Anda di halaman 1dari 28

SEMINAR AKUNTANSI MANAJEMEN

Is ABC Suaitable for Your Company ?

Oleh:

Kelompok 3

Caecy Lia Febriyanti 1410531016

Delvi Agitya 1410532044

Fahmi Wahyudi 1410532026

A.2

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ANDALAS

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
kasih-Nya, atas anugerah hidup dan kesehatan yang telah penulis terima, serta petunjukNya
sehingga memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyusun makalah ini.

Didalam makalah ini penulis selaku penyusun hanya bisa memaparkan sebatas ilmu
dengan topik Is ABC Suaitable for Your Company ?. Dimana didalam topik ini kami penulis
membahas mengenai konsep dasar ABC dan apakah tepat pengimplementasian ABC didalam
suatu perusahaan.

Penulis menyadari bahwa ada keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang topik
yang dibahas pada makalah ini, oleh karena itu masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan
dalam penyusunan makalah ini. Tak ada gading yang tak retak, maka penulis menerima semua
kritikan dan saran demi kesempurnaan penulisan.

Harapan penulis, semoga makalah ini membawa manfaat bagi kita semua, terutama
dalam bidang pendidikan. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
terkait didalam pembuatan makalah ini.

Padang, 1 September 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................................................2

Daftar Isi..........................................................................................................................................3

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .......................................................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................................4

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan ..............................................................................................5

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 Activity Based Costing.........................................................................................................6


2.1.1 Identifikasi Aktivitas, Definisi, dan Klasifikasi.....................................................7
2.1.2 Menetapkan biaya ke kegiatan.............................................................................10
2.1.3 Menetapkan biaya aktivitas ke aktivitas lain........................................................11
2.1.4 Menetapkan biaya ke produk................................................................................13
2.1.5 Klasifikasi detil dari kegiatan...............................................................................14
2.2 Pendekatan Contingency Untuk Implementasi Abc............................................................15

BAB III : PENUTUP ...................................................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................28

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Globalisasi ekonomi telah menimbulkan peningkatan persaingan dalam industri dan


perubahan teknologi yang terjadi telah mendorong perubahan dan automasi dalam perusahaan
terutama yang bergerak di industri manufaktur. Ditambah lagi, perubahan kebutuhan pelanggan
telah mendorong perusahaan untuk melakukan pengembangan dan perbaikan sistem
manufakturnya, salah satunya terkait dengan penyediaan informasi terkait penentuan biaya
produk. Dengan sistem penetapan biaya produk yang lebih baik diharapkan perusahaan dapat
memperoleh dan mempertahankan keunggulan kompetitif yang berkelanjutannya.

Salah satu caranya adalah dengan beralih dari penggunaan sistem costing yang tradisional
ke sistem ABC. ABC (Activity Based Costing) sendiri merupakan suatu metode yang digunakan
oleh suatu organisasi atau perusahaan untuk mengalokasikan biaya overhead pada produk yang
dihasilkannya, baik berupa barang maupun jasa, dengan aktivitas sebagai fokus utamanya.
Dengan metode ini, diharapkan perhitungan biaya menjadi semakin akurat.

ABC dapat diimplementasikan di berbagai jenis perusahaan. Tidak hanya perusahaan


manufaktur, melainkan juga perusahaan jasa, dagang, organisasi pemerintahan, dan organisasi
lainnya. Namun, keputusan untuk mengimplementasikannya tergantung pada kebijakan dan
penilaian manajemen dari perusahaan tersebut. Salah satu cara yang dapat digunakan manajemen
dalam memutuskannya adalah dengan menggunakan Contingency Analysis Model.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Activity Based Costing dan cara menentukan
apakah ABC cocok digunakan oleh suatu perusahaan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa itu Activity Based Costing dan bagaimana konsep dasarnya?
2. Kriteria apakah yang tepat untuk mengimplementasikan ABC pada suatu perusahaan?

4
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1. Mengetahui apa itu Activity Based Costing dan konsep dasarnya.
2. Mengetahui kriteria yang tepat dalam mengimplementasikan ABC pada suatu
perusahaan.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 ACTIVITY BASED COSTING

Activity Based Costing merupakan metode pembebanan aktivitas-aktivitas berdasarkan


besarnya pemakaian sumber daya, dan membebankan biaya pada objek biaya, seperti produk
atau pelanggan, berdasarkan besarnya aktivitas, serta untuk mengukur biaya dan kinerja dari
aktivitas yang terkait dengan proses dan objek biaya. ABC juga digunakan sebagai elemen
activity-based management, yaitu pendekatan manajemen yang fokus pada aktivitas. Activity
Based Costing dapat diartikan juga sebagai penentuan harga pokok produk berdasarkan kegiatan
atau aktivitas.

Menurut Mulyadi (2003:40) yang dimaksud dengan Activity Based Costing yaitu:
Sistem informasi biaya yang berorientasi pada penyediaan informasi lengkap tentang aktivitas
untuk memungkinkan personel perusahaan melakukan pengelolaan terhadap aktivitas. Sistem
informasi ini menggunakan aktivitas sebagai basis serta pengurangan biaya dan penentuan secara
akurat biaya produk atau jasa sebagai tujuan. Sistem informasi ini diterapkan dalam perusahaan
manufaktur, jasa, dan dagang.

