Anda di halaman 1dari 18

MANIFESTASI PANAS BUMI

Bukti kegiatan panas bumi dinyatakan oleh manifestasi-manifestasi di


permukaan, menandakan bahwa fluida hidrotermal yang berasal dari reservoar
telah keluar melalui bukaan -bukaan struktur atau satuan satuan batuan
berpermeabilitas. Beberapa manifestasi menjadi penting untuk diketahui karena
dapat digunakan sebagai indikator dalam penentuan suhu reservoar panasbumi,
diantaranya :

1.Mata air panas, dapat terbentuk dalam beberapa tingkatan mulai dari rembesan
hingga menghasilkan air dan uap panas yang dapat dimanfaatkan secara langsung
(pemanas ruangan / rumah pertanian atau air mandi) atau penggerak turbin listrik
dan yang paling penting adalah bahwa dengan menghitung / mengukur suhunya
dapat diperkirakan besaran keluaran energi panas (thermal energy output) dari
reservoir di bawah permukaan.

2.Sinter silika, berasal dari fluida hidrotermal bersusunan alkalin dengan


kandungan cukup silika diendapkan ketika fluida yang jenuh silika amorf
mengalami pendinginan dari 100 oC ke 50C. Endapan ini dapat digunakan
sebagai indikator yang Intik bagi keberadaan reservoir bersuhu > 175oC

3.Travertin, adalah jenis karbonat yang diendapkan di dekat atau permukaan,


ketika air meteorik yang sedang bersirkulasi sepanjang bukaan-bukaan struktur
mengalami pemanasan oleh magma dan bereaksi dengan batuan karbonat.
Biasanya terbentuk sebagai timbunan / gundukan di sekitar mata air panas
bersuhu sekitar 30C-100C, dapat digunakan sebagai indikator suhu reservoir
panasbumi berkapasitas energi kecil yang terlalu lemah untuk menggerakkan
turbin listrik tetapi dapat dimanfaatkan secara langsung.

4.Kawah dan endapan hidrotermal. Kedua jenis manifestasi ini erat


hubungannya dengan kegiatan erupsi hidrotermal dan merupakan indikator kuat
dari keberadaan reservoir hidrotermal aktif Kawah dihasilkan oleh erupsi
berkekuatan supersonik karena tekanan uap panas yang herasal dari reservoir
hidrotermal dalam (kedalaman 400 m, suhu 230oC) melampaui tekanan
litostatik, ketika aliran uap tersebut terhambat oleh lapisan batuan tidak permeabel
(caprock). Sedangkan endapan hidrotermal (jatuhan) dihasilkan oleh erupsi
berkekuatan basaltik dari reservoir hidrotermal dangkal (kedalaman 200 m, suhu
I95C), ketika transmisi tekanan uap panas melebihi tekanan litostatik karena
tertutupnya bukaan-hukaan batuan yang dilaluinya.
5.Warm Ground Gas-gas dan uap air yang naik kepermukaan akan menaikkan
suhu disekitar daerah termal area sehingga suhu didaerah ini akan Iebih tinggi
daripada daerah disekitarnya dan juga lebih tinggi dari suhu udara didekat
pernmkaan bunti yang kadangkadang mencapai 30C- 40C.

6.Steaming Ground. Uap air yang keluar dalam jumlah sedikit melalui pori
dalam tanah atau batuan yang kenampakannya hanya berupa uap putih dan hangat
dan tidak tidak terdengar bunyi dari tekanan uap yang tinggi seperti pada fumarol.

7.Fumarol. Uap panas (vapour) yang keluar melalui celah-celah dalam batuan
dan kemudian berubah menjadi uap air (steam), yang umumnya mengandung gas
SO2 yang relatif tinggi serta gas CO2.

8.Acid Hot Spring. Mata air panas dengan pH asam (pH < 6) yang terbentuk dari
hasil kondensasi gas-gas magmatik dan uap panas (vapour) didekat permukaan
bumi kemudian melarut dan bercampur dengan air meteorik dan kemudian keluar
menjadi mata air dengan pH asam.

9.Neutral Hot Spring. Mata air panas dengan pH netral atau mendekati netral
(pH 6 -7). Mata air ini diassosiasikan sebagai direct discharge fluida dari reservoir
kepermukaan bumi. Umumnya mengandung ion klorida yang tinggi sehingga
sering kali disebut air klorida. Disekitar mata air panas ini sering dijumpai
endapan silika sinter dan mineral mineral sulfida seperti galena, pyrit dll.

10.Hot pool. Merupakan daerah ubahan erupsi hidrothermal yang pada umumnya
mengandung air panas dan uap panas atau bisa jugs campuran dari keduanya.

