Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PERTANIAN ORGANIK

KONSEP PERTANIAN ORGANIK SERTA RANCANGAN DAN PENERAPAN


PENGELOLAAN TANAH DAN AIR UNTUK BUDIDAYA PERTANIAN ORGANIK

OLEH

FITA WIDAYANTI

NPM : 7115070081

PRODI : AGROTEKNOLOGI

MAKALAH PERTANIAN ORGANIK

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA

MEDAN

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah.SWT karena atas berkat rahmad dan
hidayah-Nya penulis masih dapat menulis makalah yang berjudul KONSEP PERTANIAN
ORGANIK SERTA RANCANGAN DAN PENERAPAN PENGELOLAAN TANAH DAN
AIR UNTUK BUDIDAYA PERTANIAN ORGANIK.
Shalawat dan salam tidak lupa penulis untuk mengajak supaya kita ucapkan atas
junjungan nabi Muhammad.SAW putra Abdullah buah hati Aminah yang telah membawa
umat muslimin dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiah dan semoga dengan banyaknya
bershalawat kita dapat mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir kelak. Amin.
Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Orang tua penulis yang selalu membimbing dan memberikan nasehat kepada penulis.
2. Teman-teman sesama mahasiswa yang sampai saat ini masih semangat kuliah.
Akhirnya Penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu penulis mengharap kritik dan saran dari pembaca supaya kedepannya makalah ini
lebih baik lagi dan apabila banyak terjadi kesalahan kata maupun perbuatan penulis yang
kurang berkenan, penulis mohon maaf dan kepada Allah.SWT penulis mohon ampun.

