Anda di halaman 1dari 37

ULKUS DEKUBITUS

PENDAHULUAN
Ulkus dekubitus berasal dari bahasa latin decumbere yang berarti berbaring. Ulkus
dekubitus merupakan luka tekan. Secara defenisi ulkus dekubitus diartikan sebagai kerusakan
kulit yang terjadi akibat kekurangan aliran darah dan iritasi pada kulit yang menutupi lubang
yang menonjol, dimana kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur, kursi, gips,
pembidaian atau benda keras lainnya dalam jangka panjang.1 Ulkus dekubitus sering disebut sebagai
ischemic ulcer, Pressure Ulcer, Pressure sore, bed sore, decubital ulcer.2
Ulkus dekubitus merupakan masalah yang dihadapi oleh pasien-pasien dengan penyakit
kronis, pasien yang sangat lemah, dan pasien yang lumpuh dalam waktu yang lama, bahkan saat
ini merupakan suatu penderitaan sekunder yang banyak dialami oleh pasien pasien yang dirawat
di rumah sakit.1
Ulkus dekubitus merupakan suatu hal yang serius dengan angka morbiditas dan
mortalitas yang tinggi pada usia lanjut serta akan menjadi beban keluarga dengan biaya
perawatan tinggi. Di Negara negara maju, prevalensi ulkus dekubitus mencapai 11% yang terjadi
dalam dua minggu pertama perawatan. Ulkus dekubitus dapat dapat terjadi pada setiap tahapan
usia, pada usia lanjut merupakan masalah khusus akibat imobilisasi yang merupakan masalah
besar pada pasien geriatric.2
Luka akibat tekanan merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien usia
lanjut dengan imobilisasi. Factor resiko timbulnya ulkus decubitus adalah semua jenis penyakit
dan kondisi yang menyebabkan seseorang terbatas aktivitasnya.3
Pasien yang dirawat di rumah sakit dengan penyakit akut mempunyai angka insiden ulkus
dekubitus sebesar 2-11%. Namun, hal yang perlu menjadi perhatian adalah angka kekambuhan
pada penderita ulkus dekubitus yang telah mengalami penyembuhan sangat tinggi yakni 90%
walaupun mendapatkan terapi medik dan bedah yang baik.4

1
DEFINISI
Ulkus dekubitus adalah kerusakan jaringan setempat pada kulit dan/atau jaringan
dibawahnya akibat tekanan, atau kombinasi antara tekanan dengan pergeseran (Shear), pada
bagian tubuh (Tulang) yang menonjol. Ulkus dekubitus menandakan telah terjadi nekrosis
jaringan lokal, sering terjadi pada bagian tubuh yang menonjol, misalnya sakrum, tuberositas
iskialgia, trokanter, tumit. Ulkus dekubitus sering disebut sebagai ischemic ulcer, Pressure
Ulcer, Pressure sore, bed sore, decubital ulcer.2

ETIOLOGI
Terbentuknya ulkus dekubitus dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi tekanan yang
menyebabkan iskemik adalah penyebab utama. Setiap jaringan mempunyai kemampuan untuk
mengatasi terjadinya iskemik akibat tekanan, tetapi tekanan yang lama dan melewati batas
pengisian kapiler akan menyebabkan kerusakan jaringan yang menetap.4
Penyebab ulkus dekubitus lainnya adalah kurangnya mobilitas, kontraktur, spastisitas,
berkurangnya fungsi sensorik, paralisis, insensibilitas, malnutrisi, anemia, hipoproteinemia, dan
infeksi bakteri. Selain itu, usia yang tua, perawatan di rumah sakit yang lama, orang yang kurus,
inkontinesia urin dan alvi, merokok, penurunan kesadaran mental dan penyakit lain (seperti
diabetes melitus dan gangguan vaskuler) akan mempermudah terjadinya ulkus decubitus.4
Kuman yang sering dijumpai pada ulkus dekubitus adalah Proteus mirabilis group D
streptococci, Escheria coli, Staphylococcus species, Pseudomonas species, dan
Corynebacterium. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi polibakteria pada ulkus dekubitus.1

EPIDEMIOLOGI
Sebanyak 70% ulkus dekubitus terjadi pada pasien geriatri. Prevalensi meningkat
dengan bertambahnya umur, terutama umur 70-80 tahun. Secara umum insiden ulkus dekubitus
di rumah sakit berkisar 1,2%-3% dan dapat meningkat sampai 50% pada ruang rawat akut yang
berhubungan dengan mortalitas tinggi. Kejadian ulkus dekubitus meningkat sesuai dengan
dengan lama perawatan, hospitalisasi meningkat 5 kali lipat bila pasien mengalami ulkus
dekubitus.2
Sebanyak 95 % ulkus dekubitus terjadi pada bagian belakang tubuh.Daerah predileksi
yang sering terjadi ulkus dekubitus adalah sakrum, koksigeal, tuberositas ischialgia dan trokanter

2
mayor. Sakrum merupakan daerah tersering terjadi ulkus dekubitus (36%), tumit (30%), daerah
lain masing-masing 6%.2
Daerah predileksi ulkus dekubitus:
Posisi dorsal: os. Sakrum, koksigeus, tendon achiles, os oksipital
Posisi abdominal: os frontal, arkus kostarum , krista illiaka, genue
Posisi Lateral: trokanter mayor, os zigomatikum, kostae lateral dan maleolus lateralis
Posisi duduk: tuberositas iskialgia, os oksipital, tumit.
FAKTOR RISIKO

