Anda di halaman 1dari 74

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKOLOGI

NAMA :

NIM :

TK/ SMT :

PRODI :

PROGRAM STUDI D-IV ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN
BHAKTI WIYATA
KEDIRI
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatnya, sehingga
Panduan Penulisan Laporan Praktikum ini dapat di seleseikan. Penulisan Laporan
Praktikum merupakan salah satu kegiatan dalam mata kuliah praktikum yang
harus dilakukan oleh setiap praktikan. Laporan praktikum juga menjadi salah satu
aspek penilaian dalam nilai akhir yang akan diberikan pada setiap praktikan.
Selama ini mahasiswa menulis laporan praktikum berdsarkan hasil praktikum dan
sistematika yang diberikan oleh Dosen Pengampu dengan menggunakan Buku
Panduan Praktikum sebagai sumber referensi utama.

Penulisan dan penilaian laporan praktikum belum menggunakan format


yang seragam sehingga mahasiswa akan mengikuti format yang selama ini
mereka gunakan, padahal setiap Dosen Pengampu mempunyai format,
sistematika dan standar penilaian yang berbeda. Hal ini yang menyebabkan
mahasiswa akan mengikuti kebiasaan tanpa memperhatikan bahwa setiap
praktikum penulisan laporannya berbeda. Oleh karena itu sangatlah perlu
dilakukan penyeragaman format penulisan laporan untuk menghindari perbedaan
persepsi yang dapat merugikan mahasiswa.

Panduan ini disususn berdasarkan sistematika yang telah berlaku yang


dilengkapi dengan penjelasan setiap bagian yang harus dituliskan dalam laporan.
Buku ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi mahasiswa. Dosen Pengampu
agar kualitas pembelajaran praktikum di laboratorium semakin baik dan mampu
merangsang kemampuan mahasiswa dalam melakukan penuliksan ilmiah.

Kediri, Agustus 201

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan


PENDAHULUAN

NILAI KOREKTOR

Tanggal :

Latar Belakang :

Tujuan :
Rumusan Masalah :

Metode :

Prinsip :

Alat & Bahan :

Prosedur :
Probandus :

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni :
Warna :
Tekstur :
Konsistensi :

MIKROSKOPIS

Hifa :
Miselium :
Pseudohifa :
Spora Jamur :
Bentuk spora :

Kesimpulan :
Diskusi :
Saran Untuk Laboratorium :

Saran Untuk Penderita :


ISOLASI JAMUR METODE PERANGKAP

NILAI KOREKTOR

Tanggal :

Latar Belakang :

Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk


dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel
banyak).Ciri-cirijamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara
makan, struktur tubuh,pertumbuhan, dan reproduksinya.Tubuh jamur tersusun
dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut
miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah. Hifa
adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa
(Pelczar and Reid, 1958). Dinding ini menyelubungi membran plasma dan
sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik.

Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa


mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan
kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang
tidak bersepta atauhifasenositik.Struktur hifa senositik dihasilkan oleh
pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan
sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami
modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari
substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.Semua jenis jamur
bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak
memangsa dan mencernakan makanan. untuk memperoleh makanan, jamur
menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian
menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan
konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan
karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Parasit fakultatif
adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang sesuai, tetapi
bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang cocok. Saprofit merupakan
jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang mati. Jamur saprofit
menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu tumbang
dan buah jatuh. Sebagian besar jamur saprofit mengeluar-kan enzim hidrolase
pada substrat makanan untuk mendekomposisi molekul kompleks menjadi
molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga
langsung menyerap bahan bahan organik dalam bentuk sederhana yang
dikeluarkan oleh inangnya.

Jamur benang yang berukuran kecil dan biasanya bersifat uniseluler


dapat diamati dengan mikroskop. Mikroskop merupakan alat bantu yang
memungkinkan kita dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil. Hal
ini membantu memecahkan persoalan manusia tentang organisme yang
berukuran kecil. Ada dua jenis mikroskop berdasarkan pada kenampakan obyek
yang diamati, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan mikroskop
tiga dimensi (mikroskop stereo). Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya,
mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.

Tujuan : 1. Untuk mengetahui cara mengisolasi jamur secara perangkap.


2. Untuk mengetahui morfologi dan spesies jamur di udara.

3. Untuk mengetahui koloni jamur dari udara pada media SGA.

Rumusan Masalah : 1. Bagaimana cara mengisolasi jamur secara perangkap.


2. Bagaimana morfologi dan spesies jamur dan sampel
(udara) pada media SGA.
3. Bagaimana bentuk koloni jamur dari udara pada media SGA.

Metode : Perangkap

Prinsip : Dengan menggunakan perangkap jamur dari udara dapat diketahui


bentuk koloni dan morfologi dari jamur spesies.
Alat & Bahan :
Alat : Bahan :

- Plate - Media SGA (Saboround Glukosa Agar)


- Obyek glass - Cat LCB (Lactophenol Cotton Blue)
- Cover glass
- Lampu spirtus
- Spatel
- Mikroskop

Tempat : Musholah

Prosedur :
A. Cara Isolasi
1. Plate yang berisi SGA dibuka selam 10 menit dan lalu ditutup.
2. Diinkubasi ddngan suhu kamar 5-7 hari.
3. Diamati dengan mikroskopik.
B. Cara Pengamatan
1. Obyek glass di tetesi cat LCB 2 tetes.
2. Diambil koloni jamur dengan spatel dan dicampur dengan cat
LCB.
3. Ditutupi dengan cover.
4. Diperiksa pada mikroskop dengan lensa obyektif 100X dan lensa
okuler 10X (pembesaran 100X) dan hasilnya di gambar.

