Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teknologi konstruksi bangunan akhir-akhir ini mengalami kemajuan yang


sangat pesat. Hal ini bisa dilihat dari pesatnya pembangunan yang dilakukan baik
di dalam negeri maupun di luar negeri. Seiring perkembangan tersebut dituntut
pula teknologi yang sesuai dan memadai dengan kebutuhan yang ada. Para
engineer juga sudah banyak yang melakukan inovasi dalam dunia konstruksi ini
baik dalam hal structural seperti teknologi bahan beton atau baja maupun dalam
hal desain.
Dalam suatu struktur bangunan, tanah merupakan bagian yang penting
karena kebanyakan semua bangunan menumpu pada suatu lapis tanah. Pada suatu
jenis tanah, tidak menutup kemungkinan adanya permasalahan yang muncul baik
dari segi daya dukung maupun penurunan akibat beban yang menumpu pada
tanah tersebut. Dari permasalahan yang muncul tersebut, para engineer berusaha
melakukan inovasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu contoh
kasus adalah dalam hal penurunan yang terlalu besar pada suatu jenis lapis tanah
akibat adanya beban dari suatu konstruksi gedung ataupun bangunan lain. Pada
penurunan tanah yang terlalu besar tersebut mengakibatkan masalah pada
konstruksi yang dibangun di atasnya seperti halnya retak yang terjadi pada bagian
struktur balok maupun kolom gedung tersebut. Selain pada gedung, penurunan
yang terlalu besar juga berakibat buruk pada struktur perkerasan jalan.

Kesuburan tanah merupakan hal sering menjadi kajian dalam


mempelajari pertanian. Kesuburan tanah di anggap dapat menjamin hasil tanaman
selain faktor varietas, pengeloaan tanaman dan hama serta penyakit. Namun untuk
menjamin produksi tanaman tidak hanya perlu memperhatikan kesuburan tanah
melainkan harusjuga memperhatikan kualitas tanah tersebut. bila usaha menjaga
kesuburan tanah hanya terbatas pada kemampuan tanah mesuplay unsure hara,

1
maka kulitas tanah juga mencakup faktor fisika, kimia dan biologi dengan lebih
mendalam serta mempertimbangkan faktor bahan pencemar sebagai kajiannya.
Kualitas tanah meliputi kualitas tanah secara fisika, kimia dan biologi.
Ketiga hal tersebut memiliki parameter masing-masing dan tidak dapat
terpisahkan satu sama lain serta saling mempengaruhi. Parameter sifat fisik yang
menentukan kualitas tanah antara lain, tekstur, struktur, stabilitas agregat,
kemampuan tanah menahan dan meloloskan lain serta ketahanan tanah terhadap
erosi dan lain sebagainya. Lalu parameter kimia yang mempengaruhi kualitas taah
adalah, ketersediaan unsure hara, KTK, KTA, pH, ada tidaknya zat pencemar, dan
lain sebagainya. Sedangkan parameter biologi yang menentukan kualitas tanah
anatara lain jumlah dan jenis mikrobia yang ada dan beraktivitas di dalam tanah.
Setiap parameter memiliki peranan tersendiri dalam menentukan kualitas
tanah. Dalam pertanian kualitas tanah tentunya berhubungan dengan pertumbuhan
dan produksi tanaman. Setiap parameter dapat berpengaruh pada ketersediaan
unsure hara, ketersediaan air, keleluasaan akar untuk tumbuh, dan reaksi serta
interaksi antara tanaman dengan faktor biotic dan abiotik dalam ekosistem.
Oleh karena itu dalam mengetahui serta mengkelaskan kualitas tanah,
maka parameter fisik kimia dan biologi tanah harus diuji lebih dahulu. dengan
menguji kualitas dari setiap parameter tersebut, maka kualitas tanah dapat
diketahui secara menyeluruh. Hal ini karena untuk menentukan tingkat kualitas
tanah, parameter fisik, kimia dan biologi tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam


makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengertian perbaikan tanah ?


2. Bagaimanakah perbaikan tanah secara kimia?
3. Bagaimanakah perbaikan tanah secara fisika?

2
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui apa itu perbaikan tanah.
2. Mengetahui apa itu proses perbaikan tanah secara kimia.
3. Mengetahui apa itu proses perbaikan tanah secara fisika.

