Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENCELUPAN 2

Pencelupan Kain Poliester dengan Zat Warna Dispersi Sistim Exhaust Metoda HTHP

Disusun oleh:

Kelompok : 1

Anggota : Afrizal Nurdiansyah (15020063)

Hasanul Arifin (15020067)

Nur Isniah Abrivianti (15020082)

Shanti Rahmawati (150200 )

Grup :3K3

Dosen : Hj. Hanny H. K., S.Teks.

Asisten Dosen : - Samuel M, S.ST

- Yayu E. Y., S.ST.

Tanggal : Jumat, 08 September 2017

POLITEKNIK STTT BANDUNG

2017

Pencelupan Kain Poliester dengan Zat Warna Dispersi Sistim Exhaust Metoda HTHP
I. MAKSUD DAN TUJUAN
1.1. Maksud

Maksud dari proses pencelupan adalah untuk memberikan warna pada serat poliester dengan
menggunakan zat warna dispersi metoda HTHP secara merata dan permanen dengan variasi waktu.

1.2. Tujuan

Untuk mengetahui pengaruh variasi waktu pada proses pencelupan poliester dengan zat warna dispersi
dengan metoda exhaust sistem HTHP, perbandingan hasil celupan serta menganalisa ketuaan warna
dengan spektrofotometer dan tahan luntur warna terhadap gosokan basah dan kering.

II. TEORI DASAR


2.1 Serat Poliester
Serat polyester ditemukan oleh C. Arother dan kemudian dikembangkan oleh Jr.
Whinfield dan Jt. Dickson dari Calico Printers Association. Terbuat dari etilena glikol dan asam
tereftalat dengan pemintalan leleh.
Macam-macam nama polyester :

Terylene, dibuat oleh ICI dari Inggris.


Tetoron, diproduksi oleh Jepang.
Dacron, dibuat oleh Dupon.
Trevira, diproduksi oleh Jerman.

Serat polyester adalah serat sintetik yang terbuat dari hasil polimerisasi etilena glikol
dengan asam tereftalat melalui proses polimerisasi kondensasi. Hasil polimerisasi berupa chip
atapun polimer leleh, yang kemudian di lakukan proses spinning untuk membentuk fiber.
Pembentukan fiber dilakukan dengan temperatur di atas titik leleh polyester, dengan bantuan
gear pump yang menentukan ukuran fiber yang keluar melalui spinneret. Spinneret disini akan
menentukan cross section atau bentuk dari fiber yang diinginkan, seperti bulat, segitiga, dan
lain-lain. Selanjutnya ribuan helai serat panjang ini disatukan dan ditarik serta diletakkan di
dalam can. Serat-serat dari bebarapa can kemudian ditarik (draw) bersama sama sehingga
didapatkan serat dengan ketebalan tertentu biasanya dinyatakan dengan satuan denier. Pada
proses peregangan ini diberikan spin finish oil yang berfungsi mengurangi elektro statik yang
terjadi pada saat serat polyester diproses pada mesin mesin pemintalan berikutnya. Setelah
melalui proses peregangan selanjutnya masuk ke proses crimping. Kemudian serat tadi
dipotong potong menggunakan rotary cutter dengan panjang sesuai dengan keperluan, misalnya
38 mm, 44 mm, 51 mm dan lain sebagainya. pada saat proses pemotongan serat diberikan
hembusan agar serat-serat yang telah terpotong pendek-pendek dapat terurai satu sama lain.
Serat yang telah selesai dipotong dikemas pada mesin baling press dengan standar berat sekitar
350 kg per bal. Selain kehalusan (denier) serat dan panjang serat, kilau (luster) juga merupakan
spesifikasi yang sangat penting, misalnya bright, semi dull atau dull. Serat poliester merupakan
bahan baku bagi pabrik pemintalan (spinning) yang membuat benang pintal. Di pabrik
pemintalan serat poliester biasanya diproses untuk produk benang pintal poliester 100% atau
cempuran dengan serat alam atau serat sintetik lainnya. Misalnya poliester/katun,
polyester/rayon, polyester/rami, polyester/flax, polyester/acrilik dlsb.

Gambar 2.1 Struktur kimia polyester

Sifat kimia serat poliester :


Tahan sinar dan berkurang kekuatannya dalam penyinaran yag lama.
Tahan jamur, serangga dan bakteri.
Tahan asam lemah tetapi tidak tahan basa kuat.
Rusak pada pemanasan diatas 2500C.

