Anda di halaman 1dari 23

artikel ilmiah

scheduler

PEMBENTUKAN PORTOFOLIO SAHAM


YANG OPTIMAL DENGAN
MENGGUNAKAN BEBERAPA MODEL
ANALISIS
January 5, 2009 artikel
15 Comments
ekonomi

oleh : Puji Fitriana jurusan Akutansi FE UNS

ABSTRACT
When Investor making an investment, whatever the type, the main element of investors
consideration is the rate of return and the rate of risk. Every investor willing to get an optimal
return, but on the reality, investor faced by uncertainty called risk. By making diversification,
investor my reduce the rate of risk and optimizes the rate of expected return. It can be done by
forming composition of portfolio. To get an optimal portfolio, investor can choose his proportion
asset in portfolio. The objectiveness of this review article is to see the effectiveness some
analysis method like Markowitz, SIM and CAPM, that used by investor to determined the stock
performance. From some literature, we can analyze that Markowitz, SIM, and CAPM models
are very useful to decide the proportion of fund that will be invested. Some new technology
application support and make the formula easier to be applied.

PENDAHULUAN
Investasi merupakan sebuah cara alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan nilai aset
di masa depan, dengan melakukan investasi, menurunnya purchasing power akibat inflasi dapat
di ofsett oleh return yang di dapatkan dari investasi. investasi sendiri dapat digolongkan ke
dalam dua jenis, yaitu :
1. Investasi pada real asset
2. Investasi pada financial asset
Investasi pada real asset dapat dilakukan dengan membeli peralatan, pendirian pabrik, perbaikan
mesin produksi, dll. Sedangkan investasi pada financial asset (instrumen keuangan) dapat
dilakukan pada pasar uang (berupa sertifikat deposito, commercial papper, dll) maupun pasar
modal (berupa saham, obligasi, dll).
Investor pada umumnya merupakan pihak yang sangat tidak menyukai resiko tetapi
menginginkan return yang maksimal, untuk itulah dewasa ini, investasi di sektor financial
menjadi primadona di kalangan investor, karena menjanjikan tingkat return yang lebih tinggi
dibandingkan dengan investasi di sektor real asset maupun di pasar uang. Pada tahun 1992-1998
nilai emisi dan nilai kapitalisasi di pasar modal tumbuh rata-rata 44,9%, dan 61,31% per tahun.
Padahal pada periode yang sama dana masyarakat, aktiva dan kredit perbankan hanya tumbuh
masing-masing sebesar 24,76%, 23,12%, dan 22,37% (Achsien, 2003 dalam Yuliastuti 2007).
Meskipun investasi di pasar modal menjanjikan tingkat return yang lebih tinggi, namun kita
perlu ingat bahwa semakin besar return, maka tingkat resiko-nya akan semakin besar pula. Untuk
itulah sebagai seorang investor yang rasional, hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah
bagaimana investasi dapat menghasilkan return optimal pada tingkat resiko yang minimal.
Dalam memaksimalkan return dan meminimalkan resiko, investor dapat melakukan diversifikasi,
diversifikasi dapat diwujudkan dengan cara mengkombinasikan berbagai pilihan saham dalam
investasinya (membentuk portofolio saham optimal). Melalui portofolio ini investor dapat
memaksimalkan keuntungan yang diharapkan dari investasi dengan tingkat risiko tertentu atau
berusaha meminimalkan risiko untuk sasaran tingkat keuntungan tertentu.
Menurut Tandelilin (2000:9) ada dua strategi portofolio yang bisa dipilih, yaitu strategi
portofolio aktif dan strategi portofolio pasif. Strategi portofolio aktif meliputi kegiatan
penggunaan informasi yang tersedia dan teknik-teknik peramalan secara aktif untuk mencari
kombinasi portofolio yang lebih baik. Sedangkan strategi portofolio pasif meliputi aktivitas
investasi pada portofolio yang seiring dengan kinerja indeks pasar.
Semua investor tentunya mempunyai tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari penyertaan
modalnya ke perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pihak investor harus melakukan suatu
analisis terhadap saham-saham yang akan dibeli. Hasil analisis dapat digunakan untuk
pembentukan portofolio investasi. Analisis terhadap saham harus dilakukan dengan teliti,
terutama mengenai tingkat return dan risk. Dengan adanya analisis, diharapkan dapat dijadikan
dasar dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang tepat akan dapat memberikan hasil yang
optimal.

PERMASALAHAN
Kegagalan para investor dalam membentuk portofolio yang optimal pada umumnya disebabkan
karena investor mendapatkan informasi yang terlalu banyak (overload informasi), sehingga
investor tidak bisa mengambil informasi yang paling relevan dan paling dibutuhkan dalam
membuat portofolio set dan menganalisis prospek jangka panjangnya.
Konsep diversivikasi sebenarnya merupakan sebuah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi
permasalahan tersebut, diversifikasi memberikan sebuah informasi yang paling relevan yang bisa
digunakan untuk mengukur ketidakpastian resiko investasi dengan menggunakan varian dari
return. Hasil pengukuran varian dari tersebut nantinya dapat digunakan sebagai dasar untuk
menganalisa saham-saham yang dapat dipilih untuk membentuk rangkaian portofolio yang bisa
memberikan return yang optimal.
Permasalahan yang timbul sekarang adalah bagaimana model- model optimasi portofolio
maksimal seperti, Markowitz, Single Index Model, dan CAPM dapat menghasilkan suatu
formula yang benar-benar mungkin dilakukan investor dalam memperhitungkan pembentukan
portofolio yang maksimal?
Beberapa penelitian telah banyak dilakukan untuk melihat apakah model Markowitz dapat
digunakan dengan mudah untuk membentuk portofolio yang eficient? apakah Single Index
Model dapat memberikan jaminan untuk memperkirakan beta di masa yang akan datang dengan
baik? dan apakah CAPM cukup valid dalam menentukan return di masa yang akan datang?
PEMBAHASAN
Investasi pada dasarnya merupakan sebuah usaha menempatkan dana saat ini pada sektor tertentu
untuk menghasilkan manfaat finansial di masa yang akan datang. Pada saat melakukan investasi,
investor harus memperhatikan tingkat return yang akan didapatkan, return terdiri dari dua
komponen, meliputi :
1. Capital gain (loss), merupakan keuntungan (kerugian) yang didapatkan oleh investor atas
selisih harga beli dengan harga jual di pasar sekunder.
2. Yield, merupakan pendapatan atau aliran kas yang diterima investor secara periodik, baik
berupa bunga maupun deviden.
Menghitung rata-rata (mean) hasil pengembalian (expected return) dapat dilakukan dengan
rumus :