D. Manfaat

Pembahasan ini dimaksudkan untuk memberikan jawaban atas masalah


pokok tentang hari akhir. Pembahasan ini bermanfaat untuk :
1. Memperluas wawasan tentang hari akhir
2. Sebagai pedoman bagi siswa

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perbaikan tanah

Perbaikan Tanah adalah kumpulan upaya-upaya yang dapat dilakukan


terhadap tanah yang memiliki karakteristik teknis (engineering properties) yang
bermutu rendah menjadi material yang layak digunakan sebagai material
konstruksi (mempunyai karakteristik teknis yang lebih baik).

Tujuan Perbaikan Tanah:

Meningkatkan kekuatan (strength) dan mereduksi erodibilitas (kemudahan


untuk terrerosi).
Mereduksi distorsi akibat tegangan yang bekerja.
Mereduksi kompresibilitas.
Mengontrol shringking dan swelling (kembang-susut).
Mengontrol permeabilitas dan mereduksi tekanan air pori.
Mencegah perubahan fisik dan kimia berkenaan dengan kondisi
lingkungan.
Mereduksi kerentanan terhadap likuifaksi.
Mereduksi terlalu variatifnya keadaan tanah pondasi.

Upaya-Upaya Perbaikan Tanah Yang Dapat Ditempuh :

1) Mechanical Modification (Perbaikan Tanah secara Mekanis).


2) Hydraulic Modification (Perbaikan Tanah secara Hidrolik).
3) Physical an Chemical Modification (Perbaikan Tanah secara Kimiawi).
4) Modification by Inclusions and confinemen (Perbaikan Tanah dengan
Menyisipkan Perkuatan dalam Lapisan Tanah).

4
B. Perbaikan tanah secara kimiawi

1. Pengetian Perbaikan Tanah Secara Kimia

Teknik perbaikan tanah ini prinsipnya yaitu menggunakan tambahan zat


additif yang dicampurkan dengan material tanah sehingga terjadi reaksi kimiawi
yang mengarah kepada terbentuknya material yang mempunyai spesifikasi teknis
yang lebih baik.

Usaha perbaikan tanah secara kimiawi dilakukan dengan cara mencampur


tanah asli dengan bahan stabilitator, bahan stabilitator yang dipakai harus
memenuhi kriteria sebagai berikut :

1) Dapat tercampur dengan tanah asli.


2) Setelah tercampur dapat dipadatkan dengan baik.
3) Mudah dikerjakan.
4) Mudah didapat dan ekonomis.

2. Beberapa Bahan Campuran Untuk Perbaikan Tanah Secara Kimia.

Mencampur tanah dengan semen, kapur, aspal, abu terbang(fly ash), abu
sekam padi. Bahan ini dapat memperbaiki daya dukung tanah karena mempunyai
unsur silika, kalsium yang mana dapat menyebabkan terjadi peristiwa agromelasi
(butiran menjadi lebih besar). Dengan bahan perkuatan Menggunakan cerucuk
kayu, tikar bambu, tiang kayu, beton pracetak, geosintetik.

2.1. Semen

Campuran tanah dengan semen diartikan sebagai pencampuran antara


tanah yang telah dihancurkan, semen dan air, yang kemudian dipadatkan sehingga
menghasilkan suatu material baru disebut Tanah Semen dimana kekuatan,
karakteristik deformasi, daya tahan terhadap air, cuaca dan sebagainya dapat
disesuikan dengan kebutuhan untuk perkerasan jalan, pondasi bagunan dan jalan,
aliran sungai dan lain-lain (Kezdi, 1979 : 108)

5
Proses kimia pada tanah dengan Semen.

Tahapan proses kimia pada tanah menggunakan semen adalah sebagai


berikut:

a. Absorbsi air dan reaksi pertukaran ion.

Bila Semen Portland ditambahkan pada tanah, ion kalsium Ca++ dilepaskan
melalui proses hidrolisa dan pertukaran ion berlanjut pada permukaan partikel-
partikel lempung, Butiran lempung dalam kandungan tanah berbentuk halus dan
bermuatan negatif. Ion positif seperti ion hidrogen (H+), ion sodium (Na+), ion
kalsium (K+), serta air yang berpolarisasi, Dari reaksi-reaksi kimia tersebut di
atas, maka reaksi utama yang berkaitan dengan kekuatan ialah hidrasi dari A-lit
(3CaO. SiO2) dan B-lit (2CaO.SiO2), sehingga membentuk kalsium silikat dan
kalsium aluminat yang mengakibatkan kekuatan tanah meningkat.
Reaksi pozolan, semuanya melekat pada permukaan butiran lempung.
Dengan reaksi ini partikel-partikel lempung menggumpal sehingga
mengakibatkan konsistensi tanah menjadi lebih baik.