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni : Mold


Warna : Hijau
Tekstur : Bludru
Konsistensi : Kering

MIKROSKOPIS

Hifa :+
Miselium :+
Pseudohifa :-
Spora Jamur :+
Bentuk spora : Konidiospora
Jamur : Aspergillus Fumigatus

Kesimpulan : Jadi dari hasil praktikum kita tentang pemeriksaan Isolasi jamur
metode perangkap didapatkan hasil adalah jamur Aspergillus

Fumigatus

Diskusi :

Aspergillus fumigatus
MORFOLOGI

Aspergillus fumigatus Gambaran mikroskopik dari Aspergillus fumigatus memiliki


tangkai tangkai panjang (conidiophores) yang mendukung kepalan ya yang besar (vesicle).
Di kepala ini terdapat spora yang membangkitkan sel hasil dari rantai panjang spora. A.
fumigatus ini mampu tumbuh pada suhu 37C (sama dengan temperatur tubuh). Pada rumput
kering Aspergillus fumigatus dapat tumbuh pada suhu di atas 50 oc

EPIDEMIOLOGI

spergillus terdapat di alam sebagai saprofit. Hampir semua bahan dapat ditumbuhi
jamur tersebut, terutama di daerah tropik dengan kelembaban yang tinggi. Sifat ini
memudahkan jamur aspergillus menimbukan penyakit bila terdapat faktor presdisposisi.

Apa itu aspergillus???

(koloni Aspergillus fumigatus di petridish) Spesies Aspergillus merupakan jamur yang


umum ditemukan di materi organik. Meskipun terdapat lebih dari 100 spesies, jenis yang
dapat menimbulkan penyakit pada manusia ialah Aspergillus fumigatus dan Aspergillus niger,
kadang-kadang bisa juga akibat Aspergillus flavus dan Aspergillus clavatus yang semuanya
menular dengan transmisi inhalasi. Aspergillus fumigatus adalah jamur yang ditemukan
dimana mana pada tanaman yang membusuk. Jamur ini dapat berkelompok kemudian
memasuki jaringan kornea yang mengalami trauma atau luka bakar, luka lain, atau telinga
luar (oktitis eksterna).

Siklus hidup

Aspegillus fumigatus mempunyai suatu haploid genome yang stabil, dengan tidak
mengalami siklus seksual. A. fumigatus bereproduksi dengan pembentukan conidiospores
yang dilepaskan ke dalam lingkungan. A. fumigatus ini mampu tumbuh pada suhu 37C (sama
dengan temperatur tubuh). Spesies Aspergillus secara alamiah ada dimana-mana, terutama
pada makanan, sayuran basi, pada sampah daun atau tumpukan kompos. Konidia biasanya
terdapat di udara baik di dalam maupun di luar ruangan dan sepanjang tahun. Aspergillus juga
bisa tumbuh di daun-daun yang telah mati, gandum yang disimpan, kotoran burung,
tumpukan pupuk dan tumbuhan yang membusuk lainnya.

Penyebaran

Melalui inhalasi konidia yang ada di udara.

Penyakit

Penyakit yamg ditimbulkan oleh jamur ini adalah Aspergilosis Bronkopulmoner


Alergika. ABPA terjadi karena terdapat reaksi hipersensitivitas terhadap A. fumigatus akibat
pemakaian kortikosteroid terus menerus. Akibatnya akan terjadi produksi mukus yang
berlebih karena kerusakan fungsi silia pada saluran pernapasan. Mukus ini berbentuk
sumbatan yang mengandung spora A. fumigatus dan eosinofil di lumen saluran napas. Akan
terjadi presipitasi antibodi IgE dan IgG melalui reaksi hipersensitivitas tipe I menyebabkan
deposit kompleks imun dan sel-sel inflamasi di mukosa bronkus. Deposit ini nantinya akan
menghasilkan nekrosis jaringan dan infiltrat eosinofil (reaksi hipersensitivitas tipe III) hingga
membuat kerusakan dinding bronkus dan berakhir menjadi bronkiektasis. Tak jarang ditemui
spora pada mukus penderita aspergilosis paru.

Penderita biasanya mengeluh batuk produktif dengan gumpalan mukus yang dapat
membentuk kerak di bronkus., kadang menyebabkan hemoptisis. ABPA juga bisa terjadi
berbarengan dengan sinusitis fungal alergik, dengan gejala sinusitis di dalamnya dengan
drainase sinus yang purulen.

Secara umum gejala klinis aspergilosis tidak ada yang khas, pasien ABPA mungkin akan
mengalami demam, batuk berdahak, dengan mengi pada auskultasi. Pasien dengan
aspergilosis invasif dan CNPA selain mengalami demam juga sering batuk berdahak. Khusus
pengidap aspergilosis invasif akan mengalami takipneu dan hipoksemia berat. Penderita
aspergiloma akan mengalami gejala sesuai penyakit yang mendasarinya, namun gejala yang
paling sering ialah hemoptisis. Secara umum, gejala klinis dan hasil lab semua jenis
aspergilosis akan sesuai dengan penyakit yang mendasarinya.

