Anda di halaman 1dari 7

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

PELATIHANPPI DASAR

Mata Diklat : PRINSIP2 KEWASPADAAN ISOLASI


Waktu : 45 MENIT (1 JPL)
TPU : Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu menjelaskan konsep dasar
kewaspadaan Isolasi di pelayanan kesehatan sesuai pedoman pencegahan dan
pengedalian infeksi.
TPK : Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu:
1. Mampu menjelaskan sejarah perkembangan kewaspadaan isolasi sesuai
pedoman pencegahan dan pengedalian infeksi depkes, 2010
2. Mampu menjelaskan pengertian kewaspadaan isolasi sesuai pedoman
pencegahan dan pengedalian infeksi depkes, 2010
3. Mampu menjelaskan tujuan keawaspadaan isolasisesuai pedoman
pencegahan dan pengedalian infeksi depkes, 2010
4. Mampu menjelaskan pembagian kewaspadaan isolasisesuai pedoman
pencegahan dan pengedalian infeksi depkes, 2010
5. Mampu menjelaskan waktu pelaksanaan kewaspadaan isolasi sesuai
pedoman pencegahan dan pengedalian infeksi depkes, 2010
6. Mampu menjelskan prinsip kewaspadaan isolasisesuai pedoman
pencegahan dan pengedalian infeksi depkes, 2010
PokokBahasan dan :
Sub PokokBahasan
1. Konsep Dasar Kewaspadaan Isolasi sesuai pedoman pencegahan dan pengedalian infeksi
depkes, 2010
1.1. Sejarah perkembangan kewaspadaan isolasi
1.2. Pengertian kewaspadaan isolasi
1.3. Tujuan kewaspadaan isolasi
1.4. Pembagian kewaspadaan isolasi
1.5. Waktu pelaksanaan kewaspadaan isolasi
2. Prinsip kewaspadaan isolasi
2.1. Pelaksanaan kewaspadaan standart
2.2. Pelaksanaan kewaspadaan berdasarkan transmisi (kontak, droplet, airborne)
ProsesPembelajaran
Media/alatbantu
Fasilitator Peserta Metode Waktu
1. Pendahuluan
a. Menyampaikan salam Menjawab Ceramah, Sound system 5 menit
b. Memperkenalkandiri salam Tanya Jawab Microfun
c. Apersepsi LCD
d. Menyampaikantujuan Laptop

2. Penyajian / PenyampaianMateri : Melihat


Mendengar, Ceramah, Hand out, Laptop,
a. Sejarah kewaspadaan isolasi Bertanya, Tanya Jawab LCD, Pointer 10 menit
Menjawab, ,
b. Pengertian kewaspadaan isolasi Menyimak
Memperhatikan
c. Tujuan kewaspadaan isolasi

d. Pembagian kewaspadaan isolasi

e. Waktu pelaksanaan 5 menit


kewaspadaan isolasi
10 menit
f. Pelaksanaan kewaspadaan
isolasi
10 menit
g. Pelaksanaan kewaspadaan
berdasarkan transmisi
(kontak, droplet, airborn)
3. Penutup Hand out, Laptop,
a. Rangkuman Ceramah, LCD, Pointer 5 menit
b. Evaluasi (pertanyaan) Tanya Jawab
c. Kesimpulan

REFERENSI :

Buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Lainnya, Kementerian Kesehatan Cetakan kedua Tahun 2009
MODUL : KEWASPADAAN ISOLASI

