Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Semua mahluk hidup membutuhkan oksigen tidak terkecuali organisme


yang hidup di dalam air. Kehidupan akuatik seperti ikan mendapatkan oksigen dalam
bentuk oksigen terlarut. Berikut merupakan teori dasar yang diperlukan dalam
pembahasan.

2.1 Oksigen Terlarut


Banyaknya oksigen yang terlarut dalam air dalam mg/l disebut oksigen
terlarut atau dissolved oxygen (Buchari,-). Oksigen terlarut dalam air sangat penting
bagi kehidupan dan kesehatan permukaan perairan. Ikan dan organisme akuatik
lainnya sangat bergantung pada oksigen terlarut untuk proses pernapasan. Oksigen
terlarut sangat penting bagi mikro organisme aerob untuk menstabilkan bahan yang
dapat terurai secara alami (biodegradable). Dan tingkat oksigen terlarut akan
berpengaruh terhadap tingkat keracunan ikan dan kehidupan akuatik lainnya dari
bahan asing yang terlarut dalam air.
Sumber oksigen terlarut di perairan berasal dari atmosfir. Kandungan
oksigen di udara adalah sebesar 20.9%. Oksigen dari atmosfir terlarut ke dalam air
melalui difusi. Sumber oksigen terlarut lainnya adalah fitoplankton dan tumbuhan
air. Organisme ini hidup di lapisan air yang tembus cahaya. Fitoplankton adalah
komponen autotrof plankton (plankton merupakan organisme yang hidup melayang-
layang di perairan dan tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang
atau angin yang menghanyutkannya). Autotrof adalah organisme yang mampu
menyediakan atau mensintesis makanan sendiri dengan bantuan energi seperti
matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen. Fitoplankton
dan tumbuhan air menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Fotosintesis
adalah proses metabolisme dalam tanaman untuk membentuk karbohidrat
menggunakan karbondioksida dan air dengan bantuan cahaya matahari dan klorofil.
Selain karbohidrat fotosintesis menghasilkan okisgen (O2) dan air sebagai hasil
sampingan dari proses fotosintesis. Reaksi fotosintesis adalah sebagai berikut,
6CO 2 +12 H 2 O → C 6 H 12 O6 + 6 H 2 O + 6O2

Menurut M. Ghufran (2005) sumber oksigen terlarut lainnya adalah aliran air baru
yang masuk ke dalam perairan.
Menurut Ellis (1989), faktor-faktor yang mempengaruhi oksigen terlarut
adalah kadar garam, tekanan udara dan temperatur. Oksigen terlarut akan berbanding
terbalik dengan kadar garam dan temperatur, dan berbanding lurus dengan tekanan.

2.2 Difusi
Difusi merupakan perpindahan zat yang terjadi karena adanya gerak acak
molekul zat dan adanya perbedaan konsentrasi zat (Jorgensen, 2001). Pada
umumnya, zat yang berdifusi bergerak dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke
daerah yang konsentrasinya rendah (Giancoli, 2001).
Misalkan sebuah tabung dengan luas penampang lintang A yang berisi
molekul dengan konsentrasi C1 disebelah kiri dan konsentrasi C2 di sebelah kanan

seperti pada Gambar 2.1. Dengan C1 lebih besar daripada C2 . Anggap bahwa
molekul-molekul bergerak acak. Misalkan sebagian kecil tabung dengan panjang ∆x
yang terletak dibagian tengah tabung yaitu antara daerah 1 dan daerah 2 seperti pada
Gambar 2.1. Karena konsentrasi molekul daerah 1 lebih besar dari konsentrasi
molekul di daerah 2 dan adanya gerak acak molekul, maka ada aliran molekul dari
daerah 1 ke daerah 2. Aliran berhenti ketika konsentrasi molekul di daerah 1 sama
dengan konsentrasi molekul di daerah 2.

∆x

daerah 1 daerah 2
A

Gambar 2.1

Tahun 1855, ahli fisiologi Adolf Fick (1829-1901) menentukan secara


eksperimental bahwa kecepatan difusi ( J ) berbanding lurus dengan perubahan
konsentrasi per satuan jarak dan dengan luas penampang lintang A (Giancoli, 2001).
(C1 − C 2 )
J = DA (2.1)
∆x
Persamaan (2.1) merupakan Hukum Fick atau persamaan difusi. D merupakan
konstanta pembanding yang disebut konstanta difusi.