Faktor Resiko Primer


Faktor resiko primer merupakan faktor resiko yang menyebabkan menurunnya pergerakan
(morbiditas) sehingga terjadi imobilisasi relative/total yaitu:2
Gangguan neurologis dengan paralisis: stroke, hemiplegia, hemiparesis, paraplegia,
tetraplegia.
Gangguan fungsi kognitif dan Penurunan kesadaran.
Intervensi bedah: anestesi (premedikasi, anestesi, fase pemulihan) untuk jangka waktu
yang lama.
Gangguan psikiatrik dan obat psikotropik: psikosis akut Misalnya katatonia dan depresi
akut, obat sedasi misalnya neuroleptic, benzodiazepine Nyeri hebat
Faktor Resiko Sekunder
Faktor resiko sekunder adalah faktor-faktor yang dapat menurunkan toleransi jaringan. Faktor
yang menurunkan tekanan intravaskuler:2
Hipotensi arterial: syok ( hipovolemik, septik, kardiogenik), overdosis obat
antihipertensi
Dehidrasi: pemakaian diuretic,diare, sengatan matahari.
Faktor yang menurunkan transport oksigen ke sel:
Anemia: hemoglobin < 9 g%
Penyakit oklusi arteri perifer
Mikroangiopati diabetic
Hipotensi, Bradikardi
Syok hipovolemik

3
Faktor yang meningkatkan konsumsi oksigen di sel:
Demam 38oC
Hipermetabolisme
Infeksi, sitokemia
Faktor yang menyebabkan defisiensi nutrient dalam sel:
Malnutisi: defisiensi protein, vitamin, mineral, trace elements
Kakeksia: imobilitas karena katabolisme dan kelemahan otot
Limfopenia yang berhubungan dengan malnutrisi: defisiensi imun, gangguan
penyembuhan luka.
Faktor yang melemahkan pertahanan kulit:
Proses menua pada kulit: tipis, atrofi, dengan sedikit sel-sel imun
Higiene kulit buruk
Penyakit kulit: eksema, kandidiasis
Kandungan air pada kulit berkurang, daya regang menurun integritas antara dermis dan
epidermis menurun. Kulit kering karena atrofi glandula sebaseus dan apokrin.
Kulit menjadi halus mudah maserasi pada inkontinensia urin dan alvi karena sering
terpapar urin dan feses.
Pemakaian obat steroid yang menyebabkan kulit atrofi, tipis, mudah luka.
Faktor resiko ulkus decubitus dapat pula dibagi menjadi factor intrinsic dan ekstrinsik.
Faktor intrinsik adalah semua faktor yang yang berasal dari kelainan pada pasien itu sendiri (
faktor resiko primer dan sekunder).
Faktor ekstrinsik, meliputi:
Kebersihan tempat tidur
Peralatan medis (infus, central venous pressure/CPV, ventilator) yang menyebabkan
penderita terinfeksi pada sikap tertentu
Posisi duduk salah
Perubahan posisi kurang.2

4
STADIUM LUKA DEKUBITUS
Gejala klinik yang tampak oleh penderita, biasanya berupa kulit yang kemerahan sampai
terbentuknya suatu ulkus. Kerusakan yang terjadi dapat meliputi dermis, epidermis, jaringan otot
sampai tulang. Berdasarkan gejala klinis, NPUAP mengklasifikasikan ulkus dekubitus menjadi
empat stadium, yakni4
1. Stadium 1
Ulserasi terbatas pada epidermis dan dermis dengan eritema pada kulit. Penderita dengan
sensibilitas baik akan mengeluh nyeri. Stadium ini umumnya reversible dan dapat sembuh dalam
5 - 10 hari.

2. Stadium 2
Ulserasi mengenai epidermis, dermis dan meluas sampai ke jaringan adiposa.Terlihat
eritema dan indurasi. Stadium ini dapat sembuh dalam 10 15 hari.

5
3. Stadium 3
Ulserasi meluas sampai ke lapisan lemak subkutis, dan otot sudah mulai terganggu
dengan adanya edema, inflamasi, infeksi dan hilangnya struktur fibril. Tepi ulkus tidak teratur
dan terlihat hiper atau hipopigmentasi dengan fibrosis. Kadang-kadang terdapat anemia dan
infeksi sistemik. Biasanya sembuh dalam 3- 8 minggu.

4. Stadium 4
Ulserasi dan nekrosis meluas mengenai fasia, otot, tulang serta sendi. Dapat terjadi
artritis septik atau osteomielitis dan sering disertai anemia. Dapat sembuh dalam 3 - 6 bulan.

6
Tipe ulkus decubitus
Berdasarkan waktu yang diperlukan untuk penyembuhan dan perbedaan temperatur ulkus
dekubitus dengan kulit sekitarnya, ulkus decubitus dibagi menjadi 3 bagian:
1. Tipe normal
Beda temperatur 2,5 C antara dareah ulkus dengan kulit sekitar akan sembuh
sekitar 6 minggu selama perawatan. Ulkus ini terjadi karena iskemia jaringan setempat
akibat tekanan namun pembuluh dan aliran darah masih baik.
2. Tipe arteriosklerotik
Beda temperatur < 1 C antara daerah ulkus dengan kulit sekitar.Ulkus decubitus
terjadi karena tekanan dan arteriosklerotik pada pembuluh darah, penyembuhan terjadi
dalam 16 minggu.
3. Tipe terminal
Terjadi pada penderita yang akan meninggal dan tidak akan sembuh.2
Lokasi Ulkus Dekubitus
Dekubitus atau tukak tekan di daerah sacrum dan daerah lain harus dicegah, terutama
pada orang lanjut usia dan penderita yang keadaan umumnya kurang baik, gizi buruk,
hipoalbuminemia, karsinomatois, cedera tulang dan atau persendian, dan pada penderita artritis

7
rheumatoid. Delubitus ini dapat terjadi di kulit hingga mencapai tulang dibawahnya. Dekubitus
yang dalam dan hebat ini terbetuk saat operasi atau dalam pembiusan, bukan pasca bedah.5

PATOGENESIS
Ulkus dekubitus terjadi karena tekanan dari luar yang menimbulkan iskemia setempat.
Dalam keadaan normal, tekanan intrakapiler arterial adalah 32 mmHg., tekanan ini dapat
meningkat mencapai maksimal 60 mmHg pada keadaan hiperemia. Tekanan midkapiler adalah
20 mmHg, sedangkan tekanan pada daerah vena adalah 13-15 mmHg.Efek destruksi jaringan
yang berkaitan dengan keadaan iskemia dapat terjadi dengan tekanan kapiler antara 32-60 mmHg
yang disebut tekanan suprakapiler. Bila keadaan suprakapiler ini tercapai, akan terjadi Penurunan
darah kapiler yang disusul iskemia setempat. Bila seseorang mengalami iskemia imobilisasi pada

