Anda di halaman 1dari 39

Makalah Pramuka

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pramuka adalah perkumpulan gerakan pendidikan kepanduan kebangsaan Indonesia
untuk anak-anak, pemuda dan warga negara Republik Indonesia. Badan-badan yang sama
sifatnya atau yang menyerupai perkumpulan Gerakan Pramuka dilarang adanya (Keputusan
Presiden No. 238 Tahun 1961). Dalam perkembangannya gerakan pramuka merupakan
sebuah gerakan yang bersifat nasional untuk membangun karakter kebangsaan warga negara
Indonesia. Gerakan Pramuka yang merupakan singkatan dari Gerakan Pendidikan Kepanduan
Praja Muda Karana tidak serta merta bahwa Kepanduan hilang dari Gerakan Pramuka, karena
tidak banyak yang paham bahwa Pramuka merupakan sebuah singkatan atau yang sering
dikenal dengan Praja Muda Karana yang artinya pemuda yang suka berkarya. Oleh sebab
itu, perlunya pembina bahkan pelatih memahami hal-hal yang dianggap kecil tersebut untuk
membentuk jiwa-jiwa Pramuka yang diharapkan bangsa Indonesia.
Kita ketahui bahwa Pramuka atau dalam hal ini Kepanduan, memiliki andil yang
cukup besar dalam perjuangan negeri ini, sehingga banyak pemaknaan-pemaknaan
nasionalisme dan kebangsaan yang memang sengaja disematkan dalam jiwa-jiwa Pramuka
melalui berbagai atribut dalam Gerakan Pramuka itu sendiri. Sehingga, diharapkan dengan
penanaman nasionalisme dan kebangsaan dapat menjadikan warga Indonesia menjadi baik
dan memiliki jiwa nasionalisme, wawasan kebangsaan, serta cinta tanah air. Walaupun dalam
prinsip Kepanduan itu bersifat universal dan sukarela, agak sedikit berbeda dengan yang kita
temui pada Gerakan Pramuka Indonesia. Nasionalisme ditanamkan dan Pramuka pun telah
dikenal oleh anak Indonesia sejak sekolah dasar hingga mahasiswa. Apalagi walaupun tidak
ikut Pramuka, namun seragam yang dikenakan di sekolah juga wajib memakai seragam
pramuka dari pendidikan dasar dan menengah.
Kebijakan dari pemerintah yang juga berbeda dengan sifat Kepanduan yaitu sukarela,
Pemerintah melalui Kemendikbud mewajibkan Pramuka masuk dalam ranah pendidikan,
khususnya pendidikan formal. Diawali kebijakan pada masa Orde Baru dengan mewajibkan
seragam wajib sekolah dengan seragam Pramuka pada hari-hari tertentu hingga dengan
adanya program pendidikan karakter serta dikuatkan dengan adanya kurikulum 2013 yang
dalam hal ini Pramuka merupakan ekstrakurikuler wajib di setiap sekolah mulai pendidikan
dasar hingga pendidikan menengah. Hal tersebut sesuai dengan Permendikbud Nomor 81A
Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum pada lampiran III, sehingga Pramuka sama
seperti halnya mata pelajaran wajib di sekolah dan masuk dalam kurikulum wajib sekolah.
Hal tersebut dapat menimbulkan kecemburuan sosial dari ekstrakurikuler lain yang
tidak diwajibkan dalam kurikulum sekolah. Belum lagi dengan kemampuan sekolah yang
belum tentu memiliki pembina Pramuka yang dapat diandalkan dalam mengelola
ekstrakurikuler Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib. Atau pemberdayaan guru sekolah
yang mungkin juga tidak begitu memahami Pramuka akan berakibat pada kondisi psikis
siswa. Sesuatu yang diwajibkan memang akan memberi dampak ketidaksukaan atau pun
keterpaksaan bagi yang menjalaninya. Namun juga ketika kewajiban itu dijalani dengan baik
dan ikhlas serta dengan penyajian yang baik dan bagus, tidak menutup kemungkinan juga
akan banyak diminati para siswa, sehingga tujuan dari Pramuka sebagai pembentuk karakter
di sekolah dapat tercapai dengan baik.
Namun, bagaimanakah kenyataan di lapangan mengenai ekstrakurikuler wajib
Pramuka di sekolah? Bagaimana respon siswa sebagai sasaran didik dan bagaimana peran
pembina Pramuka maupun guru yang diberi tugas membina Pramuka di sekolah? Kemudian
juga bagaimana kesiapan dari sekolah mengenai apa-apa yang dibutuhkan dalam mendukung
ekstrakurikuler wajib tersebut. Karena kurikulum tersebut merupakan kurikulum baru yang
memang sebelum-sebelumnya belum ada di sekolah. Sedangkan Pramuka yang merupakan
sebuah ekstrakurikuler sama halnya dengan ekstrakurikuler lainnya. Menjadi sebuah
permasalahan ketika sebuah sekolah yang dahulunya belum pernah mengadakan
ekstrakurikuler Pramuka dan juga belum memiliki Pembina Pramuka akan kelabakan mencari
Pembina yang mau dan mampu membina ekstrakuler wajib Pramuka. Yang menjadi masalah
lagi adalah bagaimana anggaran sekolah dan bagaimana juga dengan kesejahteraan para
pembina. Atau bahkan ada oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan kebijakan tersebut
hanya untuk mencari keuntungan.
Dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 yang Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib,
dari satu sisi kemungkinan mendapatkan respon baik dengan pengembangan Pramuka
menjadi lebih baik. Namun juga karena Pramuka merupakan ekstrakurikuler wajib yang
harus dilaksanakan di setiap satuan pendidikan, kemungkinan juga ada yang setengah hati
atau merasa terpaksa. Hal tersebut merupakan tantangan khususnya bagi pembina Pramuka
yang membina di satuan pendidikan. Oleh karena itu perlu dicari solusi bagaimana
menyatukan semua aspek pendidikan yang dapat bersinergi dengan Pendidikan
Kepramukaan.
Kurikulum 2013 merupakan suatu kurikulum yang dibentuk untuk mempersiapkan
lahirnya generasi emas bangsa Indonesia, dengan sistem dimana siswa lebih aktif dalam
kegiatan belajar mengajar (KBM). Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya
penyederhanaan, dan tematik-integratif. Kurikulum ini disiapkan untuk mencetak generasi
yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum 2013 disusun untuk
mengantisipasi perkembangan masa depan. Titik beratnya, bertujuan untuk mendorong
peserta didik atau siswa, agar mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya,
bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau
mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Adapun obyek yang menjadi
pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada
fenomena alam, sosial,seni, dan budaya. Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita
memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih
kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam
menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya dan memasuki masa depan yang
lebih baik.
Ekstrakurikuler Wajib dalam Kurikulum 2013, sebagaimana di isyaratkan dalam
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013
Tentang Implementasi Kurikulum pada Lampiran III huruf D menyatakan : bahwa Jenis
Kegiatan- Kegiatan ekstrakurikuler dapat berbentuk. 1. Krida; meliputi Kepramukaan,
Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan
Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), dan lainnya (Anonimus...). Selanjutnya dalam
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014
Tentang Pendidikan Kepramukaan Sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib Pada Pendidikan
Dasar dan Pendidikan Menengah, pada Pasal 2 yaitu : (1) Pendidikan Kepramukaan
dilaksanakan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler wajib pada pendidikan dasar dan menengah.
(2) Kegiatan Ekstrakurikuler wajib merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang harus diikuti
oleh seluruh peserta didik (UU No. 12 Thn 2010).
Berdasarkan uraian diatas, baik dari aspek regulasi Gerakan Pramuka, Kurikulum
2013 inklud didalamnya Ekstra Kurikuler Wajib kegiatan Kepramukaan, maupun tempat
untuk melaksanakan Ekstra Kurikuler Wajib yakni Gugus depan serta Pelatih Pembina
Pramuka sebagai pembina Pramuka yang terlatih dengan tugas tambahan sebagai pelatih atau
motivator untuk menggerakkan Pembina Pramuka, agar semua itu berjalannya dengan baik,
maka perlu memerankan pelatih pembina Pramuka secara optimal sesuai dengan tufoksinya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai
berikut:
1. Faktor apa saja yang mempengaruhi penerapan ekstrakurikuler wajib di satuan pendidikan?.
2. Kendala apa saja yang dihadapi untuk menerapkan ekstrakurikuler wajib di stuan
pendidikan?.
3. Usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut?.

C. Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan ekstrakurikuler wajib di stuan pendidikan.
2. Kendala-kendala yang dihadapi untuk menerapkan ekstrakurikuler wajib di stuan pendidikan.
3. Usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

D. Manfaat Pembahasan
Manfaat dari pembahasan makalah ini adalah untuk:
1. Satuan pendidikan supaya dapat dapat menerapkan ekstrakurikuler wajib pramuka dengan
sebaik-baiknya sebagai mana yang diamanatkan dalam kurikulum 2013.
2. Kwartir Cabang agar dapat melakukan pengawasan dan pendampingan kepada kakak-kakak
pembina di setiap gugus depan yang berada diwilayah kerja masing-masing karena
mengingat masih banyak gugus depan yang masih minim pembina yang sudah pernah
mengikuti kursus kepramukan. Semacam KMD, KML, KPD ataupun KPL.
3. Pemangku Kebijakan, sangat kami harapkan untuk lebih memperhatikan pramuka
terutamanya dari segi pendanaan apalagi sekarang ini sudah menjadi ekstrakurikuler yang
diwajibkan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Faktor Yang Mempengaruhi Penerapan Ekstra Kurikuler Wajib Di Satuan Pendidikan