2.3 Persamaan Reaerasi


Reaerasi adalah terlarutnya oksigen dari udara ke dalam air. Menurut
Jorgensen (2001), reaerasi merupakan akibat dari adanya perbedaaan konsentrasi
oksigen di udara dan air. Umumnya sumber oksigen terlarut pada permukaan
perairan berasal dari atmosfir. Perpindahan oksigen antara atmosfir dan permukaan
perairan akan terjadi ketika konsentrasi oksigen dalam air tidak sama dengan
konsentrasi oksigen di atmosfir. Oksigen akan terlarut ke dalam air ketika
konsentrasi oksigen di atmosfir lebih dari konsentrasi oksigen di dalam air.
Oksigen yang masuk ke dalam air melewati antar permukaan berdasarkan
Hukum Fick mengenai difusi (Ellis, 1989),sehingga
J = AK L (C s − C )

dengan J adalah kecepatan perpindahan oksigen melalui sebuah permukaan, A

adalah luas permukaan kontak, Cs merupakan konsentrasi oksigen jenuh, C adalah


konsentrasi oksigen pada waktu t , dan K L adalah koefisien perpindahan oksigen
pada lapisan permukaan.
Menurut Jorgensen (2001), jika diasumsikan bahwa air tercampur dengan
baik maka konsentrasi oksigen terlarut dalam volume V air selalu terdistribusi secara
merata dalam air. Sehingga kecepatan oksigen terlarut karena reaerasi adalah
∆M
= AK L (C s − C ) (2.2)
∆t
dengan M adalah massa oksigen. Karena M = VC maka persamaan (2.2) dapat
ditulis

∆VC
= AK L (C s − C )
∆t

Jika diasumsikan V konstan, maka

∆C
V = AK L (Cs − C )
∆t

Untuk ∆t → 0 maka

dC
V = AK L (C s − C ) (2.3)
dt

dengan V adalah volume air. Dari persamaan (2.3) diperoleh kecepatan reaerasi
yaitu
dC A
= K L (C s − C ) (2.4)
dt V
persamaan (2.4) dapat dituliskan sebagai berikut
dC
= K ' (C s − C ) (2.5)
dt
Persamaan (2.5) merupakan persamaan reaerasi, dengan K ' adalah konstanta
reaerasi.

2.4 Persamaan Michaelis Menten


Salah satu dari reaksi enzim dasar diusulkan oleh Michaelis dan Menten,
melibatkan sebuah subtrat S yang bereaksi dengan sebuah enzim E membentuk
sebuah kompleks SE yang kemudian diubah menjadi sebuah produk P dan enzim E
(Murray,1993). Secara skematis reaksi enzim adalah sebagai berikut,


k1
S + E ← → SE 
k3
→P+ E (2.6)
k2

dengan k1 , k2 , dan k3 adalah parameter konstan laju reaksi atau tetapan laju reaksi.

Tanda panah ganda (€ ) menyatakan reaksi bolak-balik, sedangkan tanda panah

tunggal (→) menyatakan reaksi satu arah. Secara keseluruhan mekanisme reaksi
adalah mengubah subsrat S melalui katalis enzim E menjadi produk P . Dengan
kata lain, satu molekul S bergabung dengan satu molekul E membentuk sebuah
komplek SE yang akhirnya menghasilkan satu molekul P dan satu molekul E .

Hukum aksi massa menyatakan bahwa laju reaksi sama dengan hasil kali
konsentrasi reaktan dan tetapan laju (Petruci, 1985). Misalkan konsentrasi masing-
masing reaktan dinotasikan dengan

s = [ S ] , e = [ E ] , c = [SE ] , p = [ P ]

dengan [ ] menyatakan konsentrasi. Kemudian hukum aksi massa diterapkan pada


persamaan (2.6) diperoleh satu persamaan untuk masing-masing reaktan.
Berdasarkan mekanisme reaksi (2.6) dapat diketahui antara lain

a) Perubahan konsentrasi substrat [S ] terhadap waktu t

Konsentrasi substrat [S ] berkurang dengan laju k1 es karena substrat


dan enzim membentuk komplek SE. Konsentrasi substrat [S ] bertambah
dengan laju k 2 c karena komplek SE terurai menjadi substrat dan enzim.
Sehingga diperoleh
ds
= −k1es + k 2 c (2.7)
dt

b) Perubahan konsentrasi enzim [ E ] terhadap waktu t

Konsentrasi enzim [ E ] berkurang denga laju k1 es karena substrat


dan enzim membentuk komplek SE . Sementara itu, konsentrasi enzim [ E ]
bertambah dengan laju (k 2 + k 3 )c karena terurainya SE menjadi substrat dan
enzim, dan terurainya komplek SE menjadi produk dan enzim. Sehingga
diperoleh

de
= −k1es + ( k 2 + k 3 )c (2.8)
dt

c) Perubahan konsentrasi komplek substrat dan enzim [ SE ] terhadap waktu t

Konsentrasi komplek [ SE ] bertambah dengan laju k1es karena


adanya pembentukan komplek SE dari substrat dan enzim. Konsentrasi
komplek [ SE ] berkurang dengan laju k 2 c karena terurainya komplek SE
menjadi substrat dan enzim. Konsentrasi komplek [ SE ] berkurang dengan laju
k 3 c karena terurainya komplek SE menjaid produk dan enzim. Sehingga

diperoleh

dc
= k1es − (k 2 + k 3 )c (2.9)
dt

d) Perubahan konsentrasi produk [ P ] terhadap waktu t

Pertambahan konsentrasi produk [ P ] per satuan waktu diperngaruhi


oleh terurainya komplek SE menjadi produk dan enzim k 3 c . Sehingga
diperoleh
dp
= k3c (2.10)
dt