b. Reaksi pembentukan kalsium silikat dan kalsium aluminat;

Secara umum hidrasi adalah sebagai berikut:


2(3CaO.SiO2) + 6H2O 3CaO.2SiO2 . 3H2O+3Ca(OH)2
2(2CaO.SiO2) + 4H2O 3CaO.2SiO2 . 3H2O+ Ca(OH)2
Reaksi antara silika (SiO2) dan alumina (AL2O3) halus yang terkandung dalam
tanah lempung dengan kandungan mineral reaktif, sehingga dapat bereaksi dengan
kapur dan air. Hasil reaksi adalah terbentuknya kalsium silikat hidrat seperti
tobermorit, kalsium aluminat hidrat 4CaO.Al2O3.12H2O dan gehlenit hidrat
2CaO.Al2O3.SiO2.6H2O yang tidak larut dalam air. Pembentukan senyawa-
senyawa ini berlangsung lambat dan menyebabkan tanah menjadi lebih keras,
lebih padat dan lebih stabil.

6
c. Deep Soil Mixing ( DSM )

Deep Soil Mixing adalah teknologi


perbaikan tanah yang digunakan untuk
memperbaiki tanah dengan tujuan
untuk meningkatkan kekuatan dan
mengurangi kompresibilitas. Proses ini
melibatkan pencampuran nat atau
pengikat dengan tanah untuk
menghasilkan sementasi tanah atau
perbaikan tanah. Metode basah adalah
metode dimana pengikat yang
dimasukkan dalam bentuk basah, yang bertentangan dengan metode kering di
mana bahan pengikat dimasukkan dengan udara. Dalam pencampuran basah,
pengikat yang paling umum digunakan adalah semen.

Aplikasi Pencampuran Tanah.

DSM adalah pengobatan tanah dimana tanah dicampur dengan bahan


reagen semen dan / atau lainnya untuk mengobati tanah untuk meningkatkan
kekuatan dan mengurangi kompresibilitas. Kolom DSM biasanya dipasang di
tanah lunak di mana penurunan harus dikurangi dan stabilitas meningkat. Aplikasi
DSM juga telah digunakan untuk memperbaiki tanah yang terkontaminasi,
sedimen, dan lumpur di proyek remediasi. Tanah pencampur telah digunakan

7
untuk mengobati tanah, sedimen, dan lumpur. Teknologi ini terbukti efektif untuk
pemulihan tanah yang mengandung baik organik dan anorganik. Pemilihan teknik
yang tepat tergantung pada beberapa faktor, termasuk jenis kendala geoteknik,
karakteristik tanah, dan hasil akhir yang diinginkan. Sementara yang paling umum
digunakan dalam tanah kohesif, mereka juga memiliki aplikasi pada media pasir
padat - longgar dimana biaya sementasi rendah yang mereka berikan dapat
menghindari liquifafaksi pada tanah (tanah loose). Skala penuh S / S dan proyek
DSM telah memperlakukan konstituen anorganik termasuk timbal, arsen
kadmium, dan kromium dan konstituen organik, termasuk ter batubara, limbah
kilang, kreosot, lainnya polisiklik hidrokarbon aromatik dan polychlorinated
biphenyls (PCB).

2.2. Kapur
A. Pengertian stabilitas tanah kapur

Stabilitas tanah kapur yaitu


mencampur tanah dengan kapur dan air
pada lokasi pekerjaan di lapangan untuk
merubah sifat-sifat tanah tersebut menjadi
material yang lebih baik yang memenuhi
ketentuan sebagai bahan konstruksi yang
diijinkan dalam perencanaan. Kapur
bereaksi dengan air tanah sehingga merubah
sifat tanahnya, mengurangi kelekatan dan
kelunakan tanah. Sifat ekspansif yang menyusut dan berkembang karena kondisi
airnya akan berkurang secara drastis karena butir kapur.

