Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU REPRODUKSI TERNAK


ACARA I
ANATOMI ORGAN REPRODUKSI BETINA

Disusun oleh :
Ega Kinanti Kholimah Harahap
16/399116/PT/07234
IX

Asisten : Theodora Endingyana

LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK


DEPARTEMEN PEMULIAAN DAN REPRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
`YOGYAKARTA
2017
ACARA III
ANATOMI REPRODUKSI BETINA

Tinjauan Pustaka
Reproduksi betina secara umum yaitu gonad atau ovarium, tuba
fallopii atau oviduct, uterus, servik, vagina, klitoris dan vulva. Tractus
genitalis betina yaitu ovarium yang berjumlah sepasang. Saluran reproduksi
pada betina terdapat tuba fallopii atau oviduct, uterus, servik. Organ
reproduksi bagian luar terdapat vagina, klitoris dan vulva.
Ovarium
Ovarium adalah tempat produksinya sel telur yang siap untuk dibuahi
di dalam endometrium (Susrama, 2007). Ovarium merupakan kelenjar
kelamin atau gonad atau kelenjar seks. Terdapat dua ovarium yang masing-
masing terdapat pada setiap sisi dan berada di dalam kavum abdomen di
belakang ligamentum latum dekat ujung fimbria tuba fallopii. Ovarium
melekat pada pada uterus lewat ligamentum ovarii yang berjalan dari
permukaan posterior uterus dekat dengan kornu uteri (Farrer, 2001).
Oviduct
Tuba fallopii atau yang sering di sebut uviduct atau saluran telur dan
kadang disebut sebagai tuba uterina. Saluran ini terdapat pada setiap sisi
uterus dan membentang dari kornu uteri ke arah dinding lateral pelvis. Tuba
fallopii dibungkus oleh peritoneum yang membentuk ligamentum latum.
Tuba fallopii tidak berjalan secara lurus tetapi berjalan melengkung dan
berputar ke arah posterior. Ujung distalnya terbuka dalam kavum peritonei
yang dapat bergerak bebas. Pada ujung tersebut terdapat fimbria dan
fimbria ini memeluk ovarium pada saat ovulasi sehingga membantu menarik
ovum agar masuk ke tuba fallopii (Farrer, 2001).
Uterus
Uterus merupakan organ muskuler yang berongga, berdinding tebal.
Uterus terdiri dari dua bagian yaitu korpus atau badan dan servik atau leher.
Servik terbentuk oleh bagian sepertiga bawah uterus dan separuh servik
menjulur ke dalam vagina (Farrer, 2001).
Servik
Serviks adalah bagian khusus dari uterus yang terletak dibawah
isthmus (Susrama, 2007). Servik terutama terdiri atas jaringan fibrosa
(Farrer, 2001). Leher rahim merupakan bagian terpisah dari rahim dan
biasanya berbentuk silinder dan mengarah ke bawah (Irwan, 2016).
Vagina
Vagina merupakan struktur muskulomembraneus berbentuk tabung
yang menghubungkan vulva dengan uterus (Susrama, 2007). Vagina
merupakan saluran fibromuskuler elastis yang membentang ke atas dan
kebelakang dari vulva hingga uterus. Servik atau leher uterus menjulur ke
dalam ujung proksimal vagina (Farrer, 2001).
Vulva
Vulva adalah nama yang diberikn untuk struktur genital eksterna.
Vulva terdapat dua bagian yaitu labia mayora dan labia minora. Lubang
yang terdapat pada vestibulum merupakan muara orifisium vagina dan
orifisium urethra (Farrer, 2001).
Siklus Estrus
menyatakan bahwa fase proestrus ditandai dengan adanya sel-sel
epitel biasa dan leukosit pada preparat histologi, sedangkan fase estrus
ditandai dengan adanya sel-sel epitel bertanduk. menyatakan bahwa fase
metestrus merupakan kelanjutan dari fase estrus dan berlangsung selama
21 jam (Busman dan Biomed, 2013). Pada fase ini, ovarium mengandung
corpora lutea dan folikel-folikel kecil (Baker et al., 1980 cit. Nursyah, 2012).
