Anda di halaman 1dari 12

RMK

PENGAUDITAN INTERNAL
(PROGRAM AUDIT)

OLEH :

AHMAD RAFIF RAYA

A31114511

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2017
1. MANFAAT PROGRAM AUDIT

Tujuan

Program audit internal merupakan pedoman bagi auditor dan merupakan satu kesatuan dengan
supervisi audit dalam pengambilan langkah-langkah audit tertentu. Langkah-langkah audit
dirancang untuk (1) mengumpulkan bahan bukti dan (2) untuk memungkinkan auditor
internal mengemukakan pendapat mengenai efisiensi, keekonomisan, dan efektivitas aktivitas
yang akan diperiksa. Program tersebut berisi arahan-arahan pemeriksaan dan evaluasi
informasi yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan-tujuan audit dalam ruang lingkup
penugasan audit.

Pendek kata, program audit dirancang untuk menjadi pedoman bagi auditor mengenai:

Apa yang akan dilakukan (what)


Kapan akan dilakukan (when)
Bagaimana akan melakukannya (how)
Siapa yang akan melakukannya (who)
Berapa lama waktu yang dibutuhkan (time)

Program audit merupakan alat yang menghubungkan survei pendahuluan dengan pekerjaan
lapangan. Dalam survei pendahuluan, auditor internal mengidentifikasi tujuan operasi, risiko,
kondisi-kondisi operasi, dan kontrol yang diterapkan. Dalam pekerjaan lapangan mereka
mengumpulkan bahan bukti tentang efektivitas sistem kontrol, efisiensi, operasi, pencapaian
tujuan, dan dampak risiko terhadap perusahaan.

Manfaat Program Audit

Program audit yang disusun dengan baik bisa memberikan banyak manfaat, yaitu:

Memberikan rencana sistematis untuk setiap tahap pekerjaan audit, yang merupakan suatu
rencana yang dapat dikomunikasikan baik kepada supervisor audit maupun kepada staf
Menjadi dasar penugasan auditor.
Menjadi sarana pengawasan dan evaluasi kemajuan pekerjaan audit karena memuat waktu
audit yang dianggarkan.
Memungkinkan supervisor audit dan manajer membandingkan apa yang dikerjakan dengan
apa yang direncanakan.
Membantu melatih staf-staf yang belum berpengalaman dalam tahap-tahap pelaksanaan
audit.
2
Memberi ringkasan catatan pekerjaan yang dilakukan.
Membantu auditor pada audit selanjutnya untuk mengenal lebih dekat jenis yang dilakukan
dan waktu yang dibutuhkan.
Mengurangi waktu supervisi langsung yang dibutuhkan.
Menjadi titik awal bagi penilai fungsi audit internal untuk mengevaluasi upaya audit yang
telah dilakukan.

2. TANGGUNG JAWAB AUDITOR INTERNAL

Auditor internal harus bertanggung jawab untuk merencanakan penugasan audit. Perencanaan
harus didokumentasikan dan harus mencakup:

1. Penetapan tujuan audit dan lingkup pekerjaan.


2. Latar belakang informasi tentang aktivitas yang akan diaudit.
3. Sumber daya yang diperlukan.
4. Komunikasi dengan orang-orang yang perlu mengetahui audit.
5. Pelaksanaan, jika layak, survei lapangan untuk mengenal lebih dekat aktivitas dan kontrol
yang akan diaudit.
6. Penulisan program audit.
7. Penentuan bagaimana, kapan, dan kepada siapa hasil audit akan dikomunikasikan.
8. Perolehan pengesahan rencana kerja audit.

