dan Belatung.......................................... 24
Sajak Cinta........................................................ 25
Debu.................................................................. 26
Wajah-wajah Kaku.............................................. 27
Demodiri............................................................. 28
Namamu............................................................ 29
Rumah Tua........................................................ 30
Pekalongan (1).................................................. 31
Pekalongan (2).................................................. 32
Pekalongan (3).................................................. 33
Malam................................................................ 34
Sajak Lupa........................................................ 35
Singapore........................................................... 36
Daun Patah....................................................... 37
Siang.................................................................. 38
Petang................................................................ 39
Bulan.................................................................. 40
Selepas Siang................................................... 41
Kartu Nama....................................................... 42
Sermo................................................................. 43
Batu Kali............................................................. 44
Bali (1).............................................................. 45
Bali (2)............................................................... 46
Bali (3)................................................................ 47
Kenanga
Kepada Gt.......................................................... 48

xxii
Saskatoon.......................................................... 49
Katarsis ............................................................. 50
Api...................................................................... 51
Hari-hari.............................................................. 52
Doa.................................................................... 53
Dogma (1)......................................................... 54
Dogma (2)......................................................... 55

Biodata............................................................... 57

xxiii
Suatu malam,
kuterpaku di antara dua
dinding batu

Ketika malam mengecoh bulan, serombongan orang


datang membawa gumam, akankah gelap kan bersanding
dengan kelam? Di bukit batu itu kau melenguh
sementara pertunjukan baru berjalan separuh

Ketika gamelan ditabuh riuh, segerombolan


orang menggerakkan tubuh, apakah ruh kan tetap
bertaut dengan sauh? Di kepak garuda itu Wisnu
membelakangimu membiarkanmu termangu

Ketika kata disulut tepuk


Ketika tepuk membuat mabuk
Ketika mabuk hilang bentuk

Bali Agustus 2009


Sujud

Ada yang hilang ketika diam menghadang pada rentang


malam yang panjang. Sepertiga atau subuh menjelang
Ada godaan datang mengungkit kantuk yang terantuk
dingin atau suntuk. Atau batukmu menyentuh ufuk

Ketika kutangkupkan henyak pada rintihan cicak yang


melata di antara doa. Pinta mendua antara surga dan
fana, kuudar kata lirih tapi bukan rintih
Kuadukan dahi pada seratus minus satu namamu. Letih

Aku berpacu memintamu, kadang satu atau seribu

Wates 2009


Suara Suara Itu

Sudah sepekan kau dan anak-anakmu pergi dari gubug


senyap ini. Sepi beranjak lagi dari tepi. Mengoyak
beranda saban hari. Suara-suara itu menyandera pagi

Celotehan kecil itu telah memberiku nyali menghitung


hari. Sejak pagi hingga malam tanpa peri. Sampai
perekamku habis energi. Suara-suara itu mengikis sunyi

Kusukai bunyi yang keluar dari mulut-mulut kecilmu.


Nyanyian yang menjadi gelak. Atau tangis yang beradu
dengan gigi geripis. Suara-suara itu berjarak tipis

(Dini hari tadi kau kabari: Kan kau kirimi aku selusin
paket berisi suara-suara itu untuk menghalau risau)

Wates 2009


Anakku

Dingin menusuk tengkuk. Pagi. Langkah kecilmu


bergegas, menerabas salju yang meranggas

Kupingmu kau balut rapat agar tak beku. Hangat

Sudahkah kau selipkan doa dalam rangsel kecil di


punggungnya? Biarlah ia memacu melawan suhu minus
satu. Angin prairi datang bertubi. Malam henti

“Nak simpanlah potongan kota itu dalam kotak mainan


anakmu yang berserak”. Biarkan ia tegak. Menggelegak

Saskatoon, 1990


Bom

Bom lagi?”, tanya Drupadi. Ia menduga Dursasana kalap


karena gagal mengudar pakaiannya ketika para lelaki
setengah hati

“Mengapa engkau diam?”, suaranya lantang memecah


paseban. Para lelanang diam, “Ketika kekerasan semakin
garang, ketika perempuan jadi korban!”