8
tempat tidur secara pasif, maka tekanan pada daerah sakrum akan mencapai 60-70 mmHg dan
daerah tumit 30-45 mmHg. Tekanan akan menimbulkan daerah iskemik dan bila berlanjut terjadi
nekrosis jaringan kulit. Substansia H yang mirip histamin dilepaskan oleh sel-sel iskemik, terjadi
akumulasi metabolik seperti kalium, adenosine dipospat (ADP), hydrogen dan asam laktat, yang
diduga sebagai faktor penyebab dilatasi pembuluh darah. Reaksi kompensasi sirkulasi akan
tampak hiperemis, reaksi tersebut masih efektif bila tekanan dihilangkan sebelum terjadi periode
krisis 1-2 jam.2
Selain faktor tekanan, ada beberapa faktor lain yang dapat memudahkan terjadi ulkus
dekubitus, yaitu:
Faktor teregangnya kulit akibat daya luncur antara tubuh dengan alas tempat berbaring,
terjadi pada penderita dengan posisi setengah berbaring.
Faktor terlipatnya kulit akibat gesekan badan yang kurus dengan alas tempat tidur,
sehingga seakan-akan kulit tertinggal dari daerah tubuh lainnya.
Kondisi suhu dan kelembaban permukaan kulit atau jaringan
Pada pasien imobilisasi dengan posisi setengah duduk dan kecendrungan tubuh meluncur
ke bawah, apalagi keadaan tubuh basah.Sering kali hal ini dicegah dengan memberikan
penghalang, misalnya bantal kecil/ balok kayu pada kedua telapak kaki. Upaya ini hanya
akan mencegah pergerakan kulit yang terfiksasi dari alas, tetapi rangka tulang akan
cenderung maju kedepan. Akibatnya terjadi garisgaris penekanan/peregangan pada
jaringan subkutan yang seakan-akan tergunting pada tempat-tempat tertentu, dan akan
terjadi penutupan arteriol akibat terlalu teregang bahkan sampai robek. Tenaga
menggunting ini disebut shering force. Pada shering force terjadi fiksasi kulit pada
permukaan alas tempat tidur akan menyebabkan terjadi lipatanlipatan kulit, terutama
terjadi pada penderita kurus dengan kulit kendur, lipatan kulit menyebabkan distorsi dan
menutup pembuluh darah.2

9
Decubitus bersifat kutaneous dan subkutan Lesi jaringan yang tersumbat menjadi
nekrosis ireversibel Karena tekanan terus menerus pada bagian dari Tubuh tidak mampu
melakukan aktivitas motor spontan Menyebabkan penyumbatan sirkulasi darah.9

DIAGNOSIS
Anamnesis geriatri lengkap dilakukan baik autoanamnesis atau aloanamnesis, terutama
sehubungan untuk mencari faktor faktor resiko (primer dan skunder ) misalnya lama terjadi
imobilisasi, komorbid penyakit (DM, stroke , penyakit pembuluh darah perifer , penurunan
fungsi perifer , penurunan fungsi kognitif ) dan riwayat ulkus decubitus sebelumnya.
Pemeriksaan fisik pada kulit dilakukan dengan teliti, terutama pada daerah predileksi (bagian
yang menonjol) terjadi decubitus (sacrum, tumit, belikat, siku).Inspeksi pada kulit melihat
adanya daerah yang eritem/lesi, luka lecet, luka dalam. Pengkajian paripurn pada pasien geritari
(P3G)/Comprehensive geriatric assessment) sangat diperlukan dalam mengidentifikasi pasien
yang beresiko ulkus decubitus. Komprehensif dalam menetukan masalah kesehatan
(Biopsikososio kultural). Serta mengetahui cadangan fisiologiyang masih ada pada pasien usia
lanjut dengan multi morbiditas. Pengkajian paripurn pada pasien geritari mencakup pengkajian
tingkat mobilitas ( memeriksaActivity of Daily Living/ ADL Barthel), status kognitif (Mini
Mental State Examination/MMSE), status psikis (Geriatric Depression Scale/GDS).
Pemeriksaan status fungsional sebelum sakit, saat sakit, selama perawatan dilakukan untuk
evaluasi mencapai target keberhasilan mobilisasi jangka pendek, menegah dan panjang. Setelah
dilakukan pengkajian paripurna, ditentukan langkah langkah koordinasi tatalaksana dan rencana
asuhan keperawatan melalui tim terpadu geriatric.2

10
Pemeriksaan untuk menilai terjadinya resiko ulkus dekubitus dengan menggunakan skala
Norton yang sudah berkembang sejak tahun 1961. Nilai semakin rendah pada skala Norton
berarti resiko ulkus decubitus semakin tinggi. Skala lain untuk meniulai resiko ulkus decubitus
adalah skala Braden, skala waterlow. Skala Braden terdiri dari 6 sub skala yaitu persepsi sensori,
klembaban, aktivitas, mobilitas, nutrisi dan friction dan shear 2