Fase diestrus adalah fase setelah metestrus. Fase ini merupakan fase
terpanjang diantara fase-fase siklus estrus lainnya (Turner & Bagnara 1988
cit. Nursyah, 2012).
Materi dan Metode

Materi
Materi yang digunakan pada praktikum anatomi organ reproduksi
betina adalah preparat basah organ reproduksi betina, pita ukur, kamera,
dan kertas kerja.
Metode
Metode yang digunakan adalah pengamatan, fungsi diketahui,
membedakan dan mengukur organ reproduksi betina serta memfoto bagian
organ reproduksi betina. Semua pengukuran dicatat di lembar kerja.
Menerangkan kembali yang telah di kerjakan sebelumnya.
Hasil dan Pembahasan
Anatomi organ reproduksi betina dibagi menjadi 3 bagian yaitu
tractus genitalis, saluran reproduksi dan organ luar. Tractus genitalis
terdapat organ primer dari organ reproduksi betina yaitu gonad atau
ovarium. Saluran reproduksi betina terdapat tuba fallopii atau oviduct,
uterus, dan servik. Organ reproduksi luar terdapat vulva dan klitoris. Hasil
pengukuran anatomi organ reproduksi betina sapi Simpo dengan umur 1,5
tahun bobot badan 220 kg disajikan pada tabel sebagai berikut
Tabel 1. Hasil pengukuran organ reproduksi betina
Nama Organ Panjang (cm) Lebar (cm) Tinggi
(cm)
Vulva 7
Vestibulum 13
Portio vaginalis 10
cervices
Cervix uteri 5 3
Corpus uteri 15
Cornue Uteri 16
Oviduct 17
Mesovarium 5
Ovarium 4 3 1
Ovarium
Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa panjang
obarium 4 cm, lebar 3 cm, dan tinggi 1 cm. Ovarium adalah organ primer
yang dimiliki oleh hewan betina. Ovarium terdapat sepasang yang di
gantung oleh ligamentum mesovarium. Bardasarkan bentuknya ovarium
dibagi menjadi dua yang tergantung dari golongan hewan tersebut.
Golongan hewan tersebut yaitu polytocous dan monotocous. Polytocous
memiliki ovarium yang bentuknya seperti buah murbei karena melahirkan
beberapa anak dalam satu kebuntingan. Monotocous memiliki ovarium
berbentuk bulat, panjang dan oval karena melahirkan satu anak dalam sau
kebuntingan. Fungsi ovarium memproduksi ovum dan menghasilkan
hormon estrogen, progesteron serta inhibin.
Ovarium sebelah kanan biasanya lebih besar daripada
ovariumsebelah kiri. Sapi memiliki ovarium dengan ukuran panjang sekitar
3,8 cm, lebar 2 cm, dan tinggi 1,5 cm (Frandson et al., 2003 cit. Jalaluddin,
2014). Ovarium memiliki dua fungsi yaitu menghasilkan ovum dan hormon
estrogen serta progesteron (Guyton 1996 cit. Musahilah, 2010). Ovarium
mempunyai ukuran dan bentuk yang bervariasi tergantung spesies dan
siklus birahi. Pada domba dan kambing ovarium berbentuk oval
(Nalbandov,1976; Hafez,1987 cit. Fausiah, 2014). Ovarium babi berbentuk
lonjong dan menyerupai buah anggur karena banyaknya folikel dan atau
corpus luteum (Toelihere, 1993 cit. Suberata, 2016). Kuda memiliki bentuk
ovarium menyerupai ginjal karena pada kuda terdapat fossa ovulatori
(Pineda dan Dooley 2003 cit. Rachmawati, 2011).