Medan, September 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Di Indonesia usahatani dikategorikan sebagai usahatani kecil karena mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut :
a. Berusahatani dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang meningkat
b. Mempunyai sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup yang rendah
c. Bergantung seluruhnya atau sebagian kepada produksi yang subsisten
d. Kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan lainnya
Soekartawi, 1986 pada seminar petani kecil di Jakarta pada tahun 1979, menetapkan
bahwa petani kecil adalah :
a. Petani yang pendapatannya rendah, yaitu kurang dari setara 240 kg beras per kapita per
tahun.
b. Petani yang memiliki lahan sempit, yaitu lebih kecil dari 0,25 ha lahan sawah di Jawa atau
0,5 ha di luar Jawa. Bila petani tersebut juga memiliki lahan tegal maka luasnya 0,5 ha di
Jawa dan 1,0 ha di luar Jawa.
c. Petani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan yang terbatas.
d. Petani yang memiliki pengetahuan terbatas dan kurang dinamis. Untuk lebih jelasnya, di
dalam makalah ini akan dibahas mengenai program pertanian organic, rencana strategis
kementrian pertanian di Indonesia, permasalahan usaha tani di Indonesia serta solusinya.
B. Rumusan masalah
a. Bagaimana konsep pertanian organic ?
b. Bagaimana rancangan dan penerapan pengelolaan tanah dan air untuk budidaya pertanian
organic?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pertanian organic
Indonesia memulai revolusi hiau pada tahun 1970 dengan pengunaan bibit unggul padi
seperti IR, PB. Cisadane, Raja lele, dan lain-lain. Pada masa ini dalam pembudidayaan
tanaman masyarakat Indonesia banyak menggunakan bahan kimia, seperti pupuk kimia dan
pestisida kimia secara berlebihan dengan tujuan agar hasil produksi tanaman meningkat.
Namun setelah sekian lama banyak ditemukan efek negatif dari penggunaan bahan-bahan
kimia tadi, diantarannya adalah:
a. Pencemaran lingkungan (tanah, air, dan udara)
b. Berkurangnya keanekaragaman hayati
c. Munculnya hama dan penyakit baru
d. Gangguan pada kesehatan manusia
Dari efek negatif yang timbul ini pada tahun 2003 pemerintah mulai mencanangkan
sistem pertanian organik. Sistem pertanian organik adalah suatu sistem pertanian yang
berusaha untuk mengembalikan segala jenis bahan organik kedalam tanah baik pada bentuk
residu maupun olahan limbah tanaman dan ternak yang bertujuan untuk menyediakan hara
bagi tanaman. Sasaran utama dari sistem pertanian organik adalah untuk mengembalikan
kesuburan dan produktifitas tanah.
A. Konsep Pertanian Organik
Pada kamus Wikipedia disebutkan bahwa usahatani organik adalah bentuk usahatani
yang menghindari atau secara besar-besaran menyingkirkan penggunaan pupuk dan pestisida
sintetis, zat pengatur tumbuh tanaman dan perangsang.
Menurut Codex Alimentarius Guidelines jika sebuah produk disebut organik, berarti
bahwa produk-produk tersebut sudah diproduksi menurut standar produksi organik dan
disertifikasi oleh lembaga sertifikasi atau pihak-pihak yang mendapat otoritas untuk itu.
Sementara yang disebut dengan pertanian organik adalah kegiatan pertanian yang
mengupayakan penggunaan asupan luar yang minimal dan menghindari penggunaan pestisida
dan pupuk sintetis. Tata cara bertani dalam pertanian organik dapat digunakan untuk
meminimalkan polusi udara, polusi tanah dan polusi air.
Pertanian organic di Indonesia yang disebut dengan produk pertanian organik
ditetapkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) Pertanian Organik no SNI 6729-2013.
Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi yang holistik untuk meningkatkan dan
mengembangkan kesehatan agroekosistem termasuk keragaman hayati, siklus biologi dan
aktivitas biologi tanah.
IFOAM International Federation of Organic Agriculture Movement menyepakati ada
4 prinsip dasar pertanian organik, yaitu:
1. Prinsip Kesehatan: pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan
tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan.
2. Prinsip Ekologi: pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi
kehidupan. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi
kehidupan.
3. Prinsip Keadilan: pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu
menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama.
4. Prinsip Perlindungan: pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan
bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang
dan mendatang serta lingkungan hidup.
Pertanian Berkelanjutan
Dalam pembangunan di bidang pertanian, peningkatan produksi seringkali diberi
perhatian utama. Namun ada batas maksimal produktivitas ekosistem. Jika batas ini
dilampaui, ekosistem akan mengalami degradasi dan kemungkinan akan runtuh sehingga
hanya sedikit orang yang bisa bertahan hidup dengan sumber daya yang tersisa. Produksi dan
konsumsi harus seimbang pada tingkat yang berkelanjutan dari segi ekologis.
Pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha
pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau
meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam. Sistem pertanian bisa
dikatakan berkelanjutan bila mencakup hal-hal berikut ini:
1. Mantap secara ekologis, yang berarti bahwa kualitas sumber daya alam dipertahankan
dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan-dari manusia, tanaman, hewan
sampai organisme tanah-ditingkatkan. Sumber daya lokal dipergunakan sedemikian
rupa sehingga kehilangan unsur hara, biomassa dan energi bisa ditekan serendah
mungkin serta mampu mencegah pencemaran.
2. Bisa berlanjut secara ekonomis, yang berarti bahwa petani bisa cukup menghasilkan
untuk pemenuhan kebutuhan dan atau pendapatan sendiri, serta mendapatkan
penghasilan yang mencukupi untuk mengembalikan tenaga dan biaya yang
dikeluarkan.
3. Adil, yang berarti bahwa sumber daya dan kekuasaan didistribusikan sedemikian rupa
sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat terpenuhi dan hak-hak mereka
dalam penggunaan lahan, modal yang memadai, bantuan teknis serta peluang
pemasaran terjamin.
4. Manusiawi, yang berarti bahwa semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan dan
manusia) dihargai.
5. Luwes, yang berarti bahwa masyarakat pedesaan mampu menyesuaikan diri dengan
perubahan kondisi usahatani yang berlangsung terus-menerus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila pertanian organik dilaksanakan dengan
baik maka dengan cepat akan memulihkan tanah yang sakit akibat penggunaan bahan kimia.
Hal ini terjadi apabila fauna tanah dan mikroorganisme yang bermanfaat dipulihkan
kehidupannya, dan kualitas tanah ditingkatkan dengan pemberian bahan organik karena akan
terjadi perubahan sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Pengelolaan tanah dan air untuk budidaya pertanian organik
Pertanian organik bergantung sepenuhnya pada dekomposisi bahan organik tanah,
menggunakan berbagai teknik seperti pupuk hijau dan kompos untuk menggantikan nutrisi
yang hilang dari tanah oleh tanaman pertanian sebelumnya. Proses biologis ini dikendalikan
oleh berbagai mikroorganisme seperti mikoriza yang memungkinkan terjadinya produksi
nutrisi secara alami di dalam tanah sepanjang musim tanam. Pertanian organik
mendayagunakan berbagai metode untuk meningkatkan kesuburan tanah, termasuk rotasi
tanaman, pemanfaatan tanaman penutup, pengolahan tanah tereduksi, dan penerapan kompos.
Dengan mengurangi pengolahan tanah, maka tanah tidak dibalik dan tidak terpapar oleh
udara. Hal ini berarti nutrisi yang bersifat mudah menguap seperti nitrogen dan karbon
semakin sedikit yang menghilang.
Tumbuhan membutuhkan berbagai nutrisi seperti nitrogen, fosfor, dan nutrisi mikro
lainnya serta hubungan simbiosis dengan fungi dan organisme lainnya untuk berkembang
dengan baik. Sinkronisasi diperlukan agar tumbuhan mendapatkan nitrogen yang cukup pada
waktu yang tepat. Hal ini menjadi salah satu tantangan di dalam pertanian organik. Residu
tanaman dapat dikembalikan ke tanah sehingga membusuk dan memberikan nutrisi bagi
tanah. Dalam banyak kasus, pengaturan pH diperlukan dengan menggunakan kapur pertanian
dan sulfur.
Lahan usaha tani yang tidak memiliki usaha peternakan di dalamnya mungkin akan
lebih sulit dalam mengembalikan kesuburan tanah dan membutuhkan input kotoran dari luar