PENATALAKSANAAN

Penanganan yang dilakukan pada pasien ulkus dekubitus terdiri menjadi dua, yaitu
operatif dan non-operatif. Cara operatif yang dilakukan adalah dengan intervensi bedah,
sedangkan cara non operatif adalah dengan melakukan perawatan luka. Penanganan yang
dilakukan antara lain, yaitu memposisikan pasien pada posisi miring 30-45 derajat,
menganjurkan pasien untuk mobilisasi miring kanan dan miring kiri, dan perawatan luka.
Perawatan luka diberikan sesuai dengan derajat ulkus dekubitus. Pada derajat 1 dan 2 biasanya
diberikan salap dekubal dan/atau kompres NaCl. Pada derajat 3 dan 4 diperlukan intervensi
11
bedah, seperti skin graft dan skin flap. Selain itu, juga diberikan pengetahuan kepada keluarga
pasien tentang penggunaan kasur dekubitus untuk mengurangi gaya gesekan dan gaya tekanan
antara tubuh pasien dengan permukaan tempat tidur.7
Penatalaksanaan ulkus dekubitus harus dilakukan dengan baik dan terpadu, karena proses
penyembuhannya yang membutuhkan waktu yang lama. Agency for Health Care Policy and
Research (AHCPR) telah membuat standar baku dalam penatalaksanaan ulkus decubitus. Ketika
ulkus dekubitus telah terbentuk, maka pengobatan harus diberikan dengan segera.
Pemilihan terapi, tergantung pada stadium ulkus dekubitus dan tujuan pengobatan.seperti
proteksi, pelembaban dan membuang jaringan nekrosis. Hal yang harus diperhatikan dalam
penatalaksanaan ulkus dekubitus adalah
1. Perawatan luka harus dibedakan ke dalam metode operatif dan nonoperatif.
2. Perawatan luka dengan metode nonoperatif dilakukan untuk ulkus dekubitus stadium 1 dan
2, sedangkan untuk stadium 3 dan 4 harus menggunakan metode operatif.
3. Sekitar 70-90% ulkus dekubitus adalah superfisial dan sembuh dengan penyembuhan
sekunder.
4. Mengurangi tekanan lebih lanjut pada daerah ulkus.
Secara umum penatalaksanaan ulkus dekubitus dibagi menjadi nonmedikamentosa dan
medikamentosa.
A. Nonmedikamentosa
Penatalaksanaan ulkus dekubitus dengan nonmedikamentosa adalah meliputi pengaturan
diet dan rehabilitasi medik. Seperti telah disebutkan di atas, nutrisi adalah faktor risiko untuk
terjadinya ulkus dekubitus.
Pemberian diet yang tinggi kalori, protein, vitamin dan mineral akan meningkatkan status
gizi penderita ulkus dekubitus. Meningkatnya status gizi penderita ini akan memperbaik sistem
imun penderita sehingga mempercepat penyembuha ulkus dekubitus.
B. Medikamentosa
Penatalaksanaan ulkus dekubitus dengan metode medikamentosa meliputi:
1. Mempertahankan keadaan bersih pada ulkus dan sekitarnya
Keadaan tersebut akan menyebabkan proses penyembuhan luka lebih cepat dan baik.
Untuk hal tersebut dapat dilakukan kompres, pencucian, pembilasan, pengeringan dan

12
pemberian bahan-bahan topikal seperti larutan NaC1 0,9%, larutan H202 3% dan NaC10,9%,
larutan plasma dan larutan Burowi serta larutan antiseptik lainnya.
Kompres yang diberikan pada ulkus dekubitus adalah semipermiabel dan tertutup, yang
memungkinkan terjadinya pertukaran gas dan transfer penguapan air dari kulit dan
mencegah maserasi kulit. Selain itu, kompres dapat mencegah terjadinya infeksi sekunder
dan mencegah faktor trauma. Tetapi, kompres ini tidak berfungsi baik pada pasien dengan
diaforesis dan eksudat yang banyak.

2. Mengangkat jaringan nekrotik.


Adanya jaringan nekrotik pada ulkus akan menghambat aliran bebas dari bahan yang
terinfeksi dan karenanya juga menghambat pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi.
Oleh karena itu pengangkatan jaringan nekrotik akan mempercepat proses penyembuhan
ulkus. Terdapat 7 metode yang dapat dilakukan antara lain,
Autolytic debridement. Metode ini menggunakan balutan yang lembab untuk memicu
autolisis oleh enzim tubuh. Prosesnya lambat tetapi tidak menimbulkan nyeri.
Biological debridement, or maggot debridement therapy. Metode ini menggunakan
maggot (belatung) untuk memakan jaringan nekrosis. Oleh karena itu dapat
membersihkan ulkus dari bakteri. Pada Januari 2004, FDA menyetujui maggot sebagai
live medical devic untuk ulkus dekubitus.
Chemical debridement, or enzymatic debridement. Metode ini menggunakan enzim
untuk membuang jaringan nekrosis.
Mechanical debridement. Teknik ini menggunakan gaya untuk membuang jaringan
nekrosis. Caranya dengan menggunakan kasa basah lalu membiarkannya kering di atas
luka kemudian mengangkatnya. Teknik ini kurang baik karena kemungkinan jaringan
yang sehat akan ikut terbuang. Pada ulkus stadium 4, pengeringan yang berlebihan dapat
memicu terjadinya patah tulang atau pengerasan ligamen.
Sharp debridement. Teknik ini menggunakan skalpel atau intrumen serupa untuk
membuang jaringan yang sudah mati.
Surgical debridement. Ini adalah metode yang paling dikenal. Ahli bedah dapat
membuang jaringan nekrosis dengan cepat tanpa menimbulkan nyeri.

13
Ultrasound-assisted wound therap. Metode ini memisahkan jaringan nekrosis dari
jaringan yang sehat dengan gelombang ultrasonik.
3. Menurunkan dan mengatasi infeksi.
Perlu pemeriksaan kultur dan tes resistensi. Antibiotika sistemik dapat diberikan bila
penderita mengalami sepsis dan selulitis. Ulkus yang terinfeksi harus dibersihkan beberapa
kali sehari dengan larutan antiseptik seperti larutan H202 3%, povidon iodin 1%, seng sulfat
0,5%. Radiasi ultraviolet (terutama UVB) mempunyai efek bakterisidal.
Antibiotik sistemik kurang dianjurkan untuk pengobatan ulkus dekubitus karena akan
menimbulkan resistensi. Antibiotik sistemik yang dapat diberikan meliputi gologan
penicillins, cephalosporins, aminoglycosides, fluoroquinolones, dan sulfonamides.
Antibiotik lainnya yang dpat digunakan adalah clindamycin, metronidazole dan
trimethoprim.
4. Merangsang dan membantu pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi.
Untuk mempercepat pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi pada ulkus dekubitus
sehingga mempercepat penyembuhan dapat diberikan:
Bahan-bahan topikal misalnya: salep asam salisilat 2%, preparat seng (ZnO, ZnSO4).
Oksigen hiperbarik; selain mempunyai efek bakteriostatik terhadap sejumlah bakteri, juga
mempunyai efek proliferatif epitel, menambah jaringan granulasi dan memperbaiki
keadaan vaskular.
5. Tindakan bedah
Tindakan bedah bertujuan untuk membersihkan ulkus dan mempercepat penyembuhan
dan penutupan ulkus, terutama ulkus dekubitus stadium III & IV dan karenanya sering
dilakukan tandur kulit, myocutaneous flap, skin graft serta intervensi lainnya terhadap
ulkus.
Intervensi terbaru terhadap ulkus dekubitus adalah Negative Pressure Wound Therapy,
yang merupakan aplikasi tekanan negatif topikal pada luka. Teknik ini menggunakan busa
yang ditempatkan pada rongga ulkus yang dibungkus oleh sebuah lapisan yang kedap udara.
Dengan demikian, eksudat dapat dikeluarkan dan material infeksi ditambahkan untuk
membantu tubuh membentuk jaringan granulasi dan membentuk kulit baru. Terapi ini harus
dievaluasi setiap dua minggu untuk menetukan terapi selanjutnya.4