Sifat fisika serat polyester :

Kekuatan dan mulur keadaan basah sama dengan keadaan kering kekuatan dan mulur
Tetoron, Trevira dan terylene adalah 4,5 gram/denier dengan mulur 25% sedangkan
kekuatan dan mulur Dacron adalah 4 gram/denier dengan mulur 40%.
Mempunyai elastisitas yang baik sehingga tahan kusut.
MR dalam kondisi standar adalah 0,4% sedangkan dalam kelembaban relatif 100% adalah
0,6 0,8%.
Berat jenisnya 1,38.
Titik leleh di udara 2500 C.
Terylene mengkeret 7% lebih bila direndam di air mendidih.
Dacron mengkeret 10 14% bila direndam 70 menit.
Tetoron mengkeret 7% bila direndam dalam air mendidih.
Penampang serat polyester :

Penampang melintang : bulat bersih.


Penampang membujur : berbentuk silinder, berbintik dan lapisan luar tebal.

Gambar 2.2 penampang serat polyester

Hal yang penting untuk mendapatkan perhatian pada proses serat polyester di pabrik
pemintalan adalah timbulnya elektro statis pada saat serat mengalami gesekan, baik antar serat
dengan serat sendiri dan juga antara serat dengan metal atau karet yang merupakan bagian
mesin yang bergesekan langsung dengan serat yang diproses. Elektro statik ini berdampak
kepada ketidak-lancaran proses pemintalan seperti terjadinya serat menggulung (lapping) pada
rol-rol yang berputar atau serat menyumbat (choking) pada corong atau terompet. Untuk
mengurangi gejala elektro statik ini biasanya ditempuh hal-hal sebagai berikut : Pada serat
diberikan anti statik atau spin finish oil, mesin-mesin produksi dibumikan (grounding) dan
mengatur suhu dan kandungan kelembaban udara di ruangan pabrik, Misalnya suhu 30 derajat
Celcius dan kelembaban udara (relative humidity) 53% di ruangan Ring Spinning.

Gambar 2.3 pembuatan serat polyester


Gambar 2.4 Serat polyester

Poliester termasuk zat kimia yang alami, seperti kutin dari kulit ari tumbuhan, maupun
zat kimia sintetis seperti polikarbonat dan polibutirat.

Dapat diproduksi dalam berbagai bentuk seperti lembaran dan bentuk 3 dimensi,
poliester sebagai termoplastik bisa berubah bentuk sehabis dipanaskan. Walau mudah terbakar
di suhu tinggi, poliester cenderung berkerut menjauhi api dan memadamkan diri sendiri saat
terjadi pembakaran. Serat poliester mempunyai kekuatan yang tinggi dan E-modulus serta
penyerapan air yang rendah dan pengerutan yang minimal bila dibandingkan dengan serat
industri yang lain.

Kain poliester tertenun digunakan dalam pakaian konsumen dan perlengkapan rumah
seperti seprei ranjang, penutup tempat tidur, tirai dan korden. Poliester industri digunakan
dalam pengutan ban, tali, kain buat sabuk mesin pengantar (konveyor), sabuk pengaman, kain
berlapis dan penguatan plastik dengan tingkat penyerapan energi yang tinggi. Fiber fill dari
poliester digunakan pula untuk mengisi bantal dan selimut penghangat.

Gambar 2.5 kain poliester


Kain dari poliester disebut-sebut terasa tak alami bila dibandingkan dengan kain
tenunan yang sama dari serat alami (misalnya kapas dalam penggunaan tekstil). Namun kain
poliester memiliki beberapa kelebihan seperti peningkatan ketahanan dari pengerutan.
Akibatnya, serat poliester kadang-kadang dipintal bersama-sama dengan serat alami untuk
menghasilkan baju dengan sifat-sifat gabungan.

Poliester juga digunakan untuk membuat botol, film, tarpaulin, kano, tampilan kristal
cair, hologram, penyaring, saput (film) dielektrik untuk kondensator, penyekat saput buat kabel
dan pita penyekat.

Poliester kristalin cair merupakan salah satu polimer kristalin cair yang digunakan
industri yang pertama dan digunakan karena sifat mekanis dan ketahanan terhadap panasnya.
Kelebihan itu penting dalam penggunaannya sebagai segel mampu kikis dalam mesin jet.

Poliester keras panas (thermosetting) digunakan sebagai bahan pengecoran, dan resin
poliester chemosetting digunakan sebagai resin pelapis kaca serat dan dempul badan mobil
yang non logam. Poliester tak jenuh yang diperkuat kaca serat banyak digunakan dalam bagian
badan dari kapal pesiar serta mobil.

2.2 Zat Warna Dispersi


Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang terbuat secara sintetik. Kelarutannya
dalam air kecil sekali dan larutan yang terjadi merupakan dispersi atau partikel-partikel yang
hanya melayang dalam air.

