Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia hidup berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, dan masing-
masing bangsa itu memiliki lingkungan social budayanya sendiri, yang satu
berbeda dari yang lainnya. Perbedaan itu yang amat besar, cukup besar, ada
yang tidak begitu besar. Perbedaan yang amat besar tercermin pada ucapan
Kiplin yang terkenal: Barat adalah Barat dan Timur adalah Timur, keduanya
tidak akan bisa bertemu.
Manusia sebagai makhluk sosial dalam hidup sehari-hari tidak lepas
dari unsur agama dan budaya karena sifat hakiki manusia adalah makhluk
beragama, selain itu manusia juga lahir sebagai manusia yang berbudaya
namun dalam proses berjalannya akan muncul permasalahan yang timbul
dalam beragama serta berbudaya, untuk itulah dibutuhkan proses konseling
lintas agama dan budaya.
Agama dan kebudayaan adalah dua hal yang sangat dekat di masyarakat.
Bahkan banyak yang salah mengartikan bahwa agama dan kebudayaan adalah
satu kesatuan yang utuh. Dalam kaidah sebenarnya agama dan kebudayaan
mempunyai kedudukan masing-masing dan tidak dapat disatukan, karena
agamalah yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada kebudayaan.
Namun keduanya mempunyai hubungan yang erat dalam kehidupan
masyarakat
Dalam alkuturasi diri bisa jadi berbeda dengan apa yang selama ini
dianut oleh masyarakat sekitar, tetapi sering kali pula seorang individu
menampakkan perilaku sesuai dengan apa yang sering dimunculkan oleh
masyarakat dimana dia berada. Agama dan budaya mempunyai independensi
masing-masing, meski keduanya saling terkait. Namun dalam memahami
realita kehidupan, adakalanya terjadi kesenjangan antara agama dan budaya.
Manusia sering dihadapkan oleh realitas yang mereka anggap sebagai suatu
permasalahan yang tak mampu diselesaikan dengan sendirinya. Sehingga

1
konselor adalah sasaran yang tepat bagi manusia untuk dijadikan referensi
dalam memecahkan suatu masalah.
Dapat disimpulkan bahwa budaya yang digerakan agama timbul dari
proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya
kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya,
yaitu factor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana budaya jawa?
2. Bagaimana budaya minang?
3. Bagaimana budaya batak?
4. Bagaimana perbedaan antar kebudayaan Indonesia dan kebudayaan
Negara lain?

C. Tujuan Masalah
Dari penjelasan diatasa dapat diambil tujuan masalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui budaya jawa
2. Dapat mengetahui budaya minang
3. Dapat mengetahui budaya batak
4. Dapat mengetahui perbedaan antar kebudayaan Indonesia dan kebudayaan
Negara lain

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perbedaan Antar Budaya


Penjelasan Kebudayaan Suku Batak, Minangkabau dan Jawa - Bangsa
Indonesia terkenal dengan masyarakat yang memiliki kebudayaan yang
beraneka ragam. Pada setiap daerah masyarakat kita mengembangkan
kebudayaan masing-masing.
Kebudayaan yang dikembangkan di daerah-daerah dinamakan kebudayaan
lokal. Kebudayaan-kebudayaan lokal yang berkembang di Indonesia antara lain
sebagai berikut.
1. Kebudayaan Suku Jawa
a. Sistem Kepercayaan/Religi Suku Jawa
Agama mayoritas dalam suku bangsa Jawa adalah Islam. Selain itu juga
terdapat penganut agama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.
Masyarakat Jawa percaya bahwa hidup diatur oleh alam, maka ia
bersikap nrimo (pasrah). Masyarakat Jawa percaya keberadaan arwah/
roh leluhur dan makhluk halus seperti lelembut, tuyul, demit, dan jin.
Selamatan adalah upacara makan bersama yang telah diberi doa
sebelumnya. Ada empat selamatan di Jawa sebagai berikut.
1. Selamatan lingkaran hidup manusia, meliputi: hamil tujuh bulan,
potong rambut pertama, kematian, dan kelahiran.
2. Selamatan bersih desa, upacara sebelum, dan sesudah panen.
3. Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari/bulan-bulan besar
Islam
4. Selamatan yang berhubungan dengan peristiwa khusus, perjalanan
jauh, ngruwat, dan menempati rumah baru.
Jenis selamatan kematian, meliputi: nelung dina (tiga hari), mitung
dina (tujuh hari), matang puluh dina (empat puluh hari), nyatus (seratus
hari), dan nyewu (seribu hari).