Berdasarkan persamaan (2.7) sampai dengan persamaan (2.10) diperoleh


sistem persamaan differensial untuk reaksi enzim sebagai berikut

ds
= −k1es + k 2 c
dt

de
= −k1es + ( k 2 + k 3 )c
dt
(2.11)
dc )
= k1es − (k 2 + k 3 )c
dt

dp
= k3c
dt

Misal diberikan syarat awal sebagai berikut

s (0) = s 0 , e(0) = e0 , c (0) = 0 , p (0) = 0

Dalam mekanisme reaksi (2.6), enzim E adalah sebuah katalis yang hanya
memfasilitasi reaksi tetapi enzim tidak mengalami perubahan kimia, sehingga
konsentrasi total enzim yaitu enzim bebas ditambah dengan enzim yang telah
berkombinasi dengan substrat, adalah konstan (Oxtoby, 2001). Sehingga diperoleh

e + c = e0

⇔ e = e0 − c (2.12)

Berdasarkan sistem persamaan differensial (2.11) dapat dilihat bahwa


de dc
+ =0
dt dt

de dc (2.13)
⇔ =−
dt dt

Berdasarkan persamaan (2.13) dapat dilihat bahwa persamaan kedua dari sistem
persamaan differensial (2.11) identik dengan persamaan ketiga dari sistem persamaan
differensial (2.11), sehingga diperoleh sistem persamaan differensial berikut

ds
= −k1es + k 2 c
dt

dc
= k1es − (k 2 + k 3 )c (2.14)
dt

dp
= k3c
dt

Persamaan (2.12) disubstitusikan pada sistem persamaan differensial (2.11), sehingga


diperoleh

ds
= −k1e0 s + (k1 s + k 2 )c
dt

dc
= k1 e 0 s − ( k1 s + k 2 + k 3 ) c (2.15)
dt

dp
= k3c
dt

Menurut Oxtoby (2001) hampiran keadaan tunak untuk konsentrasi komplek [ SE ]


terdiri atas asumsi bahwa perubahan laju [ SE ] adalah 0. Sehingga

dc
=0
dt
⇔ k 1 e 0 s − ( k1 s + k 2 + k 3 ) c = 0

k1 e 0 s (2.16)
⇔ c=
k1 s + k 2 + k 3

Persamaan (2.16) disubstitusikan ke dalam persamaan ketiga dari sistem persamaan


differensial (2.15) sehingga diperoleh

dp
= k3c
dt

dp k3 k1e0 s
⇔ = (2.17)
dt k1s + k2 + k3

Menurut Rubinow (1975) kecepatan reaksi v didefinisikan sebagai


kecepatan terbentuknya produk atau kecepatan berkurangnya substrat. Sehingga
kecepatan reaksi v adalah

dp
v= (2.18)
dt

atau

ds
v=−
dt

Persamaan (2.17) disubstitusikan pada persamaan (2.18) diperoleh

k1k3e0 s
v=
k1s + k2 + k3

k1k3e0 s
k1
⇔ v=
k1s + k2 + k3
k1
k3e0 s
v=
⇔ k +k
s+ 2 3
k1

Vs (2.16)
⇔ v=
s + km

k2 + k3
v merupakan fungsi dari dari s , dengan V = k3e0 dan km = . Persamaan
k1

(2.16) adalah persamaan Michaelis-Menten dengan k m adalah konstanta Michaelis


dan V merupakan kecepatan maksimum reaksi.

2.5 Persamaan Logistik


Persamaan logistik pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1840 oleh
seorang ahli matematika Belgia yang bernama P.F. Verhulst. Persamaan logistik
merupakan pengembangan dari model pertumbuhan eksponensial. Persamaan
logistik mengikutsertakan daya dukung lingkungan (carrying capacity of the
environment) yaitu populasi maksimum yang dapat didukung oleh suatu lingkungan
(Edwards and Penney, 2000). Secara umum persamaan model pertumbuhan logistik
dapat dituliskan sebagai berikut
dN  N
= rN 1 − 
dt  K

dengan N menyatakan jumlah populasi, r menyatakan laju pertumbuhan intrinsik


dengan r > 0 dan K menyatakan daya dukung lingkungan.