Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MAKALAH KELAKUAN HUKUM-HUKUM

TERMODINAMIKA DALAM SISTEM GEOTHERMAL

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Geotermodinamika

DISUSUN OLEH: Mutiara Qalbi Pebrian 1404107010063


Rizkia Alaika 1404107010064
Cut Fat Thahul 1504107010003
Mustika Nadia 1504107010004
Yona Istifarna 1504107010007
Samira Moelin 1504107010008
Suci Ramadani 1504107010013
Zhatoer Rayhan Qauvani 1504107010014
Laura Putrivo 1504107010015
Suci Maulina 1504107010020

PRODI TEKNIK GEOFISIKA


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2017
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sampai saat ini, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Kelakuan Hukum-hukum Termodinamika
dalam Sistem Geothermal sebagai salah satu syarat memenuhi mata kuliah
Geotermodinamika. Shalawat dan salam penulis sanjung sajikan ke pangkuan kepada
Nabi Besar Nabi Muhammad SAW serta kepada sahabat beliau sekalian. Penulis
menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan
dari berbagai pihak..
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini. Dan harapan kami semoga makalah
ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke
depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi
lebih baik lagi.

Banda Aceh, 11 Mei 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ................................................................................................. i
Cover .................................................................................................................... i
Daftar Isi .............................................................................................................. ii
Daftar Gambar .................................................................................................... iii
Bab I Pendahuluan ............................................................................................. 1
1.1.Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1
1.2.Rumusan Masalah ................................................................................... 2
1.3.Tujuan ..................................................................................................... 2
Bab II Tinjauan Pustaka .................................................................................... 3
2.1. Termodinamika ..................................................................................... 3
2.2. Panas Bumi ........................................................................................... 3
2.3. Hukum-Hukum Termodinamika dalam Panas Bumi............................ 7

Bab III Pembahasan ........................................................................................... 11


3.1. Prinsip Termodinamika Pada Sistem Panas Bumi ................................ 11
3.2. Siklus Biner .......................................................................................... 11
Bab V Kesimpulan .............................................................................................. 15
5.1 Kesimpulan ........................................................................................... 15
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 16

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model konseptual Sistem panas bumi .......................................... 4


Gambar 2.2 sistem Hidrotermal pada kaldera gunung api. Sumber panas adalah
instrusi magma .................................................................................................. 7
Gambar 2.3 Kesetimbangan termal antara benda A, benda B dan benda C ..... 8
Gambar 2.4 Dua Sistem Hukum ke-2 Termodinamika .................................... 9
Gambar 3.5 Turbin Uap .................................................................................... ..12
Gambar 3.6 Heat Exchanger ............................................................................. ..13

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Termodinamika adalah suatu ilmu yang menggambarkan usaha untuk
mengubah kalor (perpindahan energi yang disebabkan perbedaan suhu) menjadi
energi serta sifat-sifat pendukungnya. Termodinamika berhubungan erat dengan
fisika energi, panas, kerja, entropi dan kespontanan proses. Aplikasi dan
penerapan termodinamika yang ingin dibahas dalam makalah ini adalah penerapan
hokum termodinamika pada system panas bumi.
Panas bumi merupakan sebuah sumber energi panas yang terdapat dan
terbentuk di dalam kerak bumi. Adanya sifat-sifat fisik batuan maupun fluida juga
tekanan dan temperatur serta proses geologi yang terjadi pada daerah vulkanik
atau zona-zona lempeng menyebabkan terjadinya berbagai jenis reservoir
panasbumi. Energi Geo (Bumi) thermal (panas) berarti memanfaatkan panas dari
dalam bumi. Panas yang terdapat pada inti bumi akan ditransfer ke batuan yang
berada di bagian mantel dan kerak bumi. Batuan yang memiliki titik lebur lebih
rendah dari temperature yang diterima dari inti bumi akan meleleh dan lelehan
dari batuan tersebutlah yang kita kenal dengan magma. Magma memiliki densitas
yang lebih rendah dari batuan, otomatis batuan yang telah menjadi magma tadi
akan mengalir ke permukaan bumi. Jika magma sampai ke permukaan maka
magma tersebut berubah nama dengan sebutan lava (contoh lava yang sering kita
lihat jika terjadi erupsi (letusan) gunung api. Adanya proses perpindahan panas,
tekanan yang tinggi yang terjadi di dalam bumi yang mampu memanaskan air
yang terperangkap di dalam bumi.
Keseluruhan proses yang terjadi pada sistem panas bumi tidak lepas dari
konsep-konsep serta prinsip-prinsip yang terdapat dalam termodinamika, baik
cara kerja pada sistem yang ada maupun instrumen-instrumen yang dipergunakan
pada sistem panas bumi. Termodinamika mempunyai hukum-hukum
pendukungnya. Hukum-hukum ini menerangkan bagaimana dan apasaja konsep
yang harus diperhatikan. Seperti perpindahan panas dan kerja pada proses
termodinamika. Penerapan hukum-hukum ini juga digunakan dalam berbagai
bidang, dimana salah satunya adalah pada sistem panas bumi. Makalah ini

