Anda di halaman 1dari 10

Filosofi Riset dalam Bidang Akuntansi Keperilakuan

4.1 Pergeseran Arah Riset

Pada tahun 1970-an terjadi pergeseran pendekatan riset dalam riset akuntansi.
Pergeseran ini terjadi karena pendekatan normatif tidak dapat menghasilkan teori
akuntansi yang siap digunakan dalam praktek sehari hari. Sehingga muncul anjuran
untuk memahami berfungsinya suatu sistem akuntansi secara deskriptif dalam praktik
nyata. Selain itu alas an gerakan dari masyarakat peneliti akuntansi yang menitikberatkan
pada pendekatan ekonomi dan perilaku.

4.2 Filosofi Paradigma Metodologi Riset

Pendekatan subjektivisme memberikan penekanan bahwa pengetahuan bersifat


sangat subjektif dan spiritual atau transdental yang didasarkan pada pengalaman dan
pandangan manusia. Sedangkan pandangan objektivisme menyatakan bahwa pengetahuan
itu berada dalam bentuk yang tidak berwujud. Asumsi mengenai sifat manusia merujuk
pada hubungan antara manusia dengan lingkungannya.

4.3 Peluang Riset Akuntansi Keperilakuan pada Lingkungan Akuntansi (Audit,


Akuntansi Keuangan, SIA, Akuntansi Manajemen, Perpajakan)

Dengan menelaah riset akuntansi keperilakuan sebelumnya secara khusus, dapat


diperoleh suatu kerangka analisis dan diskusi yang dibatasi pada peluang, terutama pada
hasil potensi subbidang dan implikasinya untuk subbidang akuntansi yang lain.

Audit

Riset akuntansi keperilakuan pada tahun 1990 1991 menunjukkan penekanan


pada kekuatan pembuatan keputusan. Penjelasan dari bagian ini berorientasi pada
pembuatan keputusan dalam audit, dan telah memfokuskan riset terakhir pada penilaian
dan pembuatan keputusan auditor, seperti perbedaan penggunaan laporan audit dan
meningkatnya perkembangan berorientasi kognitif. Pencerminan dari riset terakhir dan
riset mendatang merupakan fokus terhadap :

1. Karakteristik pengetahuan yang dihubungkan dengan pengalaman


2. Pengujian atas bagaimana pengetahuan berinteraksi dengan variable
organisasional atau lingkungan

1
3. Pengujian pengaruh kinerja terhadap pengetahuan yang berbeda.

Pengalaman berperan dalam orientasi kognitif riset akuntansi keperilakuan. Ada


dua alasan, yaitu :

1. Pengalaman merupakan ekspektasi yang berhubungan dengan keahlian kinerja


2. Manipulasi sebagai suatu variable independen telah menjadi efektif dalam
mengidentifikasi domain karekteristik dari pengetahuan spesifik.

Riset ini menyarankan bahwa terdapat suatu peluang yang berhubungan dengan
pemahaman dan evaluasi hasil keputusan audit. Salah satu kesulitannya adalah kurangnya
kriteria variabel yang dapat diamati terhadap penilain kinerja auditor sehingga peneliti
sering melakukan studi atau consensus penilaian dan konsistensi.

Akuntansi Keuangan

Pentingnya riset akuntansi keuangan yang berbasis pasar modal dibandingkan


dengan audit menunjukkan kurang kuatnya permintaan eksternal terhadap riset akuntansi
keperilakuan dibidang keuangan. Namun juga terdapat beberapa alasan kenapa riset
akuntansi keperilakuan dibidang keungan akan memberikan kontribusi yangbesar di masa
mendatang :

1. Riset pasar modal saat ini adalah konsisten dengan beberapa komponen pasar
modal dengan ekspektasi naf
2. Memberikan kontribusi yang lebih besar berhubungan dengan keuntungan dari
riset akuntansi keperilakuan dalam bidang audit

Sistem Informasi Akuntansi

Keterbatasan riset akuntansi perilaku dibidang sistem informasi adalah kesulitan


membuat generalisasi meskipun berdasarkan pada studi sistem akuntansi yang lebih awal
sekalipun. Riset akuntansi keperilakuan dibidang SIA akan lebih berhasil jika difokuskan
pada domain spesifik dari variabel yang unik dalam sistem akuntansi dan konteks
keputusan akuntansi, seperti standar profesi dan analisis pengecualian.

2
Akuntansi Manajemen

Riset akuntansi keperilakuan di bidang akuntansi manajemen hanya merupakan


subbidang akuntansi yang telah memperluas pengujian dari pengaruh fungsi akuntansi
terhadap perilaku. Riset ini menguji fungsi akuntansi terhadap perilaku seperti anggaran
dan standar motivasi, umpan balik, dan kinerja.