Ukuran ovarium dipengaruhi oleh umur yang berkorelasi positif,
semakinbertambahnya umur maka ukuran ovarium semakin bertambah.
Semakin besar ukuran ovarium maka, produktivitasnya semakin tinggi
begitu pula sebaliknya. Semakin banyak folikel yang berkembang di
ovarium makaukurannya akan bertambah (Ihsan, 2012).
Oviduct
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan ukuran oviduct
adalah 17 cm. Oviduct merupakan saluran yang menghantarkan sel telur
atau ovum dari ovarium ke uterus. Oviduct memiliki bentuk yang berkelok-
kelok. Ujung dari oviduct terdapat jumbai-jumbai yang disebut fimbria.
Oviduct dibagi menjadi 3 bagian yaitu infundibulum, ampulla dan isthmus.
Oviduct digantung oleh penggantung yaitu mesosalpink. Fungsi oviduct
yaitu infundibulum menangkap atau menerima sel telur yang diovulasikan
oleh ovarium, transpot spermatozoa menuju ampulla, tempat pertemuan
ovum dan spermatozoa, tempat terjadinya proses kapasitasi spermatozoa,
serta transpot ovum yang telah dibuahi menuju uterus.
Panjang oviduct adalah 20 sampai 30 cm (Ball and Peaters, 2004).
Oviduk dibagi dalam tiga bagian: infundibulum, ampulla dan isthmus. Pada
sapi infundibulum terpisah dengan ovarium. Ampulla bergabung dengan
isthmus pada ampullary isthmus junction yang merupakan tempat
terjadinya fertilisasi (Prandika, 2016). Lapisan serosa (perimetrium)
berhubungan dengan peritoneum yang dikenal dengan ligamen lebar dan
mendukung genitalia internal. Ligamen ini terdiri dari mesovarium sebagai
penggantung ovari, mesosalpink sebagai penggantung oviduk dan
mesometrium sebagai penggantung uterus (Frandson 1992 cit. Kurnia
2011).
Fungsi oviduct adalah menerima dan menyalurkan ovum dari
ovarium ke cornua uteri dan sebagai tempat fertilisasi antara ovum dan
sperma. Oviduct terbagi menjadi tiga bagian yaitu infundibulum, ampula,
dan isthmus. Infundibulum terletak dekat ovarium di ujung dari setiap
oviduct. Otot yang membentuk struktur berupa corong seperti jari di tepi
infundibulum dan tidak bertaut atau menempel pada ovarium disebut
fimbrae. Fimbrae berfungsi menangkap ovum hasil ovulasi. Lumen oviduct
terdiri dari sel sekretori dan silia. Sel-sel tersebut merupakan otot licin
sirkular dan longitudinal yang berfungsi menyediakan lingkungan sesuai
untuk transportasi ovum dan sperma agar terjadi fertilisasi (Colville dan
Bassert 2002; Reece 2006 cit. Damelka, 2008).
Uterus
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan panjang cervix
uteri 5cm, corpus uteri 15 cm, dan cornu uteri 16 cm. Uterus pada ternak
terdiri dari cervix uteri, corpus uteri, dan dua buah cornu uteri. Penggantung
uterus adalah ligamentum mesometrium. Dinding uterus didibagi menjadi
tiga lapisan yaitu endometrium, myometrium, dan perimetrium. Fungsi dari
uterus adalah saluran spermatozoa menuju oviduct, tempat implantasi
embrio, tempat pertumbuhan dan perkembangan embrio, berperan dalam
proses kelahiran, serta mengatur siklus estrus.
Uterus merupakan bagian saluran alat kelamin yang berbentuk buluh
dan berurat daging licin. Uterus berfungsi menerima sel telur yang telah
dibuahi atau embrio dari tuba falopii, memberi makanan, dan perlindungan
bagi fetus, serta mendorong fetus ke arah luar saat kelahiran
(Hardjopranjoto 1995 cit Kurnia, 2011). Dinding tebal uterus dibentuk oleh
tiga lapisan yaitu perimetrium, myometrium, dan endometrium. Perimetrium
merupakan lapisan serosa yang terletak paling luar dari uterus dan ditutupi
oleh lapisan visceral peritoneum. Lapisan muskuler tebal yang terdiri dari
sel-sel otot licin longitudinal dan sirkular yang dipisahkan oleh stratum
vascular jaringan ikat disebut dengan myometrium (Dyce et al. 2002 cit.