Lingkup Audit
Program audit harus menunjukkan lingkup pekerjaan audit. Program tersebut harus
memperjelas hal-hal apa yang akan tercakup dalam audit dan yang tidak. Tujuan audit
seharusnya menuntun lingkup pekerjaan.
Menurut Standar auditor internal yang profesional bertanggung jawab untuk memeriksa dan
mengevaluasi efektivitas sistem kontrol internal organisasi dan kualitas kinerja dalam
pelaksanaan tanggung jawab yang diemban. Tujuan-tujuan utama dari system kontrol internal
ini adalah untuk memastikan:

1. Keandalan dan integritas informasi.


2. Ketaatan dengan kebijakan, rencana, prosedur,hukum, dan regulasi.
3. Pengamanan aktiva.
4. Penggunaan sumber daya yang ekonomis dan efisien.
5. Pencapaian tujuan dan sasaran yang di tetapkan untuk operasi dan program.

3
Audit internal yang komprehensif dan tidak dibatasi bisa memiliki semua tujuan ini; yang
pasti auditor internal harus menyiapkan program audit mereka dengan tanggung jawab ini
dalam pikiran mereka. Namun mereka seharusnya tidak mengabaikan kewenangan audit yang
diberikan kepada mereka oleh para atasannya. Lingkup audit tidak boleh melebihi
kewenangan yang diberikan manajemen seniorkepada auditor.

3. MENDEFINISIKAN EKONOMIS, EFISIENSI, DAN EFEKTIVITAS

Ekonomis (economy) sering digunakan untuk mengartikan penghematan; tetapi sebenarnya


artinya lebih dari itu. Implikasi utamanya adalah adanya manajemen yang berhati-hati atau
gunakan sehingga mendapatkan keuntungan terbaik tanpa ada sisa- makna yang juga bisa
diterapkan untuk efisiensi. Istilah tersebut lebih luas diterapkan dibandingkan istilah
berhemat, yang hanya mengacu pada seseorang atau pengeluarannya.

Efisiensi (efficiency) berrati meminimalkan kerugian atau penghamburan tenaga ketika


memberikan dampak, menghasilkan, atau memfungsikan. Bila mengacu ke seseorang, istilah
efisien berarti menggunakan keahlian, tahan menderita, dan tetap waspada; kadang kala
menjadi sinonim dengan istilah cakap dan kompeten.

Efektivitas (effectiveness) menekankan hasil aktual dari dampak atau kekuatan untuk
menghasilkan dampak tertentu. Sesuatu bisa menjadi efektif tetapi tidak efisien atau
ekonomis. Program untuk membuat sistem menjadi lebih efisien atau ekonomis juga bisa
menjadi lebih efektif.

4. TUJUAN DAN PROSEDUR AUDIT

Tujuan (objective) adalah apa yang ingin dicapai seseorang. Prosedur (procedure) adalah
teknik-teknik yang diterapkan untuk mencapai tujuan. Auditor internal memiliki seperangkat
tujuan dan prosedur yang berbeda dalam pekerjaan mereka. Tercakup didalamnya tujuan dan
prosedur operasi serta tujuan prosedur audit.

Tujuan dan Prosedur Operasi


Tujuan operasi (operating objective) adalah akhir yang akan dicapai oleh manajer operasi
dan karyawan-karyawannya. Salah satu tujuan operasi untuk aktivitas pembelian adalah
membeli barang dan jasa yang tepat, pada harga yang tepat, pada waktu yang tepat, dan pada
kualitas yang tepat. Setiap tujuan ini cicapai melalui prosedur-prosedur atau teknik-teknik.

4
Auditor internal tidak mampu mengevaluasi sebuah operasi jika mereka tidak sepenuhnya
memahami hal yang diharapkan untuk dicapai dari operasi tersebut- yaitu tujuan-tujuannya,
mereka juga tidak bisa menentukan apakah suatu tujuan telah dicapai secara efisien,
ekonomis, dan efektif jika mereka tidak memeriksa prosedur-prosedur yang diterapkan oleh
karyawan operasi dalam mencapai tujuannya.
Oleh karena itu, semua program audit harus mengidentifikasi tujuan operasi yang
pencapainnya akan di evaluasi oleh auditor.

