Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tingkah laku prososial adalah tingkah laku sosial positif yang menguntungkan,
yang ditujukan bagi kesejahteraan orang lain sehingga menjadikan kondisi fisik dan psikis
orang lain menjadi lebih baik, selain itu tindakan prososial dilakukan atas dasar sukarela
tanpa mengharapkan reward eksternal. Tingkah laku menolong ialah tingkah laku yang
memberi faedah atau keuntungan kepada orang lain. Pertolongan yang diberikan mungkin
hanya pertolongan biasa seperti memberikan tempat duduk yang sedang anda duduki
kepada orang tua yang berdiri di samping anda.
Tingkah laku prososial merujuk kepada tindakan sukarela yang bertujuan untuk
menolong atau memberi faedah kepada individu atau individu yang lain (Eisenberg and
Mussen 1989, ms 3). Merujuk kepada tindakan tersebut berbanding motivasi yang berhasil
antara tindakan tersebut. Tingkah laku prososial melibatkan berbagai aktiviti seperti
berkongsi menyelesaikan masalah orang lain, penyelamat dan penolong. Selalunya tingkah
laku prososial dikelilingi dengan altruisme. Tingkah laku prososial merujuk kepada
bentuk-bentuk aktiviti manakala altruisme adalah motivasi untuk menolong orang lain
dengan niat yang iklas dan memenuhi keperluan orang lain tanpa mengira bagaimana
tindakan tersebut akan memberi faedah kepadanya.
Berkowitz (1993), salah seorang yang di nilai paling kompeten dalam studi tentang
agresi, membedakan agresi sebagai tingkah laku, bagaimana diindikasikan oleh baron,
dengan agresi sebagai emosi yang bisa mengarah kepada tindakan agresif. Meskipun
semakin banyak peneliti memakai definisi sebagaimana yang ia kemukakan, bukan berarti
definisi ini diterima secara universal. Bahkan istilah agresi saat ini mempunyai bermacam-
macam arti, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun dalam pembicaraan sehari-hari.
Karena itu menurut berkowitz, kita tidak bisa selalu yakin dengan apa ynag di maksudkan
ketika seseorang disebut agresif atau sutu tindakan disebut kekerasan.

1
B. Rumusan Masalah
Untuk membicarakan perilaku menolong dan agresi mengingat materinya sangat luas dan
mengingat waktunya yang terbatas maka perkenankan kami dalam makalah ini hanya akan
menyampaikan pokok-pokok permasalahannya yang meliputi:
1. Apakah yang dimaksud dengan Perilaku Menolong ?
2. Apakah definisi dari Agresi ?

C. Tujuan
Tujuan di buatnya Makalah ini adalah untuk tahu mengenai :
1. Untuk memenuhi tugas kelompok bimbingan dan konseling social.
2. Untuk mengetahui pengertian perilaku menolong.
3. Untuk mengetahui definisi agresi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

BAB 12 PERILAKU MENOLONG

A. Definisi Altruisme dan Perilaku Prososial


Altruism (Altruisme) adalah tindakan sukarela untuk membantu
orang lain tanpa pamrih, atau ingin sekadar beramal baik (Schroeder, Penner, Dovidio, &
Piliavin, 1995). Berdasarkan definisi ini, apakah suatu tindakan bisa dikatakan altruistic
akan bergantung pada niat si penolong. Orang asing yang mempertaruhkan dia pergi begitu
saja tanpa pamit adalah orang yang benar-benar melakukan altruistic. Dalam buku Robert
A. Baron dan Donn Byrne yang berjudul Psikologi Sosial, menyatakan bahwa istilah
altruism kadang-kadang dugunakan secara bergantian dengan tingkah laku prososial,
tetapi altruism yang sejati adalah kepedulian yang tidak mementingkan diri sendiri
melainkan untuk kebaikan orang lain.

Prosocial behavior (perilaku prososial) adalah kategori yang lebih luas (Batson,
1998). Ia mencakup setiap tindakan yang membantu atau dirancang untuk membantu
orang lain, terlepas dari motif si penolong. Secara umum, istilah ini diaplikasikan pada
tindakan yang tidak menyediakan keuntungan langsung pada orang yang melakukan
tindakan tersebut, dan bahkan mungkin mengandung derajat resiko tertentu. Banyak
tindakan prososial bukan tindakan altruistic. Misalnya, jika anda menjadi relawan untuk
kerja amal guna menarik perhatian teman anda atau untuk menambah pengalaman guna
mencari kerja, maka anda tidak bertindak altruistic dalam pengertian istilah itu. Perilaku
prososial bisa mulai dari tindakan altruism tanpa pamrih sampai tindakan yang dimotivasi
oleh pamrih atau kepentingan pribadi.

Perilaku prososial dipengaruhi oleh tipe relasi antar-orang. Entah itu karena suka,
merasa berkewajiban, memiliki pamrih, atau empati, kita biasanya lebih sering membantu
orang yang kita kenal ketimbang orang yang yang tidak kita kenal. Meski demikian,
memberi pertolongan kepada orang asing bukanlah hal yang jarang terjadi. Banyak studi
telah mendokumentasikan kesediaan orang untuk membantu orang asing yang
membutuhkan pertolongan.

3
B. Perspektif Teoritis tentang Tindakan Menolong

1. Perspektif Evolusi
Ilmuwan telah lama mengamati perilaku social dikalangan spesies binatang.
Charles Darwin (1871) mencatat bahwa kelinci mengeluarkan suara ribut untuk
memperingatkan kelinci lain akan adanya predator. Beberapa jenis babon memiliki pola
khas dalam merespons ancaman. Jantan dominan mengambil sikap melindungi
kelompoknya dan bahkan menyerang pengancam. Saat kelompoknya sudah menjauh dari
ancaman, si jantan ini mempertaruhkan keselamatannya dengan tetap melindungi
kelompok. Eksistensi perilaku altruistic di kalangan binatang menimbulkan persoalan bagi
teori evolusi: jika anggots mengorbankan diri demi anggota lainnya, mereka kecil
kemungkinan akan tetap bertahan dan mewariskan gen mereka kepada keturunannya. Lalu
bagaimana predisposisi biologis untuk bertinfak altruistic bisa bertahan dikalangan hewan
dan manusia?
Menurut psikologi evolusioner, setiap cirri yang ditentukan oleh gen yang memiliki
nilai survival yang tinggi (yang membantu individu untuk bertahan) cenderung diwariskan
kepada keturunanannya. Tendensi untuk membantu yang lain mungkin memiliki nilai
survival yang tinggi bagi gen individual, tetapi tidak selalu untuk individual itu.
Bayangkan seekor burung yang mengasuh enam anak. Separuh dari gen di setiap anaknya
berasal dari induknya. Secara bersama, keenam anak itu punya gen tiga kali lebih banyak
ketimbang induknya. Jika si induk mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan anak-
anaknya, gen khususnya sudah direplikasi. Analisis serupa dapat dikenakan pada kerabat
lain yang memiliki presentase tertentu dari gen individual. Membantu kerabat berarti
membantu kelangsungan hidup gen individual untuk generasi selanjutnya dan karenanya
ini dapat dipahami berdasarkan prinsip biologi evolusi.
Ahli sosiobiologi Robert Trivers (1971) menekankan kemungkinan adanya basis
biologis dari altruism mutual ata resiprokal. Menurutnya, biaya/risiko potensial bagi
individual dalam memberi pertolongan kepada pihak lain akan diimbangi oleh kemngkinan
untuk mendapatkan pertolongan dari pihak lain. Akan tetapi, system saling tolong-
menolong ini terancam oleh penipu potensial yang menerima pertolongan namun tak
mau memberi pertolongan. Untuk meminimalkan penipuan ini, melalui seleksi alam,
muncul rasa bersalah dan tendnsi untuk saling membantu melalui cara-cara social seperti
hukuman atas orang yang tidak mengikuti aturan kelompok.