Damelka, 2008).
Lapisan serosa (perimetrium) berhubungan dengan peritoneum
yang dikenal dengan ligamen lebar dan mendukung genitalia internal.
Ligamen ini terdiri dari mesovarium sebagai penggantung ovari.
Mesosalpink sebagai penggantung oviduk dan mesometrium sebagai
penggantung uterus (Frandson 1992 cit. Kurnia 2011).
Panjang uterus pada sapi bervariasi dari 35-50 cm. pungsi utamanya
uterus adalah untuk mempertahankan dan memberi makanan pada embrio
atau fetus. Tipe uterus pada sapi adalah biparlite (bicornuate uterus), yang
ditandai dengan corpus uteri yang kecil/pendek (hanya sebelah anterior
saluran cervix) dan cornu uteri yang panjang (Prandika, 2016). Faktor yang
mempengaruhi perbedaan ukuran uterus adalah umur, berat badan, dan
bangsa.
Servik
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan ukuran dari
servik yaitu 5 cm. Servik merupakan otot sphincter yang terletak di antara
corpus uteri dan vagina. Servik merupakan pintu masuk ke dalam corpus
uteri. Fungsi dari servik yaitu melindungi lumen uterus dari jasad renik dan
tempat reservoir spermatozoa. Lumen pada selalu tertutup kecuali pada
saat estrus.
Serviks adalah bagian khusus dari uterus yang terletak dibawah
isthmus (Susrama, 2007). Cervix memiliki otot spincter licin yang sangat
kuat dan menutup erat kecuali saat estrus dan melahirkan. Mukus yang
terlihat saat estrus merupakan sekresi sel goblet cervical. Sel goblet
mensekresi mukus selama kebuntingan dan mencegah terjadinya infeksi
bakteri yang masuk melalui vagina (Reece 2006 cit. Damelka, 2008).
Servik ditandai dengan dinding yang tebal dengan lumen yang sempit.
Saluran cervik pada sapi dikenal sebagian annularings (terdiri dari 4 ring).
Panjang bervariasi dari 5 sampai 10 cm dengan diameter luar 2 sampai 5
cm. Cervix menutup rapat, kecuali selama estrus yang mana sedikit relaks
(membuka) memungkinkan spermatozoa memasuki uterus. Leleran
mukosa dari cervix keluar melalui vulva (Prandika, 2016).
Vagina
berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakanakan didapakan hasil
ukuran vagina yaitu Vestibulum 13 cm, portio vaginalis cervices 10 cm.
Ukuran vagina tergantung dari jenis hewan, umur, dan sering tidaknya
ternak melahirkan. Vagina terdapat 2 bagian yaitu portio vaginalis cervices
dan vestibulum. Fungsi vagina adalah sebagai organ kopulasi dan tempat
sperma dideposisikan saat perkawinan secara alami, dan merupakan
saluran keluar sekresi cairan yang berasal dari, servik, uterus, dan oviduct
serta jalannya saat partus.
Vagina merupakan struktur muskulomembraneus berbentuk tabung
yang menghubungkan vulva dengan uterus (Susrama, 2007). Vagina
berbentuk tubuler, berdinding tipis dan elastis. Panjang pada sapi antara
25-30 cm. Perkawinan alami, semen akan dideposisikan kedalam anterior
vagina dekat mulut cervix (Prandika, 2016). Vagina terdiri dari dua bagian
yaitu portio vaginalis cervicis (kranial) dan vestibulum vaginae (kaudal).