dimana
E = hasil pengembalian rata-rata,
Pt = probabilitas dari etiap tingkat hasil pengembalian
Rt = tingkat hasil pengembalian
Menghitung rata-rata (mean) hasil pengembalian (expected return) portofoli dilakukan dengan
rumus :

dimana
E = hasil pengembalian rata-rata,
We = prosentase jumlah yang diinvestasikan
Rs = tingkat hasil pengembalian dari saham S
Rc = tingkat hasil pengembalian dari saham c
Meskipun tingkat return merupakan komponen yang sangat menentukan dalam pemilihan
investasi, namun kita juga harus ingat bahwa semakin tinggi tingkat return yang dijanjikan, maka
tingkat resiko yang dihadapi pun akan semakin tinggi, oleh karena itulah disamping
memperhitungkan return, kita juga harus memperhatikan hubungan antara return dengan resiko
dalam menentukan pilihan investasi.
Seperti yang kita ketahui, resiko merupakan besarnya penyimpangan antara tingkat
pengembalian yang diharapkan (expected return) dengan tingkat pengembalian yang dicapai
secara nyata (actual return), bila penyimpangan semakin besar, maka semakin besar pula tingkat
resikonya. Resiko sendiri terdiri dari resiko sistematis dan resiko tidak sistematis, resiko
sistematis merupakan resiko yang dialami oleh semua investasi tanpa terkecuali, resiko ini
dinamakan juga resiko pasar, sedangkan resiko tidak sistematis merupakan resiko yang hanya
dialami oleh jenis investasi tertentu yang bisa disebabkan oleh faktor manajemen, ciri khusus
industri, dsb (Francis, 1988 dalam Yuliastuti 2007). Risiko tidak dapat dihindari, tetapi dapat
dikelola agar risiko tersebut dapat diminimalisasi (risiko terkontrol).
Resiko dapat dihitung dengan menggunakan rumus sbb:
Rumus deviasi standar (standar penyimpangan) :

Menghitung deviasi standar (standar penyimpangan) dengan rumus :

a dan b dapat dicari melalui :


MODEL MARKOWITZ
Melalui konsep diversifikasi (dengan pembentukan portofolio saham yang optimal), investor
dapat memaksimalkan keuntungan yang diharapkan dari investasi dengan tingkat risiko tertentu
atau berusaha meminimalkan risiko untuk sasaran tingkat keuntungan tertentu. Di tahun 1952,
Markowitz mengembangkan suatu bentuk diversifikasi yang efisien. Ukuran yang dipakai dalam
portofolio Markowitz adalah koefisien korelasi. Koefisien korelasi positip menunjukkan bahwa
kedua asset bergerak searah, sedang koefisien korelasi negatip menunjukkan bahwa kedua asset
bergerak berlawanan.
Menurut Markowitz, portofolio yang maksimal adalah dengan mengkombinasikan beberapa aset
yang koefisien korelasi-nya kurang dari positif, disamping itu, apabila ada dua surat berharga
yang return-nya sama tetapi resikonya berbeda, maka dipilih yang risiko rendah. (Agus, 2005).
Kumpulan portofolio efisien Markowitz terletak pada garis batas (efficient frontier) serangkaian
portofolio yang memiliki pengembalian maksimal untuk tingkat pengembalian tertentu. Inti dari
efficient frontier Markowitz adalah bagaimana mengalokasikan dana ke masing-masing saham
dalam portofolio untuk mencari titik maksimal portofolio.
Persamaan untuk eficient set portofolio adalah sebagai berikut :
Min
= representasi keseluruhan varian sebuah portofolio
n = jumlah saham dalam portofolio

Dengan Konstrain berikut :