4
Pendekatan evolusi melahirkan beberapa prediksi. Misalnya, hewan akan sangat
membantu hewan lain yang memiliki keterkaitan genetic dengannya. Mereka akan segera
membantu kerabat dekat ketimbang kerebat jauh atau asing (Burnstein, Crandall, &
Kitayama, 1994). Teori ini juga memprediksikan bahwa orang tua atau induk akan lebih
altruistic kepada keturunan yang sehat ketimbang yang tak sehat. Studi-studi terhadap
manusia mendukung prediksi ini, meskipun evolusi bukan satu-satunya interpretasi untuk
temuan studi itu (Dovidio et al., 1991; Wbster, 2003).
Prediksi lain menyebutkan bahwa ibu biasanya akan lebih banyak membantu
anaknya ketimbang ayahnya. Alasannya adalah di banyak spesies, pria punya potensi
biologis untuk menjadi ayah dari banyak keturunan dan karenanya dapat meneruskan
gennya tanpa terlalu banyak berinvestasi di satu bayi saja. Wanita hanya dapat melahirkan
relative sedikit keturunan dan karenanya harus membantu keturunannya untuk berjuang
hidup guna meneruskan gennya.
Pendapat bahwa tindakan membantu pihak lain secara genetic adalah bagian dari
sifat manusia merupakan penndapat yang masih controversial (Batson, 1998). Belum
jelas bagaimana teori ini manunjukkan kemungkinan bahwa pemeliharaan diri tidak selalu
merupakan motif utama. Disposisi biologis ke arah sikap mementingkan diri dan agresi
mungkin berdampingan dengan disposisi biologis ke arah sikap membantu dan merawat
orang lain (Bell, 2001; Kottler, 2000).

2. Perspektif Sosiokultural
Kritik terhadap perspektis evolusi menyatakan bahwa factor-faktor social adalah
lebih penting ketimbang factor biologi dalam menentukan perilaku prososial dikalangan
manusia. Donald Campbell (1975) mengatakan bahwa evolusi genetik mungkinmembantu
menjelaskan beberapa perilaku prososial dasar seperti pengsuhan orang tua, namun ia
tidak berlaku untuk contoh ekstrem seperti aksi membantu orang asing yang sedang
kesulitan. Karena perilaku prososial umumnya bermanfaatnya bagi masyarakat, maka ia
menjadi bagian dari aturan atau norma social.

5
Kemiripan Kultural: Norma Dasar Tanggung Jawab, Resiprositas, dan keadilan.
Ada tiga norma social dasar yang lazim dalam masyarakat manusia. Pertama, norm of
social rensposibility (norma tanggung jawab social) menyatakan bahwa kita harus
membantu orang lain yang bergantung kepada kita. Orang tua diharuskan merawat anak-
anaknya dan agen social mungkin campur tang jika irang tua tidak menjalankan
kewajibannya itu. Guru diharuskan membantu siswanya; pelatih harus memerhatikan
timnya; dan sesama karyawan diharapkan saling membantu. Aturan moral dan kegamaan
di banyak masyarakat juga menekankan tugas untuk membantu orang lain. Terkadang
kewajiban ini dijadikan undang-undang atau hukum.
Kedua, norm of reciprocity (norma resiprositas) menyatakan bahwa kita harus
membantu orang lain yang pernah membantu kita. Beberapa studi menunjukkan bahwa
orang lebih cenderung membantu orang lain yang pernah membantu mereka. Dalam
sebuah studi, sepasang mahasiswa bekerja secara sendiri-sendiri untuk menyelesaikan
suatu tugas penilaian (Regan, 1968).
Ketiga, kelompok manusia juga mengembangkan norm of social justice (norma
keadilan social), aturan tentang keadilan dan distribusi sumber daya secara merata. Salah
satu prinsip keadilan adalah ekuitas (kesetaraan). Menurut prinsip ini, dua orang yang
memberi kontribusi yang sama harus mendapatkan imbalan yang sama. Jika satu orang
menerima lebih banyak daripada yang satunya, maka keduanya akan merasa tekanan untuk
memulihkan kesetaraan dengan meredistribusikan imbalan itu.
Banyak studi (misalnya Walster, Walster, & Berscheid, 1978) menunjukkan bahwa
orang yang diuntungkan berusaha memulihkan kesetaraan jika mereka bisa. Dalam
beberapa eksperimen, subjek riset memainkan game di mana satu orang , meski bukan
kesalahannya, kehilangan uang sedangkan partnernya memenangkan banyak uang
(Berscheid & Walster, 1967). Pada akhir permainan, pemenang (subjek riil) diberi
kesempatan untuk memberikan sebagiian kemenangannya kepada partner yang kalah ada
tendensi kuat untuk memberi sejumlah uang kepada yang kalah, meskipun pemenangnya
meraih kemangan secara sah. Sebaliknya, dalam kondisi dimana kedua partner sama-sama
menang, hanya ada sedikit kecenderungan untuk berbagi hadiah.

6
Norma-norma itu tanggung jawab social, resiprositas, dan keadilan social
memberikan basis cultural untuk perilaku prososial. Melalui proses sosialisasi, individu
mempelajari aturan ini dan berperilaku sesuai dengan pedoman perilaku prososial. Riset
menunjukkan bahwa orang cenderung membantu saudara dan kawannya ketimbang orang
asing. Ini dapat dijelaskan dalam term norma social: kita merasakan tanggung jawab yang
lebih besar atas orang yang dekat dengan kita, dan kita berasumsi bahwa mereka akan
membantu kita jika kita membutuhkan (Dovidio et al., 1991).

3. Perspektif Belajar
Perspektif ketiga menekankan pentingnya proses belajar untuk membantu orang
(Batson, 1998). Saat anak-anak tumbuh, mereka diajari untuk berbagi dan saling
menolong. Orang belajar menolong melalui penguatan, efek imbalan dan hukuman karena
membantu. Orang juga belajar melalui modeling, mengamati orang lain yang memberi
pertolongan.

a. Penguatan
Studi-studi menunjukkan bahwa anak cenderung membantu dan berbagi apabila
mereka diberi penghargaan atas perilaku prososialnya. Dalam kehidupan sehari-
hari, orang tua dan guru cenderung memberi pujian ketimbang memberi permen.
Riset menunjukkan bahwa beberapa bentuk pujian mungkin lebih efektif
ketimbang bentuk pujian lainnya.
Anak yang menerima pujian disposisional, yang menegaskan bahwa
dirinya memang orang yang suka menolong, lebih besar kemungkinannya untuk
berbagi ketimbang anak yang tidak menerima pujian. Pujian disposisional
tampaknya lebih efektif ketimbang pujian global, mungkin karena pujian ini
mendorong anak untuk memandang dirinya sebagai orang baik yang akan terus
menolong di masa depan.

7
b. Belajar Observasional
Melihat model prososial juga bisa jadi penting, seperti ditunjukkan dalam riset
terhadap acara televise anak. Misalnya, dalam sebuah studi anak kelas satu
diperlihatkan beberapa episode berbeda dari acara TV popular tentang anjing
bernama Lassie (Sprafkin, Liebert, & Poulos, 1975). Orang dewas juga dapat
dipengaruhi melalui model, seperti yang ditunjukkan dalam studi donor darah.
Dalam sebuah eksperimen, mahasiswi pertama-tama berbicara dengan wanita yang
ramah (yang sebenarnya adalah asisten periset) sebagai bagian dari studi interaksi
social (Rushton & Campbell, 1977).
Studi-studi tersebut memberikan bukti yang meyakinkan dari kekuatan
penguatan dan modeling dalam membentuk perilaku prososial. Orang
mengembangkan kebiasaan membantu dan mempelajari aturan tentang siapa yang
mesti ditolong dan kapan. Bagi anak-anak, perilaku prososial mungkin bergantung
pada imbalan eksternal dan persetujuan social/ tetapi semakin dewasa, tindakan
membantu mungkin sudah menjadi nilai yang diinternalisasikan, tan[a harus ada
insentif eksternal. Orang akan puas telah merealisasikan standar mereka sendiri dan
merasakan kebahagian saat melakukan amal yang baik.

