Anda di halaman 1dari 37

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Urinary System

Laporan Project Based Learning

INCONTINENSIA URINE

KELOMPOK 3 (K3LN)
Fahmellia Nour H (125070201131014) Fepti Yulita (125070201131022)

Firdaus Kristyawan (125070201131015) Farikhah Maghdalena (125070201131023)

Sanda Prima Dewi (125070201131017) Celine Rosalia I. (125070207131001)

Siti Nur Afifah (125070201131018) Palupi Desanti N (125070207131002)

Slamet Eko R. (125070201131019) Endah Septiyanti (125070207131003)

Iskadarsih (125070201131020) Adelaine Ratih K (125070207131004)

Vivi Wulan A. (125070201131021)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Inkontinensia urin merupakan masalah kesehatan yang cukup sering dijumpai pada
orang lanjut usia, khususnya perempuan. Inkontinensia urin seringkali tidak dilaporkan oleh
pasien atau keluarganya, hal ini disebabkan karena pasien menganggap bahwa masalah
tersebut merupakan masalah yang memalukan atau tabu untuk diceritakan, ketidaktahuan
mengenai masalah inkontinensia urin, dan menganggap bahwa kondisi tersebut merupakan
hal yang wajar pada orang lanjut usia serta tidak perlu diobati.
Berbagai komplikasi dapat menyertai inkontinensia urin seperti infeksi saluran
kemih, kelainan kulit, gangguan tidur, problem psikososial seperti depresi, mudah marah,
dan rasa terisolasi. Secara tidak langsung masalah tersebut dapat mengakibatkan dehidrasi
karena umumnya pasien akan mengurangi minum karena khawatir ngompol.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa tidak hanya dapat mengetahui tetapi juga memahami tentang
inkontinensia urine secara umum.
2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi Incontinensia Urine
2. Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi Incontinensia Urine
3. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi Incontinensia Urine
4. Mahasiswa dapat mengetahui faktor risiko Incontinensia Urine
5. Mahasiswa dapat mengetahui epidemiologi Incontinensia Urine
6. Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi Incontinensia Urine
7. Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinik Incontinensia Urine
8. Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan diagnostikIncontinensia Urine
9. Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan medis Incontinensia Urine
10. Mahasiswa dapat mengetahui pencegahan Incontinensia Urine
11. Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi Incontinensia Urine
12. Mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan Incontinensia Urine
BAB II

KONSEP DAN TEORI

A. Konsep Umum
1. Definisi
The International Continence Society (ICS) medefinisikan inkontinensia urin adalah
keadaan dimana urin keluar secara involunter yang tampak jelas dan obyektif dan
menjadi masalah sosial dan hygiene. Inkontinensia urin adalah pengeluaran urin yang
tidak terkontrol, dan merupakan akibat dari kandung kemih yang abnormal ( Goerge
Dewantoro Dkk, 2009 ).
Inkontinensia urine merupakan ketidakmampuan otot sfingter eksternal sementara
atau menetap untuk mengontrol ekskresi urin. Secara umum penyebab inkontinensia
dapat berupa proses penuaan, pembesaran kelenjar prostat, penurunan kesadaran, dan
penggunaan obat narkotik atau sedatif (Hidayat, 2006)

2. Epidemiologi
Berdasarkan data dari Canadian Community Health Survey ( CCHS )ditemukan
prevalensi wanita dengan Inkontinensia urin yang mengalami depresisebesar 15,5 % (
Vigod dan Stewart , 2006 ). Menurut Melville et al ( 2005 ) angkaatau tingkat prevalensi
depresi yang terjadi pada wanita dengan Inkontinensia urinitu berbeda-beda tergantung
pada tipe dan derajat keparahannya, 2.1 % untukderajat ringan, 5.7% derajat sedang
dan 8.3 % untuk derajat berat. Sedangkanmenurut tipenya sebesar 4.7 % untuk
Inkontinensia urin tipe stress dan 6.6 % untuktipe urge.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Canadian Community Health Survey( CCHS )
juga ditemukan bahwa prevalensi dan kecenderungan wanita denganInkontinensia urin
yang mengalami depresi lebih besar bila dibandingkan priadengan Inkontinensia urin.
Bagaimanapun, epidemiologi depresi pada usia lanjutdengan Inkontinensia urin ini
tersebar luas dan bervariasi tergantung pada subjekpenelitian serta alat pengukuran
status depresi yang digunakan ( Vigod dan Stewart,2006 ).
Di Indonesia, survey Inkontinensia urin yang dilakukan oleh Divisi Geriatri Bagian
Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Dr. Cipto Mangunkusumo pada 208 orang usia
lanjut di lingkungan Pusat Santunan Keluarga di Jakarta (2002), mendapatkan angka
kejadian Inkontinensia urin tipe stress sebesar 32.2 %. Sedangkan penelitian yang
dilakukan di Poli Geriatri RS Dr. Sardjito didapatkan angka prevalensi Inkontinensia urin
sebesar 14.47 % (Setiati dan Pramantara,2007 ).

3. Klasifikasi
Inkontinensia urin dikelompokkan menjadi 2:
a. Inkontinensia urin akut (Transient incontinence) : Inkontinensia urin yang terjadi
secara mendadak, terjadi kurang dari 6 bulan dan biasanya berkaitan dengan
kondisi sakit akut yang menghilang jika kondisi akut teratasi.
b. Inkontinensia urin kronik (persisten) : Inkontinensia urin ini tidak berkaitan dengan
kondisi akut dan berlangsung lama (lebih dari 6 bulan)

Adapun klasifikasi inkontinensia urin menurut Hidayat, 2006, yaitu sebagai berikut:
1. inkontinensia Keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urin tanpa
dorongan sadar, terjadi segera setelah merasa dorongan yang kuat setelah
berkemih.
Inkontinensia dorongan ditandai dengan seringnya terjadi miksi
(miksi lebih dari 2 jam sekali) dan spame kandung kemih (Hidayat,
2006). Pasien Inkontinensia dorongan mengeluh tidak dapat menahan
kencing segera setelah timbul sensasi ingin kencing. Keadaan ini
disebabkan otot detrusor sudah mulai mengadakan kontraksi pada saat
kapasitas kandung kemih belum terpenuhi.

2. inkontinensia Keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urin yang


total terus menerus dan tidak dapat diperkirakan. Kemungkinan penyebab
inkontinensia total antara lain: disfungsi neorologis, kontraksi
independen dan refleks detrusor karena pembedahan, trauma atau
penyakit yang mempengaruhi saraf medulla spinalis, fistula, neuropati.

3. inkontinensia tipe ini ditandai dengan adanya urin menetes dengan


stress peningkatan tekanan abdomen, adanya dorongan berkemih, dan sering
miksi. Inkontinensia stress terjadi disebabkan otot spingter uretra tidak
dapat menahan keluarnya urin yang disebabkan meningkatnya tekanan
di abdomen secara tiba-tiba. Peningkatan tekanan abdomen dapat
terjadi sewaktu batuk, bersin, mengangkat benda yang berat, tertawa
(Panker, 2007).