Meski Kresna curiga ia tak mampu menghadang ledakan


Mengapa bukan gada yang kau bawa, tapi peregang
nyawa yang melantakkan beranda bukan padang
Kurusetra?

Perang telah kau alihkan, bukan Bima yang kau lawan


tapi siapa saja. Kau buta meski kau bukan Destrarata

Jakarta 17 Juli 2009


Peron

Tak ada lagi kereta lewat atau berangkat.Hanya ada


rel tua yang menggeliat dan jadwal yang meringkuk
dikerubut rengat

Kenapa kau masih menunggu suara sinyal menjerit?


Padahal peluit itu kau lempar ke langit

Di petamu peron itu jadi noktah yang pasrah. Digilas


sejarah negri berantah

Di matamu peron itu basah.Tak ada desah dan kabar dari


negri yang resah

Wates 2009


Kesaksian

Kusaksikan gumam sepanjang siang dari bilik-bilik yang


tercabik. Kertas digenggaman jadi tumpuan, tapi bisakah
ia bermakna tanpa pena. Suara pada akhirnya adalah
baca

Kusaksikan gamang meradang hingga matahari


sepenggalan. Terik siang menatap matahati, siapakah
pemulih negeri loh jinawi yang kau percayai kini?

Kusaksikan orang-orang bergegas pergi meninggalkan


sebungkah nurani di kotak ini. Lantas kemanakah
engkau bawa sebungkah yang lain esok hari?

Wates 2009


Mikail

Kemarin kau kabari Mikail mati, aku nyaris tak peduli.


Biarlah ia menuju tepi. Sendiri

Kemarin kau sadari Izrail menanti, aku miris pada hari.


Biarlah ia menyanyi akhir kali. Sunyi

Hari ini kau kirimi Jibril hati, aku narsis pada nabi.
Biarlah ia mendaki tinggi. Sekali

Yogya Juli 2009


Malam Kelam

Tak bisa kudiam menyaksikan malam menyisakan kelam

Angin menyusut di antara rumput yang lusuh. Diam


berkelindan dengan dendam

Tak bisa kurekam suara bulan yang berkeluh kesah soal


malam. Haruskah aku berseteru dengan pagi?

Dingin jatuh di sela-sela daun luruh

Wates 2 Juli 2009


Sekutuku

Sekutuku itu selalu beradu dengan waktu. Dalam letak


ada detak menggelegak yang memberiku jejak. Beribu
pasak

Soal sepatu tak lalu memberimu mau. Liku jalan telah


tunjukkan duka lama di sela kata luka. Berjuta tapak

Ringkuk tangismu yang melepas tawaku tak juga jadi


rindu. Dalam debu ada batu menggerutu pilu. Satu
sembilu

Yogya awal Juli 09

10
Mimpi

Di suatu pagi kukisahkan kepadanya sebuah negeri


garang yang tak berperi. Tak ada halimun maupun
penyamun. Hanya ada pedang sederhana yang terlempar
dari sebuah padang: Kurusetra. Tak ada digdaya maupun
kuasa. Tak ada pemenang ataupun pecundang. Tak ada

Di suatu malam kukisahkan kepadanya negeri remang


tak bertepi. Tak ada ringkik maupun teriak jengkerik.
Hanya ada satria lelah yang meredam gundah dan
amarah: Yudhistira. Tak ada lagi yang mendaki seribu
mimpi. Tak lagi

Esok kukisahkan lagi kepadamu sebuah negeri yang tak


punya mimpi. Biarlah mimpi menjadi milikmu malam
ini

Yogya 2009

11
Dering Itu

Dering itu memecah hening di tempatku bergeming.