14
PENCEGAHAN
Pencegahan ulkus decubitus adalah hal yang utama karena pengobatan ulkus decubitus
membutuhkan waktu dan biaya yang besar.Pencegahan sudah dimulai saat pertama kali kontak
dengan pasien. Tindakan pencegahan dibagi atas:2
a. Perawatan kulit
Bersikan kulit dengan air hangat (jangan panas)
Oleskan lotion agar kulit tetap lembab
Jaga pakaian dan sprei tetap kering. Hindari kulit dari keringan dan urin.
Periksa kulit tiap hari, terutama kulit pada bagian yang menonjol, perhatikan adanya
perubahan warna kemerahan atau perubahan temperature
Pijat kulit yang masih intake untuk membantu sirkulasi dan kenyamanan. Hindari pijat
pada bagian yang menonjol.
b. Perubahan posisi tubuh
Usahakan pasien secara rutin dapat pindah dari tempat tidur ke kursi, berdiri dan berjalan.
Bila pasien tidak dapat bangun dari tempat tidur atau hanya bisa duduk di kursi roda,
pasien di bantu melakukan latihan linggup gerak sendi (range of motion exercises)
Miring ke kanan, ke kiri dan terlentang minimal setiap 2 jam. Gunakan bantal di bawah
kaki untuk menjaga agar tumit tidak besentuhan langsung dengan kasur/matras
Pada pasien yang duduk dikursi roda, lakukan pergeseran dari tumpuan berat tubuh setiap
15 menit
Jangan mengangkat kepala terlalu tinggi dari tempat tidur, karena badan akan meluncur
ke bawah sehingga kulit pada punggung dan bokong akan lecet.
Gunakan bantal lunak untuk mengurangi tekanan pada daerah yang menonjol, jangan
menggunakan bantal donat
Jangan memindahkan pasien dengan cara menarik dari tempat tidur

Mobilisasi merupakan faktor yang utama dalam mempercepat pemulihan dan


mencegah terjadinya komplikasi pasca bedah. Mobilisasi sangat penting dalam
percepatan hari rawat dan mengurangi risiko karena tirah baring lama, seperti terjadinya
dekubitus, kekakuan atau penegangan otot-otot di seluruh tubuh, gangguan sirkulasi
darah, gangguan pernapasan dan gangguan peristaltik maupun berkemih.6

15
c. Alas tempat tidur
Sprei, selimut dalam keadaan kering dengan permukaan rata/ halus
Gunakan kasur antidekubitus
d. Nutrisi dan hidrasi
Asupan makanan dan cairan cukup, termasuk vitamin dan mineral.
Bila sudah terjadi ulkus decubitus, tentukan stadium dan perencanaan tindakan :2
Stadium 1
Terjadi reaksi peradangan terbatas pada epidermis, kulit kemerahan dibersihkan hati-hati
dengan air hangat dan sabun, diberi lotion, kemudian di pijat 2-3 kali/hari.
Stadium 2
Perawatan luka memperhatikan syarat-syarat aseptik dan antiseptik.Daerah ulkus digesek
dengan es dan dihembus dengan udara hangat bergantian untuk merangsang sirkulasi.Dapat
diberikan salep topikal untuk merangsang timbulnya jaringan muda/ granulasi.Penggantian balut
dan pemberian salep jangan terlalu sering karena dapat merusak pertumbuhan jaringan.
Stadium 3
Luka kotor dan bernanah dibersihkan dengan larutan NaCL fisiologis.Usahakan luka
selalu bersih dan eksudat dapat mengalir keluar.Balut jangan terlalu tebal agar oksigenasi dan
penguapan baik.Kelembaban luka dijaga tetap basah, untuk mempermudah regenerasi sel-sel
kulit.Perlu pemberian antibiotika sistemik.
Stadium 4
Perluasan ulkus sampai ke dasar tulang, sering disertai jaringa nekrotik. Semua langkah
diatas tetap dikerjakan, jaringan nekrotik yang akan menghalangi pertumbuhan
jaringan/epitelisasi dibersihkan. Rawat bersama dengan bagian bedah jika diperlukan tindakan
operatif untuk membersihkan luka dan menutup jaringan.
Untuk mencegah terjadinya dekubitus, hal yang harus dilakukan adalah menghilangkan
penyebab terjadinya ulkus yaitu bekas tekanan pada kulit. Untuk itu dapat dilakukan perubahan
posisi lateral 30o, penggunaan kasur anti dekubitus, atau menggunakan bantal berongga. Pada
pasien dengan kursi roda dapat dilakukan reposisi tiap jam atau diistirahatkan dari duduk.
Melatih pergerakan dengan memiringkan pasien ke kiri dan ke kanan serta mencegah terjadinya
gesekan juga dapat mencegah dekubitus.Pemberian minyak setelah mandi atau mengompol dapat
dilakukan untuk mencegah maserasi.12

16
KOMPLIKASI

Komplikasi sering terjadi pada stadium 3 dan 4, walaupun dapat juga terjadi pada ulkus
superfisial. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain :
1. Infeksi, sering bersifat multibakterial baik yang aerobic ataupun aneorobik
2. Keterlibatan jaringan tulang dan sendi seperti periostitis, osteitis, osteomielitis (38%), artritis
septik
3. Septicemia
4. Anemia
5. Hipoalbuminemia
6. Kematian dengan angka mortalitas mencapai 48%.7