4. inkontinensia Keadaan di mana seseorang mengalami pengeluaran urin yang


reflex tidak dirasakan.
Inkontinensia tipe ini kemungkinan disebabkan oleh adanya
kerusakan neurologis (lesi medulla spinalis). Inkontinensia refleks
ditandai dengan tidak adanya dorongan untuk berkemih, merasa
bahwa kandung kemih penuh, dan kontraksi atau spasme kandung
kemih tidak dihambat pada interval teratur

5. inkontinensia keadaan seseorang yang mengalami pengeluaran urin secara


fungsional tanpa disadari dan tidak dapat diperkirakan. Keadaan inkontinensia ini
ditandai dengan tidak adanya dorongan untuk berkemih, merasa
bahwa kandung kemih penuh, kontraksi kandung kemih cukup kuat
untuk mengeluarkan urin

6. Nocturnal keluarnya urine yang tidak terkendali selama tidur ( ngompol).


Enuresis Mixed Inkontinensia, keluarnya urine yang tidak terkendali (ngompol)
didahului urgency dan juga aktifitas fisik, batuk dan bersin (Budi,
2004)

4. Etiologi
Etiologi atau penyebab dari inkontinensia urine ini adalah karena adanya kelemahan
dari otot dasar panggul. Ini yang berkaitan dengan anatomi dan juga fungsi organ kemih.
Kelemahan dari otot dasar panggul ini bisa karena beberapa penyebab yaitu diantaranya
kehamilan yang berulang-ulang, kesalahan dalam mengedan. Hal tersebut bisa
mengakibatkan seseorang tersebut tidak dapat menahan air seni/air kencing.
Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urine berlebih karena berbagai
sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus
dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan
mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein. Penyebab inkontinensia
urine antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-
obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet.
Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran
kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis
atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku harus
dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses, maka
harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan yang
adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif
Pada wanita :
- Defek mukosa uretra, vagina, atau genetalia eksterna menyebabkan organism
melekat dan berkolonisasi di suatu tempat di periuretral dan masuk ke dalam
kandung kemih
- Pada wanita biasanya disebabkan oleh bakteri Escherichia coli
- Hubungan seksual berkaitan dengan UTI, terutama pada wanita yang gagal
berkemih setelah berhubungan seksual. (berkemih dianggap dapat membersihkan
bakteri dari kandung kemih)
- Infeksi juga dapat berkaitan dengan kontrasepsi spermisid-diafragma karena jenis
kontrasepsi ini dapat menyebabkan obstruksi parsial uretra dan pengosongan
kandung kemihyang tidak lengkap, selain itu kontrasepsi ini juga mengakibatkan
perubahan pH dan flora normal vagina)
Pada pria :
- Infeksi prostat
- Epididimitis
- Batu kandung kemih

Secara klinis, sebab dari inkontinesia urin dapat dikelompokkan menjadi 5 hal, yaitu:
a. Problem vesika urinaria dapat berupa:
- Unstable bladder / detrusor instability
- Stress incontinence (dasar panggul lemah, multipra, perubahan hormon esterogen)
- Infeksi saluran kemih
b. Kendali persarafan kurang
- Tidak ada sinkronisasi antara ontraksi vesika urinaria dan relaksasi uretra / bladder
uretra dissynergy (DM, parkinson)
- Hipotoni vesika urinaria (DM, parkinson, kerusakan otak)
c. Problem penyesuaian lingkungan
- Tempat kencing jauh
- Mobilitas yang lambat dan sakit (stroke, artritis, parkinson)
- Problem mental (demensia)
d. Penyakit yang menyertai (fraktur femur, DM)
e. Latrogen
- Obat-obantan relaksasi otot dapat menyebabkan retensi (misalnya: phenotiazin,
chlopromazin)
- Obat meningkatkan tonus otot sfingter uretra pada stress inkontinensia bisa
menyebabkan retensi uretra meningkat (propanolol, ergotamin)

Penyebab inkontinuitas pada sumber lain sering disebut DIAPPERS.

Delirium / confusional state. Kondisi kesadaran berkurang yangmana berpengaruh


pada inkontinensia pasien.
Infection urinary (symptomatic). Seperti Cystitis dan urethritis. Cystitis adalah
peradangan pada kandung kemih yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada
kandung kemih sedangkan Urethritis adalah peradangan pada uretra atau saluran
kencing.
Atrophic urethritis / vaginitis. Jaringan yang teriritasi, tipis dan mudah rusak dapat
menyebabkan timbulnya gejala rasa terbakar di uretra, disuria, infeksi traktus
urinarius berulang, dispareunia, urgensi, stress atau urge incontinence
Pharmaceuticals. Obat-obatan seperti diuretik akan meningkatkan pembebanan
pada kandung kemih sehingga jika tidak dapat menemukan toilet pada waktunya
akan timbul urge incontinence. Agen antikolinergik dan sedatif dapat
menyebabkan timbulnya atonia sehingga timbul retensi urin kronis dan overflow
incontinence. Sedatif, seperti benzodiazepin juga dapat berakumulasi dan
menyebabkan confusion dan inkontinensia sekunder, terutama pada usila. Alkohol,
mempunyai efek serupa dengan benzodiazepines, mengganggu mobilitas dan
menimbulkan diuresis Calcium-channel blockers untuk hipertensi dapat
menyebabkan berkurangnya tonus sfingter uretra eksternal dan gangguan
kontraktilitas otot polos kandung kemih sehingga menstimulasi timbulnya stress
incontinence. Obat ini juga dapat menyebabkan
edema perifer, yang menimbulkan nokturia.
Psychological. Depresi dan kecemasan dapat menyebabkan pasien mengalami
kebocoran urin.
Excessive urine output (cardiac, DM). Output urin yang berlebihan bisa disebabkan
oleh karena intake cairan yang banyak, minuman berkafein, dan masalah endokrin.
Diabetes mellitus melalui efek diuresis osmotiknya dapat menyebabkan suatu
kondisi overactive bladder. Diabetes insipidus juga akan menyebabkan terjadinya
peningkatan produksi urin hingga 10 liter per hari pada kandung kemih sehingga
menimbulkan overflow incontinence.
Restricted mobility. Mobilitas yang terbatas umumnya terjadi pada usia lanjut.
Stool impaction. Impaksi feses akan mengubah posisi kandung kemih dan menekan
syaraf yang mensuplai uretra serta kandung kemih, sehingga akan dapat
menimbulkan kondisi retensi urine dan overflow incontinence.

Disfungsi saluran kemih bawah dapat menyebabkan inkontinensia urine, diantaranya:

1. Disfungsi sfingter buli-buli neuropatik


a. Malformasi kongenital susunan saraf pusat
- Mielomeningokel
- Occult spinal dysraphism
- Syringocele
- Diastematomiella
- Malformasi sakrum
b. Kelainan susunan saraf pusat yang didapat
- Spatisitas cerebral (akibat asfiksia perinatal)
- Penyakit degeneratif proliferative
- Sklerosis multiple
- Sindrom Gullain-Barre
- Radikulitis
- Trauma medula spinalis
- Tumor
- Malformasi vaskular medula spinalis
c. Kelainan kongenital fungsi otot polos
- Displasia neuronal
d. Kelainan fungsi otot serat lintang
- Duchenne muscular dystrophy
- Spinal muscle atrophy
- Amytropic lateral sclerosis
2. Disfungsi sfingter buli-buli non neuropatik
a. Classifiable
- Sindrom urge
- Disfungsi berkemih
- Sindrom lazzy bladder
b. Non classifiable
- Inkontinensia giggle
- Sindrom Hinman
3. Kelainan struktural atau anatomic
a. Kelainan bawaan
- Ekstrofi
- Epispadia
- Ureterokel
- Katup uretra posterior
b. Kelainan didapat
- Trauma
- Iatrogenik
- Hiperkalsiuria
- Distensi buli-buli kronik
- Fibrosis dinding buli-buli