Tujuan dan Prosedur Audit


Tujuan audit dapat bersifat umum, bisa juga khusus. Tujuan umum audit diupayakan tercapai
dalam semua penugasan dan dituntun oleh lingkup audit yang diberikan manajemen dan
dewan komisaris ke kepala bagaian audit. Misalnya, auditor internal mungkin dibatasi hanya
pada masalah-masalah akuntansi dan keuangan. Dalam kasus ini tujuan umum audit mereka
mungkin diarahkan hanya untuk menentukan keandalan dan integritas informasi keuangan;
ketaatan dengan kebijakan, rencana, prosedur, hukum, dan regulasi, dan pengamanan aktiva.
Tujuan khusus audit terkait dengan tujuan operasi. Misalnya, jika tujuan pembelian adalah
membeli barang yang tepat, maka tujuan auditnya adalah menentukan apakah sistem yang
dirancang untuk melihat apakah tujuan operasi telah dicapai dan apakah barang yang tepat
memang telah dibeli.
Prosedur-prosedur audit (audit procedure) adalah teknik-teknik yang diterapkan auditor
untuk menentukan apakah tujuan operasi telah dicapai. Misalnya, program audit akan berisi
pemeriksaan auditor atas sampel pesanan pembelian dan melihat apakah pesanan tersebut
dilengkapi dengan permintaan pembelian.

5. MENYIAPKAN PROGRAM AUDIT

Latar Belakang Informasi

Latar belakang informasi yang diperoleh selama survei pendahuluan akan membantu
mengarahkan cakupan audit yang direncanakan. Setiap operasi yang luas dengan banyak
keterkaitan dan proses dapat menghabiskan waktu audit jika auditor memutuskan untuk
memeriksa setiap aktivitas yang dilakukan. Tetapi program yang efektif dan ekonomis
memfokuskan pada hal-hal yang menarik perhatian.

5
Disaat yang sama, auditor internal harus menaati tanggung jawab profesional mereka dalam
memutuskan apa yang akan diaudit dan yang tidak. Auditor internal tidak bisa dibebankan
tanggung jawab untuk mencegah kekurangan, pelanggaran, atau kesalahan. Hal ini merupakan
tanggung jawab manajemen. Auditor internal bertanggung jawab untuk mengidentifikasi
masalah-masalah yang memungkinkan atau mendorong terjadinya hal-hal yang tidak
diinginkan. Jika terjadi kecurangan atau pelanggaran, auditor internal hanya memiliki satu
alasan: metode dan prosedur mereka sudah dilakukan dengan profesional dan telah
dipertimbangkan untuk mengidentifikasi dan mengetahui risiko-risiko perusahaan. Dan inilah
salah satu fungsi program audit internal yang profesional: untuk menunjukkan bahwa
program tersebut efektif hanya menekannkan pada hal-hal yang signifikan; dan untuk
memberikan bukti bahwa risiko dan kontrol yang signifikan telah diidentifikasi dan di
evaluasi.
Beberapa contoh yang akan membantu menjelaskan pendekatan ini:

Pembelian

Tujuan-tujuan manajemen operasi pembelian yang umum berlaku adalah mendapatkan barang
atau jasa yang tepat (1) Dengan harga yang tepat, (2) Dengan waktu ynag tepat, (3) Dengan
kuantitas yang tepat, (4) Dengan kualitas yang tepat, dan (5) Dari pemasok yang tepat.
Tujuan-tujuan ini dapat membentuk kerangka kerja untuk program audit. Setiap tujuan dapat
menjadi bagian terpisah dalam program. Misalnya, mendapatkan barang dan jasa dengan
harga yang tepat bisa mencerminkan bagian terpisah dari program audit dan pekerjaan audit.
Kemudian auditor bisa mendata risiko-risiko aktual atau potensial yang ditemukan selama
survei pendahuluan yang berhubungan dengan penetapan harga yang tepat untuk barang dan
jasa yang terdapat dalam operasi pembelian.