11.Hot Lake. Merupakan danau vulkanik yang terletak pada daerah aktivitas
geotermal yang masih memperlihatkan adanya gejala-gejala post vulkanik yang
dibuktikan dari suhu air yang relatif panas dan memperlihatkan adanya
kenampakan gelembung- gelembung udara pada permukaan air.

12.Mudpool . Kolam lumpur yang kenampakannya sedikit mengandung uap dan


gas CO2, tidak terkondensasi, umumnya fluida berasal dari kondensasi uap.
Penambahan cairan lumpur uap menyebabkan gas CO2 keluar.

13.Geyser. Sejenis mata air panas yang menyembur secara periodik,


mengeluarkan air panas dan uap air ke udara.
14.Hydrot. Eruption. Suatu proses erupsi vulkanisme yang mana material-
material yang dikeluarkan berupa mineral- mineral atau batuan ubahan
hidrotermal.

15. Concealed outflow, seepage. Merupakan air rembesan dari suatu proses
panasbumi biasanya air rembesan ini mengalir disungai sungai.

KEGIATAN EKSPLORASI PANAS BUMI

Kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan panas bumi yang dilakukan


dalam usaha mencari sumberdaya panas bumi, membuktikan adanya sumberdaya
serta memproduksikan dan memanfaatkan fluidanya dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut :
1. Eksplorasi pendahuluan atau Reconnaisance survei
2. Eksplorasi lanjut atau rinci (Pre-feasibility study)
3. Pemboran Eksplorasi
4. Studi kelayakan (Feasibility study)
5. Perencanaan
6. Pengembangan dan pembangunan
7. Produksi
8. Perluasan

1. EKSPLORASI PENDAHULUAN (RECONNAISANCE SURVEY)


Eksplorasi pendahuluan atau Reconnaisance survey dilakukan untuk mencari
daerah prospek panas bumi, yaitu daerah yang menunjukkan tanda-tanda adanya
sumberdaya panas bumi dilihat dari kenampakan dipermukaan, serta untuk
mendapatkan gambaran mengenai geologi regional di daerah tersebut.
Secara garis besar pekerjaan yang dihasilkan pada tahap ini terdiri dari :
1. Studi Literatur
2. Survei Lapangan
3. Analisa Data
4. Menentukan Daerah Prospek
5. Spekulasi Besar Potensi Listrik
6. Menentukan Jenis Survei yang Akan Dilakukan Selanjutnya
1. Studi Literatur
Langkah pertama yang dilakukan dalam usaha mencari daerah prospek panas
bumi adalah mengumpulkan peta dan data dari laporan-lapaoran hasil survei yang
pernah dilakukan sebelumnya di daerah yang akan diselidiki, guna mendapat
gambaran mengenai geologi regional, lokasi daerah dimana terdapat manifestasi
permukaan, fenomena vulkanik, geologi dan hidrologi di daerah yang sedang
diselidiki dan kemudian menetapkan tempat-tempat yang akan disurvei. Waktu
yang diperlukan untuk pengumpulan data sangat tergantung dari kemudahan
memperoleh peta dan laporan-laporan hasil survei yang telah dilakukan
sebelumnya, tetapi diperkirakan akan memerlukan waktu sekitar 1 bulan.
2. Survei Lapangan
Survei lapangan terdiri dari survei geologi, hidrologi dan geokomia. Luas
daerah yang disurvei pada tahap ini umumnya cukup luas, yaitu sekitar 5000-
20000 km2, tetapi bisa juga hanya seluas 5-20 km2 (Baldi, 1990). Survei biasanya
dimulai dari tempat-tempat dimana terdapat manifestasi permukaan dan di daerah
sekitarnya serta di tempat-tempat lain yang telah ditetapkan berdasarkan hasil
kajian interpretasi peta topografi, citra landsat dan penginderaan jauh serta dari
laporan-laporan hasil survei yang pernah dilakukan sebelumnya. Pada tahap ini
survei dilakukan dengan menggunakan peralatan-peralatan sederhana dan mudah
dibawa.
Survei lapangan dilakukan untuk mengetahui secara global formasi dan jenis
batua, penyebaran batuan, struktur geologi, jenis-jenis manifestasi yang terdapat
di daerah tersebut besertas karakteristiknya, mengambil sampel fluida melakukan
pengukuran temperatur, pH, dan kecepatan air.
Waktu yang diperlukan untuk survei lapangan sangat tergantung dari kondisi
geologi dan luas daerah yang akan diselidiki, kuantitas dan kualitas data yang
telah ada serta junlah orang ayng terlibat dalam penyelidikan. Survei lapangan
reconnaisance yang dilakukan pada satu daerah biasanya 2 minggu sampai 1
bulaln, dilanjutkan dengan survei detail selama 3-6 bulan.
Di beberapa negara waktu yang diperlukan untuk survei lapangan ada yang
lebih lama. Menurut Baldi (1990), bila kuantitas dam kualitas data yang telah ada
cukup baik serta daerah yang akan diselidiki tidak terlaullu luas, maka survei
lapangan mungkin hanya memerlukan waktu sekitar 1-2 bulan. Akan tetapi, bila
data yang ada sangat terbatas dan daerah yang akan diselidiki cukup luas, maka
survey lapangan dan analisis data akan memakan waktu beberapa bulan sampai
satu tahun.
3. Analisis dan Interpretasi Data
Data dari survei sebelumnya serta dari hasil survei lapangan dianalisis untuk
mendapatkan gambaran (model) mengenai regional geologi dan hidrologi di
daerah tersebut. Dari kajian data geologi, hidrologi dan geokimia ditentukan
daerah prospek, yaitu daerah yang menunjukkan tanda-tanda adanya sumberdaya
panas bumi. Dari hasil analisis dan interpretasi data juga dapat diperkirakan jenis
reservoir, temperatur reservoir, asal sumber air, dan jenis batuan reservoir.
4. Spekulasi Besar Sumberdaya Panasbumi
Pada tahap ini data mengenai reservoir masih sangat terbatas. Meskipun
demikian, seringkali para ahli geothermal diharapkan dapat berspekulasi
mengenai besarnya sumberdaya panasbumi di daerah yang diselidiki. Jenis dan
temperatur reservoir dapat diperkirakan. Luas prospek pada tahapan ini dapat
diperkirakan dari penyebaran manifestasi permukaan dan pelamparan struktur
geologinya secara global, tetapi selama ini hanya ditentukan dengan cara statistik
(rata-rata luas prospek). Pada tahap ini sudah dapat ditentukan apakah prospek
yang diteliti cukup baik untuk dikembangkan selanjutnya apakah survey rinci
perlu dilakukan atau tidak. Apabila tidak, maka daerah yang diteliti ditinggalkan.