B. Jenis jenis Kapur

Ada beberapa jenis kapur antara lain :

kapur tipe I adalah kapur yang mengandung kalsium hidrat tinggi; dengan
kadar Magnesium Oksida (MgO) paling tinggi 4% berat;

8
kapur tipe II adalah kapur Magnesium atau Dolomit yang mengandung
Magnesium Oksida lebih dari 4% dan paling tinggi 36% berat;
kapur tohor (CaO) adalah hasil pembakaran batu kapur pada suhu
90C, dengan komposisi sebagian besar Kalsium Karbonat (CaCO3);
kapur padam adalah hasil pemadaman kapur tohor dengan air, sehingga
membentuk hidrat [Ca(OH)2].

C. Mekanisme dasar stabilisasi dengan kapur :


1) Adanya ikatan ion Ca, Mg dan Na yang menyebabkan bertambahnya ikatan
antara partikel tanah.
2) Adanya proses sementasi (antara kapur dan tanah sehingga kekuatan
geser/daya dukung tanah menjadi naik).
3) Stabilitas tanah dengan campuran kapur hanya efektif digunakan untuk tanah
lempung dan tidak efektif untuk tanah pasir.

D. Material yang diperlukan pada stabilitas tanah kapur :


1) Kapur
Berdasarkan SNI 03-4147-1996 Kapur yang digunakan sebagai bahan
stabilisasi tanah adalah kapur padam dan kapur tohor.
2) Tanah
Efektif digunakan pada tanah lempung yang plastisitasnya tinggi.
Membuat struktur tanah jadi rapuh sehingga mudah dipadatkan dengan
konsekuensi nilai kepadatan maksimum menjadi turun
3) Air
Air yang digunakan adalah air yang tidak mengandung asam.
Air laut boleh digunakan tapi tidak boleh mengalami kontak
dengan lapisan aspal.

Spesifikasi Persyaratan untuk Kapur


1. Calcium oxide (CaO) kandungan Ca & MgO > 92 %
2. CO2 (oven) < 3 % ; CO2 (lap) < 10 %

9
3. Calcium Hidroxide (Ca(OH)2) kandungan Ca & MgO > 95 %
4. CO2 (oven) < 5 % ; CO2 (lap) < 7 %

E. Sifat-sifat Kapur
Sifat sifat dari kapur antara lain :
Mempunyai sifat plastis yang baik
Sebagai mortel, memberi kekuatan pada tembok
Dapat mengeras dengan cepat dan mudah
Mudah di kerjakan
Mempunyai ikatan yang bagus dengan batu atau bata
Mengurangi sifat mengembang dari tanah
Meningkatkan daya dukung dari tanah

F. Langkah-langkah cara pengerjaan stabilisasi tanah dengan kapur di lapangan,


sebagai berikut :

1. siapkan tanah yang akan distabilisasi untuk pencampuran stabilisasi tanah


lempung dengan kapur dilakukan di tempat;
2. gemburkan tanah yang akan distabilisasi sesuai dengan sub bab 3.2;
3. hamparkan kapur yang akan dicampur secara merata dengan cara manual
atau dengan alat penyebar mekanik, sesuai dengan yang dibutuhkan
apabila pencampuran dilakukan di lokasi setempat;
4. aduk kedua bahan sampai merata, selama pengadukan dapat ditambahkan
air bila diperlukan dan pemberian air dilakukan secara bertahap sampai
memenuhi ketentuan yang berlaku;
5. sesuaikan dengan yang direncanakan dan kemampuan alat pencampur
tebal campuran di lapangan sebelum dipadatkan, yaitu 30 cm lepas;
6. padatkan tanah pada butir dengan menggunakan pemadat roda karet atau
yang sejenis sesuai dengan ketentuan Sub Bab 3.3;
7. lakukan pemadatan dari tepi menuju ke tengah sejajar sumbu jalan pada
bagian yang lurus; sedangkan pada tikungan dilakukan dari bagian yang
rendah ke bagian yang tinggi sejajar sumbu jalan, demikian pula pada

10
tanjakan, pemadatan dilakukan dari bagian yang rendah menuju ke tempat
yang tinggi sejajar sumbu jalan;
8. lakukan pemadatan awal dengan pemadat roda karet; pada lintasan
pertama roda penggerak dari mesin penggilas ditempatkan di depan;
setelah pemadatan awal jika masih perlu diratakan dan dibentuk, dipakai
alat pembentuk mekanik;
9. lakukan pemadatan akhir dengan alat pemadat roda tandem, setelah
kerataan memenuhi persyaratan;
10. periksa kepadatannya dan ukur tebal lapisan padat setelah minimum 4
lintasan;
11. usahakan konstruksi lapisan campuran tidak menjadi kering, selama
pelaksanaan dan selama masa perawatan;
12. lakukan pengendalian mutu selama pekerjaan berlangsung; pengamatan
kelembaban dilakukan untuk menentukan efektivitas cara perawatan yang
digunakan.