Menurut Dr Vitriani, 2002 dalam pustaka.unpad.ac.id dijelaskan bahwa etiologi dari


inkontinensia adalh sebagi berikut:
a. Detrusor Overactivity (DO)
Kondisi dimana urin keluar karena disebabkan bukan karena kegagalan
penutupan uretra akan tetapi oleh karena kontraksi kandung kemih yang tidak
dapat diinhibisi. Keadaan ini merupakan penyebab inkontinensia paling sering
kedua pada dewasa berusia pertengahan dan penyebab utama inkontinensia
pada usila baik pria maupun wanita. Jika kontraksi terjadi karena kerusakan
pusat inhibisi di sistem syaraf pusat (kortikal, subkortikal atau lesi spinal
suprasacral) seperti pada keadaan stroke, cedera kepala, penyakit diskus di area
cervikal (lesi spinal cord), sclerosis multipel kondisi ini disebut detrusor
hyperreflexia (DH). Pada DH, kandung kemih cenderung mempunyai compliance
yang buruk dengan disertai refluks vesico-ureterik dan resiko kerusakan traktus
urinarius bagian atas serta infeksi.
b. Detrusor Underactivity
Merupakan penyebab inkontinensia pada 5-10% kasus. Dapat disebabkan
karena cedera mekanis syaraf (contoh kompresi diskus atau tumor) yang
mempersyarafi kandung kemih atau karena neuropati otonomik pada diabetes,
anemia pernisiosa, penyakit Parkinson, alkoholism atau tabes dorsalis.
Kemungkinan lain penyebab inkontinensia ini adalah karena adanya perubahan
degeneratif luas sel-sel otot dan akson tanpa disertai proses regeneratif,
detrusor digantikan dengan jaringan fibrosis dan jaringan ikat (sebagai contoh,
pada pria dengan chronic outlet obstruction) sehingga walaupun obstruksinya
telah dihilangkan kandung kemih gagal untuk mengosongkannya secara normal.
c. Outlet Incompetence
Outlet incompetence ini secara klinis akan tampak sebagai stress
incontinence. Pergeseran uretra dan leher kandung kemih ke bawah dan
menjauhi posisi awalnya di retropubik ini mengakibatkan transmisi tekanan
abdominal disebarkan secara tidak merata ke kandung kemih dan uretra
sehingga timbullah stress incontinence.

Sementara pada wanita usila, stress incontinence juga disebabkan oleh


karena menurunnya tekanan penutupan uretra yang terjadi karena penurunan
estrogen pasca menopause sehingga mengakibatkan hilangnya bulk otot dan
perubahan atrophik uretra serta vagina (penipisan mukosa). Perubahan ini
menyebabkan timbulnya peradangan sehingga jaringan menjadi mudah rusak,
terjadi penurunan aliran darah periuretra dan selanjutnya akan menimbulkan
laksiti struktur pelvis dan prolaps uretra. Kondisi ini disebut juga sebagai intrinsic
sphincteric deficiency/ sphincter incompetence).
Urodynamic Diagnosis Some Neurogenic Causes Some Non-Neurogenic Causes
Detrusor overactivity Multiple sclerosis Urethral
Stroke obstruction/incompetence
Parkinsons disease Cystitis
Alzheimers disease Bladder carcinoma
Bladder stone
Detrusor underactivity Disk Compression Chronic outlet obstuction
Plexopathy Idiopathic (common in
Surgical damage (e.g women)
anterior/posterior resection)
Autonomic neuropathy (e.g.,
diabets mellitus, alcoholism,
B12 deficiency)
Outlet incompetence Surgical lesion (rare) Urehtral hypermobility (types
Lower motor neuron lesion 1
(rare) and 2 SUI)
Sfingter incompetence (type 3
SUI)
Post-prostatectomy
Outlet obstruction Spinal cord lesion with Prostatic enlargement
detrusor-sfingter dyssnergia Prostate carcinoma
Urethral stricture
Large cystourethrocele

5. Faktor Risiko
a. Usia
Usia bukan hanya berpengaruh pada eliminasi feses dan urine saja, tetapi
juga berpengaruh terhadap kontrol eliminasi itu sendiri. Anak-anak masih belum
mampu untuk mengontrol buang air besar maupun buang air kecil karena sistem
neuromuskulernya belum berkembang dengan baik. Manusia usia lanjut juga akan
mengalami perubahan dalam eliminasi tersebut. Biasanya terjadi penurunan tonus
otot, sehingga peristaltik menjadi lambat. Hal tersebut menyebabkan kesulitan
dalam pengontrolan eliminasi feses, sehingga pada manusia usia lanjut berisiko
mengalami konstipasi. Begitu pula pada eliminasi urine, terjadi penurunan kontrol
otot sfingter sehingga terjadi inkontinensia.
b. Diet
Pemilihan makanan yang kurang memerhatikan unsur manfaatnya, misalnya
jengkol, dapat menghambat proses miksi. Jengkol dapat menghambat miksi karena
kandungan pada jengkol yaitu asam jengkolat, dalam jumlah yang banyak dapat
menyebabkan terbentuknya kristal asam jengkolat yang akan menyumbat saluran
kemih sehingga pengeluaran urine menjadi terganggu.
c. Cairan
Kurangnya intake cairan menyebabkan volume darah yang masuk ke ginjal
untuk difiltrasi menjadi berkurang sehingga urine menjadi berkurang dan lebih
pekat.
d. Latihan fisik
Latihan fisik membantu seseorang untuk mempertahankan tonus otot.
Tonus otot yang baik dari otot-otot abdominal, otol pelvis, dan diagfragma sangat
penting bagi miksi.
e. Stres psikologi
Ketika seseorang mengalami kecemasan atau ketakutan, terkadang ia akan
mengalami diare ataupun beser.
f. Temperatur
Seseorang yang demam akan mengalami peningkatan penguapan cairan
tubuh karena meningkatnya aktivitas metabolik. Hal tersebut menyebabkan tubuh
akan kekurangan cairan sehingga dampaknya berpotensi terjadi konstipasi dan
pengeluaran urine menjadi sedikit. Selain itu, demam juga dapat memegaruhi nafsu
makan yaitu terjadi anoreksia, kelemahan otot, dan penurunan intake cairan.
g. Nyeri
Seseorang yang berasa dalam keadaan nyeri sulit untuk makan, diet yang
seimbang, maupun nyaman. Oleh karena itu berpangaruh pada eliminasi urine.
h. Sosiokultural
Adat istiadat tentang privasi berkemih berbeda-beda. Contoh saja di
masyarakat Amerika Utara mengharapkan agar fasilitas toilet merupakan sesuatu
yang pribadi, sementara budaya Eropa menerima fasilitas toilet yang digunakan
secara bersama-sama.
i. Penyakit
Adanya luka pada saraf perifer yang menuju kandung kemih menyebabkan
hilangnya tonus kandung kemih, berkurangnya sensasi penuh kandung kemih, dan
individu mengalami kesulitan untuk mengontrol urinasi. Misalnya diabetes melitus
dan sklerosis multiple menyebabkan kondusi neuropatik yang mengubah fungsi
kandung kemih. Artritis reumatoid, penyakit sendi degeneratif dan parkinson,
penyakit ginjal kronis atau penyakit ginjal tahap akhir.
j. Status volume
Apabila cairan dan konsentrasi eletrolit serta solut berada dalam
keseimbangan, peningkatakan asupan cairan dapat menyebabkan peningkatan
produksi urine. Cairan yang diminum akan meningkatakan volume filtrate
glomerulus dan eksresi urin.
k. Pembedahan
Klien bedah sering memiliki perubahan keseimbangan cairan sebelum
menjali pembedahan yang diakibatkan oleh proses penyakit atau puasa praoperasi,
yang memperburuk berkurangnya keluaran urine. Respons stres juga meningkatkan
kadar aldosteron menyebabkan berkurangnya keluaran urine dalam upaya
mempertahankan volume sirkulasi cairan.
l. Obat-obatan (Potter & Perry,2005).
m. Obesitas
Secara teoritis peningkatan tekanan intraabdominal yang bersamaan
dengan peningkatan BMI menghasilkan tekanan intravesikal yang secara
proporsional lebih tinggi. Tekanan yang lebih tinggi ini menimbulkan urethral closing
pressure dan menjurus pada inkontinensia.
n. Kehamilan dan Kelahiran
Pengaruh dari melahirkan anak terhadap kejadian inkontinensia dapat
timbul dari luka langsung pada otot-otot pelvis dan perlekatan jaringan ikat. Sebagai
tambahan, kerusakansyaraf dari trauma atau ketegangan yang ada dapat
berdampak pada disfungsi otot pelvis.
o. Merokok
Baik perokok maupun mantan perokok tercatat memiliki resiko 2-3 kali lipat
dibanding dengan yang bukan perokok. Secara teoritis, kenaikan persisten tekanan
intraabdominal yang timbul karena batuk kronis perokok dan sintesis kolagen, dapat
diturunkan dengan efek antiestrogenik merokok.
p. Penggunaan toilet duduk
Pada orang-orang yang menggunakan toilet jongkok lebih rendah
kemungkinan terjadinya inkontinensia urine daripada orang yang menggunakan
toilet duduk. Hal ini mungkin bisa disebabkan karena adanya latihan pada dasar
panggul, sehingga otot dasar panggul menjadi lebih kuat.
q. Prostatektomi
Pengangkatan prostat akibat kanker juga dapat merusak atau melemahkan
otot dasar panggul dan saraf di sekitar kandung kemih. Hal ini menyebabkan
kebocoran segera setelah operasi pada setengah pria yang melakukan operasi
kanker prostat. Satu dari lima orang pria mengalami masalah itu setahun kemudian
atau lebih.
6. Patofisiologi
7. Manifestasi Klinik
a. Inkontinensia stress : keluarnya urin selama batuk, mengedan, dan sebagainya.
Gejala-gejala ini sangat spesifik untuk inkontinensia stress.
b. Inkontinensia urgensi : ketidakmampuan menahan keluarnya urin dengan gambaran
sering terburu-buru untuk berkemih.
c. Enuresis nocturnal : 10 % anak usia 5 tahun dan 5% anak usia 10 tahun mengompol
selama tidur. Mengompol pada anak yang lebih tua merupakan sesuatu yang
abnormal dan menunjukkan adanya kandung kemih yang tidak stabil.
d. Gejala infeksi urin ( frekuensi, disuria, nokturia ), obstruksi ( pancaran lemah,
menetes ), trauma ( termasuk pembedahan, misalnya reseksi abdominoperineal ),
fistula ( menetes terus-menerus ), penyakit neurologis ( disfungsi seksual atau usus
besar ) atau penyakit sistemik ( misalnya diabetes ) dapat menunjukkan penyakit
yang mendasari ( Pierce A. Grace & Neil R. Borley, 2006 ).

8. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kultur urin : untuk menyingkirkan infeksi
b. IVU : untuk menilai saluran bagian atas dan obstruksi atau fistula.
c. Urodinamik:
1. Uroflowmetri : mengukur kecepakan aliran
2. Sistometri : menggambarkan kontraktur detrusor
3. Sistometri video : menunjukkan kebocoran urin saat mengedan pada pasien
dengan inkontinensia stress
4. Flowmetri tekanan uretra: mengukur tekanan uretra dan kandung kemih saat
istirahat dan selama berkemih
d. Sistoskopi : jika dicurigai terdapat batu atau neoplasma kandung kemih
e. Pemeriksaan spekulum vagina sistogram: jika dicurigai terdapat fisula vesikovagina
(Grace & Borley, 2007)
f. Q-tip test
Tes ini dilakukan dengan menginsersikan sebuah cotton swab (Q-tip) yang steril
ke dalam uretra wanita lalu ke kandung kemih. Secara perlahan tarik kembali hingga
leher dari Q-tip berada di leher kandung kemih. Pasien lalu diminta untuk melakukan
Valsava manuver atau mengkontraksikan otot abdominalnya. Perubahan sudut Q-tip
diukur dan dipergunakan sebagai ukuran laksiti dasar panggul. Bila sudut yang
terjadi lebih dari 35 derajat dengan melakukan hal tersebut maka hal tersebut
mengindikasikan adanya hipermobilitas uretra (tipe II stress incontinence). Akan
tetapi karena laksiti mempunyai nilai yang kecil dalam menentukan penyebab
inkontinensia, maka kegunaan tes ini untuk diagnostik menjadi sangat terbatas (Du
Beau and Resnick, 1991)
g. Marshall test (Marshall -Bonney test)
Jika pemeriksa mendeteksi keluarnya urin bersamaan dengan adanya
kontraksi otot abdomen, maka uji ini dapat dilakukan untuk mengetahui apakah
kebocoran dapat dicegah dengan cara menstabilisasi dasar kandung kemih sehingga
mencegah herniasi melalui diafragma urogenital atau tidak. Dilakukan dengan
meletakkan dua jari (jari ke dua dan ketiga) di fornices lateral vagina (leher kandung
kemih) dan meminta pasien untuk batuk. Kandung kemih saat itu haruslah penuh.
Dua jari pada leher kandung kemih itu bertindak sebagai penyokong uretra
proksimal selama Valsava manuver. Diagnosa hipermobilitas uretra dapat
ditegakkan jika tidak terjadi kebocoran, akan tetapi bila pemeriksa meletakkan
jarinya kurang lateral maka bukannya menstabilisasi outlet kandung kemih akan
tetapi menutup outlet sehingga akan mencegah kebocoran.
Karena sifatnya yang tidak spesifik atau sensitif itu, maka tes ini menjadi
jarang dipergunakan dan bukan merupakan standar pemeriksaan.
h. Pad test
Merupakan penilaian semi objektif untuk mengetahui apakah cairan yang
keluar adalah urin, seberapa banyak keluarnya urin dan dapat digunakan untuk
memantau keberhasilan terapi inkontinensia. Bermanfaat sebagai tambahan
anamnesa pasien dan pemeriksaan fisik. Intravesical methylene blue, oral Pyridium,
or Urised dapat dipergunakan sebagai zat pewarna. Jika pembalut mengalami
perubahan warna maka cairan yang keluar adalah urin. Pad test ini dapat dilakukan
selama 1 jam atau 24 jam. Pad kemudian ditimbang (1g=1ml) untuk menilai berapa
banyak urin yang keluar.
Prognosis
a. Inkontinensia tekanan urin: pengobatan tidak begitu efektif. Pengobatan yang
efektif adalah dengan latihan otot (latihan Kegel) dan tindakan bedah. Perbaikan
dengan terapi alfa agonis hanya sebesar 17%-74%, tetapi perbaikan dengan latihan
Kegel bisa mencapai 87%-88%.
b. Inkontinensia urgensi: dari studi, menunjukkan bahwa latihan kandung kemih
memberikan perbaikan yang cukup signifikans (75%) dibandingkan dengan
penggunaan obat antikolinergik (44%). Pilihan terapi bedah sangat terbatas dan
memiliki tingkat morbiditas yang tinggi.
c. Inkontinensia luapan: terapi medikasi dan bedah sangat efektif untuk mengurangi
gejala inkontinensia.
d. Inkontinensia campuran: latihan kandung kemih dan latihan panggul memberikan
hasil yang lebih memuaskan dibandingkan penggunaan obat-obata antikolinergik.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan yang terpenting adalah untuk mendeteksi faktor-faktor penyebab dan


kondisi kesehatan yang serius. Pemeriksaan harus selalu mempertimbangkan kondisi
neurologis seperti multiple sklerosis, lesi serabut, neoplasma, khususnya pada keadaan
terdapat faktor resiko. Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi:

