Anda di halaman 1dari 12

LEMBAGA PEMBUAT STANDAR AKUNTANSI INTERNASIONAL

A. Organisasi Pembentuk Standar Akuntansi


Standar akuntansi mencakup konvensi, peraturan, dan prosedur yang telah disusun, dan disahkan
oleh sebuah lembaga resmi (badan pembentuk standar) pada saat tertentu. Standar akuntansi
merupakan masalah yang penting dalam dunia profesi akuntansi, termasuk bagi para pemakai
laporan keuangan. Karena itu, mekanisme pembentukan standar akuntansi haruslah diatur
sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kepuasan bagi semua pihak yang berkepentingan
terhadap laporan keuangan. Standar akuntansi ini akan secara terus-menerus berubah dan
berkembang seiring dengan perkembangan zaman, dunia usaha, dan kemajuan teknologi.
1. Amerika Serikat
Ada empat organisasi yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan standar akuntansi
keuangan di Amerika Serikat, yaitu
a. Securities and Exchange Commission (SEC)
SEC dibentuk pertama kalinya pada tahun 1934, dimana peran utamanya adalah untuk
mengatur penerbitan dan transaksi perdagangan sekuritas oleh emiten kepada khalayak ramai
(publik). SEC juga mewajibkan perusahaan public agar laporan keuangan eksternalnya diaudit
oleh akuntan independen.
SEC sangat fokus terhadap pelaporan keuangan perusahaan publik dan pengembangan
standar akuntansi. SEC juga secara seksama memonitor proses pembentukan standar akuntansi di
Amerika. SEC membantu mengembangkan dan menstandarisasi informasi keuangan yang
disajikan kepada para pemegang saham. SEC memiliki mandat untuk menetapkan prinsip-prinsip
akuntansi

b. American Institute of Certified Public Accountans (AICPA)


AICPA adalah sebuah organisasi profesi akuntan public di Amerika. Organisasi ini
didirikan pada tahun 1887 dan menerbitkan jurnal bulanan dengan nama Journal of
Accountancy. AICPA memiliki peran penting dalam pengembangan dan pembentukan standar
akuntansi, termasuk penyiapan (penyelenggaraan) ujian sertifikasi dan pendidikan berkelanjutan
bagi para akuntan publik.
Atas desakan SEC, pada tahun 1939 AICPA membentuk Committee on Accounting
Procedure (CAP). CAP yang beranggotakan akntan praktisi, menerbitkan 51 Accounting
Research Bulletins yang menangani berbagai masalah akuntansi sepanjang tahun 1939 sampai
dengan tahun 1959. Namun, pendekatan masalah per masalah ini gagal memberikan kerangka
prinsip akuntasni yang terstruktur sebagaimana yang dibutuhkan dan yang diinginkan. Untuk itu,
pada tahun 1959 AICPA mendirikan Accounting Principles Boards (APB).
Tugas utama dari APB adalah mengajukan rekomendasi secara tertulis mengenai prinsip
akuntansi, menentukan praktik akuntansi yang tepat, dan mempersempit celah perbedaan-
perbedaan yang ada serta ketidakkonsistennan yang terjadi dalam praktik akuntansi saat itu.
Seiring berjalannya waktu, APB dianggap kurang produktif dan gagal bertindak cepat dalam
menangani kasus-kasus penyimpangan akuntansi yang terjadi pada saat itu. Pada tahun 1971,
ketua profesi akuntansi di Amerika, dalam upaya mencegah intervensi lebih lanjut dari
pemerintah, membentuk Study Group on Establishment of Accounting Principles. Komite ini
diketuai oleh Francis Wheat, dan secara luas dikenal dengan nama Wheat Committee. Komite ini
bertugas untuk mengkaji ulang struktur organisasi dan operasi APB serta menentukan perubahan
apa yang diperlukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam penyelesaian masalah
akuntansi. Hasil studi ini juga pada akhirnya mengakibatkan dibubarkannya APB. Wheat
Committee lalu merekomendasikan pembentukan FAF (Financial Accounting Foundation),
FASB dan FASAC (Financial Accounting Standasds Advisory Council),di samping itu juga
merekomendasikan agar standar yang ditetapkan adalah standar yang mudah digunakan atau
dengan kata lain memiliki kepraktisan di dalam penerapannya.
Ketika APB dibubarkan dan digantikan oleh FASB, AICPA membentuk Accounting
Standars Executive Committee (AcSEC) sebagai komite yang berwenang berbicara atas nama
AICPA di bidang akuntansi dan pelaporan keuangan. Berbagai ketetapan yang dihasilkan oleh
komite ini adalah Pedoman Audit dan Akuntansi Industri, Statement of Position (SOP), dan
Buletin Praktik. Pedoman Audit dan Akuntansi Industri mengikhtisarkan praktik-praktik
akuntansi dari industri tertentu dan menyediakan pedoman (arahan) khusus menyangkut
masalah-masalah yang tidak ditangani FASB seperti akuntansi untuk kasino, maskapai
penerbangan dan banyak lainnya. Statement of Position (SOP) menyediakan pedoman atas topik-
topik pelaporan keuangan sampai FASB menetapkan standar untuk topik-topik tersebut. SOP
bisa memperbaharui, merevisi, atau mengklarifikasi pedoman-pedoman audit dan akuntansi, atau
bahkan menyediakan pedoman independen. Sedangkan Buletin Praktik berisi pandangan AcSEC
menyangkut masalah pelaporan keuangan yang lebih sempit, yang tidak menyangkut masalah
pelaporan keuangan yang lebih sempit, yang tidak ditangani oleh FASB.
Akhir-akhir ini, peran AICPA dalam penetapan standar akuntansi telah dikurangi. FASB
dan AICPA telah sepakat bahwa AICPA dan AcSEC tidak lagi mengeluarkan pedoman
akuntansi untuk perusahaan public. Namun demikian, AICPA tetap merupakan pemimpin dalam
pengembangan standar audit melalui Auditing Standards Board.