(1) E =
(2) 1.0 =
dimana,
xr = proporsi uang yang dialokasikan untuk saham i
E (r*p) = adalah tingkat return yang diharapkan
E (rj) = adalah tingkat return untuk setiap saham
Dengan menggunakan persamaan (1), dapat dihitung sebuah portofolio dengan varian yang
paling kecil, untuk setiap tingkat return yang dikehendaki investor. Model representasi
keseluruhan tersebut menghasilkan banyak solusi yang tidak mungkin, karena jumlah alokasi
terkadang lebih dari = 1. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kita dapat
mengimplementasikan Algoritma Genetika dalam model Efficient frontier Markowitz, jika
dalam model Markowitz tradisional alokasi dilakukan dengan menggunakan Quadratic
programming (aplikasi MS Excell), dimana resiko ditahan konstan kemudian algoritma bergerak
untuk memperoleh return yang maksimal, atau sebaliknya return ditahan konstant kemudian
algoritma meminimalkan resiko, maka dalam model Algoritma Genetika, pergerakan dapat
dilakukan dengan berssamaan dalam memaksimalkan return dan meminimalkan resiko, dengan
demikian, total jumlah alokasi akan selalu = 1, sehingga tidak akan terjadi solusi yang tidak
mungkin dalam proses pengalokasian dana (Rostianingsih, Taufik N, 2005). Penggunaan
Algoritma Genetika untuk pemilihan portofolio saham dalam model Markowitz dapat mengatasi
kelemahan pengalokasian dana dalam pembentukan efficient set portofolio
Model Markowitz telah terbukti membawa pemilihan portofolio yang efisien, yang terletak pada
garis efisien (efficient frontier), yaitu portofolio yang merupakan porfolio pasar, tetapi dengan
asumsi: (1) para investor adalah penghindar risiko yang memaksimalkan utility yang diharapkan;
(2) investor memilih portofolio dengan dasar pertimbangan rata-rata varian dan return yang
diharapkan; (3) semua investor melakukan periode pemegangan tunggal (single holding periode);
disamping itu ada asumsi impilisit bahwa modal yang digunakan investor adalah modal sendiri,
bukan dari pinjaman. (Agus, 2005). Dengan menggunakan model Markowitz, investor bisa
memanfaatkan semua informasi yang tersedia sebagai dasar pembentukan portofolio yang
maksimal.
MODEL SINGLE INDEX
Single Index Model memberikan sebuah alternatif analisis varian yang lebih mudah jika
dibandingkan dengan analisis model markowitz, lewat SIM, kita dapat menentukan efficient set
portofolio dengan kalkulasi yang lebih mudah, karena SIM menyederhanakan jumlah dan jenis
input (data), serta prosedur analisis untuk menentukan fortfolio yang optimal. SIM
mengasumsikan bahwa korelasi return masing-masing sekuritas terjadi karena adanya respon
sekuritas tersebut terhadap perubahan indeks tertentu (seperti IHSG).
Penggunaan model indeks tunggal memerlukan penaksiran beta dari saham-saham yang akan
dimasukkan ke dalam porfolio, dalam menentukan beta, kita dapat menggunakan sebuah
judgement, di samping itu kita bisa menggunakan beta historis untuk menghitung beta waktu lalu
yang dipergunakan sebagai taksiran beta di masa yang akan datang. Beta historis memberikan
informasi yang berguna tentang beta di masa yang akan datang karena itu seringkali para analis
menggunakan beta historis sebelum mereka menggunakan judgement untuk memperkirakan
beta.
Rumus Estimating Beta
Ri = i + i m + ei (1.19)
Persamaan ini merupakan persamaan regresi sederhana. Beta menunjukkan kemiringan (slope)
garis regresi tersebut. Alpha menunjukkan intercept dengan sumbu Rij. Makin besar beta, makin
curam kemiringan garis tersebut dan sebaliknya.
Beberapa variabel akuntansi yang digunakan untuk memperkirakan beta, antara lain:
a. Divident Payout (yaitu perbandingan antara dividen perlembar saham dengan laba perlembar
saham)
b. Pertumbuhan aktiva (yaitu perubahan aktiva pertahun)
c. Leverage (yaitu rasio antara hutang dengan total aktiva)
d. Likuiditas (yaitu aktiva lancar dibagi dengan hutang lancar)
e. Asset size (yaitu nilai kekayaan total)
f. Variabilitas keuntungan (yaitu standar deviasi dari earning price ratio)
Beta akunting (yaitu yang timbul dari regresi time series laba perusahaan terhadap rata-rata
keuntungan semua (sampel) perusahaan.

Beta sekuritas individual cenderung mempunyai koefisien determinasi (yaitu bentuk kwadrat dari
koefisien korelasi) yang lebih rendah dari beta portofolio. Koefisien determinasi menunjukkan
proporsi perubahan nilai Ri yang bisa dijelaskan oleh Rm.
Dengan menghitung koefisien beta yang mencerminkan tingkat risiko masing-masing saham
yang diamati, dan tingkat return saham, maka kita dapat menentukan excess return to beta (ERB)
yang mencerminkan tingkat keuntungan yag sangat mungkin dapat dicapai. Untuk mendapatkan
kandidat portofolio kuat, kita tinggal membandingkan ERB dengan Cut off Rate untuk
menhasilkan saham-saham yang memiliki tingkat return yang tinggi dan risiko yang minimal
yang dapat mengeliminir risiko tidak sistematis. jika suatu jenis saham angka Excess Return to
Beta (ERB)-nya lebih besar dari angka batas C (cut of rate) maka saham tersebut masuk sebagai
kandidat portofolio.
Penentuan proporsi dana yang diinvestasikan dapat dilakukan dengan cara membagi persentase
tingkat return dengan total proporsi investasi.
Rumus dasar SIM :
Menghitung the expexted returns
+
Menghitung variance :

Menghitung covariance :

Dimana,
= Return saham i (TR)
= Return pada pasar (TR)
= Return saham yang tidak tergantung pada pasaar
= eror
= varian portofolio
= Beta
Tujuan Akhir dari Single Index Model sama dengan analisis Markowitz, yaitu mencari garis
portofolio yang efisien. Dengan demikian investor dapat menentukan jenis saham dan proporsi
dana yang diperlukan dalam membentuk sebuah portofolio yang maksimal dengan analisis yang
lebih mudah.

MODEL CAPM
Di tahun 1965, Sharpe menyempurnakan model portofolio Markowitz ditambah dengan asumsi:
(1) adanya tingkat bebas risiko; (3) investasi bisa dipecah-pecah dalam bentuk yang sekecil
mungkin; (3) adanya kebebasan short sales (4) semua aktiva bisa diperjual belikan. Dengan
demikian maka portofolio yang efisien suatu garis pasar modal (capital market line) yang
intersepnya adalah tingkat bebas risiko (rf). Untuk mengambarkan trade-off antara risiko dan
return untuk seluruh surat berharga, baik yang efisien maupun yang tidak, maka ukuran yang
dipakai bukanlah varian, tetapi adalah risiko sistematisnya (). Hubungan antara risiko sistematis
dengan return tersebut apabila digambarkan dalam suatu model akan membentuk Capital Asset
Pricing Model (CAPM) (Agus, 2005).
Capital Asset Pricing Model merupakan suatu model keseimbangan yang bisa menggambarkan
atau memprediksi realitas di pasar yang bersifat kompleks, sehinga dapat membantu kita melihat
hubungan return dan resiko di dunia nyata yang terkadang sangat kompleks. Selain itu CAPM
juga dapat dipergunakan untuk menentukan harga suatu aktiva modal (capital assets), dengan
mengingat segala karakteristik aktiva tersebut. Yang dimaksud karakteristik aktiva tersebut
adalah risikonya. Dengan model ini kita mencoba menentukan berapa harga yang seharusnya
bersedia dibayar oleh para investor terhadap suatu aktiva modal.
Model CAPM :
E(Ri)=Rf+[E(Rm)-Rf]i