untuk digunakan sebagai sumber nitrogen yang baik. Namun nitrogen juga dapat diberikan
dengan menggunakan legum sebagai tanaman penutup tanah. Penelitian dalam ilmu biologi
pada tanah dan mikroorganisme yang hidup di dalamnya telah membuktikan manfaat bagi
pertanian organik. Berbagai jenis bakteri dan fungi memecah bahan kimia, residu tanaman,
dan kotoran hewan menjadi nutrisi yang dapat diserap oleh tumbuhan, sehingga tanaman
pertanian menjadi produktif. Usaha pemeliharaan hewan ternak yang menghasilkan daging,
susu, dan telur secara organik dapat menjadi pelengkap bagi usaha pertanian organik.
Berbagai pembuat kebijakan memiliki sikap yang bervariasi mengenai kesejahteraan hewan,
namun USDA secara umum tidak mengutamakan kesejahteraan hewan untuk memberi label
produk organik. Kuda dan sapi dapat menjadi hewan pekerja yang menyediakan tenaga untuk
menggerakkan mesin, membajak, menambah kesuburan tanah dengan kotorannya, dan
menjadi sumber bahan bakar (misal biogas).
Konservasi tanah
Pertanian organik diyakini mampu mengelola tanah dengan baik dengan kemampuan
menahan air yang lebih tinggi.[ Hal ini dipercaya menjadi sebab mengapa pertanian organik
mampu bertahan pada tahun yang kering. Pertanian organik mampu membentuk bahan
organik tanah lebih baik dibandingkan pertanian konvensional, yang dapat memberi manfaat
jangka panjang. Dalam buku Dirt: The Erosion of Civilizations, pakar geomorfologi David
Montgomery mengemukakan krisis yang akan datang yang berasal dari erosi. Pertanian
bergantung sepenuhnya pada tanah atas (top soil) yang kurang lebih sedalam satu meter,
namun bagian ini terus terkuras dengan laju sepuluh kali dibandingkan laju pengembaliannya.
Pertanian konvensional tanpa pengolahan tanah, yang sangat bergantung pada herbisida
untuk membasmi gulma, adalah salah satu cara untuk meminimalisasi erosi. Namun sebuah
studi yang dilakukan oleh USDA menemkan bahwa aplikasi pupuk kandang pada lahan
pertanian, meskipun lahan tersebut dibajak, dapat membangun lapisan tanah atas lebih cepat
dibanginkan pertanian konvensional tanpa pengolahan tanah
Pembilasan nutrisi
Pemberian nutrisi yang berlebih mampu menyebabkan nutrisi terbilas oleh air hujan
dan bergerak menuju perairan sehingga menyebabkan eutrofikasi. Selain itu, nitrat yang
menjadi bahan dasar pupuk membahayakan hewan air. Pupuk nitrat, yang menjadi pencemar
utama perairan dari lahan pertanian, diyakini akan meningkat penggunaannya menjadi
hampir tiga kali lipat pada tahun 2050. Nitrat yang terbilas menjadi salah satu faktor
inefisiensi dari pertanian konvensional karena nutrisi yang seharusnya diserap oleh tanaman
menjadi hilang.
Lahan pertanian yang diberikan pupuk secara organik mampu mengurangi secara
signifikan pembilasan nitrat, jika dibandingkan dengan pertanian konvensional. Pembilasan
nitrat pada lahan pertanian konvensional lebih besar 4.4 hingga 5.6 kali lipat dibandingkan
lahan pertanian organik. Namun bukan berarti pertanian organik bebas nitrat; kotoran hewan
yang digunakan sebagai pupuk pada pertanian organik juga dapat berubah menjadi nitrat
setelah proses fiksasi oleh bakteri. Tetapi nitrat hasil fiksasi lebih terikat oleh tanah, sehingga
risiko terbilas ke perairan lebih rendah.
Zona mati yang telah membesar di Teluk Meksiko disebabkan oleh aliran air
permukaan dari lahan pertanian, yang datang dari kombinasi pupuk sintetik dan pupuk
kandang. Lebih dari setengah nitrogen yang dilepaskan ke Teluk Meksiko datang dari
pertanian. Hal ini menyebabkan para nelayan harus berlayar jauh dari bibir pantai untuk
mendapatkan ikan, meningkatkan biaya bagi nelayan. Aliran air permukaan dari lahan
pertanian serta kejadian ledakan populasi alga di California merupakan kejadian yang sangat
terkait erat. Pembilasan nitrogen ke Sungai Danube telah turun sejak meningkatkan lahan
usaha tani organik di sekitar sungai. Manfaat yang didapatkan setara dengan 1 Euro per kg
nitrogen yang tidak lepas ke perairan.
Sertifikasi Pertanian Organik
Sertifikasi organik adalah proses untuk mendapatkan pengakuan bahwa proses
buudidaya pertanian organik atau proses pengolahan produk organik dilakukan berdasarkan