4. Perspektif Pengambilan Keputusan


Dalam banyak situasi, tindakan menolong mungkin berasal dari proses
pengambilan keputusan yang lebih kompleks. Dari perspektif pengambilan keputusan,
tindakan menolong muncul sat individu memutuskan untuk memberi bantuan dan
kemudian mengambil tindakan (Latane & Darley, 1970). Langkah-langkah dalam
keputusan sebagai berikut: seseorang pertama-tam melihat ada sesuatu yang terjadi dan
memutuskan apakah bantuan perlu diberikan atau tidak. Jika bantuan diperlukan, orang itu
akan mempertimbangkan seberapa besar tanggung jawabnya untuk bertindak. Ketiga,
orang itu mungkin akan mengevaluasi imbalan dan biaya dari tindakan menolong atau
tidak menolong. Teakhir, seseorang harus memutuskan tipe bantuan apa yang dibutuhkan
dan bagaimana cara memberikannya.
a. Melihat Kebutuhan
Langkah krusial pertama dalam setiap tindakan prososial adalah
memerhatikan bahwa asa sesuatu yang sedang terjadi dan menetukan bahwa ada
yang perlu bantuan. Ketidakpastian adalah alasan utama mengapa orang tidak
memberi bantuan. Satu studi menemukan bahwa ketika mahasiswa mendengar ada
8
keadaan darurat yang jelas, seorang jatuh dari tangga dan menjerit kesakitan,
semua mahasiswa siap segera memberi pertolongan. Dalam kondisi lain, dimana
mahasiwa mendengar keadaan emergensi yang ambigu, suara sesuatu jatuh namun
tidak ada petunjuk verbal bahwa ada korban, pertolongan yang diberikan hanya 3-
persen (Clark & Word, 1972). Riset oleh Shotland dan Huston (1979)
mengidentifikasi lima karakteristik penting yang menyebabkan kita menganggap
ada keadaan bahaya.

1. Sesuatu terjadi secara mendadak dan tak terduga.


2. Ada ancaman bahaya yang jelas terhadap korban.
3. Bahaya terhadap korban mungkin meningkat kecuali ada orang yang menolong.
4. Korban tak berdaya dan perlu bantuan.
5. Beberapa intevensi dimungkinkan.

Interpretasi atas definisi situasi adalah factor penting yang memengaruhi


apakah kita akan memberi bantuan atau tidak. Shotland dan Straw (1976)
menemukan bahwa orang merespons secara berbeda terhadap suatu kejadian
perkelahian, tergantung apakah mereka menganggapnya sebagai pertakaian antar
pacar atau perkelahian antar orang asing. Dalam pertikaian riil di mana relasi antar
pihak yang bertikai tidak jelas, orang yang melihatna mungkin berasumsi itu dalah
pertikaian sepasang kekasih dan tidak mau turut campur. Meski reaksi ini patut
disayangkan, namun itu berarti bahwa kurangnya tindakan bantuan disebabkan
oleh kekeliruan dalam memahami situasi, bukan karena tidak bersedia membantu.
Persoalan serupa mungkin ada dalam hubungan kita dengan teman dan kerabat.
Jika kita tidak menyadari bahwa ada saudara yang menjalani tes untuk memeriksa
kemungkinan kanker, kita mungkin tidak memberi bantuan atau tidak memberi
dukungan emosional, bukan karena kurang perhatian namun karena kurang
informasi.

9
b. Mengambil Tanggung Jawab Personal
Langkah kedua dalam menentukan untuk memberi bantuan adalah
mengambil tanggung jawab personal. Salah satu sebab mengapa kita cenderung
lebih mau menolong anggota keluarga ketimbang orang asing adalah karena rasa
tanggung jawab personal kita yang lebih besar pada kesejahteraan keluarga kita.
Factor lain yang memengaruhi perasaan tanggung jawab adalah kompetensi. Kita
merasa lebih bertanggung jawab untuk mengintervensi jika kita punya
keterampilan untuk menolong secara efektif.

c. Menimbang Untung dan Rugi


Perspektif pengambilan keputusan mengatakan bahwa orang
mempertimbangkan keuntungan dan kerugian yang muncul dari tindakan
berpartisipasi, termasuk dalam membantu orang lain (Dovidio, Piliavin, Gaertner,
Schroeder, & Clark, 1991). Seseorang akan bertindak prososial jika dia
menganggap keuntungan (imbalan minus biaya) dari membantu melebihi
keuntungan dari tindakan membantu. Keuntungan dari tindakan membantu juga
memengaruhi keputusan kita. Semakin besar keuntungan yang Anda bayangkan,
semakin mungkin Anda membantu. Semakin pantas seseorang itu dibantu, semakin
besar kemungkinan Anda membantu.
Juga penting untuk mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan memberi
bantuan, termasuk kemungkinan kerugiam. Tidak membantu seseorang mungkiin
akan menyebabkan Anda merasa bersalah. Orang lain mungkin memandang Anda
sebagai orang yang tak suka menolong dan citra Anda jadi buruk. Anda mungkin
punya nilai umum yang menyatakan bahwa Anda harus membantu jika Anda bisa,
sehingga tindakan tak menolong berarti Anda tidak merealisasikan standar etika
Anda. Pemikiran-pemikiran semacam ini akan memengaruhi keputusan Anda.

10
Beberapa periset telah menguji model ini dan menemukan hasil yang
mendukung (lihat ulasan oleh Dovidio et al., 1991). Pertimbangan untung rugi jelas
memengaruhi tindakan membantu, setidaknya dalam beberapa situasi tertentu. Di
sisi lain, beberapa tindakan altruistic terjadi dengan cepat dan mungkin secara
impulsif. Orang yang segera melompat ke danau untuk menyelamatkan anak yang
tenggelam jelas tidak mempertimbangkan untung rugi dari tindakannya itu.
Tindakan semacam itu dimotivasi oleh emosi dasar dan nilai yang berkaitan
dengan nyawa manusia dan keberanian personal.

d. Memutuskan Cara Membantu dan Mengambil Tindakan


Langkah terakhir adalah menentukan tipe bantuan apa yang perlu diberikan
dan kapan mengambil tindakan itu. Dalam situasi darurat, keputusan sering diambil
dalam keadaan yang penuh tekanan, mendesak dan terkadang menimbulkan
bahaya. Penolong yang berniat baik tidak selalu bisa memberi bantuan atau
mungkin salah mengambil tindakan.
Analisos pengambilan keputusan menggarisbawahi banyak alasan mengapa
orang tidak memberi bantuan. Mereka mungkn tidak mengetahui ada problem atau
mungkin menganggap problemnya sepele. Mereka mungkin menganggap kerugian
membantu adalah terlalu besar. Mereka mungkin ingin membantu tetapi tidak bisa
melakukannya. atau mungkin mereka ragu, terjebak dalam ketidakpastian.

C. MEMBANTU ORANG ASING YANG MEMBUTUHKAN


a. Kehadiran Orang Lain
Hipotensis berbeda di berikan kepada psikolog sosial Bibb Latane dan john Darley
(1970). Mereka mengatakan bahwa kehadiran banyak orang itulah yang mungkin
menyebabkan kurangnya pertolongan. Mengapa kehadiran orang lain menghambat
tindakan menolong? Analisis mengambil keputusan memberikan beberapa penjelasan.
Salah satunya adalah diffusion of responsibility (difusi tanggu jawab) yang muncul akibat
kehadiran orang lain. Jika hanya satu orang menyaksikan korban yang menderita, dia
sepenuhnya bertanggu jawab untuk merespon situasi dan akan merasa bersalah jika tidak
campur tangan. Namun, jika ada beberapa orang yang hadir, bantuan bisa datang dari
beberapa sumber.