17
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS
Nama : Tn. Estefanus Pekerjaan :-
Umur : 79 tahun Tanggal masuk : 07/08/2016
JK : Laki-laki Ruangan : Teratai
Alamat : Jl. Karaja Lemba Rumah Sakit : Undata

II. ANAMNESIS
Keluhan utama :
Luka pada bagian atas bokong, lutut kiri, dan kelamin.
Anamnesis terpimpin :
Pasien baru masuk dengan keluhan adanya luka pada bagian atas bokong, lutut kiri
dan kelamin yang dialami sejak +1 bulan yang lalu. Luka tersebut dengan ukuran bervariasi.
Ukuran terbesar pada bagian bokong. Pada bagian bokong luka berwarna kemerahan serta
terasa nyeri. Selain itu pasien juga mengeluh nafsu makannya menurun. dan susah BAB.
Riwayat demam tidak ada, mual dan muntah tidak ada. Buang air kecil biasa.
Menurut keluarga, pasien mempunyai riwayat jatuh saat di rumah kurang lebih 2 bulan
yang lalu. Akibat dari jatuh tersebut pasien menjadi sulit untuk berjalan. Sehingga pasien
dirawat di rumah sakit selama 1 minggu. Setelahnya pasien pulang, pasien hanya berbaring
dan terlentang ditempat tidur selama kurang lebih 1 bulan. pasien jarang bergerak di tempat
tidur dan selalu terlentang.

Riwayat penyakit sebelumnya :


Riwayat Diabetes Melitus (-), Hipertensi (-), alergi makanan dan obat-obatan (-)
Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada keluarga yang mempunyai riwayat yang sama dengan pasien. Riwayat
Diabetes Melitus (-), Riwayat Penyakit hipertensi (-).

18
III. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata : Sakit sedang
Tanda Vital :
TD : 120/70 mmHg Pernapasan : 22 x/menit
Nadi : 88 x/menit Suhu : 36,9 0C
Kepala : Bentuk normocephali
Conjunctiva anemis - / -
Sclera ikterik - / -
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)
Thorax
Paru-Paru
- Inspeksi : simetris bilateral
- Palpasi : vocal fremitus kanan = kiri
- Perkusi : sonor (+) pada seluruh lapang paru
- Auskultasi : Vesikuler (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)

Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V midclavicula sinistra
- Perkusi : batas jantung normal
- Auskultasi : Bunyi jantung I/II reguler (+), Gallop (-),Murmur (-)
Abdomen
- Inspeksi : kesan datar
- Auskultasi : peristaltik (+), kesan normal
- Perkusi : tympani (+) pada seluruh lapang abdomen
- Palpasi : Nyeri tekan (-) Hepatomegali (-), Splenomegali (-)
- Ekstremitas
- Superior : akral hangat (+/+), edema (-/-)
- Inferior : akral hangat (+/+), edema (-/-)

19
Status Lokalis :
Regio sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan pinggir
kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
- Palpasi : nyeri tekan (+)
LAMPIRAN GAMBAR

REGIO SACRUM

20
REGIO GENU SINISTRA

REGIO GLANS PENIS

21
IV. RESUME
Pasien laki-laki umur 79 tahun masuk dengan keluhan adanya ulkus pada regio
sacrum, regio genu sinistra, dan regio glans penis yang dialami sejak +1 bulan yang lalu.
Luka tersebut dengan ukuran bervariasi. Ukuran terbesar pada region sacrum. Pasien
merasakan nyeri pada daerah luka tersebut. Selain itu pasien juga mengeluh nafsu makannya
menurun. dan susah BAB. Riwayat demam tidak ada, mual dan muntah tidak ada. Buang air
kecil biasa.
Pemeriksaan fisik ditemukan TD: 120/70 mmHg, S: 36,90C, R: 22x/menit, N: 88
x/menit.
Status Lokalis :
Regio sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan pinggir
kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
- Palpasi : nyeri tekan (+)

V. DIAGNOSA AWAL
Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra

22
VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG

WBC 6,6 x 103/uL


RBC 3,38 x 106/uL
HGB 9,1 g/dL
HCT 27,7 %
PLT 252 x 103/uL

GDS 122 mg/dL


CREATININ 1,03 mg/dl
UREA 30,3 mg/dl
HbsAg Nonreaktif

VII. DIAGNOSIS AKHIR


Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra
VIII. PENATALAKSANAAN
Non-medikamentosa

- Mobilisasi
- kasur dekubitus
- Perawatan luka
- Diet tinggi protein, kalori, vitamin, dan mineral
Medikamentosa
- IVFD RL 20 tpm
- Inj. cefotaxim 1 gr/12jam/IV
- Inj. ketorolac 30 mg/8jam/ IV
- Inj. Ranitidin/12 jam IV

23
IX. PROGNOSIS

Quo ad vitam : Dubia et bonam

Quo ad sanationam : Dubi ad bonam

Quo ad fungtionam : Dubia ad bonam

FollowUp Tanggal 08/08/2017

S : Nyeri pada luka (+)


Mual (-), Muntah (-), nyeri perut (-) , BAK lancar dan BAB biasa
O : Ku : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
TD : 110/80 mmHg
Nadi : 88 kali/menit
Respirasi : 22 kali/menit
Suhu : 36,5 0C
Status lokalis
Regio sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
HARI
1 pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
- Palpasi : nyeri tekan (+).
A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra
P: - IVFD RL 20 tpm
- Inj. cefotaxim 1 gr/12jam/IV
- Inj. ketorolac 30 mg/8jam/ IV
- Inj. Ranitidin /12jam IV
- Mobilisasi , perawatan luka
- Cek albumin

24
FollowUp Tanggal 09/08/2017
S : Nyeri pada luka(+),
Mual (-), Muntah (-), nyeri perut (-) , BAK lancar dan BAB biasa

O : Ku : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
HARI 2 TD : 120/80 mmHg
Nadi : 88 kali/menit
Respirasi : 22 kali/menit
Suhu : 36,5 0C
Albumin : 2,1
Status Lokalis
Regio sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
- Palpasi : nyeri tekan (+).