1. Menjalankan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010
Semenjak lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010
Tentang Gerakan Pramuka, maka terjadilah geliat perubahan yang mendasar terhadap
kegiatan keramukaan. Gerakan Pramuka tidak hanya mendapat dukungan yuridis sebagai
legal formal membangun eksistensi Gerakan Pramuka, akan tetapi mendapat pula dukungan
finansial dan dukungan lainnya secara signifikan oleh pemerintah dan masyarakat, sehingga
kegiatan kepramukaan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Maka tidak heran dalam
waktu singkat Gerakan Pramuka menjadi sebuah organisasi yang memiliki keanggotan yang
paling besar dan memiliki tingkat keberhasilan yang realistis dalam menciptakan kader
bangsa dengan memiliki kerakteristik (kepribadian) keindonesiaan, yang nantinya diharapkan
para kader bangsa ini menjadi pemimpin bangsa yang memiliki kepribadian keindonesiaan
dan membawa Indonesia menjadi sebuah negara yang maju dan berperadaban.
Gugus depan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010
Tentang Gerakan Pramuka pada pasal 1 ayat (5), adalah satuan pendidikan dan satuan
organisasi terdepan penyelenggara pendidikan kepramukaan (UU No. 12 Thn 2010).
Selanjutnya dalam Keputusan Musyawarah Nasional Nomor 11/Munas/2013 Tentang
Anggaran Dasar Gerakan Pramuka Pasal 19 menyatakan bahwa : (1) Gugus depan
merupakan satuan pendidikan dan satuan organisasi terdepan. (2) Gugus depan meliputi
gugus depan berbasis satuan pendidikan dan gugus depan berbasis komunitas. (3) Gugus
depan berbasis satuan pendidikan meliputi gugus depan yang berpangkalan di pendidikan
formal. (4) Gugus depan berbasis komunitas meliputi gugus depan komunitas kewilayahan,
agama, profesi, organisasi kemasyarakatan dan komunitas lain (Munas 2013. Kemudian
menurut Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor: 231 Tahun 2007 Tentang
Petunjuk Penyelenggaraan Gugusdepan Gerakan Pramuka, Pasal 1 ayat (4) bahwa : a. Gugus
depan disingkat Gudep adalah suatu kesatuan organik terdepan dalam Gerakan Pramuka yang
merupakan wadah untuk menghimpun anggota Gerakan Pramuka dalam penyelenggaraan
kepramukaan, serta sebagai wadah pembinaan bagi anggota muda dan anggota dewasa muda.
b. Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan
keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang
dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan,
yang sasaran akhirnya pembentukan watak, ahklak, dan budi pekerti luhur (Kwartir Nasional
Gerakan Pramuka, Jakarta, 2008, Hal 2).
Pelatih Pembina Pramuka, adalah Pembina Pramuka yang memenuhi persyaratan
melatih (telah mengikuti Kursus Pelatih) dan memiliki pengabdian tambahan karena memiliki
keahlian untuk melatih Pembina Pramuka. Untuk menjadi Pelatih Pembina Pramuka ada dua
jenjang pendidikan yakni: Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Dasar, dan Kursus
Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Lanjutan. Pelatih Pembina merupakan kor (jantung)
kegiatan kepramukaan, makin memahami seorang pelatih terhadap permasahan
kepramukaan baik yang berhubungan internal kepramukaan atau yang berhubungan dengan
eksternal kepramukaan, maka eksistensi Gerakan Pramuka akan lebih maju dan berkembang
dengan lebih baik.

2. Pramuka Wajib Dalam Kurikulum 2013


Pendidikan kepramukaan dalam sistem pendidikan nasional termasuk dalam jalur
pendidikan nonformal yang diperkaya dengan pendidikan nilai-nilai Gerakan Pramuka dalam
pembentukan kepribadian yang berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin,
menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup (UU RI Nomor 12
Tahun 2010 Pasal 11). Pendidikan merupakan proses pembangunan suatu sistem nilai dalam
ranah afektif yang selalu dalam keadaan instatu nascendi (dalam proses menjadi). Muaranya
adalah kepemilikan kualitas sebagai manusia yang layak disebut manusia dan bersumber
daya (Tri Kartika Rina dalam Djarab, 2004: 54). Pramuka sebagai salah satu kegiatan
ekstrakurikuler di sekolah sangat relevan sebagai wadah penanaman nilai karakter. Nilai
karakter yang dapat dikembangkan melalui kegiatan kepramukaan adalah nilai religius, jujur,
toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat
kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar
membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (Pusat Pengembangan
Tenaga Kependidikan, 2014: 20).
Dalam Kurikulum 2013, pendidikan Kepramukaan ditetapkan sebagai kegiatan
ekstrakurikuler wajib. Hal ini mengandung makna bahwa pendidikan Kepramukaan
merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang secara sistematik diperankan sebagai wahana
penguatan psikologis-sosial-kultural (reinfocement) perwujudan sikap dan keterampilan
kurikulum 2013 yang secara psikopedagogis koheren dengan pengembangan sikap dan
kecakapan dalam pendidikan Kepramukaan. Dengan demikian pencapaian Kompetensi Inti
Sikap Spiritual (KI 1), Sikap Sosial (KI 2), dan Keterampilan (K3) memperoleh penguatan
bermakna (meaningfull learning) melalui fasilitasi sistematik-adaptif pendidikan
Kepramukaan di lingkungan satuan pendidikan (Badan Penelitian dan Pengembangan, 2014:
1-2).
Dalam implementasi kurikulum 2013, kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan dapat
diimplemasikan dalam 3 model, yaitu (1) Sistem Blok yang dilaksanakan pada awal masuk
sekolah; (2) Sistem Aktualisasi proses pembelajaran setiap mata pelajaran ke dalam
Pendidikan Kepramukaan; dan (3) Sistem Reguler bagi peserta didik yang memiliki minat
serta ketertarikan menjadi anggota Pramuka (Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan,
2014: 11-12). Mengacu Permendikbud RI Nomor 81A tahun 2013 tentang Implementasi
Kurikulum 2013, lampiran III dijelaskan bahwa fungsi kegiatan ekstrakurikuler Pramuka
adalah kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan memiliki fungsi pengembangan,
sosial, rekreatif, dan persiapan karir.
Koherensi proses pembelajaran yang memadukan kegiatan intrakurikuler dan
ekstrakurikuler, didasarkan pada dua alasan dalam menjadikan pendidikan Kepramukaan
sebagai ekstrakurikuler wajib. Pertama, dasar legalitasnya jelas, yaitu Undang-Undang RI
Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Kedua, pendidikan Kepramukaan
mengajarkan banyak nilai-nilai, mulai dari nilai-nilai Ketuhanan, kebudayaan,
kepemimpinan, kebersamaan, sosial, kecintaan alam, hingga kemandirian. Dari sisi legalitas
pendidikan Kepramukaan merupakan imperatif yang bersifat nasional, sebagi hal itu tertuang
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka
(Badan Penelitian dan Pengembangan, 2014: 2).
Dari pemaparan tersebut di atas, sebenarnya pemerintah menyadari akan pentingnya
pendidikan untuk generasi penerus bangsa, salah satunya juga melihat Pramuka. Pramuka
atau juga Kepanduan yang telah berperan juga dalam sejarah bangsa Indonesia, dari pra-
kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan hingga saat ini, dianggap oleh pemerintah
sangat relevan dalam membangun pendidikan karakter. Diperkuat dengan adanya Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka dan Undang-Undang RI Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Terdapat nilai-nilai positif dalam kegiatan
Pramuka yang dinilai akan membawa nilai positif dalam pembentukan karakter bangsa.
Namun pada kenyataannya, Pramuka yang dijadikan sebagai ekstrakurikuler wajib di setiap
satuan pendidikan memiliki banyak dampak baik bagi guru maupun peserta didik.
Tidak semua satuan pendidikan siap akan Pramuka menjadi ekstrakurikuler wajib,
karena juga tidak semua satuan pendidikan jangankan memiliki gugusdepan ekstrakurikuler
Pramuka pun tidak semuanya ada, apalagi memiliki pembina Pramuka yang mau dan mampu
membina Pramuka dengan baik. Akhirnya banyak satuan pendidikan yang mencari pembina
Pramuka dadakan atau bahkan memberdayakan para guru untuk membina Pramuka. Selain
itu juga akan memengaruhi kondisi psikis peserta didik yang setengah hati mengikuti
ekstrakurikuler wajib Pramuka. Pasti ada rasa tidak senang maupun tidak dengan ikhlas
mengikuti kegiatan Pramuka, yang akhirnya menganggap sepele Pramuka tersebut. Di sinilah
pentingnya peran semua komponen satuan pendidikan dan pembina Pramuka untuk sekreatif
mungkin membuat ekstrakurikuler wajib Pramuka dapat diminati dan disenangi oleh seluruh
peserta didik, sehingga tujuan dari pemerintah mewajibkan ekstrakurikuler Pramuka untuk
membentuk karakter baik peserta didik dapat terwujud dengan baik.