Portio vaginalis cervicis merupakan bagian cervix uteri yang menonjol ke
dalam vagina dan dibatasi oleh epitel squamosa berlapis. Sedangkan
vestibulum vaginae adalah perpanjangan dari orificium urethralis ke vulva
bagian luar merupakan kombinasi fungsi reproduksi dan urinarius (Dyce et
al. 2002, cit. Damelka, 2008).
Vulva
Vulva merupakan organ genitalia eksterna, yang terdiri
dari vestibulum dan labia. Vestibulum merupakan bagian dari saluran
kelamin betina yang berfungsi sebagai saluran reproduksi
urinaria. Vestibulum bergabung dengan vagina pada orifice urethra
externa. Vulva dapat menjadi tegang karena bertambahnya volume darah
yang mengalir ke dalamnya (Widayati et al., 2008). Vulva (pedundum
femininum) adalah bagian eksternal dari genitalia betina yang terentang dari
vagina sampai ke bagian yang paling luar. Pertautan antara vagina dan
vulva ditandai oleh orifice urethra externa dan sering juga oleh suatu
pematang, pada posisi cranial terhadap orifice urethra
externa, yaitu hymen vestigial. Seringkali hymen tersebut demikian rapat
hingga mempengaruhi kopulasi. Vestibulum vagna adalah bagian tubular
dari saluran reproduksi antara vagina dan labia vulva.
Umumnya vestibulum dianggap sebagai bagian vulva, tetapi N.A.V.
(Nomina Anatomika Veterinaria) mencatatnya sebagai bagian terpisah baik
dari vagina maupun vulva (Frandson, 1992).
Organ kelamin luar terdiri dari vulva/feminine pudendum, labia, dan
clitoris. Vulva merupakan bagian kaudal alat kelamin betina yang
mengalami perluasan dari vagina hingga keluar. Vestibulum vagina
merupakan bagian dari vulva yaitu organ kelamin luar antara vagina dan
labia /bibir vulva (Reece, 2006 cit. Damelka, 2008). Vulva memiliki tepi tebal
yang merupakan ujung dari ventral commissura. Ada dua otot sirkuler yang
dihubungkan dengan vestibulum dan vulva. Constrictor vestibule muscle
terdapat di kranial, kuat dan tidak lengkap pada permukaan dorsal
vestibulum tetapi bersatu di batas kaudal spincter ani externus. Serabut
diagonalnya mengelilingi urethra, vestibulum, dan kaudal vagina. Weak
constrictor vulvae terdapat di kaudal vestibulum berlanjut ke dorsal dengan
spincter ani externus sama-sama mengelilingi vulva dan vestibulum (Getty
1975, cit. Damelka, 2008). Vestibulum lebih pendek dan memiliki dinding
yang kurang elastis daripada vagina (Dyce et al. 2002, cit. Damelka, 2008).
Vestibulum berkembang dari sinus urogenital embryonic dan mirip dengan
urethra jantan. Urethra merupakan saluran yang membawa keluar urin dari
vesika urinaria terletak didasar vestibulum. Pada kucing, kelenjar vestibular
major kecil dan terletak dilateral dinding vestibulum. Sedangkan kelenjar
vestibular minor lebih sering terlihat dan salurannya terbuka (Getty 1975,
cit. Damelka, 2008).
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan dapat
diketahui bahwa panjang vulva sapi adaalah 7 cm. Bearden and
Fuquay (1997) menyatakan bahwa panjang vulva 10 sampai 12 cm pada
sapi. Hal ini disebabkan karena ukuran vulva setiap ternaknya itu berbeda
beda tergantung dari jenis ternak, umur ternak, dan pernah tidaknya
melahirkan.
