Anda di halaman 1dari 60

Hari/Tanggal : Sabtu, 28 Mei 2016

Dosen : Made Ayu Pratiwi, S.Pi., M.Si


Ni Made Ernawati, S.Kel., M.Si

Pengelolaan Sumberdaya Ikan Layang (Decapterus


russelli) yang didaratkan di PPI Kedonganan

Oleh : Kelompok 2
Gusti Ayu Manik Pradnyani (1414521003)
Ni Putu Bella Yuliana Dewi (1414521008)
Gede Abdi Satrya Wesnawa (1414521014)
Pande Komang Ngurah Kerta Sanjaya (1414521019)
M. Reza Mei Budi Dharmawan (1414521024)
Ni Putu Suci Mardani (1414521029)
Debi Bunga Novitasari (1414521037)
Ni Putu Emie Noviana (1414521046)

MATA KULIAH MANAJEMEN SUMBERDAYA PERIKANAN


PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS UDAYANA
BUKIT JIMBARAN
2016

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan laporan praktikum ini dengan judul
Pengelolaan Sumberdaya Ikan Layang (Decapterus russelli) yang didaratkan di PPI
Kedonganan. Adapun isi dari laporan ini adalah sekumpulan data dari setiap
praktikum lapang berlangsung.
Kami juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata
kuliah Manajemen Sumberdaya Perikanan Made Ayu Pratiwi, S.Pi., M,Si dan Ni
Made Ernawati, S.Kel., M.Si yang selalu membimbing kami dalam melaksanakan
praktikum dan dalam menyusun laporan ini. Serta semua pihak yang membantu kami
dalam hal penyusunan laporan ini.
Laporan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu kritik serta
saran yang membangun kami harapkan untuk penyempurnaan laporan ini. Semoga
laporan ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para
pembaca. Atas perhatian dari semua pihak yang membantu penulisan ini kami
mengucapkan terima kasih.

Bukit Jimbaran, 27 Mei 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................i

DAFTAR ISI ....................................................................................................ii

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................iv

DAFTAR TABEL ............................................................................................vi

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ......................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................2

1.3 Tujuan ....................................................................................................2

1.4 Manfaat .................................................................................................2

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Umum Ikan Layang (Klasifikasi dan morfologi) ............4

2.2 Habitat dan Distribusi Ikan Layang ......................................................5

2.3 Reproduksi Ikan Layang .......................................................................6

2.4 Alat Penangkapan ..................................................................................8

III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian .................................................................11

3.2 Alat dan Bahan ......................................................................................11

3.3 Prodesur Pengambilan Data ..................................................................12

3.3.1 Identifikasi Jenis-jenis Sumberdaya Perikanan ..........................12

3.3.2 Hubungan Panjang Bobot Sumberdaya Perikanan......................13

3.3.3 Produksi Sumberdaya Perikanan ................................................14

ii
3.3.4 Data Sosial Ekonomi Nelayan ....................................................14

3.4 Analisis Data .........................................................................................14

3.4.1 Identifikasi Jenis-jenis Sumberdaya Perikanan ..........................14

3.4.2 Hubungan Panjang Bobot Sumberdaya Perikanan .....................14

3.4.3 Produksi Sumberdaya Perikanan ................................................14

3.4.4 Data Sosial Ekonomi Nelayan ....................................................15

IV. PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Umum Lokasi Penenlitian .......................................................16

4.2 Potensi Jenis Sumberdaya Ikan .............................................................18

4.3 Hubungan Panjang Bobot Ikan .............................................................25

4.4 Produksi Perikanan ...............................................................................31

4.5 Sosial Ekonomi Nelayan .......................................................................35

4.5.1 Kondisi Sosial .............................................................................35

4.5.2 Kondisi Ekonomi ........................................................................37

4.6 Saran Pengelolaan .................................................................................39

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan ...........................................................................................40

5.2 Saran ......................................................................................................40

DAFTAR PUSTAKA

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ikan Layang (Decapterus russelli ruppell) .....................................4

Gambar 2. Perbedaan Kelamin Jantan dan Betina ...........................................6

Gambar 3. Peta Lokasi PPI Kedonganan .........................................................16

Gambar 4. Dermaga Watu Nunggul .................................................................17

Gambar 5. Limbah Plastik di Pantai Kedonganan ............................................17

Gambar 6. Grafik Hubungan Panjang Bobot Ikan Layang pada Pengamatan


Minggu ke-1 ...................................................................................26

Gambar 7. Grafik Hubungan Panjang Bobot Ikan Layang pada Pengamatan


Minggu ke-2 ...................................................................................26

Gambar 8. Grafik Hubungan Panjang Bobot Ikan Layang pada Pengamatan


Minggu ke-3 ...................................................................................27

Gambar 9. Grafik Hubungan Panjang Bobot Ikan Layang pada Pengamatan


Minggu ke-4 ...................................................................................27

Gambar 10. Grafik Hubungan Panjang Bobot Ikan Layang (Decapterus


russelli) PPI Kedonganan ..............................................................28

Gambar 11. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2011 ....31

Gambar 12. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2012 ....32

Gambar 13. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2013 ....32

Gambar 14. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2014 ....33

Gambar 15. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2015 ....33

Gambar 16. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2016 ....34

iv
Gambar 17. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2011-
2016..............................................................................................34

v
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Alat ......................................................................................................11

Tabel 2. Bahan ...................................................................................................12

Tabel 3. Jenis-jenis Sumberdaya Perikanan yang di Daratkan di PPI Kedonganan


..............................................................................................................18

vi
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Luas peraian Indonesia diperkirakan sebesar 5.8 juta km2 dengan garis
pantai terpanjang di dunia sebesar 81.000 km dan gugusan pulau-pulau sebanyak
17.508. Potensi perikanan di Indonesia hamper tersebar di seluruh bagian
perairan laut Indonesia seperti laut territorial, laut perairan nusantara dan perairan
laut Zona Ekonomi Eksklusif ( ZEE ). Indonesia diperkirakan memiliki potensi
ikan sebanyak 6.26 juta ton pertaun. Pemanfaatan Potensi perikanan laut
Indonesia ini walaupun telah mengalami peningkatan pada beberapa aspek,
namun secara signifikan belum dapat memberi kekuatan dan peran yang lebih
kuat terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan pendapatan
masyarakat nelayan Indonesia.
Saat ini industri perikanan sudah mulai berkembang dengan pesat akibat
dari meningkatnya permintaan ikan. Beberapa daerah sangat memanfaatkan
sumber perikanan dengan cara berlebihan baik dalam perikanan maupun
perikanan budidaya. Tentu saja potensi dan pemanfaatan yang banyak ini
bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Namun di beberapa sisi
masyarakat kita tentu melupakan aspek aspek kelestarian lingkungan.
Ikan Layang merupakan salah satu ikan yang sangat popular di Indonesia.
Ikan Layang ini biasanya di Indonesia menjadi Ikan konsumsi di masyarakat
Indonesia, baik dalam bentuk ikan yang masih segar maupun dalam bentuk sudah
diolah seperti ikan pindang. Ikan Layang selain mempunyai nilai ekonomis
penting, dagingnya memiliki tekstur yang kompak dengan citarasa yang banyak
digemari orang, sehingga dapat menjadi salah satu sumber pemenuhan protein
hewani bagi masyarakat. (Dahlan, Muh. Arifin. 2012)
Ikan layang salah satu ikan popular yang di daratkan di PPI Kedonganan.
Untuk megetahui pengelolaan yang tepat di PPI Kedonganan ini maka tentu
dilakukan pendataan diantaranya jumlah ikan yang ditangkap, jenis alat
tangkapnya dan kapal penangkapan yang digunakan. Sehingga dapat di

1
kondisikan agar tidak menggangu sumberdaya ikan yang lainnya yang ada di
laut.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari praktikum ini adalah:
1. Apa sajakah jenis-jenis sumberdaya perikanan yang didaratkan di PPI
Kedonganan?
2. Bagaimana cara mengukur panjang dan bobot ikan?
3. Bagaimana produksi (jumlah tangkapan, alat tangkap, dan kapal
penangkapan) sumberdaya perikanan di PPI Kedonganan?
4. Bagaimana kondisi sosial ekonomi nelayan?
5. Bagaimana cara pengelolaan sumberdaya perikanan yang didaratkan di TPI
Kedonganan?

1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Identifikasi jenis-jenis sumberdaya perikanan yang didaratkan di PPI
Kedonganan.
2. Mengukur panjang dan bobot ikan.
3. Mengetahui produksi (jumlah tangkapan, alat tangkap, dan kapal
penangkapan) sumberdaya perikanan di PPI Kedonganan.
4. Mengetahui kondisi sosial ekonomi nelayan melalui wawancara.
5. Merumuskan saran pengelolaan sumberdaya perikanan yang didaratkan di TPI
Kedonganan.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum Manajemen Sumberdaya Perikanan ini
adalah kita dapat mengetahui jenis-jenis sumberdaya perikanan yang didaratkan
di PPI Kedonganan, Panjandan Bobot Ikan Tongkol di PPI Kedonganan,
Produksi sumberdaya Perikanan di PPI Kedonganan, Kondisi Sosial Ekonomi
Nelayan di PPI Kedonganan, serta kita dapat merumuskan saran pengelolaan
Sumberdaya Perikanan yang didaratkan di PPI Kedonganan.