Zat warna dispersi mula-mula digunakan untuk mewarnai serat selulosa. Kemudian
dikembangkan lagi, sehingga dapat digunakan untuk mewarnai serat buatan lainnya yang
lebih hidrofob dari serat selulosa asetat, seperti serat poliester, poliamida, dan poliakrilat.

Zat warna dispersi merupakan zat warna yang terdispersi dalam air dengan bantuan zat
pendispersi. Adapun sifat-sifat umum zat warna dispersi adalah sebagai berikut:

1. Zat warna dispersi mempunyai berat molekul yang relatif kecil (partikel 0,5-2).
2. Bersifat non-ionik terdapat gugus-gugus fungsional seperti NH2, -NHR, dan-OH.
Gugus-gugus tersebut bersifat agak polar sehingga menyebabkan zat warna sedikit larut
dalam air.
3. Kelarutan zat warna dispersi sangat kecil, yaitu 0,1 mg/l pada suhu 80C.
4. Tidak megalami perubahan kimia selama proses pencelupan berlangsung.

Penggolongan Zat Warna Dispersi


Berdasarkan ketahanan sublimasinya, zat warna dispersi dikelompokkan menjadi 4
golongan yaitu :

1. Golongan A
Zat warna dispesi golongan ini mempunyai berat molekul kecil sehingga sifat
pencelupannya baik karena mudah terdispersi dan mudah masuk ke dalam
serat, sedangkan ketahanan sublimasinya rendah yaitu tersublimasipada suhu
170C. Pada umumnya zat warna dispersi golongan ini digunakan untuk
mencelup serat rayon asetat, tetapi juga digunakan untuk mencelup poliester
pada suhu 100C tanpa penambahan zat pengemban.

2. Golongan B (E)
Zat warna dispersi golongan ini memiliki sifat pencelupan yang baik dengan
ketahanan sublimasi cukup, yaitu tersublim penuh pada suhu 190C. Zat warna
golongan B ini sangatbaik untuk pencelupan poliester baik dengan cara
carrier/pengemban pada suhu didih (100C) maupun cara pencelupan suhu
tinggi (130C).

3. Golongan C (SE)
Zat warna dispersi golongan ini mempunyai sifat pencelupan dengan
ketahanan sublimasi tinggi, yaitu tersublim penuh pada suhu 200C, bisa
digunakan untuk mencelup cara carrier, suhu tinggi ataupun cara thermosol.

4. Golongan D (S)
Zat warna dispersi golongan ini mempunyai berat molekul paling besar
diantara keempat golongan lainnnya sehingga mempunyai sifat pencelupan
paling jelek karena sukar terdispersi dalam larutan dan sukar masuk kedalam
serat. Akan tetapi, zat warna golonganD ini memiliki ketahanan sublimasi
paling tinggi yaitu tersublimasi penuh pada suhu 210C. zat warna ini tidak
digunakan untuk pencelupan dengan zat pengemban, namun sangat baik
apabila digunakan untuk pencelupan suhu tinggi dan cara thermosol.

Adapun golongan zat warna disperse dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel-1. Golongan Zat Warna Dispersi Berdasarkan Ketahanan Sublimasinya
Bentuk Sumitomo Suhu Suhu Metoda Celup
Kelompok
molekul BASF sublimasi Termosol HT/HP Carrier
Thermosol
A 1700C 1800C 1300C 1000C

B E 1900C 2000C X X V
C SE 2000C 2100C V V V

D S 2100C 2200C V V x

Berdasarkan sturuktur kimianya, zat warna dispersi terbagi menjadi 3 golongan


yaitu:

1. Golongan Azo (-N=N-)

C2H5

O2N N N N

C2H4OH

2. Golongan Antrakuinon
NO2 O OH

OH O NH

3. Golongan Difenil amin

N SO2N
H
NH
Sifat-sifat Umum Zat Warna Dispersi

1. Sifat dasar mempunyai berat molekul yang rendah dengan inti kromofor,
diantaranya : azo, antrakuinon, dan dipenilamina.
2. Meleleh pada temperatur tinggi (lebih besar dari pada 150 0C), kemudian dapat
mengkristal lagi.
3. Sifat dasar adalah non ionic meskipun mempunyai gugus OH, -NH2, dan
gugus NHR, dansebagainya yang bertindak sebagai gugus pemberi (donor)
hydrogen untuk mengadakan ikatan dengan serat (gugus karbonil).
4. Gugus OH, -NH2, dan gugus fungsional yang sejenis menyebabkan zat warna
dispersi sedikit larut dalam air ( 0,1 miligram/l), tapi mempunyai kejenuhan
yang tinggi pada serat pada kondisi pencelupan.
5. Penambahan zat pendispersi ke dalam larutan celupnya akan menyebabkan zat
warna dispersi stabil dalam air.
6. Secara relatif kerataan penyerapan zat warna dalam serat adalah tinggi (10 50
mg/g serat).