B. Kendala Yang Dihadapi Untuk Menerapkan Ekstra Kurikuler Wajib Di Satuan


Pendidikan
1. Rendahnya Mutu Pembina Pramuka
Masalah lain yang dihadapi Gerakan Pramuka saat ini adalah rendahnya kualitas dan
kuantitas Pembina Pramuka. Sudah amat jarang terjadi munculnya Pembina baru dari para
peserta didik yang memiliki pengalaman ketika menjadi Siaga, Penggalang, Penegak dan
Pandega. Banyak Pembina yang muncul karena jabatannya sebagai guru, misalnya guru olah
raga, guru bimbingan, yang notabene kurang memiliki pengalaman yang cukup sebagai
anggota Gerakan Pramuka sebelumnya. Kurangnya pengalaman mereka sebagai peserta didik
sudah barang tentu berakibat pada lemahnya pemahaman mereka terhadap ide dasar
pendidikan kepramukaan.
Di Kwartir Cabang Aceh Timur kekurangan jumlah Pembina dapat diketahui dari
ratio Pembina berbanding peserta didik sebagai 1 : 60 orang. Angka tersebut masih jauh dari
ketentuan ratio ideal sebesar 1 Pembina untuk 10 orang peserta didik. Keadaan tersebut masih
ditambah dengan adanya kenyataan seorang Pembina merangkap membina pada beberapa
sekolah atau Gugus depan. Hal tersebut sudah barang tentu akan menghambat usaha
peningkatan kualitas proses pendidikan kepramukaan di Gugus depan, karena kurang
intensifnya Pembina melakukan pembinaan pada peserta didiknya.
Memang, dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas Pembina Pramuka
diadakan Kursus Mahir Pembina, baik tingkat Dasar maupun Lanjutan. Tetapi manakala
peserta Kursus Mahir Pembina adalah Pembina karbitan, menjadi Pembina karena jabatan,
bagi pelaksanaan proses pendidikan kepramukaan kurang memadai. Diharapkan Pembina
Pramuka muncul dari para calon-calon Pembina yang benar-benar memiliki pengalaman
sebagai peserta didik atau memahami ide dasar pendidikan kepramukaan. Tidak sekedar
memandang pendidikan kepramukaan sebagai pelengkap kegiatan ekstra kurikuler di sekolah,
melainkan mendudukkan pendidikan kepramukaan dalam sistem pendidikan nasional, yaitu
sebagai penunjang sub sistem pendidikan persekolahan (formal).
Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitas proses pendidikan kepramukaan
sesuai dengan yang dirujuk pada prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan, maka
kemampuan dan ketrampilan para Pembina harus mendapat perhatian. Tampaknya diperlukan
Pembina Pramuka yang benar-benar memahami dan menguasai pendidikan kepramukaan.
Untuk itu harus dihindari munculnya Pembina Pramuka karbitan apabila Gerakan Pramuka
masih ingin memberikan makna dalam sistem pendidikan nasional di masa mendatang.

2. Ketinggalan Jaman
Pada tahap perkembangan ilmu dan teknologi serta arus informasi yang demikian
pesat dewasa ini, seakan pendidikan kepramukaan tetap saja berjalan di tempat. Berbagai
materi dan metode yang dikenalkan hampir lebih sepuluh tahun yang lalu sampai saat ini
masih disampaikan kepada para peserta didik tanpa mengalami pembaharuan. Para Pembina
Pramuka dan Pelatih Pembina Pramuka terlalu berpegang pada pakem yang ada, seakan tidak
peduli terhadap kemajuan di sekilingnya.
Memang prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan senantiasa harus dipegang
teguh dalam proses pendidikan kepramukaan, karena hal itu merupakan ciri utama yang
membedakan antara pendidikan kepramukaan dengan bentuk pendidikan lainnya. Namun
materi yang diberikan serta metode pembelajarannya harus selalu dikembangkan mengikuti
perkembangan jaman.
Kemampuan mengembangkan materi serta metode pembelajaran itulah yang saat ini
miskin dikuasai oleh para Pembina Pramuka. Kebanyakan dari mereka dalam proses latihan
rutin dari tahun ke tahun selalu hanya mengandalkan buku rujukan Kursus Pembina Mahir
Dasar atau Lanjutan.
Untuk itulah pada kurikulum Kursus Pembina Mahir Dasar dan Kursus Pembina
Mahir Lanjutan perlu dicantumkan pokok bahasan tentang inovasi teknologi pendidikan
kepramukaan, yaitu suatu pokok bahasan yang memberikan bekal pada Pembina Pramuka
agar mampu melakukan pembaharuan di bidang materi dan metode pembelajaran untuk dapat
menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Konteks menyesuaikan jaman artinya adalah
melakukan pembaharuan pendidik-an kepramukaan sesuai dengan minat dan kebutuhan
perkembangan anak dan remaja pada jaman dimana ia hidup.
Berkaitan dengan hal itu, maka akan dapat kita kaji kembali: sejauhmana keterkaitan
keterampilan semaphore, morse, dan tali temali pada pendidikan kepramukaan dalam era
globalisasi informasi serta teknologi canggih dewasa ini? Memang pada era Baden Powell,
awal abad ini, semaphore dan morse merupakan alat yang ampuh dalam melakukan
komunikasi jarak jauh dan tali temali merupakan keterampilan utama yang diperlukan dalam
melakukan pionering.
Fakta lain menunjukkan bahwa pada perkembangan dewasa ini pendidikan
kepramukaan jauh kalah populer dibanding dengan kelompok pecinta alam. Perkembangan
kegiatan kelompok pecinta alam sudah sedemikian pesatnya sehingga muncul aktivitas yang
menarik bagi remaja seperti panjat tebing, caving, dan mountainering. Pada perkembangan
yang sama sebagian besar satuan Gerakan Pramuka masih melakukan kegiatan alam terbuka
dengan acara mencari jejak, permainan berbagai macam sandi, wide game yang dipandang
oleh remaja terlalu monoton dan sudah kuno. Padahal sejarah pertum-buhan Gerakan
Pramuka di Indonesia lebih tua dibanding dengan kelompok pecinta alam. Mengapa hal itu
bisa terjadi? Padahal sebagian besar aktivitas pendidikan kepramukaan adalah di alam
terbuka serta diikuti usaha mengenal dan menanamkan rasa mencintai alam. Keadaan ini
tidak akan terjadi manakala Pembina mampu mengembangkan dan mengemas kegiatan
sesuai dengan minat anak dan remaja sesuai dengan jamannya, bukan jamannya Kakak
Pembina.

3. Perlu Pembaharuan Dalam Metode Pembelajaran Kepramukaan


Untuk itulah sudah saatnya Gerakan Pramuka melakukan kajian mengenai usaha
meningkatkan relevansi pendidikannya, utamanya menyesuaikan materi dan metode
pembelajaran yang sesuai dengan perubahan jaman dan kebutuhan masyarakat. Usaha itu
adalah upaya untuk menarik minat para anak dan remaja agar tertarik pada pendidikan
kepramukaan.
Usaha melakukan pembaharuan materi dan metode pembelajaran itu kiranya tidak
akan bertentangan dengan ide dasar Baden Powell tentang pendidikan kepanduan atau
kepramukaan. Baden Powell kepada para Pembina, dalam bukunya Penolong untuk
Pemimpin Pandu, menyatakan bahwa dalam pendidikan kepanduan bukan isi pelajarannya
yang terpenting tetapi cara-caranya. Menurut Baden Powell pendidikan
kepanduan/kepramukaan adalah suatu sistem pendidikan yang membimbing anak dan remaja
untuk melahirkan segala sesuatu secara benar, menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik,
memberikan kesempatan pada perkembangan inisiatif, kedisiplinan diri, percaya diri dan
menentukan tujuan sendiri.
Dari pernyataan Baden Powell tersebut tersirat bahwa pendidikan kepramukaan
memiliki sifat universal dalam perspektif tempat maupun waktu. Pemahaman keuniversalan
pendidikan kepramukaan selama ini hanyalah pada perspektif tempat saja, artinya pendidikan
kepramukaan dapat dipergunakan dimana saja untuk mendidik anak dan remaja dari bangsa
di seluruh muka bumi. Pemahaman keuniversalan yang sempit inilah mengakibatkan
kemandegan pengembangan pendidikan kepramukaan.
Pada perspektif kekinian dan ke depan usaha pembinaan kepribadian dan watak
generasi muda melalui pendidikan kepramukaan tidak akan cukup hanya memperkenalkan
kepada mereka keterampilan semaphore, morse, dan tali temali sementara nilai dan norma
sosial yang berkembang di masyarakat telah diwarnai dengan suasana teknologi yang serba
canggih. Justru pada perspektif kekinian dan ke depan pendidikan kepramukaan harus
mampu mengemas materi dan metode pembelajarannya yang disesuaikan dengan
permasalahan aktual yang sedang dihadapi dan tantangan yang akan dihadapi oleh bangsa
Indonesia.