2
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karakteristik Umum (Klasifikasi dan Morfologi)
Ikan layang (Decapterus russelli) mempunyai nama umum round scad
(Nurhakim, 1987). Ikan layang merupakan ikan yang mempunyai kemampuan
bergerak dengan cepat di air laut. Tingginya kecepatan tersebut dapat dicapai

3
karena bentuk tubuhnya yang seperti cerutu dan mempunyai sisik yang sangat
halus (Burhanuddin et. al., 1981).
Klasifikasi ikan layang menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
SubOrdo : Percoidei
Famili : Carangidae
Genus : Decapterus
Spesies : Decapterus russelli ruppell

Gambar 1. Ikan Layang (Decapterus russelli ruppell)


Sumber : (Ruppell,1830)

Ikan layang (Decapterus russelli) bentuk tubuh seperti cerutu tetapi agak
pipih, sirip dada lebih pendek dari panjang kepala, maxilla hampir mencapai
lengkung mata terdepan, ikan layang (Decapterus russelli) dalam keadaan segar
seluruh tubuhnya berwarna merah jambu, dan pada bagian belakang tutup insang
terdapat totol hitam (Burhanuddin et al, 1981). Menurut Anonimous (1990) ciri-
ciri ikan layang adalah bentuk tubuh memanjang dan agak gepeng. Nurhakim
(1987) menyatakan sirip dada berbentuk falcate dan ujung sirip tersebut
mencapai awal dari sirip punggung kedua.

4
Ikan layang merupakan ikan perenang cepat yang hidup berkelompok di
Laut yang jernih dan bersalinitas tinggi. Menurut Hariati et al., (2005). Ikan
layang (Decapterus russelli) hidup di perairan dengan salinitas tinggi yaitu
32. Ikan layang juga termasuk dalam ikan stenohalyn yang dapat hidup dengan
memakan plankton (Burhanuddin et.al.,1981). Makanan ikan layang sangat
tergantung pada plankton, terutama jenis-jenis zooplankton.

2.2. Habitat dan Distribusi Ikan Layang

Di Laut Jawa sangat dominan dalam hasil tangkapan nelayan mulai dari
Pulau Seribu, Pulau Bawean, Pulau Masalembo, Selat Makasar, Selat Karimata,
Selat Malaka, Laut Flores, Arafuru, Selat Bali. Decapterus ruselli dan
Decapterus macrosoma tersebar di perairan tertentu. Decapterus ruselli senang
hidup di perairan dangkal seperti Laut Jawa, sedangkan Decapterus macrosoma
tersebar di perairan laut seperti di Selat Bali, Perairan Indonesia Timur Laut
Banda, Selat Makassar dan Sangihe, Laut Cina Selatan (Nontji, 2002).
Ikan layang termasuk jenis ikan perenang cepat, bersifat pelagis, tidak
menetap dan suka bergerombol. Jenis ikan ini tergolong stenohaline, hidup di
perairan yang berkadar garam tinggi (3234 promil) dan menyenangi perairan
jernih. Ikan layang banyak tertangkap di perairan yang berjarak 2030 mil dari
pantai. Sedikit informasi yang diketahui tentang migrasi ikan, tetapi ada
kecenderungan bahwa pada siang hari gerombolan ikan bergerak ke lapisan air
yang lebih dalam dan malam hari kelapisan atas perairan yang lebih. Dilaporkan
bahwa ikan ini banyak dijumpai pada kedalaman 45100 meter (Hardenberg
dalam Sunarjo,1990).

2.3. Reproduksi Ikan


Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunanya
sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Tidak setiap
individu mampu menghasilkan keturunan, tetapi setidaknya reproduksi akan
berlangsung pada sebagian besar individu yang hidup dipermukaan bumi ini.

5
Kegiatan reproduksi pada setiap jenis hewan air berbeda-beda, tergantung
kondisi lingkungan. Ada yang berlangsung setiap musim atau kondisi tertentu
setiap tahun (Yushinta Fujaya, 2004: 151).
Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang
genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, di samping
lubang anus terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing
sebagai saluran pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga
berwarna lebih gelap, dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi
kesan kokoh, sedangkan yang betina biasanya pada bagian perutnya besar
(Suyanto, 2003).

Gambar 2. Perbedaan Kelamin Jantan dan Betina


Sumber : (FAO, 2008)
Gonad adalah bagian dari organ reproduksi pada ikan yang menghasilkan
telur pada ikan betina dan sperma pada ikan jantan. Ikan pada umumnya
mempunyai sepasang gonad dan jenis kelamin umumnya terpisah (Sukiya, 2005:
20). Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari
reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Selama itu sebagian besar hasil
metabolisme tertuju kepada perkembangan gonad. Dalam individu telur terdapat
proses yang dinamakan vitellogenesis yaitu terjadinya pengendapan kuning telur
pada tiap individu-individu telur.
Pengamatan kematangan gonad dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
secara histology dan secara morfologi. Cara histologi dilakukan di laboratorium,
sedangkan cara morfologi dapat dilakukan di laboratorium dan di lapangan.

6
Pengamatan secara histologi membutuhkan prosedur pelaksanaan yang teliti dan
membutuhkan waktu yang lama, walaupun memberikan hasil yang sangat jelas
dan mendetail, sehingga yang umum dilakukan adalah pengamatan secara
morfologi. Penentuan secara morfologi ini di dasarkan kepada bentuk, panjang,
bobot, warna, serta perkembangan isi gonad yang terlihat (Andy Omar, 2007).
Selama proses reproduksi, sebagian besar hasil metabolisme tertuju pada
perkembangan gonad. Hal ini menyebabkan terdapat perubahan dalam gonad itu
sendiri. Umumnya pertambahan bobot gonad pada ikan betina 10-25 % dan pada
ikan jantan 5-10% dari bobot tubuh. Pengetahuan tentang perubahan atau
tahaptahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan-
ikan yang akan atau tidak melakukan reproduksi. Pengetahuan tentang
kematangan gonad juga didapatkan keterangan bilamana ikan akan memijah,
baru memijah atau sudah selesai memijah. Ukuran ikan pada saat pertama kali
gonadnya matang, ada hubungan dengan pertumbuhan ikan dan faktor
lingkungan yang mempengaruhinya (Tang dan Affandi, 2004). Faktor utama
yang mempengaruhi kematangan gonad ikan di daerah bermusim empat antara
lain ialah suhu dan makanan. Tetapi untuk ikan di daerah tropik faktor suhu
secara relatif perubahannya tidak besar dan umumnya gonad dapat masak lebih
cepat (Moch. Ichsan Effendie, 1997: 8).
Mengetahui kemampuan produksi anak, dilakukan melalui penelusuran
nilai fekunditasnya. Fekunditas ikan secara umum ditunjukkan oleh jumlah telur
ikan sebelum dikeluarkan saat berpijah. Menurut Moch. Ichsan Effendie (1997)
fekunditas adalah jumlah telur yang masak di dalam ovarium sebelum
dikeluarkan pada waktu memijah Fekunditas tersebut dinamakan fekunditas
mutlak, sedangkan fekunditas relative merujuk pada jumlah telur persatuan berat
atau panjang ovarium.
Beberapa kegunaan pengetahuan fekunditas adalah sebagian dari studi
sistematik, yaitu studi mengenai ras studi tentang dinamika populasi dan
produktifitas. Selain itu dapat pula digunakan dalam teknik mengkultur hewan
budidaya, misalnya mengetahui hubungan besarnya tubuh induk hewan betina

7
dengan fasilitas untuk pemeliharaan anak-anaknya berhubungan jumlah telur
yang dihasilkan oleh induknya (Moch. Ichsan Effendie, 1997: 19).

2.4. Alat Penangkapan


Menurut Sudirman dan Mallawa (2004) Penangkapan ikan adalah usaha
melakukan penangkapan atau pengumpulan ikan atau organisme perairan lainnya
yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi yang berarti bahwa penangkapan ikan
tidak hanya melakukan penagkapan ikan dengan alat tangkap tertentu tetapi juga
termasuk mengumpulkan organisme yang berada dalam perairan yang dapat
memberi manfaat ekonomi. Dengan peralatan dan teknik penangkapan yang tepat
akan dapat menangkap ikan dengan hasil yang baik.
Hal ini menjadi penting untuk dipertimbangkan mengingat hilangnya biota
dalam struktur ekosistem akan mempengaruhi secara keseluruhan ekosistem
yang ada. Radarwati (2010) menjelaskan bahwa kesalahan dalam mengantisipasi
dinamika alat tangkap juga telah menyebabkan punahnya sumberdaya ikan.
Alat tangkap yang digunakan sesuai dengan target dan kondisi alam.
Beberapa model alat tangkap yang umum digunakan di Indonesia yaitu
(Rusmilyansari, 2012).
1. Lampara Dasar Modifikasi (Mini Trawl)
2. Pukat Pantai (Beach seine),
Bech siene memiliki ukuran mata jaring 4 cm. beach seine
merupakan alat penangkap ikan yang bersifat aktif sehingga ikan yang
terkurung terdiri dari berbagai ukuran akan tertangkap oleh alat
tersebut. Beach seine merupakan alat tangkap yang berpotensi
memberikan dampak terhadap habitat yakni dapat merusak sebagian
habitat pada wilayah sempit. Alat ini dioperasikan sampai ke dasar
perairan, hal ini disebabkan target spesies yang ditangkap adalah
udang.
3. Pukat Cincin (Purse seine),
Untuk alat tangkap purse seine memiliki mesh size 1 inchi. Purse
seine menangkap 10 spesies dimana alat tangkap ini memiliki
selektifitas yang rendah