2. EKSPLORASI LANJUT ATAU RINCI (PRE-FEASIBILITY STUDY)


Tahap kedua dari kegiatan eksplorasi adalah tahap pre-feasibility study atau
tahap survey lanjut. Survei yang dilakukan terdiri dari survei geologi, geokimia
dan geofisika. Tujuan dari survei tersebut adalah :
Mendapatkan informasi yang lebih baik mengenai kondisi geologi
permukaan dan bawah permukaan
Mengidentifikasi daerah yang diduga mengandung sumberdaya
panasbumi.
Dari hasil eksplorasi rinci dapat diketahui dengan lebih baik mengenai
penyebaran batuan, struktur geologi, daerah alterasi hydrothermal, geometri
cadangan panas bumi, hidrologi, system panasbumi, temperatur reservoir, potensi
sumberdaya serta potensi listriknya.
Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, survei umumnya dilakukan di tempat-
tempat yang diusulkan dari hasil survei pendahuluan. Luas daerah yang akan
disurvei tergantung dari keadaan geologi morfologi, tetapi umumnya daerah yang
disurvei adalah sekitar 500-1000 km2, namun ada juga yang hanya seluas 10-100
km2.
Waktu yang diperlukan sangat tergantung pada luas daerah yang diselidiki,
jenis-jenis pengujian yang dilakukan serta jumlah orang yang terlibat. Bila
sumberdaya siperkirakan mempunyai temperature tinggi dan mempunyai potensi
untuk pembangkit listrik biasanya luas daerah yang diselidiki cukup luas,
sehingga untuk menyelesaikan tahap pre-feasibility study (survei lapangan,
interpretasi dan analisis data, pembuatan model hingga pembuatan laporan)
diperlukan waktu sekitar satu tahun.
Ada dua pendapat mengenai luas daerah yang diselidiki dan waktu yang
diperlukan untuk eksplorasi rinci di daerah yang sumberdayanya diperkirakan
mempunyai termperatur sedang. Sekelompok orang berpendapat bahwa apabila
sumberdaya mempunyai temperatur sedang, maka dengan pertimbangan ekonomi
luas daerah yang diselidiki bisa lebih kecil dan didaerah tersebut cukup hanya
dilakukan satu jenis survey geofisika saja. Dengan demikian waktu yang
diperlukan untuk menyelesaikan tahap pre-feasibility study menjadi lebih pendek,
yaitu hanya beberapa bulan saja. Sementara kelompok lain berpendapat bahwa
untuk daerah panasbumi dengan tingkatan prospek lebih rendah (sedang) dan akan
dikembangkan justru memerlukan survey yang lebih lengkap dan lebih teliti untuk
menghindarkan terlalu banyaknya kegagalan pemboran.
1. Survei Geologi Lanjut/Rinci
Survei geologi umumnya yang pertama dilakukan untuk memahami struktur
geologi dan stratigrafi maka survei geologi rinci harus dilakukan di daerah yang
cukup luas.
Lama waktu penyelidikan tergantung pada luas daerah yang diselidiki serta
jumlah orang yang terlibat dalam penyelidikan, tetpi hingga penulisan laporan
biasanya diperlukan sekitar 3-6 bulan.
Survei geologi ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran batuan secara
mendatar maupun secara vertikal, struktur geologi, tektonik dan sejarah geologi
dalam kaitannya dengan terbentuknya suatu sistem panas bumi termasuk
memperkirakan luas daerah prospek dan sumber panasnya.
2. Survei Geokimia Lanjut
Pekerjaan yang dilakukan pada suatu survei geokimia lanjut pada dasarnya
hamper sama dengan pada tahap survei pendahuluan, tetapi pada tahap ini sampel
harus diambil dari semua manifestasi permukaan yang ada di daerah tersebut dan
di daerah sekitarnya untuk dianalisis di tampat pengambilan sampel dan atau di
laboratorium. Analisis geokimia tidak hanya dilakukan pada fluida tau gas dari
manifestasi panas permukaan, tetapi juga pada daerah lainnya untuk melihat
kandungan gas dan unsure-unsur tertentu yang terkadanga dalam tanah yang
terbentuk karena aktivitas hydrothermal. Selain itu juga perlu dibuat manifestasi
permukaan, yaitu peta yang menunjukkan lokasi serta jenis semua manifestasi
panas bumi di daerah tersebut.
Hasil analisis kimia fluida dan isotop air dan gas dari seluruh manifestasi panas
permukaan dan daerah lainnya berguna untuk memperkirakan sistem dan
temperature reservoir, asal sumber air, karakterisasi fluida dan sistem hidrologi di
bawah permukaan.
Hasil analisis air dapat juga digunakan untuk memperkirakan problema-
problema yang munkin terjdadi (korosi danscale) apabila fluida dari sumberdaya
panas bumi tersebut dimanfaatkan dikemudian hari.
3. Survei Geofisika
Survei geofisika dilakukan setelah survei geologi dan geokimia karena biayanya
lebih mahal. Dari sember geologi dan geokimia diusulkan daerah-daerah mana
saja yang harus disurvei geofisika. Survei geofisika dilakuakn untuk mengetahui
sifat fisik batuan mulai dari permukaan hingga kedalaman beberapa kilometer di