Neurologis
- Memeriksa sensasi perineal, tonus sfingter anus, refleks bulbocavernosus
- Memeriksa status kognitif, kekuatan dan tonus motoris, vibrasi, dan sensasi
perineal
Abdomen
- Pemeriksaan massase, distensi buli-buli setelah miksi, hernia, dan tanda-tanda
overload cairan
- Pemeriksaan ada/tidaknya deformitas, dll
Pelvis
- Semua pasien perempuan sebaiknya dilakukan pemeriksaan pelvis, nilai mukosa
vagina, introitus vagina
- Pemeriksaan bimanual untuk mendeteksi ada/tidaknya massa
Tes tekanan
- Tes ini menilai tekanan yang menyebabkan kelemahan pada saat buli-buli penuh
- Caranya minta pasien untuk batuk dengan kuat. Adaya urin yang keluar
menunjukkan adanya stress inkontensia
9. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan penting
a. Inkontinensia urgensi
- Terapi medikamentosa : modifikasi asupan cairan, hindari kafein, obati setiap
penyebab (insfeksi,tumor,batu), latihan berkemih, antikolernegik/ relaksan otot
polos ( oksibutinin,tolrerdin)
- Terapi pembedahan : sistokopi dan distensi kandung kemih, sistokopi
augmentasi
b. Inkontinensia stress
- Terapi medikamentosa : latihan otot-otot dasar panggul. Estrogen untuk viginitis
atrofik
- Terapi pembedahan : uretropeksi retropubik atau endoskopik,perbaikan
vagina,sfingter buatan
c. Inkontinensia overflow
- Jika terdapat obstruksi : obati penyebab obstruksi. Misalnya TURP
- Jika tidak terdapat obstruksi : drainase jangka pendek dengan kateter untuk
memungkinkan otot detrusor pilih dari peregangan berlebihan, kemudian
penggunaan stimulan otot detrusor jangka pendek ( bethanekol : distigmin), jika
semuanya gagal, kateterisasi intermiten yang dilakukan sendiri (inkontinensia
overflow neurogenik)
d. Fistula urinarius
Selalu membutuhkan terapi pembedahan.

Pengobatan untuk inkontinensia urin tergantung pada jenis inkontinensia , tingkat


keparahan masalah Anda dan penyebab yang mendasari . Dokter Anda akan
merekomendasikan pendekatan yang paling sesuai dengan kondisi Anda . Kombinasi
pengobatan mungkin diperlukan .
Dalam kebanyakan kasus , dokter akan menyarankan perawatan invasif minimal
pertama, sehingga Anda akan mencoba teknik perilaku dan terapi fisik pertama dan
beralih ke pilihan lain hanya jika teknik ini gagal .
a. Teknik perilaku
Teknik perilaku dan perubahan gaya hidup bekerja dengan baik untuk
beberapa jenis inkontinensia urin . Mereka mungkin menjadi satu-satunya
perawatan yang Anda butuhkan.
Baldder training .
Dokter mungkin merekomendasikan pelatihan kandung kemih -
sendiri atau dalam kombinasi dengan terapi lain - untuk mengendalikan
dorongan dan jenis-jenis inkontinensia . pasien dapat memulai dengan
mencoba untuk menunda selama 10 menit setiap kali pasien merasakan
dorongan untuk buang air kecil . Tujuannya adalah untuk memperpanjang
waktu antara perjalanan ke toilet sampai pasien buang air kecil setiap dua
sampai empat jam .
Pelatihan kandung kemih juga dapat melibatkan berkemih ganda -
kencing , kemudian menunggu beberapa menit dan mencoba lagi . Latihan
ini dapat membantu pasien belajar untuk mengosongkan kandung kemih
untuk menghindari inkontinensia overflow. Selain itu, pelatihan kandung
kemih mungkin melibatkan belajar mengendalikan dorongan untuk buang
air kecil . Ketika pasien merasa ingin buang air kecil , pasien diinstruksikan
untuk bersantai - bernapas perlahan dan dalam - atau untuk mengalihkan
diri pasien dengan suatu kegiatan.
Dijadwalkan perjalanan toilet .
Ini berarti waktunya buang air kecil - pergi ke toilet sesuai dengan
jam daripada menunggu kebutuhan untuk keluar. Setelah teknik ini , pasien
pergi ke toilet seperti rutinitas yang sudah direncanakan biasanya setiap
dua sampai empat jam .
Cairan dan manajemen diet .
Dalam beberapa kasus , pasien hanya dapat mengubah kebiasaan
sehari-hari untuk mendapatkan kembali kontrol kandung kemih. Pasien
mungkin perlu menghindari alkohol , kafein atau makanan asam .
Mengurangi konsumsi cairan , menurunkan berat badan atau
meningkatkan aktivitas fisik adalah perubahan gaya hidup lain yang dapat
mengatasi masalah tersebut .
b. terapi fisik
Latihan otot dasar panggul .
Latihan-latihan ini memperkuat sfingter kemih dan otot dasar
panggul - otot-otot yang membantu mengontrol buang air kecil . latihan ini
sangat efektif untuk inkontinensia stres , tetapi juga dapat membantu
inkontinensia . Dengan latihan Kegel , mungkin sulit untuk mengetahui
apakah Anda latihannya dengan otot yang tepat dan dengan cara yang
benar .
Stimulasi listrik .
Dalam prosedur ini , elektroda sementara dimasukkan ke dalam
rektum atau vagina untuk merangsang dan memperkuat otot-otot dasar
panggul . Stimulasi listrik lembut bisa efektif untuk inkontinensia stres dan
urge incontinence , tetapi membutuhkan waktu beberapa bulan dan
beberapa perawatan untuk bekerja
c. Obat-obatan
Seringkali , obat-obatan yang digunakan dalam hubungannya dengan teknik
perilaku . Obat yang biasa digunakan untuk mengobati inkontinensia meliputi:
a. Antikolinergik .
Resep obat ini menenangkan kandung kemih terlalu aktif , sehingga
mereka dapat membantu untuk urge incontinence . Beberapa obat
termasuk dalam kategori ini , termasuk oxybutynin ( Ditropan ) ,
tolterodine ( Detrol ) , darifenasin ( Enablex ) , fesoterodine ( Toviaz ) ,
solifenacin ( Vesicare ) dan trospium ( Sanctura ) . Kemungkinan efek
samping dari obat-obat ini termasuk mulut kering , sembelit , penglihatan
kabur dan penggelontoran .
b. Estrogen topikal .
Menerapkan dosis rendah , estrogen topikal dalam bentuk krim vagina ,
cincin atau patch yang dapat membantu nada dan meremajakan jaringan di
uretra dan daerah vagina . Hal ini dapat mengurangi beberapa gejala
inkontinensia
c. Imipramine .
Imipramine ( Tofranil ) adalah antidepresan trisiklik yang dapat
digunakan untuk mengobati campuran - dorongan dan stres - inkontinensia
d. Duloxetine .
Obat antidepresan duloxetine ( Cymbalta ) kadang-kadang
digunakan untuk mengobati inkontinensia stres .
d. Perangkat medis
Beberapa perangkat medis yang tersedia untuk membantu mengobati
inkontinensia . Mereka dirancang khusus untuk wanita dan mencakup:
a. Uretra insert .
Perangkat pakai ini kecil tampon seperti dimasukkan ke dalam
uretra bertindak sebagai plug untuk mencegah kebocoran . Ini biasanya
digunakan untuk mencegah inkontinensia selama aktivitas tertentu , tetapi
dapat dipakai sepanjang hari . Sisipan uretra tidak dimaksudkan untuk
dikenakan 24 jam sehari . Perangkat ini dimasukkan sebelum kegiatan dan
diambil sebelum buang air kecil .
b. Alat pencegah kehamilan.
Perangkat ini membantu mengangkat kandung kemih , yang terletak
di dekat vagina, untuk mencegah kebocoran urin . pasien harus secara
teratur untuk membersihkannya . pasien dapat mengambil manfaat dari
alat pencegah kehamilan jika Anda memiliki inkontinensia karena
menjatuhkan ( prolaps ) kandung kemih atau rahim .
e. terapi intervensi
a. Bulking suntikan material.
Agen bulking adalah bahan , seperti manik-manik dilapisi karbon
zirkonium ( Durasphere ) , kalsium hydroxylapatite ( Coaptite ) atau
polydimethylsiloxane ( Macroplastique ) , yang disuntikkan ke dalam
jaringan sekitarnya uretra . Hal ini membantu menjaga uretra tertutup dan
mengurangi kebocoran urin . Prosedur - biasanya dilakukan di kantor
dokter - memerlukan anestesi minimal dan membutuhkan waktu sekitar
lima menit . The downside adalah bahwa suntikan berulang biasanya
dibutuhkan .
b. Toksin botulinum tipe A.
Suntikan onabotulinumtoxinA ( Botox ) ke dalam otot kandung
kemih dapat menguntungkan orang-orang yang memiliki kandung kemih
terlalu aktif . Para peneliti telah menemukan ini menjadi terapi yang
menjanjikan , tetapi Food and Drug Administration ( FDA ) belum
menyetujui obat ini untuk inkontinensia . Suntikan ini dapat menyebabkan
retensi urin yang cukup parah memerlukan self- kateterisasi . Selain itu,
suntikan berulang dibutuhkan setiap enam sampai sembilan bulan .
c. Saraf stimulator .
Stimulator saraf sakral dapat membantu mengontrol fungsi kandung
kemih . Perangkat , yang menyerupai alat pacu jantung , ditanam di bawah
kulit di pantat. Sebuah kawat dari perangkat terhubung ke saraf sakral -
saraf penting dalam kontrol kandung kemih yang berjalan dari sumsum
tulang belakang bagian bawah kandung kemih. Melalui kawat , perangkat
memancarkan pulsa elektrik menyakitkan yang merangsang saraf dan
membantu mengontrol kandung kemih . Perangkat lain , perangsang saraf
tibialis , disetujui untuk mengobati gejala kandung kemih terlalu aktif . Alih-
alih langsung merangsang saraf sakral , perangkat ini menggunakan
elektroda yang ditempatkan di bawah kulit untuk memberikan pulsa
elektrik ke saraf tibialis di pergelangan kaki . Pulsa ini kemudian perjalanan
sepanjang saraf tibialis ke saraf sakral , di mana mereka membantu
mengontrol gejala kandung kemih terlalu aktif .
d. Operasi
Jika pengobatan lain tidak bekerja , beberapa prosedur bedah telah
dikembangkan untuk memperbaiki masalah yang menyebabkan inkontinensia
urin . Beberapa prosedur yang umum digunakan antara lain:
a. Sling prosedur .
Sebuah prosedur sling menggunakan strip dari jaringan tubuh ,
bahan sintetis atau jala untuk membuat sling panggul atau tempat tidur
gantung di leher kandung kemih dan uretra . Sling membantu menjaga
uretra ditutup , terutama ketika batuk atau bersin . Ada banyak jenis kain ,
termasuk ketegangan-bebas , disesuaikan dan konvensional .
b. Bladder neck suspension .
Prosedur ini dirancang untuk memberikan dukungan kepada uretra
dan leher kandung kemih - area otot menebal di mana kandung kemih
terhubung ke uretra . Ini melibatkan sayatan perut , sehingga hal itu
dilakukan dengan menggunakan anestesi umum atau spinal .
c. Sfingter urin buatan.
Perangkat kecil ini sangat membantu bagi orang-orang yang telah
melemahkan sfingter kemih dari pengobatan kanker prostat atau kelenjar
prostat membesar . Berbentuk seperti donat , perangkat ditanamkan
sekitar leher kandung kemih . Cincin cairan terus sphincter kemih tertutup
rapat sampai siap untuk buang air kecil . Untuk buang air kecil, pasien
menekan katup ditanam di bawah kulit pasein yang menyebabkan cincin
mengempis dan memungkinkan urin dari kandung kemih mengalir .
e. Bantalan penyerap dan kateter
Jika pengobatan medis tidak dapat sepenuhnya menghilangkan
inkontinensia atau memerlukan bantuan sampai pengobatan mulai berlaku
dapat mencoba produk yang membantu meringankan ketidaknyamanan dan
ketidaknyamanan bocor urin .
f. Pads dan pakaian pelindung .
Berbagai bantalan penyerap yang tersedia untuk membantu mengelola
kehilangan urin. Sebagian besar produk yang tidak lebih besar dari pakaian
normal, dan pasien bisa memakainya dengan mudah di bawah pakaian sehari-
hari . Pria yang memiliki masalah dengan giring urin dapat menggunakan
kolektor drip - saku kecil padding penyerap yang dikenakan di atas penis dan
diadakan di tempat oleh closefitting pakaian . Pria dan wanita bisa memakai
popok dewasa , pembalut atau panty liner.
g. Kateter
Ada 3 macam katerisasi pada inkontinensia urine :
i. katerisasi luar
terutama pada pria yang memakai system kateter kondom. Efek
samping yang utama adalah iritasi pada kulit dan sering lepas.
ii. katerisasi intermiten
katerisasi secara intermiten dapat dicoba, terutama pada wanita
lanjut usia yang menderita inkontinensia urine. Frekuensi pemasangan 2-4x
sehari dengan sangat memperhatikan sterilisasi dan tehnik prosedurnya.
iii. Katerisasi secara menetap
Pemasangan kateter secara menetap harus benar-benar dibatasi
pada indikasi yang tepat. Misalnya untuk ulkus dekubitus yang terganggu
penyembuhannya karena ada inkontinensia urine ini. Komplikasi dari
katerisasi secara terus-menerus ini disamping infeksi. Juga menyebabkan
batu kandung kemih, abses ginjal dan bahkan proses keganasan dari
saluran kemih