Contoh Goodmark Company menunjukkan dengan jelas bahwa biaya utama (bahan
langsung dan tenaga kerja langsung) ditetapkan dengan cara yang sama untuk berbasis
fungsional seperti untuk aktivitas berbasis sistem biaya, keduanya menggunakan penelusuran
langsung ke produk. Perbedaan utama antara dua sistem penetapan biaya adalah biaya overhead
ditetapkan untuk produk. Seperti ditunjukkan pada Gambar 4-8, sistem penetapan biaya berbasis
aktivitas (activity-based costing / ABC) pertama menelusuri biaya overhead untuk aktivitas dan
kemudian ke produk dan objek biaya lainnya. Sistem ABC menawarkan potensi menghasilkan
lebih akurat biaya produk daripada sistem penetapan biaya berbasis fungsional. Dalam
merancang sistem ABC, ada enam langkah penting, seperti :

6
2.1.1 Identifikasi Aktivitas, Definisi, dan Klasifikasi
Mengidentifikasi kegiatan merupakan langkah awal yang logis dalam merancang
sistem penetapan biaya berbasis aktivitas. Mengidentifikasi suatu kegiatan setara dengan
menggambarkan tindakan yang dilakukan. Daftar sederhana dari aktivitas yang diidentifikasi
disebut inventarisasi aktivitas. Persediaan aktivitas sampel untuk produsen elektronik tercantum
dalam Tampilan 4-10. Tentu saja, sebenarnya persediaan kegiatan untuk sebagian besar
Organisasi akan daftar lebih dari 12 kegiatan (200 sampai 300 tidak biasa).

7
Definisi Aktivitas
Setelah inventarisasi aktivitas diambil, atribut aktivitas digunakan untuk
mendefinisikan aktivitas. Activity dictionary daftar kegiatan dalam sebuah organisasi bersama
dengan atribut yang diinginkan. Atribut yang dipilih tergantung pada tujuan yang dilayani.
Contoh atribut aktivitas dengan tujuan biaya produk mencakup tugas yang menggambarkan
aktivitas, jenis sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas, jumlah (persentase) waktu
dihabiskan untuk aktivitas oleh pekerja, biaya objek yang mengkonsumsi aktivitas, dan ukuran
aktivitas konsumsi (activity driver). Activity dictionary menyediakan informasi penting untuk
activity based costing serta activity management. Ini adalah sumber informasi utama untuk
membangun database berbasis aktivitas yang akan dibahas nanti di bab ini.

Klasifikasi aktivitas
Atribut mendefinisikan dan menggambarkan aktivitas dan pada saat bersamaan,
menjadi dasar bagi klasifikasi aktivitas. Klasifikasi kegiatan memudahkan tercapainya key
managerial tujuan seperti biaya produk atau pelanggan, perbaikan terus-menerus, kualitas total
manajemen, dan pengelolaan biaya lingkungan. Misalnya, untuk keperluan penetapan biaya,
Kegiatan dapat diklasifikasikan sebagai primer atau sekunder. Aktivitas utama adalah kegiatan
yang dikonsumsi oleh objek biaya akhir seperti produk atau pelanggan. Aktivitas sekunder
adalah yang dikonsumsi oleh objek biaya menengah seperti kegiatan utama, bahan, atau kegiatan
sekunder lainnya. Mengetahui perbedaan antara dua jenis kegiatan memfasilitasi biaya produk.
Bagan 4-8 menunjukkan bahwa aktivitas mengkonsumsi sumber daya. Demikian, pada tahap
pertama penetapan biaya berdasarkan aktivitas, biaya sumber daya overhead diberikan untuk
kegiatan. Tampilan 4-8 juga menyiratkan bahwa produk mengkonsumsi aktivitas-tapi hanya
yang kegiatan utama. Jadi, sebelum menetapkan biaya kegiatan utama ke produk, biaya kegiatan

8
sekunder yang dikonsumsi oleh kegiatan utama harus diberikan kepada yang kegiatan utama.
Misalnya, kegiatan bisa diklasifikasikan sebagai nilai tambah atau non-nilai tambah
(didefinisikan dan dibahas secara rinci dalam Bab 12), sebagai kualitas yang terkait (dibahas di
Bab 14), atau sebagai lingkungan (dibahas di Bab 14). Dalam merancang suatu sistem penetapan
biaya aktivitas, atribut yang diinginkan dan klasifikasi penting perlu dicirikan di depan sehingga
data yang diperlukan dapat dikumpulkan untuk activity dictionary

Mengumpulkan Data yang Diperlukan


Wawancara, kuesioner, survei, dan observasi merupakan cara umum untuk
mengumpulkan data untuk sistem ABC. Wawancara dengan manajer atau perwakilan
berpengetahuan lainnya departemen fungsional mungkin merupakan pendekatan yang paling
umum untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Pertanyaan wawancara dapat
digunakan untuk mengidentifikasi aktivitas dan atribut aktivitas dibutuhkan untuk biaya atau
keperluan manajerial lainnya. Informasi berasal dari pertanyaan wawancara berfungsi sebagai
dasar untuk membangun activity dictionary dan menyediakan data yang bermanfaat untuk
menetapkan biaya sumber daya untuk aktivitas individu. Dalam menyusun sebuah wawancara,
pertanyaan harus mengungkapkan atribut kunci tertentu. Pertanyaan wawancara harus terstruktur
untuk memberikan jawaban yang memungkinkan atribut yang diinginkan diidentifikasi dan
diukur.

Activity dictionary
Berdasarkan jawaban wawancara, activity dictionary sekarang bisa dipersiapkan. Figur
4-11 mengilustrasikan kamus untuk unit kardiologi. Activity dictionary menamai aktivitas
(biasanya dengan menggunakan kata kerja tindakan dan objek yang menerima tindakan),
jelaskan tugas yang membentuk aktivitas, mengklasifikasikan aktivitas sebagai daftar primer
atau sekunder pengguna (objek biaya), dan mengidentifikasi ukuran output aktivitas (activity
driver). Untuk Misalnya, kegiatan pengawasan dikonsumsi oleh kegiatan utama sebagai berikut:
mengobati pasien, memberikan perawatan higienis, menanggapi permintaan pasien, dan
pemantauan pasien. Tiga pasien perawatan intensif produk, pasien perawatan tingkat menengah,
dan pasien perawatan normal-pada gilirannya mengkonsumsi kegiatan utama.