8
4. Jaring Insang Hanyut (Drift Gill net),
Drif gill net dapat menangkap beberapa species yakni
menangkap 12 spesies, namun dilihat dari ukuran ikan yang tertangkap
memiliki variasi relatif seragam.
5. Jaring Insang Lingkar (Encircling Gill net),
Encircling gill net dapat menangkap beberapa species yakni
menangkap 11 spesies, namun dilihat dari ukuran ikan yang tertangkap
memiliki variasi relatif seragam. encircling gillnet merupakan alat
tangkap yang telah beberapa kali tertangkap penyu sisik.
6. Jaring Insang Tetap (Set Gill net),
Set Gillnet mempunyai mesh size 3 inchi (8 cm). Hasil
tangkapan alat tersebut terdiri dari beberapa spesies, yaitu sebanyak 9
spesies dan ukuran yang relatif seragam. Ikan yang tertangkap dengan
alat tangkap set gillnet yaitu ikan yang sesuai dengan ukuran mata
jaring yang digunakan. Ikan yang berukuran lebih kecil dari ukuran
mata jaring akan lolos dari penangkapan.
7. Jaring Tiga Lapis (Trammel net),
Trammel net merupakan alat penangkap ikan yang memiliki
kantong. Kantong pada trammel net terdapat di jaring sebelah dalam
(inner net) dengan ukuran mata jaring 1,5 inchi, sehingga ikan dengan
berbagai ukuran bisa tertangkap dibagian ini. Trammel net menangkap
11 spesies dimana alat tangkap ini memiliki selektifitas yang rendah.
8. Sungkur (Skimming net)
9. Rawai Tetap (Bottom longline)
Alat penangkap ikan Bottom longline menggunakan mata
pancing berukuran 4. Hasil tangkapan alat tersebut terdiri dari
beberapa spesies, yaitu sebanyak 9 spesies dan ukuran yang relatif
seragam. Ikan yang tertangkap dengan bottom long line ialah ikan
yang lebih besar bukaan mulutnya dari ukuran mata pancing,
sedangkan ikan yang mempunyai bukaan mulutnya lebih kecil dari
ukuran mata pancing akan lolos dari penangkapan.

9
III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian


Praktikum Mata Kuliah Manajemen Sumberdaya Perikanan dilaksanakan
setiap minggu pada:
Waktu : 05.30 Wita 09.00 Wita
Lokasi : PPI Kedonganan, Kuta Selatan
Tanggal : 1. Rabu, 04 Mei 2016
2. Rabu, 11 Mei 2016
3. Rabu, 18 Mei 2016

10
4. Rabu, 25 Mei 2016
3.2 Alat dan Bahan
Pada praktikum Manajemen Sumberdaya Perikanan, digunakan alat dan
bahan sebagai berikut.
Tabel 1. Alat
No Alat Gambar Kegunaan
1 Penggaris Untuk mengukur panjang
tubuh ikan (TL)

2 Timbangan Untuk mengukur berat


tubuh ikan

3 Alat tulis Untuk mencatat hasil


pengukuran dan mengisi
kuisioner

4 Kamera HP Untuk
mendokumentasikan ikan
dan kegiatan praktikum

5 Papan Alas Sebagai alas tempat untuk


menulis data yang didapat
dari pengukuran dan
kuisioner.

Tabel 2. Bahan

11
No Bahan Gambar Kegunaan
1 Ikan Layang Sebagai sampel untuk
(Decapterus data praktikum
russelli)

3.3 Prosedur Pengambilan Data


Metode pengambilan sampel pada praktikum ini dilakukan dengan metode
observasi, cluster random sampling, wawancara menggunakan kuisioner,
danpengumpulan data sekunder. Praktikum ini dibagi menjadi beberapa bagian :

3.3.1 Identifikasi Jenis-Jenis Sumberdaya Perikanan


- Sumberdaya perikanan yang didaratkan di PPI Kedonganan diamati dan
didokumentasikan
- Kemudian, didata sumberdaya perikanan yang terdapat di PPI
Kedonganan

3.3.2 Hubungan Panjang Bobot Sumberdaya Perikanan


- Ikan diambil sebanyak 30 ekor pada satu keranjang
- Ikan diukur panjang totalnya dengan penggaris kemudian dicatat
- Ikan diukur bobotnya dengan menggunakan timbangan kemudian
dicatat data pengukuran yang telah diperoleh
- Kemudian dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali dengan keranjang
yang berbeda
Dalam analisis datanya digunakan rumus sebagai berikut:
W= aL3
Keterangan:
W: berat
L: panjang
a: konstanta
Rumus analisis di atas digunakan apabila panjang dan bobot obyek
selalu dalam kondisi tetap. Tetapi ikan dalam kondisinya, panjang dan

12
berat tubuh selalu berubah. Oleh karena itu, rumus analisis yang
digunakan adalah sebagai berikut:
W = aLb
a dan b merupakan konstanta
Untuk memudahkan mencari nilai a dan b, digunakan tabel seperti
di bawah ini:
No L Log L W Log W Log L x Log W (log L)2
1
2
3
N Log L log W Log L x Log W (log L)2
Kemungkinan Untuk Mendapakan Nilai b:
1. b > 3. Terjadi apabila pertumbuhan berat lebih cepat disbanding
dengan pertumbuhan panjangnya.
2. b < 3. Pertumbuhan panjang lebih cepat disbanding dengan
pertumbuhan beratnya.
3. b = 3. Pertumbuhan panjang dan beratnya seimbang.

Nilai b 3 dinamakan pertumbuhan yang ALLOMETRIK


Nilai b = 3 dinamakan pertumbuhan yang ISOMETRIK

3.3.3 Produksi Sumberdaya Perikanan


- Data diperoleh dari badan pengelola PPI Kedonganan yang meliputi
data tangkapan per jenis ikan, jumlah alat tangkap, dan jumlah kapal
penangkapan
3.3.4 Data Sosial Ekonomi Nelayan
- Nelayan diwawancara dan dibagikan kuisioner sebanyak 10 orang
nelayan
3.4 Analisis Data
3.4.1 Identifikasi Jenis-Jenis Sumberdaya Perikanan
Dalam identifikasi jenis-jenis sumberdaya perikanan dilakukan dengan
menggunakan metode obeservasi langsung di lapangan. Observasi tersebut

13
dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dan kemudian
didokumentasi pada ikan yang telah didaratkan di PPI Kedonganan.
3.4.2 Hubungan Panjang Bobot Sumberdaya Perikanan
Pengambilan data panjang bobot ikan sampel dilakukan dengan
menggunakan metode cluster random sampling. Cluster random sampling
merupakan sebuah metode dengan pengambilan sampel secara acak dalam
suatu populasi yang besar. Ikan diambil sebanyak 30 ekor dalam satu
keranjang. Kemudian diukur panjang total dan bobot basah ikan.
3.4.3 Produksi Sumberdaya Perikanan
Data produksi sumberdaya perikanan diperoleh dari badan pengelola
TPI Kedonganan. Data produksi yang digunakan meliputi data jumlah
tangkapan perjenis ikan, jumlah alat tangkap, dan jumlah kapal
penangkapan yang terdapat di PPI Kedonganan.
3.4.4 Data Sosial Ekonomi Nelayan
Pengambilan data social ekonomi dilakukan dengan metode
wawancara dan pembagian kuisioner kepada nelayan. Wawancara
dilakukan terhadap 10 orang nelayan. Data yang dibutuhkan untuk
menunjang data social ekonomi nelayan adalah identitas diri, ikan hasil
tangkapan, alat penangkap, kapal atau armada penangkapan, dan
pendapatan nelayan.

14
IV. PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian


Praktikum mata kuliah Manajemen Sumberdaya Perikanan dilaksanakan di
Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kedonganan, yang beralamat di Jalan Pantai
Kedonganan, Desa Adat Kedonganan, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta,
Kabupaten Badung. Lokasi penelitian berjarak 10 kilometer dari kampus
Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana. Lokasi PPI Kedonganan
seperti yang terlihat pada Gambar, sebagai berikut:

Gambar 3. Peta Lokasi PPI Kedonganan


Pantai Kedonganan merupakan pantai nelayan yang kesehariannya lekat
dengan kehidupan dan aktifitas nelayan. Di sebelah utara parkir PPI Kedonganan
terdapat dua kantor, yaitu kantor UPTD. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI)
Kedonganan Kecamatan Kuta dan Kuta Selatan serta Markas Unit Patroli
Perairan Kedonganan. Di PPI Kedonganan juga terdapat tempat pelelangan ikan
(TPI) dan pasar ikan kedonganan, hal ini menunjukkan bahwa Kedonganan
memang memiliki peranan yang sangat penting dalam bidang perikanan. Namun
jalanan di sepanjang TPI dan pasar ikan sangat becek karena para pedagang
sering membuang air untuk mencuci ikan sembarangan dan masih banyak
terdapat sampah-sampah yang berserakan.

15
Gambar 4. Dermaga Watu Nunggul
Di PPI Kedonganan terdapat dermaga yang bernama Dermaga Watu
Nunggul, dermaga ini memisahkan lokasi pendaratan ikan menjadi dua lokasi
yaitu bagian utara dan bagian selatan, pada bagian utara ikan yang bisanya di
dapat, yaitu ikan slengseng, ikan tenggiri, ikan layang dan ikan kembung,
sedangkan di sebelah selatan lebih dominan ikan tuna. Awalnya dermaga ini
digunakan sebagai tempat untuk nelayan membongkar muatan ikan, namun saat
ini beralih fungsi menjadi tempat parkir dan area mancing. Kurangnya kesadaran
dari masyarakat mengakibatkan banyaknya limbah-limbah plastik yang terdapat
di sepanjang dermaga.