Ikatan yang utama antara zat warna disperse dengan poliester adalah ikatan hidrofobik,
namun untuk beberapa kasus dapat pula terjadi ikatan hydrogen atau ikatan dwi kutub.

Dalam perdagangan umumnya zat warna disperse mengandung gugus aromatic dan alifatik
yang mengakibatkatkan gugus fungsional seperti : -OH, -NH2,-NHR. Gugus fungsional
tersebut merupakan pengikat dipol atau dwi kutub juga membentuk ikatan hydrogen dengan
gugus karboknil atau gugus asetil. Berikut adalah reaksi terjadinya ikatan hydrogen pada
proses pencelupan serat poliester dengan zat warna dispersi.

- + - +

O2N N N N H O C
Ikatan hidrogen
H OH
2.4 Zat Pendispersi
Zat warna dispersi bersifat hidrofob dan kelarutannya didalam air sangat kecil sekali. Oleh
karena itu partikel zat warna dispersi yang tidak larut tersebut harus didispersikan secara
homogen didalam larutan. Untuk menjamin kestabilan pendispersian dan mencegah agregasi
zat warna pada suhu tinggi perlu dibantu dengan zat pendispersi. Zat ini berupa suatu senyawa
surfaktan anionik atau senyawa polielektrolit anionik (turunan lignosulfonat) yang tahan suhu
tinggi dan bekerja dengan cara bagian hidrofob dari zat pendispersi menarik partikel zat warna
dan bagian hidrofil yang bermuatan negatif mengarah ke larutan dan menjaga jarak antar
partikel zat warna agar tidak beragregasi sehingga partikel zat warna tetap terdispersi secara
homogen didalam larutan.

2.5 Pencelupan HT/HP


Pencelupan dengan suhu tinggi selalu disertai dengan tekanan tinggi. Tekanan berfungsi untuk
menaikkan suhu proses dan membantu difusi zat warna ke dalam serat. Pencelupan dilakukan
pada mesin tertutup tanpa bantuan zat pengemban. Pencelupan metoda ini banyak dilakukan
pada serat poliester karena dianggap efektif akibat :
Perpindahan atau pergerakan rantai molekul serat poliester mulai aktif
pada suhu tinggi (120-130oC) sehingga memberi ruang bagi molekul-molekul zat warna untuk
meningkatkan penyerapan zat warna ke dalam serat.
Kecepatan difusi zat warna dispersi mulai meningkat pada suhu tinggi
o
(120-130 C) dan kecepatan penyerapan serta migrasi zat warna menjadi lebih besar sehingga
akan mempercepat proses.
Pencelupan mulai lebih cepat karena kelarutan zat warna dispersi pada
suhu tinggi (120-130oC) mulai meningkat.

Beberapa keuntungan penggunaan metoda ini adalah dapat mencelup warna tua, hemat bahan,
waktu dan biaya proses, adsorbsi lebih cepat, kerataan lebih baik, ketahanan luntur baik,
penetrasi lebih baik, dan dapat menggunakan zat warna dispersi dengan ketahanan sinar yang
lebih baik dan sukar menguap tetapi hanya terserap sedikit pada pencelupan di bawah
temperatur 100oC.

Mekanisme lain menjelaskan demikian : zat warna dispersi berpindah dari keadaan agregat
dalam larutan celup masuk kedalam serat sebagai bentuk molekuler. Pigmen zat warna
dispersi larut dalam jumlah yang kecil sekali, tetapi bagian zat warna yang terlarut tersebut
sangat mudah terserap oleh bahan. Sedangkan bagian yang tidak larut merupakan timbunan
zat warna yang sewaktu-waktu akan larut mempertahankan kesetimbangan.

Bagian zat warna dalam bentuk agregat, pada suatu saat akan terpecah menjadi terdispersi
monomolekuler. Zat warna dispersi dalam bentuk ini akan masuk ke dalam serat melalui
pori-pori serat. Untuk lebih jelasnya, sifat zat warna dispersi dalam larutan celup dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.

Partikel zat warna dispersi Agregasi Agregat zat warna

(<1) (10)

Zat warna terdispersi


Pengagregasian
monomolekuler
Pecah

Pecah + pendispersian kembali

Serat
Pencelupan dimulai dengan adsorpsi zat warna pada permukaan serat, selanjutnya terjadi
difusi zat warna dari permukaan ke dalam serat. Adsorpsi dan difusi zat warna ke dalam serat
dapat dipercepat dengan menaikkan temperatur proses.