11
b. Kondisi lingkungan
Amato (1983) meneliti perilaku menolong di 55 komunitas Australia, mulai dari
desa kecil sampai kota besar. Untuk memastikan sampel perilaku prososial yang memadai,
lima tipe menolong yang berbeda di pelajari: mahasiswa meminta pejalan kaki untuk
menuliskan warna favorit sebagai bagian dari proyek kampus, seorang pejalan kaki secara
tak sengaa menjatuhkan amplop di pinggir jalan, permintaan sumbangan uang untuk
Multiple Sclerosis Sosial, seorang sales memberikan petunjuk dan minta tolong. Pada
empat dari lima ukuran pertolongan, persentase orang yang membantu secara signifikan
lebih besar dikota kecil ketimbang kota besar. Satu pengecualian adalah kasus amplop
yang jatuh, yang umumnya tidak membuiat orang membantu.
Riset menunjukan bahwa perilaku menolong berhubungan dengan ukuran kota. Tentu saja,
yang haus diingat adalah studi-studi ini hanya berhubungan dengan bantuan kepada oang
yang tak dikenal. Ada sdikit bukti bahwa penghuni kota besar kurang membantu keluarga
atau kawan. Banyak penjelasan yang diberikan untik menerangkan perilaku kurang
membantu dikota besar terhadap orang asing ini. Diantaranya adalah faktor anonimitas
kehidupan urban: ketakukan terhadapan kejahatan dikota besar, telalu banyaknya
pengalaman penghuni kota yang terus-menerus di bombardi oleh stimuli, termasuk
kehadiran orang lain, dan kemungkinan persaan tak berdaya saat menghadapi birokrasi
urban yang tidak responsif. Periset belum mengetahui penjelasan mana yang paling kuat.

c. Tekanan Waktu
Terkadang orang merasa terburu-buru untuk menolong. Contoh yang jelas dari efek
ini berasal dari eksperimen oleh Darley dan Batson(1973). Sebagain dari studi ini,
mahasiswa diminta berjalan kegedung lain, tempat mereka akan mendapat kuliah umum.
Beberapa di antarannya diminta santai karena acara baru akan dimulai bebrapa menit lagi.
Yang lain nya disuruh bergegas karena mereka sudah telat. Saat subjek menuju dari satu
gedung ke gedung tujuan, dia bertemu dengan lelaki yang jatuh terduduk, batuk-batuk, dan
mengerang kesakitan. Pertanyaan yang menarik adalah apakah subjek akan memberi
bantuan?

12
Yang menarik dalam studi ini adalah semua partisipan adalah mahasiswa agama.
Bagi mahasiswa lainnya topiknya tidak relevan dengan perilaku menolong, yakni jenis
pekerjaan teologis yang akan dicari mahasiswa selepas kuliah. Hasil studi ini menunjukan
bahwa tekanan waktu sangat mempengaruhi perilaku menolong. Dalam wawacara pasca-
eksperimen, semua mahasiswa ingat melihat korban. Namun hanya 10% mahasiswa yang
terburu-buru yang memberi pertolongan, sedangkan mahasiswa yang tidak buru-buru
mencapai 63%.
Periset menyatakan bahwa tekan waktu menyebabkan bebrapa orang mahasiswa
mengabaikan korban. Faktor lainnya mungkin adalah konflik tentang siapa yang
menolong, eksperiementer atau korban.

D. MEMBUAT KOMITMEN UNTUK MEMBANTU


Aktifitas sukarelawan adalah kegiatan yang direncanakan, dipertahankan dabn
membutuhkan lebih banyak waktu(Snyder dan Omoto, 2001). Organisasi relawan bukan
barang yang baru. Salah satu organisasi relawan pertama si Amerika adalah Bureau des
Pauvres (Office for the Poor) yang dirikan pada 1688 setehan kebakaran besar yang
menghancurkan rumah dan banyak pemukiman di New France (sekarang kanada). Kota
Quebec merespons dengan membentuk organisasi yang menyediakan makanan, pakaian,
perumahan, dan uang untuk para korban. Organisasi ini dijalankan oleh para relawan dan
dibiayai dari sumbangan masyarakat, dan terus memberi bantuan kepada orang miskin,
jompo dan cacat sampai 1700(Pancer dan Pratt, 1999).
1) Berbagai Motif Relawan
Apa yang memotivasi para relawan? Banyak relawan menekan pada nilai personal
seperti kasih sayang pada orang lain, keingin untuk menolong orang lyang kurang
beruntung, perhatian khusus pada kelompok atau komunitas. Ketika ditanya
mengapa mereka menjadi relawan untuk pederita AIDS, mereka memberi alasan
kewajiban kemanusian untuk membantu orang lain dan untuk membantu
komunitas gay (Snyder dan Omoto, 1992). Fungsi kedua dari tidakan sukarela
adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam untuk mempelajari
suatu kejadian sosial, mengeksplorasi kekuatan personal, mengembangan
keterampilan baru, dan belajar bekerja sama dengan berbagai macam orang. Motif
ketiga bisa berupa motif sosial, merefleksi keinginan untuk berteman, melakukan
aktivitas yang memiliki nilai signitifkan, atau mendapatkan penerimaan sosial.
Motif ke empat adalah pengembangan karier. Kegiatan sukarela mungkin
13
membantu orang merasa dibutuhkan atau menjadi orang yang penting, memperkuat
harga diri, atau bahkan mengembangkan kepribadian. Berbagai motif ini membantu
menjelaskan mengapa beberapa orang terus menjadi relawan selama jangka waktu
yang panjang dan sebagian lainnya tidak. Riset menemukan bahwa relawan
kemungkinan besar terus melakukan kegiatan amalnya apabila manfaat yang
mereka peroleh dari kegiatannya itu sesuai dengan motifnya . misalnya, anak sma
yang ingin menjadi dokter kemungkinan akan tetap menjadi relawan dirumah sakit
guna menambah pengalaman. Ringkasnya, alasan untuk menjadi relawan adalah
kompleks dan sering mengkombinasikan altruisme dan kepentingan diri. Kegiatan
menolong orang lain dan mengekspresikan nilai yang di anut adalah alasan-alasan
penting dibalik kesediaan menjadi relawan.

E. MEMBANTU KELUARGA DAN TEMAN


Ketika orang dewasa muda diminta untuk mendeskripsikan waktu yang pernah
mereka luangkan untuk membantu orang lain, kebanyakn mereka mengatakan memberi
bantuan kepada teman dan kerabat(Amato, 1990). Hanya 10% yang membantu untuk
orang asing. Bantuan yang diberikan kepada orang asing biasaanya adalah bantuan kasual
dan spontan menunjukan arah, membantu mengambil kan kertas yang jatuh, atau
memberikan tempat duduk di bis. Sebaliknya, sebagai besar yang diberikan kepada teman
dan kerabat adalah sudah direncanakan seperti membentu teman untuk pindah
keapartemen baru atau mengunjungin sodara yang sakit.
Bahkan anak kecil menunjukan ke mampuan untuk membantu orang yang mereka
kenal. Satu studi mengamatai anak usia 3-5 tahun (strayer, waering, dan rushton, 1979).
secara umum, anak melakukan 15 tindakn membantu setiap jam, mulai memberi mainan,
sampai menghibur kawan atau menolong guru. Riset menemukan juga bahwa anak yang
suka membentu adalah anak yang populer dikalangan teman-temanya (eisenberg dan
fabes, 1998).
Perawatan yang terjadi diantara teman dan kerabat di pengaruhi oleh gender.
Dimasalalu, keharusan menyusui dan faktor biologis lainnya jelas membentuk peran
pengasuhan wanitya terhadapa bayinya. Perawatan untuk anggota keluarga yang sudah tua
antara lain menuntun, menyiapkan makannan, memandikan, atau menjaga. Dalam bebrapa
kasus, nenek terlibat dalam pengasuhan dan perwatan cucunya. Adalah umum untuk istri
merawat suami nya saat usia sudah tua, bukan hanya karena suami cenderung lebih tua
tetapi juga karena rentang hidup lelaki lebih pendek ketimbang perempuan. wanita juga
14
cenderung mempertahan hubungan dengan sesama teman wanita sampai akhir hayat
bahwa sering saling membantu dan mendukung. Merawat orang yang dicintai dapat
menjadi sumber ketengan, kebanggan, dan kepuasan, dan mungkin memberi kontribusi
bagi kesehatan perawat(Brown, Nesse, Vionokur, dan Smith, 2003). Tetapi, perawat juga
bisa menjadi beban yang menekan (stephens dan frangs, 1999).
Tentu saja, deskripsi peran untuk wanita sebagai perawat bukan berarti
mengabaikan peran pria yang bisa menjadi perawat, bukan hanya melalui aspek finalsial
tetapi juga bantuan perhatian pada anak, istri, dan orang lain(kramer dan thomson, 2002).
Meski demikian, secara umum perawat lebih banyak dilakukan oleh wanita.