Gambar 5. Limbah plastik di Pantai Kedonganan


Limbah-limbah plastik tidak hanya terdapat di dermaga saja, bahkan di
sepanjang garis Pantai Kedonganan juga masih terdapat limbah-limbah ikan dan
plastik yang masih berserakan. Hal tersebut diakibatkan karena terdapat banyak

16
aktifitas disekitar pantai, salah satunya terdapat banyak pedagang ikan yang
berjualan dipesisir pantai dan kurang sadar akan kebersihan dari Pantai
Kedonganan.
4.2 Potensi Jenis Sumberdaya Ikan
Metode yang digunakan dalam identifikasi jenis sumberdaya perikanan
yang didaratkan di PPI Kedonganan adalah metode observasi langsung di
lapangan. Observasi langsung dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan
mendokumentasikan jenis-jenis semua sumberdaya perikanan yang didaratkan di
PPI Kedonganan.

Tabel 3. Jenis-jenis sumberdaya perikanan yang didaratkan di PPI


Kedonganan
Nama Nama Nama Ilmiah
No Family Genus Gambar Dokumentasi Ikan
Lokal Umum
1. Kerapu Kerapu Serranidae Plectropomus
sunu sunu

2. Kakap Kakap Lutjanidae Lutjanus


merah merah

17
3. Baronang Baronang Siganidae Siganus

4. Langsar Barakuda Sphyraenidae Sphyraena

5. Kakak tua Kakak Scaridae Scarus


tua

6. Kepiting Kepiting Ocypodidae Uca

7. Kembung Kembung Scombridae Rastrelliger

18
8. Suat Tongkol Scombridae Euthynnus

10. Udang Udang Penaeidae Litopenaeus


vannamei

11. Lobster Lobster Palinuridae Panulirus

12. Gemi Lele laut Echeneidae Echeneis

19
13. Selar Mackarel Scombridae Scomber

14. Kerong- Terapon Terapontidae Terapon


kerong

15. Cumi- Cumi- Loliginidae Oligo


cumi cumi

16. Bandeng Bandeng Chanidae Chanos

20
17. Ekor Ekor Caesionidae Caesio
kuning Kuning

18. Kerapu Kerapu Serranidae Epinephelus


mosso
hitam

19. Tongkol Tongkol Skombridae Thunnus

20. Bawal Bawal Stromateidae Stromateus


hitam hitam

21
21. Botana Botana Acanthuridae Acanthurus

22. Kerapu Kerapu Lutjnidae Lutjanus

23. Emperor Lencam Lethrinidae Lethrinus

22
24. Bobora, Kuwe Carangidae Caranx
sopa,
tarakulu

25. Selangat, Kuniran Mullidae Upeneus


Petek,
Kekek,
Pepetek,
Sekiki,
Caria,
Peta

26. Kerang Kerang Cyrenidae Batissa


lokan

27. Kerang Kerang Arcidae Anadara


darah

23
Potensi sumberdaya ikan yang ada di Kedonganan dapat dilihat pada tabel
diatas. Jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan di pantai Kedonganan bermacam-
macam, mulai dari ikan pelagis hingga ikan-ikan karang serta ada juga beberapa
jenis kerang-kerangan. Ikan pelagis yang ditangkap mulai dari ikan pelagis kecil
hingga ikan pelagis besar. Jenis ikan karang juga banyak yang ditangkap oleh
nelayan salah satunya adalah ikan kakak tua seperti yang terdapat pada tabel
diatas.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dari minggu ke minggu,
sumberdaya ikan yang ditemukan dipantai Kedonganan tidak selalu sama hal ini
disebabkan karena adanya faktor musim yang mempengaruhi ketersediaan
sumberdaya ikan itu sendiri. Pada saat minggu kedua, sumberdaya ikan yang
ditemukan sangatlah sedikit hal ini dikarenakan pada saat dilakukannya
praktikum minggu kedua sedang terjadinya purnama sehingga nelayan sedikit
yang bisa melaut.
4.3 Hubungan Panjang Bobot Ikan
Ikan Layang (Decapterus russelli) yang diukur panjang total tubuh dan
ditimbang beratnya sebanyak 120 ekor ikan setiap minggunya. Pengukuran ikan
ini dilakukan sebanyak 4 kali selama sebulan. Panjang total tubuh ikan diukur
mulai dari anterior kepala sampai posterior sirip caudal. Adanya pengukuran
panjang dan bobot ikan untuk mengetahui hubungan panjang bobot pada ikan
layang (Decapterus russelli) sehingga dapat mengetahu bagaimana pertumbuhan
tubuh ikan tersebut.
Hubungan panjangbobot tubuh beserta distribusi panjang ikan sangat
perlu diketahui untuk mengkonversi secara statistik hasil tangkapan dalam bobot
ke jumlah ikan, untuk menduga besarnya populasi, dan untuk menduga laju
kematiannya. Data hubungan panjang bobot tubuh juga diperlukan dalam
manajemen perikanan untuk menentukan selektivitas alat tangkap, agar ikan -
ikan non target tidak ikut tertangkap.
Data panjang dan bobot ikan yang didapatkan kemudian diolah dan dibuat
grafik untuk mengatahui bagaimana garis trend dari hubungan panjang dan bobot

24
ikan layang. Berikut merupakan grafik hubungan panjang bobot ikan layang
(Decapterus russelli) per pengamatan setiap minggunya.

Gambar 6. Grafik Hubungan Panjang Bobot Ikan Layang pada Pengamatan


Minggu ke-1

Gambar 7. Grafik Hubungan Panjang Bobot Ikan Layang pada Pengamatan


Minggu ke-2

25
Gambar 8. Grafik Hubungan Panjang Bobot Ikan Layang pada Pengamatan
Minggu ke-3

Gambar 9. Grafik Hubungan Panjang Bobot Ikan Layang pada Pengamatan


Minggu ke-4

26
Gambar 10. Grafik Hubungan Panjang Bobot Ikan Layang (Decapterus russelli)
PPI Kedonganan

Berdasarkan grafik diatas, dapat diketahui panjang total dan bobot ikan
layang yang tertangkap di PPI Kedonganan pada bulan Mei memiliki kisaran
panjang tubuh 130-230 mm dan kisaran bobot tubuh 30-130 gram. Ukuran
panjang dan bobot ikan layang yang tertangkap bervariasi.
Hasil analisis perhitungan hubungan panjang berat ikan berdasarkan
Rounsefell dan Everhart (1960) dan Lagler (1961) didapatkan nilai koefisien a
yaitu sebesar 0,009 dan nilai koefisien b sebesar 1,725. Dengan nilai t hitung
sebesar 542,57 lebih besar dari t tabel (t hit > t tab) yaitu 3,039 dapat diartikan
bahwa tolak H0. Tolak H0 artinya pertumbuhan ikan adalah allometrik.
Nilai b (1,725) lebih kecil daripada 3, hal ini menunjukkan bahwa tipe
pertumbuhan ikan ini bersifat allometrik negatif, yakni pertumbuhan panjang
lebih besar daripada pertumbuhan bobot atau pertambahan berat ikan. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Effendie (1979) yaitu hubungan panjang dan bobot
hampir mengikuti hukum kubik, yaitu bobot ikan merupakan hasil pangkat tiga
dari panjangnya, nilai pangkat (b) dari analisis tersebut dapat menjelaskan pola
pertumbuhan. Nilai b yang lebih besar dari 3 menunjukkan bahwa tipe
petumbuhan ikan tersebut bersifat allometrik positif, artinya pertumbuhan bobot
lebih besar dibandingkan petumbuhan panjang. Nilai b lebih kecil dari 3

27
menunjukkan bahwa tipe pertumbuhan ikan bersifat allometrik negatif, yakni
pertumbuhan panjang lebih besar daripada pertumbuhan bobot. Jika nila b sama
dengan 3, tipe pertumbuhan ikan bersifat isometrik yang artinya pertumbuhan
panjang sama dengan petumbuhan bobot. Tipe pertumbuhan memberikan
informasi mengenai baik atau buruknya pertumbuhan ikan yang hidup di lokasi
pengamatan, sehingga akan ada gambaran mengenai ekosistem yang sesuai atau
tidak untuk tempat ikan tersebut.
Secara umum, nilai b tergantung pada kondisi fisiologis dan lingkungan
seperti suhu, pH, salinitas, letak geografis dan teknik sampling (Jenning et al.,
2001) dan juga kondisi biologis seperti perkembangan gonad dan ketersediaan
makanan (Froese, 2006). Muchlisin (2010) menyebutkan bahwa besar kecilnya
nilai b juga dipengaruhi oleh perilaku ikan, misalnya ikan yang berenang aktif
(ikan pelagis) menunjukkan nilai b yang lebih rendah bila dibandingkan dengan
ikan yang berenang pasif (kebanyakan ikan demersal). Mungkin hal ini terkait
dengan alokasi energi yang dikeluarkan untuk pergerakan dan pertumbuhan.
Menurut Bagenal dalam Habibun (2011), faktor-faktor yang menyebabkan
nilai b selain perbedaan spesies adalah faktor lingkungan, berbedanya stok ikan
dalam spesies yang sama, tahap perkembangan ikan, jenis kelamin, tingkat
kematangan gonad, bahkan perbedaan waktu dalam hari karena perubahan isi
perut. Moutopoulos dan Stergiou dalam Harmiyati (2009), menambahkan bahwa
perbedaan nilai b juga dapat disebabkan oleh perbedaan jumlah dan variasi ikan
yang diamati.
Dari hasil yang didapatkan bahwa ikan layang (Decapterus russelli) yang
didaratkan di PPI Kedonganan memiliki pertumbuhan allometrik negatif dapat
dikatakan tubuh yang kurus dibandingkan dengan panjang tubuhnya. Hal ini
dapat disebabkan oleh adanya peraingan antar spesies maupun beda spesies
dalam memperebutkan makanan. Kemungkinan pada perairan tempat dan waktu
nelayan mengambil ikan layang tersebut memiliki ketersediaan makanan yang
rendah. Seperti pernyataan Effendie (1997), bahwa hubungan panjang berat
menunjukkan pertumbuhan yang bersifat relatif yang berarti dapat dimungkinkan