A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum


Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra

P: - IVFD RL 20 tpm
- Inj. cefotaxim 1 gr/12jam/IV
- Inj. ketorolac 30 mg/8jam/ IV
- Inj. Ranitidin 50 mg/12jam/IV
- Human albumin 20 % 100 cc
- Mobilisasi , perawatan luka

25
FollowUp Tanggal 10/08/2017 Perawatan Hari 3
S : Nyeri pada (+) berkurang
Mual (-), Muntah (-), nyeri perut (-) , BAK lancar dan BAB biasa

O : Ku : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
TD : 110/80 mmHg
HARI 3 Nadi : 88 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,5 0c
Status lokalis
Regio sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
- Palpasi : nyeri tekan (+).
A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra
Hipoalbuminemia
P: - IVFD RL 20 tpm
- Inj. cefotaxim 1 gr/12jam/IV
- Human albumin 20 % 100 cc
- Mobilisasi , perawatan luka

FollowUp Tanggal 11/08/2017 Perawatan Hari 4


S : Nyeri pada luka (+),
Mual (-), Muntah (-), nyeri perut (-) , BAK lancar dan BAB biasa

O : Ku : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
TD : 110/80 mmHg

26
HARI 4 Nadi : 78 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,5 0C
Albumin : 2,1
Status lokalis
Regio sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
Palpasi : nyeri tekan (+).

A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum


Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra
Hipoalbuminemia
P: - IVFD RL 20 tpm
- Inj. cefotaxim 1 gr/12jam/IV
- Human albumin 20 % 100 cc
- Mobilisasi , perawatan luka

FollowUp Tanggal 12/08/2017 Perawatan Hari 5


S : Nyeri pada luka (+) berkurang,
Mual (-), Muntah (-), nyeri perut (-) , BAK lancar dan BAB biasa

O : Ku : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
TD : 110/80 mmHg
HARI Nadi : 78 kali/menit
5
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,5 0C
Status lokalis
Regio sacrum

27
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
- Palpasi : nyeri tekan (+).
A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra
Hipoalbuminemia
P: - IVFD RL 20 tpm
- Inj. cefotaxim 1 gr/12jam/IV
- Human albumin 20 % 100 cc
- Mobilisasi , perawatan luka
- Cek albumin
FollowUp Tanggal 13/08/2017 Perawatan Hari 6
S : Nyeri pada luka(+) mulai berkurang
Mual (-), Muntah (-), nyeri perut (-) , BAK lancar dan BAB biasa
O : Ku : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
TD : 110/80 mmHg
Nadi : 78 kali/menit
HARI 6 Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,5 0C
Albumin : 2,5
HB : 7,6
Status lokalis
Regio Sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-

28
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (-)
Palpasi : nyeri tekan (+).
A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra

P: - IVFD RL 20 tpm
- Inj. cefotaxim 1 gr/12jam/IV
- Mobilisasi , perawataan luka, transfusi PRC 1 labu
FollowUp Tanggal 14/08/2017 Perawatan Hari 7
S : Nyeri pada luka (+), Gelisah (+), Mulut Miring ke kanan sejak pukul 00:00
Mual (-), Muntah (-), BAB (+)
HARI 7
O : Ku : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
TD : 110/80 mmHg
Nadi : 78 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,5 0C
Status lokalis
Regio Sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
- Palpasi : nyeri tekan (+).
A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra
anemia
P: - IVFD RL 20 tpm

29
- Mobilisasi , perawataan luka, Konsul Saraf,
- Cek elektrolit

FollowUp Tanggal 15/08/2017 Perawatan Hari 8


S : Nyeri pada luka (+),
Gelisah (+)
O : Ku : sakit sedang Natrium : 142 mmoL/L
Kesadaran : komposmentis Kalium 3,5 mmoL/L
TD : 110/80 mmHg Clorida 97 mmoL/L
HARI Nadi : 84 kali/menit
8 Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,5 0C
Status lokalis
Regio Sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (-)
Palpasi : nyeri tekan (+).

A: Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum


Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra

P: - IVFD RL / futrolit 20 tpm


- Mobilisasi , perawataan luka

Jawaban Konsul Saraf


S : Mulut miring ke kanan
O : KU: lemah

30
Hemiplegi (S)
A : NHS
P: Citikolin 250 mg/12jam/IV
Mecobalamin 1 amp/24jam/IV
Aspilet 0-0-1

FollowUp Tanggal 16/08/2017 Perawatan Hari 9


S : Nyeri pada luka (-),
Gelisah (+)
O : Ku : lemah
Kesadaran : komposmentis
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 78 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,5 0C
Status lokalis
Regio Sacrum
HARI - Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
9
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
- Palpasi : nyeri tekan (+).

A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum


Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra

P: - IVFD RL 20 tpm
- Mobilisasi , perawataan luka transfuse PRC 250

31
FollowUp Tanggal 17/08/2017 Perawatan Hari 10
S : Nyeri pada luka(-),
Mual (-), Muntah (-), BAB (-) BAK biasa
O : Ku : sakit sedang RBC 4,20
Kesadaran : komposmentis HGB 11,4
TD : 110/80 mmHg WBC 5,6
Nadi : 78 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
HARI
Suhu : 36,5 0C
10

Status lokalis
Regio Sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (-)
- Palpasi : nyeri tekan (+).
A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra

P: - IVFD RL 20 tpm
- Mobilisasi , perawataan luka
FollowUp Tanggal 18/08/2017 Perawatan Hari 11
S : Nyeri pada luka(-)
Mual (-), Muntah (-), BAB (+), BAK
O : Ku : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 84 kali/menit
Respirasi : 22kali/menit
Suhu : 36,5 0C

32
Status lokalis
Regio Sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
Palpasi : nyeri tekan (+).
A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra
P: - Mobilisasi , perawataan luka
FollowUp Tanggal 19/08/2017 Perawatan Hari 12
S : Nyeri pada luka(-),
Mual (-), Muntah (-), BAB (-)
O : Ku : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 82 kali/menit
Respirasi : 21 kali/menit
Suhu : 36,5 0C
Status lokalis
Regio Sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (-)