1
memuat dan membahas tentang aplikasi atau penerapan prinsip-prinsip serta
konsep-konsep yang terdapat dalam termodinamika pada sistem panasbumi.
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana hukum termodinamika dapat menjelaskan sistem geotermal.


2. Bagaimana kaitan hukum-hukum termodinamika dalam sistem
geothermal.

1.3 Tujuan

1. Dapat memahami tentang hukum-hukum termodinamika.


2. Untuk mengetahui hukum-hukum termodinamika yang berlaku didalam
proses geotermal baik system maupun instrumen-instrumennya.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Termodinamika
Dalam Termodinamika dikenal ada dua jenis sistem yaitu: yaitu sistem
tertutup dan sistem terbuka. Dalam sistem tertutup massa dari sistem yang
dianalisis tetap dan tidak ada massa yang keluar dari sistem atau masuk kedalam
sistem, tetapi volumenya bisa berubah.Contoh sistem tertutup adalah suatu balon
udara yang dipanaskan, dimana massa udara didalam balon tetap, tetapi
volumenya berubah, dan energi panas masuk kedalam masa udara didalam balon.

Dalam sistem terbuka, energi dan massa dapat keluar sistem atau masuk
kedalam sistem melewati suatu pembatas sistem. Sebagian besar mesin-mesin
konversi energi adalah sistem terbuka. Sistem mesin motor bakar merupakan
ruang didalam silinder mesin, dimana campuran bahan bahan bakar dan udara
yang masuk kedalam silinder, dan gas buang keluar sistem melalui knalpot.
Turbin gas, turbin uap, pesawat jet dan lain-lain merupakan sistem
thermodinamika terbuka, karena secara simultan ada energi dan masa yang keluar-
masuk sistem tersebut. Sehingga dapat disimpulkan: Sistem Terbuka terjadi ketika
energi dan massa dapat keluar sistem atau masuk kedalam sistem melewati suatu
pembatas sistem. misal: tangki air yang terbuka. Sistem tertutup terjadi ketika
tidak ada perpindahan massa melalui batas sistem tetapi dapat terjadi perpindahan
energi misal: Gas dalam balon.

2.2 Panas Bumi

Panas bumi membentuk suatu sistem tertentu yang disebut dengan sistem
panas bumi. Hochstein dan Browne ( 2000) mendefenisikan sistem panas bumi
sebagai perpindahan panas secara alami dalam volume tertentu di kerak bumi
dimana panas dipindahkan dari sumber panas ke zona pelepasan panas.

Sistem panas bumi merupakan daur hidrologi yang dalam perjalanannya


air yang berhubungan langsung dengan sumber panas yang bertemperatur tinggi
sehingga terbentuk air panas atau uap panas yang terperangkap pada suatu
reservoir berupa batuan poros dengan permeabilitas tinggi. Sistem panas bumi

3
dengan suhu tinggi terletak pada tempat-tempat tertentu. Batas-batas pertemuan
lempeng yang bergerak merupakan pusat lokasi kemunculan hidrotermal magma.
Transfer energi panas secara konduktif pada lingkungan tektonik lempeng
diperbesar oleh gerakan magma dan sirkulasi hidrotermal. Energi panas bumi 50
% berada dalam magma, 43% dalam batu kering panas (Hot dry rock) dan 7%
dalam sitem hidrotermal. Secara umum dapat dikatakan proses yang
menghasilkanpembentukan anomali geothermal adalah proses transfer panas
kepermukaan bumi yang disebabkan oleh magma. Dimana panas ynag dibawa ini
kemudian disimpan sementara di dalam kerak bumi dekat permukaan <10 km
(Muffler.1981)

Gambar 2.1 Model konseptual Sistem panas bumi (Putrohari,2009)

Gambar diatas memperlihatkan model konseptual panas bumi seperti


rekahan dan patahan yang terdapat di permukaan membuat air dapat masuk ke
dalam pori-pori batuan. Air ini lalu menembus kebawah maupun kesamping
selama ada celah untuk air dapat mengalir. Ketika air sampai ke sumber panas
(heat source) maka temperatur air akan meningkat, maka air kan menguap
sebagian dan sebagian lagi akan tetap menjadi air dengan suhu yang tinggi. Fluida
panas ini mentransfer panas ke batuan sekitar dengan proses konveksi, jika
temperatur meningkat maka akan mengakibatkan bertambahnya volume dan juga
tekanan.