28
berubah menurut waktu. Apabila terjadi perubahan terhadap lingkungan dan
ketersediaan makanan diperkirakan nilai ini juga akan berubah. Meretsky et al.,
(2000) menambahkan bahwa perubahan bobot ikan dapat dihasilkan dari
perubahan pakan dan alokasi energi untuk tumbuh dan reproduksi, yang
mengakibatkan bobot ikan berbeda walaupun panjangnya sama.
Dari hasil analisis, diketahui nilai koefesien korelasi diterminasi (R2)
sebesar 0,726. Angka ini cukup tinggi dan mampu menunjukkan hubungan yang
erat antara pertambahan berat dengan pertambahan panjang begitupula
sebaliknya. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,726 berarti bahwa 92,6% dari total
varian pertambahan berat dapat dijelaskan oleh grafik hubungan panjang-berat
tersebut.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh berbagai
faktor baik faktor lingkungan maupun faktor kondisi tubuh ikan tersebut.
Pertumbuhan ikan merupakan perubahan dimensi (panjang, bobot, volume,
jumlah dan ukuran) persatuan waktu baik individu, stok maupun komunitas,
sehingga pertumbuhan ini banyak dipengaruhi faktor lingkungan seperti
makanan, jumlah ikan, jenis makanan, dan kondisi ikan. Pertumbuhan yang cepat
dapat mengindikasikan kelimpahan makanan dan kondisi lingkungan yang sesuai
(Moyle dan Cech 2004 dalam Tutupoho 2008). Secara umum faktor lingkungan
yang memegang peranan penting adalah zat hara meliputi makanan, air, dan
oksigen. Tidak semua makanan yang dimakan oleh ikan digunakan untuk
pertumbuhan. Sebagian besar energi dari makanan digunakan untuk metabolisme
basal (pemeliharaan), sisanya digunakan untuk aktivitas pertumbuhan dan
reproduksi (Effendie, 2002).
Pengukuran dan analisis panjang total dan bobot ikan berguna untuk
pendugaan perikanan seperti mengetahui tingkat kematangan gonad pada ikan.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Umar dan Tismining (2006) yaitu hubungan
panjang berat sangat penting untuk pendugaan perikanan (fishery assesment).
Pengukuran panjang-berat berhubungan dengan data umur dapat memberikan
informasi tentang komposisi stok, umur matang gonad, mortalitas, siklus hidup,

29
pertumbuhan, dan produksi. Mulfizar dkk. (2012) menambahkan bahwa
pengukuran panjang-berat ikan bertujuan untuk mengetahui variasi berat dan
panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok kelompok individu
sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, produktifitas dan kondisi
fisiologis termasuk perkembangan gonad.
4.4 Produksi Ikan
Data produksi perikanan dibawah ini diperoleh dari pihak pengelolan PPI
Kedonganan, Badung, Bali. Data produksi yang digunakan pada grafik dibawah
merupakan data produksi ikan layang di PPI Kedonganan tahun 2011-2016.

Gambar 11. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2011

30
Gambar 12. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2012

Gambar 13. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2013

31
Gambar 14. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2014

Gambar 15. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2015

32
Gambar 16. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2016

Gambar 17. Grafik Produksi Ikan Layang di PPI Kedonganan Tahun 2011-2016

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa jumlah produksi ikan


layang di PPI Kedonganan dari tahun 2011- 2016 mengalami fluktuasi. Jumlah
produksi ikan layang tertinggi terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 1.335.133 kg
dan jumlah produksi terendah terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 121. 668 kg

33
hal ini dikarenakan data produksi yang diperoleh hanya sampai bulan april tahun
2016. Produksi ikan layang dari tahun 2011 hingga 2012 mengalami peningkatan
yaitu dari 676.023 kg menjadi 894.698 kg. Pada tahun 2013 produksi ikan layang
mengalami penurunan yang cikup signifikan dari 894.698 kg menjadi 370.377.
Kemudian produksi ikan layang kembali meningkat pada tahun 2014. Pada tahun
2015 dan 2106 produksi ikan layang kembali mengalami penurunan.
Dari grafik produksi ikan layang tahun 2011-2014 di PPI Kedonganan, ikan
layang mengalami puncak produksi pada bulan Juli-November dan produksi
yang rendah pada bulan Desember-Juni. Sedangkan pada tahun 2015 produksi
ikan layang mengalami fluktuasi dan puncak produksinya ada pada bulan April
dan Juni. Tahun 2016 pengamatan dilakukan hanya sampai bulan April dimana
produksi ikan layang mengalami jumlah produksi yang tidak terlalu tinggi,
produksi ikan hanya terjadi di bulan Maret dan April. Menurut hasil wawancara
dari nelayan setempat di kedonganan, hasil produksi ikan disana di pengaruhi
oleh musim dan cuaca yang nantinya akan mempengaruhi penangkapan ikan dan
jumlah trip yang dilakukan nelayan untuk menangkap ikan perbulannya,
sehingga hal ini dapat mempengaruhi jumlah produksi ikan layang di PPI
Kedonganan.
4.5 Sosial Ekonomi Nelayan
4.5.1 Kondisi Sosial
Pantai Kedonganan terdapat di sebelah utara Pulau Bali, terletak di
Desa Kedonganan Kecamatan Kuta Kabupaten Badung. Pantai
Kedonganan status pengelolaannnya oleh pemerintah daerah diserahkan
kepada masyarakat adat setempat namun tetap dalam pengawasan
pemerintah. Desa Kedonganan yang wilayahnya terletak di pinggir pantai,
terkenal dengan sebutan desa nelayan karena mayoritas penduduknya
bekerja sebagai nelayan. Meskipun jumlah masyarakat yang bekerja
sebagai nelayan berkurang seiring berjalannya waktu, namun Desa
Kedonganan masih terkenal sebagai desa nelayan.

34
Nelayan dapat didefinsikan sebagai orang yang secara aktif
melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan/binatang air
lainnya/tanaman air. Orang yang hanya melakukan pekerjaan seperti
membuat jaring, mengangkut alat-alat perlengkapan ke dalam
perahu/kapal, tidak dimasukkan sebagai nelayan. Sementara masyarakat
nelayan adalah kelompok atau sekelompok orang yang bekerja sebagai
nelayan, nelayan kecil, pembudi daya ikan kecil yang bertempat tinggal di
sekitar kawasan nelayan (Peraturan Menteri Perumahan Rakyat No.
15/Permen/M/2006).
Menurut Dahuri et al. (2004), Pengelolaan wilayah pesisir
memerlukan suatu pengelolaan yang tepat dan terpadu baik bagi sumber
daya alam maupun masyarakatnya. Keterpaduan pengelolaan wilayah
pesisir ini mencakup empat aspek yaitu keterpaduan wilayah atau ekologis,
keterpaduan sektor, keterpaduan disiplin ilmu dan keterpaduan
stakeholders. Hak dan kewajiban mengenai pengelolaan sumberdaya
tersebut tidak ada yang mengatur sehingga setiap orang bebas mengakses
dan memanfaatkannya. Hak dan kewajiban atas akses dan pengelolaan
sumberdaya yang tidak diatur dapat menyebabkan tragedi kepemilikan
bersama sumberdaya alam atau tragedy of commons.
Tragedi kepemilikan bersama ini muncul ketika manusia mengambil
sumberdaya yang menjadi milik bersama untuk kepentingan pribadi
sehingga merugikan makhluk hidup lain. Kelembagaan mempunyai peran
dalam memberikan aturan-aturan bagi masyarakat dalam mengelola dan
menjaga lingkungan pesisir agar tetap terjaga kelestariannya. Kelembaaan
mencakup kelembagaan formal dan kelembagaan informal, dimana dalam
kelembagaan informal terdapat kelembagaan lokal.
Berdasarkan data pada tahun 2010 menunjukkan jumlah peduduk
Desa Kedonganan sebanyak 5.037 orang yang terdiri dari 2.500 orang
perempuan dan 2.537 orang laki-laki. Jumlah kepala keluarga sebanyak