Riset akuntansi di bidang akuntansi manajemen cenderung focus pada variabel


lingkungan dan organisasional yang mengandalkan teori agensism seperti insentid dan
variabel asimetri informasi. Sedangkan di bidang audit lebih focus pada variabel
psikologi, khususnya kesadaran.

Perpajakan

Riset akuntansi keperilakuan di bidang pajak memfokuskan diri pada kepatuhan


dengan melakukan pengujian variabel psikologi dan lingkungan. Variabel variabel yang
sering diuji dengan hasil campuran menyarankan bahwa perilaku kepatuhan pajak adalah
kompleks.

4.4 Perkembangan Terakhir

Wawasan dalam riset akuntansi keperilakuan saat ini bisa diperoleh dengan dua
cara, yaitu :

1. Survei publikasi utama dari riset akuntansi keperilakuan


2. Klasifikasi topik artikel yang dipublikasikan dan pemetaan publikasi terhadap
model perilaku individu.

Pada periode sekarang audit merupakan bidang riset keperilakuan yang paling
banyak diterbitkan dalam Behavioral Research in Accounting. Dan secara umum bidang
audit juga paling banyak dipresentasikan dalam artikel secara umum dari setengah
penerbitan BRIA.

4.5 Teori Keperilakuan tentang Perusahaan dan Wawasan untuk Masa Depan

Teori modern perusahaan terkait dengan arah tujuan perilaku yang dipastikan
berkaitan dengan tujuan, motivasi, dan karakteristik dalam menyelesaikan masalah
anggotanya. Tujuan organisasi akan dipandang :

3
1. Hasil pengaruh dari permulaan proses antar peserta organisasi
2. Penentu batas pengambilan keputusan perusahaan dan penyelesaian maslaah
aktifitas
3. Perannya di dalam sistem pengawasan internal adalah untuk memotivasi
peserta, dimana derajat tingkat kepuasan kerja anggotanya diuraikan dalam
kaitannya dengan tujuan pribadi mereka yang saling tumpang tindih dengan
tujuan organisasi.

Akhirnya dalam pengambilan keputusan dalam perusahaan diuraikan sebagai


fungsi peserta yang menyelesaikan masalah perilaku yang ditandai oleh
pembatasan kapasitas mereka secara rasional. Yang perlu diperhatikan adalah
perusahaan dipandang sebagai suatu keseimbangan dalam mencari sistem
pengambilan keputusan.

4.6 Model Motivasional dari Perilaku Manajerial

Menurut Willamson (1964), manajer memiliki tujuan individu yang ingin dicapai
bersamaan dengan pencapaian tujuan organisasi, yaitu kesejahteraan / pendapatan, status,
kenijakan mengontrol kelebihan alokasi sumber daya, dan keamanan kerja. Model
motivasi manajerial yang disajikan ini dilohat dari sudut pandang manajer sehingga
manajer memiliki motivasi untuk mencapai kedua tujuan tersebut. Untuk mencapai kedua
tujuan tersebut manajer akan berusaha keras fleksibel dengan lingkungan operasinya.

Teori hirarki kebutuhan dari Maslow mengasumsikan bahwa memiliki suatu motif
internal yang mendorongnya untuk bertindak. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa
individu - individu memiliki motivasi untuk memuaskan kebutuhan spesifik.

Membandingkan teori Hirarki kebutuhan Maslow dengan Teori Motivasi dari


Perilaku Manajerial jelas bahwa semakin besar kebijakan manajer dalam mengontrol sisa
alokasi sumber daya, maka semakin besar kesempantannya untuk memuaskan kebutuhan
aktualisasi dirinya. Kebutuhan aktualisasi diri dalam Hirarki Maslow sama dengan status
dalam model Motivasi Manajerial, sedangkan income dan faktor job security
diasosiasikan sama dengan kebutuhan untuk keamanan.