Siapa mengetuk pintuku dengan denting saat subuh
terpelanting. Silakan angkut tubuhku menuju tempat
teduh

Masihkah engkau ragu mengajakku menapaki


berandamu di lantai tujuh? Hanya ada angin kusut dan
suara surut

Dering itu menatap hening dan saling bersaing. Tak


berpaling

Yogya 2009

12
Embun

Kujunjung embun yang sedang meratapi daun di sebuah


pagi

Kau sanjung gelembung yang menatapi rimbun daun di


sebuah siang

Kucium kedua dahi sekutu kecilku dalam gelombang


diam. Malam belum padam

Yogya 2009

13
Ruang

Percayakah kau pada angka yang menunjuk suhu di


ruang tamu. Aku ragu
Rasa gerah telah menutup celah di tempat biasa
kusimpan resah

Kabarkan pada orang yang bergegas di jalanan


meregang siang. Kau berang
Padahal berita yang kusiarkan saling bersilang di antara
tiang penjaga ruang

Ia selalu berselingkuh dengan waktu. Aku tahu

Yogya 2009

14
1
Kepada: Ataya Naveen Izzan

Jelang subuh ayahmu ikatkan sauh di pantai tempat


teduhmu berlabuh
Tak ada jerit yang jadi kait gigilmu tapi teriak kecilmu
jadi bait
Tak cukup beratmu menyangga selang berebut menuju
pusatmu, “Biarkan ia meredam segala kuman yang
mengaliri darahmu, nak,”sayup suara ibu

Kini sesudah engkau menggebu tiup dua lilinmu tak lagi


tersisa masa kalut menindihku,”Tundukkan dunia yang
geram dengan kesalihan,nak!

Klaten 2007

15
2
Kepada: Naura Aqeela Falisha

Pada tangismu pertama


Kusematkan doa di dadamu yang berdetak nyaring
melawan hening

Pada tangismu kedua


Kusalami ruang penjagamu yang mengais lirih menahan
perih

Pada tangis berikutnya


Kusaksikan rengkuh kecilmu yang meraih asi hangati
diri

Klaten 2009

16
Danau Luka

Pada bulan yang tak kunjung pulang kukirim berita


tentang malam merambat pelan di antara pelepah pisang
dan sepotong daun kering dihempas jalanan

Pada kabut yang bergelinjang datang merajut dingin di


antara pohon pinus dan kegelapan kutulis pesan ringan
untuk kau bawa pulang

Pada bukit yang berbaris menjulang panjang


kunyanyikan ode agar ia setia merawat danau tuamu
yang terluka

Tomok 2009

17
Samosir Getir

Kusapa malammu yang direcoki gerimis tiris menerpa


geliat airmu di antara kerlip lampu menekuk lesu.
Ada nyanyian orang seberang, ada teriakan horas
bergelombang menimpa petang, ada dentuman suara
oplet mengusir suara sepimu, ada detak mengusik
danaumu berisik.

Kucoba menyeberang menyisir Samosir hingga


kutemukan kisahmu perih mendulang buih yang tertatih

Tak ada lagikah bisa kau raih dari harapan yang


bersepih?

Samosir 2009

18
Toba nan Rapuh

Pohon-pohon sawit berjajar menuju danaumu saling


bercerita tentang leluhurmu yang datang dari serpihan
iga para dewa. Kau dengar batang bertumbangan
menumpuk kerakusan?

Para keramba telah kau pasang di tepian menyisakan


kisah tentang kegelisahan melumuri riak-riak danaumu
yang renta. Kudengar suaramu resah, limbah datang tak
bertuah

Masihkah kau bangga dengan perlawananmu yang sia-


sia di sekujur danaumu?