Dalam setiap audit operasi, auditor internal harus memiliki lebih dari enam tujuan operasi
yang biasanya diterapkan untuk fungsi pembelian. Tujuan penting lainnya yang bisa
diterapkan ke aktivitas atau departemen tertentu adalah: bahwa aktivitas atau departemen
dikelola dengan baik. Satu segmen program pembelian akan terkait dengan
pengadministrasian aktivitas tersebut. Risiko-risiko administratif yang bisa ditemukan dalam
survei pendahuluan adalah:

6
Bagan organisasi departemen pembelian tidak disiapkan. (Bisa mengakibatkan
kebingungan dalam hal siapa yang bertanggung jawab untuk membeli barang atau jasa
tertentu).
Kurangnya arahan yang mencakup wewenang dan tanggung jawab departemen pembelian.
(Organisasi-organisasi lainnya [unit-unit lini] bisa dibebani wewenang untuk berhubungan
langsung dengan pemasok).
Kurangnya petunjuk operasi departemen pembelian. (Karyawan bisa bertindak sesuai
keinginannya, tidak berdasarkan cara yang konsisten dan disetujui).
Tidak ada prosedur yang mengatur wewenang untuk menandatangani penerimaan barang
dan jasa. (Pesanan bisa dikeluarkan untuk kepentingan sendiri atau untuk membeli barang
yang salah atau jumlah yang tidak tepat).

Pemasaran
Beberapa tujuan penting organisasi pemasaran adalah: (1) Menentukan potensi pasar untuk
barang dan jasa organisasi (riset pasar); (2) Menyebarkan informasi, mengembangkan
perilaku yang ramah pelanggan, dan mendorong tindakan yang bermanfaat bagi organisasi
(periklanan); dan (3)Mendorong distributor memberikan perhatian lebih ke penjualan produk
organisasi dan membujuk pelanggan membeli produk-produk tersebut (promosi penjualan).
Jadi, riset pasar, periklanan, dan promosi penjualan bisa menjadi segmen terpisah dalam audit
fungsi pemasaran. Supervisor audit, auditor eksternal, dan penelaah lainnya umumnya akan
menggunakan program audit sebagai titik awal untuk menilai kecukupan audit yang telah
diselesaikan.

Audit yang Komprehensif


Dalam beberapa kondisi, auditor internal mungkin ingin melakukan audit kompherensif atas
suatu operasi. Mungkin audit pertama kali untuk operasi membutuhkan audit untuk semua
aktivitas, baik yang berisiko tinggi ataupun tidak. Atau auditor mungkin ingin
mendokumentasikan keseluruhan sistem untuk menenntukan kesesuaiannya dengan ketentuan
kontrol akuntansi internal dari U.S.Foreign Corrupt Practices Act 1977 atau aturan lainnya
yang telah ditetapkan.
Program audit sesuai kondisi mungkin masih yang terbaik, tetapi fokusnya adalah pada
kontrol karena risiko tidak menjadi dsar utama untuk menentukan luas dan pendekatan audit.
Audit akan diarahkan pada penentuan kontrol yang diterapkan atau seharusnya diterapkan
untuk mencapai tujuan.

7
Program Pro Forma
Program Pro Forma sangat penting dan berguna jika audit akan dilaksanakan oleh auditor-
auditor yang kurang berpengalaman yang pekerjaanya harus diawasi. Program tersebut juga
bermanfaat jika (1) Jenis audit yang sama akan dilakukan di sejumlag lokasi yang berbeda, (2)
Informasi yang bisa dibandingkan diperlukan untuk setiap loaksi, (3) Laporan serupa atau
laporan konsolidasi akan dikeluarkan, dan (4) Operasi yang audit relatif serupa.