Fluida panas akan menekan batuan sekitarnya untuk mencari celah atau
jalan keluar dan melepaskan tekanan. Karena tekanannya lebih tinggi

4
dibandingkan tekanan diermukaan maka fluida akan bergerak naik melalui celah-
celah. Fluida tersebut akan keluar sebagai manifestasi permukaan. Bisa dikatakan
bahwa dengan adanya pemunculan beberapa manifestasi terdapat sistem panas
bumi dibawah permukaan daerah sekitar tempat pemunculan manifestasi-
manifestasi seperti mata air panas, kubangan lumpur panas (mud pools), geyser
dan manifestasi panas bumi lainnya.

Secara garis besar sistem panas bumi dikontrol oleh adanya sumber
panas(heat source), batuan reservoir, lapisan penutup, keberadaan struktur geologi
dan daerah resapan air

Hochstein dan Browne,(2000) mengkategorikan sitem panas bumi menjadi tiga


sistem yaitu:

1. Sistem Hidrotermal,
Merupakan proses transfer panas dari sumber pans ke permukaan
secara konveksi, yang melibatkan fluida meteoric dengan atau tanpa jejak
dari fluida magmatic. Daerah rembesan berfasa cair dilengkapi air
meteoric yang berasal dari daerah resapan. Sistem ini terdiri atas: sumber
panas, reservoir dengan fluida panas, daerah resapan dan daerah rembesan
panas berupa manifestasi.
Pada dasarnya sistem panas bumi jenis hidrotermal terbentuk
sebagai hasil perpindahan panas dari suatu sumber panas ke sekelilingnya
yang terjadi secara konduksi dan secara konveksi. Perpindahan panas
secara konduksi terjadi melalui batuan, sedangkan perpindahan panas
secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengan suatu
sumber panas. Perpindahan panas secara konveksi pada dasarnya terjadi
karena gaya apung (Bouyancy). Air karena gaya gravitasi selalu
mempunyai kecenderungan untuk bergerak kebawah, akan tetapi apabila
air tersebut kontak dengan suatu sumber panas maka akan terjadi
perpindahan panas sehingga temperatur air menjadi lebih tinggi dan air
menjadi lebih ringan. Keadaan ini menyebabkan air yang lebih panas
bergerak ke atas dan air yang lebih dingin bergerak
turun kebawah, sehingga terjadi sirkulasi air atau arus konveksi.

5
2. Sistem Vulkanik
Merupakan proses transfer panas dari dapur magma ke permukaan
melibatkan konveksi fluida magma. Pada sistem ini jarang ditemukan
adanya fluida meteoric.

3. Sistem Vulkanik-Hidrotermal
Merupakan kombinasi dua sistem diatas, yang diwakili air magmatik yang
naik kemudian bercampur dengan air meteorik.

Suatu sistem hidrotermal harus memiliki komponen-komponen sebagai


syarat terjadinya proses ini, antara lain:

1) Fluida
Merupakan komponen utama dari sistem hidrotermal. Sistem hidrotermal
adalah sistem yang dikontrol oleh air (fluida). Fluida hidrotermal berasal
dari air juvenil/magmatik, air meteorik, air metamorfik,air konat, air
laut,dsb. Temperatur dari fluida yang dipanaskan oleh heat source adalah
berkisar antara 50-500oC.
2) Heat source
Komponen ini cukup penting karena berfungsi untuk memberikan panas
terhadap fluida yang hadir, sehingga fluida cukup panas untuk mengubah
batuan yang dilewatinya. Heat Source yang ada tidak harus selalu berasal
dari magma.
3) Reservoir dan rekahan
Komponen ini berfungsi sebagai tempat fluida hidrotermal bersikulasi,
sehingga memungkinkan untuk mengubah batuan yang letaknya relatif
jauh dari sumber panasnya.
4) Caprock
Komponen ini berfungsi sebagai penutup agar proses yang terjadi tidak
keluar ke permukaan dan tetap pada jalurnya.