9
2.1.2 Menetapkan biaya ke kegiatan

Ketika kegiatan telah diidentifikasi dan dijelaskan, yang dilakukan selanjutnya adalah
menetukan biaya yang dibebankan. Untuk mengetahinya, dibutuhkan identifikasi dari sumber
yang digunakan oleh tiap kegiatan. Biaya dari sumber daya yang digunakan dapat dilihat di buku
besar, tetapi, jumlah yang digunakan di tiap kegiatan tidak terlihat. Oleh karena itu, penetapan
biaya dengan menggunakan direct tracing dan driver tracing menjadi penting. Sebagai contoh,
manager dari departemen kartu kredit SpringBanc menampilkan penggunaan tenaga kerja tiap
kegiatan:

10
Waktu yang dihabiskan pada tiap kegiatan menjadi dasar untuk menetapkan biaya tenaga
kerja tiap aktivitas. Jika waktunya 100%, berarti tenaga kerja tersebut hanya berfokus pada satu
kegiatan, dan penetapannya menggunakan metode direct tracing. Jika sumber daya dibagi ke
beberapa kegiatan, maka digunakan metode driver tracing, dan driver yang dipakai disebut
resource driver. Resource driver adalah faktor yang mengukur penggunaan sumber daya pada
tiap kegiatan. Sebagai contoh, jika gaji supervisor sebesar $50000 dan 5 orang pegawai sebesar
$150000, maka jumlah biaya tenaga kerja ditetapkan sebagai berikut:

2.1.3 Menetapkan biaya aktivitas ke aktivitas lain

Menetapkan biaya ke aktivitas menyelesaikan tahap pertama dari activity-based costing. Di


dalam tahap pertama, kegiatan diklasifikasikan sebagai kegiatan primer dan sekunder. Jika
terdapat kegiatan sekunder, maka muncul tahapan menengah dari ABC. Pada tahapan menengah,
biaya dari kegiatan sekunder dibebankan kepada kegiatan yang menggunakanoutputnya.
Supervisi pegawai adalah salah satu contoh kegiatan sekunder. Pengukuran output berdasar
kepada total waktu yang digunakan pegawai untuk setiap aktivitas.

11
Dari matrix distribusi yang telah dibuat, kita tau ada tiga departemen utama (kegiatan
primer) menggunakan tenaga kerja sebesar 40%, 30%, dan 30%. Oleh sebab itu, biaya supervisi
dapat ditetapkan berdasarkan kegiatan yang dilakukan menggunakan rasio yang dapat dilihat
pada tabel di bawah.

12
2.1.4 Menetapkan biaya ke produk

Ketika biaya dari kegiatan proimer sudah ditentukan, biaya tersebut dapat dibebankan ke produk.
Pembebanan ini dapat dilakukan dengan menghitung tariff biaya kegiatan dan mengalikannya
dengan penggunaan actual dari kegiatan tersebut. Pada tabel 4-13, activity driver diidentifikasi
untuk tiap kegiatan utama: jumlah transaksi untuk memproses transaksi, jumlah dokumen untuk
mempersiapkan dokumen, jumlah telepon masuk untuk menjawab pertanyaan, dan jumlah
transaksi teller untuk kegiatan teller. Untuk menetapkan biaya, kita membutuhkan jumlah unit
yang digunakan dari tiap kegiatan. Diasumsikan data dari SpringBanc adalah sebagai berikut:

Dengan menggunakan data ini, tariff tiap kegiatan dapat dihitung sebesar

Berdasarkan tariff ini, maka biaya dapat dilihat pada tabel di bawah

13
2.1.5 Klasifikasi detil dari kegiatan

Untuk keperluan product-costing, kegiatan dapat diklasifikasikan menjadi 4 kategori umum,


yaitu unit level, batch level, product level, dan facility level

- Unit level
Unit level activities adalah kegiatan yang dilakukan tiap kali sebuah unit diproduksi.
Biaya dari unit level activities bergantung pada jumlah unit yang diproduksi. Contohnya
adalah perakitan.
- Batch level
Batch level activities adalah kegiatan yang dilakukan setiap gelombang produksi. Biaya
dari batch level activities tergantung pada jumlah gelombang, tetapi biayanya tetap
dengan mengikut jumlah unit pada gelombang tersebut. Contohnya adalah setup mesin
dan inspeksi.
- Product level
Product level activities adalah kegiatan yang dilakukan untuk mendukung berbagai
produk yang diproduksi. Kegiatan ini memakai input yang bisa mengembangkan produk
untuk bisa dijual. Contohnya adalah pemasaran.
- Facility level

14
Facility level adalah kegiatan yang berhubungan dengan kelangsungan proses manufaktur
pada perusahaan tersebut, sepert pembangunan pabrik, keamanan, pajak, dan lain lain.

Tradisional VS Activity Based Costing

Tradisional menyebabkan munculnya Produk yang membuat biaya timbul.

Dasar aktivitas yang dipakai biasanya berkaitan dengan volume (volume-related activity base)
seperti ekuivalen unit, jam kerja langsung atau jam mesin langsung.

Activity Based Costing menyebabkan adanya Aktivitas yang membuat biaya timbul.

Memakai pemicu biaya dasar unit maupun non unit, yang jumlah pemicu biayanya lebih besar
ketimbang jumlah pemicu pada system tradisional, sehingga meningkatkan akurasi penentuan
biaya pokok produk.