Jamur atau fungi banyak kita tmukan di lingkungan sekitar kita, jamur tumbuh subur
terutama di musim hujan karena jamur menyukai habitat yang lembab. Akan tetapi jamur juga
dapat ditemukan hamper disemua tempat dimana ada materi organic. Jika lingkungan di
sekitarnya mongering, jamur akan mengalami tahapan istirahat atau menghasilkan spora.
Cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang jamur disebut mikologi. Kebanyakan jamur
termasuk dalam kelompok kapang. Tubuh vegetative kapang berfilamen panjang bercabang
yang seperti benang, yang disebut hifa. Hifa akan memanjang dan menyerap makanan dari
permukaan substrat (tempat hidup jamur). Hifa-hifa membentuk jarring-jaring benang kusut,
disebut mesellium.
Secara morfologiis jamur dapat ditentukan dengan melihat bentuk strukturnya
menggunakan mikroskop, dengan demikian identifikasi dan klarifikasi dapat ditentukan secar
visual jamur dilihat seperti kapas atau benang berwarna atau tidak berwarna yang disebut
misellia dan spora. Miselia terbentuk oleh adanya hifa, baik yang bersepta atau yang tidak
bersepta. Sifat kultural dari jamur dapat dilihat dengan kenampakan pertumbuhannya pada
makanan.Pada permukaan bahan makanan tampak kering, membentuk massa serbuk, kadang-
kadang halus dan lunak atau kelihatan basah dan berair. Warna miselia hijau biru, biru
kehijauan, kuning, orange, merah muda, coklat, abu-abu, dan hitam.
Klasifikasi jamur terutama didasarkan pada ciri-ciri spora seksual dan tubuh buah yang
ada selama tahap-tahap seksual. Jamur mampu memanfaatkan berbagai macam bahan untuk
gizinya, sekalipun demikian mereka itu heterotroph. Berbeda dengan bakteri, mereka tidak
dapat menggunakan senyawa karbon anorganik, seperti karbondioksida. Karbon berasal dari
sumber organic, misalnya glukosa. Beberapa spesies dapat menggunakan nitogen, itulah
sebabnya mengapa medium biakan untuk cendawan biasanya berisikan pepton, suatu produk
protein yang terhidrolisis.
Pada penentuan populasi jamur tanah, udara, dan roti media agar yang digunakan
adalah SGA. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, karena
dalam media padat jamur akan membentuk suatu koloni yang tetap pada tempatnya. Media
yang digunakan dalam isolasi ini harus sesuai dengan mikroorganisme yang akan kita ketahui
populasinya. Karena kalau tidak sesuai agarnya maka mikroorganisme tidak akan tumbuh.
Jamur aspergillus fumigatus selain tumbuh di media SGA juga tumbuh di media tanah
dan udara. Aspergillus fumingatus dapat tumbuh pada suhu 5-37 derajat Celsius tapi
pertumbuhannya optimum yaitu pada suhu 25 derajat Celsius.Aspergillus fumigatus tumbuh
dalam kondisi anaerobic. Jamur rhizopus dapat tumbuh di media udara, tanah, dan roti karena
spora jamur rhozhopus berada pada udara dan tanah ataupun diri kita.
Banyak jamur yang sudah dikenal perannannya yaitu jamur yang tumbuh di roti , buah,
keju, ragi, dalam pembuatan bird an dapat merusak tekstil yng lembab. Beberapa jenis
memproduksi antibiotic yag digunakan dalam terapi berbagai infeksi bakteri. Diantanya semua
organisme jamur adalah organisme yang paling banyak menghasilkan enzim yang bersifat
degradatif yang menyerang secara langsung seluruh material organic. Adanya enzim yang
bersifat degradatif ini menjadikan jamur bagian yang sangat penting dalam mendaur ulang
sampah alam, dan sebagai decomposer dalam siklus biogeokimia .Semua unsur kimia di alam
akan beredar melalui jalur tertentu dari lingkungan ke organisme atau makluk hidup dan
kembali lagi ke lingkungan. Semua bahan kimia dapat beredar berulang-ulang melewati
ekosistem secara tak terbatas. Jika suatu organisme itu mati maka bahan organic yang terdapat
pada tubuh organisme tersebut akan dirombak menjadi komponen abiotic dan dikembalikan
lagi ke dalam lingkungan. Peredaran bahan abiotic dari lingkungan melalui komponen biotik
dan kembali lagi ke lingkungan dikenal sebagai siklus biogeokimia.
ISOLASI JAMUR METODE SEMAI

NILAI KOREKTOR

Tanggal :

Latar Belakang :

Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk


dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel
banyak).Ciri-cirijamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara
makan, struktur tubuh,pertumbuhan, dan reproduksinya.Tubuh jamur tersusun
dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut
miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah. Hifa
adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa
(Pelczar and Reid, 1958). Dinding ini menyelubungi membran plasma dan
sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik.

Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa


mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan
kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang
tidak bersepta atauhifasenositik.Struktur hifa senositik dihasilkan oleh
pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan
sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami
modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari
substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.Semua jenis jamur
bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak
memangsa dan mencernakan makanan. untuk memperoleh makanan, jamur
menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian
menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan
konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan
karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Parasit fakultatif
adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang sesuai, tetapi
bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang cocok. Saprofit merupakan
jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang mati. Jamur saprofit
menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu tumbang
dan buah jatuh. Sebagian besar jamur saprofit mengeluar-kan enzim hidrolase
pada substrat makanan untuk mendekomposisi molekul kompleks menjadi
molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga
langsung menyerap bahan bahan organik dalam bentuk sederhana yang
dikeluarkan oleh inangnya.

Jamur benang yang berukuran kecil dan biasanya bersifat uniseluler


dapat diamati dengan mikroskop. Mikroskop merupakan alat bantu yang
memungkinkan kita dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil. Hal
ini membantu memecahkan persoalan manusia tentang organisme yang
berukuran kecil. Ada dua jenis mikroskop berdasarkan pada kenampakan obyek
yang diamati, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan mikroskop
tiga dimensi (mikroskop stereo). Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya,
mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.
Tujuan : 1. Untuk mengetahui cara mengisolasi jamur secara perangkap.\
2. Untuk mengetahui bentuk koloni dan morfologi jamur dari sampel
(bedak,tepung,tanah,dsb) pada media SGA.
Rumusan Masalah : 1. Bagaimana cara mengisolasi jamur secara perangkap dan
Semai/tabur.
2. Bagaimana morfologi dan spesies jamur dan sampel
(bedak, tepung, tanah, dsb) pada media SGA.