Klitoris
Ternak memiliki clitoris berukuran panjang kira-kira 5 sampai 10 cm,
tetapi seluruhnya praktis tersembunyi di dalam jaringan antara vulva
dan arcus ischiadieus. Clitoris terdiri dari jaringan erektil yang diselubungi
oleh epitel skuamus bersusun dan mengandung cukup banyak ujung-ujung
syaraf sensoris. Sebagian terbesar clitoris pada sapi terkubur di dalam
mukosa vestibulum. Clitoris pada kuda berkembang baik, sedangkan pada
babi berbentuk panjang dan berkelok berakhir pada suatu titik atau puncak
kecil (Feradis, 2010).
Siklus Estrus
Fase proestrus ditunjukkan dengan dimulainya proses pembesaran
folikel ovarium terutama karena meningkatnya cairan folikel yang berisi
cairan estrogenik; fase estrus ditunjukkan dengan pematangan Folikel de
Graaf dan mencapai ukuran maksimal, ovum mengalami perkembangan ke
arah pematangan dan terjadi ovulasi; fase metestrus ditandai dengan
ditemukan adanya korpus hemoragikum di bekas tempat yang ditempati
oleh folikel de Graff, dan setelah ovulasi terjadi maka dinding folikel menjadi
kolaps. Hemoragi yang terjadi ketika ovulasi akhirnya membeku dan
menjadi korpus hemoragikum, beberapa hari kemudian korpus
hemoragikum berubah menjadi jaringan luteal yang menghasilkan korpus
luteum; dan fase diestrus ditandai dengan keberadaan korpus albikans
(Dellmann dan Brown, 1992; Putro, 2008 cit. Jalaluddin, 2014).
Proestrus merupakan fase menjelang estrus dimana gejala berahi
mulai muncul akan tetapi hewan betina belum mau menerima pejantan
untuk melakukan kawin. Pada fase ini folikel de Graaf tumbuh dibawah
pengaruh FSH dan menghasilkan estrogen dalam jumlah banyak. Pada
fase ini, estradiol menyebabkan betina mulai mau didekati jantan. Saluran
reproduksi termasuk mukosa vagina mulai mendapatkan vaskularisasi yang
lebih intensif sehingga selsel epitel saluran reproduksi mulai berproliferasi
(Nursyah, 2012).
Fase proestrus akan dilanjutkan ke fase estrus yang ditandai dengan
keinginan kelamin dan penerimaan pejantan oleh hewan betina untuk
kopulasi. Pada fase ini estradiol yang berasal dari folikel de Graaf yang
matang akan menyebabkan perubahan-perubahan pada saluran
reproduksi betina (Toelihere, 1985 cit. Nursyah, 2012). menyatakan bahwa
fase estrus dapat diketahui dengan adanya sel-sel tanduk yang banyak
pada lumen vagina yang biasanya nampak pada preparat ulas vagina dan
berlangsung selama 12 jam (Baker et al., 1980 cit. Nursyah, 2012).
Fase metestrus merupakan kelanjutan dari fase estrus dan
berlangsung selama 21 jam (Baker et al. 1980 cit. Nursyah, 2012).
menyatakan bahwa fase metestrus dibagi menjadi 2 stadium yaitu stadium
1 yang berlangsung kira-kira 15 jam dan stadium 2 kira-kira berlangsung
selama 6 jam. Pada fase ini umumnya tidak terjadi perkawinan. Pada fase
metestrus dan diestrus, uterus mengalami fase sekretoris (Smith dan
Mangkoewidjojo, 1988 cit. Nursyah, 2012).
Gangguan pada organ reproduksi betina
Keterlambatan pubertas atau delayed pubertas pada seekor betina
dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain genetik, nutrisi dan faktor
manajemen reproduksi. Asupan nutrisi dan cadangan energi tubuh
mempengaruhi aktivitas dan respon ovarium. Kurangnya asupan nutrisi
akan mempengaruhi senyawa metabolisme dan hormon seperti insulin dan
insulin-like growth factor-I yang mempengaruhi hipotalamus dan hipofisis
terhadap respon pada ovarium dan sensitifitas gonadotropin hormon pada
hipofisis sehingga energi tubuh akan menekan pelepasan gonadotropin
releazing hormone (GnRH) dan mempengaruhi frekuensi pulsatil luteinizing
hormone (LH) yang diperlukan untuk pertumbuhan folikel. Kondisi ini akan
menyebabkan delayed pubertas akibat folikel tidak berkembang menjadi
folikel dominan atresia maupun dominan ovulasi, selain itu menyebabkan
penurunan fungsi ovarium atau hipofungsi ovarium yang bersifat reversible.