Dimana,
E(Ri) = return yang diharapkan dari surat berharga i
() = resiko sistematis
[E(Rm)-Rf] = market risk premium
Dalam CAPM, adalah ukuran dari hubungan paralel dari sebuah saham biasa dengan seluruh
tren dalam pasar saham. Bila > 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih tinggi
daripada pasar. < 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih rendah daripada indek
pasar secara umum (general market index). Perubahan persamaan risiko dan perolehan (Equation
Risk and Return) dengan memasukan faktor dinyatakan sebagai:
Rs = Rf + s (Rm Rf)
Rs = Expected Return on a given risky security
Rf = Risk-free rate
Rm = Expected return on the stock market as a whole
s = Stocks beta, yang dihitung berdasarkan waktu tertentu
CAPM bertahan bahwa harga saham tidak akan dipengaruhi oleh unsystematic risk, dan saham
yang menawarkan risiko yang relatif lebih tinggi (higher s) akan dihargai relatif lebih daripada
saham yang menawarkan risiko lebih rendah (lower s). Riset empiris mendukung argumen
mengenai s sebagai prediktor yang baik untuk memprediksi nilai saham di masa yang akan
datang (future stock prices) (Yohan Naftali, 2007).
Berbagai pengujian CAPM dengan data empiris telah banyak dilakukan. Pada tahun 2005,
Saputra dan Leng menggunakan sampel saham-saham di BEJ pada tahun 1999, untuk melihat
pegaruh risiko sistematis dan likuiditas terhadap return saham-saham. Likuiditas diukur dengan
bid-ask spread. Hasilnya menunjukkan bahwa baik likuiditas maupun risiko sistematis secara
signifikan mempengaruhi return, tetapi diantara kedua faktor tersebut yang paling banyak
berpengaruh adalah risiko sistematis (Agus, 2005)

KESIMPULAN
Alternatif investasi modal sangat dipengaruhi oleh faktor kondisi pasar modal yang mencakup
berbagai informasi yang berhubungan dengan harga saham yang terjual belikan. Rationalitas
investor dapat diukur sejauhmana mereka dapat menentukan pilihannya untuk mendapatkan hasil
yang maksimum pada tingkat risiko tertentu. Para investor secara rasional akan mencari
portofolio yang memberikan Return maksimal pada risiko minimal.
Analisis portofolio dapat digunakan untuk menentukan return optimal pada risiko yang minimal,
salah satu metode analisis yang banyak digunakan adalah SIM, model ini merupakan bentuk
penyederhanaan dari model portofolio maksimal Markowitz, analisis dilakukan dengan
menghitung koefisien beta yang mencerminkan tingkat risiko dan tingkat return masing-masing
saham yang diamati, dengan diketahuinya tingkat return saham dan koefisien beta, kita dapat
menentukan exess returns to beta (ERB) yang. mencerminkan tingkat keuntungan yang sangat
mungkin dapat dicapai. Langkah selanjutnya untuk mendapatkan kandidat portofolio kuat,
diperoleh dengan membandingkan antara ERB dengan Cut off Rate untuk menghasilkan saham-
saham yang memiliki tingkat return yang tinggi dan risiko yang minimal untuk mengeliminir
risiko tidak sistematis. Dari analisis portfolio tersebut, kita dapat menentukan proporsi dana vang
diinvestasikan, dengan cara membagi persentase tingkat return dengan total proporsi investasi.
Disamping beberapa model analisis seperti Eficient Frontier Markowitz dan SIM, terdapat
beberapa model keseimbangan seperti CAPM dan APT Model keseimbangan CAPM membantu
menggambarkan hubungan resiko dan return secara lebih sederhana, dan hanya menggunakan
satu variable (disebut juga variable beta) untuk menggambarkan resiko, sedangkan APT lebih
kompleks disbanding CAPM karena menggunakan sekian banyak variable pengukur resiko
(eduardus tandelilin, 2001)
Model-model analisis dan model keseimbangan telah banyak digunakan untuk menentukan
portfolio set yang optimal, dalam beberapa decade terakhir, model-model tersebut telah banyak
dikembangkan untuk lebih memberi kemudahan bagi investor dalam membuat analisis. Beberapa
Software aplikasi juga turut mendukung kemudahan analisis, sehingga beberapa kendala yang
sering ditemui (kompleksitas, waktu perhitungan) oleh investor dapat di atasi.

REFERENSI
Atarmono, 2001, Analisis Portofolio Saham Untuk Menentukan Return Optimal dan Resiko
Minimal, Jurnal JIPTUNMREPP, September
Didik Rudiyanto, 2003, Analisis dan Seleksi Saham Dalam Rangka Pembentukan dan Pemilihan
Portofolio Saham Yang Optimal, Jurnal JIPTUMN, September
Wawan Taufik dan Silvia Rostianingsih, 2005, Penggunaan Algoritma Genetika Untuk
Pemilihan Portofolio Saham Dalam Model Markowitz, Jurnal Informatika Volume 6, No 2 ,
November : 105-109
Ahsan At All, Analytical approximation for a multi-period portfolio problem with vector
autoregressive returns, Maret (2004)
Statman, Meir and Jonathan Scheid. Global diversification, Journal of Investment
Management, Vol. 3, No. 1 (2005): 1-11
Statmant Meir and Scheid Jonathan, Correlation, Return Gaps And The Benefit of
Diversification, California 95128, November (2007) : 1-12
Eduardus Tandelilin, 2001, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Yogyakarta, BPFE
Sari Yuliasih, 2007, Analisis Return Invevstasi Islam Terhadap Investasi Konvensional Di
Indonesia, Surakarta

investor
portofolio
tingkat resiko

makalah investasi
Senin, 03 Desember 2012
pemilihan portofolio
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dewasa ini dengan adanya prinsip pasar bebas, investasi dalam bentuk kepemilikan aset finansial
mulai diminati oleh masyarakat di Indonesia. Investasi pada saham menawarkan tingkat pertumbuhan
keuntungan yang cepat dengan risiko yang juga sebanding. Untuk memperoleh tingkat return yang tinggi,
maka investor harus berani menanggung risiko yang tinggi juga. Oleh karena itu, pemodal harus berhati-
hati dalam menentukan saham mana yang akan dipilihnya untuk berinvestasi. Sebelum memutuskan
untuk berinvestasi, hendaknya seorang investor melakukan analisis terhadap semua saham-saham yang
ada dan kemudian memilih yang dianggap aman serta mampu menghasilkan keuntungan yang
diharapkan. Salah satu cara untuk

meminimumkan risiko adalah dengan melakukan diversifikasi atau menyebar investasinya dengan
membentuk portofolio yang terdiri dari beberapa saham