2.2 PENDEKATAN CONTINGENCY UNTUK IMPLEMENTASI ABC

ABC dapat diterapkan di berbagai bentuk perusahaan. Selain pada perusahaan


manufaktur, juga bisa diimplementasikan di perusahaan jasa, dagang, organisasi pemerintahan,
dan organisasi lainnya. Keputusan untuk mengimplementasikan metode ini tergantung kepada
penilaian manajemen dari perusahaan tersebut. Metode yang dapat perusahaan gunakan sebagai
acuan untuk mengimplementasikan ABC adalah Contingency Analysis Model.

Metodologi ini berdasarkan kepada analisis perusahaan atas perusahaannya sendiri. Hal
ini menyangkut pertimbangan dan kombinasi beban atas faktor dan dimensi yang bertujuan
untuk mengevaluasi kemungkinan kesuksesan dari implementasi ABC. Kombinasi beban dinilai
berdasarkan satu dari empat quadran berdasarkan grafik. Metode ini didesain untuk menyusun
analisis secara sistematis yang dilakukan oleh manajer dari perusahaan dengan mendiskusikan
faktor umum yang mendukung atau menolak implementasi ABC.

Pertama, manajemen harus menganalisis sifat perusahaannya berdasarkan dua pertanyaan


kunci berikut ini:

15
1. Pada organisasi-organisasi tertentu apakah ABC akan menghasilkan biaya yang berbeda
sekali dengan hasil perhitungan biaya secara tradisional dan manakah biaya tersebut yang
terlihat lebih baik?
2. Jika informasi yang dianggap lebih baik itu dihasilkan oleh sistem yang baru, akankah
informasi baru tersebut akan mengubah keputusan yang dibuat manajemen?

Finding The Answer

Ada sepuluh faktor mediasi yang dapat membantu manajemen dalam menentukan
jawabannya. Lima pertama ditujukan kepada potensial perusahaan untuk menggunakan ABC
dibandingkan traditional costing methods dan lima berikutnya berhubungan dengan kebutuhan
manajemen akan informasi dari ABC dalam decision-making.

A. Kriteria Penerapan Activity Based Costing Pada Perusahaan


1. Product Diversity (PD)

Product Diversity merujuk pada kuantitas atau variasi dari gabungan produk yang
ditawarkan. Keragaman produk yang tidak terlalu jauh tidak perlu dipermasalahkan dalam hal
ini. Namun jika terdapat perbedaan yang kompleks haruslah diungkapkan.Contohnya pada
variasi warna, dibutuhkan pemeriksaan yang sangat hati-hati. Apakah perubahan dalam material
warna dapat merubah produk? Apakah masing-masing material warna saling berhubungan?
(misalnya contrast red ink versus blue ink pens dan red versus blue cars).

Ada bermacam pertimbangan dalam mengevaluasi tingakat Product diversity:

- Klasifikasi produk pada akuntansi.


Apakah buku besar mengklasifikasi produk yang berbeda? Apakah laporan internal yang
ada membagi penjualan, margin, atau penghasilan dengan lini produk?
- Pangsa pasar.
Apakah pasar dipecah menjadi kelompok geografis atau industri yang membeli berbagai
jenis produk? Apakah departemen produksi diatur secara berurutan atau paralel?
Pengaturan berurutan menunjukkan diferensiasi produk yang terbatas, pengaturan parallel
dapat menunjukkan keragaman produk
- Gudang persediaan.

16
Apakah gudang persediaan yang berbeda menangani klasifikasi persediaan yang berbeda
pula?(misalnya, bahanbaku, barang jadi)
- Penjualan.
Apakah perusahaan menjual baik OEM maupun barang-barang yang diproduksi?
- Iklan.
Apakahperusahaanhanya mempromosikan satu produk saja atau sekaligus banyak produk
dalam satu iklan?

Jadi jika produk yang dihasilkan semakin banyak, maka kecocokan untuk menggunakan analisis
ABC akan semakin cocok, karena dengan bertambahnya keanekaragaman produk yang
dihasilkan maka berdampak pada semakin beragamnya aktivitas sehingga tingkat distorsi cost
akan semakin tinggi

2. Support Diversity (SD)

Support diversity ini merujuk pada variasi overhead yang dipakai oleh produk. Meskipun
hanya merupakan cost center atau fasilitas produk, jika terdapat lebih dari satu produk akan
memunculkan support diversity. Dengan hanya melihat sekilas mungkin hanya terlihat sedikit
keragaman, tapi jika diuji lebih dekat maka akan terlihat bahwa aktivitas yang sebenarnya sangat
bervariasi tergantung produk.

Untuk menentukan dan mengevaluasi tingkat support diversity, perusahaan sebaiknya


menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

- Apakah nama departemen menyangkut nama produk, atau apakah aktivitas departemen
berdasarkan kepada produk yang spesifik? Apakah terdapat departemen pendukung
mesin, dan jika ada apakah usahanya cenderung ke produk yang spesifik?
- Apakah lokasi pabrik yang berbeda dimasukkan ke dalam satu sistem biaya?
- Apakah produk yang dihasilkan relative kompleks?
- Apakah produk yang berbeda menggunakan saluran distribusi, pemasaran, dan pasar
yang berbeda?
- Apakah riset dan pengembangan dilakukan sama atau berbeda untuk setiap jenis produk?
- Apakah produk yang berbeda membutuhkan proses penanganan material yang berbeda?
Apakah terdapat gudang persediaan yang berbeda pula?
- Apakah perusahaan mempraktikkan lingkungan Just-In-Time?

17
- Apakah terdapat pengenalan produk baru?
- Apakahperusahaanmenjual baik OEMmaupun barang-barang yang diproduksi?

Kriteria ini menunjukan akan tingginya pengeluaran overhead cost berdasarkan jumlah dan
keanekaragaman aktivitas. Sehingga menyebabkan sulitnya pengalokasian biaya overhead. Jika
jumlah dan keanekargaman aktivitas semakin meningkat maka cocok jika menggunakan analisa
Activity Based Costing.