F. MENCARI DAN MENERIMA PERTOLONGAN


Kita telah fokus pada tindakan membantu orang lain. Perlu juga dipahami mengapa
orang terkadang enggan mencari pertolongan yang mereka butuhkan dan mengapa reaksi
terhadap pertolongan terkadang negative. Orang yang baru belajar berenang mungkin akan
berteriak minta tolong saat tenggelam. Disaat yang lain, kita kadang menolak dibantu.
Meski hampir bangkrut, seorang lelaki tak mau minta bantuan kepada orang tuanya. Untuk
memahami ini, kita bukan hanya harus mempertimbangkan manfaat meminta bantuan,
tetapi juga halangan psikologis yang menghambat keinginan untuk minta tolong (Vogel &
Wester, 2003). Perasaan kita terhadap pencarian dan penerimaan bantuan bisa sangat
bervariasi. Beberapa teori psikologi social berusaha menjelaskan reaksi-reaksi ini.

1. Teori Atribusi: Ancaman Terhadap Harga Diri

Menurut teori atribusi, orang termotivasi untuk memahami mengapa mereka perlu
bantuan dan mengapa orang lain menawarkan bantuan kepadanya. Jika orang dapat
mengatribusikan kebutuhannya ke kekuatan eksternal atau tak dapat dikontrol, bukan ke
ketidakmampuan personal, maka mereka akan bisa tetap mempertahankan harga diri yang
positif. Jika kita menganggap bahwa orang membantu kita karena mereka tulus dan
memerhatikan kita, maka kita mungkin menerimanya. Sebaliknya, jika penerimaan
bantuan mengimplikasikan bahwa kita tidak kompeten, tidak sukses atau tergantung, maka
harga diri kita bisa terancam (Fisher et al., 1982).

15
Norma Resiprositas dan Biaya Utang Budi

Member bantuan berarti pula bertukar sumber daya. Seperti yang kita lihat, ada
norma resiprositas cultural, yang menyatakan bahwa kita harus membantu orang
yang pernah membantu kita. Akibatnya, bantuan sering diapresiasi jika dapat
dibalas sehingga ada keseimbangan dalam hubungan. Orang kemungkinan
meminta bantuan jika mereka menganggap dirinya bisa membalas budi kelak
(Fisher et al., 1982). Sebaliknya, ketika pertukaran bantuan dalam suatu hubungan
adalah satu arah, maka ini menimbulkan utang budi yang dapat menciptakan
ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan. (Nadler, 1991).

2. Teori Reaktansi
Reactance theory (teori reaktansi) juga member penjelasan dalam soal bantu-
membantu. Menurut theory ini (Brehm, 1966), orang ingin memaksimalkan kebebasan
personalnya dalam memilih. Jika kita menganggap kebebasan kita terancam, kita sering
bereaksi negative, misalnya memusuhi. Keadaan psikologis yang tidak nyaman ini
dinamakna reaksi. Ancaman kehilangan kebebasan mungkin menyebabkan kita
menegaskan kembali kemandirian kita. Misalnya, ketika penerima bantuan asing
mengkritik kebijakan AS, mereka mungkin secara simbolis membuktikan independensinya
dan karenanya mereduksi perasaan reaktansi psikologis. Demikian pula, ketika anak
menolak bantuan orang tuanya, mereka mungkin bereaksi terhadap ancaman terhadap
otonomi personalnya.
Cara Baru Mendapatkan Bantuan : Komputer dan Kelompok Self-Help

Factor-faktor psikologi social juga menjelaskan popularitas dua sumber bantuan


kontemporer: komputer dan kelompok self-helf. Komputer menawarkan peluang
unik untuk mendapatkan bantuan dari mesin ketimbang dari manusia. Program
software komputer telah dikembangkan untuk mengajari berbagai macam bidang,
mulai dari pengejaan sampai catur. Program pengajaran ini member bantuan dan
saran kepada penggunanya dan menghilangkan rasa malu pada orang lain jika
ketahuan melakukan kekeliruan. Daya tarik bantuan computer ini diilustrasikan
dalam studi oleh Karabenick dan Knapp (1988). Dalam kelompok self-help, orang
dengan problem yang sama bekerja sama untuk saling membantu (Medvene, 1992).
Misalnya adalah kelompok remaja hamil, korban pelecehan, kelompok duda dan
janda, dan mahasiswa tua. Diperkirakan lebih dari 7 juta orang di AS adalah

16
anggota kelompok seperti ini.kelompok ini meminimalkan biaya penerimaan
bantuan dan menambah pengetahuan bahwa banyak pula orang yang memliki
problem yang sama. Internet juga memungkinkan orang untuk membangun
dukungan online kepada orang dengan persoalan yang sama.

Gender dan Pencarian Bantuan

Stereotip sering menggambarkan lelaki enggan minta tolong atau nasihat.


Gambaran seorang lelaki yang tersesat tetapi enggan bertanya adalah gambaran
yang umum. Riset menunjukkan bahwa ada beberapa penyebab dari citra ini (Addis
& Mahalik, 2003). Lelaki cenderung enggan mencari bantuan professional dari
dokter atau psikoterapis. Meski lelaki lebih mungkin ketimbang wanita untuk
terkena masalah narkoba, namun mereka lebih sedikit kemungkinannya ketimbang
wanita untuk mencari bantuan guna mengatasi problem ini. Salah satu interpretasi
dari temuan ini menyebutkan bahwa sosialisasi pria lebih menekankan pada
kejantanan dan kemandirian, sehingga mereka merasa malu jika minta bantuan.
Atlet pria, misalnya, akan dipuji jika tetap main meski sakit atau cedera, dan semua
pria akan enggan mengakui kelemahannya. Seperti dijelaskan oleh Addis dan
Mahalik (2003), lelaki enggan minta bantuan jika teman-temannya memuji
ketangguhan daan kemandirian, jika takut diejek atau takut dianggap lemah,
abnormal, atau jika mereka takut kehilangan kebebasan. Meski hal-hal semacam ini
memengaruhi pria dan wanita, pesan cultural tentang gender mungkin lebih
menentukan dan berpengaruh.

al-Maidah Ayat 2





:

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

BAB 13

17
AGRESI

A. AGRESI

Para ilmuwan telah lama memperdebatkan akar kekerasan. Freud (1930) berasumsi
bahwa kita memilki naluri untuk bertindak agresif. Menurut teori insting kematian
(thanatos) yang digagasnya, agresi mungkin diarahkan pada diri sendiri atau orang lain.
Meski freud mengakui bahwa agresi dapat dikontrol, dia berpendapat bahwa agresi tidak
bisa dieliminasi, karena agresi adalah sifat alamiah manusia. meski kebanyakan ilmuwan
tak lagi menerima ide bahwa agresi berasal dari tendensi yang juga dimilki oleh spesies
lainnya (Potegal & Knutson, 1994). Para ahli sosiobiologi berpendapat bahwa banyak
aspek dari perilaku social, termasuk agresi, dapat dipahami dalam term evolusi (Buss,
1996 ; Buss & Kenrick, 1998). Karena agresi bisaa membuat jantan memperoleh betina
pasangan, dan membantu betina melindungi anak-anaknya, maka prinsip seleksi alam pasti
beroperasi untuk mendukung beberapa bentuk agresi tertentu.

Agresi manusia lebih kompleks dan bentuknya berbeda dengan agresi hewan, dan
ia sering terjadi dalam konteks social yang berbeda yang diatur oleh norma social yang
berbeda. Konsekuensinya, perspektif sosiobiologi mungkin memberikan pemahaman dasar
agresi manusia, namun bukan teori yang memadai untuk menjelaskan perilaku agresi
manusia. Tampaknya ada komponen genetic dalam agresi manusia (Miles & Carey, 1997)
dan dalam kriminalitas (DiLala &Gottesman, 1991; Stolberg, 1993), karena tipe perilaku
agresi dan antisocial tertentu jelas ada didaalam garis keturunan suatu keluarga (Miles &
Carey, 1997). Agresi cenderung stabil dalam rentang hidup; orang yang relatif tidak
agresif cenderung tetap demikian, dan orang yang sangat agresif cenderung tetap agresif
sampai tua (Huesmann & Moise,2000). Meski aada signifikansi dari dasar genetic dan
biokimia dari perilaku agresif, namun jelas bahwa faktor social juga berpengaruh terhadap
ekspresi agresi manusia.