bawah permukaan. Dengan mengetahui sifat fisik batuan maka dapat diketahui
daerah tempat terjadinya anomali yang dosebabkan oleh sistem panas buminya
dan lebih lanjut geometri prospek serta lokasi dan bentuk batuan sumber panas
dapat diperkirakan.
Ada beberapa jenis survei geofisika, yaitu :
1. Survei resistivity
2. Survei gravity
3. Survei magnetic
4. Survei Macro Earth Quake (MEQ)
5. Survei aliran panas
6. Survei Self Potential
Pemilihan jenis survei tergantung dari keadaan geologi dan struktur di daerah
yang akan diselidiki, serta batasan anggaran untuk pengukuran di lapangan dan
intrepetasi data.
Survei geofisika yang pertama kali dilakukan umumnya adalah
survei resistivitySchlumberger, gravity dan magnetickarena perlatannya mudah
didapat dan biayanya murah. Dari ketiga survei geofisika ini diusulkan daerah
prospek panas bumi untuk disurvei lebih detail dengan metoda yang lebih mahal
yaitu magnetotelluric (MT) atau Control Source Audio (CSMT) untuk melihat
struktur fisik batuan dengan kedalaman yang jauh lebih dalam dari maksimum
kedalaman yang dicapai oleh metode Schlumberger yang hanya mampu untuk
mendeteksi kedalaman sampai beberapa ratus meter saja.
4. Survei Geografi
Selain survei geologi, geokimia, dan geofisika, pada tahap ini biasanya
dilakuakn survei geografi dan survei lainnya untuk mendapatkan informasi
mengenai status lahan, distribusi kemiringan lereng, prasarana jalan, fasilitas
listrik, air, kominaksi yang tersedia, jumlah dan kepadatan penduduk.
5. Analisis dan Interpretasi Data
Dari hasil kajian data diharapkan akan diperoleh gambaran atau model awal
mengenai sistem panasbumi di daerah yang diselidiki, yang dapat digunakan
sebagai dasar untuk menentukan target dan lokasi sumur eksplorasi serta membuat
program pemboran.
Model system panasbumi harus mengikutsertakan karakteristik litologi,
stratigrafi, hidrologi, atau pola sirkulasi fluida, perkiraan sumber panas dan
temperatur dalam reservoir serta sistem panas buminya. Model harus dibuat mulai
dari permukaan hingga kedalaman 1 4 km. selain itu dari pengkajian data dapat
diperkirakan besarnya potensi sumber daya (resources), cadangan (recoverable
reserve), dan potensi listrik panas bumi di daerah yang diduga mengandung
panasbumi.
3. PEMBORAN EKSPLORASI
Apabila dari data geologi, data geokimia, dan data geofisika yang diperoleh
dari hasil survey rinci menunjukkan bahwa di daerah yang diselidiki terdapat
sumberdaya panasbumi yang ekonomis untuk dikembangkan, maka tahap
selanjutnya adalah tahap pemboran sumur eksplorasi. Tujuan dari pemboran
sumur eksplorasi ini adalah membuktikan adanya sumberdaya panasbumi di
daerah yang diselidiki dan menguji model system panasbumi yang dibuat
berdasarkan data-data hasil survei rinci.
Jumlah sumur eksplorasi tergantung dari besarnya luas daerah yang diduga
mengandung energi panasbumi. Biasanya di dalam satu prospek dibor 3 5 sumur
eksplorasi. Kedalaman sumur tergantung dari kedalaman reservoir yang
diperkirakan dari data hasil survei rinci, batasan anggaran, dan teknologi yang
ada, tetapi sumur eksplorasi umumnya dibor hingga kedalaman 1000 3000
meter.
Menurut Cataldi (1982), tingkat keberhasilan atau success ratio pemboran
sumur panas bumi lebih tinggi daripada pemboran minyak. Success ratio dari
pemboran sumur panasbumi umumnya 50 70%. Ini berarti dari empat sumur
eksplorasi yang dibor, ada 2 3 sumur yang menghasilkan.
Setelah pemboran selesai, yaitu setelah pemboran mencapai kedalaman yang
diinginkan, dilakukan pengujian sumur. Jenis jenis pengujian sumur yang
dilakukan di sumur panasbumi adalah:
Uji hilang air (water loss test)
Uji permeabilitas total (gross permeability test)
Uji panas (heating measurement)
Uji produksi (discharge/ output test)
Uji transien (transient test)
Pengujian sumur geothermal dilakukan untuk mendapatkan informasi/ data
yang lebih persis mengenai :
1. Jenis dan sifat fluida produksi.
2. Kedalaman reservoir.
3. Jenis reservoir.
4. Temperatur reservoir.
5. Sifat batuan reservoir.
6. Laju alir massa fluida, entalpi, dan fraksi uap pada berbagai tekanan kepala
sumur.
7. Kapasitas produksi sumur (dalam MW).
Berdasarkan hasil pemboran dan pengujian sumur harus diambil keputusan
apakah perlu dibor beberapa sumur eksplorasi lain, ataukah sumur eksplorasi yang
ada telah cukup untuk memberikan informasi mengenai potensi sumber daya.
Apabila beberapa sumur eksplorasi mempunyai potensi cukup besar maka perlu
dipelajari apakah lapangan tersebut menarik untuk dikembangkan atau tidak.