Teori dasar pemilihan portofolio pertama kali dicetuskan oleh Harry M. Marko- witz (1952).
Pemilihan portofolio membahas tentang permasalahan bagaimana meng-alokasikan penanaman modal
agar dapat membawa keuntungan terbanyak namun dengan resiko yang terkecil. Pembentukan portofolio
menyangkut identikasi saham- saham mana yang akan dipilih dan berapa proporsi dana yang akan
ditanamkan pada masing-masing saham tersebut. Pemilihan portofolio dari banyak sekuritas
dimaksudkan untuk mengurangi resiko yang ditanggung. Teori optimisasi sangat aplikatif pada
permasalahan-permasalahan yang menyangkut pengoptimalan. Banyak metode- metode optimasi yang
berkembang digunakan untuk merumuskan berbagai masalah misalnya dalam transportasi, manufaktur,
penjadwalan kru maskapai penerbangan dan investasi.

Dalam membentuk suatu portofolio, akan timbul suatu masalah. Permasalahannya adalah
terdapat banyak sekali kemungkinan portofolio yang dapat dibentuk dari kombinasi aktiva berisiko yang
tersedia di pasar. Kombinasi ini dapat mencpai jumlah yang tidak terbatas. Kombinasi ini juga
memasukkan aktiva bebas resiko dalam pembentukan portofolio. Jika terdapat kemungkinan portofolio
yang jumlahnya tidak terbatas maka akan timbul pertanyaan portofolio mana yng akan dipilih oleh
investor. Jika investor adalah rasional, maka mereka akan memilih portofolio yang optimal.

Portofolio optimal dapat ditentukan dengan model Markowitz atau dengan model Indeks Tunggal.
Untuk menentukan porofolio yang optimal dengan model-model ini yang pertama kali dibutuhkan adalah
menentukan portofolio yang efisien. Untuk model-model ini semua portofolio yang optimal adalah
portofolio yang efisien, karena tiap-tiap investor mempunyai kurva berbeda yang tidak sama, portofolio
optimal akan berbeda untuk masing-masing investor. Investor yang lebih menyukai resiko akan memilih
portofolio dengan return yang lebih tinggi dengan membayar resiko yang juga lebih tinggi dibandingkan
dengan investor yang kurang menyukai resiko. Jika aktiva tidak berisiko dipertimbangkan, aktiva ini dapat
merubah portofolio optimal yang mungkin sudah dipilih investor

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah menentukan portofolio yang efisien?


2. Bagaimanakah menentukan portofolio yang optimal?
3. Bagamianakah menentukan penginvestasian dan peminjaman dana bebas risiko?
1.3. Tujuan

1. Untuk mengetahui pemilihan portofolio yang efisien


2. Unutk mengetahui pemilihan portofolio yang optimal
3. Unutk mengetahui penginvestasian dan peminjaman dana bebas risiko.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Teori Portofolio

Harry M. Markowitz mengembangkan suatu teori pada dekade 1950-an yang disebut dengan
Teori Portofolio Markowitz. Teori Markowitz menggunakan beberapa pengukuran statistik dasar untuk
mengembangkan suatu rencana portofolio, diantaranya expected return, standar deviasi baik sekuritas
maupun portofolio, dan korelasi antar return. Teori ini memformulasikan keberadaan unsur return dan
risiko dalam suatu investasi, dimana unsur risiko dapat diminimalisir melalui diversifikasi dan
mengkombinasikan berbagai instrumen investasi kedalam portofolio. Pada tahun 1952 teori tersebut
dipublikasi secara luas pada Journal of Finance.

Teori Portofolio Markowitz didasarkan atas pendekatan mean (ratarata) dan variance (varian),
dimana mean merupakan pengukuran tingkat return dan varian merupakan pengukuran tingkat risiko.
Teori Portofolio Markowitz ini disebut juga sebagai mean-Varian Model, yang menekankan pada usaha
memaksimalkan ekspektasi return (mean) dan meminimumkan ketidakpastian/risiko (varian) untuk
memilih dan menyusun portofolio optimal. Markowitz mengembangkan Index Model sebagai
penyederhanaan dari Mean-Varian Model, yang berusaha untuk menjawab berbagai permasalahan dalam
penyusunan portofolio, yaitu terdapatnya begitu banyak kombinasi aktiva berisiko yang dapat dipilih dan
disusun menjadi suatu portofolio. Dari sekian banyak kombinasi yang mungkin dipilih, investor rasional
pasti akan memilih portofolio optimal (efficient set).

Untuk menentukan penyusunan portofolio optimal dengan menggunakan Index Model, yang
terutama dibutuhkan adalah penentuan portofolio yang efisien, sebab pada dasarnya semua portofolio
yang efisien adalah portofolio yang optimal. Pada perkembangan berikutnya pada tahun 1963 William F.
Sharpe mengembangkan Single Index Model (Model Indeks Tunggal) yang merupakan penyederhanaan
Index model yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Markowitz. Model Indeks Tunggal menjelaskan
hubungan antara return dari setiap sekuritas individual dengan return indeks pasar. Model ini
memberikan metode alternatif untuk menghitung varian dari suatu portofolio, yang lebih sederhana dan
lebih mudah dihitung jika dibandingkan dengan metode perhitungan markowitz. Pendekatan alternatif ini
dapat digunakan untuk dasar menyelesaikan permasalahan dalam penyusunan portofolio. Sebagaimana
telah dirumuskan oleh markowitz, yaitu menentukan efficient set dari suatu portofolio, maka dalam
Model indeks Tunggal ini membutuhkan perhitungan yang lebih sedikit.