B. DEFINISI AGRESI

18
Definisi paling sederhana untuk agresi dan didukung oleh pendekatan behavioris
atau belajar, adalah bahwa agresi adalah setiap tindakan yang menyakiti atau melukai
orang lain. Tetapi definisi ini mengabaikan niat orang yang melakukan tindakan, dan
faktor ini sangatlah penting. Jika kita mengabaikan niat, beberapa tindakan yang diniatkan
untuk menyakiti orang lain mungkin tak disebut agresif karena tindakan itu ternyata tidak
membahayakan.

Jadi, kita perlu membedakan perilaku menyakiti dengan niat menyakiti. Aggression
(agresi) disini didefinisikan sebagai setiap tindakan yang dimaksudkan untuk menyakiti
orang lain. Sering kali sulit untuk mengetahui niat orang lain, namun kita akan menerima
keterbatasan ini karena kita mendefinisikan agresi secara bermakna apabila kita masukkan
faktor niat.

Perbedaan kedua yang perlu ditarik adalah antisocial aggression (agresi anti-
sosial) dengan prosocial aggression (agresi prososial). Biasanya kita menganggap agresi
sebagai tindakan buruk; tetapi beberapa tindakan agresi adalah baik. Banyak tindakan
agresif ditetapkan oleh norma social dan karenanya dianggap prososial: tindakan
menegakkan hokum, disiplin yang tepat, dan mematuhi komandan dimasa perang
dianggap sebagai suatu keharusan.

Beberapa tindakan agresif yang berada diantara agresi antisocial dan prososial
dapat disebut sebagai sanctioned aggression (agresi yang disetujui). Jenis agresi ini
termasuk tindakan yang tidak diharuskan oleh norma social tetapi ada didalam batas-
batasnya; tindakan ini tidak melanggar standard moral yang diterima luas.

Perbedaan ketiga adalah antara perilaku agresif dengan perasaan agresif seperti
anger (amarah). Perilaku nyata kita tidak selalu merefleksikan perasaan batin kita.
Seseorang mungkin dalam hatinya amat marah namun tidak berusaha untuk melampiaskan
dalm bentuk tindakan menyakiti orang lain.

Juga dengan firman-Nya Taala:

Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan
Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. [Ali Imrn/3 : 134].

C. SUMBER AMARAH

19
Kita semua pernah marah, dan setiap orang sewaktu-waktu pernah menyakiti orang
lain. Kebanyakan orang merasa pernah marah sekali atau sedikit marah beberapa kali
dalam seminggu atau dalam sehari (Averill, 1083). Ada 2 faktor penyebab amarah yaitu
serangan dan frustasi.
a. Serangan
Salah satu sumber paling umum dari kemarahan adalah serangan dari orang
lain. Bayangkan saja anda sedang berhenti di lampu merah, dan pengemudi
dibelakang anda membunyikan klakson berkali-kali saat lampu merah berganti
hijau. Dalam kasus ini seseorang telah melakukan hal yang tak menyenangkan
atau menjengkelkan bisa juga disebut sebagai serangan, tergantung pada
bagaimana anda bereaksi.
Orang sering merespon serangan dengan balas dendam, darah dibayar darah.
Respon ini dapat memicu eskalasi agresi. Perang antar geng sering kali diawali
dengan sedikit ejekan dan diakhiri dengan pembunuhan. Kasus kekerasan
dalam keluarga terkadang melibatkan tidak hanya satu aggressor dan satu
korban, tetapi pola kekerasan matual antara sepasang sumi istri dan anak
(Starus, Gelles, & Steinmetz, 1980). Serangan memicu balasan, dan kekerasan
bertambah.
b. Frustasi
Frustration (frustasi) (Geen, 1998). Frustasi berasal dari terhambatnya atau
dicegahnya upaya untuk mencapai tujuan. Ketika seseorang ingin pergi ke
suatu tempat, melakukan suatu tindakan, atau mendapatkan sesuatu tetapi di
cegah atau terhambat untuk mencapai maksudnya itu, orang itu besar
kemungkinan akan merasakan frustasi. Frustasi ini kemungkinan melahirkan
agresi, mungkin dengan agresi bisa meringakan emosi negative (Bushman,
Baumeister &phillips, 2001).
c. Ekspetasi pembalasan
Faktor lain yang memungkinkan memperbesar siklus agresi adalah motivasi
untuk balas dendam. Orang yang mampu balas dendam mungkin lebih lama
marahnya terhadap banyak hal. Sebaliknya jika tidak ada ekspektasi
pembalasan maka tidak mengingat-ingat penyebab kemarahan (taylor,1992).
d. Kompetisi
Deutsch (1993)ia menunjukkan bagaimana agresi mungkin dipicu oleh situasi.
Faktor situasi mungkin penting dalama memunculkan agresi pada diri orang
20
yang mudah marah. Misalnya, lelaki yang suka marah yakni berpembawaan
agresif sekali tampaknya lebih banyaak memiliki jaringan asosiasi yang
agresinya. Akibatnya adalah agresi lebih mudah dipicu oleh situasi yang
memperkuat kecenderungan agresi (Bushman, 1996).

D. PERILAKU AGRESIF
Apa hubungan marah dengan agresi? Serangan dan frustasi cenderung membuat
orang marah (Geen, 1998). Namun, oraang yang marah tidak selalu bertindak agresif.

a. Belajar menjadi agresif


Mekanisme utama menentukan perilaku agresi manusia adalah proses belajar
masa lalu (Miles & Carey, 1997). Bayi yang baru lahir mengekpresikan
perasaan agresif secara imflusif. Tetapi saat sudah dewasa implus kemarahan
dan reaksi agresi ini bisa dikontrol.
Imitasi semua orang terutama anak-anak punya tedensi untuk meniru orang
lain. Anak melihat orang makan dengan garpu akan mencoba menirukannya.
Jadi, perilaku agresif anak dibentuk dan oleh apa yan diamatinya. Orang tua
biasanya menjadi model utama bagi si anak pada masa-masa awal
perkembangan.
Penguatan (reinforcement) ketika perilaku tertentu diberi penghargaan kita
cenderung mengulang perilaku tersebut dimasa depan. Jika perilaku dihukum
maka kita cenderung tidak akan mengulanginya.

b. Atribusi
Jika orang sudah memahami penyebab sebelum mereka frustasi, mereka lebih
kecil kemungkinannya untuk marah dan menjadi agresif. Menjelaskan alasan
yang baik setelah itu, saat orang sudah panas kemungkinan tidak banyak
menurunkan amarah (Johnson & Rule,1986). Kekerasan dalam keluarga sering
terjadi karena adu mulut yang panas tanpa ada pemikiran tentang alasan dibalik
tindakan salah satu pihak. Dalam kasus ini, penjelasan alasan mungkin sudah
terlambat dan tidak afektik saat suasana sudah panas. Orang terkadang bisa
membunuh dalam api kemarahan yang meluap-luap.

c. Atribusi dan Agresi Kronis


21
Agresi tetap stabil dari waktu kewaktu (Olweus, 1979). Anak yang agresif
ketika masuk sekolah cenderung akan terus agresif disepanjang tahun pertama
sekolah. Bias atribusi atas niat, pada gilirannya, akan menimbulkan perilaku
balas dendam. Karena anak yang agresif sering salah menafsirkan niat orang
lain, mereka merasa benar saat membalas dengan agresifnya.

d. Skema agresi
Skema adalah seperangkat keyakinan yang terorganisir dan terstruktur
mengenai beberapa dominan kehidupan.