c. Financial Accounting Standards Boards (FASB)


FASB merupakan organisasi sektor swasta yang bertanggung jawab dalam pembentukan
standar akuntansi di Amerika saat ini. FASB didirikan pada tahun 1973, menggantikan APB.
Anggota FASB berasal dari berbagai latar belakang (audit, akuntansi korporasi, jasa keuangan,
dan akademisi). Penunjukan anggota FASB yang baru, dilakukan oleh Financial Accounting
Foundation (FAF). FAF adalah sebuah badan independen, sama seperti FASB, yang dibentuk
dengan wakil dari profesi akuntansi, komunitas bisnis, pemerintah, dan akademisi.
Fungsi utama dari FASB adalah mempelajari masalah akuntansi terkini dan menetapkan
standar akuntansi. Standar ini dipublikasikan sebagai Statement of Financial Accounting
Standards (SFAS). FASB juga menerbitkan Statement of Financial Accounting Concepts
(SFAC) yang memberikan kerangka kerja konseptual yang memungkinkan untuk
dikembangkannya standar akuntansi khusus. SFAC diterbitkan pada tahun 1978 sebagai konsep
fundamental yang akan digunakan FASB dalam mengembangkan standar akuntansi dan
pelaporan keuangan di masa depan. Tidak seperti SFAS, SFAC bukan merupakan prinsip
akuntansi yang berlaku umum.
Standar akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh FASB dipandang sebagai prinsip-
prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Dalam menetapkan standar akuntansi keuangan, FASB harus tanggap terhadap kebutuhan
dari seluruh komunitas dan menetapkannya secara transparan di depan publik. Hal ini dilakukan
dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya secara adil (tanpa memihak) kepada semua
komunitas terkait untuk mengungkapkan pendapat mereka sebelum standar yang baru diterbitkan
dan diberlakukan.
d. Governmental Accounting Standards Board (GASB)
GASB dibentuk pada tahun 1984 oleh FAF dengan tugas menetapkan standar akuntansi
keuangan pemerintah. Sturuktur organisasi GASB serupa dengan struktur FASB. GASB
memeiliki dewan penasehat yang bernama Governmental Accounting Standards Advisory
Council (GASAC).
Standar ini dinamakan sebagai prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (Generally
Accepted Accounting Principles). Standar ini diperlukan sebagai patokan (pedoman) dalam
penyusunan laporan keuangan yang baku. Dengan adanya standar ini, pihak manajemen selaku
pengelola dana dan aktivitas perusahaan dapat mencatat, mengikhtisarkan, dan melaporkan
seluruh hasil kegiatan operasional maupun financial perusahaan secara baku (yang secara standar
diterima umum) dan transparan.
GAAP bersumber dari beberapa ketetapan-ketetapan yang dikeluarkan oleh berbagai
organisasi pembentuk standar akuntansi di Amerika (FASB, EITF, AICPA dan SEC). ketetapan-
ketetapan yang dikeluarkan oleh masing-masing organisasi tersebut memiliki tingkat
kewenangan (otoritas) yang berbeda. Hierarki GAAP yang diterbitkan oleh FASB menentukan
sumber prinsip akuntansi dan kerangka kerja pemilihan prinsip yang akan digunakan dalam
penyusunan laporan keuangan.