Dalam air, serat poliester akan memiliki gaya dipol antar serat dimana ikatannya digambarkan
sebagai berikut:

O O
HO OC CO(CH 2) 2 O n H

Gaya Dipol
O O
HO OC CO(CH 2) 2 O n H

Gaya ini terjadi karena atom karbon bermuatan parsial positif (+)dan atom oksigen
bermuatan parsial negatif (-). Gaya dipol akan renggang pada saat pemanasan di atas 80oC
sehingga zat warna bisa masuk ke dalam serat.

Pada suhu tinggi, rantai-rantai molekul serat pada daerah amorf mempunyai mobilitas
tinggi dan pori-pori serat mengembang. Kenaikan suhu menyebabkan adsorpsi dan difusi zat
warna bertambah. Energi rantai molekul serat bertambah sehingga mudah bergeser satu
sama lain dan molekul zat warna dapat masuk ke dalam serat dengan cepat. Masuknya zat
warna ke dalam serat dibantu pula dengan adanya tekanan tinggi.

Rantai molekul serat poliester tersusun dengan pola zigzag yang rapi dan celah-celah yang
akan dimasuki zat warna sangat sempit. Rantai molekul sangat sulit untuk mengubah
posisinya. Akibatnya molekul zat warna sulit menembus serat dan pencelupan akan berjalan
sangat lambat bila dilakukan tanpa pemanasan dengan suhu tinggi. Zat warna akan
menempati bagian amorf dan terorientasi dari serat poliester. Pada saat pencelupan
berlangsung, kedua bagian tersebut masih bergerak sehingga zat warna dapat masuk di
antara celah-celah rantai molekul dengan adanya ikatan antara zat warna dengan serat.
Ikatan yang terjadi antara serat dengan zat warna mungkin merupakan ikatan fisika, tetapi
dapat pula merupakan ikatan hidrogen yang terbentuk dari gugusan amina primer pada zat
warna dengan gugusan asetil pada molekul serat.

O2N N=N NH O=C O C


I I

H CH3
ikatan hidrogen

zat warna dispersi gugus ester


Demikian pula gaya-gaya Dispersi London (Van der Waals) yang dapat terjadi dalam
pencelupan tersebut, seperti diilustrasikan dalam gambar di bawah ini :

I II
Tolakan
Tarikan
Tolakan
+ Tarikan
+ ikatan Van Der Waals
A B

Dalam gambar di atas dimisalkan atom A adalah atom zat warna, sedangkan atom B adalah
serat poliester. Pada saat atom A mulai berdekatan dengan atom B, maka salah satu atom
cenderung untuk mendekati atom tetangganya. Smapai pada jarak tertentu maka pada kedua
atom akan terjadi antaraksi, dimana awan elektron I pada atom A akan tertarik pada inti atom
B, awan elektron II pada atom B akan tertarik pada inti atom A, awan elektron I dan awan
elektron II saling tolak, dan inti atom A akan menolak inti atom B. Antaraksi tersebut akan
menghasilkan energi tarik-menarik. Interaksi 2 kutub juga mungkin mengambil peranan
penting dalam mekanisme pencelupannya.

-
O+ + - +
N= =NN= =N H O= C O C
-
O I I

H CH3

Ikatan dua kutub

Zat warna yang bersifat planar akan lebih mudah terserap daripada zat warna yang bukan
planar. Hal ini menunjukkan pertentangan terhadap teori solid solution.

2.5 Reduction Cleaning


Reduktion cleaning berguna untuk memperbaiki tahan gosok, biasanya pencucian reduksi
dikerjakan pada larutan yang mengandung natrium hidrosulfit, natrium hidroksida dan
lissolamin. Oleh karena poliester berifat hidrofob maka reaksi reduksi tersebut hanya terjadi
dipermukan serat saja dan tidak akan mereduksi zat warna yang telah terserap kedalam serat.
Reduksi clearing berguna untuk menghilangkan zat warna yang tidak terfiksai oleh serat.
Setelah pencelupan suhu tinggi ini bahan harus dicuci dengan larutan yang mengandung
deterjen.
Beberapa keuntungan dapat diperoleh dengan metoda ini. Misalnya dapat mencelup warna
tua tanpa penambahan zat pengemban, mengurangi waktu pencelupan dan biaya pencelupan.
Reaksi

NaOH + 2 Na2S204 2 H2O Na2SO4 + 6 Hn

2.6 Mekanisme Pencelupan


Mekanisme pencelupan zat warna dispersi adalah solid solution dimana suatu zat padat
akan larut dalam zat padat lain. Dalam hal ini, zat warna merupakan zat padat yang larut
dalam serat.