C. Usaha Yang Dilakukan Untuk Menerapkan Ekstra Kurikuler Wajib Di Satuan


Pendidikan
1. Peran Pembina Pramuka Di Gugus Depan
Dalam penerapannya, guru dan pembina Pramuka sudah seharusnya saling bekerja
sama dalam mengembangkan pendidikan Kepramukaan di satuan pendidikan. Guru sebagai
pendidik formal di satuan pendidikan, sedangkan pembina Pramuka sebagai pendidik non-
formal di satuan pendidikan. Oleh karena pelaksanaan Kurikulum 2013 dikembangkan
secara terpadu, guru kelas atau guru mata pelajaran haruslah mempunyai kompetensi
pendidikan Kepramukaan. Dengan begitu, guru dapat mengaitkan, menghubungkan, dan
memadupadankan tema atau topik mata pelajaran dengan menu ekstrakurikuler wajib
Pendidikan Kepramukaan (Badang Penelitian dan Pengembangan, 2014: 13-14).
Gerakan Pramuka adalah gerakan pendidikan kaum muda yang menyelenggarakan
kepramukaan dengan dukungan dan bimbingan anggota dewasa (Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka, 2007: 13). Sehingga, dalam penyelenggaraan kegiatan Pramuka, tidak boleh lepas
dari bimbingan orang dewasa dalam hal ini pembina, guru, maupun pihak-pihak terkait.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan Kepramukaan di satuan pendidikan, diperlukan
upaya peningkatan kemampuan kepala sekolah, guru, dan pembina dalam mengelola
pendidikan Kepramukaan. Peningkatan kemampuan tersebut dapat dilaksanakan melalui pola
pengembangan dan penyegaran kompetensi yang terarah, terpadu, terus menerus, dan
berkesinambungan (Badan Penelitian dan Pengembangan, 2014: 16).
Pembina Pramuka sebagai pendidik wajib memahami bahwa semua kegiatan
pendidikan yang diberikan kepada peserta didik merupakan pencerminan dari prinsip dasar
Kepramukaan. Selain itu Pembina Pramuka wajib memahami: (1) Prinsip Dasar
Kepramukaan dan Metode Kepramukaan yang merupakan ciri khas yang membedakan
pendidikan Kepramukaan dengan pendidikan lainnya, (2) Prinsip Dasar dan Metode
Kepramukaan merupakan dua unsur proses pendidikan terpadu yang harus diterapkan dalam
setiap kegiatan (Badan Penelitian dan Pengembangan, 2014: 18).
Ketika kita membahas mengenai pendidikan dan pengajaran di Indonesia, kita tidak
akan lepas dengan peran Bapak Pendidikan Nasional, yaitu Ki Hadjar Dewantara yang juga
dijadikan metode pendidikan dalam Gerakan Pramuka. Berangkat dari keyakinan akan nilai-
nilai tradisional, Ki Hadjar Dewantara yakin bahwa pendidikan yang khas Indonesia haruslah
berdasarkan citra nilai kurtural Indonesia juga. Maka ia menerapkan tiga semboyan
pendidikan yang menunjukkan kekhasan Indonesia, yakni pertama Ing Ngarsa Sung Tuladha,
artinya seorang pendidik selalu berada di depan untuk memberi teladan; Ing Madya Mangun
Karsa, artinya seorang pendidik selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-
menerus memrakarsai/memotivasi peserta didiknya untuk berkarya, membangun niat,
semangat, dan menumbuhkan ide-ide agar peserta didiknya produktif dalam berkarya; Tut
Wuri Handayani, artinya seorang pendidik selalu mendukung dan menopang (mendorong)
para muridnya berkarya ke arah yang benar bagu hidup masyarakat (Tauhid dalam Samho,
2013: 78). Senada dengan ketiga semboyan pendidikan tersebut, metode pendidikan yang
cocok untuk membentuk kepribadian generasi muda di Indonesia adalah sepadan dengan
makna paedagogik, yakni Momong, Among, dan Ngemong, yang berarti bahwa pendidikan
itu bersifat mengasuh (Samho, 2013: 78).
Dalam menerapkan metode among, Ki Hadjar Dewantara menyampaikan pentingnya
tritunggal fatwa pendidikan untuk hidup merdeka, yaitu pertama tetep, antep, dan mantep,
artinya pendidikan adalah upaya terencana untuk membangun ketetapan pikiran dan batin
subjek didik; kedua, membentuk mentalitas ngandel, kandel, kendel, dan bandel dalam diri
subjek didik, artinya pendidikan menekankan pengolahan kematangan batiniah
menumbuhkan rasa percaya diri (ngadel) dan membentuk pendirian yang teguh (kandel) pada
subjek didik sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang berani dan tawakal, tidak
menyerah; ketiga, pendidikan dilaksanakan untuk membangun kondisi neng, ning, nung, dan
nang dalam kesadaran peserta didik, artinya upaya mendidik membentuk kesucian pikiran
dan kebatinan subjek didik (neng), ketenangan hati (ning), dan membuat mereka menguasai
diri (nung), dan kemenagan (nang) atas ego diri yang cenderung pongah dan serakah (Samho,
2013: 81-82).
Di sinilah perlu diingat untuk para pembina Pramuka atau pun guru yang dijadikan
Pembina Pramuka untuk kembali ke kodrat pembina Pramuka yang menggunakan prinsip
dasar dan metode kepramukaan dalam membina peserta didik. Pembina Pramuka yang
berasal dari lulusan Kursus Mahir Pembina Pramuka Tingkat Dasar (KMD) maupun lulusan
Kursus Mahir Pembina Pramuka Tingkat Lanjut (KML) minimal telah memiliki pemahaman
mengenai prinsip dasar dan metode kepramukaan, serta memahami apa yang harus
dilaksanakan ketika merencanakan maupun melaksanakan kegiatan Pramuka. Sedangkan
untuk guru yang dijadikan pembina Pramuka, maka perlu harus berlatih dan memahami
prinsip dasar dan metode kepramukaan. Guru di sini harus diawali dengan hati yang ikhlas
dalam menjadi pembina Pramuka. Dipermantab dengan mengikuti kursus-kursus baik KMD
maupun KML dalam usaha memperbaiki kualitas menjadi pembina Pramuka. Yang menjadi
masalah ketika guru yang dijadikan pembina Pramuka tidak memahami bagaimana Pramuka
tersebut dan tidak tahu apa yang harus dilaksanakan dalam Kepramukaan. Dengan demikian,
pelaksanaan ekstrakurikuler wajib tersebut serasa terpaksa maupun ala kadarnya atau hanya
untuk menggugurkan kewajiban saja.
Bagaimana filosofi Guru yang merupakan Digugu lan ditiru, juga dapat dijadikan
sebagai pegangan dalam mendidik, mengajar, maupun membina Pramuka. Bagaimana peserta
didik akan tertarik dengan apa yang disampaikan ketika seorang guru maupun pembina
Pramuka tidak yakin akan dirinya atau pun tidak semangat dalam menyampaikan ilmunya.
Sehingga, diperlukan keyakinan dan semangat yang tinggi yang juga dapat memengaruhi
kondisi psikis peserta didik. Jangan sampai ada ragu-ragu maupun sikap yang kurang
berwibawa maupun sikap kurang menyenangkan diharapan peserta didik, karena juga akan
memengaruhi bagaimana peserta didik tertarik dengan ilmu apa yang kita sampaikan. Dengan
demikian, perlu dipersiapkan baik materi yang akan disampaikan maupun kondisi
penampilan baik guru maupun pembina Pramuka sebelum memulai kegiatan Pramuka. Selain
itu juga selalu berikan motivasi maupun logika-logika berpikir positif sebagai penguatan hati
peserta didik guna menambah semangat belajar dari peserta didik.
Lokus normatif ekstrakurikuler wajib Pendidikan Kepramukaan dalam Kurikulum
2013 berada pada konseptual-normatif dari mandat Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2010
tentang Gerakan Pramuka. Secara substantif-pedagogis, filosofi dan tujuan Pendidikan
Nasional memiliki koherensi dengan tujuan Gerakan Pramuka, dalam hal bahwa keduanya
mengusung komitmen kuat terhadap penumbuhkembangan sikap spiritual, sikap sosial, dan
keterampilan/kecakapan sebagai insan dan warga negara Indonesia dalam konteks nilai dan
moral Pancasila (Badan Penelitian dan Pengembangan, 2014: 7).
Sebenarnya ketika ada kerja sama antara guru mata pelajaran dengan pembina
Pramuka, maka pembelajaran yang diharapkan pemerintah akan menjadi baik dan sukses
terwujud. Kegiatan Pramuka menjadi praktiknya, sedangkan mata pelajaran sebagai teorinya.
Atau pun Pramuka menjadi pelengkap dari materi pendidikan di satuan pendidikan yang
belum didapatkan dalam materi pada mata pelajaran. Apabila hal tersebut dapat disinergikan,
maka tidak ada kata terpaksa maupun rasa setengah hati baik dari guru maupun peserta didik
dalam ranah pendidikan yang dilaksanakan pada tiap satuan pendidikan.
Dalam hal pendidikan formal di sekolah, yaitu mata pelajaran yang diajarkan oleh
guru. Tidak harus Pramuka menjadi sebuah momok bagi yang merasa terpaksa. Namun,
dapat disinergikan dengan Pramuka. Semisal pada pendidikan menengah atas, ketika ada
mata pelajaran sejarah mengenai sejarah bangsa Indonesia, pada mata pelajaran sejarah
materi yang disampaikan adalah sejarah Indonesia berkaitan dengan peristiwa-peristiwa fisik.
Namun, akan lebih baik apabila disinergikan juga dengan Pramuka, bahwa di Pramuka
merupakan pelengkap dalam pemantaban materi sejarah tersebut, misalnya adalah mengenai
sejarah bendera kebangsaan Indonesia. Contoh lain sinergitas antara pelajaran matemarika
dengan tekpram, misal mengenai materi triginometri dapat disinergikan dengan materi
menaksir yang dalam hal ini, mata pelajaran matematika sebagai teori dan tekpram sebagai
praktik. Semisal lagi berkaitan dengan olah raga, adanya praktik berenang dalam mata
pelajaran sekolah, maka dapat dijadikan sebagai syarat pemenuhan pengisian syarat
kecakapan umum (SKU) berkaitan dengan olah raga berenang. Dari beberapa contoh tersebut
sebenarnya telah menunjukkan bahwa Pramuka dan sekolah memiliki relevansi dalam dunia
pendidikan yang sama-sama memberikan dampak positif bagi pendidikan. Sehingga,
Pramuka dan sekolah dapat dipadukan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013.
Pendidikan kepramukaan dalam sistem pendidikan nasional termasuk dalam jalur
pendidikan nonformal yang diperkaya dengan pendidikan nilai-nilai Gerakan Pramuka dalam
pembentukan kepribadian yang berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin,
menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup (UU RI Nomor 12
Tahun 2010 Pasal 11). Jelas sudah bahwa memang Pendidikan Kepramukaan menurut
amanat Undang-Undang Republik Indonesia dimasukkan dalam sistem pendidikan nasional
dalam jalur pendidikan nonformal yang diperkaya dengan pendidikan nilai-nilai. Sehingga,
secara sederhana sebenarnya Pramuka dalam sistem pendidikan nasional diharapkan lebih
pada penguatan pendidikan nilai. Dengan demikian, peserta didik diharapkan tidak saja hanya
baik dan cerdas dalam intelektualitasnya, namun juga memiliki kecerdasan emosiaonal,
memiliki karakter pribadi luhur yang baik.
2. Peran Pelatih Pembina Pramuka
Pelatih Pembina Pramuka adalah seorang Anggota Pramuka Dewasa yang telah
mengikuti Kursus Pelatih Pembina Pramuka sebagaimana yang diisyaratkan dalam
Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 202 Tahun 2011 Tentang Sistem
Pendidikan dan Latihan Gerakan Pramuka pada lampiran Bagian II pasal 9, yaitu : 2) Kursus
Pelatih Pembina Pramuka adalah kursus untuk menyiapkan tenaga pelatih Pembina Pramuka,
terdiri atas 2 (dua) jenjang yang tidak dapat dipisahkan, yaitu : a) Jenjang pertama kursus
bagi pelatih Pembina Pramuka adalah Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Dasar
(KPD). KPD hanya boleh diselenggarakan oleh Kwartir Nasional dan Kwartir Daerah.
Lulusan KPD adalah calon Pelatih Pembina Pramuka yang akan bertugas di Kwartir Cabang.
b). Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Lanjutan (KPL), merupakan jenjang lanjutan
dari Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Dasar (Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Jakarta,
2011, Hal 4).
Jadi Pelatih Pembina Pramuka adalah anggota Dewasa sebagai Pembina Pramuka yang
terlatih dan memiliki tugas tembahan sebagai pelatih Pembina Pramuka untuk membentuk
para pembina Pramuka yang berkualitas sesuai dengan tuntutan dan tuntunan jaman. Oleh
karenanya peranan pelatih pembina Pramuka, sangat penting dalam kemajuan Gerakan
Pramuka, karena akan menjadi sebagai parameter untuk menentukan maju dan mundurnya
Gerakan Pramuka. Menjadi sebuah kewajaran apabila seorang pelatih pembina Pramuka
senantiasa meng upgrade dan meng update pengetahuannya tentang berbagai hal khsususnya
tentang pengetahuan kepramukaan, sehingga seorang pelatih pembina Pramuka akan
senantiasa survive dalam melatih dan actual dalam menyampaikan pengetahuannya.