2.3. Aspal

Stabilisasi dengan aspal didefinisikan sebagai suatu proses ketika aspal


dalam jumlah tertentu dicampurkan dengan tanah lunak atau agregat untuk
membentuk suatu kondisi tanah yang stabil sesuai yang disyaratkan sebagai
lapisan tanah dasar. Bahan stabilisasi berupa aspal tersebut akan meningkatkan
kohesi antar partikel dan daya dukung tanah serta meningkatkan ketahanan tanah
terhadap air.

Lapis pondasi bawah perkerasan suatu ruas jalan yang cukup panjang di
daerah yang relatif terpencil akan dibuat dari bahan setempat. Perbaikan tanah
ditujukan untuk meningkatkan daya dukung tanah (kemampuan mendukung
beban) dan mengurangi kemampuan mampatnya. Metode stabilisasi yang sudah
dikembangkan untuk tanah lempung lunak adalah metode stabilisasi kimia dengan
kapur atau semen. Tanah lempung memiliki karakteristik kembang susut yang
tinggi. Jenis tanah yang perlu diperhatikan salah satunya adalah tanah lempung
ekspansif. Disebut demikian karena tanah jenis ini umumnya mempunyai

11
fluktuasi kembang susut yang tinggi dan mengandung mineral yang mempunyai
potensi mengembang (swelling potential) yang tinggi, bila terkena air. Untuk
tanah lempung ekspansif, kandungan mineral yang ada adalah mineral
montmorillonite yang mempunyai luas permukaan paling besar dan sangat mudah
menyerap air dalam jumlah banyak bila dibandingkan dengan mineral lainnya,
sehingga tanah mempunyai kepekatan terhadap pengaruh air dan sangat mudah
mengembang.

Pada perbaikan tanah menggunakan bahan bitumen sering digunakan tiga


jenis bahan yaitu aspal panas, aspal cair, dan aspal emulsi. Sifat-sifat fisik yang
diperbaiki pada tanah granular yaitu memberikan kohesi dan menambah kekuatan.
Sedangkan pada tanah kohesif pemberian bitumen yaitu tahan terhadap air dan
berkurangnya kekuatan akibat penambahan kadar air menjadi berkurang.

Stabilisasi tanah menggunakan aspal berbeda dengan stabilisasi tanah


menggunakan semen dan atau kapur. Fungsi aspal pada stabilisasi tanah
menggunakan aspal untuk tanah berbutir halus adalah sebagai campuran kedap
air, sedangkan untuk tanah berbutir kasar adalah sebagai campuran kedap air dan
pengikat. Kriteria yang diperlukan untuk suatu perancangan stabilisasi
menggunakan aspal adalah berdasarkan stabilitas dan ukuran butir.

12
TABEL. Penggunaan Beberapa Jenis Bahan Stabilisasi.

Lapis pondasi atas pada perkerasan lentur biasanya terdiri atas lapisan
hasil pemadatan batu pecah, kerikil atau slag yang bergradasi tertentu, atau bahan
hasil stabilisasi. Sedangkan lapis pondasi bawah dapat terdiri atas bahan yang
sama seperti untuk lapis pondasi atas, tetapi dengan mutu yang lebih rendah.
Untuk memastikan bahwa tanah dasar tidak menerima tegangan berlebih, maka
lapis pondasi atas dan lapis pondasi bawah harus mempunyai tebal yang memadai.

CBR yang harus dipenuhi bahan lapis pondasi atas biasanya ditetapkan
100 persen. Namun demikian, lapis pondasi pada perkerasan yang melayani lalu-
lintas rendah mungkin tidak menuntut bahan bermutu tinggi, tetapi cukup bahan
yang bermutu lebih rendah. Lapis pondasi yang terdiri atas bahan yang

13
distabilisasi aspal atau semen dapat menghemat biaya, karena lapis pondasi
dengan bahan tersebut akan menjadi lebih tipis.