6
Gambar 2.2 sistem Hidrotermal pada kaldera gunung api. Sumber panas
adalah instrusi magma (wenrich,1985)

2.3 Hukm-Hukum Termodinamika Dalam Panas Bumi

Terdapat empat hukum dasar termodinamika,yaitu:

Hukum awal(zeroth law) termodinamikaHukum ini menyatakan bahwa


dua sistem dalam keadaan setimbang dengan sistem ketiga, maka
ketiganya dalam keadaan setimbang satu dengan lainnya.
Hukum Pertama TermodinamikaHukum ini terkait dengan kekekalan
energi. Hukum ini menyatakan perubahan energi dalam dari suatu sistem
termodinamika tertutup sama dengan total dari jumlah energi kalor yang
disuplai ke dalam sistem dan kerja yang dilakukan terhadap sistem.
Hukum kedua TermodinamikaHukum kedua termodinamika terkait
dengan entropi. Hukum ini menyatakan bahwa total entropi dari suatu
sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkat seiring
dengan meningkatnya waktu,mendekati nilai maksimumnya.
Hukum Ketiga Termodinamika
Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut.
Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur
nol absolut, semua proses akan berhenti dan entropi sistem akan
mendekati nilai minimum. Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi

7
benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai
nol.

Prinsip-prinsip termodinamika yang terdapat pada sistem panasNERbumi


mencakup dua hukum termodinamika, yakni:

Hukum Ke-Nol Termodinamika:


Jika sistem A berada pada keadaan setimbang dengan sistem B, dan
sistem B berada pada keadaan setimbang dengan sistem C, maka sistem A
juga berada pada keadaan setimbang dengan sistem C.
Hukum Kedua Termodinamika:
Tidak mungkin membuat sebuah mesin kalor yang bekerja dalam suatu
siklus yang semata-mata mengubah energi panas yang diproleh dari suatu
reservoir pada suhu tertentu seluruhnya menjadi usaha mekanik

2.3.1 Hukum Ke-0 Termodinamika

Hukum ke 0 termodinamika berbunyi : Jika 2 buah benda berada dalam


kondisi kesetimbangan termal dengan benda yang ke 3, maka ketiga benda
tersebut berada dalam kesetimbangan termal satu dengan lainnya . Jika benda
A mempunyai temperatur yang sama dengan benda B dan benda B mempunyai
temperatur yang sama dengan benda C maka temperatur benda A akan sama
dengan temperatur benda C atau disebut ketiga benda (benda A, B dan C) berada
dalam kondisi kesetimbangan termal. Kondisi ini dapat digambarkan sebagai
berikut:

Gambar 2.3 Kesetimbangan termal antara benda A, benda B dan benda C

8
Jika 2 benda yang berbeda temperatur bersentuhan, maka dikatakan ke dua
benda itu berada dalam kondisi kontak termal. Permukaan tempat kedua benda
bersentuhan disebut permukaan kontak termal. Panas atau dinginnya suatu benda
ditentukan oleh banyaknya energi panas (kalor) yang diserap oleh molekul benda.
Besarnya derajat panas benda ini disebut temperatur benda atau suhu benda.

2.3.2 Hukum II Termodinamika dan Aplikasinya

Gambar di bawah ini memperlihatkan dua sistem yang berbeda, masing-


masing dilingkungi oleh dinding adiabatik. Pada gambar (a) sebuah benda yang
suhunya T1 bersinggungan dengan benda lain (reservoir) yang suhunya T2 lebih
tinggi daripada T1 maka sesuai dengan hukum alam, sejumlah panas akan
mengalir dari reservoir masuk ke dalam benda pertama, sampai akhirnya dicapai
keadaan seimbang, suhu benda pertama menjadi sama dengan suhu reservoir.
Seperti diketahui reservoir adalah benda yang karena ukurannya besar atau karena
mendapat masukkan energi panas dari sistem lain, maka walaupun sejumlah panas
mengalir ke luar atau masuk ke dalamnya, suhunya tidak berubah.