2. Inggris
Pada negara Inggris, profesi akuntan independen mempunyai pengendalian yang luas atas
standar-standar akuntansi dan berlaku prinsip full disclosure & transparency sebagai kebutuhan
sentral dari pelaporan keuangan.
Sebagian besar apa yang terjadi dalam akuntansi di Inggris dimandatkan oleh hukum.
Ada dua sumber utama standar akuntansi keuangan di Inggris, yaitu hukum perusahaan dan
badan profesi akuntansi. Badan-badan akuntansi utama di UK antara lain:
1) The Institute of Chartered Accountants in England & Wales
2) The Institute of Chartered Accountants of Ireland
3) The Institute of Chartered Accountants of Scotlands
4) The Association of Certified Chartered Accountants (ACCA)
5) The Institute of COST & Management Accountants
6) The Chartered Institute of Public Finance & Accountancy
Konsep dan praktek akuntansi di Inggris telah mempengaruhi akuntansi secara global,
terutama terhadap negara-negara bekas jajahan Inggris, misalnya akuntansi di Australia, Canada
serta Negara persemakmuran lainnya seperti Kenya, India, Hongkong, Selandia Baru, Singapura,
dan Afrika Selatan. Memang tidak mutlak persis sama, tetapi cukup banyak pengaruhnya
terhadap sistem akuntansi di negara bersangkutan.

3. Kawasan Eropa
Badan pembuat standar akuntansi di untuk kawasan Eropa ialah IASB (International
Accounting Standard Board). Standar yang dibuat oleh IASB, saat itu (sebelum tahun 1990)
belum diminati oleh dunia. Hal ini karena perkembangan ekonomi Amerika masih dijadikan
sebagai patokan perkembangan bisnis dunia. Produknya adalah IAS yang kemudian
bermetamorfosis menjadi IFRS (International Financial Reporting Standard).

4. Jepang
Negara Jepang bergantung pada pinjaman bank. Penyusunan standar akuntansi di Jepang
terutama merupakan fungsi pemerintah dengan sejumlah input pendukung dari JIPCA (Japanese
Institute of Certified Public Accountants). Pemerintah pusat mengendalikan dengan ketat semua
hal yang terjadi dalam akuntansi di Jepang. Jalur utama penyusunan standar akuntansi di Jepang
di kelola oleh Mentri Keuangan melalui sebuah badan penasehat yang bernama Business
Accounting Deliberation Council.