Toba 2009

19
Lilin-lilin Melawan Angin

Tak mudah menyulut api di tepi danau yang tepinya


bertaut sepi dan angin menggoyang kencang meniti
jemarimu yang ringkih menggenggam lilin-lilin seirama
hati. Seingatku sudah puluhan kali kau lakukan cara
ini di malam kesaksian yang tak pernah menjadi pagi,
seingatku kau selalu terbata menghitung kata yang
tertinggal di kaca jendela

Tak mudah mengaliri air dari mata danaumu yang


membisu ketika api dipaksa menyala dan lelehan lilin
itu menahan beban agar tidak jatuh menahan ruh yang
rapuh. Seingatku kau sudah melarangku untuk menanam
luka yang kukemas dengan berbagai cara padahal itu
membuatmu terpaku pada pintu peluangmu, seingatku
kau selalu memilih kata yang mudah dieja tanpa suara

Tak mudah meniti danaumu bila api hilang dari sepi,


seingatku kata tak lagi menuai makna

Toba dalam MRAN 2009

20
Kutulis Ini Sebagai Duri

Kutulis ini sebagai pengingat yang abai pada nilai dalam


kebarengan yang diredam di ruang tempat gumam
berloncatan geram. Siapa mendekam
dalam dirimu, duri atau sekam?

Kutulis ini sebagai penanda kebangkrutan melanda


ringkasan kiriman
dari ratusan kota yang kau redam dengan igauan kelam.
Siapa bunyikan dentam menghatamku, kata atau suara?

Kutulis ini sebagai genggam melumat batasan


kepantasan dan kepatutan
dipajang di dinding diam yang menyimpan selaksa
tanda. Siapa dirimu berani memberangusku, dewi atau
dewa?

Bogor – Yogya 2009

21
Manaku

Seorang anak muda menyorongkan dahinya dari


tumpukan kata-kata yang berserakan di meja panjang
sebenua. Masih adakah kalimat yang tercecer sesudah
dikerubut dari segala penjuru dengan seru?

Kau temukan dirimu ketika mereka lelah mengusung


berbagai cerita dan memasungnya di dinding dalam
ruang mengurung siang. Masih adakah suka cita kau
rangkai dari rangkuman kalimatmu yang menyodok
mereka menuju sia-sia tanpa suara?

Ah, tak bisa kutemukan kata pas kalau suatu saat kau
harus meramu dunia tapi hanya mau kau punya abai kata
malu. Santun tertegun

Manaku? Lalu kau tancapkan dirimu di dinding itu


dengan sembilumu mengiris maumu agar geliatmu
menoreh dunia semu.

Bogor 2009

22
Perlukah Puisi

Perlukah puisi dibaca dengan amarah tumpah menerjang


saudaraku yang diterpa air bah dari gelegak serapah
menendang jendela basah. Dukamu kian terbelah

Perlukah puisi dibaca berteriak memecah luka yang


terhenyak berserak di antara kakimu dan lumpur tersedu
padahal tangis sirna ketika kamu terbata mengeja nama

Perlukah puisi dibaca tengadah saat mendung berlindung


di balik wajahmu berserah pasrah di antara tanganmu
mendekap lelah

Perlukah puisi dibaca dengan mantra kehilangan makna


dan mengusir kata-kata dari beranda

Perlukah puisi

Yogya 2009

23
Bulan dan Belatung

Kusunting bulan yang berjalan tertatih melindungi


malam, angin mengatasi dingin ia bagikan selimut dan
secuil mimpi untuk mengatasi sepi

Cahaya kecil melompati bebatuan dan kerontang


dedaunan menitipkan pesan: hari semakin lambat
melangkah melewati detik menuju jam yang membuka
siang

Bulan tinggal sepotong. Orang-orang berlarian


memperebutkan kepingan lain yang kosong

Padahal potongan dan kepingan saling sibuk menghitung


kapan ia mulai mabuk jadi belatung

Yogya 2009

24
Sajak Cinta

Alangkah mudahnya menulis sajak cinta bila kata tak


lagi mendera, hati riang bernyanyi

Adapun suara tak lagi bergumam ketakutan dicemburui


detak jam

Alangkah ringannya menulis cinta bila tak ada awan


berlindung di balik hujan menutupi bayang

Adapun hujan membanjiri kata menjadi puisi menjalin


hari

Yogya 2009

25
Debu

Sekumpulan riang bercanda di beranda tua dari kayu


yang urat-uratnya melintasi celah luka

Sekumpulan gurau terus meracau di kebun yang pohon-


pohonnya merambati hati sepi

Sekumpulan bunga sepatu tumbuh kacau di pagarku


sengaja kaucumbu

Sekumpulan kata tiba-tiba raib dari kamarku


menyisakan debu air matamu

Yogya 2009

26
Wajah-wajah Kaku

Wajah-wajah kaku dipaku di pepohonan sepanjang


perjalananku menatapku kelu. Adakah ia bakal
menambah sampah sejarah?