3
b. Sistem Kekerabatan Suku Jawa
Sistem kekerabatan suku bangsa Jawa adalah bilateral (garis keturunan
ayah dan ibu). Dalam sistem kekerabatan masyarakat Jawa, digunakan
istilah-istilah sebagai berikut.
Ego menyebut orang tua laki-laki adalah bapak/rama.
Ego menyebut orang tua perempuan adalah simbok/ biyung.
Ego menyebut kakak laki-laki adalah kang mas, kakang mas.
Ego menyebut kakak perempuan adalah mbakyu.
Ego menyebut adik laki-laki adalah adhi, dhimas, dik, atau le.
Ego menyebut adik perempuan adalah ndhuk, denok, atau di.
Dalam masyarakat Jawa, istilah-istilah di atas merupakan tata cara
sopan santun pergaulan yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari. Apabila melanggar nasihat orang tua akan sengsara atau disebut
kuwalat.
c. Sistem Politik Suku Jawa
Desa di Jawa disebut kelurahan yang dikepalai oleh lurah. Dalam
pekerjaannya lurah dan pembantu-pembantunya mempunyai tugas
pokok memelihara keamanan desa.
Pembantu-pembantu lurah, meliputi:
1. carik: pembantu umum/sekretaris desa,
2. sosial: memelihara kesejahteraan penduduk,
3. kaum: mengurusi soal nikah, rujuk, talak, dan kematian.
d. Sistem Ekonomi Suku Jawa
Bertani merupakan mata pencaharian utama. Bertani dilakukan di
ladang dan sawah. Selain dari pertanian, masyarakat Jawa juga
menjalankan usaha sambilan, seperti mencetak batu bata, membatik,
tukang kayu, dan menganyam tikar.

4
e. Sistem Kesenian Suku Jawa
Seni Bangunan
Rumah adat di Jawa Timur disebut rumah Situbondo, sedangkan
rumah adat di Jawa Tengah disebut Istana Mangkunegaran. Istana
Mangkunegaran merupakan rumah adat Jawa asli.
Seni Tari
Tarian-tarian di Jawa beraneka ragam di antaranya sebagai berikut.
Tari tayuban adalah tari untuk meramaikan suasana acara, seperti:
khitanan dan perkawinan. Penari tayuban terdiri atas beberapa
perempuan.
- Tari reog dari Ponorogo. Penari utamanya menggunakan topeng.
- Tari serimpi adalah tari yang bersifat sakral dengan irama
lembut.
- Tari gambyong.
- Tari bedoyo.
Seni Musik
Gamelan merupakan seni musik Jawa yang terkenal.
Gamelan terdiri atas gambang, bonang, gender, saron, rebab,
seruling, kenong, dan kempul.
Seni Pertunjukan Seni pertunjukan yang terkenal adalah wayang,
selain itu juga kethoprak, ludruk, dan kentrung.
Demikianlah Materi Penjelasan Kebudayaan Suku Batak,
Minangkabau dan Jawa., semoga bermanfaat.

2. Kebudayaan suku Minangkabau


a. Sistem Kepercayaan/Religi Suku Minangkabau
Sebagian besar masyarakat Minangkabau beragama Islam.
Masyarakat desa percaya dengan hantu, seperti kuntilanak, perempuan
menghirup ubun-ubun bayi dari jauh, dan menggasing (santet), yaitu
menghantarkan racun melalui udara. Upacara-upacara adat di
Minangkabau meliputi:

5
Upacara Tabuik adalah upacara peringatan kematian Hasan dan
Husain di Padang Karabela;
Upacara Kitan dan Katam berhubungan dengan lingkaran hidup
manusia, seperti:
- Upacara Turun Tanah/Turun Mandi adalah upacara bayi
menyentuh tanah pertama kali,
- upacara Kekah adalah upacara memotong rambut bayi pertama
kali.
- Upacara selamatan orang meninggal pada hari ke-7, ke-40, ke-
100, dan ke-1000
- Upacara Adat Batagak Gadang, upacara ini merupakan
pengangkatan pemangku adat / Pengulu kaum.