Gambar 2.4 Dua Sistem Hukum ke-2 Termodinamika (a) sejumlah panas
mengalir reservoar ( T2) ke benda dengan suhu T1 (T2 > T1 ). (b) gas pada bagian
kiri mengalami ekspansi bebas saat diafragme /penyekat dihilangkan

Proses di atas terjadi secara spontan dan irreversibel. Keadaan awal, kedua
benda mempunyai suhu yang berbeda, setelah bdisentuhkan dan mencapaui
keseimbangan , maka keadaan akhirnya benda mempunyai suhu yang sama
dengan suhu reservoar. Jika sistem ingin dikembalikan lagi ke keadan semula,
dimana benda kembali mempunyai suhu T1 yang lebih rendah, tidaklah mungkin
terjadi. Andaikata proses ini dapat berlangsung maka hal ini sama sekali tidak

9
bertentangan dengan hukum pertama, yang tidak lain adalah hukum kekekalan
tenaga.
Tetapi ternyata sesuai dengan pengalaman proses itu tidak pernah terjadi,
walaupun jumlah tenaganya tetap saja, karena sistem itu dilingkungi dengan
dinding adiabatik. Mengapa tidak dapat tertjadi ? Pada gambar (b) dilukiskan
suatu bejana yang terbagi oleh dua diafragma. Bagian kiri berisi sejumlah gas dan
bagian kanan hampa. Jika diafragma dirobek, maka sejumlah molekul gas dari
bagian kiri akan bergerak memasuki bagian kanan sampai akhirnya dicapai
keadaan seimbang dengan kedua bagian mempunyai tekanan yang sama.
Proses inipun tak dapat berlangsung ke arah sebaliknya. Dari keadaan
seimbang dengan molekul-molekul gas menempati kedua bagian dengan tekanan
yang sama kemudian sejumlah molekul bergerak ke kiri sampai akhirnya bagian
kanan menjadi hampa. Andaikata hal ini dapat terjadi maka inipun tidak
bertentangan dengan hukum pertama. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa
ekspansi bebas, dimana dalam hal ini walaupunvolume sistem bertambah, sistem
dikatakan tidak melakukan usaha

10
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Prinsip Termodinamika Pada Sistem Panas Bumi

Keseluruhan proses yang terjadi pada sistem panas bumi tidak lepas dari
konsep-konsep serta prinsip-prinsip yang terdapat dalam termodinamika, baik
cara kerja pada sistem yang ada maupun instrumen-instrumen yang dipergunakan
pada sistem panas bumi.

Prinsip-prinsip termodinamika yang terdapat pada sistem panas bumi


mencakup dua hukum termodinamika, yakni:

Hukum Ke-Nol Termodinamika:


Jika sistem A berada pada keadaan setimbang dengan sistem B, dan sistem
B berada pada keadaan setimbang dengan sistem C, maka sistem A juga
berada pada keadaan setimbang dengan sistem C.
Hukum Kedua Termodinamika:
Tidak mungkin membuat sebuah mesin kalor yang bekerja dalam suatu
siklus yang semata-mata mengubah energi panas yang diproleh dari suatu
reservoir pada suhu tertentu seluruhnya menjadi usaha mekanik

3.2 Siklus Biner

Penerapan prinsip termodinamika pada sistem panas bumi yang mudah


untuk kita pahami adalah sistem pembangkit listrik tenaga panasbumi (PLTP),
yang pada dasarnya adalah membangkitkan arus listrik dengan mengubah energi
kinetik uap panasbumi menjadi energi listrik untuk keperluan komersial.

Pembangkit listrik tenaga panasbumi (PLTP) memiliki beberapa jenis


pembangkit yang bekerja dalam suatu siklus. Salah satu jenis pembangkit listrik
tenaga panasbumi (PLTP) yang secara eksplisit menerapkan prinsip-prinsip
termodinamika adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi jenis Binary Cycle
atau siklus Biner.

11
Siklus biner merupakan siklus dalam PLTP yang menggunakan fluida
panasbumi bertemperatur sedang (sekitar 100-200C) untuk memanasi suatu
fluida organik. Uap dari fluida organik inilah yang akan memutar sudu-sudu
turbin sehingga menghasilkan listrik. Jadi fluida panasbumi tidak dimanfaatkan
langsung melainkan hanya panasnya saja yang diekstraksi, sementara fluidanya
sendiri diinjeksikan kembali ke dalam reservoir.

Dalam siklus biner pada pembangkit listrik tenaga panas bumi, terdapat dua
alat atau instrumen yang secara eksplisit menggunakan prinsip-prinsip
termodinamika, yaitu turbin uap dan alat penukar panas atau heat exchanger.