standar dan regulasi yang ada. Apabila memenuhi prinsip dan kaidah organik, produsen dan
atau pengolah akan mendapatkan sertifikat organik dan berhak mencantumkan label organik
pada produk yang dihasilkan dan bahan-bahan publikasinya.
Sertifikasi produk pertanian organik di Indonesia dapat dilakukan dengan cara: pelaku
usaha pertanian organik mendaftar ke LSO (Lembaga Sertifikasi Organik) yang telah
diakreditasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) dan diverifikasi oleh OKPO (Otoritas
Kompeten Pangan Organik) Kementerian Pertanian. Proses sertifikasi dilakukan 4 tahap yaitu
: (1) aplikasi sertifikasi, (2) inspeksi yang terdiri dari review dokumen aplikasi dan inspeksi
proses produksi, fasilitas produksi dan dokumentasi, (3) keputusan sertifikasi dan (4)
pemberian sertifikat dan inspeksi tiap tahun. Sertifikat diberikan bila memenuhi persyaratan
kesesuaian dan berhak mencantumkan logo/tanda pangan organik yang dilengkapi nomor
register.
Otoritas atau lembaga setifikasi resmi harus memastikan bahwa semua inspeksi fisik
dilakukan paling sedikit sekali dalam setahun dalam unit tersebut. Contoh untuk pengajuan
produk yang tidak tercantum dalam yang diperbolehkan dalam standar dapat dilakukan jika
dirasa penggunaannya mencurigakan. Tambahan frekuensi kunjungan dapat dilakukan sesuai
kebutuhan. Untuk tujuan inspeksi, operator harus memberikan akses kepada otoritas atau
lembaga sertifikasi resmi ke lokasi produksi, penyimpanan dan ke areal lahan serta ke semua
dokumen pendukung yang diperlukan. Untuk tujuan inspeksi, operator juga harus
memberikan semua informasi yang diperlukan kepada lembaga inspeksi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Menurut Codex Alimentarius Guidelines jika sebuah produk disebut organik, berarti
bahwa produk-produk tersebut sudah diproduksi menurut standar produksi organik dan
disertifikasi oleh lembaga sertifikasi atau pihak-pihak yang mendapat otoritas untuk itu.
Sementara yang disebut dengan pertanian organik adalah kegiatan pertanian yang
mengupayakan penggunaan asupan luar yang minimal dan menghindari penggunaan pestisida
dan pupuk sintetis. Tata cara bertani dalam pertanian organik dapat digunakan untuk
meminimalkan polusi udara, polusi tanah dan polusi air.
Pertanian organic di Indonesia yang disebut dengan produk pertanian organik
ditetapkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) Pertanian Organik no SNI 6729-2013.
Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi yang holistik untuk meningkatkan dan
mengembangkan kesehatan agroekosistem termasuk keragaman hayati, siklus biologi dan
aktivitas biologi tanah.
Pertanian organik bergantung sepenuhnya pada dekomposisi bahan organik tanah,
menggunakan berbagai teknik seperti pupuk hijau dan kompos untuk menggantikan nutrisi
yang hilang dari tanah oleh tanaman pertanian sebelumnya. Proses biologis ini dikendalikan
oleh berbagai mikroorganisme seperti mikoriza yang memungkinkan terjadinya produksi
nutrisi secara alami di dalam tanah sepanjang musim tanam. Pertanian organik
mendayagunakan berbagai metode untuk meningkatkan kesuburan tanah, termasuk rotasi
tanaman, pemanfaatan tanaman penutup, pengolahan tanah tereduksi, dan penerapan kompos.
Dengan mengurangi pengolahan tanah, maka tanah tidak dibalik dan tidak terpapar oleh
udara. Hal ini berarti nutrisi yang bersifat mudah menguap seperti nitrogen dan karbon
semakin sedikit yang menghilang.
DAFTAR PUSTAKA
Coen Reijntjes, Bertus Haverkort dan Ann Waters-Bayer. 1999. Pertanian Masa Depan.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Rachman Sutanto. 2002. Pertanian Organik, Menuju Pertanian Alternatif Berkelanjutan.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Rachman Sutanto. 2002. Penerapan Pertanian Organik, Pemasyarakatan dan
Pengembangannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Sabastian Eliyas Saragih. 2008. Pertanian Organik. Solusi Hidup Harmoni dan Berkelanjutan.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Badan Standardisasi Nasional. 2013. Sistem Pangan Organik.Standar Nasional Indonesia
(SNI) 0729-2013. Jakarta