35
1.075 kk dengan kepadatan penduduk 2.637 per km2. penduduk menurut
penggolongan usia dapat dirinci sebagai berikut :
Penduduk usia 0-6 tahun : 50 orang
Penduduk usia 7-18 tahun yang masih sekolah : 851 orang
Penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja : 3 360 orang
Penduduk usia 56 tahun ke atas : 776 orang
Penduduk Desa Kedonganan mayoritas memiliki pendidikan sampai
tingkat Sekolah Dasar (SD). Masyarakat Desa Kedonganan masih terasa
kental solidaritas sosialnya. Hal ini dapat terlihat dari adanya kelompok-
kelompok masyarakat yang secara suka rela melakukan aktivitas gotong
royong dalam membersihkan lingkungan, mengolah dan membuat fasilitas
desa serta dalam mengatur pelaksanaan upacara kegamaan desa. Seperti hal
nya para nelayan yang bergotong-royong dalam aktivitas membersihkan
lingkungan pantai yang biasanya rutin dilakukan dua minggu sekali. Selain
itu, budaya yang menjadi daya tarik adalah nelayan di pantai kedonganan
yang masih banyak menggunakan jukung tradisional dalam menangkap
ikan dan biasanya jukung tradisional tersebut disewakan kepada para
wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai pada sore hari.
4.5.2 Kondisi Ekonomi
Seiring berjalannya waktu Bali merupakan salah satu wilayah
destinasi pariwisata yang banyak dikunjungi oleh turis asing maupun turis
lokal. Desa Kedonganan adalah salah satu desa yang berkembang
menonjolkan sektor perikanan yang sangat potensial. Nelayan Kedonganan
menganggap bahwa profesi nelayan tidak lagi menjanjikan sehingga
mereka mulai beralih profesi. Meskipun sektor perikanan sudah bukan
menjadi sektor utama, namun jumlah produksi perikanan masih cukup
tinggi dan masih menjadi potensi perkembangan desa yang sangat potensial
disamping pariwisata dengan indikator unggulan wisata kuliner seafood
dan program minapolitan.
Berdasarkan wawancara dari para nelayan diperoleh data pendapatan
dan pekerjaan sampingan saat tidak melaut seperti membawa ikan ,

36
menjadi arean (tukang bangunan), tukang kebun, dan tukang sol sepatu
disekitaran pasar. Pekerjaan sampingan tersebut dilakukan untuk
menambah penghasilan nelayan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun
sebagian besar pendapatan nelayan berasal dari usaha perikanan tangkap.
Berdasarkan pengamatan pada saat praktikum lapangan, nelayan
mulai beraktivitas pukul 06.00 WITA dimana perahu-perahu tersebut sudah
mulai keluar masuk melakukan pendaratan ikan. Berdasarkan hasil
wawancara dengan beberapa nelayan kedonganan, adapun jenis-jenis
perahu/jukung di pantai kedonganan yaitu, perahu tanpa motor, motor
tempel dan kapal motor. Bobot perahu mulai dari 5 GT-30 GT.
Tenaga kerja (jumlah ABK) pada setiap perahu berbeda-beda
tergantung dari ukuran perahu yang digunakan. Lama melaut pada sekali
perjalanan (trip) yaitu satu malam sekitar 12 jam. Jumlah perjalanan (trip)
menangkap nelayan rata-rata 3-4 kali per bulan. Istirahat antar trip sekitar
2-3 hari. hasil tangkapan nelayan yang kami dapatkan dari hasil wawancara
tergantung dari musim. Saat musim puncak terjadi sekitar bulan April-Juni
jumlah tangkapan tertinggi mencapai 500 kg. Jenis ikan tangkapan yaitu
ikan lemuru, ikan tongkol, dan ikan tuna. Pada musim paceklik terjadi
sekitar bulan Januari-Februari jumlah tangkapan tertinggi mencapai 100
kg. jenis ikan tangkapan yaitu ikan tongkol.
Komoditi perikanan yang menjadi andalan nelayan Desa Kedonganan
adalah ikan tuna yang jumlah produksi nya mencapai 9.005.5 ton per tahun,
ikan tongkol sebesar 1.478.5 ton per tahun dan ikan sarden 547.1 ton per
tahun. Nelayan kedonganan mayoritas masih menggunakan alat tradisional
dalam menangkap ikan seperti perahu tradisional, jala dan pancing. Sektor
ekonomi yang menonjol dan menjadi andalan selain sektor industri
menengah dan besar adalah sektor industri kecil. Pada sektor jasa yang
berkembang cukup pesat termasuk di dalamnya adalah usaha jasa
transportasi dan perhubungan serta usaha rumah makan atau restaurant.
Pada sektor industri kecil yang paling menonjol adalah kerajinan kayu,
kerajinan batu dan kerajinan anyaman.

37
Para wisatawan tertarik untuk melihat perahu-perahu tradisional
nelayan atau biasa disebut jukung, melihat kegiatan nelayan dalam
menangkap ikan dan tertarik untuk berkeliling pantai menggunakan perahu
nelayan. Biasanya jukung tradisional tersebut disewakan kepada para
wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai pada sore hari untuk
berkeliling pantai. Penyewaan jukung dilakukan untuk menambah ekonomi
nelayan di Pantai Kedonganan.
4.6 Saran Pengelolaan
1. Tetap menjaga keseimbangan lingkungan untuk kebersihan dan menghindari
adanya bau amis di sekitar pantai. Dengan adanya septic tank sebagai
penampung air limbah agar tetap diawasi supaya tidak terjadi rembesan yang
dapat menimbulkan bau amis, maka patut diperiksa secara rutin dan adanya
penyedotan.
2. Pengelolaan ikan layang di PPI Kedonganan dapat dikatakan belum dapat
dikelola dengan baik, hal ini dibuktikan dengan produksi ikan layang pada
tahun 2014-2016 menurun, kemungkinan hal ini bisa terjadi karena
disebabkan oleh adanya penangkapan yang berlebih pada tahun 2014 sehingga
pada tahun berikutnya produksi ikan layang menjadi menurun. Maka dari itu
sebaiknya diterapkan lagi cara pengelolaan ikan layang seperti sebelum tahun
2014 yang dimana pada tahun tersebut produksi ikan layang tidak mengalami
penurunan yang sangat drastis.
3. Sebaiknya pemerintah memberikan penyuluhan mengenai pentingnya
pelaporan hasil tangkapan yang diperoleh nelayan, masyarakat seharusnya
juga sadar akan kebersihan area pasar maupun penimbangan agar dapat
menarik minat pembeli atau wisatawan yang ini membeli seafood.
4. Perlu adanya pengecekan dari lembaga pemerintah mengetani ikan yang
didaratkan apakah layak untuk dikonsumsi atau tidak mengingat kebersiah
areal pantai kurang baik serta ditakutkan ikan yang ditangkap terkontaminasi
zat berbahaya di lautan.

V. PENUTUP

38
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari laporan ini adalah :
1. Sumberdaya perikanan yang didaratkan di PPI Kedonganan antara lain
Kerapu Sunu, Kakap Merah, Baronang, langsar, Kakak Tua, Kepiting, Ikan
Kembung, Tongkol, Udang, Lobster, Cumi-cumi, Bandeng dll.
2. Cara mengukur panjang dan bobot dari ikan jika panjang nya diukur seluruh
tubuh ikan dan ditimbang bobot nya.
3. Jumlah produksi ikan layang di PPI Kedonganan dari tahun 2011- 2016
mengalami flusi,hasil produksi ikan di pengaruhi oleh musim dan cuaca yang
nantinya akan mempengaruhi penangkapan ikan dan jumlah trip yang
dilakukan nelayan untuk menangkap ikan perbulannya.
4. Nelayan Kedonganan menganggap bahwa profesi nelayan tidak lagi
menjanjikan sehingga mereka mulai mencari pekerjaan sampingan. Nelayan
kedonganan mayoritas masih menggunakan alat tradisional dalam menangkap
ikan seperti perahu tradisional, jala dan pancing.
5. Saran pengelolaan diharapkan tetap menjaga keseimbangan lingkungan untuk
kebersihan dan menghindari adanya bau amis di sekitar pantai
5.2 Saran
Sebaiknya ada penelitian lebih lanjut mengenai potensi sumberdaya ikan
layang di PPI di kedonganan dan seluruh nelayan dan pengelola dapat bersama sama
menjaga kebersihan sekitar areal pantai yang dijadikan tempat pendaratan ikan agar
mengurangi bau amis di arealitu serta demi menjaga kebersihan ikan sehingga ikan
tetap sehat untuk dikonsumsi

DAFTAR PUSTAKA

39
Andy Omar, S. Bin. 2007. Modul Praktikum Biologi Perikanan, Jurusan Perikanan,
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar, 168
hal.

Anonimous. 1990. Lokakarya Program Intervensi Proyek Makanan Jajanan.


IPBTNO-VU 27 Desember 1990 Kerjasama Indonesia Belanda. Bogor.

Bagenal, T.B.. 1978. Aspects of Fish Fecundity, Ecology of Freshwater Fish


Reproduction. Blackwell Scientific Publications. Oxford.

Burhanuddin. 2001. Strategi Pengembangan Industri Garam di Indonesia, Kanisius,


Yogyakarta.

Effendie, M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.

Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.

Effendie, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Bogor.

Effendie, M.I. 1997. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Agromedia. Bogor. 112 hal.

Froese, R. 2006. Cube law, condition factor and weight length relationship: history,
meta-analysis and recommendations. Journal of Applied Ichthyology.

Habibun, E. A. 2011. Aspek pertumbuhan dan reproduksi ikan ekor kuning (Caesio
cuning) yang di daratkan di PPI Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Hariati et al., 2005. Ikan layang (Decapterus russelli) hidup di perairan dengan
salinitas tinggi yaitu 32

Jennings, S., M.J. Kaiser, J.D. Reynolds. 2001. Marine Fishery Ecology. Blackwell
Sciences, Oxford.

Lagler, K.F. 1961. Freshwater Fishery Biology. Second edition. WM. C. Brown
Company, Dubuque, Lowa.