5. Jerman
Badan yang melakukan pekerjaan teknis dan mengeluarkan standar akuntansi yaitu
GASB (German Accounting Standards Board). GASB dibentuk untuk mengembangkan suatu
standar Jerman yang sesuai dengan standar akuntansi internasional. GASB telah mengeluarkan
GAS (German Accounting Standards) atau Standar Akuntansi Jerman untuk permasalahan
seperti laporan arus kas, pelaporan segmen, pajak tangguhan, dan translasi mata uang asing.
Namun pada tahun 2003, GASB menerapkan strategi baru dan menyelaraskan program kerjanya
dengan usaha IASB untuk mencapai konverjensi standar akuntansi secara global. Perubahan ini
mengakui ketentuan Unit Eropa atas IFRS bagi perusahaan emiten pada tahun 2005.
6. Perancis
Dasar utama aturan akuntansi adalah Hukum Akuntansi 1983 dan Dekrit akuntansi 1983
yang memuat Plan Compatible General wajib digunakan oleh seluruh perusahaan. Setiap
perusahaan harus memiliki manual akuntansi. Ciri khusus akuntansi di Perancis adalah
terdapatnya dikotomi antara laporan keuangan perusahaan secara tersendiri dengan laporan
kelompok yang dikonsolidasikan. Hukum Perancis memperbolehkan perusahaan Perancis untuk
mengikuti Standar Pelaporan Keuangan Internasional (International Financial Reporting
Standards-IFRS). Alasannya, banyak perusahaan multinasional dari Perancis yang mencatat
sahamnya di luar negeri.
Lima organisasi utama yang terlibat dalam proses penetapan standard di Perancis:
a. Counseil National de la Comptabilite atau CNC (Badan Akuntansi Nasional)
b. Comite de la Reglementation Comptable atau CRC (Komite Regulasi Akuntansi)
c. Autorite des Marches Financiers atau AMF (Otoritas Pasar Keuangan)
d. Ordre des Experts-Comptables atau OEC (Ikatan Akuntan Publik)
e. Compagnie Nationale des Commisaires aux Comptes atau CNCC (Ikatan Auditor Kepatuhan
Nasional)

7. Malaysia
Seperti Indonesia, sistem resmi Malaysia berasal dari Inggris. Seperti yang sudah
diperkirakan, sistem akuntansi ini juga membidik untuk bertemu dengan informasi yang
diperlukan oleh investor. The Malaysian Institute of Accounting (MIA) telah didirikan dibawah
pengawasan regular perkumpulan profesi akuntan di Malaysia. Tapi, Malaysia merestrukturisasi
sistem akuntansinya pada tahun 1997 dengan Financial Reporting Act, yang dibuat oleh Fiancial
Reporting Foundation (FRF)/ Badan pelaporan keuangan dan Malaysian Accounting Standart
Board (MASB). FRF mengawasi pekerjaan MASB tetapi tidak terlibat dalam proses standarnya.
MASB adalah badan independen yang di ciptakan untuk mengembangkan dan mengajukan
standar akuntansi di Malaysia.

8. Rusia
Meskipun situasi ekonomi di Rusia telah meningkat, negara ini berbeda dengan negara
transisi lainnya. Pertama, saham perusahaan baru masih kecil dibandingkan dengan yang lain.
Yang kedua, banyaknya unit prodeksi bergaya soviet lama yang mesih berfungsi meskipun
dalam keadaan merugi. Kemampuan negara ini untuk tumbuh berasal dari Sumber Daya
Alamnya, contohnya minyak dan gas, lebih jauh mereka mendominasi dengan monopoli
lamanya yang tidak berubah.
Dalam Federasi Rusia, pemerintah mempunyai kontrol tunggal atas akuntansinya.
Sebagai hasil dari latar belakang negara sosialis. Standar akuntansi Rusia diformulasikan untuk
melacak input dan output. Karena itulah standar mencerminkan sedikit tentang nilai dan laba.
Perusahaan di Rusia lebih condong merubah laba untuk menghindari pajak dan merubah
pendapatan agar terlihat lebih menguntungkan bagi investor.
Umumnya menteri keuangan Rusia membuat ketetapan akuntansi. tetapi, CBRF yang
bertanggung jawab untuk membuat standar akuntansi dan audit untuk bank dan institusi kredit.
Sebagai tambahan CBRF memonitor mereka dan meneapkan persyaratan modal minimum.
Pada tahun 2002 perdana menteri Rusia mengumumkan bahwa perusahaan Rusia dan
bank harus membuat laporan keuangan yang sesuai dengan IFRS pada aawal tahun 2004. lebih
spesifik lagi semua pernyataan konsolidasi oleh perusahaan dan bank harus disiapkan dengan
IFRS. Laporan keuangan bank individual juga harus disiapkan dengan IFRS tetapi untuk
perusahaan individual harus lanjut menggunakan GAAP Rusia.