4. STUDI KELAYAKAN (FEASIBILITY STUDY)


Studi kelayakan perlu dilakukan apabila ada beberapa sumur eksplorasi
menghasilkan fluida panas bumi. Tujuan dari studi ini adalah untuk menilai
apakah sumber daya panas bumi yang terdapat di daerah tersebut secara teknis
dan ekonomis menarik untuk diproduksikan. Pada tahap ini kegiatan yang
dilakukan adalah :
Mengevaluasi data geologi, geokimia, geofisika, dan data sumur.
Memperbaiki model sistem panas bumi.
Menghitung besarnya sumber daya dan cadangan panas bumi (recoverable
reserve) serta ppotensi listrik yang dapat dihasilkannya.
Mengevaluasi potensi sumur serta memprekirakan kinerjanya.
Menganalisa sifat fluida panas bumi dan kandungan non condensable gas
serta memperkirakan sifat korosifitas air dan kemungkinan pembentukan
scale.
Mempelajari apakah ada permintaan energy listrik, untuk apa dan berapa
banyak.
Mengusukan alternative pengembangan dan kapasitas instalasi pembangkit
listrik.
Melakukan analisa keekonomian untuk semua alternative yang diusulkan.
5. PERENCANAAN
Apabila dari hasil studi kelayakan disimpulkan bahwa daerah panas bumi
tersebut menarik untuk dikembangkan, baik ditinjau dari aspek teknis maupun
ekonomis, maka tahap selanjutnya adalah membuat perencanaan secara detail.
Rencana pengembangan lapangan dan pembangkit listrik mencangkup usulan
secara rinci mengenai fasilitas kepala sumur, fasilitas produksi dan injeksi di
permukaan, sistem pipa alir dipermukaan, fasilitas pusat pembangkit listrik. Pada
tahap ini gambar teknik perlu dibuat secara rinci, mencangkup ukuran pipa alir
uap, pipa alir dua fasa, penempatan valve, perangkat pembuang kondensat dan
lain-lain.