Senyum-senyum itu mengulum dentum: merobek kalbu


atau jadi abu. Adakah ia siap kalah dan jadi tanah?

Orang-orang bergegas abai pada harapan baru penuh


sembilu. Itukah maumu?

Yogya 2009

27
Demodiri

Kami rindu di tengah galau gambar-gambar bisu di


perempatan orang lalu-lalang. Siapa peduli pada diri
sunyi

Ia sudah pergi, kamu masih saja mematut diri. Berulang-


kali
Atau barangkali ia terjaga ketika demokrasi robek di
sana-sini

Atau kita memang tak tahu diri? Tak bernyali

Yogya 2009

28
Namamu

Kucari namamu berhari-hari dalam kitab lama, satu-satu


kueja huruf tua perangkai tangismu pada dingin yang
melipat kainmu. Tak ada aksara tersisa, namamu belum
juga tertera

Orang-orang sibuk mencuil namanya untukmu tapi


sia-sia menempelkannya dalam dindingmu yang rapuh
terluka. Tak reda sakitmu belum jua reda isak kecilmu

Perempuan yang perih menanggung hisapan mungilmu


itu lantas sigap meraih kata bijak dari daun pintu
kamarnya, “Anakku, telah kususun namamu mengikuti
jejak pendahulu”. Lalu lantunan sepi mengikuti

Klaten 2009

29
Rumah Tua

Rumah tua itu lelah meretas sejarah: ada catatan kecil


di wajahnya yang gerah dan tangan mungil merengkuh
sauh. Nihil

Dinding retak yang lusuh enggan menyapa: suara serak


melintasi duka dunia dan mengabarinya rindu. Siapa

Tak ada. Gelap membuka luka tanpa jeda. Lama

Pekalongan awal 2009

30
Pekalongan (1)

Risau angin mendera kapal dan sauh. Ombak geram


pada laut
Di buritan burung dan ikan saling tikam. Langit gerah
Mendung bergegas menapaki kelam. Depus. Jauh

Di haluan kulihat ia mengeja senja. Lirih

Pekalongan awal 2009

31
Pekalongan (2)

Basah merayapi daun-daun dan lembah


Degup bertambah meratapi jalan-jalan rekah
Menghapus langkah-langkah terbelah

Ada laut gundah meredam amarah


Ada sampah menimbun seribu langkah
Ada bah menyusup di sela-sela pasrah
Ada wajah sirna sia-sia. Ada

Dan tak ada.

Pekalongan awal 2009

32
Pekalongan (3)

Kota ini berisik, mampat, becak terdepak


seperti kotamu lain. Hujan tak lagi menyirami tanah
Megono tak lagi wangi. Hilang kenduri, tinggal serapah
Kali Lojimu menatap kelu, hilang rindu. Siapa berpijak

Sawah, seperti kotamu lain, hilang tak berperi


Orang-orang bergegas bawa kabar tak jelas. Sua di batas
cadas dan hiruk . Gedung, taman, kian terpuruk
Engkaukah itu meringkuk di sela mimpi buruk?

Pekalongan Februari 2009

33
Malam

Kusampaikan salam pada hening. Malam larut


Kuhitung degup dan denting dalam ribuan sujud. Hati
terpaut
Kugenggam erat jam yang meronta: “Jangan
berbisik,”katamu
Agar jelas kueja maksudmu satu-satu. Hilang ragu

Kupagut segala sudut sebelum malam terjaga oleh siang.