Hipofungsi ovarium yang tidak segera ditangani akan melanjut menjadi
atropi ovarium yang bersifat irreversible (Gutierrez, 2005; Gitonga, 2010 cit.
Budiyanto et al., 2016).
Metritis adalah kondisi peradangan akibat infeksi pada myometrium.
Metritis umumnya terjadi segera setelah partus atau pada masa
puerpureum sampai hari ke-20 postpartum. Persentase kejadian metritis
tertinggi yaitu pada hari ke-10 postpartum yaitu 40%. Sedangkan kejadian
endometritis klinis sering terjadi pada hari ke-15 sampai 60 atau 70 hari
postpartum. Persentase kejadian endometritis klinis pada sapi adalah 20%
pada hari ke-15 sampai 40 hari postpartum (Sheldon et al., 2008 cit.
Budiyanto et al., 2016). Endometritis adalah kondisi peradangan pada
uterus yang paling umum ditemukan. Endometritis merupakan suatu proses
inflamasi yang mencakup endometrium dan merupakan salah penyebab
penting dari kejadian infertilitas pada sapi (Azawi, 2008; LeBlanc, 2008 cit.
Budiyanto et al., 2016).
Metritis dan endometritis di daerah ini cukup tinggi hal ini dapat
disebabkan oleh kontaminasi bakteri non spesifik saat perkawinan (alami,
inseminasi buatan), distokia, kebuntingan kembar, retensi plasenta, metritis
puerpuralis dan penurunan atau kegagalan mekanisme aktivitas fagositosis
oleh leukosit pada uterus (Azawi, 2008 cit. Budiyanto et al., 2016).
Karakteristik gejala klinis metritis pada sapi adalah adanya leleran cair
hingga kental (viscous) berwarna merah kecoklatan sampai putih purulent
keluar melalui vulva. Endometritis dapat dibedakan menjadi endometritis
subklinis yang sering terjadi segera setelah partus dan tanpa menunjukan
gejala klinis (Azawi, 2008; LeBlanc, 2008; Sheldon et al., 2008 cit.
Budiyanto et al., 2016).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa fungsi-fungsi
dari masing-masing alat reproduksi betina tersebut antara lain ovarium
berfungsi sebagai penghasil hormon estrogen, progesteron, inhibin, dan
memproduksi ovum. Oviduct berfungsi sebagai transpor spermatozoa dari
uterus menuju ampulla, tempat pertemuan ovum dengan spermatozoon
(fertilisasi), tempat terjadinya proses kapasitasi spermatozoa, memproduksi
cairan, dan transpor ovum yang telah dibuahi. Uterus berfungsi sebagai
saluran yang dilewati spermatozoa menuju oviduct, tempat implantasi
embrio, tempat pertumbuhan dan perkembangan embrio, berperan dalam
proses kelahiran, dan pada hewan betina yang tidak bunting berfungsi
mengatur siklus estrus. Cervix berfungsi sebagai penutup lumen sehingga
tidak memberi kemungkinan untuk masuknya jasad remik kedalam uterus,
dan tempat reservoir spermatozoa. Vagina berfungsi sebagai alat kopulasi
dan tempat sperma dideposisikan pada saat perkawinan alami, merupakan
saluran keluar sekresi cervix, uterus, oviduct, dan jalan peranakan selama
proses beranak. Clitoris berperan penting pada waktu kopulasi.
DAFTAR PUSTAKA

Ball, P.J.H and A.R. Peters. 2004. Reproduction In Cattle 3rd Edition.