6. PEMBORAN SUMUR PRODUKSI, INJEKSI DAN PEMBANGUNAN


PUSAT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI
Untuk menjamin tersedia uap sebanyak yang dibutuhkan oleh pembangkit
listrik yang dibutuhkan oleh pembangkit listrik diperlukan sejumlah sumur
produksi. Selain itu juga diperlukan sumur untuk menginjeksikan kembali air
limbah. Pemboran sumur dapat dilakukan secara bersamaan dengan tahap
perencanaan pembangunan PLTP.

7. PRODUKSI UAP, PRODUKSI LISTRIK, DAN PERAWATAN


Pada tahap ini PLTP telah beroperasi sehingga kegiatan utama adalah menjaga
kelangsungan:
1. Produksi uap dari sumur-sumur produksi.
2. Produksi listrik dari PLTP.
3. Distribusi listrik ke konsumen.
8. CONTOH KEGIATAN EKSPLORASI DAN PENGEMBANGAN
LAPANGAN PANASBUMI
1. Lapangan Panas Bumi Kamojang
Usaha pencarian panas bumi Indonesia pertama kali dilakukan di daerah kawah
Kamojang pada tahun 1918. Pada tahun 1962-1929, lima sumur eksplorasi dibor
sampai kedalaman 66-128 meter. Sehingga sumur KMJ-3 masih memproduksikan
uap panas kering dan dry system. Karena pada saat itu terjadi perang, maka
kegiatan pemboran tersebut dihentikan.
Pada tahun 1972, direktorat vulkanologi dan pertamina, dengan bantuan
pemerintah Perancis dan New Zeland, melakukan survey pendahuluan di seluruh
wilayah Indonesia, Kamojang mendapat prioritas untuk survei lebih rinci. Pada
bulan September 1972 ditandatangani kontrak kerjasama bilateral antara
Indonesia dan New Zeland untuk pelaksanaan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi
di daerah tersebut. Survey geologi, geokomia, dan geofisika dilakukan pada
daerah tersebut. Area seluas 14 km2 diduga mengandung fluida panas bumi. Lima
sumur eksplorasi (KMJ6-10) kemudian dibor dengan kedalaman 535-761 meter
dan menghasilkan uap kering dengan temperatur tinggi (2400C). uap tersebut
kemudian dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik Mono Blok sebesar 0.5 MW
yang dimulai beroperasi pada 37 november 1978. Pemboren dilakukan lagi
sampai desember 1982. 18 buah sumur dibor dengan kedalaman 935-1800 m dan
menghasilkan 535 ton uap per jam
Setelah menilai potensi sumur dan kualitas uap, maka disimpulkan bahwa uap
air di Kamojang dapat digunakan sebagi pembangkit listrik. Kemudian dibangun
PLTP Kamojang sebesar 30 MW dan mulai beroperasi tanggal 7 februari 1983.
Lapangan terus dikembangkan. Unit II dan mmasing-masing sebesar 55 MW
milai dioperasikan berturut-tirut tanggal 29 juli 1987 dan 13 september 1987,
sehingga daya PLTP kaojang menjadi 140.25 MW. Untuk memenuhi kebutuhan
listrik,dimanfaatkan 26 dari 47 sumur. Sejak pertengahan tahun 1988,
engoperasian Mono Blok 0.25 MW dihentikan. Hingga saat ini jumlah daya
terpasang PLTP masih sebesar 140 MW.
2. Lapangan Panas Bumi Darajat
Lapangan darajat terletak di jawa barat, sekitar 10 km dari lapangan kamojang
pengembangan lapangan darajat dimulai pada tahun 1984 dengan
ditandatanganinya kontrak operasi bersama antar pemerintah Indonesia dengan
Amoseas Ltd. Sejarahnya sebagai berikut :
1972 1975 : kegiatan eksplorsi rinci
1976 1978 : tiga sumur eksplorasi dibor, menghasilkan uap kering,
temperatur reservoir 235-247 0 C
1984 : KOB
1987 1988 : pemboran sumur produksi
Sept. 1994 : PLTP darajat (55 MW) dioperasikan
3. Lapangan Panas Bumi Dieng
Eksplorasi Dimulai tahun 1972, dilanjutkan pemboran eksplorasi pada tahun
1977. Sejarahnya yaitu :
1972 : Kegiatan eksplorasi dimulai
1977 : Sumur eksplorasi pertama di bor
1981 : Tiga sumur dibor menghasilkan fluida tiga fasa, uap-air.
Temperaturrservoar 180-320 0 C
14 mei 1984 : Pembangkit listrik mono blok 2 MW dioperasikan
s/d 1995 : Telah dibor 29 sumur
status : KOB dengan Himpurna California energy
Lapangan di dieng ini menghasilkan fluida dua fasa (uap-air). Sampai akhir
1995 telah dibor sebanyak 29 sumur, akan tetapi belum diperoleh gambaran yang