9. India
Pada tahun 50-an, lebih dari 50% penduduk India berada dalam kemelaratan. Walau
bagaimanapun India telah meningkatakan taraf ekonomi secara signifikan dalam dekade terakhir
ini. Tidak hanya tingkat kemiskinan yang telah berkurang, tetapi pertumbuhan ekonomi telah
meningkat dan berbagai macam indikator sosial telah meningkat seperti Harapan hidup dan
melek huruf.
Karena yang diterapkan di India berasal dari inggris, standar akuntansinya memusatkan
pada kebutuhan informasi daripara investor. Pada tahun 1949, ICAI (Institute of Chartered
Accountants in India) dibentuk sebagai organisasi nasional dari akuntan yang telah terdaftar di
India. Kemudian ASB (Accounting Standard Board) didirikan untuk merumuskan standard
akuntansi untuk membantu dewan ICAI dalam menciptakan dan merubah standar akuntansi di
India. ICAI adalah anggota penuh dari IFAC (International Federation of Accountants) dan
diharapkan untuk memajukan IFRS (International Financial Reporting Standards) dalam
mencapai harmonisasi internasional. Seperti contohnya, ASB memberikan pertimbangan
terhadap IAS (International Accounting Standards) dan IFRS yang diterbitkan oleh IASB
(international Accounting Standard Board) dan mencoba untuk mengimplementasikannya dalam
standar mereka sampai batas yang memungkinkan, mengingat keadaan di sekitar India.

10. Indonesia
Berdasarkan seajarah, sistem akuntansi Indonesia didasari oleh sistem akuntansi Belanda
sebagai hasil dari pengaruh Belanda di negeri ini. Tetapi, ikatan antara kedua negara rusak pada
pertengahan tahun 1900. Indonesia berubah mengikuti praktik akuntansi AS. IAI didirikan pada
tahun 1959 untuk membimbing akuntan Indonesia. Pada tahun 1970 IAI membuat kode dan
diadopsi oleh prinsip dan dasar akuntansi berdasarkan GAAP Aspada waktu itu. Sistem
akuntansi Indonesia berfokus kepada informasi yang dibutuhkan oleh investor diatas permintaan
pemerintah. Pada tahun 1974, IAI membuat komite standar akuntansi keuangan untuk membuat
standar keuangan.
Indonesia telah membuat perkembangan ekonomi yang bagus pada dekade yang lalu.
Tetapi krisis fiansial asia membuat negara ini menuju ke arah kemiskinan. Sejak krisis, Indonesia
telah melakukan beberapa perubahan sosial dan politik. Yang menghasilkan perubahan
substansial dan merubah drajat kemakmuran sperti sebelum krisis.
Pada tahun 1994, komite standar akuntansi keangan direkonstruksi sebagai aturan standar
akuntansi yang lebih independen atas IAI, sekarang DSAK bekerja untuk mengharmonisasi
standar akuntansi indonesia dengan IFRS.