Program tersebut berfokus pada verifikasi rinci dan juga memberikan auditor latar belakang
informasi yang menunjukan tujuan-tujuan operasi dan sistem kontrol. Program tersebut sangat
bermanfaat dan membantu auditor serta mampu menghasilkan semua informasi yang
diperlukan untuk evaluasi komprehensif dari aktivitas yang diperiksa.

Ambiguitas
Informasi yang tepat akan menghasilkan informasi audit yang tepat pula. Kata-kata seperti
memadai, mencukupi, dan menyeluruh memiliki arti berbeda bagi orang yang berbeda.
Meminta auditor untuk tentukan apakah persaingan yang memadai memang terjadi tidak
berarti apa-apa dan mengundang respons yang berbeda dari auditor yang berbeda.
Ambiguitas (ambiguities) akan berkurang bila aktivitas audit internal menerapkan makna
seragam untuk berbagai istilah yang digunakan dalam program audit. Berikut ini beberapa
definisi yang dapat membantu menghilangkan kebingungan dan menjembatani pembuat
program dengan staf audit:
MenganalisisMemecah menjadi bagian-bagian penting dan menentukan sifatnya.
MengecekMembandingkan atau menghitung ulang, sesuai keperluan, untuk mengetahui
akurasi atau kewajarannya.
MengonfirmasiMembuktikan kebenaran atau akurasi, biasanya melalui tanya jawab
tertulis atau melalui inspeksi.
MengevaluasiMencapai kesimpulan mengenai kelayakan, efektivitas, atau kegunaan.
MemeriksaMelihat lebih dekat dan berhati-hati dengan tujuan mencapai akurasi,
kelayakan, dan opini yang sesuai.
MenginspeksiMemeriksa secara fisik.
MenginvestigasiMemastikan fakta kondisi-kondisi yang dicurigai atau yang dituduhkan.
MenelaahMempelajari secara kritis.

8
Memeriksa cepatMempelajari cepat dengan tujuan menguji kecenderungan umum,
mengetahui penyimpangan yang muncul, hal-hal yang tidak biasa, atau kondisi-kondisi
lain yang membutuhkan studi lanjut.
MembuktikanMencari bukti yang meyakinkan.
MengujiMemeriksa sampel yang representatif dengan tujuan mencapai kesimpulan
mengenai poulasinya.
MemverifikasiMenetapkan akurasi.

Mekanisme Program
Program audit harus mencakup estimasi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan setiap
segmen audit. Estimasi ini memang merupakan estimasi awal, tetapi membantu penanggung
jawab audit dan supervisor audit mengontrol dan menelaah kemajuan kerja. Estimasi juga
membantu menentukan berapa staf yang harus ditugaskan untuk audit guna menyelesaikan
pekerjaan dalam waktu yang wajar.
Program audit harus mendokumentasikan kemajuan pekerjaan audit. Bila pengujian
dilakukan, metode yang sederhana adalah membuat rujukan ke kertas kerja dalam program
audit. Setiap langkah audit yang direncanakan harus memiliki referensi kertas kerja. Hal ini
membantu auditor menghindari tidak dilakukannya langkah-langkah tertentu secara tidak
sengaja.

Pedoman Penyiapan Program Audit


Program-program audit terkait erat dengan informasi yang diperoleh selama survei
pendahuluan. Pedoman penyiapan program akan mempertimbangkan hasil-hasil dari langkah-
langkah yang dilakukan selama survei. Beberapa pedoman untuk melaksanakan langkah-
langkah tersebut dan alasan-alasannya:

Pedoman Alasan

Telaah laporan, program audit dan Untuk mendapatkan latar belakang dan
kertas kerja, serta dokumen-dokumen menentukan apakah hasil-hasil penelaahan
lainnya dari audit terdahulu, dan buat sebelumnya untuk memutuskan lingkup audit
daftar masalah-masalah yang sekarang dengan lebih baik.
membutuhkan tindakan perbaikan

9
Lakukan survey pendahuluan Untuk menentukan tujuan aktivitas yang akan
diperiksa, risiko-risiko yang aktual/potensial, dan
sistem kontrol yang ada