3. Common Process (CP)

Kreiteria ini menunjukan tingkat kegiatan yang akan dikerjakan bersama dalam
penghasilan suatu produk sehingga biaya periode tiap produk akan sulit untuk dipisahkan.
Kegiatan bersama itu dapat dicontohkan seperti manufacturing, engineering, accounting, material
handling, marketing, distribution dan sebagainya. Dengan tingginya jumlah departemen yang
dibutuhkan pada saat menjalankan operasi perusahaan maka akan berdampak pada jumlah dari
common cost. Sehingga menyebabkan sulitnya alokasi biaya per produk. Penggunaan analisa
Activity Based Cost akan cocok apabila tingkat common processes semakin besar.

Sebelum menetapkan nilai common process, perusahaan sebaiknya menjawab


pertanyaan-pertanyaan berikut:

- Jika perusahaan menguji laba atas produk, apakah didasarkan pada aloksi atau ada faktor
lain?
- Apakah produk yang berbeda membutuhkan proses produksi yang berbeda pula? Apakah
departemen produksi memiliki lebih dari satu produk yang dihasilkan pada waktu
produksi?
- Apakah terdapat perbedaan dalam proses penanganan material? Apakah produk yang
berbeda menggunakan gudang yang berbeda pula? Apakah pembelian diatur sesuai jenis
produk atau sesuai jenis material yang dibeli? Bagaimana tingkat kesamaan diantara
vendor?
- Apakah departemen jasa mesin diatur sesuai produk? Apakah teknisi mendukung produk
yang berbeda? Dapatkah merka menyediakan waktu mereka untuk produk yang berbeda?
- Apakah terdapat lebih dari satu saluran distribusi yang dipakai?
- Apakah pengendalian kualitas diatur sesuai produk?

18
- Apakah bagian riset dan pengembangan berfokus pada produk yang spesifik atau lebih
bersifat umum? Apakah biaya riset dan pengembangan dibebankan kepada produk?
- Apakah administrasi diatur sesuai produk?

4. Period Cost Allocation (CA)

Alokasi period cost ini merupakan analisis terhadap metodologi alokasi untuk
menentukan mampukah ia menginterpretasikan hasil dari ABC. Ini merupakan pemikiran dari
ABC bahwa, dari waktu ke waktu, period cost (biaya tidak langsung, biaya variabel, danbiaya
tetap) dapat diatribusikan pada kegiatan yang diperlukan dalam pembuatan berbagai produk.
Dengan demikian, focus utama analisis ABC terletak pada kaitan period cost dengan produk.
ABC juga menunjukkan bahwa biaya nonproduksi atau period cost seperti biaya pemasaran juga
merupakan fungsi dari aktivitas produk dan harus dimuat dalam tanggungjawab produk.

- Apakah buku besar menggambarkan biaya pendukung oleh produk melalui penggunaan
departemen specific-product, jam kerja mesin, klasifikasi tenaga kerja tidak langsung,
dan sejenisnya?
- Pada tingkat apa biaya tidak langsung tidak lagi diidentifikasikan oleh produk?
- Beraspa banyak dasar alokasi yang digunakan?
- Apakah mereka konsisten dengan major cost driver?
- Berapa banyak level dalam hierarki alokasi? Jika banyak, apakah alokasi tersebut
berdasarkan spesifikasi produk?
- Berapa banyak cost center yang ada?
- Jika hanya terdapat satu dasar pengalokasian yang digunakan, mampukah ia
mendistribusikan biaya oleh produk dengan akurat meskipun kurangnya kemungkinan
korelasi antara output dan konsumsi sumber daya? Akankah distribusi biaya tetap akurat
jika terdapat perubahan yang signifikan dalam sifat period costs?
- Dapatkah dasar alokasi mencerminkan dampak fluktuasi volume produk dengan akurat?

Kriteria ini menunjukan kapabilitas dari suatu sistem akuntansi biaya dengan pengalokasian
biaya periode secara akurat. Biaya tersebut diidentifikasikan dengan menggunakan jangka waktu
tertentu karena tidak dibutuhkan dalam perolehan produk yang akan dijual. Agar dapat
memperkecil biaya produk maka dianjurkan menerapkan analisis Activities Based Costing.

19
5. Rate of Growth of Period Costs (PG)

Rate of growth of period costs ini mengacu kepada pertumbuhan dari period costs
sebagai sebuah indikator dinamisme yang dibutuhkan oleh sistem pembiayaan. Salah satu
keunggulan dari ABC yakni kemampuannya dalam menangkap perubahan secara cepat dalam
kebutuhan pendukung produk melalui pengukuran langsung pada level aktivitas. Jika period
costs sebagai persentase tetap stabil selama beberapa tahun, manajemen dapat meningkatkan
penyesuaian untuk distorsi yang dihasilkan oleh sistem biaya tradisional. Selain itu, dengan
period costs yang stabil selama beberapa tahun, sistem biaya tradisional dapat disusun untuk
menyajikan biaya produk yang mirip dan identik dengan penghitungan ABC, namun apabila
perusahaan Anda mempunyai tingkat pertumbuhan yang tergolong cepat maka akan sulit dalam
mengalokasikan biaya, maka kemungkinan distorsi biaya pun meningkat. Sehingga perusahaan
yang mempunyai tingkat pertumbuhan biaya periode yang cepat maka akan cocok dalam
penggunaan analisa Activities Based Costing.