2.2. Menentukan Portofolio Efisien

Portofolio yang efisien (efficient portfolio) didefinisikan sebagai portofolio yang memberikan return
ekspektasi terbesar dengan resiko yang sudah tertentu atau memberikan resiko yang terkecil dengan
return ekspektasi yang sudah tertentu. Portofolio yang efisien ini dapat ditentukan dengan memilih
tingkat return ekspektasi tertentu dan kemudian meminimumkan resikonya atau menentukan tingkat
resiko tertentu dan kemudian memaksimumkan return ekspektasinya. Investor yang rasional akan
memilih portofolio yang efisien ini karena merupakan portofolio yang dibentuk dengan mengoptimalkan
satu dari dua dimensi, yaitu return ekspektasi atau resiko portofolio.

Investor dapat memilih kombinasi dari aktiva-aktiva untuk membentuk portofolionya. Seluruh set
yang memberikan kemungkinan porofolio yang dapat dibentuk dari kombinasi n-aktiva yang tersedia
disebut dengan opportunity set atau attainable set. Semua titik di attainable set menyediakan semua
kemungkinan portofolio baik yang efisien maupun yang tidak efisien yang dapat dipilih oleh investor. Akan
tetapi investor yang rasional tidak akan memilih portofolio yang tidak efisien. Rasional investor hanya
tertarik dengan porofolio yang efisien. Kumpulan (set) dari portofolio yang efisien ini disebut dengan
efficient set atau efficient frontier.

Dua aktiva yang membentuk portofolio dapat berkorelasi antara lain :

1. Korelasi Positif Sempurna : Dua buah aktiva A dan B, yaitu = +1


2. Tidak Ada Korelasi Antara Sekuritas : Dua Aktiva A dan B, yaitu = 0
3. Korelasi Negatif Sempurna : Dua Buah Aktiva A dan B, yaitu = -1
2.3.Pemilihan Portofolio Optimal
Portofolio optimal merupakan pilihan dari berbagai sekuritas dari portofolio efisien. Portofolio
yang optimal ini dapat ditentukan dengan memilih tingkat return ekspektasi tertentu dan kemudian
meminimumkan risikonya, atau menentukan tingkat risiko yang tertentu dan kemudian
memaksimumkan return ekspektasinya. Investor yang rasional akan memilih portofolio optimal ini
karena merupakan portofolio yang dibentuk dengan mengoptimalkan satu dari dua dimensi, yaitu return
ekspektasi atau risiko portofolio.Dalam memilih portofolio yang optimal ada beberapa pendekatan
yaitu:

a. Portofolio optimal berdasarkan preferensi investor


Portofolio optimal berdasarkan preferensi investor mengasumsikan hanya didasarkan pada
return ekspektasi dan risiko dari portofolio secara implisist yang menganggap bahwa investor
mempunyai fungsi utility yang sama atau berada pada titik persinggungan utiliti investor dengan
effiicient set. (Jogiyanto, 2000: 193)

Tiap investor mempunyai tanggapan risiko yang berbeda-beda. Investor yang mempunyai
tanggapan kurang menyukai risiko mungkin akan memilih portofolio di titik B. Tapi, investor lainnya
mungkin mempunyai tanggapan risiko berbeda, sehingga mereka memilih portofolio yang lainnya
selama portofolio tersebut merupakan portofolio efisien yang masih berada di efficient set. Portofolio
mana yang akan dipilih investor tergantung dari fungsi utilitinya masing-masing.

Untuk investor ke-1, portofolio optimal adalah berada di titik C1 yang memberikan kepuasan kepada
investor ini sebesar U2. jika investor ini rasional, dia tidak akan memilih portofolio D1 karena walaupun
portofolio ini tersedia dan dapat dipilih yang berada di attainable set, tapi bukan portofolio yang efisien,
sehingga akan memberikan kepuasan sebesar U1 yang lebih rendah dibandingkan dengan kepuasan
sebesar U2. Investor akan memilih portofolio yang memberikan kepuasan yang tertinggi.

b. Portofolio optimal berdasarkan model Markowitz


Dalam pendekatan ini pemilihan portofolio investor didasarkan pada preferensi mereka terhadap
return yang diharapkan dan risiko masing-masing pilihan portofolio, kontribusi yang sangat pentinga
bagi investor adalah bagaimana seharusnya melakukan deversifikasi secara optimal.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dari model markowitz menurut yaitu; (Tandelilin,2001: 79)

a. Semua titik portofolio yang ada dalam permukaan efisien mempunyai kedudukan yang sama antara satu
dengan lainnya.

b. Model Markowitz tidak memasukkan isu bahwa investor boleh meminjam dana untuk membiayai
portofolio pada aset yang berisiko dan Model Markowitz juga belum memperhitungkan kemungkinan
investor untuk melakukan investasi pada aset bebas risiko.

c. Dalam kenyataanya, investor yang berbeda-beda akan mengestimasi imput yang berbeda pula ke dalam
model Markowitz, sehingga garis pemukaan efisien yang dihasilkan juga berbeda-beda bagi masing-
masing investor.

Portofolio optimal berdasarkan model Markowitz di dasarkan pada empat asumsi, yaitu:
(Tandelilin, 2001: 78)

1. waktu yang digunakan hanya satu periode

2. Tidak ada biaya transaksi

3. Preferensi investor hanya didasarkan pada return ekspektasi dan risiko

4. Tidak ada simpanan dan pinjaman bebas risiko

Asumsi bahwa preferensi investor mengasumsikan hanya didasarkan pada return ekspektasi dan
risiko dari portofolio secara implisist yang menganggap bahwa investor mempunyai fungsi utility yang
sama. Pada kenyatannya tiap-tiap investor memiliki fungsi utilitas yang berbeda, sehingga portofolio
optimal akan dapat berbeda.
c. Portofolio optimal dengan adanya simpanan dan pinjaman bebas risiko.
Aktiva bebas risiko adalah aktiva yang mempunyai return ekspektasi tertentu dengan varian
return (risiko) yang sama dengan nol, karena variannya sama dengan nol, maka kovarian antara bebas
resiko juga sama dengan nol. Aktiva bebas risiko misalnya Sertifikat Bank Indonesia (SBI), karena
variannya (deviasi standar ) = 0 kovarian antara bebas aktiva bebas risiko dengan aktiva berisiko yang
lainnya akan menjadi sama dengan nol sebagai berikut; (jogiyanto, 2000: 195)