Kewaspadaan isolasi merupakan bagian dari Program Pencegahan dan Pengendaliann


Infeksi rumah sakit/ HAIs, bertujuan untuk memutus mata rantai infeksi yaitu dari pasien ke
pasien lainnya, dari pasien ke petugas atau sebaliknya , dari pasien ke pengunjung atau dari
pengunjung ke pasien dari permukaaan lingkungan ke pasien atau petugas maupun pengunjung.
Di Indonesia telah dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
382/Menkes/SK/III/2007 tentang Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah
Sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan lain sebagai upaya untuk memutus siklus penularan
penyakit dan melindungi pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan masyarakat yang menerima
pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.. Petugas
kesehatan harus memahami, mematuhi dan menerapkan Kewaspadaan Isolasi .
Kewaspadaan Isolasi terdiri dari dua lapis,yaitu lapis pertama Kewaspadaan Standar yang
merupakan gabungan dari Universal Precaution dan Body Substance Isolastion. Kewaspadaan
Standar ditujukan kepada semua pasien tanpa memandang apakah sudah terinfeksi atau tidak
terinfeksi, terdiri dari 11 aspek. Lapis kedua adalah Kewaspadaan berdasarkan transmisi yang
terdiri dari transmisi kontak,droplet dan airborne/udara. Kewaspadaan berdasarkan transmisi
ditujukan kepada semua pasien yang sudah diketahui atau diduga terinfeksi.

Perkembangan kewaspadaan isolasi


Kewaspadaan terhadap infeksi sudah diawali sejak tahun 1877 (US) yang disebut
sebagai Early Isolation Precaution, dimana dilakukan pemisahan pasien infeksi dengan non
infeksi namun infeksi berlangsung terus. Tahun 1890-1900 Early Isolation Precaution diubah
menjadi Early Isolation Precaution yaitu pemisahan pasien sesuai jenis infeksi dan dilakukan
teknik aseptik dan infeksi masih berlangsung terus. Tahun 1910 dilakukan sistem kubikel,
menggunakan gaun,melakukan cuci tangan aseptik, dan disinfeksi peralatan kesehatan pasien.
Pada tahun 1950 Rumah Sakit Infeksi mulai ditutup kecuali TB. Pada tahun 1960 Rumah Sakit
TB ditutup pasien lebih menyenangi berobat ke rumah sakit umum atau rawat jalan. Pasien
penyakit TB di rawat di RSU dengan teknik isolasi.
Pada tahun 1970 dibentuk Isolation Manual (CDC) yaitu dengan melakukan Teknik
Isolasi, namun pada tahun 1975 Isolasi Manual direvisi menjadi tujuh kategori isolasi yaitu
Strict Isolation, Respiratory Isolation, Protective Isolation, Enteric Precaution, Wound and skin
Precaution, Blood Precaution ,Discharge Precaution.
Pada tahun 1983 Rumah Sakit mengalami endemik & epidemik terhadap multi drug
resistance muncul patogen baru ( MRSA ) peningkatan Isolation Precaution pasien dirawat di
ruang intensif. Isolasi Manual direvisi menjadi Strict Isolation, Contact Isolatio, Enteric
Precaution, Drainage Secretion Protective, Blood and Body Fluid Precaution
Pada tahun 1985 timbul Epidemik HIV pada petugas kesehatan yang tertusuk jarum
bekas pakai. Praktek Isolasi diubah secara dramatikal menjadi Universal Precaution (UP),
yaitu kewaspadaan terhadap Darah dan Cairan Tubuh, sehingga diterapkan penggunaan sarung
tangan, gaun, masker, pelindung mata jika kontak atau kemungkinan terkontak darah maupun
cairan tubuh pada semua pasien yang masuk rumah sakit, baik yang sudah dianggap terinfeksi
maupun tidak terinfeksi.
Pada tahun 1988 Universal Precaution menganggap bahwa darah merupakan sumber
utama penularan HIV dan HBV, sehingga harus waspada terhadap darah, cairan tubuh (semen
dan vagina), cairan amniotic, cerebrospinal, peritoneal, pleural, synovial bukan feses, urine,
sekret hidung, sputum, keringat, air mata, muntah, kecuali terkontaminasi darah ( harus mencuci
tangan setelah melepas sarung tangan ). Disisi lain pada tahun 1987 ada beberapa pendapat para
ahli di Seatle, Washington, San Diego, California;yang mengatakan bahwa Body Substance
Isolation (BSI) berfokus terhadap darah, feses, urine ,sputum, saliva, wound drainage, cairan
tubuh lainnya, permukaan tubuh yang basah dan lembab ditujukan kepada semua pasien dengan
menggunakan sarung tangan (tidak perlu cuci tangan setelah melepas sarung tangan kecuali
terkontaminasi) . Pendapat para ahli dari Universal Precaution dan Body Substance Isolation
berbeda, namun akhirnya diambil kesepakatan pada tahun 1990 kedua pendapat ini di satukan
menjadi A new Isolation Guideline terdiri dari dua lapis Standard Precaution ( gabungan UP dan
BSI) dan Transmission Based Precaution dan dipublikasikan pada tahun 1996.
Standard Precaution ditujukan kepada semua pasien tanpa mempertimbangkan infeksi
atau non infeksi . Standard Precaution meliputi kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung
diri (sarung tangan,masker, pelindung mata/wajah. Gaun/apron),peralatan perawatan pasien,
pengendalian lingkungan , penanganan limbah, linen, kesehatan karyawan, penempatan pasien
Transmission Based Precaution ditujukan pada pasien yang infeksi atau diduga infeksi
meliputi; Contact Precaution, Airborne Precaution, Droplet Precaution
Pada tahun 2007 terjadi perubahan dimana Standard Precaution ditambah dengan
Hygiene respirasi/ Etika batuk , Praktek menyuntik yang aman, Praktek pencegahan
untuk prosedur lumbal punksi . Kemudian Hospital Acquired Infection (HAI) menjadi
Healthcare Associated Infections ( HAIs) Cuci tangan menjadi kebersihan tangan