Telaah kebijakan dan prosedur fungsi Untuk menentukan hal-hal yang bisa diukur dan
yang telah diaudit, manual operasinya, dinilai, dan apakah fungsi tersebut beroperasi
bagan wewenang, tujuan dan sasaran sesuai dengan keinginan manajemen
jangka panjang dan jangka pendek

Siapkan bagan alir operasi-operasi Untuk mengidentifikasikan kelemahan kontrol


kunci dari fungsi yang diaudit dan mendapatkan analisis visual aliran transaksi

Telaah standar kinerja yang telah Untuk memperoleh tolok ukur


ditetapkan oleh manajemen, dan jika
mungkin, dibandingkan dengan standar
industri

Tanya jawab dengan klien dan Untuk mendapatkan kesepakatan dari klien dan
diskusikan lingkup audit dan tujuan untuk menghindari salah paham mengenai tujuan
yang ingin dicapai auditor dan lingkup audit

Siapkan anggaran yang merinci sumber Untuk membuat estimasi jumlah auditor dan
daya yang dibutuhkan untuk waktu yang dibutuhkan guna memastikan
menyelesaikan penugasan audit efisiensi proses audit

Wawancara dengan karyawan kunci Untuk memahami operasi dan efisiensi serta
yang memiliki keterkaitan dengan efektivitas operasi dan mengidentifikasikan
fungsi audit masalah-masalah dalam kerja sama dan
koordinasi

Data semua risiko material yang harus Untuk memastikan bahwa masalah-masalah
dipertimbangkan rawan telah diketahui dan mendapatkan
perhatian yang layak

Untuk setiap risiko yang diidentifikasi, Untuk mengetahui apakah kontrol yang ada bisa
tentukan kontrol yang diterapkan dan mengurangi atau menghilangkan risiko-risiko
apakah sudah mencukupi yang diidentifikasi

10
Tentukan substansi masalah-masalah Untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan
utama dan peluang-peluang yang ada utama dan menentukan penyebab serta perbaikan
yang mungkin dilakukan.

Kriteria-kriteria Program Audit


Program audit sebaiknya mengikuti kriteria tertentu untuk mencapai tujuan tertentu untuk
mencapai tujuan departemen audit internal. Misalnya:

Tujuan operasi yang diperiksa harus dinyatakan dengan jelas dan setujui klien
Program harus sesuai dengan penugasan audit kecuali bila ada alasan yang mengharuskan
sebaliknya
Setiap langkah kerja yang diprogramkan harus memiliki alasan, yaitu tujuan operasi dan
kontrol yang akan diuji.
Langkah-langkah kerja harus mencukupi instruksi-instruksi positif, tidak dinyatakan dalam
bentuk pertanyaan.
Jika memungkinkan, program audit harus menunjukkan prioritas relatif dari langkah-
langkah kerja. Jadi, bagian yang lebih penting dalam program audit akan diselesaikan
dalam waktu dan batas lain yang ditentukan.
Program audit sebaiknya bersifat fleksibel dan memungkinkan munculnya inisiatif dan
pertimbangan yang wajar untuk menyimpang dari prosedur yang sudah ditentukan
Program audit sebaiknya bersifat fleksibel dan memungkinkan munculnya inisiatif dan
pertimbangan yang wajar untuk menyimpang dari prosedur yang sudah ditetapkan atau
untuk memperluas cakupan kerja. Tetapi supervisor audit harus diinformasikan segera.
Program audit jangan dipisahkan dengan bahan-bahan dari sumber yang tersedia bagi staf.
Informasi yang tidak perlu harus dihindari.
Program audit harus memuat bukti persetujuan supervisor sebelum dilakukan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Sawyer, Lawrence B., Mortimer A. Dittenhoffer dan James H. Scheiner. 2005. Sawyers
Internal Auditing, Fifth Edition. Jakarta: Penerbit Salemba Empat

12