b. Sistem Kekerabatan Suku Minangkabau


Sistem kekerabatan dalam masyarakat Minangkabau adalah matrilineal
(garis keturunan ibu), sehingga sistem kekerabatan memerhitungkan
dua generasi di atas ego laki-laki dan satu generasi di bawahnya.
Urutannya sebagai berikut.
Ibunya ibu.
Saudara perempuan dan laki-laki ibunya ibu.
Saudara laki-laki ibu.
Anak laki-laki, perempuan saudara perempuan ibu ibunya ego.
Saudara laki-laki dan perempuan ego.
Anak laki-laki dan perempuan saudara perempuan ibu.
Anak laki-laki dan perempuan saudara perempuan ego.
Anak laki-laki dan perempuan anak perempuan saudara perempuan
ibunya ibu.
Kesatuan keluarga kecil seperti di atas disebut paruik, pada
sebagian masyarakat ada kesatuan yang disebut kampuang yang
memisahkan paruik dengan suku. Kepentingan keluarga diurus oleh
laki-laki yang bertindak sebagai niniak mamak.

6
Dalam hal jodoh masyarakat Minangkabau memilih dari luar suku,
tetapi pola itu kini mulai hilang. Bahkan akibat pengaruh dunia modern,
perkawinan endogami lokal tidak lagi dipertahankan.
c. Sistem Politik Suku Minangkabau
Kepala suku masyarakat Minangkabau disebut penghulu, dubalang,
dan manti. Dubalang bertugas menjaga keamanan kampung, sedangkan
manti berhubungan dengan tugas-tugas keamanan.
Kesatuan dari beberapa kampung disebut nagari. Sistem
pemerintahannya dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
Lareh Bodi-Caniago berhubungan dengan tokoh Datuak
Parapatiah nan Sabatang
Lareh Koto-Piliang berhubungan dengan tokoh Datuak
Katumanggungan. Dalam sistem pemerintahan Laras Bodi-
Caniago menunjukkan sistem yang demokratis, karena
musyawarah selalu diutamakan.
Sistem Ekonomi Suku Minangkabau
Mata pencaharian masyarakat Minangkabau sebagian besar
sebagai petani. Bagi yang tinggal di pinggir laut mata
pencaharian utamanya menangkap ikan. Seiring dengan
perkembangan zaman, banyak masyarakat Minangkabau yang
mengadu nasib ke kota-kota besar. Seperti yang dilakukan oleh
masyarakat Indonesia pada saat ini.
Masyarakat Minangkabau juga banyak yang menjadi perajin.
Kerajinan yang dihasilkan adalah kain songket. Hasil kerajinan
tersebut merupakan cinderamata khas dari Minangkabau.
Sistem Kesenian Suku Minangkabau
- Seni Bangunan
Rumah adat Minangkabau disebut rumah gadang. Rumah
gadang terdiri atas biliek sebagai ruang tidur, dan didieh
sebagai ruang tamu. Ciri utama rumah itu adalah bentuk
lengkung atapnya yang disebut gonjong yang artinya tanduk

7
rebung. Antara atap dan lantai terdapat pegu. Di desa
Balimbing lebih kurang 10 km dari timur kota Batu Sangkar
banyak dijumpai rumah gadang yang berumur 300 tahun.
- Seni Tari
Tari-tarian yang ada adalah tari silat kucing dan tari silat
tupai malompek yang masih dijumpai di daerah-daerah
Payakumbuh. Lagu yang digunakan dalam tari itu adalah
Badindin, Pado-Pado, Siamang Tagagau, Si Caliak
Mamenjek, Capo, dan Anak Harimau dalam Gauang. Selain
itu juga terdapat tari piring, tari Lilin, tari payung, dan tari
serampang dua belas.
- Seni Musik
Alat-alat musik tradisonal dari suku bangsa Minangkabau
adalah saluang dan talempong. Saluang biasa dikenal dengan
seruling, sedangkan talempong mirip dengan gamelan yang
dibunyikan dengan pemukul.
- Seni Sastra
Seni sastra yang berkembang pada suku bangsa Minangkabau
dan pada umumnya adalah seni sastra pantun yang berupa
nasihat.

3. Kebudayaan Suku Batak


a. Sistem Kepercayaan/Religi Suku Batak
Di daerah Batak terdapat beberapa agama, antara lain: agama Islam,
agama Katolik, dan agama Kristen Protestan. Meskipun demikian,
konsep-konsep kepercayaan atau religi purba masih hidup terutama di
pedesaan. Sumber utama untuk mengetahui sistem kepercayaan dan
religi purba ini adalah buku pustaka yang terbuat dari kayu dan ditulis
dengan huruf Batak. Buku tersebut memuat konsep-konsep tentang
pencipta, jiwa, roh, dan dunia akhirat.