Metode : Semai

Prinsip : Dengan cara tabur dari sampel (bedak,tepung,tanah,dsb) pada media


SGA dapat ditemukan morfologi dari spesies jamur pada sampel
tersebut.
Alat & Bahan :
Alat : Bahan :
- Plate - Media SGA (Saboround Glukosa Agar)
- Obyek glass - Cat LCB (Lactophenol Cotton Blue)
- Cover glass - Sampel : bedak,tepung,tanah,dsb
- Lampu spirtus
- Spatel
- Mikroskop

Prosedur :

A. Cara Isolasi
1. Bedak/tepung ditaburkan pada media SGA secara merata.
2. Ditutupi,lalu diikubasi dengan suhu kamar 5-7 hari.
3. Diamati di mikroskop.
B. Cara Pengamatan
1. Obyek glass di tetesi cat LCB 2 tetes.
2. Diambil koloni jamur dengan spatel dan dicampur dengan cat
LCB.
3. Ditutupi dengan cover.
4. Diperiksa pada mikroskop dengan lensa obyektif 100X dan lensa
okuler 10X (pembesaran 100X) dan hasilnya di gambar.

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni : Mold


Warna : Abu-abu
Tekstur : Kapas
Konsistensi : Kering

MIKROSKOPIS

Hifa :-
Miselium :-
Pseudohifa :-
Spora Jamur :-
Bentuk spora :-
Kesimpulan : Jadi dari hasil praktikum kita tentang tentang Isolasi jamur metode
semai tidak didapatkan jamur.

Diskusi :
Jamur atau fungi banyak kita tmukan di lingkungan sekitar kita, jamur tumbuh subur
terutama di musim hujan karena jamur menyukai habitat yang lembab. Akan tetapi jamur juga
dapat ditemukan hamper disemua tempat dimana ada materi organic. Jika lingkungan di
sekitarnya mongering, jamur akan mengalami tahapan istirahat atau menghasilkan spora.
Cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang jamur disebut mikologi. Kebanyakan jamur
termasuk dalam kelompok kapang. Tubuh vegetative kapang berfilamen panjang bercabang
yang seperti benang, yang disebut hifa. Hifa akan memanjang dan menyerap makanan dari
permukaan substrat (tempat hidup jamur). Hifa-hifa membentuk jarring-jaring benang kusut,
disebut mesellium.
Secara morfologiis jamur dapat ditentukan dengan melihat bentuk strukturnya
menggunakan mikroskop, dengan demikian identifikasi dan klarifikasi dapat ditentukan secar
visual jamur dilihat seperti kapas atau benang berwarna atau tidak berwarna yang disebut
misellia dan spora. Miselia terbentuk oleh adanya hifa, baik yang bersepta atau yang tidak
bersepta. Sifat kultural dari jamur dapat dilihat dengan kenampakan pertumbuhannya pada
makanan.Pada permukaan bahan makanan tampak kering, membentuk massa serbuk, kadang-
kadang halus dan lunak atau kelihatan basah dan berair. Warna miselia hijau biru, biru
kehijauan, kuning, orange, merah muda, coklat, abu-abu, dan hitam.
Klasifikasi jamur terutama didasarkan pada ciri-ciri spora seksual dan tubuh buah yang
ada selama tahap-tahap seksual. Jamur mampu memanfaatkan berbagai macam bahan untuk
gizinya, sekalipun demikian mereka itu heterotroph. Berbeda dengan bakteri, mereka tidak
dapat menggunakan senyawa karbon anorganik, seperti karbondioksida. Karbon berasal dari
sumber organic, misalnya glukosa. Beberapa spesies dapat menggunakan nitogen, itulah
sebabnya mengapa medium biakan untuk cendawan biasanya berisikan pepton, suatu produk
protein yang terhidrolisis.
Pada penentuan populasi jamur tanah, udara, dan roti media agar yang digunakan
adalah SGA. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, karena
dalam media padat jamur akan membentuk suatu koloni yang tetap pada tempatnya. Media
yang digunakan dalam isolasi ini harus sesuai dengan mikroorganisme yang akan kita ketahui
populasinya. Karena kalau tidak sesuai agarnya maka mikroorganisme tidak akan tumbuh.
Jamur aspergillus fumigatus selain tumbuh di media SGA juga tumbuh di media tanah
dan udara. Aspergillus fumingatus dapat tumbuh pada suhu 5-37 derajat Celsius tapi
pertumbuhannya optimum yaitu pada suhu 25 derajat Celsius.Aspergillus fumigatus tumbuh
dalam kondisi anaerobic. Jamur rhizopus dapat tumbuh di media udara, tanah, dan roti karena
spora jamur rhozhopus berada pada udara dan tanah ataupun diri kita.
Banyak jamur yang sudah dikenal perannannya yaitu jamur yang tumbuh di roti , buah, keju,
ragi, dalam pembuatan bird an dapat merusak tekstil yng lembab. Beberapa jenis memproduksi
antibiotic yag digunakan dalam terapi berbagai infeksi bakteri. Diantanya semua organisme
jamur adalah organisme yang paling banyak menghasilkan enzim yang bersifat degradatif yang
menyerang secara langsung seluruh material organic. Adanya enzim yang bersifat degradatif
ini menjadikan jamur bagian yang sangat penting dalam mendaur ulang sampah alam, dan
sebagai decomposer dalam siklus biogeokimia .Semua unsur kimia di alam akan beredar
melalui jalur tertentu dari lingkungan ke organisme atau makluk hidup dan kembali lagi ke
lingkungan. Semua bahan kimia dapat beredar berulang-ulang melewati ekosistem secara tak
terbatas. Jika suatu organisme itu mati maka bahan organic yang terdapat pada tubuh organisme
tersebut akan dirombak menjadi komponen abiotic dan dikembalikan lagi ke dalam
lingkungan. Peredaran bahan abiotic dari lingkungan melalui komponen biotik dan kembali
lagi ke lingkungan dikenal sebagai siklus biogeokimia.