33
Palpasi : nyeri tekan (+).
A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra

P: - Mobilisasi , perawataan luka

FollowUp Tanggal 20/08/2017 Perawatan Hari 13


S : Nyeri pada luka(-),
Mual (-), Muntah (-), BAB (+)
O : Ku : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
TD : 110/80 mmHg
Nadi : 78 kali/menit
Respirasi : 22 kali/menit
Suhu : 36,5 0C

Status lokalis
Regio Sacrum
- Inspeksi : Tampak luka terbuka berukuran 12 x 9 cm, eritema (+) dengan
pinggir kehitaman , dasar otot, pus (-), jaringan nekrotik (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio Genu sinistra :
- Inspeksi : Tampak luka berukuran 5x3 cm, eritema (+), jaringan nekrotik (-
),pus (-).
- Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuatif (-)
Regio glans penis :
- Inspeksi : Tampak eritema pada regio glans penis, eksudat (+)
- Palpasi : nyeri tekan (+).
A : Ulkus Dekubitus Grade III Regio Sacrum
Ulkus Dekubitus Grade II Regio Genu Sinistra

P: - Mobilisasi , perawataan luka

34
PEMBAHASAN

Pada kasus ini pasien laki-laki berumur 79 tahun masuk dengan keluhan adanya luka
pada bagian atas bokong, lutut kiri dan kelamin yang dialami sejak +1 bulan yang lalu. Luka
tersebut dengan ukuran bervariasi. Ukuran terbesar pada bagian bokong. Pada bagian
bokong luka berwarna kemerahan serta terasa nyeri. Selain itu pasien juga mengeluh nafsu
makannya menurun. dan susah BAB. Riwayat demam tidak ada, mual dan muntah tidak ada.
Buang air kecil biasa.
Pada pemeriksaan fisik di dapatkan pada regio sacrum tampak luka berukuran 12 x 9
cm, eritema, pus, nyeri tekan (+), Pada Regio Genu sinistra tampak luka berukuran 3x5 cm,
nyeri tekan (+), Pada Regio glans penis tampak eritema. Berdasarkan pada anamnesis, dan
pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang pasien ini di diagnosis dengan ulkus
decubitus.
Ulkus Decubitus adalah kerusakan kulit dan jaringan dibawahnya sebagai akibat
penekanan yang lama sehingga pembuluh darah terjepit dan jaringan yang berada disekitar
daerah tersebut tidak memperoleh suplai darah, makanan, dan oksigen sehingga berakibat
jaringan tersebut mengalami kematian.5
Pemeriksaan untuk menilai terjadinya resiko ulkus dekubitus dengan menggunakan
skala Norton yang sudah berkembang sejak tahun 1961. Nilai semakin rendah pada skala
Norton berarti resiko ulkus decubitus semakin tinggi. Skala lain untuk meniulai resiko
ulkus decubitus adalah skala Braden, skala waterlow. Skala Braden terdiri dari 6 sub skala
yaitu persepsi sensori, kelembaban, aktivitas, mobilitas, nutrisi dan friction dan shear 7

35
Berdasarkan pada skala Norton untuk menilai factor resiko terjadinya ulkus decubitus
pasien ini memilki skor 14. Hal ini menandakan bahwa pasien memiliki risiko tinggi
untuk terjadinya ulkus decubitus.
Penanganan yang dilakukan pada pasien ulkus dekubitus terdiri menjadi dua, yaitu operatif
dan non-operatif. Cara operatif yang dilakukan adalah dengan intervensi bedah, sedangkan cara
non operatif adalah dengan melakukan perawatan luka. Pada pasien ini di lakukan penanganan
non- operatif berupa pemberian terapi, perawatan luka.
Perawatan luka diberikan sesuai dengan derajat ulkus dekubitus. Pada derajat 1 dan 2
biasanya diberikan salap dekubal dan/atau kompres NaCl. Pada derajat 3 dan 4 diperlukan
intervensi bedah, seperti skin graft dan skin flap. Selain itu, juga diberikan pengetahuan kepada
keluarga pasien tentang penggunaan kasur dekubitus untuk mengurangi gaya gesekan dan gaya
tekanan antara tubuh pasien dengan permukaan tempat tidur.
Penatalaksanaan ulkus dekubitus harus dilakukan dengan baik dan terpadu, karena proses
penyembuhannya yang membutuhkan waktu yang lama. Agency for Health Care Policy and
Research (AHCPR) telah membuat standar baku dalam penatalaksanaan ulkus dekubitus
(Bergstrom, 1994). Ketika ulkus dekubitus telah terbentuk, maka pengobatan harus diberikan
dengan segera.

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Cahyopeotro, et all. 2012, Identifikasi pola kuman dan tes resistensi antibiotic pada
penderita ulkus decubitus di RS Wahidin Sudirohusodo , Bagian Ilmu Bedah Fakultas
Kedokteran, Universitas Hasanuddin.
2. Setia, 2016 , Ulkus Dekubitus Pada usia lanjut Fokus Pada Pencegahan dan tatalaksana,
Universitas Syiah Kuala/ RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
3. Sudoyo, 2009, Buku Ajar Penyakit Dalam, Jilid 1 Edisi V, InternaPublishing.
4. Houwing, 2007, Pressure ulcer or Decubitus clinical and etiological aspects.
5. De jong, Sjamsuhidajat, 2010, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran,
EGC , Jakarta.
6. Ditya, 2016, Hubungan Mobilisasi Dini dengan proses luka pada pasien pasca laparatomi
di Bangsal Nedah Pria dan wanita RSUP DR. M Djamil Padang. Jurnal Kesehatan
Andalas
7. Mutia , 2015, Profil Penderita Ulkus Dekubitus yang menjalani Tirah baring Di Ruang
Rawat Inap RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Periode januari 2011-2013. JOM FK
Volume 2 No. 2 Oktober 2015.
8. Rizka et all 2014, Imobilisasi pada Pasien Usia Lanjut: Pendekatan dan Pencegahan ,
FKUI RSCM
9. Yamamoto, 2003, Home Medical Care and Treatment of Decubitus (Bedsores) JMAJ
46(6): 263268, 2003

37

Anda mungkin juga menyukai