3. Peran Pelatih Pembina Dalam Menghadapi Ekstra Kurikuler Wajib Pendidikan


Kepramukaan
Ektra Kurikuler wajib Pendidikan Kepramukaan sebagaimana termuat dalam Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014, merupakan
Kegiatan Ekstrakurikuler yang harus diikuti oleh seluruh peserta didik. Kegiatan ekstra
kurikuler yang dimaksud bahwa setiap peserta didik harus mengikuti pendidikan
kepramukaan yang dilaksanakan dalam 3 (tiga) Model meliputi Model Blok, Model
Aktualisasi, dan Model Reguler.
a. Model Blok
Merupakan kegiatan wajib dalam bentuk perkemahan yang dilaksanakan setahun
sekali dan diberikan penilaian umum. Penyelenggaraan pendidikan kepramukaan melalui
ekstrakurikuler pada satuan pendidikan dengan menerapkan model blok adalah bentuk
kegiatan pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan pada awal peserta didik masuk di
satuan pendidikan. Model blok ini dilaksanakan pada awal tahun pelajaran dengan alokasi
waktu 18 Jam pelajaran bagi peserta didik dari kelas 1 s.d. VI SD/MI dan 36 jam pelajaran
bagi peserta didik dari kelas VII s.d. IX SMP/MTs dan kelas X s.d. XII SMA/MA/SMK.
Model blok ini merupakan Training Orientasi Kepramukaan bagi peserta didik
sesuai tingkatan dan usianya. Sistem penyelenggaraan pendidikan kepramukaan model blok
dilakukan dengan menggunakan modul, sehingga setiap pendidik dapat mengajarkan
pendidikan kepramukaan. Pendidik yang menyampaikan materi pada model ini, sekurang-
kurangnya telah mengikuti Orientasi Pendidikan Kepramukaan (OPK), dan satuan pendidikan
telah memiliki sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan kegiatan.
Tujuan pelaksanaan pendidikan kepramukaan melalui ekstrakurikuler model blok
adalah :
1. Pengenalan pendidikan kepramukaan yang menyenangkan dan menantang kepada seluruh
peserta didik pada awal masuk lembaga pendidikan.
2. Meningkatkan kompetensi (sikap dan keterampilan) peserta didik yang sejalan dan sesuai
dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, melalui:
a. Aplikasi Dwi Satya dan Dwi Darma bagi peserta didik usia Siaga;
b. Aplikasi Tri Satya dan Dasa Darma khususnya Darma ke-1 dan
c. Darma ke-2 bagi peserta didik usia Penggalang dan Penegak.

b. Model Aktualisasi
Merupakan kegiatan wajib dalam bentuk penerapan sikap dan keterampilan yang
dipelajari didalam kelas yang dilaksanakan dalam kegiatan Kepramukaan secara rutin,
terjadwal, dan diberikan penilaian formal. Penyelenggaraan pendidikan kepramukaan
melalui ekstrakurikuler pada satuan pendidikan dengan menerapkan model Aktualisasi adalah
bentuk kegiatan pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan dengan mengaktualisasikan
kompetensi dasar mata pelajaran yang relevan dengan metode dan prinsip dasar
kepramukaan.
Sistem penyelenggaraan pendidikan kepramukaan model Aktualisasi dilakukan
dengan mengaktualisasikan kompetensi dasar mata pelajaran yang relevan. Oleh karena itu
pendidik harus terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap kompetensi dasar mata
pelajaran yang relevan untuk dapat diaktualisasikan dalam kegiatan pendidikan kepramukaan.
Pendidik yang menyampaikan materi pada sistem ini, sekurang-kurangnya telah mengikuti
Orientasi Pendidikan Kepramukaan (OPK), dan satuan pendidikan telah memiliki sarana dan
prasarana yang mendukung pelaksanaan kegiatan.
Aktivitas Model Aktualisasi :
1. Dilaksanakan setiap satu minggu satu kali;
2. Setiap satu kali kegiatan dilaksanakan selama 120 menit;
3. Kegiatan model Aktualisasi merupakan kegiatan Latihan Ekstrakurikuler Kepramukaan;
4. Pembina kegiatan dilakukan oleh Guru Kelas /Guru Mata pelajaran selaku Pembina Pramuka
dan/atau Pembina Pramuka serta dapat dibantu oleh Pembantu Pembina (Instruktur
Muda/Instruktur Pramuka).
Tujuan pelaksanaan pendidikan kepramukaan melalui ekstrakurikuler model
Aktualisasi adalah :
a. Pengenalan pendidikan kepramukaan yang menyenangkan dan menantang kepada seluruh
peserta didik;
b. Media Aktualisasi kompetensi dasar mata pelajaran yang relevan dengan metode dan prinsip
dasar kepramukaan;
c. Meningkatkan kompetensi (nilai-nilai dan keterampilan) peserta didik yang sejalan dan
sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, melalui Aplikasi Dwi
Satya dan Dwi Darma bagi peserta didik usia Siaga, dan Aplikasi Tri Satya dan Dasa Darma
bagi peserta didik usia Penggalang, dan Penegak.

d. Model Reguler
Merupakan kegiatan sukarela berbasis minat peserta didik yang dilaksanakan di
Gugus depan. Penyelenggaraan pendidikan kepramukaan melalui ekstrakurikuler pada
satuan pendidikan dengan menerapkan sistem reguler adalah bentuk kegiatan pendidikan
kepramukaan yang dilaksanakan pada Gugus depan (Gudep) yang ada di satuan pendidikan
dan merupakan kegiatan pendidikan kepramukaan secara utuh. Oleh karena itu apabila satuan
pendidikan memilih model reguler dan belum memiliki Gudep, maka harus terlebih dahulu
menyiapkan sistem pengelolaan pendidikan kepramukaan melalui Gudep.
Aktivitas model Reguler:
1. Bersifat sukarela sesuai dengan bakat dan minat peserta didik;
2. Setiap satu kali kegiatan dilaksanakan selama 2 jam (120 menit) pelajaran;
3. Dilaksanakan setiap satu minggu satu kali;
4. Sepenuhnya dikelola oleh Gugus depan Pramuka pada satuan atau gugus satuan pendidikan.
5. Pembina kegiatan adalah Guru Kelas /Guru Mata pelajaran selaku Pembina Pramuka
dan/atau Pembina Pramuka serta dapat dibantu oleh Pembantu Pembina (Instruktur
Muda/Instruktur Pramuka) yang telah mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD).
Tujuan pelaksanaan pendidikan kepramukaan melalui ekstrakurikuler model reguler
adalah meningkatkan kompetensi (nilai-nilai dan keterampilan) peserta didik yang sejalan
dan sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memiliki
minat dan ketertarikan sebagai anggota pramuka, melalui: aplikasi Dwi Satya dan Dwi
Darma bagi peserta didik usia Siaga, dan aplikasi Tri Satya dan Dasa Darma bagi peserta
didik usia Penggalang dan Penegak.
Kedudukan Ektra Kurikuler wajib Pendidikan Kepramukaan dalam sistem Kurikulum
2013 merupakan komplemen kurikulum yang dirancang secara sistematis dan relevan dengan
upaya meningkatkan mutu pendidikan. Seluruh aktivitas didedikasikan pada peningkatan
kompetensi peserta didik. Penyelenggaraan kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler untuk
mengembangkan kemampuan, bakat dan potensi peserta didik.
Secara konsepsional Kurikulum 2013 memiliki landasan filosofis, teoritis yang
mengikat struktur kurikulum yang komprehensif untuk mencapai kompetensi inti.
Kompetensi meliputi; sikap (spiritual dan sosial), kompetensi pengetahuan dan kompetensi
keterampilan. Setiap proses pendidikan di sekolah, termasuk penyelenggaraan ekstra
kurikuler di sekolah, hendaknya diarahkan untuk mengembangkan kapasitas ketiga dimensi
tersebut.
Pelaksanaan Pendidikan Kepramukaan sebagai ekstra kurikuler wajib di Sekolah,
sejalan dan relevan dengan amanat Sistem Pendidikan Nasional dan Kurikulum 2013,
memerlukan Buku Panduan atau Petunjuk Pelaksanaan yang dikembangkan oleh setiap
satuan pendidikan yang mengacu pada Peraturan Menteri No.81A tahun 2013 tetapi
ditindaklanjuti dengan adanya SKB Mendikinas dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka tentang Petunjuk Pelaksanaannya.
Peranan Pelatih pembina Pramuka dalam menghadapi Ekstra Kurikuler Wajib
Pendidikan Kepramukaan sebagaimana yang telah diuraikan di atas, memberikan sebuah
tantangan dan memotivasi untuk memikirkan pola pelatihan dan mengimplementasikan pola
pelatihan tersebut sesuai dengan harapan Permendikbud, juga tetap harus menjaga nilai-nilai
dan kode kehormatan Pramuka sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
Oleh karenanya pelatih pembina Pramuka harus mengenal lebih dekat Permendikbud
tersebut, selanjutnya harus pula mengerti dan memahami esensi dan isi permendikbud
tersebut baik dari sisi historis maupun dari sisi filosofis, yuridis dan sosiologis, kemudian
merumuskan konsep modul pembelajaran bagi pembina Pramuka untuk
mengimplementasikannya dalam bentuk kegiatan pendidikan kepramukaan di Gugus
depannya masing-masing.