Mekanisme lain menjelaskan demikian : zat warna dispersi berpindah dari keadaan agregat
dalam larutan celup masuk kedalam serat sebagai bentuk molekuler. Pigmen zat warna
dispersi larut dalam jumlah yang kecil sekali, tetapi bagian zat warna yang terlarut tersebut
sangat mudah terserap oleh bahan. Sedangkan bagian yang tidak larut merupakan timbunan
zat warna yang sewaktu-waktu akan larut mempertahankan kesetimbangan. Bagian zat
warna dalam bentuk agregat, pada suatu saat akan terpecah menjadi terdispersi
monomolekuler. Zat warna dispersi dalam bentuk ini akan masuk ke dalam serat melalui
pori-pori serat.

Pencelupan dimulai dengan adsorpsi zat warna pada permukaan serat, selanjutnya terjadi
difusi zat warna dar permukaan ke dalam serat. Zat warna akan menempati bagian amorf dan
terorientasi dari serat poliester. Pada saat pencelupan berlangsung, kedua bagian tersebut
masih bergerak sehingga zat warna dapat masuk di antara celah-celah rantai molekul dengan
adanya ikatan antara zat warna dengan serat. Ikatan yang terjadi antara serat dengan zat
warna mungkin merupakan ikatan fisika, tetapi dapat pula merupakan ikatan hidrogen yang
terbentuk dari gugusan amina primer pada zat warna dengan gugusan asetil pada molekul
serat.

2.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi


Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan zat warna dispersi :

Pengaruh suhu terhadap penyerapan pencelupan


Dalam proses pencelupan poliester dapat menggunakan zat warna dispersi diperlukan
pemanasan, dimana dalam proses pemanasan kelarutan zat warna akan bertambah besar,
molekul-molekul zat warna relatif bergerak lebih cepat dan aktif sehingga zat warna lebih
mudah masuk ke dalam serat.
Serat poliester dalam keadaan biasa, strukturnya padat dan kompak. Pada proses
pemanasan susunan rantai-rantai polimer pada bagian-bagian amorf akan mudah bergerak,
sehingga ruangan antar molekulnya menjadi lebih besar, maka molekul zat warna lebih
banyak masuk kedalam serat.

Dengan kenaikan suhu, kecepatan difusi zat warna akan bertambah besar karena energi
kinetik zat warna akan bertambah besar. Struktur molekul zat warna yang sederhana atau
lebih kecil akan mempunyai energi kinetik yang lebih besar dibandingkan dengan zat warna
yang mempunyai energi kinetik yang kecil dicampur, maka zat warna yang masuk lebih dulu
kedalam serat adalah yang mempunyai energi kinetik yang lebih besar, sehingga bisa
menghasilkan warna yang tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Pengaruh molekul zat warna


Pada pencelupan pada kain poliester ini salah satunya dipengaruhi oleh besar kecilnya
molekul zat warna. Semakin kecil molekul zat warna akan mempermudah zat warna untuk
masuk kedalam serat, karena serat poliester memiliki pori-pori yang sangat kecil sehingga
zat warna dispersi yang memiliki molekul kecil akan dengan sangat mudah larut dan
mewarnai serat poliester.

Pengaruh pengadukan yang aktif


Pencelupan kain poliester ini sangat dipengaruhi oleh pengadukan yang aktif karena
dengan pengadukan yang aktif akan membantu dan mempermudah penyerapan zat warna
untuk masuk kedalam serat, dimana zat warna akan bergerak secara aktif untuk menempel
dan terdorong masuk kedalam serat atau bahan.

2.7. Evaluasi Pencelupan


a. Ketuaan dan Kerataan Warna
Pengukuran dilakukan dengan mengunakan sistem ruang warna CIE Lab 1970. Contoh
uji diukur reflektansinya (% R) pada panjang gelombang 400 700 nm dengan selang 20 nm
sehingga dapat ditentukan panjang gelombang maksimum dengan nilai % R terendah, dan
nilai reflektansinya dikonversikan menjadi nilai ketuaan warna (K/S) berdasarkan persamaan
Kubelka-Munk sebagai berikut :

K/S
1 R
2

2R
Keterangan :
K : Koefisien penyerapan cahaya
S : Koefisien penghamburan cahaya
R : % reflektansi
Setelah diketahui K/S bahan tercelup, maka nilai K/S zat warna dapat diketahui
berdasarkan perhitungan berikut :
K/S zat warna = K/S bahan tercelup K/S bahan putih (sebelum dicelup)

b. Ketahanan Luntur Warna


Pengujian ini dimaksudkan untuk menguji penodaan dari bahan berwarna pada kain,
yang disebabkan oleh gosokan dari segala macam serat, baik dalam bentuk benang maupun
kain. Pengaruh gosokan tersebut diamati dalam keadaan kering maupun basah. Prinsip
pengerjaannya yaitu dengan menggosokkan kain putih kering maupun basah yang telah
dipasang pada Crockmeter bersama contoh uji dengan ukuran tertentu. Penodaan pada kain
putih dinilai dengan menggunakan Staining scale.

III. PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan

Alat Bahan

Gelas piala 100 ml


Pengaduk Kain Poliester
Gelas Ukur Zat anti sadah
Pipet volume Zat anti crereae
Mesin HT Dyeing Zat warna dispersi
Tabung Rapid/celup Zat pendispersi
Spektrofotometer Asam asetat 30%
Komputer Teepol

3.2 Resep

3.2.1 Pencelupan

Resep 1 2 3 4

1:20 1:20 1:20 1:20


Air (ml/l)

Zat Warna Dispersi 2 2 2 2


(% owf)
Ph 5 Ph 5 Ph 5 Ph 5
CH3COOH (ml/l)

1 1 1 1
Zat pendispersi (ml)

130 130 130 130


0
Suhu ( C)

30 40 50 60
Waktu (menit)

1 1 1 1
Zat anti crease

3.2.2 Pencucian reduksi

Resep Jumlah

teepol 1 ml/l

Suhu 700C

Waktu 10 menit

Vlot 1:20

3.3. Diagram Alir

Pembuatan larutan
Pencelupan pencucian
celup dan persiapan
bahan
Evaluasi :
Pengeringan
Ketuaan Warna
Tahan Gosok

3.4. Skema Proses

3.5.Fungsi Zat

Fungsi zat yang digunakan yaitu sebagai berikut.


Zat Warna Dispersi : Memberi warna pada kain poliester.
Asam Asetat : Pengatur pH larutan, suasana asam karena untuk menjaga
serat poliester tetap pada suasana asam.
Pendispersi : Mendispersikan zat warna sehingga merata kedalam larutan
celup dan mempercepat pembasahan serta untuk memberi pelarut pada zw dispersi.
Zat anti sadah :untuk mengikat ion dan logam penyebab kesadahan dalam air
proses agar menghindari kerusakan pada struktur zat warna.
Zat anti crease : sebagai zat penetrasi yang mengandung koloid pelindung
untuk zat warna masuk kedalam lipatan kain.
IV. HASIL PERCOBAAN
2.6 Perhitungan Resep
3 PERHITUNGAN RESEP HT/HP

RESEP 1 ( Waktu 30 menit)

RESEP 1 ( Waktu 30 menit)

Berat bahan = 3,43 gram

Vlot (larutan) =3,43 x 20= 68,6 ml/l


2 100
Zat warna = 100 x 3,43 x 1
= 6,86 ml/l

1
Zat pendispersi = 1000 x 68,6 = 0,068 ml/l

1
Zat anti sadah = 1000 x 68,6 = 0,068 ml/l

1
Zat ani crease = 1000 x 68,6 = 0,068 ml/l

1
CH3COOH 30% =1000 x 68,6 = 0,068 ml/l

RESEP 2 ( Waktu 40 menit)

Berat bahan = 3,66 gram

Vlot (larutan) =3,66 x 20= 73,2 ml/l


2 100
Zat warna = 100 x 3,66 x 1
= 7,32 ml/l

1
Zat pendispersi = 1000 x 73,2 = 0,073 ml/l

1
Zat anti sadah = 1000 x 73,2 = 0,073 ml/l

1
Zat ani crease = 1000 x 73,2 = 0,073 ml/l

1
CH3COOH 30% =1000 x 73,2 = 0,073ml/l

RESEP 3 ( Waktu 50 menit)

Berat bahan = 3,60 gram

Vlot (larutan) =3,60 x 20= 72 ml/l


2 100
Zat warna = 100 x 3,60 x 1
= 7,2 ml/l
1
Zat pendispersi = 1000 x 72 = 0,072 ml/l

1
Zat anti sadah = 1000 x 72 = 0,072 ml/l

1
Zat ani crease = 1000 x 72 = 0,072 ml/l

1
CH3COOH 30% =1000 x 72 = 0,072 ml/l

RESEP 4 ( Waktu 60 menit)