8
b. Sistem Kekerabatan Suku Batak
Perkawinan pada masyarakat Batak merupakan suatu pranata yang
tidak hanya mengikat seorang laki-laki dengan seorang perempuan.
Perkawinan juga mengikat kaum kerabat laki-laki (paranak dalam
bahasa Toba, si pempokan dalam bahasa Karo) dengan kaum kerabat si
perempuan (parboru dalam bahasa Toba, sinereh dalam bahasa Karo).
Menurut adat lama pada masyarakat Batak, seorang laki-laki tidak
bebas dalam memilih jodoh. Perkawinan antara orang-orang rimpal
(marpariban dalam bahasa Toba) yakni perkawinan dengan anak
perempuan dari saudara laki-laki ibunya (cross cousin) dianggap
perkawinan ideal.
Sistem kekerabatan masyarakat Batak adalah patrilineal, dengan
dasar satu ayah, satu kakek atau satu nenek moyang. Dalam masyarakat
Batak hubungan berdasarkan satu ayah disebut sada bapa (bahasa Karo)
atau saama (bahasa Toba).
Adapun kelompok kekerabatan terkecil adalah keluarga batih
(keluarga inti, terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak) yang disebut jabu,
dan ripe dipakai untuk keluarga luas yang virilokal (tinggal di rumah
keluarga pihak laki-laki).
Dalam masyarakat Batak, banyak pasangan yang sudah kawin tetap
tinggal bersama orang tuanya. Adapun perhitungan hubungan
berdasarkan satu kakek atau satu nenek moyang disebut sada nini (pada
masyarakat Karo) dan saompu (pada masyarakat Toba). Keluarga sada
nini atau saompu merupakan klen kecil. Adapun klen besar dalam
masyarakat Batak adalah merga (dalam bahasa Karo) atau marga
(dalam bahasa Toba).
c. Sistem Politik Suku Batak
Sistem politik yang dimaksud adalah sistem pemerintahan dan
kepemimpinan. Pada masyarakat Batak sistem kepemimpinan ini
terbagi atas tiga bidang sebagai berikut

9
- Kepemimpinan di Bidang Adat
Kepemimpinan di bidang adat meliputi: perkawinan dan perceraian,
kematian, warisan, penyelesaian perselisihan, kelahiran, dan
sebagainya. Kepemimpinan pada bidang adat ini tidak berada dalam
tangan seorang tokoh, tetapi berupa musyawarah Dalihan Na Tolu
(Toba) dan Sangkep Sitelu (Karo).
Dalam pelaksanaan musyawarah adat, sidang (ninggem) dipimpin
oleh Suhut. Suhut ialah orang yang mengundang para pihak kerabat
dongan sabutuha, hula-hula, dan boru dalam Dalikan Na Tolu.
Keputusannya merupakan hasil musyawarah dengan kerabat-kerabat
tersebut.
- Kepemimpinan di Bidang Agama
Dalam masyarakat Batak, kepemimpinan dalam bidang agama
berhubungan dengan perdukunan dan roh nenek moyang serta
kekuatan-kekuatan gaib. Pemimpin keagamaan dipegang oleh guru
sibaso.
- Kepemimpinan di Bidang Pemerintahan
Dalam bidang pemerintahan, kepemimpinan dipegang oleh salah
satu keturunan dari merga taneh. Oleh sebab itu, faktor tradisi masih
melekat dalam memilih pemimpin pemerintahan. Adapun tugas
pemimpin pemerintahan, yaitu menjalankan pemerintahan sehari-
hari. Pada saat ini, masyarakat Batak selalu mencari orang yang
dianggap mampu dan memahami segala persoalan yang terdapat
dalam masyarakat.
d. Sistem Ekonomi Suku Batak
Sistem ekonomi atau sistem mata pencaharian yang dilakukan
masyarakat Batak adalah bercocok tanam di sawah, ada juga yang di
ladang seperti suku bangsa Karo, Simalungun, dan Pakpak.
Masyarakat Batak mengenal sistem gotong-royong dalam bertani,
dalam bahasa Karo disebut raren, sedangkan dalam bahasa Toba
disebut marsiurupan. Gotong royong dilakukan dengan mengerjakan

