Anda di halaman 1dari 9

http://alintangcahyani.blogspot.co.

id/2015/10/arge
ntometri.html. 22 september 2017

Argentometri
Pengertian
Metoda Volumetri dengan menggunakan lar. AgNO3 sbg pereaksi utama, dengan dasar
reaksi pembentukan endapan (presipitimetri)
Syarat Argentometri
Ksp endapan harus kecil shg mudah terbentuk dan mantap
Reaksi pembentukan endapan harus cepat
Hasil titrasi tidak menyimpang akibat adsorbsi/kopresipitimetri
TA harus teramati dan tajam
Hubungan KSP Dengan Pembentukan Endapan
Reaksi argentometri:
NaCl(aq) + AgNO3(aq) AgCl(s) + NaNO3
AgCl(s) Ag+(aq) + Cl-(aq)
Ksp s s
S = solubility/kelarutan endapan dlm pelarut murni
Ksp = Konstanta Solubility Product/ hasil kali kelarutan
Contoh Soal
Hitung kelarutan endapan AgCl dalam pelarut murni!
Ksp AgCl = 1 x 10-10
Jawab:
Jadi endapan AgCl: mengion sebanyak s = 1 x 10-5 dlm air murni,
dan mulai mengendap pada:
[ Ag+ ] = s = 1 x 10-5
[ Cl- ] = s = 1 x 10-5
Note
[Ag+][Cl-] < Ksp AgCl belum
[Ag+][Cl-] = Ksp AgCl mulai
[Ag+][Cl-] > Ksp AgCl sudah

Larutan AgNO3
Mudah larut dalam air
Oksidator kuat, reaksi:
Ag+ + e- Ag(s) Eo = + 0,80 V
Mudah rusak oleh zat2 organik, tereduksi menjadi cermin perak
Mudah terurai oleh cahaya
Umumnya dipakai pada pH netral

Argentometri berdasarkan indikator (TA)


Cara Mohr : indikator K2CrO4 (endapan berwarna merah bata)
Cara Fajans: indikator adsorpsi (endapan merah jambu)
Cara Volhard : indikator Fe3+ (pembentukan senyawa kompleks berwarna)

Cara Mohr
Menggunakan larutan K2CrO4 sebagai indikator yang akan membentuk endapan
berwarna merah coklat dengan kelebihan AgNO3.
Reaksi:
NaCl(aq) + AgNO3(aq) AgCl(s) + NaNO3
putih,Ksp=1 x 10-10
K2CrO4(aq) + 2AgNO3(aq) Ag2CrO4(s) + 2KNO3
merah bata,Ksp=2 x 10-12
Cara Mohr hanya boleh dilakukan untuk larutan netral atau dapat dinetralkan
Bila larutan bereaksi dengan asam, dapat dinetralkan dengan boraks, MgO, atau NaHCO3
Saat penitaran hindarkan perak nitrat dari cahaya langsung
NaCl p.a. dapat digunakan sebagai BBP
Cara Fajans
Menggunakan indikator adsorpsi, yang berupa asam/basa organik lemah, yang muatannya
berlawanan dengan ion titran, dan menghasilkan warna yang tajam pada TA.
Co: fluoresin, diklorofluoresin, eosin.
Contoh dengan indikator fluoresin:
Reaksi:
NaCl + AgNO3 AgCl(s) + NaNO3
Putih
Fl- + AgNO3 AgFl(s) + NO3-
Merah jambu
TA: dari larutan kuning kehijauan, terbentuk endapan pink yang menggumpal.
Awal titrasi

Jumlah ion Cl- masih berlimpah, teradsorbsi pada permukaan inti2 AgCl(s) membentuk lapisan primer
bermuatan negatif.
Endapan terdispersi berupa koloid
Note:
pH larutan harus dikontrol jangan sampai terlalu rendah karena akan mengurangi jumlah
Fl- .
HFl denga Ka= 10-7 dilakukan dalam keadaan netral (pH 7).
Diklorofluoresein dititar pada pH 4.
Eosin dapat dipakai sebagai indikator pada peitaran Br-, I-, dan CNS- dengan pH 2
Saat penitaran jangan sampai endapan terkena sinar matahari langsung karena sebagian
AgCl ada yang pecah sehingga sebelum TA berubah warna jadi violet sampai abu abu.

Ion Cl- habis, inti2 AgCl(s) mulai menyatu dan menggumpal.


Kelebihan ion Ag+ teradsorb ke permukaan endapan, lalu menarik ion Fl- yg lemah,
menghasilkan AgFl(s) merah jambu di permukaan AgCl(s).
Cara Volhard
Memakai indikator Fe3+ untuk mendeteksi kelebihan ion tiosianat
Reaksi :
I. NaCl(aq) + AgNO3(aq) AgCl(s) + NaNO3 + AgNO3
berlebih terukur putih,Ksp=1 x 10-10 sisa
II. AgNO3(aq) + KCNS AgCNS(s) + KNO3
sisa putih,Ksp= 1 x 10-12
II. 2Fe3+ + 6KCNS Fe [ Fe(CNS)6 ] + 6K+
Kuning larutan merah
Ksp dan s AgCl(s) > Ksp dan s AgCNS(S)
Endapan AgCl yg sudah terbentuk dpt dipengaruhi oleh ion penitar KCNS
Ditambahkan nitrobenzene untuk menyelimuti/melindungi AgCl(s)
Note:
Harus dilakukan pengocokan untuk menghindari diabsorbsinya ion Ag+ oleh endapan.
Reaksi :
Untuk menghindari pembentukan AgSCN, endapan harus dipisahkan dulu dengan cara
mengentuskan AgCl atau melindunginya dengan nitrobenze (1ml).