baik mengenai sistem panas bumi yang terdapat di daerah ini. Selain itu, sumur-
sumur ini berproduksi mengandung H2S dan CO2 yang cukup tinggi, sehingga
lapangan di daerah ini belum dikembangkan.
4. Lapangan Panas Bumi Lahendong
Merupakan lapangan panas bumi yang dikembangkan diluar jawa, 9 sumur
yang terdiri dari 7 sumur eksplorasi dan 2 sumur eksploitasi telah dibor. Sumur ini
menghasilkan fluida dua fasa (uap-air) bertemperatur tinggi dengan potensi sumur
rata-rata 6 MWe. Reservoir mempunyai temperature 280-325oC. Di lapangan ini
telah dibangun sebuah pembangkit listrik panas bumi binary geothermal
powerplan berkapasitas 2,5 MW. Pada pembangkit ini sudu-sudu turbin
pembangkit binary digerakkan oleh uap fluida organik yang dipanasi oleh fluida
panas bumi melalui mesin penukar kalor (heat exchanger). Saat ini sedang dibuat
rencana pengembangan lapangan lahendong untuk pembangunan pusat listrik
panas bumi berkapasitas 20 MW.
9. RESIKO EKSPLORASI DAN PENGEMBANGAN LAPANGAN PANAS
BUMI
1. Resiko yang berkaitan dengan sumber daya, yaitu resiko yang berkaitan
dengan:
Kemungkinan tidak ditemukannya sumber energi panas bumi di daerah
yang sedang dieksplorasi (resiko eksplorasi).
Kemungkinan besarnya cadangan dan potensi litrik didaerah itu lebih kecil
dari yang diperkirakan atau tidak bernilai komersial (resiko eksplorasi).
kemungkinan jumlah sumur explorasi yg berhasil lebih sedikit dari yg
diharapkan
kemungkinan potensi sumur (well output), baik sumur explorasi lebih kecil
dari yg diperkirakan semula (resiko eksplorasi)
kemungkinan jumlah sumur pengembangan yg berhasil lebih sedikit dari
yg diharapkan (resiko pengembangan)
kemungkinan biaya eksplorasi, pengembangan lapangan dan
pengembangan PLTP lebih mahal dari yg diperkirakan semula
kemungkinan terjadinya problem-problem teknis, seperti korosi
dan scaling (resiko teknologi) dan problem2 lingkungan
2. Resiko yang berkaitan dengan kemungkinan penurunan laju produksi /
penurunan temperatur lebih cepat dari yang diperkirakan semula (resource
degradation)
3. Resiko yang berkaitan dengan kemungkinan perubahan pasar dan harga
(market access dan price risk)
4. Resiko pembangunan (construction risk)
5. Resiko yang berkaitan dengan perubahan management
6. Resiko yang menyangkut perubahan aspek legal dan kemungkinan perubahan
kebijaksanaan pemerintahan (legal dan regulatory risk)
7. Resiko yang berkaitan dengan kemungkinan perubahan bunga bank dan laju
inflasi (interest dan inflation risk)
8. Force majeure
Resiko pertama dalam proyek panas bumi (dihadapi pada waktu eksplorasi dan
awal pemboran sumur eksplorasi) adalah resiko yang berkaitan dengan
kemungkinan tidak ditemukannya sumber energi panas bumi di daerah yang
sedang dieksplorasi atau sumber energi yang ditemukan tidak komersial.
Lembaga keuangan tidak akan meminjamkan dana untuk pengembangan
lapangan sebelum hasil pemboran dan pengujian sumur membuktikan bahwa di
daerah tersebut terdapat sumber energi panas bumi dengan potensi ekonomi yg
menjanjikan.
Resiko masih tetap ada meskipun hasil eksplorasi telah membuktikan bahwa di
daerah tersebut terdapat sumber panas bumi. hal ini disebabkan karena masih
adanya ketidakpastian mengenai besarnya cadangan (recoverable reserve) potensi
listrik dan kemampuan produksi (well output) dr sumur-sumur yang akan dibor di
masa yang akan datang.
Lembaga keuangan tdk akan meminjamkan dana untuk membiayai proyek
yang ditawarkan sampai membuktikan bahwa di daerah tersebut terdapat
cadangan energi panas bumi dengan potensi ekonomi yang menjanjikan.
Apabila di daerah tersbut terdapat lapangan panas bumi yang telah berhasil
dikembangkan, biasanya kepastian mengenai adanya cadangan yang memadai
cukup ditunjukan oleh adanya satu atau dua sumur yang berhasil memproduksi
fluida panas bumi.