ISOLASI JAMUR METODE TANAM LANGSUNG


NILAI KOREKTOR

Tanggal :

Latar Belakang :

Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk


dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel
banyak).Ciri-cirijamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara
makan, struktur tubuh,pertumbuhan, dan reproduksinya.Tubuh jamur tersusun
dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut
miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah. Hifa
adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa
(Pelczar and Reid, 1958). Dinding ini menyelubungi membran plasma dan
sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik.

Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa


mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan
kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang
tidak bersepta atauhifasenositik.Struktur hifa senositik dihasilkan oleh
pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan
sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami
modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari
substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.Semua jenis jamur
bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak
memangsa dan mencernakan makanan. untuk memperoleh makanan, jamur
menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian
menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan
konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan
karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Parasit fakultatif
adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang sesuai, tetapi
bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang cocok. Saprofit merupakan
jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang mati. Jamur saprofit
menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu tumbang
dan buah jatuh. Sebagian besar jamur saprofit mengeluar-kan enzim hidrolase
pada substrat makanan untuk mendekomposisi molekul kompleks menjadi
molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga
langsung menyerap bahan bahan organik dalam bentuk sederhana yang
dikeluarkan oleh inangnya.

Jamur benang yang berukuran kecil dan biasanya bersifat uniseluler


dapat diamati dengan mikroskop. Mikroskop merupakan alat bantu yang
memungkinkan kita dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil. Hal
ini membantu memecahkan persoalan manusia tentang organisme yang
berukuran kecil. Ada dua jenis mikroskop berdasarkan pada kenampakan obyek
yang diamati, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan mikroskop
tiga dimensi (mikroskop stereo). Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya,
mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.
Tujuan :
1. Untu mengetahui cara mengisolasi jamur secara tanam langsung dari akar
,batang,daun,tulang dan ranting.
2. Untuk mengeahui bentuk koloni dan morfolijamur dari sampel jamur dari
sambel (akar,batng,daun,tulang daun,dan ramting pada )pada media SGA.

Rumusan Masalah :
3. Untu mengetahui cara mengisolasi jamur secara tanam
langsung dari akar ,batang,daun,tulang dan ranting.
4. Untuk mengeahui bentuk koloni dan morfolijamur dari
sampel jamur dari sambel (akar,batng,daun,tulang daun,dan
ramting pada )pada media SGA.

Metode : Tanam Langsung

Prinsip :
Dengan menanam sampel (akar, batang, daun, tulang daun dan
ranting) ke media SGA dapat diketahui bentuk koloni dan morfologi
jamur spesies pada sampel tersebut.

Alat & Bahan :

Alat : Bahan :
- Plate - Media SGA (Saboround Glukosa Agar)
- Obyek glass - Cat LCB (Lactophenol Cotton Blue)
- Cover glass - Sampel : Potongan akar, batang, daun,
- Lampu spirtus tulang daun dan ranting
- Spatel
- Mikroskop
- Erlenmeyer

Prosedur :
A. Cara Isolasi
1. Potongan akar/batang/daun dicuci dengan aquadest steril.
2. Dikeringkan dengan kertas tisu.
3. Ditanam pada media SGA.
4. Diinkubasikan pada suhu kamar selama 5-7 hari.
B. Cara Pengamatan
1. Obyek glass di tetesi cat LCB 2 tetes.
2. Diambil koloni jamur dengan spatel dan dicampur dengan cat LCB.
3. Ditutupi dengan cover.
4. Diperiksa pada mikroskop dengan lensa obyektif 100X dan lensa okuler 10X
(pembesaran 100X) dan hasilnya di gambar

Sampel : Rimpang Temulawak

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni :
Warna :
Tekstur :
Konsistensi :
MIKROSKOPIS

Hifa :-
Miselium :-
Pseudohifa :-
Spora Jamur :-
Bentuk spora :-

Kesimpulan : Jadi dari hasil praktikum kita tentang pemeriksaan tanam langsung
tidak didapatkan jamur.

Diskusi :