4
Pengendalian Keuangan

5.1 Pengendalian Keuangan

Pentingnya Pengendalian Keuangan

Manajemen keuangan adalah sebuah subjek yang sangat menarik saat kita
mendekati abad ke-21.Radio dan televisi menyajikan cerita-cerita dramatis tentang
pertumbuhan dan penurunan perusahaan-perusahaan, pengembalian perusahaan, dan
berbagai jenis restrukturisasi perusahaan.Untuk memahami perkembangan ini dan ikut
serta di dalamnya secara efektif, diperlukan pengetahuan mengenai prinsip keuangan.
Pentingnya prinsip keuangan ini digarisbawahi dengan adanya perkembangan
dramatis yang terjadi dalam pasar keuangan. Misalnya, pada bulan September
1989,Campeau Corporation tidak dapat melunasi pembayaran bunga untuk sebagian
utangnya. Campeau telah membeli Federated Departement Store dan Aliied
Storesebelumnya pada tahun 1989 dengan menanggung utang sebesar $10
miliar.Campeau mencari tambahan utang untuk memenuhi pembayaran bunga yang jatuh
tempo atas utang yang sudah ada dan mencoba menjual properti-properti utama seperti
rangkaian toko serba ada. Bloomingdale, untuk mengurangi pokok pinjaman.Kegagalan
Campeau untuk memenuhi pemenuhan bunganya mengejutkan seluruh pasar obligasi
dengan hasil (yield) yang tinggi.Pada bulan Januari 1990, operasi realestat Campeau
dipisahkan dari operasi toko serba ada ritelnya yang dimasukkan dalam perlindungan
kepailitan. Betapa pentingnya sejumlah aspek manajemen keuangan telah ditekankan oleh
sejarah Campeau ini (Weston dan Copeland, 1997)

5.2 Fungsi dan Definisi Pengendalian Keuangan

Fungsi Keuangan

Walaupun perincian antar-organisasi bervariasi, fungsi keuangan yang utama


adalah dalam hal keputusan investasi, perhitungan biaya, dan dividen untuk suatu
organisasi.Dana dikumpulkan dari sumber-sumber keuangan eksternal dan dialokasikan
untuk penggunaan yang berbeda-beda. Arus dana di dalam perusahaan dipantau. Imbalan
untuk sumber-sumber perhitungan ini dapat berupa tingkat pengembalian (return),
pembayaran kembali, serta produk dan jasa. Fungsi-fungsi yang sama ini
harusdilaksanakan baik di perusahaan bisnis, badan pemerintahan, maupun oranisasi-
organisasi nirlaba. Tujuan manajer keuangan adalah membuat rencana guna memperoleh

5
dan menggunakan dana, serta memaksimalkan nilai organisasi. Berikut beberapa kegiatan
yang terlibat, yaitu:
1. Dalam perencanaan dan peramalan, manajer keuangan berinteraksi dengan para
eksekutif yang bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan perencanaan strategis
umum.
2. Manajer keuangan harus memusatkan perhatiannya pada keputusan investasidan
perhitungan biaya, serta segala hal yang berkaitan dengannya. Perusahaan yang
berhasil biasanya mengalami laju pertumbuhan penjualan yang tinggi sehingga
memerlukan dukungan penambahan investasi. Para manajer keuangan perlu
menentukan laju pertumbuhan penjualan yang sebaiknya dicapai dan membuat
prioritas atas alternatif investasi yang tersedia.
3. Manajer keuangan harus bekerja sama dengan para manajer lainnya
agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin karena semua keputusan
bisnis memiliki dampak keuangan.
4. Manajer keuangan menghubungkan perusahaan dengan pasar uang dan
pasar modal yang merupakan sumber perolehan dana dan tempat surat berharga
perusahaan diperdagangkan.

Definisi Pengendalian Keuangan


1. Umpan Balik Mekanikal vs Respon Perilaku
Definisi pengendalian telah didasarkan pada konsep kepercayaan dan
kemungkinan. Para manajer membutuhkan suatu keyakinan tentang cara dunia
mereka bekerja dan dampak - dampak yang mereka harapkan dari suatu inisiatif
dipilih. Bagaimanapun, para manajer secara khusus memiliki peluang untuk dapat
mendeteksi hasil-hasil keperilakuan.
2. Perluasan Konsep-konsep Tradisional
Konsep-konsep pengendalian tradisional dalam akuntansi sering kali berarti
bahwa hasil dari informasi akuntansi adalah langkah akhir dari peran
akuntan.Dalam pendekatan perilaku, menghasilkan informasi bukanlah akhir dari
keterlibatan akuntan, sehingga informasi dapat dipandang sebagai suatu
intermediasi dari langkah akhir.

6
5.3 Pengendalian Terpadu

Pengendalian Terpadu
1. Perencanaan
Proses perencanaan dalam organisasi juga ditandai dengan istilah perilaku
penetapan tujuan. Aspek-aspek terpenting dari proses penetapan tujuan adalah
mengenai dasar dari organisasi dan komunikasi. Proses perencanaan akan
memunculkan pertanyaan-pertanyaan pengendalian seperti: Bagaimana divisi-
divisi diidentifikasikan? Apa yang digunakan untuk menyusun pertanggung
jawaban? Bagaimana departemen-departemen akan diinstruksikan dan akuntansi
apa yang akan digunakan untuk masalah-masalah transfer atau transaksi
antar departemen.
2. Umpan Balik
Umpan balik dalam organisasi berasal dari sumber formal dan informal yang
disusun dari komunikasi nonverbal.Komunikasi tersebut secara rutin dihasilkan
dari statistic yang ditabulasikan sebagai dasar untuk evaluasi penyusunan.
Evaluasi ini akan mempengaruhi distribusi kompensasi, pemberian sanksi, dan
perubahan atas proses perencanaan serta operasi sebagai akibat dari umpan balik.