10. Komplikasi
Inkontinensia urin dapat menimbulkan komplikasi seperti:

Infeksi saluran kemih


Lecet pada area bokong sampai dengan ulkus dekubitus karena selalu lembab
Resiko jatuh dan fraktur akibat terpeleset oleh urin yang tercecer
Gangguan seksual
Psikologis: mengganggu penampilan, perasaan malu, marah, insomnia, depresi,
frustasi cemas dan minder
Sosial: hambatan pergaulan, gangguan citra diri
Inkontinensia urin dapat juga menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih,lecet pada area bokong
sampai dengan ulkus dekubitus karena selalu lembab,serta jatuh dan fraktur akibat terpeleset oleh urin
yang tercecer.
Kecipirit adalah salah satu bentuk manifestasi gangguan spinkter ani, yaitu keluarnya
feces lewat anus yang tidak dapat dikendalikan oleh pasien yang terjadi sewaktu-waktu
dan pada tempat yang tidak diinginkan penderita. Tentu saja beberapa faktor berperan
penting dalam menilai kecipirit, yakni usia penderita, status mental, dan kurun waktu
pasca tindakan bedah definitif (Ludman dkk,2002).
Kebocoran anastomose merupakan komplikasi yang paling serius pasca tindakan
bedah definitif, yang dapat diikuti dengan terbentuknya abses di rongga pelvik,
peritonitis umum, sepsis dan kematian.
Enterokolitis disebabkan oleh obstruksi usus mekanik yang parsial yang dapat terjadi
baik sebelum maupun sesudah tindakan bedah.