4. Kesiapan Gugus Depan Dalam Menghadapi Ekstra Kurikuler Wajib Pendidikan


Kepramukaan
Gugus depan merupakan satuan pendidikan dan satuan organisasi terdepan
penyelenggara pendidikan kepramukaan, artinya di Gugus depanlah kegiatan pendidikan
Kepramukaan dilaksanakan, oleh karena itu Gugus depan harus memiliki kesiapan untuk di
jadikan tempat diselenggarakannya kegiatan Ekstrakurikuler wajib sebagaimana dalam
sistem pendidikannya terbagi dalam tiga model pendidikan Kepramukaan seperti yang telah
penulis uraikan diatas mempunyai tingkatan dan cara pelaksanaan kegiatan serta pendidikan.
Ketiga model pendidikan itu juga harus membuat jadwal secara terperinci untuk latihan.
Jadi dari tiga model kegiatan ekstra kurikuler wajib pendidikan Kepramukaan, yang
sepenuhnya dikelola oleh Gugus depan adalah model Reguler, sedangkan model Blok dan
model Aktualisasi tidak hanya Gugus depan yang terlibat, akan tetapi seluruh pontensi yang
ada di satuan pendidikan tersebut terlibat didalamnya.
Oleh karena itu kesiapan Gugus depan dalam melaksanakan ekstra kurikuler wajib
pendidikan Kepramukaan merupakan keniscayaan yang harus dipersiapkan dengan matang
oleh para Pembina Pramuka di Gugus depan baik dari aspek kapasitas (artinya para pembina
telah meng-Upgrade dan meng-Update pengetahuannya tentang pendidikan Kepramukaan
yang terus berkembang secara dinamis, Regulasi yang berkaitan dengan Kepramukaan yang
terus mengalami penambahan dan perbaikan, dll.), aspek administrasi Satuan dan Gugus
depan maupun aspek sarana dan prasarana yang memadai.
Melihat kenyataan tersebut, maka penulis mengambil suatu kesimpulan bahwa
kesiapan gugus depan yang ada di lingkungan kwartir cabang Aceh Timur belum siap
menghadapai dan menjalankan ekstrakurikuler wajib pendidikan kepramukaan secara
maksimal seperti yang diamanat dalam undang-undang.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pramuka merupakan organisasi kepemudaan yang resmi dari pemerintah yang
memiliki payung hukum mulai dari Keppres RI Nomor 238 Tahun 1961 hingga payung
hukum Undang-Undang RI Nomor 12 tahun 2013 tentang Gerakan Pramuka. Dengan
demikian, Pramuka menjadi tangung jawab bersama dalam pelaksanaannya. Dengan
berlakunya Kurikulum 2013 dan sesuai dengan Lampiran III Peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi
Kurikulum, Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib pada setiap satuan pendidikan mulai
dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah. Oleh sebab itu peran satuan pendidikan
juga sangat penting demi terlaksananya kebijakan tersebut dengan baik. Dengan
ekstrakurikuler wajib Pramuka dalam kurikulum 2013, diharapkan adanya perpaduan yang
baik antara mata pelajaran umum di sekolah dengan kegiatan Pramuka yang saling
mendukung dalam ranah pendidikan karakter.

B. Saran
Dari pembahasan di atas ada beberapa saran yang dapat penulis sampaikan pada
kesempatan ini, diantaranya:
1. Gugus depan hendaknya mempersiapkan secara matang untuk melaksanakan Ekstrakurikuler
wajib pendidikan Kepramukaan baik dari sisi personal (para Pembina Pramuka dengan
kapasitas yang meningkat ter-Upgrade dan ter-Update) maupun sarana dan prasara yang
memadai.
2. Para Pelatih Pembina Pramuka, hendaknya membuat modul pembelajaran untuk bahan ajar
para Pembina Pramuka dalam menerapkan Ekstrakurikuler Wajib Pendidikan Kepramukaan.
3. Sebaiknya Kwartir Nasional agar secepatnya membuat Petunjuk Pelaksanaan Ekstrakurikuler
Wajib Pendidikan Kepramukaan yang mengacu kepada Peraturan Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia tentang Kurikulum 2013 dan Ekstra Wajib Pendidikan
Kepramukaan.
4. Metode Pelatihan, mengembangkan metode-metode pendidikan dan pelatihan bagi
kepramukaan. Terjadinya kekakuan dalam sistem pendidikan dan pelatihan kepramukaan,
membuat kegiatan menjadi terkekang oleh ruangan kelas, dan mengurangi kegiatan-kegiatan
di luar ruangan yang merupakan kegiatan sesungguhnya dari kepramukaan.

DAFTAR PUSTAKA
Andri Bob Sunardi., Boy Man. Penerbit Nuansa Muda, Bandung, Tahun 2011.

Anonimus, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun
2013 Tentang Implementasi Kurikulum : Pedoman Pedoman Kegiatan Ekstrakurikuler.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Jakarta, Tahun 2014.

Anonimus, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun
2014 Tentang Pendidikan Kepramukaan Sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib Pada
Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, Jakarta, Tahun 2014.

Anonimus, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka.
Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Jakarta, Tahun 2014.

Anonimus, Keputusan Musyawarah Nasional Nomor 11/Munas/2013 Tentang Anggaran Dasar


Gerakan Pramuka. Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Jakarta, Tahun 2014.

Anonimus. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor: 231 Tahun 2007 Tentang
Petunjuk Penyelenggaraan Gugusdepan Gerakan Pramuka. Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka, Jakarta, Tahun 2008.

Mukson., Buku Panduan Materi Pramuka Siaga. Tahun 2011.

______., Buku Panduan Materi Pramuka Penggalang. Tahun 2011.

Badan Penelitian dan Pengembangan. 2014. Pedoman Penyelenggaraan Ekstrakurikuler Wajib


Pendidikan Kepramukaan di Satuan Pendidikan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.

Djarab, Hendarmin (Ed). 2004. Guru & Pramuka Untuk Bangsa: 85 Tahun Let.Jend. TNI (Purn) H.
Mashudi (Sept. 1919-Sept. 2004). Bandung: Forum Putera Puteri TNI (FKPPI) dan Fakultas
Hukum Unpad.

Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka.

Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. 2007. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor:
231 Tahun 2007 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Gugusdepan Gerakan Pramuka.

Lampiran III Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun
2013 Tentang Implementasi Kurikulum.

Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan. 2014. Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Kepala
Sekolah: Pendidikan Kepramukaan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Samho, Bartolomeus. 2013. Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Tantangan dan Relevansi.
Yogyakarta: Kanisius.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka.


PROGRAM KERJA GUGUS DEPAN

PROGRAM KERJA
GUGUS DEPAN
PANGKALAN Sdn 001 kasikan
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
GERAKAN PRAMUKA GUDEP
PANGKALAN SDN 001 KASIKAN
KWARTIR RANTING TAPUNG HULU
2014
PROGRAM KERJA
GUGUS DEPAN
PANGKALAN SDN 001 KASIKAN
TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Kata Pengantar

Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Allah SWT, atas segala rahmad dan hidayah-
Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan progran kerja Gugus Depan 1527-
1528 Pangkalan SMP Negeri 23 Pati pada tahun ajaran 2014/2015.
Program kerja ini merupakan acuan bagi Dewan Kerja Penggalang dan Pembina
Penggalang pada Gudep 1527-1528 Pengkalan SMP Negeri 23 Pati untuk menjalankan
aktivitas atau kegiatan kepramukaan di lingkungan SMP Negeri 23 Pati. Diharapkan
dengan selesainya penyusunan program kerja ini maka pelaksanaan kegiatan
kepramukaan pada Gudep 1527-1528 Pangkalan SMP Negeri 23 Pati dapat terarah,
terencana dan berhasil dengan baik. Sehingga peningkatan mutu pendidikan
kepramukaan yang merupakan tujuan pendidikan kepramukaan di Gudep 1527-1528
Pangkalan SMP Negeri 23 Pati dapat tercapai dengan baik.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada :
1. Bapak Kepala SMP Negeri 23 Pati beserta kepala Urusan yang ada di SMP Negeri 23
Pati
2. Unsur Pembina dan Pembantu Pembina pada Gudep 1527-1528 Pangkalan SMP Negeri
23 Pati
3. Semua anggota pramuka penggalan pada Gudep 1527-1528 Pangkalan SMP Negeri 23
Pati
Kami menyadari bahwa dalam penyusuan program kerja ini masih jauh dari
sempurna. Oleh sebab itu saran dan kritik yang membangun akan kami harapkan demi
kesempurnaan program kerja Gudep 1527-1528 Pangkalan SMP Negeri 23 Pati.
Akhirnya semoga program kerja ini bermanfaat bagi kita semua.
Pati, 1 Agustus 2014
Team Penyusuan
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .. i