Kewaspadaan Standar dirancang untuk mengurangi risiko terinfeksi penyakit menular pada
petugas kesehatan baik dari sumber infeksi yang diketahui maupun yang tidak diketahui.
Rekomendasi
Kewaspadaan berdasarkan transmisi

Dibutuhkan untuk memutus mata rantai transmisi mikroba penyebab infeksi dibuat untuk
diterapkan terhadap pasien yang diketahui maupun dugaan terinfeksi atau terkolonisasi patogen
yang dapat ditransmisikan lewat udara, droplet, kontak dengan kulit atau permukaan
terkontaminasi. Jenis kewaspadaan berdasarkan transmisi:
1. Kontak.
2. Melalui droplet
3. Melalui udara (Airborne)
4. Melalui common vehicle (makanan, air, obat, alat, peralatan)
5. Melalui vektor (lalat, nyamuk, tikus)
Catatan: Suatu infeksi dapat ditransmisikan lebih dari satu cara.

Kewaspadaan berdasarkan transmisi ini dapat dilaksanakan secara terpisah ataupun


kombinasi dengan Kewaspadaan Standar seperti kebersihan tangan dengan mencuci tangan
sebelum dan sesudah tindakan menggunakan sabun, antiseptik ataupun antiseptik berbasis
alkohol, memakai sarung tangan sekali pakai bila kontak dengan cairan tubuh, gaun pelindung
dipakai bila terdapat kemungkinan terkena percikan cairan tubuh, memakai masker, goggle untuk
melindungi wajah dari percikan cairan tubuh.
Kewaspadaan berdasarkan transmisi yang sering dipakai pada Healtcare Associated
Infections adalah transmisi kontak,drplet dan airborne/udara

1. Kewaspadaan transmisi Kontak

Cara transmisi yang terpenting dan tersering menimbulkan HAIs. Ditujukan untuk menurunkan
risiko transmisi mikroba yang secara epidemiologi ditransmisikan melalui kontak langsung atau
tidak langsung. Kontak langsung meliputi kontak permukaan kulit terluka/abrasi orang yang
rentan/petugas dengan kulit pasien terinfeksi atau kolonisasi. Misal perawat membalikkan tubuh
pasien, memandikan, membantu pasien bergerak, dokter bedah dengan luka basah saat
mengganti verband, petugas tanpa sarung tangan merawat oral pasien HSV atau scabies.