10
tanah secara bersama-sama oleh tetangga atau kerabat dekat. Alat yang
digunakan untuk bercocok tanam, antara lain cangkul, bajak (tenggala
dalam bahasa Karo, luku dalam bahasa Toba), dan tongkat tugal
(engkol dalam bahasa Karo).
Bajak biasanya ditarik dengan sapi/kerbau, sabit (sabi-sabi dalam
bahasa Toba) dipakai untuk memotong padi, ada juga yang memakai
ani-ani. Peternakan yang diusahakan oleh masyarakat Batak, seperti
kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, dan bebek. Babi biasanya untuk
dimakan dan juga digunakan dalam upacara adat. Di Pulau Samosir tepi
Danau Toba, menangkap ikan dilakukan intensif dengan perahu lesung
(Solu) dan hasilnya dijual ke kota.
e. Sistem Kesenian Suku Batak
Seni Bangunan
Rumah adat Batak disebut ruma/jabu (bahasa Toba) merupakan
kombinasi seni pahat ular serta kerajinan. Ruma akronim Ririt di
Uhum Adat yang artinya sumber hukum adat dan sumber
pendidikan masyarakat Batak. Ruma berbentuk panggung yang
terdiri atas tiang rumah yang berupa kayu bulat, tiang yang paling
besar disebut tiang persuhi. Tiang-tiang tersebut berdiri di tiap
sudut di atas batu sebagai pondasi yang disebut batu persuhi.
Bagian badan terbuat dari papan tebal, sebagai dinding muka
belang, kanan dan kiri, dinding muka belakang penuh ukiran cicak.
Atap sebelah barat dan timur menjulang ke atas dan dipasang
tanduk kerbau sebagai lambang pengharapan.
Seni Tari
Tari yang terkenal dari Batak, yaitu tor-tor. Tari tor-tor terdiri atas
beberapa jenis. Beberapa jenis tari tor-tor sebagai berikut.
- Pangurdot, anggota badan yang bergerak hanya kaki, tumit,
hingga bahu.
- Pangeal, anggota badan yang bergerak hanya pinggang, tulang
punggung, dan bahu.

11
- Pandenggal, anggota badan yang bergerak hanya lengan, telapak
tangan hingga jari tengah.
- Siangkupna, anggota badan yang bergerak hanya leher.
- Hapunana, anggota badan yang bergerak hanya wajah.
Seni Musik
Seni musik suku bangsa Batak adalah ogung sabangunan. Peralatan
yang digunakan adalah empat gendang dan lima taganing (sejenis
gamelan Batak). Nama-nama gendang ogung, yaitu oloan, ihutan,
doal, dan jeret.
Macam-macam tari tor-tor yang diiringi ogung sabangunan sebagai
berikut.
- Tor-tor/gondang mula-mula, dilakukan dengan menyembah
berputar ke arah mata angin.
- Tor-tor/gondang mangido pasu-pasu, dilakukan dengan tangan
menari artinya petuah, nasihat, dan amanat orang tua.
- Tor-tor/gondang liat-liat, dilakukan dengan menari berkeliling
artinya keluarga mendapat kebahagiaan.
- Tor-tor/gondang hasahatan, dilakukan dengan menari di
tempat artinya petuah/rahmat Tuhan YME.
Seni Kerajinan
Kerajinan suku bangsa Batak yang terkenal adalah kain ulos.
Peranan ulos bagi masyarakat Batak sejak lahir hingga meninggal
sangat tinggi. Macam-macam ulos dan fungsinya dalam suatu
acara, meliputi:
- ulos lobu-lobu adalah ulos yang diberikan ayah kepada putra dan
menantu saat pernikahan
- ulos hela adalah ulos yang diberikan orang tua pengantin
perempuan;
- ulos tondi adalah ulos yang diberikan orang tua kepada putrinya
saat hamil tua;
- ulos tujung adalah ulos yang diberikan kepada janda atau duda.