HALAMAN PENGESAHAN .. ii

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI iv

BAB I : PENDAHULUAN .. 1
A. Latar Belakang 1
B. Dasar Kegiatan 1
C. Tujuan .. 2
D. Sasaran . 2
BAB II : PROGRAM KERJA GUGUS DEPAN 3
A. Program Umum Gugus Depan 1527-1528 3
1. Bidang Kegiatan dan Latihan Peserta Didik . 3
2. Bidang Pendidikan Orang Dewasa . 4
3. Bidang Sarana dan Administrasi 4
4. Bidang Keuangan 4
B. Penjabaran Program dalam Semester . 5
C. Penjabaran Masing-Masing Program 6
D. Matrik Kegiatan Dewan Kerja Penggalang .. 9
BAB III : ORGANISASI . 10
A. Susunan Majelis Pembimbing Gugus Depan .. 10
B. Susunan Pengurus Dewan Kerja Penggalang .. 10
C. Dewan Kehormatan Penggalang .. 11
D. Struktur Organisasi Gudep 1527-1528 . 12
BAB IV : PENUTUP .. 13
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gerakan pramuka sebagai satu-satunya wadah kegiatan kepanduan di sekolah merupakan
tempat pendidikan bagi anak-anak yang dilaksanakan dengan penuh kegembiraaan, penuh
pendidikan dan dilakukan di luar jam-jam sekolah maupun jam-jam keluarga. Sebagai satu-
satunya kegiatan kepanduan, pramuka diharapkan dapat memberikan peranan penting dalam
peningkatan dan pembentukan sikap dan mental peserta didik pada sikap yang baik. Sikap
baik dalam arti berakhlaq mulia, sopan santun, rasa cinta kasih sesama, patriot, suci dalam
segala pikiran maupun perbuatan, bertaqwa kepada tuhannya, dan segala sikap yang lain.
Pendek kata diharapkan anggota pramuka dapat melaksanakan Dasa Dharma dan Tri Satya
yang merupakan kode etik dan janji pramuka.
Untuk lebih berperan aktif dalam pembentukan sikap, dalam gerakan pramuka perlu
adanya keseragaman langkah bagi pengelola gerakan pramuka yang tergabung dalam suatu
gugus depan. Ada keterkaitan erat antara siswa didik sebagai anggota pramuka, pembina
pramuka dan unsur majelis pembimbing gugus depan. Tanpa kerja sama yang baik dari
unsur-unsur tersebut rasanya tidak mungkin pramuka berperan aktif dalam pembentukan
sikap peserta didik.
Oleh sebab itu untuk penyelarasan dan penyeragaman langkah, perlu disusun suatu
program kerja gugus depan yang berisikan segala sesuatu yang dapat mengatur langkah dan
gerak dari gugus depan tersebut. Program kerja sebagai rambu-rambu pelakasanaan kegiatan
kepanduan di sekolah merupakan acuan yang wajib dilaksa-nakan oleh unsur-unsur pengelola
gugus depan tersebut.

B. Dasar Kegiatan
Yang menjadi dasar penyusunan program kerja gugus depan pramuka adalah:
1. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2015 tentang Gerakan Pramuka
2. Keputusan Munas No. 11/Munas/2013 Tahun 2013 tentang Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga Gerakan Pramuka
3. SK Gerakan Pramuka No. 220 Tahun 2007 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Pokok-pokok
Organisasi Gerakan Pramuka
4. SK Gerakan Pramuka No. 231 Tahun 2007 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Gugesdepan
Gerakan Pramuka
5. SK Gerakan Pramuka No. 202 Tahun 2011 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Sistem
Pendidikan dan Latihan Gerakan Pramuka
6. Program kerja sekolah yang dijabarkan dalam program kerja urusan kesiswaan SMP Negeri
23 Pati tahun pelajaran 2014/2015

C. Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dengan disusunnya program kerja ini:
1. Untuk memberikan arahan kepada pelaksana gugus depan agar pelakasanaan kinerja gugus
depan dapat berjalan dengan baik.
2. Sebagai sarana untuk peningkatan mutu pendidikan kepramukaan di sekolah.

D. Sasaran
Sasaran pelaksanaan program kerja ini adalah unsur-unsur yang terdapat dalam suatu gugus
depan yang meliputi:
1. Unsur Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus) yang diketuai oleh Kepala Sekolah
sebagai penguasa tertinggi di sekolah yang dibantu dengan Urusan Kesiswaan, Urusan
Kurikulum dan unsur guru yang ditunjuk.
2. Unsur Pembina Pramuka yang merupakan unsur pelaksana kegiatan secara teknis dalam
suatu gugus depan yang meliputi Instruktur Pramuka, pelatih atau anggota pramuka yang
minimal mempunyai sertifikat Kursus Mahir Dasar (KMD)
3. Para pembantu pembina yang meliputi anggota penegak, pandega dan unsur lain yang
mempunyai keinginan untuk menjadi anggota pramuka dengan baik.
4. Peserta didik yang menjadi obyek pendidikan kepramukaan di sekolah yang terbagi dalam
siaga, penggalang, penegak dan pandega sesuai dengan tingkat umur peserta didik.
BAB II
PROGRAM KERJA GUGUS DEPAN

Program kerja gugus depan 1527-1528 pangkalan SMP Negeri 23 Pati dapat dijelaskan dan
dirinci sebagai berikut didasarkan pada waktu pelaksanaan program. Masing-masing
kelompok program terbagi dalam beberapa bidang kegiatan. Adapun pembagian kelompok
program tersebut adalah sebagai berikut:

A. Program Umum Gugus Depan 1527-1528


1. Bidang Kegiatan dan Latihan Peserta Didik
a. Pencapaian SKU
b. Pencapaian SKK
1) 2 macam SKK Agama
2) 2 macam SKK Patriotisme dan Seni Budaya
3) 2 macam SKK Ketangkasan dan Kesehatan
4) 2 macam SKK Ketrampilan dan Teknik Pembangunan
5) 2 macam SKK Sosial, Perikemanusiaan, Gotong Royong, Ketertiban Masyarakat,
Perdamaian Dunia dan Lingkungan Hidup
c. Peningkatan mutu latihan pramuka penggalang meliputi jenjang:
1) Ramu
2) Rakit
3) terap
d. Gladian Pemimpin Regu ( 1 kali )
e. Perkemahan Sabtu Minggu ( 2 kali )
f. Penjelajahan dan Survival Game
g. Perkemahan Jauh dan Pengembaraan ( 1 kali )
h. Lomba Tingkat I ( 1 kali )
i. Bakti Masyarakat ( 2 kali )
j. Pengiriman regu penggalang ke tingkat Kwartir Ranting, Cabang, Daerah maupun Kwartir
Nasional
k. Kegiatan dengan gugus depan lain ( latihan gabungan )
l. Musyawarah Gugus Depan
2. Bidang Pendidikan Orang Dewasa
a. Pengiriman pembina untuk kegiatan Kursus Pembina yang diadakan Kwartir Ranting
maupun Kwartir Cabang
b. Pengiriman pembina untuk pertemuan-pertemuan yang diadakan Kwartir Ranting maupun
Kwartir Cabang
c. Pertemuan-pertemuan Gugus Depan yang dihadiri oleh MABIGUS
3. Bidang Sarana dan Administrasi
Mengusahakan tersedianya kelengkapan administrasi dan sarana penunjang kegiatan Gugus
Depan yang meliputi :
a. Buku Induk Gugus Depan
b. Stempel Gugus Depan
c. Buku Jurnal Kegiatan Harian / Mingguan
d. Buku Administrasi Keuangan
e. Daftar Inventaris Gugus Depan
f. Buku Tamu Gugus Depan
g. Laporan Semester Gugus Depan
h. Catatan Peristiwa Penting Gugus Depan ( Log Book )
i. Pengadaan Tenda Pramuka
j. Pengadaan alat pionering yang meliputi :
1) tali pramuka
2) tongkat
k. Bendera Gugus Depan yang meliputi:
1) Bendera Tunas Kelapa
2) Bendera Pramuka Sedunia Putra
3) Bendera Pramuka Sedunia Putri
l. Bendera Semaphore dan Morse
m. Papan Nama Gugus Depan
n. Sanggar Bakti Pramuka
4. Bidang Keuangan
Penggalian dana kegiatan yang meliputi:
a. Iuran peserta didik
b. Sumbangan dari MABIGUS
c. Sumbangan lain yang tidak mengikat

B. Penjabaran Program dalam Semester


Penjabaran program dalam semester gugus depan 1527-1528 pangkalan SMP Negeri 23 Pati
dapat dijabarkan sebagai berikut:
PROGRAM KERJA GUGUS DEPAN SEMESTER GANJIL
Bulan : JULI 2014 sampai dengan DESEMBER 2014

N BULAN KE
KEGIATAN KET.
o 1 2 3 4 5 6
Penerimaan anggota
1. X
pasukan
2. Latihan SKU Penggalang X X X X X X
Ujian SKU Penggalang
3. X X X
Ramu
Ujian SKU Penggalang
4. X X X
Rakit
Ujian SKU Penggalang
5. X X X
Terap
6. Ujian SKK X X X X X X
7. Gladian Pemimpin Regu X
Perkemahan Dekat (
8. X X
Persami )
Penjelajahan dan Halang
9. X
Rintang
1
Bakti Masyarakat X
0.
1
Latihan gabungan X X
1.
1
Lomba Tingkat I X
2.
1 Laporan Semester ke
X
3. Kwartir Ranting
1
Iuran anggota X X X X X X
4.
Mengikuti kegiatan di menye
1
Kwartir Ranting, Cabang, suaika
5
Daerah maupun Nasional n

PROGRAM KERJA GUGUS DEPAN SEMESTER GENAP


Bulan : JANUARI 2015 sampai dengan JUNI 2015

N BULAN KE
KEGIATAN KET.
o 1 2 3 4 5 6
1. Latihan SKU Penggalang X X X X X
Ujian SKU Penggalang
2. X X X X
Ramu
Ujian SKU Penggalang
3. X X X
Rakit
Ujian SKU Penggalang
4. X X
Terap
5. Ujian SKK X X X X X
6. Gladian Pemimpin Regu X
Perkemahan Dekat (
7. X
Persami )
Penjelajahan dan Halang
8. X X
Rintang
9. Bakti Masyarakat X
1
Latihan gabungan X
0.
1 Laporan Semester ke
X
1. Kwartir Ranting
1
Iuran anggota X X X X X X
2.
1 Pemilihan pramuka
X
3. terbaik
1 Musyawarah Gugus
X
4. Depan
1 Perkemahan jauh dan
X
5. Pengembaraan
Mengikuti kegiatan di menye
1
Kwartir Ranting, Cabang, suaika
6.
Daerah maupun Nasional n