BRi = BRi . BR . i

Dari pernyataan di atas, maka aset bebas risiko merupaka aset yang tingkat returnnya di masa
depan sudah dapat dipastikan pada saat ini karena ditunjukkan oleh varians yang sama dengan nol.

d. Portofolio optimal berdasarkan model Indeks Tunggal


Model indeks tunggal dapat digunakan sebagai alternatif dari model Markowitz untuk
menentukan efficient set dengan perhitungan yang lebih sederhana. Model ini merupakan
penyederhanaan dari model Markowitz. Model ini dikembangkan oleh William Sharpe (1963) yang
disebut dengan (single-index model), yang dapat digunakan untuk menghitung return ekspektasi dan
risiko portofolio.(Jogiyanto, 2000: 203)

Model indeks tunggal didasarka pada pengamatan bahwa harga dari suatu skuritas berfluktuasi
searah dengan indeks harga pasar dan memepunyai reaksi yang sama terhadap suatu faktor atau indeks
harga saham gabungan (IHSG), karena return dari suatu sekuritas dan return dari indeks pasar yang
umum dapat ditulis sebagai berikut; (Halim, 2003: 78)

Ri = i +i . RM + ei

Ri = return sekuritas ke-i

i = nilai ekspektasi dari return sekuritas yang independen terhadap

return pasar

i = Beta yang merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri

akibat dari perubahan RM

RM = tingkat return dari indeks pasar, juga merupakan suatu variabel


Acak

ei = kesalahan residual yang merupakan variabel acak dengan nilai

ekspektasinya sama dengan nol atau E(ei) = 0

Model indeks tunggal membagi return dari suatu sekuritas ke dalam dua komponen yaitu;

a. Komponen return yang unik diwakili oleh alpha (i) yang independen terhadap return pasar.

b. Komponen return yang berhubungan dengan return pasar yang diwakili beta (i) dan RM Sehingga bentuk
ekspektasi return dapat ditulis dengan persamaan;

E (Ri) = E ( i + i . RM + ei) atau

= E ( I) + E(i ) . E(RM) + E( eI)

atau bisa diformulasikan sebagai berikut;

E (Ri) = i + i . E(RM )

sumber: (Jogiyanto, 2000: 204-206)

e. Portofolio optimal berdasarkan model Indeks Ganda


Model indeks ganda menganggap ada faktor lain selain IHSG yang dapat mempengaruhi
terjadinya korelasi antar efek. dalam upaya mengestimasi ekspekted return, standar deviasi dan kovarian
efek secara akurat model indeks ganda lebih berpotensi sebab actual return efek tidak hanya sensitif
terhadap perubahan IHSG atau ada faktor lain yang mungkin mempengaruhi return efek, seperti tingkat
bunga bebas risiko. (Halim, 2003: 82). Dalam bentuk persamaan, model indek berganda untuk saham
individual secara umum dapat ditulis sebagai berikut:

keterangan:

ER(i) = ekspektasi return efek i

= ekspektasi return efek i jika tiap faktor bernilai 0 (konstanta)

= sensitive efek i terhadap faktor (koefisien regrasi)


F1....Fn = faktor yang mempengaruhi efek i

Ei = faktor lain yang tidak dimasukkan kedalam model

Untuk membentuk portofolio yang efisien, terdapat beberapa asumsi yang harus diperhatikan.
Asumsi tersebut antara lain:

1. Perilaku Investor

Bahwa semua investor tidak menyukai risiko (risk averse). Investor yang dihadapkan pada dua pilihan yaitu
investasi yang menawarkan keuntungan (return) yang sama dengan risiko yang berbeda, akan memilih
investasi yang memiliki risiko yang lebih rendah.

2. Konsep fungsi utilitas dalam kurva indiferen

Fungsi utilitas diartikan sebagai suatu fungsi matematis yang menunjukkan nilai dari semua alternatif
pilihan yang ada. Semakin tinggi nilai dari suatu alternatif, semakin tinggi utilitas alternatif tersebut.
Sedangkan dalam portofolio, fungsi utilitas ditunjukkan oleh preferen seorang investor terhadap berbagai
macam pilihan investasi dari masing-masing keuntungan (return) dan risiko.

Dalam pendekatan Markowitz, untuk menentukan efisien atau efficient frontier dapat diketahui
dari oppurtunity set atau attainable set. Investor dapat memilih kombinasi dari aktiva-aktiva yang
dimilikinya untuk membentuk portofolio. Semua set yang memberikan kemungkinan portofolio baik yang
efisien maupun yang tidak efisien yang dapat dipilih oleh investor. Oleh karena tidak semua portofolio
yang tersedia di oppurtunity set merupakan portofolio yang efisien. Hanya kumpulan (set) dari seluruh
portofolio yang efisien yang disebut efisien set atau efficient frontier.

Efficient frontier merupakan kombinasi aset-aset yang membentuk portofolio yang efisien. Pada
saat investor menentukan portofolio-portofolio yang efisien yang sesuai dengan preferensi investor, maka
portofolio-portofolio yang lain di luar portofolio yang efisien akan diabaikan oleh investor. Dari gambar
berikut ini, yang termasuk dalam portofolio yang efisien adalah garis pada titik BCDE, sedangkan garis
diluar titik tersebut, seperti AGH bukan merupakan portofolio yang efisien.

Titik-titik kombinasi portofolio yang efisien (titik BCDE) investor dapat memilih salah satu titik
untuk menentukan portofolio yang optimal. Namun dalam menentukan pilihan portofolio yang optimal.
Namun dalan menentukan pilihan portofolio yang optimal tersebut, investor akan melakukan
pertimbangan terhadap preferensinya yaitu terhadap keuntungan (return) yang diharapkan dan risiko
yang ditanggung oleh investor. Dari gambar di bawah ini preferensi investor ditunjukkan oleh kurva
indiferen (U1 dan U2). Portofolio investor adalah portofolio ada titik D, karena menawarkan keuntungan
(return) yang diharapkan dan risiko yang sesuai dengan preferensi investor.