PROSES PENERAPAN STANDAR AKUTANSI


Dalam mengukur tingkat pencapaian keberhasilan atas suatu kebijakan yang telah diambil oleh
pemerintah, memang membutuhkan proses yang cukup panjang, dengan kata lain kita belum bisa
berasumsi secara cepat dalam menilai hasil dari kebijakan yang telah di ambil oleh pemerintah.
Kendatipun reformasi memaksa terjadinya perubahan struktur (restrukturisasi) dengan
penyesuaian daerah otonom, dimana disadari pemerintahan tidak lagi bercorak korporatis dan
sentralistik pada kepemimpinan top executive di tangan bupati/wali kota. Politisasi birokrasi
yang masih cukup kental mewarnai dinamika otonomi daerah Hal ini, erat kaitannya juga dengan
kegagalan hubungan kelembagaan eksekutif dan legislatif, karena proses menguatnya political
society. Sunarsip ( 2001) mengemukakan bahwa terjadinya krisis ekonomi di Indonesia
disebabkan oleh tata kelola yang buruk ( bad governance ) pada sebagian besar pelaku ekonomi (
publik dan swasta ). Upaya yang dapat kita lakukan kita pada saat ini adalah dengan menciptakan
iklim yang baik baik dalam hal ekonomi, sosial, dan politik. Hal-hal tersebut tentunya hanya
dapat kita capai melalui pengembalian kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dengan
mencoba mewujudkan suatu pemerintahan yang bersih dan berwibawa atau yang dikenal dengan
istilah good governance. Oleh karena itu tuntutan terhadap terwujudnya good governance (tata
kelola yang baik) sangat diperlukan terutama diinstansi pemerintah. Penetapan UU No. 22 tahun
1999 dan Undang-Undang No. 25 tahun 1999 oleh pemerintah, mengenai Pemerintah Daerah
dan Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, membawa dampak pada
pemberlakuan otonomi bagi pemerintah daerah pada ruang lingkup yang lebih besar serta
akuntabilitas publik yang lebih nyata (Halim, 2001). Selanjutnya, Undang-Undang ini diganti
dan disempurnakan dengan Undang-Undang No. 32 tahun 2004 dan Undang-Undang No. 33
tahun 2004. Kedua undang-undang tersebut telah merubah akuntabilitas atau
pertanggungjawaban pemerintah daerah dari pertanggungjawaban vertikal (kepada pemerintah
pusat) ke pertanggungjawaban horisontal (kepada masyarakat melalui DPRD). Pada intinya
semua peraturan tersebut menginginkan adanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan
keuangan daerah. Namun, setelah empat tahun berlakunya paket undang-undang tersebut,
delapan tahun sejak otonomi yang luas kepada daerah, dan sepuluh tahun setelah reformasi,
hampir belum ada kemajuan signifikan dalam peningkatan transparansi dan akuntabilitas
keuangan Negara/Daerah. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) dalam tiga tahun
terakhir secara umum masih buruk (Siaran Pers, BPK RI, 23 Juni 2008). Kondisi ini semakin
memburuk, sebagaimana di ungkapkan dalam siaran pers BPK RI pada tanggal 15 Oktober 2008
yaitu: dilihat dari persentase LKPD yang mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)
dan Wajar Dengan Pengecualian (WDP) selama periode 2004-2007 semakin menurun setiap
tahunnya. Persentase LKPD yang mendapatkan opini WTP semakin berkurang dari 7% pada
tahun 2004 menjadi 5% pada tahun berikutnya dan hanya 1% pada tahun 2006 dan 2007.
Sebaliknya, LKPD dengan opini Tidak Memberikan Pendapat (TMP) semakin meningkat dari
2% pada tahun 2004 menjadi 17% pada tahun 2007 dan pada periode yang sama opini Tidak
Wajar (TW) naik dari 3% menjadi 19%. Selanjutnya hasil pemeriksaan BPK menunjukkan
bahwa pengelolaan keuangan negara/daerah yang dilakukan pemerintah dalam Tahun 2008
masih menunjukkan banyak kelemahan dan baru menunjukkan tanda-tanda perbaikan, BPK
memberikan opini WTP atas delapan Laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD), opini WDP
atas 217 LKPD, opini tidak wajar (TW) atas 21 LKPD, dan opini TMP atas 47 LKPD dari 293
LKPD Tahun 2008 yang telah diperiksa BPK pada Semester I Tahun 2009 (BPK, 2009).
Pembuatan laporan keuangan merupakan suatu bentuk kebutuhan akan adanya transparansi yang
menjadi syarat pendukung terhadap akuntabilitas berupa keterbukaan ( opennes ) atas aktivitas