e. Kultur dan Agresi


Menurut kultur kehormatan kekerasan adalah dibenarkan hanya untuk
melindungi diri sendiri, melindungi keluarga, dan menghadapi serangan
(Fischer, 1989). Dimana seseorang perlu membela harga dirinya dan
reputasinya agar hartanya tidak dingganggu. Jika ada pelanggaran atas dirinya,
si pelanggar harus diberi pelajaran keras bahwa gangguan atas diri dan hartanya
adalah tindakan yang tidak di toleransi.

f. Model umum perilaku agresif


Model agresi afektif umum mengintergrasikan apa yang dikenal dari akar
agresi. Akar agresi ini antara lain perbedaan individual seperti sikap dan ciri
personalitas, faktor kultural seperti kehormatan, faktor situasi seperti cuaca atau
ketersedian senjata.

g. Agresi instrumental
Tak semua agresi dipicu oleh kemarahan. Agresi instrumental terjadi saat
seseorang menggunakan agresi untuk mendapatkan tujuan dengan cara melukai
pihak lain, bahkan saat dia tidak mara. Seperti petinju melukai
lawannya,pembunuh bayaran melakukan pembunuhan demi uang, bukan
karena marah.

h. Kekerasan yang menulaar dan deindividuasi

22
Perilaku mob (gerombolan) adalaha contoh lain dari kekerasan yang menular.
Contohnya tauran antar pelajar.

E. REDUKSI PERILAKU AGRESIF


Teknik reduksi perilaku agresi :
a. Hukuman dan pembalasan
Kekuatan akan hukuman dan pembalasan taampaknya memicu aksi kontra-
agresi. Orang yang diserang cenderung membalas penyerangnya, meski
pembalasan itu akan menimbulkan serangan lagi (Dengerink, Schnedler &
Covey, 1978)

b. Mengurangi frustasi dan serangan


Belajar menahan diri adalah belajar mengontrol perilaku agresifnya.
Seperti abad ke-19 kehidupan di AS sering tanpa ada control komunitas
atas kekerasan atau aparat kepolisian akibatnya orang mudah
menyerang dan membalas menyerang.
Distraksi adalah mengalihkan perhatian dan memikirkan hal lain.
Memikirkan sumber kemarahan akan membesar rasa marah, distraksi
tidak memperbesar rasa marah, namun tidak selalu berhasil (Busman,
2002).
Kecemasan agresif adalah tak semua orang punya jumlah aggression
anxiety (kecemasan agresi) yang sama, umumnya wanita mempunyai
lebih banyak dari pada pria, tergantung upaya penahan diri yang sudah
mereka kuasai.
Petunjuk rasa sakit dapat mereduksi perilaku agresif dalam semua
kondisi kecuali aggressor sedang marah berat, ia akan menambah
serangannya. Misalnya lebih mudah mengebom musuh dari jarak jauh
dibandingkan menyerang dari dekat. Ketika korban jauh atau tidak
dikenal agresi akan lebih mudah muncul karena tidak ada petunjuk rasa
sakit. Sebaliknya, semakin dekat dengan korban bisa jadi penyerang
berempati dengan penderitaan korban dan cenderung akan mereduksi
agresi.

23
Alkohol dan narkoba kebanyakan studi menunjukkan bahwa konsumsi
alkohol umumnya menaikan agresi (Hull & bond, 1986). Pemakai
mariyuana menyimpulkan tidak memperbesar kekerasan. Berbeda
dengan obat lain seperti PCP (anjel dust), methamphtemines, sabu-sabu
tampaknya memicu agresi.

c. Agresi yang dialihkan


Kita sering frustasi atau jengkel kepada seseorang tetapi tidak mampu
membalas orang itu, orang itu mungkin terlalu kuat atau sulit ditemui. Kita
mengeksprestasikan dengan cara displaced aggression yaini ekspresi agresi
terhadap target pengganti. Secara umum agresi paling mungkin diarahkan
kepada sasaran yang dianggap lemah dan kurang berbahaya. Misalnya, anak
yang jengkel kepada orang tua atau kakaknya dia mengalihkan kepada
bonekanya dengan memukuli karena boneka tidak bisa membalas.

d. Katarsis
Ketika marah sudah dilampiaskan, peluang agresi lanjutan mungkin berkurang
Freud menyebutnya catharsis. Katarsis semacam mengeluarkan uap atau
keluar dari system anda. Misalnya jika orang membuat anda jengkel berkali-
kali mengklakson, anda mungkin merasa marah. Dan bisa saja pada lampu
merah berikutnya anda bertemu dengan pengendara tadi dan anda berada di
belakang mobil tadi, anda akan membalas mengklaksonnya, dan level
kemarahan anda akan berkurang.

e. Agresi ditempat kerja


Faktor yang mempengaruhi agresi ditempat kerja adalah faktor yang
memengaruhi agresi, dari segi individual, konsumsi alcohol dan bias
atribusional permusuhan dapat menaikan seseorang menjadi agresif. Anggapan
bahwa situasi tempat kerja yang tidak adil atau atasan terlalu banyak control
bisa menaikan terjadinya insiden agresi.

24
f. Kekerasan di sekolah
Sekolah bisa saja menjadi tembat yang berbahaya untuk saat ini, seperti
penembakan brutaldi sekolah adalah kasus yang menjadi perhatian serius.

F. KEKERASAN DI MEDIA

Diasumsikan secara umum bahwa kekerasan di media memicu orang untuk


berperilaku agresif. National Institute of Mental Health meminta sekelompok ilmuwan
behavioral untuk mengevaluasi efek kekerasan pada acara televisi. Kali ini komite itu
menyimpulkan bahwa Konsesus di kebanyakan komunitas riset adalah bahwa kekerasan
dalam televisi menimbulkan prilaku agresif pada anak dan remaja yang menonton acara
kekerasan itu... Hubungan kausalnya antara kekerasan di televisi dengan prilaku agresif
kini tampak sudah jelas. Ada banyak teori tentang bagaimana dan mengapa kekerasan
media mempengaruhi perilaku. Misalnya, teori belajar menekankan bahwa model agresi
mengajari pemirsanya untuk melakukan kekerasan melalui imitasi. Ide yang terkait
menyatakan bahwa anak belajar skrip agresi dari media. Kejadian-kejadian dimasa dewasa
memunculkan ingatan itu dan melahirkan perilaku agresif (Berkowitz, 1984; Huesmann,
1988). Misalnya, salah satu skrip umum di media adalah tokoh jahat memprovokasi tokoh
baik, yang kemudian si tokoh baik ini membalas dendam. Banyak kekerasan di media
menunjukkan dukungan pada kekerasan ketimbang menentangnya, seperti dalam kisah
tokoh baik yang balas dendam. Melihat kekerasan seperti itu menyebabkan upaya
menahan diri diabaikan sehingga individu dapat bertindak lebih agresif. Akan membahas
tiga tipe riset: eksperimen laboratorium, survei korelasional, dan field exsperiments
(eksperimen lapangan).

1. Eksperimen Laboratorium

Dalam eksperimen laboratorium, menonton aksi agresi biasanya menaikkan


perilaku agresif. Kekerasan media memperkuat materi kekerasan dalam ingatan, dan jika
diaktifkan, ia mungkin akan segera memunculkan perilaku agresif. Kondisi pemicu di
laboratorium adalah kondisi hasil rekayasa dan berlangsung sebentar. Ia tidak banyak
memberi kesempatan untuk adanya pembalasan atau distraksi. Periset telah melengkapi
analisis eksperimen laboratorium ini dan membandingkannya dengan agresi dalam studi di
dunia nyata. Misalnya, baik situasi laboratorium maupun dunia nyata, orang lebih mungkin
menyerang apabila mereka diprovokasi, sedang mabuk, pernah melihat kekerasan dimedia,

25
atau berkesempatan melakukan agresi tanpa diketahui identitasnya. Dan di kedua situasi
itu lelaki melakukan lebih banyak agresi dibandingkn dengan wanita, dan berbagai ciri
agresivitas diasosiasikan dengan tindakan agresif di kedua setting itu. Implikasi yang jelas
dari sini adalah bahwa penelitian laboratorium merefleksikan banyak kondisi yang
biasanya terjadi dikehidupan nyata sehari-hari.