Isolasi jamur
Jamur adalah organisme hidup yang tidak mempunyai klorofil sehingga mirip dengan
tumbuhan sederhana dengan beberapa pengecualian, mempunyai dinding sel dan biasanya
tidak bias bergerak (non-motil). Meskipun jamur mempunyai sel reproduktis yang bias
bergerak (motil) dan berkembang biak dengan spora, namun jamur tidak mempunyai akar,
batang dan daun seperti halnya tumbuhan. Jamur biasanya mempunyai struktur somatic seperti
benang-benang bercabang ataupun berupa sel tunggal. Struktur somatic ini mirip satu sama
lainnya dengan beberapa pengecualian yang relatif kecil. Sedangkan struktur reproduktif
mempunyai bermacam-macam bentuk yang merupakan dasar untuk klasifikasi jamur. Hampir
semua bagian jamur mempunyai kemampuan untuk berkembang menjadi individu baru
(Darnetty, 2006).
Ainsworth, Sparrow dan Sussman (1973) mengemukakan karakteristik utama dari
jamur sebagai berikut :
- Nutrisi : heterotrofik (tidak melakukan fotosintesis) dan absorptive
- Talus/tubuh/soma : berada pada dan dalam substrat, uniselular atau berupan benang (miselium)
bersepta atau tidak, umumnya non motil dan beberapa ada yang motil seperti zoospore
- Dinding sel : jelas, umumnya terdiri dari kitin dan sellulosa
- Status inti : eukariotik (inti sejati), berinti banyak (multinukteat), miselium homokaryotik atau
heterotalik
- Sporokarp : mikroskopis sampai makroskopis, dan memperlihatkan differensiasi jaringan yang
terbatas
- Habitat : terdapat dimana-mana sebagai saprofit, simbion dan parasite
- Distribusi : cosmopolitan
Tubuh jamur dikenal dengan nama talus, soma atau struktur somatic yang pada
dasarnya terdiri dari struktur berupa benang-benang bercabang yang disebut hifa. Hifa tersebut
menyebar pada permukaan ataupun dalam substrat dan kumulan dari hifa tersebut dinamakan
miselium. Hifa jamur ada yang mempunyai sekat yang dikenal dengan istilah septum yang
membagi hifa tersebut menjadi sel-sel uninukleat (berinti satu) ataupun mutinykleat (berinti
banyak). Hifa yang mempunyai septum dinamakan septet dan yang tidak mempunyai septum
dinamakan aseptat atau senosit. Pada septum terdapat pori yang berfungsi untuk lewatnya
protplasma sel. Keberadaan septum ini merupakan suatu faktor penting untuk pengelompokkan
jamur. Kelompok-kelompok jamur yang tidak mempunyai septum adalah Oomycota dan
Zygomycota, sedangkan kelompok jamur yang mempunyai septum adalah Ascomycota,
Basidiomycota dan Deuteromycetes (jamur aseksual) (Darnetty, 2006).
Talus atau hifa jamur dapat dibedakan atas dua bagian, yaitu hifa vegetatif dan hifa
generatif. Hifa vegetatif tumbuh mengarah ke dalam substat dan berfungsi untuk mengabsorpsi
nutrisi, sedangkan hifa generatif tumbuh mengarah keluar dan berfungsi untuk
perkembangbiakan. Talus yang sudah terdiferensiasi atas hifa generatif dan vegetatif disebut
eukaprik dan yang belum disebut holokaprik. Apabila inti sel hifa sama, sifat genetiknya
dikatakan homokaryotiki tetapi bila inti tersebut tidak sama sifat genetiknya (mungkin akibat
mutasi ataupun anastomosis hifa) maka hifanya dikatakan heterokaryotik. Sel hifa yang
mempunyai dua inti disebut dikaryotik, sedangkan sel hifa yang hanya mempunyai satu inti
disebut monokaryotik (Darnetty, 2006).
Miselium dari jamur parasitic ada yang tumbuh pada permukaan inang, tetapi lebih
sering berada dalam jaringan inang dengan cara menyebar diantara sel (interselular) ataupun
masuk ke dalam sel (intraselular). Hifa tertentu yang masuk ke dalam sel inang yang berfungsi
untuk menyerap zat makanan dinamakan haustorium. Biasanya haustorium ini ditemukan pada
parasite obligat dan juga pada beberapa parasite fakultatif. Bentuk dari haustorium ini ada yang
berupa gelembung bertangkai atau tidak, da nada yang berupa hifa dengan banyak percabangan
(Darnetty, 2006).
Kebanyakan struktur jamur yang berukuran besar terbentuk dari anyaman atau agregat
hifa/ Pada tahap-tahap tertentu dari siklus hidup kebanyakan jamur, miselium akan terorganisis
membentuk anyaman-anyaman yang longgar ataupun yang padat dan dapat dibedakan sebagai
berikut :
a. Prosenkim : anyaman hifa yang agak kendor, tersusun secara parallel, tiap-tiap hifa masih jelas
dan mudah dilepaskan, dan merupakan suatu bentuk memanjang.
b. Pseudoparenkim : anyaman hifa yang lebih padat, tiap-tiap hifa sudah hilang sifat individunya
dan tidak dapat dipisahkan, dan bentuknya agak oval.
c. Rhizomorf : anyaman hifa yang sangat padat, merupakan suatu unit yang terorganisis, dan titik
tumbuh ujung akar.
d. Sklerotinum L anyaman hifa yang keras, padat, dan merupakan bentuk istirahat yang tahan
terhadap kondisi yang tidak menguntungkan.
e. Stroma : suatu struktur pada yang merupakan massa dari hifa yang berbentuk seperti buntalan.