11. Pencegahan
- Minum air sebanyak banyak-banyaknya sepanjang hari, 6-8 gelas per hari.
- Berhenti merokok dan Olahraga rutin
- Hindari konsumsi alkohol, minuman berkarbonasi serta berbagai jenis minuman
terkait kafein.
- Menjaga Berata badan sehat, Telah diamati bahwa pada orang yang kelebihan
berat badan, ada kemungkinan lemak terakumulasi di dan dekat kandung kemih,
maka mengganggu fungsi normal itu. Jadi mengendalikan berat badan akan
tetap kandung kemih yang jelas dari kelebihan lemak dan akan mengurangi
kemungkinan terjadi inkontinensia urin.
- Diet tinggi serat, menjaga saluran kemih dan sistem saluran kemih tetap bersih,
sehat dan fungsional. Hal ini dapat dicapai dengan mengkonsumsi jumlah yang
cukup serat dalam diet Anda, yang dapat meminimalkan kemungkinan
sembelit dan karenanya menghindari inkontinensia urin.
12. Asuhan Keperawatan

PENGKAJIAN DASAR KEPERAWATAN

A. Identitas klien
Nama :-
Usia : 66 tahun
Jenis kelamin : perempuan
B. Status kesehatan saat ini
1. Keluhan utama : sering berkemih secara tiba-tiba dan tidak terkontrol
ketika klien tertawa, batuk, dan bersin.
2. Lama keluhan : 3 bulan
3. Kualitas keluhan :-
4. Faktor pencetus : batuk, tertawa, bersin (tekanan abdomen).
5. Faktor pemberat : kosumsi obat digoksin dan furosamide
6. Upaya yang telah dilakukan :
7. Diagnosa media : inkontinensia urine
C. Riwayat Kesehatan Saat Ini
Klien datang ke poliklinik dengan keluhan sering berkemih secara tiba-tiba dan tidak terkontrol
ketika tertawa, batuk, dan bersin. keluhan tersebut dirasakannya sejak 3 bulan yang lalu. Dari px
fisik diketahui TB 144cm, BB 70 kg, TD 140/90 mmHg, N 84x/mnt, RR 20x/mnt, S 36,8 oC. Hsl px
penunjang sbb : Q-tip test >35o (abnormal), ureum 20 mg/dl, kreatinin 1 mg/dl.
D. Riwayat Kesehatan Terdahulu
1. Penyakit yag pernah dialami
a. Penyakit kronis : peny. jantung
2. Obat-obatan yang digunakan : digoxin 1x0,125 mg dan furosemide 2x40 mg keduanya
dikonsumsi secara rutin.
E. Pola eliminasi
Frekuensi BAK sering.
F. Pemeriksaan Fisik.
Keadaan Umum:
Kesadaran: compos mentis
Tanda-tanda vital
o Tekanan Darah : 140/90 mmHg
o Nadi : 84 x/mnt
o Suhu : 36,8 oC
o RR : 20x/mnt
TB/BB : 144cm/70kg
G. Hasil Pemeriksaan Penunjang
Q-tip test diketahui penyimpangan >35o, uerum 20 mg/dl, kreatinin 1 mg/dl.
H. Persepsi klien terhadap penyakitnya
Klien merasa tidak nyaman dan takut karena menganggap penyakitnya tidak kunjung sembuh.
I. Kesimpulan
Klien menderita inkontinensia urine stress.
ANALISA DATA

No Analisa Data Etiologi Masalah Keperawatan


1. Ds : Penyebab + aktifitas yang Inkontinensia urine
- Klien mengeluh sering mengerahkan tenaga(batuk, stress
berkemih secara tiba- tertawa,bersin)
tiba dan tidak
terkontrol ketika klien tekanan intra abdominal
tertawa, batuk, atau

bersin. Ditrasmisikan ke kandung kemih

- Keluhan tersebut

dirasakannya sejak tiga Memaksa urin melalui spincter


yang lemah
bulan yang lalu.

Do:
Spincter tidak mampu menahan
- TD 140/90 mmHg,

- N 84x/menit,
Urin keluar tanpa terkendalikan
- RR 20x/menit,
secara sadar saat batuk, bersin dll
- S 36,8oC

- Q-tip test diketahui
Inkontinesia urine stress
penyimpangan >35o,
- ureum 20 mg/dl,
- kreatinin 1 mg/dl.
2 DS Obesitas Ketidakseimbangan
- Klien menegluh sering Nutrisi: Lebih dari
berkemih tiba-tiba tekanan intra abdominal Kebutuhan Tubuh
ketika tertawa, batuk,

dan bersin Ditrasmisikan ke kandung kemih


DO Memaksa urin melalui spincter

- TB 144cm yang lemah



- BB 70 Kg
Spincter tidak mampu menahan
- BMI 33.8, obesitas

Urin keluar tanpa terkendalikan
secara sadar saat batuk,
bersin dll

Inkontinesia urine stress

Ketidakseimbangan Nutrisi lebih


dari kebutuhan tubuh

3 DS Penyebab + aktifitas yang Risiko Incontinensia


- Klien mengatakan mengerahkan tenaga(batuk, Dorongan
mempunyai riwayat tertawa,bersin)
penyakit jantung
- Klien mengeluh sering tekanan intra abdominal
berkemih tidak

terkontrol ketika Ditrasmisikan ke kandung kemih

tertawa, batuk, dan


Memaksa urin melalui spincter
bersin
yang lemah

DO
Spincter tidak mampu menahan
- Klien konsumsi obat

Digoxin 1x0,125 mg
Urin keluar tanpa terkendalikan
Furosemide 2x40 mg
secara sadar saat batuk, bersin dll
- Qtip Test >35

Inkontinesia urine stress

Konsumsi obat jantung (diuretic)

Berkemih semakin tidak terkontrol
dengan dorongan yang lebih kuat

Risiko inkontinensia urine
dorongan
DAFTAR PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN PARAF


1 Inkontinesnsia urine stress b.d perubahan degenerative
pada otot-otot pelvik, tekanan abdomen tinggi, dan
defisiensi sfingter uretra intrinsic yang ditandai dengan
melaporkan rebesan involunter sedikit urune pada saat
batuk, tertawa dan bersin
2 Ketidakseimbangan Nutrisi Lebih dari Kebutuhan Tubuh b.d
asupan berlebihan dalam kaitan metabolic d.d berat badan
20% di atas tinggi dan kerangka tubuh ideal
3 Risiko Inkontinensia Urine Dorongan b.d efek obat (diuretic),
gangguan kontraktilitas kandung kemih
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Dx. No. 1 : Inkontinesnsia urine stress b.d perubahan degenerative pada otot-otot pelvik,
tekanan abdomen tinggi, dan defisiensi sfingter uretra intrinsic yang ditandai dengan
melaporkan rebesan involunter sedikit urune pada saat batuk, tertawa dan bersin.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pengeluaran urine bisa
dikendalikan
Kriteria Hasil : Saat dilakuikan evaluasi didapatkan skor 5 pada skala NOC
NOC : Urinary Continance

No Indikator 1 2 3 4 5

1. kebocoran urine dengan peningkatan V


tekanan abdominal (batuk, tertawa, bersin)
2. mengompol pada siang hari V
3. mengompol pada malam hari V
4. identifikasi obat yang berpengaruh V

Ket :
1. consistenly demonstrated
2. often demonstrated
3. sometimes demonstrated
4. rarely demonstrated
5. never demonstrated

NIC :

Urinary incontinence care


- identifikasi berbagai factor penyebab inkontinensia
- berikan privasi saat eliminasi
- jelaskan etiologi dan rasional dari tindakan
- monitor eliminasi urin(frekuensi, konsistensi, bau, volume dan warna)
- diskusikan prosedur dan tujuan dengan pasien
- damping pasien untuk meningkankan harapan
- modifikasi pakaian dan lingkungan untuk memudahakan toileting
- bersihkan area genitalia dengan interval yang teratur
- batasi pemberian carian 2-3 jam sebelum tidur
- instruksikan klien atau keluarga untuk mencatat output dan pola urin