Tetapi apabila belum ada lapangan panas bumi yang dikembangkan di daerah
tersebut, setidaknya harus sudah terbukti mampu menghasilkan fluida produksi
10-30% dari total fluida produksi yg dibutuhkan oleh PLTP.
Selain itu bank juga membutuhkan bukti bahwa penginjeksian kembali fluida
kedalam reservoir (setelah energinya digunakan untuk membangkitkan listrik)
tidak menimbulkan permasalahan baik permasalahan teknis (operasional) maupun
permasalahan lingkungan.
Meskipun besar cadangan/ potensi listrik, kemampuan produksi sumur dan
kapasitas injeksi telah diketahui dengan lebih pasti, tetapi resiko masih tetap ada
karena masih ada ketidakpastian mengenai besarnya biaya yang diperlukan dari
tahun ke tahun untuk menunjang kegiatan operasional dan menjaga jumlah pasok
uap ke PLTP. Hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap lembaga yg
meminjamkan dana karena pengembalian dana yang dipinjamkan tidak sesuai
dengan keuntungan yang diproyeksikan.
Resiko yang berkaitan dengan permasalahan teknik seperti terjadinya korosi di
dalam sumur dan di dalam pipa akan mengakibatkan berkurangnya keuntungan
dan mungkin juga dapat menyebabkan ditolaknya usulan perluasan lapangan
untuk meningkatkan kapasitas PLTP.
Resiko lain yang berkaitan dengan sumber daya adalah kemungkinan
penurunan laju dan temperatur fluida produksi (enthalpy), kenaikan tekanan
injeksi, perubahan kandungan kimia fluida terhadap waktu, yang mengakibatkan
berkurangnya keuntungan atau bahkan hllangnya keuntungan bila penurunan
produksi teerlalu cepat. Penurunan kinerja reservoir terhadap waktu sebenarnya,
dapat diramalkan dengan cara simulasi reservoir. Hasil peramanalan kinerja
reservoir dapat dipercaya apabila model kalibrasi dengan menggunakan data
produksi yang cukup lama, tapi jika model hanya dikalibrasi dengan data produksi
yang relatif singkat maka hasil peramalan kinerja reservoir masih mengandung
tingkat ketidakpastian yang tinggi.
Di beberapa proyek masalah-masalah manajemen dan operasional yang tidak
terduga ada yang tidak terpecahkan dengan biaya tinggi. Resiko yang disebabkan
oleh hal tersebut relatif lebih sulit dinilai dibandingkan dengan resiko lain,
termasuk di dalamnya permasalahan-permasalahan yang timbul akibat kelalaian
manusia dan kekurangcakapan sumber daya manusia dan manajemen.
Berbagai upaya telah dicoba untuk mengurangi resiko yang berkaitan dengan
sumber daya, di antaranya :
1. Kegiatan eksplorasi telah cukup dilakukan sebelum rencana
pengembangan lapangan dibuat.
2. Menentukan kriteria keuntungan yang jelas.
3. Memilih proyek dengan lebih hati-hati, dengan cara melihat pengalaman
pengembang sebelumnya, baik secara teknis maupun secara manajerial.
4. Mengkaji rencana pengembangan secara hati-hati sebelum
menandatangani perjanjian pendanaan.
5. Memeriksa rencana pengembangan dan menguji rencana operasi
berdasarkan skenario yang terjelek.
6. Mentaati peraturan yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan.
7. Merancang dan menerapkan program sesuai dengan tujuan dan
berdasarkan jadwal waktu pelaksanaan kegiatan yang telah ditetapkan.
8. Melaksanakan simulasi (pemodelan) untuk meramalkan kinerja reservoir
dan sumur untuk berbagai skenario pengembangan lapangan.
9. Mengadakan pertemuan secara teratur untuk mengevaluasi pelaksanaan
program untuk mengetahui apakah kegiatan dilaksanakan sesuai dengan
rencana atau tidak.
DAFTAR PUSTAKA

http://reinesin.blogspot.co.id/2012/03/klasifikasi-sistempanasbumi-
klasifikasi.html

https://hasantoshare.wordpress.com/2012/04/02/geothermal-manifestasi-
panasbumi/

http://yudi231.blogspot.co.id/2012/11/mata-kuliah-geothermal.html
TUGAS GEOTHERMAL
MANIFESTASI DAN EKSPLORASI PANAS BUMI

OLEH :

BAGUS RACHMAT RAYANTO


NIM: 1031411009

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2017