C. Penjabaran Masing-Masing Program


1. Latihan Rutin Pramuka
Dalam melakukan kegiatan latihan rutin dapat dirinci sebagai berikut :
a. Latihan rutin dilakukan setiap hari Sabtu dimulai pukul 14.30 WIB dan diakhiri pukul 16.30
WIB
b. Latihan rutin dilakukan dengan pemberian materi SKU dan SKK beserta praktek lapangan
c. Pemberi materi adalah Pembantu Pembina (penegak) dan Pembina Pramuka.
d. Rincian materi latihan rutin adalah :
1) PBB dan Upacara Pramuka
2) Pionering, tali temali, macam-macam ikatan
3) Sandi pramuka (huruf rahasia)
4) Pemahaman Dasa Dharma dan Tri Satya
5) Sejarah Pramuka
6) Syarat Kecakapan Umum (SKU) Penggalang Ramu, Rakit dan Terap
7) Syarat Kecakapan Khusus (SKK)
8) PDMPK (Prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan)
9) Perkemahan Pramuka dan LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan)
10) Tanda Jejak, Survival Game dan Penjelajahan
11) Permainan Pramuka
12) Kegiatan lain yang berupa kegiatan insidental dan spontan
2. Penggalian Dana melalui Iuran Anggota
Dalam menunjang setiap kegiatan diperlukan dana. Untuk penggalian dana dilakukan dengan
mengadakan penarikan iuran pada tiap anggota setiap latihan rutin. Besarnya iuran tiap
anggota adalah Rp. 500,- sampai dengan Rp. 1.000,- (tergantung hasil keputusan Rapat
Anggota dengan Dewan Kerja Penggalang).
3. Musyawarah Gugus Depan
1) Musyawarah Gugus Depan (Mugus) adalah bentuk kegiatan musyawarah yang dilakukan
anggota gugus depan untuk menentukan kelangsungan hidup gugus depan.
2) Dalam kegiatan ini dirumuskan :
1) Susunan Majelis Pembimbing Gugus Depan
2) Susunan Pembina Gugus Depan
3) Susunan Pengurus Gugus Depan (Dewan Kerja Penggalang)
3) Peserta dalam kegiatan Musyawarah Gugus Depan (MUGUS) adalah:
1) Perwakilan Anggota yang meliputi Pinru dan Wapinru setiap regu
2) Pemimpin Regu Utama (Pratama) putra dan putri
3) Pembina pramuka
4) Pembantu pembina yang terdiri para pramuka penegak
5) Unsur Mejelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus) yang meliputi Kepala Sekolah, Wakil
Kepala Sekolah, Pembina OSIS, dan unusur guru yang membidangi ekstrakurikuler Pramuka.
6) Unsur Komite Sekolah
7) Unsur Tokoh Masyarakat sekitar Gugus Depan
8) Unsur Kwartir Ranting diantaranya Andalan Ranting Urusan Penggalang
4) Kegiatan ini bisa dilakukan bersamaan dalam bentuk kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu di
sekolahan.
4. Kegiatan Perkemahan
a. Perkemahan Sehari (Persari)
1) Kegiatan Persari dilaksanakan pada bulan kedua dan kelima pada masing-masing semester
2) Kegiatan ini biasanya dimulai pukul 07.00 WIB dan diakhiri pada pukul 15.00 WIB (dalam
satu hari)
3) Kegiatan ini meliputi :
Penjelajahan dan halang rintang
Kegiatan latihan gabungan
Kegiatan kunjungan ke tempat rekreasi (Trowulan, Gunung Pucangan, Wonosalam, dll)
Latihan Dasar Kepemimpinan
Lomba Tingkat I
b. Perkemahan Dekat (di Sekolah)
1) Kegiatan Persami dilaksanakan pada bulan ke empat tiap-tiap semester
2) Bentuk kegiatan adalah kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu yang dimulai pada pukul 14.30
WIB (sabtu) dan diakhiri pada pukul 09.00 WIB (Minggu)
3) Macam-macam kegiatan yang dapat dimasukkan dalam kegiatan Persami adalah :
Penerimaan tamu pasukan (anggota baru)
Kegiatan Pelantikan Kenaikan Tingkat
Kegiatan Musyawarah Gugus Depan (MUGUS)
Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK)
c. Perkemahan Jauh (di luar sekolah/diluar kabupaten)
1) Kegiatan ini dilakukan pada Akhir Semester
2) Pada semester ganjil (pertama) kegiatan ini ditempatkan di wisata dalam kabupaten Pati,
sedang pada semester genap (kedua) ditempatkan pada lokasi perkemahan yang berada di
luar kabupaten Pati.
3) Waktu melakukan kegiatan ini adalah minimal 2 hari maksimal 5 hari
4) Kegiatan yang dapat dimasukkan pada kegiatan ini adalah:
Kegiatan Bakti Masyarakat
Kegiatan Kemah Wisata (Jambore)
Kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK)
Kegiatan Lomba Tingkat I
Kegiatan Pengembaraan atau Kemah Beranting
Gladian Pemimpin Regu
5. Laporan Rutin Ke Kwartir Ranting
a. Kegiatan ini dilakukan pada tiap bulan
b. Hal-hal yang dilaporkan adalah keadaan gugus depan yang meliputi keanggota gugus depan
dan kegiatan yang telah dilakukan gugus depan pada kurun waktu tertentu.
6. Kegiatan Insidental
a. Kegiatan ini dilakukan diluar program yang tidak mengikat
b. Kegiatan ini dilakukan sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan
c. Macam kegiatan dalam kegiatan ini adalah
Kegiatan kunjungan ke anggota gugus depan karena sakit, bela sungkawa atau kegiatan lain
(berdasar undangan)
Mengikuti kegiatan yang berasal dari luar gugus depan (Kwaran, Kwarcab, Kwarda,
Kwarnas dan gudep lain)

D. Matrik Kegiatan Dewan Kerja Penggalang


Program kerja Dewan Kerja Penggalang gudep 1527-1528 SMP Negeri 23 Pati dapat
dijabarkan dalam matrik kegiatan. Adapun matrik kegiatan Dewan Kerja Penggalang Gudep
1527-1528 adalah sebagai berikut: (TERLAMPIR)
BAB III
ORGANISASI

A. Susunan Majelis Pembimbing Gugus Depan


Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus) disusun berdasarkan jabatan dinas di
suatu gugus depan. Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus) terdiri dari unsur pejabat di
sekolah tempat gugus depan tersebut berada. Adapun susunan Majelis Pembimbing Gugus
Depan dapat dibarkan sebagai berikut :
1. Ketua : (Kepala Sekolah)
2. Anggota : (Wakil Kepala Sekolah)
3. Anggota : ( Pembina OSIS)
4. Anggota : (Guru)
5. Anggota : (Guru)
6. Anggota : (Guru)
7. Anggota : (Guru)
8. Anggota : (Pembina Harian Putra)
9. Anggota : (Pembina Harian Putri)

B. Susunan Pengurus Dewan Kerja Penggalang


Dewan Kerja Penggalang pada prinsipnya adalah dewan kerja gugus depan yang
bertugas melaksanakan kegiatan kepramukaan di lingkungan gugus depan. Dewan kerja
bertugas membantu pembina pramuka dalam menjalankan aktivitas kepramukaan. Disamping
itu Dewan Kerja Penggalang juga berfungsi panitia kegiatan untuk kegiatan-kegiatan
kepramukaan yang bersifat kecil, mendadak, atau rutin. Sedang untuk kegiatan yang bersifat
besar atau insidental dibentuk panitia kegiatan tersendiri.
Unsur yang membentuk Dewan Kerja Penggalang terdiri dari pemimpin regu utama
(pratama), pemimpin regu (pinru) dan wakil pemimpin regu (wapinru), serta anggota
pramuka yang dianggap cakap. Adapun susunan pengurus Dewan Kerja Penggalang Gudep
1527-1528 SMP Negeri 23 Pati sebagai berikut:
1. Ketua : (kelas VIII A)
2. Wakil Ketua : (kelas VII B)
3. Sekretaris I : (kelas VIII A)
4. Sekretaris II : (kelas VIII B)
5. Bendahara I : (kelas VIII A)
6. Bendahara II : (kelas VII B)
7. Seksi-Seksi :
a. Bidang Kegiatan dan Operasional Teknik Kepramukaan (Giatoptekpram):
1. (kelas VIII D)
2. (kelas VII B)
3. (kelas VIII C)
4. (kelas VIII E)
b. Bidang Adminsitrasi dan Organisasi
1. (kelas VIII C)
2. (kelas VIII E)
3. ((kelas VII A)
4. ((kelas VIII B)
c. Bidang Hubungan Masyarakat
1. (kelas VIII E)
2. (kelas VII A)
3. (kelas VII E)
4. (kelas VIII A)

C. Dewan Kehormatan Penggalang


Dewan Kehormatan Penggalang terdiri atas anggota pramuka yang sudah mencapai
Terap dan sudah kelas III. Dewan Kehormatan bekerja jika diperlukan dalam kegiatan
insidental. Dewan Kehormatan Penggalang mempunyai tugas memberikan masukan, saran
atau nasehat serta membantu pembina dalam memberikan penilaian terhadap kinerja Dewan
Kerja Penggalang. Adapun susunan Dewan Kehormatan Penggalang adalah :
1. Ketua :
2. Anggota :
3. Anggota :
4. Anggota :
5. Anggota :
6. Anggota :
7. Anggota :
8. Anggota :
9. Anggota :
10. Anggota :
11. Anggota :

D. Struktur Organisasi Gudep 1527-1528


BAB IV
PENUTUP

Demikian program kerja Gugus Depan 1527-1528 Pangkalan SMP Negeri 23 Pati
tersusun, dengan harapan dapat menjadi acuan bagi gerak dan kerja pramuka di gugus depan.
Disamping itu program kerja ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi sekolah dalam
menentukan kebijakan yang berhubungan dengan kegiatan kepramukaan pada SMP Negeri
23 Pati.
Perlu disadari bahwa dalam penyusunan program kerja ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh sebab itu saran dan kritik sangat diharapkan demi perbaikan dan
penyempurnaan program kerja ini. Akhirnya semoga program kerja ini dapat bermanfaat bagi
semua.

BERBUDI BAWA LAKSANA, JER BASUKI MAWA BEA