Pengaruh pH dalam Argentometri


Jika pH terlalu basa
Akan terjadi hidrolisis pada pereaksi, terutama ion Ag+
Jika pH terlalu asam:
Indikator2 yag berupa asam lemah akan terhidrolisis, menjadi spesies yg berbeda dan
kehilangan fungsinya sebagai indikator.
Co: fluoresin pada fajans:
HFl H+ + Fl-

Kompleksometri
Kompleks:
Ligan : Ion atau senyawa yang memiliki pasangan elektron bebas (basa lewis)
Atom Pusat : Ion Logam yang dapat menerima Pasangan elektron bebas (asam Lewis)

Senyawa Kompleks:
Molekul atau ion yang dibentuk dari interaksi ion logam sebagai penerima PEB dan ligan sebaggai
pendonor PEB , berikatan kovalen koordinat
Ligan:
Ligan Monodentat : memiliki 1 gugus fungsi yang memiliki PEB untuk berikatan dengan atom pusat.
Contoh :NH2,Cl-,H2O
Ligan Bidentat : memiliki 2 gugus fungsi yang memiliki atom yang memiliki PEB dan mampu
membentuk 2 ikatan kovalen dengan atom pusat. Contoh : etilen diamin
Ligan Polidentat : memiliki banyak gugus fungsi ber PEB yang mampu membentuk banyak ikatan
dengan atom pusat

Kompleksometri:
Metoda analisis volumetri termasuk metoda metatetik digunakan untuk menentukan kadar ion-ion
logam untuk dapat menghasilkan kompleks berwarna dengan indikator logam tertentu pada
lingkungan pH tertentu
EDTA
Ethylene diamin tetraacetic acid

EDTA mencengkram 1 metal ion


Bereaksi 1:1 dengan ion logam berapa pun valensi nya
Tak perlu BST sehingga konsentrasi dalam satuan Molaritas
Dalam bentuk garam dinatrium agar mudah larut dalam air
Na2H2Y.2H2O -> Natrium EDTA
M+ + Hind2- Mind- + H+
Biru Merah Anggur
Mind + H2Y2- -> MY2- +Hind + H+
Merah anggur Biru

Reaksi Umum

M+ = Metal Ion
Hind - = metal indikator kompleks
H2Y2- =EDTA ion
Perubahan Warna : merah -> biru
Pengaruh pH pada kompleksometri
Warna
Ketajaman TA
Aktivitas indikator
pH larutan

Buffer
Menjaga pH
Karena reaksi titrasi melepas H+ maka makin lama pH makin asam
Komplekso dilakukan pada pH basa karena
Pada suasana asam tak ada aktivitas indikator
Pada suasana basa ion logam terhidrolisis menjadi MY(OH)2
Syarat Buffer
Tak mengganggu reaksi
Daya tahan cukup besar
Dipilih berdasarkan Pka/PKb nya

Syarat Indikator Kompleksometri


Reaksi warna tepat waktu hampir semua ion logam membentuk kompleks dengan EDTA
Spesifik dan selektif,maksudnya tak ada reaksi sampingan
Kompleks Mind mantap
Kompleks Mind harus kurang mantap dari kompleks M-EDTA
Perubahan Mind-> Indikator bebas yang terbentuk harus cepat dan tajam
Perbedaan warna Indikator bebass dan Mind harus teramati jelas
Harus peka terhadap logam sehingga TA~TE

EBT (Eriochrome Black-T)


Tedapat F6 yang memiliki PEB yang akan disumbangkan kepada ion logam
Gugus kromatik -> Gugus yang bisa menghasilkan warna
Calcon
Penting dalam penitaran Ca2+ dengan kehadiran Mg2+
Aktif pada pH 12,5 (buffer dimethyl amin 5mL/100mL ) . Pada pH 12,5 yang terjadii pada ion Mg2+
akan terhidrolisis ,jadi didapat ion Ca nya
Calcon indikator bebas : Biru -> Kompleks merah
Xylenol Orange
Aktif pada pH asam (ada carbacia) sekitar ph 3-5
Indikator bebas =kuning -> komleks merah
Ion-Ion logam yang dikerjakan pada pH asam

Jenis Jenis Titrasi


Direct Titration
Ion sampel + buffer yang sesuia + indikator langsung dititar dengan EDTA
Dapat ditambahkan tartrat atau sitrat untuk mencegah hidrolisis
Untuk buffer pH 9-10 berbahan NH4OH + NH4Cl untuk mencegah hidrolisis
Contoh
Mg2+ EBT (pH 10)
Ca2+ calcon (pH 12,5)
Subtitute Reaction
Ion logam kurang bereaksi sempurna dengan indikator logam
Contoh : ca-EBT kurang mantap,TA : Kurang jelas sehingga disubstitusi dengann ion Mg2+
Ca2+ + Mg2Y2- -> CaY2- + Mg2+
Mg2+ + Hind -> MgInd + H+
MgInd + H2Y2- -> MgY- + Hind2-

Reaksi Ca Substitusi

Back titration
Ion logam sulit dititrasi langsung
Kompleks M-Ind lebih mantap daripada M-EDTA
Ion logam terhidrolisis pada pH aktif indikator yang digunakan

Penitaran campuran
Mengontrol pH larutan
Menitar suatu ion logam pada pH trtentu dimana ion logam lain terhidrolisis atau tak bereaksi dengan
indikator.
Contoh : kaadar Cu2+ (kehadiran Mg2+) pada pH 12,5 dengan indikator calcon
Kesadahan air
Kandungan mineral tertentu dalam air, umumnya ion Ca2+ dan Mg2+ dalam bentuk garam karbonat
dan sulfat