Berat bahan = 3,72 gram

Vlot (larutan) =3,72 x 20= 75,4 ml/l


2 100
Zat warna = 100 x 3,72 x 1
= 7,54 ml/l

1
Zat pendispersi = 1000 x 75,4 = 0,075 ml/l

1
Zat anti sadah = 1000 x 75,4 = 0,075 ml/l

1
Zat ani crease = 1000 x 75,4 = 0,075 ml/l

1
CH3COOH 30% =1000 x 75,4 = 0,075 ml/l

4.2 Data Percobaan

Kain 1 (orang 1) Kain 2 (orang 2) Kain 3 (orang 3) Kain 4 (orang 4)

4.3 Evaluasi
4.3.1 Tahan Luntur Warna terhadap gosokan

Hasil
Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4
pencelupan
Kering (1-5)
Basah (1-5)
4.3.2 Ketuaan Warna

Hasil
Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4
pencelupan
Nilai (1-5)
4.3.3 Kerataan Warna

Hasil
Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4
pencelupan
Nilai K/S

V. Diskusi Dan Kesimpulan


5.1 Diskusi
Pencelupan HT/HP merupakan pencelupan poliester dengan zat warna dispersi dengan
menggunakan suhu tinggi. Dalam pencelupannya digunakan zat anticrease sebagai zat penetrasi yang
mengandung koloid pelindung untuk zat warna masuk kedalam lipatan kain pada suhu tinggi, rantai-
rantai molekul serat pada daeah amorf mempunyai mobilitas tinggi dan pori-pori serat
mengembang. Kenaikan suhu menyebabkan absorpsi dan difusi zat warrna bertambah sehingga
pada pencelupannya warna yang dihasilkan cenderung tua.pencelupan mulai lebih cepat karena
kelarutan zat warna dispersi pada suhu tinggi mulai meningkat dan juga pada pencelupan dengan
suhu tinggi akan disertai dengan tekanan tinggi. Pada pencelupan zat warna dispersi dengan serat
poliester sistem HT/HP digunakan variasi waku 30 menit, 40 menit, 50 menit, dan 60 menit untuk
mengetahui pengaruh waktu terhadap hasil pencelupan. Pada pengujian evaluasi tahan gosok
didapatkan range atau nilai 3/4 untuk pencelupan dengan waktu 30 menit (resep 1) , nilai 4 dengan
waktu 40 menit (resep 2), nilai 4/5 dengan waktu 50 menit dan 60 menit (resep 3 dan 4). Dapat
dilihat pada waktu dibawah suhu waktu normal pencelupan poliester yaitu 45 menit, pada resep 1
dengan waktu 30 menit mempunyai tahan gosok yang kurang baik, kemungkinan disebabkan karena
difusi dan penyerapan zat warna yang belum sempurna yang mungkin disebabkan karena pori-pori
serat poliester blum terlalu terbuka atau serat belum menggelembung karena suhu pada waktu 30
menit belum mencapai suhu 130oC sehingga zat warna hanya menempel dipermukaan. Pada resep 2
dengan waktu 40 menit mempunyai nilai 4 yang kemungkinan disebabkan karena zat warna sudah
bedifusi kedalam serat karena pada waktu 40 menit suhu pencelupan mulai naik atau serat poliester
sudah sedikit menggembung sehaingga difusi dan penyerapan zat warna kedalam serat sedikit lebih
baik dibandingkan dengan waktu 30 menit sehingga nilai tahan gsoknya lebih baik . pada resep 3
dan 4 yaitu pada waktu 50 dan 60 menit mempunyai nilai tahan gosok yang aik yaitu dengan nilai
4/5 kemungkinan disebabkan karena pada waktu 50 dan 60 menit suhu pecelupan melebii suhu
lebih tinggi dari suhu normal sehingga menyebabkan dfusi dan penyerapan zat warna kedalam serat
menjadi baik sehingga tidak hanya menempel diperrmukaan. Pada ketuaan dan kertaan warnanya
berdasarkan nilai k/s ..................................?

Rencana manipulasi tahan gosok

Resep 1 waktu 30 menit = 3/4

Resep 2 waktu 40 menit = 4

Resep 3 waktu 50 menit = 4/5

Resep 4 waktu 60 menit = 4/5

5.2 Kesimpulan
Daftar Pustaka

https://superakhwat08.wordpress.com/2013/01/10/pencelupan-kain-poliester-dengan-zat-warna-
dispersi-metoda-exhaust-menggunakan-zat-pengemban-carrier/

https://www.slideshare.net/septianraha/celup-poliester-disperse-carrier

https://superakhwat08.wordpress.com/2013/06/21/rangkaian-evaluasi-secara-kimia-terhadap-kain-
tekstil-i-maksud/

Ichwan M, dkk., 2017. Bahan Ajar Praktikum Pencelupan 2. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil:
Bandung.