12
- ulos saput adalah ulos penutup jenazah yang diberikan paman
almarhum jika yang meninggal laki-laki;
D. Perbedaan Persamaan Budaya
Beberapa Fakta tentang suku minangkabau, batak, dan jawa persamaan
dan perbedaannya Fakta Tentang Suku Minangkabau, Batak dan Jawa ialah
memiliki beragam ciri khas dan sosial yang sangat beragam. Baik suku
minangkabau, batak dan jawa merupakan suku dari Indonesia yang memiliki
budaya khasnya masing-masing.
Dengan banyaknya pulau-pulau di Indonesia tidak heran Negara kita
adalah yang paling kaya akan kebudayaan daerah. Mulai dari adat istiadat,
bahasa, bahkan dari seni tariannya pun melengkapi keberagaman suku di
negeri kita tercinta. Bila dilihat dari tempat asalnya suku minangkabau dan
batak keduanya memiliki kesamaan berasal sama-sama dari pulau sumatera,
berbeda kepulauan dengan jawa, namun dari ketiga suku ini masing-masing
memiliki kesamaan karakter masyarakatnya yakni sama-sama suka merantau,
hanya sebagian kecil masyarakat yang tidak merantau ke kota lain. Salah satu
contohnya Kota Jakarta dapat menjadi magnet bagi ketiga suku tersebut
sebagai harapan besar untuk mencari nafkah dan memajukan daerah asalnya
masing-masing.
Selain itu tidak sedikit pula yang sampai berani meninggalkan
keluarganya lebih jauh lagi sampai merantau ke Negara lain dalam hal
mencari nafkah. Selain memiliki kesamaan dalam hal mentalnya yang berani,
kesamaan lainnya juga sebagian masyarakat dari masing-masing suku
tersebut memeluk agama Kristen, namun adapula sebagian yang memeluk
agama islam.
Dalam hal marga pun ketiganya memiliki kesamaan, misalnya dari batak
keturunannya harus ditambahkan marga orang tuanya seperti siahaan,
simatupang, kemudian minangkabau ada gelar sutan, hingga jawa pun
demikian seperti marga hadijayaningrat. Namun dari segi cara penanganan
masalah dan mengendalikan emosi ketiga suku tersebut memiliki perbedaan
diantaranya batak yang lebih suka langsung ke inti permasalahan dan

13
cenderung lebih dominan, dan memiliki temperamen yang cukup tinggi untuk
sebagian masyarakatnya.
Memahami Pengertian dan hubungan antara bahasa dan dialek Setiap suku
bangsa
Fakta unik Tentang Suku Sunda
Misteri kekejaman Terhadap Perempuan Pada Suku Pedalaman
Minangkabau hampr sama dengan batak namun lebih terbuka dalam menerima
masukan dan tidak terlalu dominan. Untuk jawa sendiri sebagian besar
masyarakatnya lebih cenderung sebagai pengikut, dan memiliki prinsip
mengalah untuk menang.
Namun tidak sedikit dari suku jawa yang dominan dan memimpin
pemerintahan, sebagai contoh saja peimpin Negara Indonesia saat ini dari suku
jawa.

14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebudayaan sebagai sistem pengetahuan yang meliputi sistem idea tau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan konsleing lintas
budaya merupakan proses pemberian bantuan yang mana antara konselor
dengan klien memiliki latar belakang budaya yang berbeda, seperti nilai-nilai,
kepercayaan, dan lain-lainnya.

B. Saran
Makalah ini jauh dari kesempurnaan,kritikan dan masukan dari pembaca
dapat menambah kesempurnaan dari makalah ini. Mudah-mudahan makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi penulis.

15
DAFTAR PUSTAKA

Indriyawati, Emmy. 2008. Antropologi. Jakarta: CV Usaha Makmur


Jaih, Mubarok dan Atang, Abd.Hakim. 2010. Metodologi Studi Islam. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya
Jalaludin. 2005. Psikologi Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Koentjoroningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Putra
Sholeh, Moh. 2005. Agama Sebagai Terapi (Telaah Menuju Ilmu Kedokteran
Holistik). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

16
KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim
Alhamdulillah , Puji beserta syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang
telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami mampu
menyelesaikan Makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya. Shalawat
serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad saw. Makalah
ini berisikan tentang penjelasan Perbedaan Antar Budaya
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini .
Akhir kata , kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir . Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita . Amin .

Sungai Penuh, Oktober 2016

17
i
MAKALAH
PERBEDAAN ANTAR BUDAYA

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Terstruktur dalam Mata Kuliah


Konseling Lintas Budaya

Disusun Oleh :
Kelompok
1. Puji Esa Putra
2. Nanik Novita Sari

Dosen Pembimbing:
NURAINUN, M.Ag, M.Ag

MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS


JURUSAN TARBIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM (STAIN) KERINCI
T.A.2016/2017

18
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................. i


DAFTAR ISI .............................................................................................. i
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................ 1
B. Tujuan Masalah ........................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Fiqh
B. Objek Kajian Ushul Fiqh
C. Sejarah Perkembangan fiqih pada masa nabi dan sahabat tabiin
BAB III PENUTUP

19
20