Blackwell Publishing. Australia.
Bearden, J and Fuquay, J. W. 1997. Applied Animal Reproductoin Fourth
Edition. Prentice Hall, Inc. USA
Budiyanto, A., T. C. Tophianong, Triguntoro, H. K. Dewi. 2016. Gangguan
reproduksi sapi bali pada pola pemeliharaan semi intensif di daerah
sistem integrasi sapi - kelapa sawit. Acta Veterinaria Indonesiana. Vol.
4(1): 14-18
Busman, H., M. Biomed. 2013. Histologi ulas vagina dan waktu siklus estrus
masa subur mencit betina setelah pemberian ekstrak rimpang rumput
teki. Semirata FMIPA. Vol 1 (1): 371-375
Damelka, K. 2008. Pencitraan brightness mode (b-mode) ultrasonografi
untuk deteksi kebuntingan dan pengamatan perkembangan fetus
kucing (Felis catus). Skripsi Fakultas Kedokteran. Hewan Institut
Pertanian Bogor. Bogor
Farrer, H. 2001. Perawatan Maternitas. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta
Fausiah, A. 2014. Pengaruh Penambahan Antioksidan Gsh (Glutathione)
Terhadap Tingkat Pematangan Oosit Sapi Bali Secara In Vitro. Skripsi
Fakultas Peternakan. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran pada Ternak. Airlangga University
Press. Surabaya
Ihsan, M. N. 2012. Pengaruh umur induk terhadap potensi ketersediaan
sumber oosit kambing. Jurnal Ternak Tropika. Vol. 13 (1): 33-37
Irwan. 2016. Epidemiologi penyakit tidak menular. Deepublish. Yogyakarta
Jalaluddin, M. 2014. Morfometri dan karakteristik histologi ovarium sapi
aceh (Bos indicus) selama siklus estrus. Jurnal Medika Veterinaria.
Vol 8(1): 66-68
Kurnia, M. L. 2011. Efektivitas pemberian ekstrak etanol purwoceng
(Pimpinella alpina) selama 13-21 hari kebuntingan terhadap bobot
organ reproduksi dan anak tikus putih (Rattus sp.). Skripsi Fakultas
Kedokteran. Hewan Institut Pertanian Bogor. Bogor
Musahilah, T. 2010. Efek pemberian ekstrak daun maja (Aegle marmelos
Corr.) terhadap fertilitas tikus betina. Tesis Sekolah Pascasarjana.
Intitut Pertanian Bogor. Bogor
Nursyah, D. A. 2012. Gambaran siklus estrus tikus putih (Rattus
norvegicus) ovariektomi yang diberi tepung daging teripang
(Holothuria scabra). Skripsi Fakultas Kedokteran Hewan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Prandika, Y. 2016. Performan reproduksi induk sapi bali pasca sinkronisasi
estrus menggunakan prostaglandin (PGF2) dan human chorionic
gonadotropin (hCG). Skripsi Fakultas Pertanian dan Peternakan.
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Pekanbaru
Rachmawati, A. F. 2011. Morfologi organ reproduksi betina trenggiling jawa
(Manis javanica) dengan tinjauan khusus pada karakteristik
perkembangan folikel dan distribusi karbohidrat pada ovarium. Skripsi
Fakultas Kedokteran. Hewan Institut Pertanian Bogor. Bogor
Suberata, I.W., N.L.G. Sumardani, N.M. Artiningsih. 2016. Kajian aktivitas
ovarium babi betina hasil pemotongan di rumah potong hewan
tradisional di kabupaten badung. Majalah Ilmiah Peternakan. Vol 19
(2): 80-83
Susrama, I. G. 2007. Memanfaatkan Sistem Pakar untuk Membantu Analisa
Diagnosa Penyakit Obstetri dan Ginekologi. Seminar Nasional
Aplikasi Teknologi Informasi. Yogyakarta. L9-L14