B. Kebutuhan Manajemen Akan Informasi dari ABC dalam Pengambilan Keputusan

Beberapa faktor akan memengaruhi pertimbangan manajemen untuk menggunakan


informasi biaya dalam pengambilan keputusan. Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Pricing freedom (PF)

Pricing freedom mengacu pada kewenangan dan kebebasan perusahaan untuk


menetapkan harga sehingga dapat menciptakan profitabilitas produk. Lebih banyak kebebasan
yang dimiliki suatu perusahaan, maka biaya produk bukan lagi menjadi perhatian penting. Harga
akan ditetapkan untuk memaksimalkan keuntungan dan akan tetap bergantung pada elastisitas
pasar. Jika kondisi monopoli berlaku dan permintaan inelastis, maka akan ditetapkan harga yang
tinggi. Namun jika ada banyak pesaing, dan tersedianya produk pengganti yang baik, harga akan
ditentukan sepenuhnya oleh kekuatan pasar. Sehingga bagi perusahaan yang tidak memiliki
tingkat ketidakbebasan dalam penentuan harga produk cocok menggunakan analisa Activities
Based Costing.

Karena situasi-situasi tersebut, perusahaan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan


berikut untuk mengevaluasi faktor ini:

20
- Apakah semua harga produk diatur? Jika demikian, apakah harga didasarkan pada biaya
dan tunduk pada banding dan revisi?
- Bagaimana persaingan pasar? Apakah survei harga umum atau tersedia? Apakah
profitabilitas industri tampak luar biasa tinggi atau rendah? Apakah aspek kompetitif
didasarkan pada beberapa faktor selain harga?
- Apakah produk perusahaan menempati posisi yang unik di pasar? Dapatkah harga
premium dibenarkan karena layanan?
- Dimana produk dalam siklus hidup mereka?
- Apakah perusahaan pemimpin harga atau pengikut harga?
- Seberapa dinamis harga produk? Apa saja penyebab dari perubahan atau kekurangan itu?

2. Period Expense Ratio (FE).

Period expense ratio menunjukkan materialitas kemungkinan distorsi biaya produk secara
langsung. Jika distorsi yang mungkin sangat minimal terjadi maka tindakan manajemen akan
dihasilkan dari koreksi mereka, maka distorsi menjadi tidak relevan. Meskipun materialitas
faktor ini juga harus dievaluasi dari perspektif perubahan persentase biaya yang dilaporkan,
fokus utama harus pada dampak terhadap profitabilitas produk. (Misalnya, perubahan biaya yang
dilaporkan dari 5% mungkin tidak material untuk operasi perusahaan di markup 300%, tetapi
sangat signifikan untuk toko dengan volume bekerja 2% -4% margin.)

Meskipun tidak ada formula khusus untuk mengukur distorsi biaya produk dan
menentukan materialitas, pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu proses penilaian.
Ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan, perusahaan harus mampu mempertimbangkan biaya
period yang harus dialokasikan, dan untuk biaya variabel yang dapat dimuat langsung ke produk
harus diabaikan. Berikut pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan faktor ini:

- Apakah akan menjadi plant average atau blanket burden rate? Apakah multiple labor?
Bagaimana cara membandingkannya untuk berbagai produk atau tingkat pusat biaya?
- Apakah biaya periode "signifikan" proporsinya dari struktur total biaya (termasuk biaya
langsung)? Apa yang akan menjadi dampak terhadap profitabilitas total jika persentase
biaya periode meningkat 10%? 50%? 100%?

21
- Apakah biaya pengurangan kegiatan berfokus pada biaya produk (seperti pengurangan
harga pemasok) atau pada biaya periode? Apakah keyakinan manajemen yang berfokus
pada biaya langsung menawarkan potensi keuntungan yang lebih besar? Apakah
keyakinan ini tepat?

Kriteria ini menunjukan adanya distorsi cost suatu produk secara material. Hal ini berkaitan
dengan seberapa pengaruh penurunan atau kenaikan biaya dalam proporsi laba. Apabila laba
perusahaan memiliki pengaruh yang signifikan maka perusahaan tersebut cocok menggunakan
analisa Activity Base Costing.

3. Strategic Consideration (SC)

Strategic consideration mengacu pada kendala pengambilan keputusan manajemen secara


eksplisit atau implisit, sejauh mana strategi pembebanan biaya dalam proses pengambilan
keputusan. Strategi-strategi ini tidak terbatas pada strategi pemasaran, tetapi juga termasuk
strategi dan tujuan sekunder yang berkaitan dengan teknologi, manufaktur, kualitas, dan
sejenisnya.

- Apakah perusahaan menggunakan strategi "relung pasar"? Apakah strategi bergantung


pada profitabilitas produk / biaya?
- Apakah belanja modal untuk produk baru, perubahan manufaktur, atau perluasan
kapasitas eksplisit sering dibenarkan atas dasar "alasan-alasan strategis" bukan
keuntungan ekonomi?
- Apakah belanja modal secara implisit didorong oleh strategic consideration, dengan
keuntungan finansial dari proyek yang digunakan semata-mata untuk memperoleh
persetujuan proyek?
- Jenis analisis apa yang diperlukan untuk persetujuan pengeluaran R&D?
- Apakah organisasi menetapkan harga konsumen berdasarkan biaya pelanggan atau pasar?
Jika perusahaan menjual ke entitas yang bersangkutan dengan menggunakan harga
berdasarkan biaya, akan ada perubahan hasil transfer pricing dalam perubahan volume
atau dalam pengambilan keputusan lokasi penerima?
- Apakah perbandingan make or buy sering dilakukan? Apakah organisasi memiliki opsi
ini, atau melakukan pembatasan teknologi atau kebijakan membatasi hal tersebut?