Gambar

Portofolio Efisien
dan Portofolio Optimal
Sumber : Tandelilin (2001 : 78)

2.4.Model Utilitas yang Diharapkan

Model utilitas yang diharapkan menyatakan bahwa para pemodal akan memilih suatu kesempatan
investasi yang diharapkan yang tertinggi. Utilitas yang diharapkan yang tertinggi tidak selalu sama dengan
tingkat keuntungan yang diharapkan yang tertinggi. Berdasarkan model ini dipergunakan beberapa
aksioma tentang perilaku pemodal dalam pengambilan keputusan investasi. Aksioma-aksioma tersebut
adalah :

Para pemodal mampu memilih berbagai alternative dengan menyusun peringkat dari alternatif-
alternatif tersebut sehingga bisa diambil keputusan.

Setiap peringkat alternatif-alternatif tersebut bersifat transitif. Artinya kalau investasi A lebih
disukai daripada B dan B lebih disukai C, maka A tentu lebih disukai daripada C.

Para pemodal akan memperhatikan resiko alternatif yang dipertimbangkan dan tidak
memperhatikan sifat alternatif-alternatif tersebut.

Para pemodal mampu menentukan certainty equivalent dari setiap investasi yang tidak pasti.
Certainty Equivalent suatu investasi menunjukkan nilai pasti yang ekuivalen dengan nilai
pengharapan dari investasi tersebut.

Model utilitas yang diharapkan ini menggunakan asumsi terhadap sikap pemodal terhadap risiko.
Sikap-sikap tersebut dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :

risk averse (tidak menyukai risiko)


risk neutral (netral terhadap risiko)
risk seeker (menyukai risiko)
2.5.Menginvestasikan Dan Meminjam Dana Bebas Resiko

Dalam model Markowitz investor bisa menentukan pilihan portofolio optimal dari berbagai pilihan
portopolio yang efisien. Akan tetapi model Markowitz tersebut membatasi pilihan investor hanya pada
potofolio yang terdiri dari asset beresiko. Padahal dalam kenyataannya investor bebas memilih potofolio
yang juga terdiri dari asset bebas resiko.

Gambar 4.

Perubahan Pada Permukaan Efisien Markowitz

Jika Dimasukkan Asset Bebas Risiko

Dalam gambar diatas menunujkkan apa yang terjadi pada permukaan efisien jika asset bebas risiko
dimasukkan dalam pemilihan portofolio. Titik Rf menunujukan kombinasi antara return dan risiko aset
bebas risiko. Titik Rf yang terletak tepat pada garis vertikal mengambarkan bahwa risko aset tersebut
sama dengan nol. Investor bisa mengkombinasikan asset bebas risiko ini dengan kumpulan portofolio
efisien yang ada pada permukaan efisien . dengan menghubungkan titik Rf dan pilihan portofolio pada
permukaan efisien kita akan menemukan suatu kombinasi baru yang sebelumnya tidak kita temukan pada
model portofolio Markowitz.

Menginvestasikan dana bebas risiko

Dengan dimasukannya Rf dalam model Markowitz maka permukaan efisen akan berubah membentuk
garis lurus yang menghubungkan Rf dan titik optimal yang dipilh investor, misalnya jika portofolio optimal
investor berada pada titik L maka jika investor tersebut mengkombinasikan portofolio L dengan asset
bebas resiko, permukaan efisien yang akan terbentuk akan menjadi Rf-L. jika investor menginvestasikan
seluruh dananya pada asset bebas risiko maka return yang di harapkan adalah sebesar Rf dengan risko
sebesar nol. Jika investor menginvestasikan seluruh dananya pada asset beresiko , misalnya pada titik L
maka return yang diharapkan adalah sebesar E(Rf). semakin besar porsi dana yang di investasikan pada
asset berisiko, semakin besar return yang diharapkan dari portofolio tersebut. Hal ini didasari dari
hubungan yang searah antara risiko dan return ; semakin besar risiko semakin besar return yang di
harapkan

Meminjam dana bebas risiko

Dengan mencari tambahan dana yang berasal dari pinjaman, investor bisa menambah dana yang
dimilikinya untuk diinvestasikan. Jika dana pinjaman tersebut digabungkan dengan dana yang dimiliki saat
ini dan digunakan untuk investasi , maka investor akan mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan
return yang diharapkan dari investasi lebih tinggi. Tentu saja sesuai dengan hubungan searah antara
investasi dengan risiko.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Portofolio yang optimal ini dapat ditentukan dengan memilih tingkat return ekspektasi tertentu
dan kemudian meminimumkan risikonya, atau menentukan tingkat risiko yang tertentu dan kemudian
memaksimumkan return ekspektasinya. Investor yang rasional akan memilih portofolio optimal ini karena
merupakan portofolio yang dibentuk dengan mengoptimalkan satu dari dua dimensi, yaitu return
ekspektasi atau risiko portofolio.Dalam memilih portofolio yang optimal ada beberapa pendekatan yaitu:

Portofolio optimal berdasarkan preferensi investor

Portofolio optimal berdasarkan model Markowitz

Portofolio optimal dengan adanya simpanan dan pinjaman bebas risiko.

Portofolio optimal berdasarkan model Indeks Tunggal

DAFTAR PUSATAKA

http://ilerning.com/index.php?option=com_content&view=article&id=98:pemilihan
portofolio&catid=43:investasi-dan-lembaga-keuangan&Itemid=59

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Muniya%20Alteza,%20SE.,M%20Si./Materi%20Man
ajemen%20Investasi_Pembentukan%20dan%20Pemilihan%20Portofolio.pdf
Tandelilin Eduardus, 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, BPFE-Yogyakarta, edisi pertama.

http://deden08m.files.wordpress.com/2011/09/materi-5-pemilhan-portofolio.pdf

Diposting oleh aik arif di 07.05


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:


Posting Komentar
Beranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog
2012 (1)
o Desember (1)
pemilihan portofolio

Mengenai Saya
aik arif

Lihat profil lengkapku

Tema Perjalanan. Diberdayakan oleh Blogger.