Hingga kata datang tak berbilang

Malam sia-sia. Aku sirna

Yogyakarta, 2009

34
Sajak Lupa

Percuma kau ajari menulis sajak cinta. Padahal ia datang


diam-diam, tanpa diundang

Meski kau punya ribuan kata


Tapi masih juga kau lupa meletakkan koma

Percuma aku mengeja cinta. Padahal di beranda ada


nganga luka. Kau lupa menutupnya.

Masih ada titik


Tapi tak tahu ia kusimpan di mana

Bila sudah kau tulis sajak luka. Cinta tak lagi beriba
Dan tak pula pergi ke mana

Yogyakarta 2009

35
Singapore

Di pinggir jalan Orchard namaku dilindas orang-orang


bergegas menuju kota yang mampat oleh tas

Barangkali tas itu dari kertas yang letih dan mengeluh


lirih. Nafasnya ringkih

Di kepalanya berjalan berjejalan angka-angka yang


menyulut api. Jadi abu, jadi perih

Di kotamu yang angkuh kutemukan banyak wajah rapuh


Barangkali wajah itu dari tanah yang kalah dan mudah
rekah. Paru-parunya basah

Di punggungnya rangsel merah itu teriak marah. Langit


gerah

Nanyang 2008

36
Daun Patah

Kubiarkan bunga sepatu yang tumbuh kacau di


halamanku kau cumbu
Kau cegah lebah merambah ke lembah jantung sariku
punah. Kelopak patah
Adakah madu yang kau hisap meresap jadi sayap?

Kubiarkan kepompong jadi kupu berpendar atas


rindumu
Kau belah putikku agar datang kupu memeluk
malammu. Tanah basah
Barangkali sayapmu merintih letih. Langkahmu tertatih

Adakah lagu sunyi yang kau mainkan jadi bunyi?

Yogyakarta 2009

37
Siang

Tadi pagi seseorang yang kukenal mengirimiku kabar


baik
Ia bercerita tentang padi dan ikan yang bercengkrama di
kolam hujan

Tadi siang seseorang yang tak kukenal mengirimku


kabar buruk
Ia mengutuk hujan dan batu jatuh bersatu

Tadi malam bayang-bayang datang menyampaikan


salam: kabar hilang di pematang

Sekarang seseorang dan bayangan tak lagi datang, hari


sudah siang

Yogykarta, 2009

38
Petang

Ia mungkin datang ketika kita bergegas menyiapkan


petang
Sudahkah kau ringkas cinta dan dedaunan dengan
pelepah pisang?

Barangkali benci dan duri terpelanting ketika malam


hening
Adakah dahan tempat kita berpegang mengabaikan
siang?

Yogyakarta, 2009

39
Bulan

Kemarin sebungkus siang kukirim kepadamu dengan


kereta malam melalui lima stasiun yang lama kau
abaikan

Tadi pagi kau mengabariku sekotak malam telah kau


terima dan kau jadikan hidangan makan siang menjamu
teman

Ia mengabariku melihat kunang-kunang berlarian di


antara bulir padi di sawah yang basah dan gelisah

Bulan sudah lama tenggelam tak lagi berkisah tentang


malam

Yogyakarta, 2009

40
Selepas Siang

Sekeping siang telah kau layangkan pada sekumpulan


malam yang beronda menghitung pagi. Datang atau
hilang

Selusin nama telah kau letakkan di beranda ketika jam


datang terbata. Selaksa atau sedepa

Seuntai doa telah kau hunjamkan pada sepotong tangis


pembuka. Lepas atau retas

Yogyakarta, 2009

41
Kartu Nama

Seseorang tergopoh menyodorkan kartu nama agar


kucontreng mukanya yang lebam dalam bilik sempit
di sebuah kebun yang melibas daun ditindih senyum
beruntun para aktor kampung. Sebuah jendral yang
kehilangan naga mengoceh riuh seperti perahu
kehilangan sauh. Padahal ia berlabuh di sawah bukan
laut