2. Survei Korelasional

Dalam correlational research ( survei korelasional) adalah untuk mengukur dua


variabel dan menentukan apakah keduanya saling terkait. Dalam keseluruhan hanya ada
sedikit korelasi antara menonton kekerasan dan perilaku agresif selanjutnya, tetapi
korelasi itu positif (Freedman, 1984; Friedrich Cofer & Huston, 1986). Korelasi ini dapat
stabil sampai 22 tahun. Misalnya, dalam sebuah studi, menonton kekerasan TV pada usia 8
tahun akan menimbulkan perilaku agresif di usia 30 tahun. Lebih jauh, semakin anak
sering menonton acara kekerasan pada usia 8 tahun, semakin serius kejahatan yang
dilakukan individu itu pada usia 30 tahun (Eron, 1987). Jika anak yang paling banyak
melihat kekerasan adalah yang paling agresif, efek menonton tentunya berakumulasii
setiap tahun. Karena itu, korelasi antara melihat kekerasan dan perilaku agresif seharusnya
meningkat seiringnya dengan bertambah usia. Tetapi, dalam studi longitudinal, ini
umumunya tidak terjadi: Korelasi antara menonton kekerasan dengan perilaku agresif
relatif sama pada setiap level usia. Jadi, banyak menonton televisi secara umum mungkin
lebih banyak dilakukan oleh anak yang sangat agresif. Jelas bahwa mayoritas riset efek
pengembaran kekerasan di media terhadap perilaku agresfi lebih banyak dilakukan pada
kalangan lelaki, anak maupun dewasa. Sebagian dari alasan bias gender ini berasal dari
fakta bahwa lelaki cendrung lebih mungkin melakukan tindak agresi fisik dibandingkan
wanita.

3. Field Eksperiments (eksperimen lapangan)

Dalam field eksperiments (eksperimen lapangan) studi dimana variabel secara


sistematis dimanipulasi dan diukur dalam kehidupan riil non laboratorium.

26
G. KEKERASAN SEKSUAL dan MEDIA

Banyak berpendapat bahwa pongrafi melecehkan wanita dan mendorong koersi dan
kekerasan seksual, setidaknya pada beberapa individu. Dalam survei yang menilai reaksi
publik terhadap berbagai bentuk media berisi kekerasan dan seksual, mayoritas responden
mendukung sensor terhadap media bermateri kekerasan seksual (71 hingg 77 persen), dan
hanya separuh yang mendukung sensor media nonseksual, dan hanya sepertiga yang
mendukung film yang eksplisit secara seksual. Kekerasan seks dimedia meningkat
kekerasan seksual melalui imitasi , asosiasi kesenangan seksual dengan kekerasan dan
disinhibisi. Ada dua macam kekerasan yaitu erotika kekerasan dan erotika non kekerasan.

1) Erotika Kekerasan

Erotika adalah bentuk karya yang baik terkait langsung atau tidak langsung
dengan seksualitas dan dapat menimbulkan gairah seksual. Misalnya, tulisan dan
gambar. Jadi kekerasan erotis mungkin juga nemberi kontribusi pada
desensitiasi pria terhadap kekerasan atas wanita. Ini mungkin menyebabkan
sikap tak peduli atau merendahkan wanita dan karenanya menyebabkan prilaku
seks paksa lebih diterima. Banyak studi menunjukkan bahwa melihat kekerasan
seksual membuat kita lebih menerima kekerasan terhadap wanita dan memberi
kontribusi pada penerimaan mitos bahwa wanita sering senang dipaksa untuk
melakukan berbagai macam tindakan seksual atau bahkan senang diperkosa.

2) Erotika Non-Kekerasan

Penggunaan paksaan bukan tema umum dalam fantasi seksual lelaki atau
dalam materi erotis yang sering mereka lihat. Bagi kebanyakan pria, fantasi seks
suka-sama-suka atau fantasi voyeuristic adalah lebih umum. Mungkin bahwa
erotika non kekerasan menimbulkan koersi seksual dan agresi. Erotika ini
mungkin meningkatkan dehumanisasi wanita dengan memperlakukan mereka
hanya sebagai objek seks, sebagai bawahan lelaki, sebagai objek kepuasan
seksual semata. Konsekuensinya, erotika semacam itu mungkin mendorong pria
untuk mencari wanita dunia seks saja.

27
H. KEKERASAN ORANG DEKAT

Ada beberapa bentuk spesifikasi dari prilaku agresif dikalangan orang dekat.Bentuk
itu adalah kekerasan rumah tangga, perkosaan, dan pelecehan seksual.

1) Kekerasan Domestik/Rumah Tangga


Domestic violence (kekerasan rumah tangga) adalah tindak kekerasan yang
dilakukan oleh satu anggota keluarga kepada anggota lainnya.
2) Pemerkosaan
Rape (pemerkosaan) adalah aktivitas seksual paksa tanpa persetujuan partner
dan kejahatan agresi dan kekuasaan, melibatkan kebutuhan pria untuk
menguasai dan mendominasi.
3) Pelecehan Seksual
Sexual Harassment (pelecehan seksual) yaitu pendekatan seksual yang tidak
diinginkan, permintaan aktivitas seksual yang tidak diinginkan, dan perilaku
seksual lainnya yang mengandung intimidasi atau bersifat ofensif.

28
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Tingkah laku Prososial (Prosocial behavior) adalah segala tindakan menolong yang
menguntungkan orang lain, tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada
orang yang melakukannya, dan mungkin membahayakan dirinya sendiri. Wispe (1981)
tingkah laku prososial adalah tingkah laku yang mempunyai konsekuensi sosial positif
yaitu menambah kondisi fisik dan psikis orang lain menjadi lebih baik.
Dalam perilaku prososial terdapat beberapa aspek-aspek seperti berbagai,
menolong, kerja sama, bertindak jujur, berderma, dan mempertimbangkan kesejahteraan
orang lain. Ketika dihadapi pada suatu situasi darurat, seorang bystander melewati lima
langkah penting yang meliputi pengambilan keputusan yang dapat menghambat atau
memberi peluang terjadinya tanggapan prososial. Dia harus menyadari adanya situasi
darurat, secara tepat menginterpretasikan apa yang sedang terjadi, menerima tanggung
jawab untuk menolong, memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk
menolong, dan kemudian benar-benar mengambil keputusan untuk memberi bantuan.
emosional yang positif dan negatif dapat meningkatkan atau menghambat
tingkah laku prososial, tergantung pada faktor-faktor spesifik dalam situasi tertentu dan
pada bentuk bantuan yang dibutuhkan. Perbedaan individu dalam tingkah laku altruistik
sebagian besar disebabkan oleh empati, tanggapan kompleks yang meliputi komponen
afektif maupun komponen kognitif. Derajat seseorang mampu berespons dengan empati
tergantung pada faktor genetis dan pengalaman belajar.

a. Agresi adalah tingkah laku individu ang di tunjukan untuk melukai atau
mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut
b. Dengan agresi sebagai emosi yang bisa mengarah kepada tindakan-tindakan
agresif, berkowitz membedakan agresi dalam dua macam, yakni agresi instruresi di bagi
dalam mental dan agresi benci.
c. Teori-teori tentang agresi di bagi dalam dua kategori utama yaitu teori-teori
yang berpandangan bahwa agresi bersifat naluriah atau merupakan kodrat bawaan
manusia.
d. Mengendalikan emosi itu penting. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa emosi
mempunyai kemampuan untuk mengomunikasikan diri kepada orang lain.

29
e. Pada dasarnya, emosi bukan sekedar suatu reaksi umum, namun merupakan reaksi
spesifik pula.
f. Fenomena peningkatan tingkah laku delinkuen sebagai akibat perang pada
masyarakat.
g. Manusia bersifat damai hanya terdapat manusia lain dalam kelompok kecinya saja,
misalnya terhadap sesama anggota clan. Sebaliknya manusia memusuhi orang-orang dari
luar kelompoknya dan ingin menghancurkan mereka untuk mempertahankan eksistensi
kelompoknya sendiri.

30