Pembiakan Murni Jamur


Dalam mempelajari mengenai karakteristik jamur sulit apabila jamur yang diinginkan
tidak dapat diamati dengan lebih jelas, karenanya diperlukan koloni yang khusus berisi satu
jenis jamur. Untuk mendapatkan koloni jamur yang sejenis, maka diperlukan pembiakan secar
khusus yang biasa dikenal sebagai pembiakan murni jamur.
Jamur mengalami perkembangbiakan dengan dua cara yaitu reproduksi aseksual dan
reproduksi seksual. Reproduksi aseksual tidak melibatkan persatuan inti, sedangkan reproduksi
seksual dicirikan dengan persatuan dua inti jamur yang kompatibel. Dalam pembetukan organ-
organ reproduksi baik secara aseksual maupun seksual, semua talus dapat berubah menjadi satu
atau lebih struktur reproduktif sehingga fase somatic dan fase reproduktif tidak terjadi secara
bersamaan pada individu yang sama. Jamur yang mengikuti pola tersebut
dinamakan holokaprik. Akan tetapi, pada kebanyakan jamur, organ reproduksi berasal dari
bagian talus, sementara yang sisanya melanjutkan aktifitas somatic yang normal. Jamur pada
kategori ini dinamakan eukaprik (Darnetty, 2006).
Umumnya reproduksi aseksual pada jamur lebih penting untuk perbanyakan spesies,
karena menghasilkan sejumlah besar individu dan siklus aseksual terjadi berualng-ulang dalam
satu musim. Metoda reproduksi aseksual yang sering ditemukan pada jamur dapat diringkaskan
sebagai berikut :
a. Fragmentasi hifa : setiap fragmen tumbuh menjadi individu baru.
b. Pembelahan sel (fission) : sel somatic membelah menjadi sel anak.
c. Pertunasan (budding) : setiap tunas dari sel somatic atau spora menghasilkan individu baru
d. Pembentukan spora : setiap spora berkecambah membentuk tabung kecambah yang akan
berkembang menjadi miselium.
Beberapa jamur memperbayak diri dengan fragmentasi hifa. Hifa bisa terputus menjadi
beberapa sel yang mempunyai sifat sebagai spora yang disebut dengan arthrospora. Jika sel-
sel tersebut dibungkus ileh suatu dinding tebal seelum terputus satu sama lainnya atau dari sel
hifa yang menghubungkannya maka sel tersebut dinamakanklamidospora (Darnetty, 2006).
Pembelahan merupakan pembagian sederhana dari satu sel induk menjadi dua sel anak
dengan penggentingan dan pembentukan dinding sel. Pembelahan ini merupakan ciri-ciri dari
organisme sederhama termasuk khamir. Pertunasan adalah pembentukan tunas dari sel induk.
Karena tunas terbentuk, maka inti dari sel induk akan membelah dan yang satu inti akan pindah
ke tunas. Tunas membesar sementara masih melekat pada sel induk dan akhirnya lepas dan
membentuk individu baru. Kadang-kadang terbentuk rantaian tunas-tunas berupa miselium
pendek yang dinamakan pseudomiselium. Pertunasan ini umumnya terjadi pada khamir, namun
juga dapat terjadi pada jamur lain pada fase tertentu yang tergantung pada kondisi
pertumbuhannya (Darnetty, 2006).
Metode reproduksi aseksual yang paling umum adalah dengan spora. Spora bervariasi
dalam hal warna darihialin (transparan) sampai hijau, kuning, orange, merah, coklat dan hitam;
ukuran spora dari kecil sampai besar dan bentuknya ada yang bulat, memanjang, seperti jarum,
kumparan, dan sebagainya; jumlah sel dari satu sampai banyak; susunan sel; dan tempat spora
terbentuk (Darnetty, 2006).
Spora ada yang terbentuk dalam sporangium dan spora tersebut
dinamakan sporangiospora. Disamping itu ada juga spora yang terbentuk pada ujung ataupun
pada sisi-sisi hifa yang dinamakan konidium. Sporangium adalah struktur seperti kantung yang
semua isinya berubah menjadi satu atau banyak spora (sporangiospora) melalui pembelahan.
Sporagiospora ada yang bisa bergerak da nada yang tidak. Pada jamur sederhana,
sporangiospora biasanya bergerak dan disebut zoospore. Spora yang bisa bergerak biasanya
dilengkapi dengan flagellum. Setidaknya da dua tipa flagellum pada jamu, yaitu polos
(whiplash) dan berbulu (tinsel) (Darentty, 2006).
Reproduksi seksual jamur memerlukan da jenis jamur yang cocok atau compatible, dan
ditandai dengan kode plus (+) atau minus (-), bisa juga dengan kode A dan a. Proses reproduksi
seksual melalui tiga fase, yaitu :
a. Plasmogami : persauan dua protoplasma yang membawa inti untuk berdekatan satu sama
lainnya dalam sel yang sama. Plasmogami mengakibatkan sel berinti dua (binukteat) yang
mengandung tiap induk. Sepasang inti tersebut dinamakan dikaryon yang berarti berinti dua.
Jika kedua inti tersebut bersatu, maka hifa baru yang berinti satu disebut monokaryotik.
b. Karyogami : persatuan dua inti. Pada kebanyakan jamur sederhana, karyogami umumnya
terjadi segera setelah plasmogami. Akan tetapi pada jamur yang lebih kompleks, kedua proses
ini dipisahkan oleh waktu da tempat.
c. Miosis : penurunan jumlah kromosom menjadi haploid.
Pada siklus seksual sejati, ketiga proses tersebut biasanya terjadi pada tempat tertentu.
Jika hanya satu talus (baik haploid atau diploid) dalam siklus hidup jamur, maka siklus ini
dinamakan haplobiontik. Akan tetapi bila talus haploid diselingi dengan talus diploid, maka
siklus hidup ini dinamakan diplobiontik (Darnetty, 2006).
Beberapa spesies menghasilkan organ kelamin jantan dan betina yang dapat dibedakan
dalam satu talus sehingga dapat melakukan perkawinan sendiri dan spesies ini disebut
dengan hemaprodik. Karena organ kelamin jantan dan betina terdapat dalam sau talus, maka
keasaan seperti ini disebut berumah satu atau monoesi. Satu talus dari spesies monoesi dapat
melakukan perkawinan sendiri jika kompatibel. Spesies lain ada yang mempunyai talus yang
hanya menghasilkan organ kelamin jantan saja dan talus lain yang hanya menghasilkan organ
kelamin betina saja, keadaan seperti ini disebut berumah dua atau diesi. Satu talus dari spesies
diesi tidak dapat melakukan perkawinan sendiri, karena hanya memiliki satu organ kelamin
saja (Darnetty, 2006).
Organ reproduksi jamur disebut gametangium dan sel kelamin disebut gamet.
Gametangium yang menghasilkan sel jantan dinamakan antheridium dan yang menghasilkan
sel kelamin betina dinamakan oongium. Gamet jantan dan betina yang tidak dapat dibedakan
secara morfologis dinamakan isogamete, sedangkan yang dapat dibedakan
dinamakan anisogamet. Jika gamet jantan dan betina sama bentuknya, tetapi berbeda ukuran
disebutheterogamete. Pada jamur tingka rendah, gamet-gamet dapat bergerak disebut
dengan planogamet dan yang tidak dapat bergerak disebut aplanogamet (Darnetty, 2006).
Metode perkembangbiakkan secara seksual yang kompatibel dapat melalui beberapa
cara, diantaranya :
a. Penyatuan planogamet
b. Kontak gametangium (gametangi)
c. Penyatuan gametangium (gametangiogami)
d. Spermatisasi
e. Somatogami
Saran Untuk Laboratorium :
Saran Untuk Penderita :