C. Perbaikan tanah secara Fisika

1) Secara mekanis (fisika)

Perbaikan dilakukan dengan cara pemadatan, mencampur tanah dengan


bahan granuler (butir kasar).

Perbaikan secara mekanis adalah metode perbaikan yang sering digunakan


dalam usaha-usaha perbaikan tanah. Perbaikan secara mekanis ini merupakan
perbaikan tanah dengan usaha pemaksan terhadap perubahan masa tanah.

Secara alamiah tanpa disadari sering melakukan perbaikan tanah secara


tradisonal dengan menumbuk/ memadatkan tanah secara rutin, misalnya terhadap
beban lalulintas, kereta api, bangunan-bangunan, akan menimbulkan pemadatan
tanah yang berujung pada perbaikan secara tidak langsung yang akhirnya tanah
tersebut menjadi lebih kuat.

Beberapa metode perbaikan tanah secara mekanis :

a. Metode gilasan

Perbaikan tanah dengan gilasan diutamakan untuk tanah yang berkohesif.


Model perbaikan tanah dengan gilasan diutamakan untuk tanah yang berkohesif.
Cara kerjanya adalah butiran tanah ditekan secara langsung sehingga orientasinya
berubah dan memaksa rongga udara dalam tanah berkurang. Peralatan lapangan
yang dipakai untuk perbaikan dengan tipe gilasan yang banyak dalam praktek
adalah:

Steel whell roller.


Roda ban pneumatik : alat berat gilasan/beroda angin dengan
berat kotor w = 13 ton dst.
Roda baja bergigi : alat berat gilas dengan berat kotor w = 8,10 dan 12
ton

14
b. Metode tumbukan

Perbaikan tanah dengan tumbukan dilakukan secara dinamis untuk lapisan


permukaan dan lapisan dalam tanah. Cara tumbukan ini juga disebut tipe
kompaksi. Tumbukan dengan berat khusus dan getar yang bekerja simultan
dinamakan tumbukan dinamis atau dynamic konsolidation. Cara ini diutamakan
untuk tanah yang berbutir agar kasar, sangat tebal lapisannya dan basah, misalnya
pada suatu deposit pasir atau tanah berpasir. Prinsip cara kerja pemadatan dengan
tumbukan adalah pemadatan secara paksa dimana akan terjadi pemampatan
seketika. Caranya adalah dengan menjatuhkan beban seberat 3 sampai 20 ton dari
ketinggian 4 sampai 20 m. Sehingga energi yang besar memaksa terjadinya
kepadatan langsung. Beban dapat dibuat dari baja atau beton bertulang yang
dikatrol dengan mekanisme khusus sehingga mampubekerja efisien dan cepat.

c. Metode Getaran

Metoda tekanan, tumbukan dan getaran seringdisebut metoda energi yang


mana pada prinsipnya akan mendorong udara dan air tanah serta rongga tanah
akan mampat dan rongga tersebut akan mengecil atau bahkan hilang. Proses
pemampatan tanah juga merubah orientasi butir menjadi tersusun. Besar energi
yang timbul akan tergantung pada besar beban dan besar usaha dari alat yang
digunakan dan tentu disesuaikan dengan kebutuhan dalam praktek.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Perbaikan Tanah adalah kumpulan upaya-upaya yang dapat dilakukan


terhadap tanah yang memiliki karakteristik teknis (engineering properties) yang

15
bermutu rendah menjadi material yang layak digunakan sebagai material
konstruksi (mempunyai karakteristik teknis yang lebih baik).

Usaha perbaikan tanah secara kimiawi dilakukan dengan cara mencampur tanah
asli dengan bahan stabilitator, bahan stabilitator yang dipakai harus memenuhi
kriteria yaitu Dapat tercampur dengan tanah asli, Setelah tercampur dapat
dipadatkan dengan baik, mudah dikerjakan dan mudah didapat dan ekonomis.

Usaha perbaikan tanah secara mekanis / fisika perbaikan dilakukan dengan cara
pemadatan, mencampur tanah dengan bahan granuler (butir kasar). Beberapa
metode perbaikan tanah secara mekanis yaitu metode gilasan, tumbukan getaran.

DAFTAR RUJUKAN

https://aboutsoil.wordpress.com/2012/07/27/perbaikan-tanah-secara-kimiawi/

http://only-05.blogspot.co.id/2012/11/konsep-perbaikan-tanah.html

16
http://www.academia.edu/20366406/Perbaikan_tanah

17