22
- Apakah perubahan dalam desain produk atau proses manufaktur terutama didorong oleh
biaya, atau sumber-sumber lain seperti pasar atau persyaratan produk penting?
- Apakah analisis penghentian produk dilakukan secara teratur dalam upaya untuk (secara
tidak langsung) mengurangi biaya atau untuk alasan seperti mendorong persepsi pasar
tertentu?
4. Cost reduction (CR)

Cost reduction melibatkan budaya perusahaan karena mempengaruhi hubungan antara


biaya internal terkait keputusan dan komponen tidak langsung dari total biaya produk. Ini
melibatkan sifat internal biaya yang berhubungan dengan keputusan dan sejauh mana keputusan
bergantung pada alokasi yang akurat dari biaya periode. Sejumlah keputusan internal yang
potensial bergantung pada keakuratan biaya perubahan proses produksi, modifikasi desain
produk, perbandingan make or buy, scrubbing produk, evaluasi ekspansi kapasitas, dan
sebagainya. Analisis kegiatan ini akan menunjukkan kemungkinan tindakan manajemen yang
dihasilkan dari perubahan dalam produk yang melaporkan biaya karena penghapusan keputusan
dalam alokasi biaya periode. Pertanyaan yang berkaitan dengan faktor ini:

- Sejauh mana kegiatan pengurangan biaya dalam organisasi? Apakah terfokus pada
kelompok rekayasa secara eksklusif pada pengurangan biaya? Apakah ada rencana dari
karyawan mengenai masa yang akan datang?
- Apakah sering terdapat tugas berorientasi biaya? Apakah matrik pengurangan biaya
dilacak secara internal? Apakah ada perubahan yang sering di head-count yang tidak
terkait dengan beban?
- Apakah kegiatan-kegiatan pengurangan biaya di atas bersifat umum dan tidak
berhubungan dengan produk tertentu? Apakah pengurangan biaya target ditetapkan
secara total saja, atau dengan functional/activity, atau dengan produk?
- Apakah kegiatan pengurangan biaya fokus pada target nonperiod? Apakah ada varian
bahan atau target kerja?
- Apakah make vs buy dapat diperbandingkan? Jika demikian, seberapa sering yang
tergolong analisis? Seberapa dekat dengan keputusan?
- Apakah keputusan scrubbing product baik sering dan tergantung pada biaya? Apakah
biaya periode merupakan faktor utama dalam keputusan?

23
- Apakah proses modifikasi berfokus pada organisasi manufaktur? Apakah biaya
periodenya relevan?
- Apakah perubahan kapasitas tergantung pada biaya? Apakah alokasi biaya periode
relevan dengan-keputusan?

Kriteria ini menggambarkan seberapa penting dari akurasi pelaporan dari cost periode dalam
pengambilan keputusan manajemen yang bersifat internal. Dengan adanya keakuratan dalam
pelaporan alokasi cost periode juga akan berkaitan dengan adanya evaluasi bagi internal
manajemen. Bagi pihak manajemen dapat menggunakan informasi yang tersajikan pada laporan
untuk pembuatan kebijakan yang lebih tepat di kemudian hari. Maka dari itu penggunaan analisa
Activities Based Costing akan semakin cocok apabila tingkat kepentingan akurasi semakin
tinggi.

5. Analysis frequency (AF)

Analysis frequency mengacu pada frekuensi, baik rutin atau khusus, dari biaya produk
sehingga dapat menganalisis dan menggabungkan kedua arus dan frekuensi yang diinginkan.
Sebuah ukuran yang dinamis, juga mencakup faktor-faktor lain dari tindakan manajemen.
Sebuah perbedaan antara frekuensi yang ada dan analisis yang diinginkan menunjukkan
ketidakpuasan dengan sistem biaya yang ada. Pertanyaan yang berkaitan dengan faktor ini, yaitu:

- Apakah laporan profitabilitas produk yang diterbitkan secara rutin dari sistem biaya yang
ada? Apakah mereka percaya, atau terdapat "penyesuaian" yang dibuat? Jika diyakini,
apakah mereka digunakan sepenuhnya?
- Seberapa sering studi khusus atau ad hoc analisis biaya produk dilakukan atau diminta?
Apakah ada kurangnya kredibilitas dalam data yang ada, atau data yang ada tidak cukup?
Apakah karena persyaratan rendah atau kesulitan mendapatkan data yang "akurat".
- Apa yang mendorong permintaan studi biaya khusus, fluktuasi volume, permintaan
harga, dan sejenisnya? Apakah perubahan ini sering terjadi?
- Apakah manajemen sepertinya lebih sering atau lebih rinci menganalisis biaya produk?
Untuk tujuan apa?

Kriteria ini menungjukan tingkatan dari kegiatan yang berkaitan dengan analisa cost biaya
produk. Frekuensi kebutuhan informasi biaya berkaitan dengan banyaknya kegiatan. Apabila
tingkat frekuensi semakin tinggi maka tingkat keakuratan dari alokasi biaya akan semakin

24
meningkat juga. Sehingga penggunaan analisa Activity Based Costing akan semakin cocok
apabila tingkat frekuensi semakin tinggi.

Dengan menganalisis 5 faktor pertama (faktor yang mendorong perusahaan mengadopsi


system ABC, yaitu product diversity, support diversity, common processes, period cost
allocation dan rate of growth of period costs), pihak manajemen dapat mengetahui metode apa
yang cocok digunakan perusahaan. Apakah menggunakan ABC atau Traditional Costing. Setelah
mengetahui metode apa yang cocok, selanjutnya pihak manajemen dapat menilai kemampuan
mereka dalam menggunakan informasi biaya yang dihasilkan metode tersebut. Hal ini dapat
dilakukan dengan menganalisis 5 faktor berikutnya (faktor yang terkait kecenderungan
manajemen menggunakan informasi biaya untuk pengambilan keputusan, yaitu pricing freedom,
period expense ratio, strategic considerations, cost reduction effort dan analysis of frequency)
dari sepuluh faktor diatas. Setelah menganalisis semuanya, maka hasil analisis tersebut
diaplikasikan pada suatu alat bantu grafis yang disebut Contingency Grid.