pengelolaan sumber daya publik. Transparansi dapat dilakukan apabila ada kejelasan tugas dan
kewenangan, ketersediaan informasi terhadap publik, proses penganggaran yang terbuka, dan
jaminan integritas dari pihak independen mengenai perkiraan fiskal, informasi, dan
penjabarannya. (IMF, 1998 dalam Schiavo-Campo and Tomasi, 1999). Konsep Dasar Akuntansi
Pemerintahan 1. Entitas Pelaporan dan Pengguna Laporan Keuangan Entitas pelaporan adalah
unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut peraturan
perundang-undangan wajib menyampaikan laporan keuangan, yang terdiri atas; 1. Pemerintah
Pusat. 2. Pemda. 3. Satuan Organisasi di lingkungan pemerintah pusat / daerah. 4. Organisasi
lainnya, jika menurut peraturan perundang-undangan satuan organisasi dimaksud wajib
menyajikan laporan keuangan. 2. Peranan dan Tujuan Laporan Keuangan Setiap entitas
pelaporan mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil
yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan secara sistematis dan terstruktur pada suatu periode
pelaporan untuk kepentingan: Akuntabilitas, Manjemen,Transparansi, Keseimbangan,
antargenerasi. 3. Tujuan Laporan Keuangan Pelaporan keuangan pemerintah seharusnya
menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan
membuat keputusan, baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik. 4. Komponen Laporan
Keuangan Laporan Keuangan pokok terdiri atas :Laporan realisasi anggaran,Neraca,Laporan
Arus Kas,Catatan atas laporan keuangan. Selain laporan keuangan pokok tersebut, entitas
pelaporan diperkenankan menyajikan laporan kinerja keuangan dan laporan perubahan ekuitas.
Hubungan antara penerapan StandarAkuntansi Pemerintahan terhadap Good Governance Good
governance menghendaki pemerintahan dijalankan dengan mengikuti prinsip-prinsip
pengelolaan yang baik, seperti transparansi (keterbukaan), akuntabilitas, partisipasi, keadilan,
dan kemandirian, sehingga sumber daya negara yang berada dalam pengelolaan pemerintah
benar-benar mencapai tujuan sebesar besarnya untuk kemakmuran dan kemajuan rakyat dan
negara. Penerapan prinsip-prinsip good governance dalam penyelenggaraan negara tak lepas dari
masalah akuntabilitas dan tranparansi dalam pengelolaan keuangan negara dan daerah
(Cadbury,1992 yang dikutip Media Akuntansi 2000 dalam Sunarto,2003). Sebagian besar
penelitian tentang good governance di tingkat perusahaan dilakukan di Amerika dan negara-
negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) (Shleifer dan
Vishny, 1997). Penelitian dilakukan di negara yang sedang berkembang masih sangat sedikit.
Black (2001) berargumen bahwa pengaruh praktek good governance terhadap nilai perusahaan
akan lebih kuat di negara berkembang dibandingkan di negara maju. Hal tersebut dikarenakan
oleh lebih bervariasinya praktik good governance di negara berkembang dibandingkan negara
maju. Durnev dan Kim (2002) memberikan bukti bahwa praktik good governance lebih
bervariasi di negara yang memiliki hukum lebih lemah. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
merupakan standar yang harus diikuti dalam laporan keuangan instansi pemerintah pusat dan
pemerintah daerah. Pengguna laporan keuangan akan menggunakan SAP untuk memahami
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Laporan pertanggungjawaban keuangan
daerah (LPJ keuangan daerah) dan laporan pertanggungjawaban kinerja kepala daerah (LPJ
kinerja) berpengaruh positif dan signifikan terhadap atas akuntabilitas publik pemerintah daerah
dan penerapan IPSAS berpengaruh positif terhadap akuntabilitas publik pemerintah (Anondo,
2004). Kendala yang sering dihadapi dalam menerapkan SAP terkait dengan Good Governance
Kurangnya Komitmen dari seluruh elemen terkait dalam menerapkan prinsip tranparansi dan
akuntabilitas dalam menyelenggarakan pemerintahan. Penerapan Standar Akuntansi Sektor
publik yang belum diterapkan secara menyeluruh.
TEORI AKUTANSI

LEMBAGA PEMBUAT STANDAR AKUTANSI

Nama: Gede Edy Ekaputra

(1415351002)

Fakultas ekonomi dan bisnis

Universitas Udayana

2017