ISOLASI JAMUR METODE TANAM LANGSUNG

NILAI KOREKTOR
Tanggal :

Latar Belakang :

Tujuan :

Rumusan Masalah :
Metode :

Prinsip :

Alat & Bahan :

Prosedur :

Probandus :

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni :
Warna :
Tekstur :
Konsistensi :

MIKROSKOPIS

Hifa :
Miselium :
Pseudohifa :
Spora Jamur :
Bentuk spora :

Kesimpulan :

Diskusi :
Saran Untuk Lboratorium :
Saran Untuk Penderita :

ISOLASI JAMUR METODE HENDRIKILLS

NILAI KOREKTOR
Tanggal :

Latar Belakang :

Tujuan :

Rumusan Masalah :
Metode :

Prinsip :

Alat & Bahan :

Prosedur :

Probandus :

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni :
Warna :
Tekstur :
Konsistensi :

MIKROSKOPIS

Hifa :
Miselium :
Pseudohifa :
Spora Jamur :
Bentuk spora :

Kesimpulan :

Diskusi :
Saran Untuk Laboratorium :
Saran Untuk Penderita :

ISOLASI JAMUR PADA KULIT

NILAI KOREKTOR
Tanggal :

Latar Belakang :

Tujuan :

Rumusan Masalah :
Metode :

Prinsip :

Alat & Bahan :

Prosedur :

Probandus :

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni :
Warna :
Tekstur :
Konsistensi :

MIKROSKOPIS

Hifa :
Miselium :
Pseudohifa :
Spora Jamur :
Bentuk spora :

Kesimpulan :

Diskusi :
Saran Untuk Laboratorium :
Saran Untuk Penderita :

UJI KEPEKAAN JAMUR TERHADAP ANTIBIOTIK

NILAI KOREKTOR
Tanggal :

Latar Belakang :

Tujuan :

Rumusan Masalah :
Metode :

Prinsip :

Alat & Bahan :

Prosedur :

Probandus :

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni :
Warna :
Tekstur :
Konsistensi :

MIKROSKOPIS

Hifa :
Miselium :
Pseudohifa :
Spora Jamur :
Bentuk spora :

Kesimpulan :

Diskusi :
Saran Untuk Laboratorium :
Saran Untuk Penderita :

UJI KEPEKAAN JAMUR TERHADAP OBAT KULIT

NILAI KOREKTOR
Tanggal :

Latar Belakang :

Tujuan :

Rumusan Masalah :
Metode :

Prinsip :

Alat & Bahan :

Prosedur :

Probandus :

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni :
Warna :
Tekstur :
Konsistensi :

MIKROSKOPIS

Hifa :
Miselium :
Pseudohifa :
Spora Jamur :
Bentuk spora :

Kesimpulan :

Diskusi :
Saran Untuk Laboratorium :
Saran Untuk Penderita :

FERMENTASI Saccharomyces Cereviae

NILAI KOREKTOR
Tanggal :

Latar Belakang :

Tujuan :

Rumusan Masalah :
Metode :

Prinsip :

Alat & Bahan :

Prosedur :

Probandus :

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni :
Warna :
Tekstur :
Konsistensi :

MIKROSKOPIS

Hifa :
Miselium :
Pseudohifa :
Spora Jamur :
Bentuk spora :

Kesimpulan :

Diskusi :
Saran Untuk Laboratorium :
Saran Untuk Penderita :

OLIGODINAMIK TERHADAP UANG LOGAM

NILAI KOREKTOR
Tanggal :

Latar Belakang :

Tujuan :

Rumusan Masalah :
Metode :

Prinsip :

Alat & Bahan :

Prosedur :

Probandus :

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni :
Warna :
Tekstur :
Konsistensi :

MIKROSKOPIS

Hifa :
Miselium :
Pseudohifa :
Spora Jamur :
Bentuk spora :

Kesimpulan :

Diskusi :
Saran Untuk Laboratorium :
Saran Untuk Penderita :

PEMERIKSAAN CANDIDA ALBICANS

NILAI KOREKTOR
Tanggal :

Latar Belakang :

Tujuan :

Rumusan Masalah :
Metode :

Prinsip :

Alat & Bahan :

Prosedur :

Probandus :

Hasil :

MAKROSKOPIS

Bentuk koloni :
Warna :
Tekstur :
Konsistensi :

MIKROSKOPIS

Hifa :
Miselium :
Pseudohifa :
Spora Jamur :
Bentuk spora :

Kesimpulan :

Diskusi :
Saran Untuk Laboratorium :
Saran Untuk Penderita :