3.2.1 Turbin Uap

Turbin uap merupakan jenis turbin yang digunakan menggerakan generator


untuk membangkitkan energi listrik. Turbin uap digerakkan oleh fluida uap
dengan memanfaatkan energi kinetik yang dimiliki oleh uap. Ketika fluida
mengalir melalui turbin maka kerja akan melawan sudu yang tertempel pada
poros. Sebagai hasilnya, poros berputar dan turbin menghasilkan kerja. Kerja
yang dihasilkan turbin adalah positif karena dilakukan oleh fluida.

Gambar 3.5 Turbin Uap

Untuk turbin uap, hal-hal penting yang berhubungan dengan persamaan


energi:

12
1. 0. Perpindahan panas pada alat tersebut umumnya kecil jika
dibandingkan dengan kerja poros, kecuali untuk kompresor yang
menggunakan pendinginan intensif, sehingga dapat diabaikan.
2. 0. Semua alat ini melibatkan poros yang berputar. Oleh karena itu
kerja di sini sangatlah penting. Untuk turbin, menunjukkan output
power.
3. 0. Perubahan kecepatan pada alat-alat tersebut biasanya sangat
kecil untuk menimbulkan perubahan energi kinetik yang signifikan
(kecuali untuk turbin), sehingga perubahan energi kinetik dianggap sangat
kecil, meskipun untuk turbin, dibandingkan dengan perubahan enthalpi
yang terjadi.
4. 0. Pada umumnya alat-alat tersebut bentuknya relatif kecil
sehingga perubahan energi potensial dapat diabaikan.

3.2.2 Heat Exchanger

Heat exchanger atau alat penukar panas adalah sebuah alat dimana dua
aliran fluida saling bertukar panas tanpa keduanya bercampur. Pada umumnya
medium pemanas adalah air yang dipanaskan dan air dingin sebagai air
pendingin (cooling water). Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak baik
antara fluida yang terpisah oleh dinding pemisah maupun yang bercampur
kedua fluidanya.

Gambar 3.6 Heat Exchanger

Persamaan konservasi massa pada kondisi steady adalah jumlah rate massa
yang memasuki sistem sama dengan rate massa yang keluar sistem. Persamaan

13
konservasi energi dari alat penukar panas pada umumnya tidak melibatkan
interaksi kerja, energi kinetik dan energi potensial diabaikan untuk setiap aliran
fluida.

Pertukaran panas yang berhubungan dengan alat penukar panas tergantung


bagaimana volume kontrol yang dipilih (batas sistem). Pada umumnya batas yang
dipilih adalah bagian di luar shell, hal tersbut untuk mencegah pertukaran panas
fluida dengan lingkungan.

14
BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan maka dapat disimpulkan:

1. Keseluruhan proses yang terjadi pada sistem panas bumi tidak lepas dari
konsep-konsep serta prinsip-prinsip yang terdapat dalam termodinamika,
baik cara kerja pada sistem yang ada maupun instrumen-instrumen yang
dipergunakan pada sistem panas bumi.
2. Prinsip-prinsip termodinamika yang terdapat pada sistem panas bumi
mencakup dua hukum termodinamika, yakni hokum ke-0 termodinamika
dan hokum ke-2 termodinamika
3. Terdapat dua alat atau instrumen yang secara eksplisit menggunakan
prinsip-prinsip termodinamika, yaitu turbin uap dan alat penukar panas
atau heat exchanger.

15
DAFTAR PUSTAKA

Badan Geologi, 2014. Sumber Daya Panas Bumi Indonesia. Bandung : Pusat
Sumber Daya Geologi

Gupta H., dan Roy S., 2007. Geothermal Energy : An Alternative Resource For
The 21ST Century. Amsterdam: Elsevier.

Hochstein,M.P.,Browne,P.R.L.(2000),Surface Manifestation of Geothermal


System with Volcanic Hot Sources. Editor: Haraldur Sigurdsson,
Encyclopedia of Volcanoes,Academic Press,pp.835-855.

Mitrakusuma, W, 2009. Termodinamika dan Perpindahan Panas. Diktat Dasar


Refrigerasi: Jakarta

Raybach, L.and Muffler,L.J.P.,1981.Geothermal System,Principles and case


Histories. John Willey and Sons,Chichester.

Saptadji, N.M Ir, Ph.D. 2001. Teknik Panas Bumi. Departemen Teknik
Perminyakan. ITB: Bandung

Sulistyani, M.Si. 2001. Termodinamika. Jurusan Fisika, UNY: Yogyakarta

Sumintadireda, P, 2005. Vulkanologi dan Geotermal. Teknik Geologi, Institut


Teknologi: Bandung

16