Seorang yang mengaku teman menautkan namanya pada


sebuah bintang yang tak bisa kuraih apalagi kukuliti
dengan pena di sebuah lembar jenaka yang memuat
banyak kepala yang tak kutahu isinya apa

Yogyakarta 2009

42
Sermo

Saban hari orang-orang kota membasuh diri dengan


airmu yang kadang keruh, kadang disertai keluh tapi
mereka menimbamu terus tanpa henti, tanpa rikuh
padahal sungai-sungaimu mengerontang sejak petang.
Tahukah kau kemana warga dari desa yang dibenam itu
mengembara? Ke pulau seberang dengan angan-angan
panjang

Saban siang orang-orang itu datang mencari cerita yang


hilang dan tak ia temukan di seberang “Aku pulang!”
teriaknya memecah airmu, “Rindu pada desaku bukan
pada desamu.” Masih kutinggal serpihan tawa dan tangis
anak-anakku di dasar wadukmu rindu waktu. Tahukah
kau kemana sawah gemah ripah itu menghilang? Ke
kota menjadi tempat belanja

Di Sermo setan merah semakin marah!

Kulon Progo 2009

43
Batu Kali

Batu kali gundah diguncang air bah. Pagi


Tamu datang tak lagi bersalam. Mengancam siang.
Beban bagai guruh. Malam luruh

Kata. Lara. Sentuh subuh

Sukorejo 2009

44
Bali (1)

Barangkali para dewa menyukai bau tanah ini soalnya


bunga dan upacara saling bertegur sapa di halaman
rumah dan puramu. Tetapi bukan di jalanan yang macet
dan asap merasuki parumu. Di puramu ada parumu kelu.

Barangkali puing-puing itu hanyut ke laut dan tumbuh


di tempatmu yang porak poranda dulu menjadi gedung
baru. Di gedungmu ada dengung pilu.

Barangkali aku tak lagi mengenalimu, selain bau dolar


yang kian menyengat, tak kutemukan bale bengongmu
yang kausodorkan kepadaku tatkala kelelahan dan
keramahan bertaut di ujung laut. Di balemu ada sarenade
rindu.

Siminyak 2009

45
Bali (2)

Sudah kuduga kalau engkau tinggal di dangau, kudengar


teriakanmu yang sengau, apakah itu kegembiraanmu
menemukan pagi? Percayalah lautmu telah
menyembunyikannya berhari-hari dari janji yang tak
pernah bisa dipenuhi.

Ternyata celotehmu juga kandas oleh deru menggebu


pencari siang. Cahaya siapakah menyelimutimu dalam
terik yang mencekik?

Bali Desa 2009

46
Bali (3)

Di desa ini, katamu, cuma ada laut yang tak lagi


gemuruh hanya angin sesekali riuh.Padahal saat kusapa
tak kutemukan debur dan riak air pertanda laut ada dan
tak ngeluyur kemana

Ah, laut yang ditelan malam adakah kau takut pada


suara bulan yang sibuk mengentaskan siang. Hanya ada
jejak temaram menyanyikan lagu dolanan dari balik
dinding-dinding yang menyimpan dingin

Padahal arah cuaca tak bisa ditebak menjanjikan apa,


apalagi angin
Padahal arah angin tak bisa menjadi petunjuk
bagaimana, apalagi hujan
Padahal hujan tak cuma tetes air mengalir, apalagi
ombak

Nusa Dua 2009

47
Kenanga
Kepada Gt

Kenangamu meniti malam


menahan denting. Jam. Menerpa
hening, jaga napas yang tersisa

Kisah hampir sirna. Larut


di sedu sedan dadamu. Menyusup
sayup, hanya ada lenguh

Malam selimuti gairah. Selaksa


Aku bertumpu di gelegak kenangamu
menuangi kamar-kamar berkelambu

Yogya 15/9/95

48
Saskatoon

Tak ada deru trem. Hanya gudang gandum berceceran


berwarna-warni di sepanjang prairi
Angin berkesiut kencang, dingin mengancam
sepanjang petang

Di taman kota, obrolan dan asap barbekiu


saling menindih rindu. Sekumpulan Melayu
menjerang angan kampung halaman
Adakah berita tersisa untuk kita?