Transmisi kontak tidak langsung terjadi kontak antara orang yang rentan dengan benda yang
terkontaminasi mikroba infeksius di lingkungan, instrumen yang terkontaminasi, jarum, kasa,
tangan terkontaminasi dan belum dicuci atau sarung tangan yang tidak diganti saat menolong
pasien satu dengan yang lainnya, dan melalui mainan anak. Kontak dengan cairan sekresi pasien
terinfeksi yang ditransmisikan melalui tangan petugas atau benda mati dilingkungan pasien.

Sebagai cara transmisi tambahan melalui droplet besar pada patogen infeksi saluran napas misal:
para influenza, RSV, SARS, H5N1.
Pada pedoman Isolation tahun 2007, dianjurkan juga kenakan masker saat dalam radius 6-10
kaki dari pasien dengan mikroba virulen.
Diterapkan terhadap pasien dengan infeksi atau terkolonisasi (ada mikroba pada atau dalam
pasien tanpa gejala klinis infeksi) yang secara epidemiologi mikrobanya dapat ditransmisikan
dengan cara kontak langsung atau tidak langsung. (Kategori IB)

Petugas harus menahan diri untuk menyentuh mata, hidung, mulut saat masih memakai sarung
tangan terkontaminasi ataupun tanpa sarung tangan.
Hindari mengkontaminasi permukaan lingkungan yang tidak berhubungan dengan perawatan
pasien misal: pegangan pintu, tombol lampu, telepon.

2. Kewaspadaan transmisi droplet

Diterapkan sebagai tambahan Kewaspadaan Standar terhadap pasien dengan infeksi diketahui
atau suspek mengidap mikroba yang dapat ditransmisikan melalui droplet ( >m). Droplet yang
besar terlalu berat untuk melayang di udara dan akan jatuh dalam jarak 1-2m dari sumber .(10,11)
Transmisi droplet melibatkan kontak konjungtiva atau mucus membrane hidung/mulut, orang
rentan dengan droplet partikel besar mengandung mikroba berasal dari pasien pengidap atau
carrier dikeluarkan saat batuk, bersin, muntah, bicara, selama prosedur suction, bronkhoskopi.
Dibutuhkan jarak dekat antara sumber dan resipien < 3 kaki. Karena droplet tidak bertahan
diudara maka tidak dibutuhkan penanganan khusus udara atau ventilasi, Misal: Adenovirus.

Transmisi droplet langsung, dimana droplet mencapai mucus membrane atau terinhalasi.
Transmisi droplet ke kontak, yaitu droplet mengkontaminasi permukaan tangan dan
ditransmisikan ke sisi lain misal: mukosa membrane. Transmisi jenis ini lebih sering terjadi
daripada transmisi droplet langsung, misal: commoncold, respiratory syncitial virus (RSV).
Dapat terjadi saat pasien terinfeksi batuk, bersin, bicara, intubasi endotrakheal, batuk akibat
induksi fisioterapi dada, resusitasi kardiopulmoner.

3. Kewaspadaan transmisi melalui udara ( Airborne Precautions )

Kewaspadaan transmisi melalui udara (kategori IB) diterapkan sebagai tambahan Kewaspadaan
Standar terhadap pasien yang diduga atau telah diketahui terinfeksi mikroba yang secara
epidemiologi penting dan ditransmisikan melalui jalur udara. Seperti misalnya transmisi partikel
terinhalasi (varicella zoster) langsung melalui udara.

Ditujukan untuk menurunkan risiko transmisi udara mikroba penyebab infeksi baik yang
ditransmisikan berupa droplet nuklei (sisa partikel kecil < 5 m evaporasi dari droplet yang
bertahan lama di udara) atau partikel debu yang mengandung mikroba penyebab infeksi.
Mikroba tersebut akan terbawa aliran udara > 2m dari sumber, dapat terinhalasi oleh individu
rentan di ruang yang sama dan jauh dari pasien sumber mikroba, tergantung pada faktor
lingkungan, misal penanganan udara dan ventilasi yang penting dalam pencegahan transmisi
melalui udara, droplet nuklei atau sisik kulit luka terkontaminasi (S. aureus).