Meretsky, V.J., Valdez, R.A., Douglas, M.E., Brouder, M.J. Gorman, O.T. & Marsh,
P.C. 2000. Spa-tiotemporal variation in length-weight Hubungan Panjang
Berat dan Faktor Kondisi Ikan Belanak Liza subviridis di Perairan Taman
Nasional 178 relationships of endangered humpback chub: implications for
conservation and management. Transactions of the American Fisheries Society.

40
Moyle, P. B, & J. J. Cech, Jr. 2004. Fishes An Introduction to Ichthyology. Prentice
Hall, Upper Saddle River.

Muchlisin, Z.A., M. Musman, M.N. Siti-Azizah. 2010. Length-weight relationships


and condition factors of two threatened fishes, Rasbora tawarensis and
Poropuntius tawarensis, endemic to Lake Laut Tawar, Aceh Province,
Indonesia. Journal of Applied Ichthyology.

Mulfizar, Zainal, A., Muchlisin & Dewiyanti, I. 2012. Hubungan Panjang Berat dan
Faktor Kondisi Tiga Jenis Ikan yang Tertangkap Di Perairan Kuala Gigieng,
Aceh Besar, Provinsi Aceh. Jurnal.

Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.

Radarwati S,Basoro MS, Monintja DR, Purbayanto A. 2010. Alokasi Optimum dan
Wilayah Pengembangan Berbasis Alat Tangkap Potensial Teluk Jakarta.
Marine Fisheries 1(2): 189-198.

Rounsefell, George A., and W. Harry Everhart. 1953. Fishery Science Its Methods
and Applications. New York, John Wiley &Sons, Inc.

Rusmilyansari. 2012. Inventarisasi Alat Tangkap Berdasarkan Kategori Status


Penangkapan Ikan yang Bertanggung Jawab di Perairan Tanah Laut. Program
Studi Penangkapan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan, UNLAM.

Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Binacipta, Jakarta.

Sunarjo, 1990. Analisa Parameter Pertumbuhan Ikan Layang Deles (Decapterus


macrosoma Blkr) di Perairan Laut Jawa Bagian Timur. (Skripsi) Fakultas
Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.

Tutupoho, S. N. E., 2008. Pertumbuhan Ikan Motan (Thynnichthys thynnoides


Bleeker, 1852) di Rawa Banjiran Sungai Kampar Kiri, Riau. Departemen
Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Umar, C., Lismining. 2006. Analisis hubungan panjang berat beberapa jenis ikan
asli Danau Sentani Papua. Abstrak Seminar Nasional Ikan IV, 8-9 Juni 2010,
Bogor.

Lampiran Biodata Nelayan

41
MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
UNIVERSITAS UDAYANA

1. Biodata nelayan
Nama : Supatmo Umur : 40 tahun
Pekerjaan utama : Nelayan Sampingan :-
Alamat : Kedonganan Pendidikan : SMA
2. Alat tangkap dan hasil tangkapan
a. Nama alat tangkap : Jaring
b. Ukuran alat tangkap :
Panjang : 40 meter Lebar : 12 meter
Tinggi : 12 meter Mata jaring : 2,5 inchi
3. Perahu
a. Jenis perahu : Kapal tempel
b. Bobot perahu : 10-30 GT
c. Ukuran perahu :
Panjang : 10 meter Lebar : 1,2 meter Tinggi : 1 meter
4. Tenaga kerja
a. Jumlah ABK : 2 orang c. Upah : 300.000-400.000
b. Asal : Madura d. Tugas : Bali
5. Trip
a. Lama melaut 1 trip : 12 jam
b. Jumlah trip menangkap perbulan : 3-4 kali/ bulan
c. Istirahat antar trip : 3 hari
6. Mesin kapal
a. Ukuran : 30 PK b. Merk : Suzuki
7. Hasil tangkapan
No Bulan Jenis Ikan Jumlah Harga Ikan
Tangkapan Tangkapan per Kg
Musim Mei 1. Tongkol 1. 1-3 ton 1. 7.000
Puncak 2. Kembung 2. 1-3 ton 2. 17.000

42
Musim Desember 1. 1. 1.
Paceklik 2. 2. 2.
3. 3. 3.
8. Daerah penangkapan
1. Sekitaran bandaran jarak dari TPI 4 km
2. Selat Jimbaran jarak dari TPI 5 km

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


UNIVERSITAS UDAYANA

1. Biodata nelayan
Nama : Poniran Umur : 39 tahun
Pekerjaan utama : Nelayan Sampingan :-
Alamat : Kedonganan Pendidikan : SMA
2. Alat tangkap dan hasil tangkap
a. Nama alat tangkap : Pancing
b. Ukuran alat tangkap :
Panjang : 1000 meter Lebar : 10 meter
Tinggi : 10 meter Mata jaring : 2,5 inchi
3. Perahu
a. Jenis perahu : Motor motor
b. Bobot perahu : 10-30 GT
c. Ukuran perahu :
Panjang : 10 meter Lebar : 120 meter Tinggi : 80 meter
4. Tenaga kerja
a. Jumlah ABK : 2 orang c. Upah : Sesuai tangkapan
b. Asal : Banyuwangi d. Tugas : Menurunkan jaring
5. Trip
a. Lama melaut 1 trip : 12 jam
b. Jumlah trip menangkap perbulan : 16 kali/ bulan
c. Istirahat antar trip : 3 hari
6. Mesin kapal
a. Ukuran : 30 PK b. Merk : Yamaha dan Suzuki
7. Hasil tangkapan
No Bulan Jenis Ikan Jumlah Harga Ikan
Tangkapan Tangkapan per Kg
Musim Juli-Agustus 1. Tongkol 1. 1,5 kwintal 1. 6.000
Puncak 2. Kenyar 2. 5 kwintal 2. 10.000

Musim Desember
Paceklik
8. Daerah penangkapan
Selat Bukit Jimbaran jarak dari TPI 1 km

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


UNIVERSITAS UDAYANA

1. Biodata nelayan
Nama : Putu Suarjana Umur : 47 tahun
Pekerjaan utama : Nelayan Sampingan : Karyawan Hotel
Alamat : Kedonganan Pendidikan : SMA
2. Alat tangkap dan hasil tangkapan
a. Nama alat tangkap : Jaring
b. Ukuran alat tangkap :
Panjang : 15 meter Lebar : 10 meter
Tinggi : 15 meter Mata jaring : 3,5 inchi
3. Perahu
a. Jenis perahu : Kapal motor
b. Bobot perahu : 10-30 GT
c. Ukuran perahu :
Panjang : 10 meter Lebar : 1 meter Tinggi : 2 meter
4. Tenaga kerja
a. Jumlah ABK : 5 orang c. Upah : 400.000-500.000
b. Asal : Sulawesi selatan d. Tugas : Bali
5. Trip
a. Lama melaut 1 trip : 12 jam
b. Jumlah trip menangkap perbulan : 30 kali/ bulan
c. Istirahat antar trip :
6. Mesin kapal
a. Ukuran : 15 PK b. Merk : Yamaha
7. Hasil tangkapan
No Bulan Jenis Ikan Jumlah Harga Ikan
Tangkapan Tangkapan per Kg
Musim Juni 1. Tongkol 1. 3 ton 1. 8.000
Puncak 2. Tuna 2. 3 ton 2. 12.000
3. Kanyar 3. 3 ton 3. 7.000
Musim Januari 1. Tongkol 1. 1 ton 1. 16.000
Paceklik 2. 2. 2.
3. 3. 3.
8. Daerah penangkapan
1. X3 jarak dari TPI 6 km

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


UNIVERSITAS UDAYANA

1. Biodata nelayan
Nama :Ansor Umur : 35 tahun
Pekerjaan utama : Nelayan Sampingan :-
Alamat : Banyuwangi Pendidikan : SMA
2. Alat tangkap dan hasil tangkapan
a. Nama alat tangkap : Jaring
b. Ukuran alat tangkap :
Panjang : 35 meter Lebar : 58,5 meter
Tinggi : 20 meter Mata jaring : 5,5 inchi
3. Perahu
a. Jenis perahu : Kapal motor
b. Bobot perahu : >30 GT
c. Ukuran perahu :
Panjang : 7 meter Lebar : 3 meter Tinggi : 3 meter
4. Tenaga kerja
a. Jumlah ABK : 2 orang c. Upah : Sesuai dengan tangkapan
b. Asal : Bali d. Tugas : Bali
5. Trip
a. Lama melaut 1 trip : 12 jam
b. Jumlah trip menangkap perbulan : 3 kali/ bulan
c. Istirahat antar trip : 3 hari
6. Mesin kapal
a. Ukuran : 15 PK b. Merk : Suzuki
7. Hasil tangkapan
No Bulan Jenis Ikan Jumlah Harga Ikan
Tangkapan Tangkapan per Kg
Musim Juni 1. Tenggiri 1. 1. 40.000
Puncak 2. Blue Marlin 2. 2. 23.000
3. 3. 3.
Musim Januari 1. 1. 1.
Paceklik 2. 2. 2.
3. 3. 3.
8. Daerah penangkapan
1. X3 jarak dari TPI 6 km
2. X3 jarak dari TPI 6 km
3. X4 jarak dari TPI 7 km