Pelvic Muscle Exercise


- menginstruksikan individu untuk mengencangkan, kemudian relakskan, cincin otot di sekitar
uretra dan anus, seolah-olah mencoba untuk mencegah buang air kecil atau buang air besar
- Kontraksikan atau pejamkan rektum, uretra, dan vagina, lalu tahan dengan hitungan 3-5
detik.
- Lakukan setiap kontraksi 10 kali dengan frekuensi 5 kali sehari.
- Informasikan kepada klien bahwa latihan ini dikerjakan sekitar 6-12 minggu agar latihan
tersebut menjadi efektif.
- Berikan feedback positif selama melakukan latihan ini.
- Anjurkan klien untuk mencoba memulai dengan membuang urine dan menghentikan laju
urine pada pertengahan.
- Kombinasikan latihan ini dengan menggunakan biofeedback dan stimulasi elektrikal .
- Buat sebuah jadwal yang akan membantu mengingatkan klien untuk melakukan latihan ini
- Berikan instruksi tertulis yang menggambarkan intervensi dan rekomendasi jumlah
pengulangan latihan.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Dx. No. 2 : Ketidakseimbangan Nutrisi Lebih dari Kebutuhan Tubuh b.d asupan berlebihan
dalam kaitan metabolic d.d berat badan 20% di atas tubuh ideal

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, berat badan pasien
berangsur-angsur turun
Kriteria Hasil : Saat dilakuikan evaluasi didapatkan skor 3 pada skala NOC
NOC : Weight Loss Behavior

No Indikator 1 2 3 4 5

1. Mendapatkan informasi dan strategi wieght loss V


2. Healthy eating plan V
3. Kontrol porsi makanan V
4. Rutin olahraga V
5. Minum 8 gelas air tiap hari V
6. Monitor berat badan V

Ket :
1. consistenly demonstrated 4. rarely demonstrated
2. often demonstrated 5. never demonstrated
3. sometimes demonstrated

NIC : Weight Reduction Assistance


1. tentukan motivasi dan keinginan klien dalam penurunan berat badan
2. tentukan bersama klien seberapa besar berat yang ingin diturunkan
3. pastikan target mingguan
4. chart progress untuk mencapai target
5. rencanakan dengan klien untuk mengurangi intake makanan dan meningkatkan olahraga
6. tentukan pola makanan klien
7. rencanankan jadwal olahraga rutin
8. berikan informasi tentang berapa energy yang dikeluarkan pada aktivitas tertentu
9. kembangkan rencana makan harian dengan diet yang seimbang, kalori rendah, dan lemak
rendah
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Dx. No. 3 : Risiko Inkontinensia Urine Dorongan b.d efek obat (diuretic), gangguan
kontraktilitas kandung kemih

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat terhindar
dari risiko inkontinensisa urine dorongan
Kriteria Hasil : Saat dilakuikan evaluasi didapatkan skor 4 pada skala NOC
NOC : Risk Control

No Indikator 1 2 3 4 5

1. Mengetahui faktor risiko V


2. Monitor perilaku faktor risiko V
3. Modifikasi gaya hidup mengurangi risiko V
4. Monitor perubahan status kesehatan V

Ket :
1. consistenly demonstrated 4. rarely demonstrated
2. often demonstrated 5. never demonstrated
3. sometimes demonstrated

NIC : Urinary habit training


1. membuat interval jadwal toileting
2. membuat interval toileting tidak lebih dari 2 jam
3. diskusikan catatan harian berkemih untuk kembali menentukan jadwal toiletin
4. beri timbal balik yang positif saat pasien kencing pada jadwal yang telah ditentukan
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Inkontinensia urin meupakan suatu keadaan pengeluaran urin yang involunter,
kencing tidak lancar dan tidak puas, sehingga memberikan dampak sosial atau higenik bagi
penderita. Penyebab dari inkontinensia urine ini adalah karena adanya kelemahan dari otot
dasar panggul, infeksi, penyakit bawaan seperti diabetes mellitus, dan lain sebagainya.
Tanda inkontinensia keluarnya urin selama batuk, mengedan, urin tidak dapat diatahan
atauapun tidak terasa. Pada penatalksanaan inkontinensia urin dapat dilakukan secara
konservatif yaitu bisa dengan cara edukasi, latihan otot panggul, serta farmakologis, dan
secara bedah.

B. Saran
Walaupun inkontinensia urin bukan merupakan suatu keadaan yang membahayakan
hidup, namun dapat menurunkan kualitas hidup seseorang, menyebabkan stress dan
merupakan morbiditas pada masyarakat. Inkontinensia urin tidak hanya problem kesehatan
tetapi juga sosial, oleh karena itu pada kesempatan ini dapat disarankan untuk menjaga
organ perkemihan kita untuk terhindar dari inkontinensia urin dan komplikasinya.
DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat, A Azis. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Dewantoro Goerge. 2009. Panduan Praktis Diagnosis & Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta : EGC.
Diakses pada tanggal 3 Juni 2014

Fernandes, DN. 2010. Hubungan Antara Inkontinensia Urin dengan Derajat Depresi pada Wanita
Usia Lanjut. Diakses pada tanggal 1 Juni 2014.

Grace Pierce A. & Borley Neil R. 2006. At a Glance Ilmu Bedah Ed 3. Airlangga. Diakses pada tanggal 2
Juni 2014.

Hariyati, Tutik S. (2000). Hubungan antara bladder retraining dengan proses pemulihan
inkontinensia urin pada pasien stoke. Diakses dari
http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=76387&lokasilo
kal pada tanggal 3 Juni 2014

Mayoclinic. 2011. Disease and condition urinary incontinence: treatment and drugs.
http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/urinary-
incontinence/basics/treatment/con-20037883
NHS choice Medical reference.2008. http://www.nhs.uk
PANDUAN PELAYANAN MEDIK STRES INKONTINENSIA URIN.
www.pogi.or.id/pogi/app/webroot/upload/downloadfile/8515dde3445564ba40
79fb7993adeb67_paduanpelayananmedikstresinkontinensiaurinppmstresinkont
inensiaurin220310.pdf. Diakses pada tanggal 4 Juni 2014.
Potter, P. A, Perry, A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik.
Edisi 4. Volume 2.Alih Bahasa : Renata Komalasari, dkk. Jakarta : EGC. Diakses
pada tanggal 4 juni 2014.
Pusat Data dan Informasi PERSI. (2014). www.pdpersi.co.id/

Santoso, Budi I. 2004. Definisi, Klasifikasi Dan Panduan Tatalaksana Inkontinensia Urine. Divisi
Uroginekologi Rekonstruksi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/ RSCM
Santoso BI. Inkontinensia urin pada perempuan. MKI. 2008 Juli; vol 58 (no 7): 258-64
Setiati, S. 2014. Geriatric Medicine, Sarkopenia, Frailty, dan Kualitas Hidup Pasien Usia Lanjut:
Tantangan Masa Depan Pendidikan, Penelitian dan Pelayanan Kedokteran di
Indonesia.[online].
(http://journal.ui.ac.id/index.php/eJKI/article/view/3008/2346, diakses
tanggal 3 Juni 2014)
Sinaga, FA. 2011. Chapter II.pdf - USU Institutional Repository.
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25132/4/Chapter%20II.pdf. diakses
pada tanggal 1 Juni 2014.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta : EGC
http://keperawatan.unsoed.ac.id/sites/default/files/BAB%20I-V_1.pdf ( di akses
pada tanggal 31 may 2014 pada pukul 08.00 wib )
Wiratmoko,agung. 2003. Pola inkontinensia urin pada wanita usia diatas lima puluh tahun.
Universitas Diponegoro : Fakultas Kedokteran, Program pendidikan doktor
spesialis obstetri dan genekologi
Vitriana. 2002. Evaluasi dan Manajemen Medis Inkontinensia Urine.
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/05/evaluasi_dan_man
ajemen_medis_ inkontinensia_urin.pdf