Orang-orang bergegas
Kaki-kaki dan butir-butir salju. Berebut
merenggut badai menuju lorongmu
Dingin membekukan kabar. Dingin

Saskatchewan 1990

49
Katarsis

Gelisah bergulir di uratmu. Gundah


menyeruak di antara darah dan waktu
Api meletik di jantungmu. Akankah
kau biarkan udara membakar hutanku?

Barangkali ada asap


Di guratan wajah-wajah
yang berkabut. Pasrah

Wates 1996

50
Api

Guratan kecewa melanda muka


Hari berlagak tanpa decak. Detak
menelikung di lorongmu. Adakah kabar
membakar ilalang kering sekeliling
Sementara aku terjaga, api tak juga mati

Wates 1996

51
Hari-hari

Adakah hati yang terpanggang api


meleleh tapi tetap bisa berbagi

Adakah api yang kausulut saban hari


menyala namun tak membakar berahi

Adakah air yang menyelinap pelan dari bola mata


mengalir meski bimbang tak juga berakhir

Salatiga 1997

52
Doa

Sudah kutemukan kunci yang lama kucari


dari sebuah teka-teki. Cinta tak terbagi
dibawa laki-laki dari jaman purbani

Tak lagi ada ruang kosong di dadamu


Tempat teduh dulu. Kini gemuruh
Tak ada lagi sembunyi: Gusti

Jakarta 1998

53
Dogma (1)

Kita mungkin terjebak dalam ritus dan tradisi.


Atau barangkali orang-orang mengakalinya dengan
mengatasnamakan aturan religi.

Kita terikat dalam rutinitas yang mengusung cinta


sebagai abracadabra. Padahal, cinta hanya sekali dan tak
terbagi. Adam pun tak. Siapa sangka kita beranak-pinak
mengekor dunia.

Kau tatahkan kalimat Gibran di ruang-ruang sekeliling.


Hanya ada desing. Kosong

Ia bicara tentang dunia antah. Bukan napas dan desah


kita.

Di luar kepompong
ada kupu-kupu sampai pada waktu. Mati kutu

Salatiga-Yogya 1999

54
Dogma (2)

Mulanya aku percaya cinta. Itu kebodohan pertama.


Karena cinta hanya lahir sekali

Lalu berbagai riasan susul menyusul, cinta hanya sesaat


muncul sekedar basa-basi

Itupun cuma replika yang disusun dari angan-angan dan


godaan. Selebihnya godam

Kerja tak kunjung sempurna. Kesalahan merajalela

Kebenaran hanya punya Dewa


Ia terus menakar salah-benar dari orang-orang yang tak
berkelakar

Yogya 1999

55
Biodata

Slamet Riyadi Sabrawi, lahir 12 Juni 1953


di Pekalongan. Menyukai sastra & teater sejak
muda. Sejak di Yogya (1973) selain aktif di
Persada Studi Klub, juga mendirikan Teater
WS (menyutradari Joko Tarub/Akhudiat,
Antigone/Sopochles, memainkan monolog Kasir
Kita /Arifin C.Noor dan beberapa karya Anton
Chekov) dan memeragakannya di kampus2
(UGM,IAIN Sunan Kalijaga, Univ.Brawijaya
dll), juga anggota Teater Gadjah Mada. Lulus
sebagai Dokter Hewan dari UGM (1980),
berpraktek hingga 1988, kemudian menjadi
wartawan di Jakarta (Warta Ekonomi/Redaktur,
Mobil&Motor/Redaktur Pelaksana). Pada 1992
kembali ke Yogya bekerja di Lembaga Penelitian
dan Pendidikan Yogya (LP3Y) hingga kini.

57