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


UNIVERSITAS UDAYANA

1. Biodata nelayan
Nama : Harun Umur : 32 tahun
Pekerjaan utama : Nelayan Sampingan :-
Alamat : Banyuwangi Pendidikan : SMP
2. Alat tangkap dan hasil tangkapan
a. Nama alat tangkap : Jaring
b. Ukuran alat tangkap :
Panjang : 35 meter Lebar : 10 meter
Tinggi : 10 meter Mata jaring : 2,5-3,5 inchi
3. Perahu
a. Jenis perahu : Kapal motor
b. Bobot perahu : >30 GT
c. Ukuran perahu :
Panjang : 9,5 meter Lebar : 1,5 meter Tinggi : 1 meter
4. Tenaga kerja
a. Jumlah ABK : 1 orang c. Upah : Sesuai dengan tangkapan
b. Asal : Banyuwangi d. Tugas : Bali
5. Trip
a. Lama melaut 1 trip : 12 jam
b. Jumlah trip menangkap perbulan : 3 kali/ bulan
c. Istirahat antar trip : 3 hari
6. Mesin kapal
a. Ukuran : 15 PK b. Merk : Suzuki
7. Hasil tangkapan
No Bulan Jenis Ikan Jumlah Harga Ikan
Tangkapan Tangkapan per Kg
Musim Juni 1. Tongkol 1. 1 kwintal 1. 5.000
Puncak 2. 2. 2.
3. 3. 3.
Musim Januari 1. Tongkol 1. 3 kg 1. 6.000
Paceklik 2. 2. 2.
3. 3. 3.
8. Daerah penangkapan
1. X3 jarak dari TPI 3 km

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


UNIVERSITAS UDAYANA

1. Biodata nelayan
Nama :Haryono Umur : 32 tahun
Pekerjaan utama : Nelayan Sampingan :-
Alamat : Banyuwangi Pendidikan : SMP
2. Alat tangkap dan hasil tangkapan
a. Nama alat tangkap : Jaring
b. Ukuran alat tangkap :
Panjang : 34 meter Lebar : 10 meter
Tinggi : 10 meter Mata jaring : 3,5 inchi
3. Perahu
a. Jenis perahu : Motor tempel
b. Bobot perahu : 10-30 GT
c. Ukuran perahu :
Panjang : 11,5 meter Lebar : 1meter Tinggi : 5 meter
4. Tenaga kerja
a. Jumlah ABK : 1 orang c. Upah : Sesuai dengan tangkapan
b. Asal : Banyuwangi d. Tugas : Bali
5. Trip
a. Lama melaut 1 trip : 12 jam
b. Jumlah trip menangkap perbulan : 15 kali/ bulan
c. Istirahat antar trip : 2 hari
6. Mesin kapal
a. Ukuran : 15 PK b. Merk : Suzuki
7. Hasil tangkapan
No Bulan Jenis Ikan Jumlah Harga Ikan
Tangkapan Tangkapan per Kg
Musim Agustus 1. Tongkol 1. 1 kwintal 1. 5.000
Puncak 2. 2. 2.
3. 3. 3.
Musim Desember 1. Tongkol 1. 3 kg 1. 6.000
Paceklik 2. 2. 2.
3. 3. 3.
8. Daerah penangkapan
1. Selat Jimbaran jarak dari TPI 15 mil

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


UNIVERSITAS UDAYANA

1. Biodata nelayan
Nama :Made Diasni Umur : 56 tahun
Pekerjaan utama : Nelayan Sampingan :-
Alamat : Kedonganan Pendidikan : SMP
2. Alat tangkap dan hasil tangkapan
a. Nama alat tangkap : Purse Sein
b. Ukuran alat tangkap :
Panjang : 1000 meter Lebar : 10 meter
Tinggi : 20 meter Mata jaring : 5,5 inchi
3. Perahu
a. Jenis perahu : Motor tempel
b. Bobot perahu : < 5 GT
c. Ukuran perahu :
Panjang : 12 meter Lebar : 1,5 meter Tinggi : 1,2-1,1 meter
4. Tenaga kerja
a. Jumlah ABK : 1-2 orang c. Upah : Sesuai dengan tangkapan
b. Asal : Bali d. Tugas : Menurunkan alat tangkap
5. Trip
a. Lama melaut 1 trip : 12 jam
b. Jumlah trip menangkap perbulan : 15 kali/ bulan
c. Istirahat antar trip : 3 hari
6. Mesin kapal
a. Ukuran : 15-30 PK b. Merk : Suzuki atau Yamaha
7. Hasil tangkapan
No Bulan Jenis Ikan Jumlah Harga Ikan
Tangkapan Tangkapan per Kg
Musim Agustus 1. Tongkol 1. 1 ton 1. 6.000
Puncak 2. Tuna 2. 2 ton 2. 20.000
3.Tenggiri 3. 1 kwintal 3. 8.000
Musim Desember 1. 1. 1.
Paceklik 2. 2. 2.
3. 3. 3.
8. Daerah penangkapan
1. Sekitaran Bandara jarak dari TPI 20 mil

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


UNIVERSITAS UDAYANA

1. Biodata nelayan
Nama : Ketut Dapa Umur : 54 tahun
Pekerjaan utama : Nelayan Sampingan :-
Alamat : Kedonganan Pendidikan : SMP
2. Alat tangkap dan hasil tangkapan
a. Nama alat tangkap : Jaring Sinar
b. Ukuran alat tangkap :
Panjang : 30 meter Lebar : 10 meter
Tinggi : 10 meter Mata jaring : -
3. Perahu
a. Jenis perahu : Jukung
b. Bobot perahu : < 5 GT
c. Ukuran perahu :
Panjang : 40 meter Lebar : 1,5 meter Tinggi : 1,5 meter
4. Tenaga kerja
a. Jumlah ABK : - c. Upah : Sesuai dengan tangkapan
b. Asal :- d. Tugas : -
5. Trip
a. Lama melaut 1 trip : 12 jam
b. Jumlah trip menangkap perbulan : 20 kali/ bulan
c. Istirahat antar trip : 1 hari
6. Mesin kapal
a. Ukuran :- b. Merk : -
7. Hasil tangkapan
No Bulan Jenis Ikan Jumlah Harga Ikan
Tangkapan Tangkapan per Kg
Musim 1. Lobster 1. 1. 100.000
Puncak

Musim 1. 1. 1.
Paceklik 2. 2. 2.
3. 3. 3.
8. Daerah penangkapan
1. Sekitaran Bandara jarak dari TPI 15 mil

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


UNIVERSITAS UDAYANA

1. Biodata nelayan
Nama : Reihan Umur : 30 tahun
Pekerjaan utama : Nelayan Sampingan : Bawa ikan
Alamat : Kedonganan Pendidikan : SMA
2. Alat tangkap dan hasil tangkapan
a. Nama alat tangkap : Jaring
b. Ukuran alat tangkap :
Panjang : 20 meter Lebar : 2 meter
Tinggi : 20 meter Mata jaring : 1-2 inchi
3. Perahu
a. Jenis perahu : Motor tempel
b. Bobot perahu : 10-30 GT
c. Ukuran perahu :
Panjang : 5 meter Lebar : 2 meter Tinggi : 2 meter
4. Tenaga kerja
a. Jumlah ABK : 3 orang c. Upah : 250.000-300.000
b. Asal : Banyuwangi d. Tugas : Bali
5. Trip
a. Lama melaut 1 trip : 12 jam
b. Jumlah trip menangkap perbulan : 3-4 kali/ bulan
c. Isirahat antar trip : 5 hari
6. Mesin kapal
a. Ukuran : 15 PK b. Merk : Jandung
7. Hasil tangkapan
No Bulan Jenis Ikan Jumlah Harga Ikan
Tangkapan Tangkapan per Kg
Musim Mei 1. Lemuru 1. 5 kuintal 1. 5.000
Puncak 2. Tongkol 2. 5 kuintal 2. 6.000
3. 3. 3.
Musim Januari 1. Tongkol 1. 1 kuintal 1. 15.000
Paceklik 2. 2. 2.
3. 3. 3.
8. Daerah penangkapan
1. Sekitaran bandara jarak dari TPI 5 km
2. Sekitaran bandara jarak dari TPI 5 km
3. Sekitaran bandara jarak dari TPI 7 km

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


UNIVERSITAS UDAYANA

1. Biodata nelayan
Nama : Bp. Jamaludin Umur : 39 tahun
Pekerjaan utama : Nelayan Sampingan : Sol sepatu
Alamat : Kelan Pendidikan : SD
2. Alat tangkap dan hasil tangkapan
a. Nama alat tangkap : Pancing
b. Ukuran alat tangkap :
Panjang : 60 meter Lebar :
Tinggi : Mata jaring :
3. Perahu
a. Jenis perahu : Motor tempel
b. Bobot perahu : 10-30 GT
c. Ukuran perahu :
Panjang : 5 meter Lebar : 2 meter Tinggi : 2 meter
4. Tenaga kerja
a. Jumlah ABK : 3 orang c. Upah : 300.000
b. Asal : Jawa timur d. Tugas : Bali
5. Trip
a. Lama melaut 1 trip : 12 jam
b. Jumlah trip menangkap perbulan : 10 kali/ bulan
c. Istirahat antar trip : 3 hari
6. Mesin kapal
a. Ukuran : 15 PK b. Merk : Yamar PK
7. Hasil tangkapan
No Bulan Jenis Ikan Jumlah Harga Ikan
Tangkapan Tangkapan per Kg
Musim April-Juni 1. Kucing 1. 6 kwintal 1. 18.000
Puncak 2. Tongkol 2. 6 kwintal 2. 22.000
3. Protolan 3. 5 kwintal 3. 15.000
Musim Januari 1. Kucing 1. 2 kwintal 1. 20.000
Paceklik 2. 2. 2.
3. 3. 3.
8. Daerah penangkapan
1. Selat Jimbaran jarak dari TPI 4 km
2. Selat Jimbaran jarak dari TPI 4 km
3. Selat Jimbaran jarak dari TPI 6 km