Contingency Grid terdiri dari dua buah garis yang saling berpotongan dan membagi
daerah yang dilaluinya menjadi empat bagian, yaitu Kuadran I, II, III, dan IV. Seperti grafik pada
umumnya, Contingency Grid terdiri dari sumbu X dan sumbu Y dengan skala antara -5 hingga
+5. Sumbu X pada Contingency Grid mengindikasikan kebutuhan dan kemampuan manajemen
dalam bereaksi terhadap distorsi dalam penetapan harga produk, sedangkan sumbu Y
mengindikasikan manfaat dari penerapan sistem ABC dibandingkan dengan sistem tradisional.

Karena Contingency Grid terdiri dari empat kuadran, maka ada empat kemungkinan yang
muncul dari analisis pihak manajemen:

Pertama, jika sumbu X dan Y bernilai postif, maka hasil analisis terletak pada kuadran I.
Hal ini menunjukkan bahwa akan lebih menguntungkan jika perusahaan menggunakan ABC dan
pihak manajemem pun mampu untuk menggunakan informasi biaya tersebut untuk membuat
keputusan. Dengan demikian, perusahaan direkomendasikan untuk mengimplementasikan ABC.

Kedua, jika sumbu X bernilai positif, sedangkan sumbu Y bernilai negatif, maka hasil
analisis terletak pada kuadran II, perusahaan tidak direkomendasikan untuk
mengimplementasikan ABC. Perusahaan yang terletak di Kuadran II adalah perusahaan yang
kemampuan dalam menggunakan informasi biaya masih kurang

25
Ketiga, jika sumbu X dan Y bernilai negatif, maka hasil analisis terletak pada kuadran III.
Hal ini menunjukkan bahwa akan lebih menguntungkan jika perusahaan menggunakan metode
tradisional daripada ABC dan pihak manajemen pun belum mampu menggunakan informasi
biaya yang diperoleh melalui metode ABC, mereka hanya mampu menggunakan informasi biaya
yang diperoleh melalui metode tradisional dalam membuat keputusan. Dengan demikian,
perusahaan tidak direkomendasikan untuk mengimplementasikan ABC. Perusahaan yang terletak
di Kuadran III adalah perusahaan yang faktor yang mendorong perusahaan mengadopsi sistem
ABC masih rendah. Begitu juga dengan faktor yang terkait kecenderungan manajemen
menggunakan informasi biaya untuk pengambilan keputusan masih rendah.

Keempat, jika sumbu X bernilai negatif, sedangkan sumbu Y bernilai positif, maka hasil analisis
terletak pada kuadran IV, ABC dapat direkomendasikan dalam jangka panjang. Contoh dalam
perusahaan ini adalah perusahaan yang menggunakan teknologi super canggih, seperti
perusahaan perbankan dan perusahaan maskapai.

26
BAB III

PENUTUP

Pada umumnya ABC dipertimbangkan untuk diterapkan pada perusahaan


manufaktur. Hal ini bukan berarti ABC tidak mungkin diterapkan di perusahaan jasa. Meskipun
karakteristik perusahaan jasa berbeda dengan perusahaan manufaktur keduanya menghadapi
permasalahan yang sama antara lain tingginya product diversity dan kompleksitas kegiatan.
Menurut Rotch [1997, hal.109] perbedaan yang paling menonjol antara perusahaan jasa dengan
perusahaan manufaktur terletak pada output. Dalam hal ini output perusahaan jasa lebih sulit
didefinisikan daripada output perusahaan manufaktur karena bersifat intangible. Output
perusahaan jasa sering dideskripsikan sebagai sebuah paket dari manfaat jasa yang dihasilkan
perusahaan seperti kecepatan pelayanan, kepuasan pelanggan, kualitas informasi yang disediakan
dan sebagainya. Sifat output seperti ini mengakibatkan proses penentuan harga menjadi lebih
sulit. Berdasarkan kesamaan permasalahan yang dihadapi dengan perusahaan manufaktur maka
dalam mempertimbangkan penerapan ABC di perusahaan jasa juga harus mempertimbangkan
banyak faktor. Indikator-indikator kondisi kelayakan perusahaan sebagaimana dirumuskan dalam
pendekatan kontijensi bisa membantu perusahaan jasa menganalisis kelayakan penerapan ABC.
Kondisi perusahaan jasa diindentifikasi sedemikian rupa sehingga diketahui tingkat distorsi biaya
yang terjadi dan tingkat kecenderungan manajemen dalam memanfaatkan informasi biaya untuk
pengambilan keputusannya.

Tidak semua konsep baru lebih baik dan lebih layak dibandingkan konsep yang sudah
ada. ABC yang dikenal sebagai konsep baru pun tidak menghasilkan manfaat banyak bahkan
masih lebih layak menggunakan akuntansi tradisional. Hal ini terutama jika kondisi perusahaan
tidak mengalami distorsi biaya dan informasi biaya tidak material untuk pengambilan keputusan
manajemen. Penerapan ABC dalam kondisi perusahaan seperti ini menggambarkan perusahaan
tidak mempertimbangkan secara matang. Dasar pemikiran yang tidak masuk akal adalah agar
perusahaan dicap sebagai perusahaan yang tidak ketinggalan jaman sehingga mengadopsi ABC
tanpa analisis yang mendalam. Pendekatan kontijensi sangat membantu mengidentifikasi kondisi
kelayakan perusahaan menerapkan ABC.

27
DAFTAR PUSTAKA

Estrin, T.L., Jeffrey Kantor, dan David Albers Is ABC Suitable for Your Company?. Dalam
Readings in Management Accounting. Ed. S. Mark Young. New Jersey: Prentice Hall,
Inc.: 1997.

Hansen, Don R., Mowen, Maryanne M. & Guan, Liming. Cost Management, Accounting and
Contro 6th edition. South-Western: Engage Learning: 2009.

28