5.4 Faktor Faktor Kontekstual

Proses dalam mengidentifikasikan faktor-faktor kontekstual yang penting


merupakan subjek tertinggi dan sangat temporer, seperti apakah pendapat seseorang
manajer lebih penting dibandingkan dengan pendapat manajer lain? Semua daftar dari
faktor-faktor kontekstual kritis merupakan subjek untuk melakukan perbaikan secara
keseluruhan.
1. Ukuran
Ukuran dapat dipandang sebagai suatu peluan dan suatu hambatan.Ukuran
dipandang sebagai peluang jika berfungsi sebagai pemberi manfaat ekonomidan
buka sebagai strategi pengendalian.Ukuran dapat menjadi suatu hambatan jika
pertumbuhan ekonomi menyebabkan terjadinya eliminasi tehadap strategi
pengendalian.
2. Stabilitas Lingkungan

7
Desain pengendalian dalam lingkungan yang stabil dapat berbeda dari desain
pengendalian dalam lingkungan yang selalu berubah.Stabilitas dalam lingkungan
eksogen dapat dinilai dari gerakan yang secara eksternal menghasilkan produk-
produk yang memerlukan satu tanggapan.
3. Motif Keuangan
Keberadaan dari motif keuangan tentunya bukanlah penghalang untuk
menggunakan ukuran-ukuran penilaian akuntansi terhadap produktivitas. Pada sisi
lain, jelas bahwa system pengendalian dan didasarkan pada motif dan ukuran-
ukuran profitabilitas sering kali tidak dapat diterjemahkan secara langsung pada
konteks nirlaba (nonprofit). Ukuran - ukuran laba adalah penting dan meskipun
sulit dapat menjadi indicator dari keberhasilan.
4. Faktor-faktor Proses
Suatu faktor proses penting dalam pegendalian biaya-biaya yang tidak dapat
dihindari dan biaya-biaya untuk melakukan rekayasa adalah biaya variable.
Strategi pengendalian biaya untuk proses strategi biaya variable sering kali
berbeda dalam hal substansi dengan startegi pengendalian biaya yang
disesuaikan, seperti aplikasi biaya tetap.

5.5 Pengendalian dalam Era Pemberdayaan

Untuk melindungi perusahaannya, para manajer senior didorong untuk


mendefinisikan ulang bagaimana mereka melaksanakan tugas-tugas mereka dan
bagaimana mereka yakin bahwa bawahan dengan bakat kewirausahaan tidak
membahayakan kelangsungan hidup perusahaan.
1. Sistem Pengendalian Diagnostik
Salah satu tujuan utama system pengendalian diagnostic adalah bertujuan untuk
menghilangkan beban manajer terhadap pengawasan yang konstan. Sekali tujuan
ditetapkan, penghargaan akan didasarkan pada tujuan tersebut.
2. Sistem Kepercayaan
Perusahaan menggunakan system kepercayaan selama bertahun-tahun dalam
upayanya untuk menegaskan nilai-nilai dan arah yang diinginkan oleh para
manajer yang diterapkan oleh karyawannya.
3. Sistem Batasan

8
System ini didasarkan pada prinsip manajemen yang sederhana namun mendasar,
yang dapat disebut sebagai kekuatan pemikiran negative.
4. Sistem Pengendalian Interaktif
System pengendalian interaktif merupakan system informasi formal yang
digunakan oleh para manajer untuk melibatkan diri secara terus menerus dan
secara personal dalam keputusan bawahan.
5. Penyeimbangan Pemberdayaan dan Pengendalian
Para manajer senior yang mengatur arah dan strategi perusahaan secara
keseluruhan memastikan bahwa mereka memiliki cukup pengendalian atas
operasinya yang luas dengan menggunakan seluruh unsure pengendalian.Untuk
mengkomunikasikan nilai inti, mereka mengandalkan system kepercayaan.

9
Daftar Pustaka

https://dokumen.tips/dokumen/filosofi-riset-dalam-bidang-akuntansi-keperilakuan-
56869a7143216.html

http://www.academia.edu/20208748/TEORI_PERUSAHAAN_dan_PERILAKU_MAN
AJERIAL

Suartana, I Wayan. 2010. Akuntansi Keperilakuan Teori dan Implementasi. Yogyajarta :


Andi.

Arfan Ikhsan & Muhamammad Ishak. 2005. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta :


Salemba Empat.

10