Anda di halaman 1dari 17

BAB I

TINJAUAN TEORI

1.1 Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas

Bersihan jaalan nafas tidak efektif merupakan suatu keadaan ketika seseorang individu
mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernafasan sehubungandengan
ketidak mampuan untuk batuk secara efektif (Lynda Juall, Carpenito 2006).

Bersihan Jalan nafas tidak efektif merupakan ketidak mampuan dalam membersihkan sekresi
atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk menjaga bersihan jalan nafas (Nanda 2005-2006).

1.2 Etiologi Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigen antara lain:

1. Saraf otonomik (rangsangan saraf simpatis dan parsimpatis)


2. Peningkatan produksi sputum.
3. Alergi pada saluran pernapasan.
4. Factor fisiologis
Menurunnya kemampuan mengikat O2
Menurunnya konsentrasi O2.
Hipovolemia
Meningkatnya metabolisme
Kondisi mempengaruhi pergerakan dinding dada
Factor perkembangan
1. Bayi premature
2. Bayi toddler
3. Anak usia sekolah dan remaja

1
4. Dewasa muda dan pertengahan
5. Dewasa tua
Factor perilaku
1. Merokok
2. Aktivitas
3. Kecemasan
4. Substance abuse atau penggunaan narkotika
5. Status nutrisi
Faktor lingkungan
1. Tempat kerja atau polusi
2. Suhu lingkungan
3. Ketinggian tempat dari permukaan laut.

1.3 Batasan Karakteristik Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas


Tidak ada batuk
Suara nafas tambahan
Perubahan frekuensi nafas
Perubahan irama nafas
Sianosi
Kesulitan berbicara atau mengeluarkan suara
Penurunan bunyi nafas
Dipsneu seputum dalam jumlah yang berlebihan
Batuk yang tidak efektif
Orthopneu
Gelisah
Mata terbuka lebar

Namun, dari beberapa batasan karakteristik di atas, dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu Mayor
dan Minor.

Mayor (Harus terdapat, Satu atau lebih)

2
Batuk tak efektif atau tidak ada batuk
Ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekresi jalan napas
Minor (Mungkin terdapat)
Bunyi napas abnormal
Frekuensi, irama, kedalaman pernapasan abnormal.

1.4 Faktor Yang Berhubungan


Menurut nic noc edisi jilid 3 tahun 2015:
a. Lingkungan :
- Perokok aktif
- Menghisap asap
- Merokok
b. Obstruksi jalan nafas
- Spasme jalan nafas
- Mokus dalam jumlah berlebihan
- Eksudat dalam jalan alveoli
- Terdapat benda asing dalam jalan nafas
- Adanya jalan nafas buatan
- Sekresi bertahan atau sisa ekresi
c. Fisiologis
- Jalan nafas alergik (trauma)
- Asma
- Penyakit paru obstruktif kronik
- Hiperplasi dinding bronkial
- Infeksi

3
1.5 Patofisiologi Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas

Patofisologi adalah ilmu yang mempelajari gangguan fungsi pada organisme yang sakit
meliputi asal penyakit, permulaan perjalanan, dan akibat. Penyakit adalah suatu kondisi abnormal
yang menyebabkan hilangnya kondisi normal yang sehat. Berikut patofisiologi pasien dengan
diagnose ketidakefektifan bersihan jalan nafas.

Lingkungan : perokok, perokok pasif, terpajan


asap
Obstruksi Jalan Napas : adanya jalan napas
buatan, benda asing dalam jalan napas, eksudat
dalam alveoli, hiperplasi pada dinding bronkus,
mucus berlebihan, penyakit paru obstruksi
kronis, sekresi tertahan, spasme jalan napas.
Fisiologi : asma, disfungsi neuromuscular, infeksi,
jalan napas alergik.

Inflamasi

Sputum Meningkat

Batuk yang tidak efektif, Dispnea, Gelisah,


Kesulitan Verbalisasi, Mata teruka lebar,
Ortopnea, Penurunan bunyi napas,
Perubahan frekuensi napas, perubahan
pola napas, Sianosis, Sputum dalam
jumlah yg berlebihan, Suara napas
tambahan, tidak ada batuk.

Bersihan Jalan Tidak


Efektif

4
1.6 Penatalaksanaan

1. Penyuluhan untuk pasien atau keluarga


a. Jelaskan penggunaan yang benar peralatan pendukung (mis; oksigen, mesin pengisapan,
spirometer, inhaler, dan intermittent positive pressure breathing [IPPB]).
b. Informasikan kepada pasien dan keluarga tentang larangan merokok didalam ruang
perawatan; beri penyuuhan tentang pentingnya berhenti merokok.
c. Instruksikan kepada pasien tentang batuk dan teknik nafas dalam untuk memudahkan
pengeluaran secret.
d. Ajarkan pasien umtuk membebat atau mengganjal luka insisi pada saat batuk.
f. Ajarkan pasien dan keluarga tentang makna perubahan pada skuntum, seperti warna,
karakter, jumlah, dan bau.
g. Pengisapan jalan nafas (NIC) : instruksikan kepada pasien atau keluarga tentang
pengisapan jalan nafas, jika perlu.
2. Aktifitas kolaboratif
a. Rundingkan dengan ahli terapi pernafasan, jika perlu.
b. Konsultasikan dengan dokter tentang kebutuuhan untuk perkusi atau peralatan
pendukung.
c. Berikan udara atau oksigen yang telah di humidifikasi (dilembabkan) sesuai dengan
kebijakan institusi.
d. Lakukan atau bantu dalam terapi aerosol, nebulizer ultrasonic, dan keperawatan paruh
lainnya sesuai dengan kebijakan dan protocol institusi.
e. Beritahu dokter tentang hasil gas darah yang abnormal.
3. Aktifitas lain
a. Anjurkan aktifitas fisik untuk memfalitasi pengeluaran secret.
b. Anjurkan penggunakan spirometer insentif (smith sims, 2000).
c. Jika pasien tidak mampu ambulasi, pindahkan pasien dari satu sisi tempat tidur ke sisi
tempat tidur yang lain sekurangnya setiap 2jam sekali.
d. Informasikan kepada pasien sebelum memulai prosedur, untuk menurunkan kecemasan
dan meningat control diri.
e. Berikan pasien dukungan emosi ( misalnya menyakinkan pasien bahwa batuk tidak akan
menyebabkan robekan atau kerusakan jahitan ).

5
f. Atur posisi pasien yang memungkinkan untuk pengembangan maksimal rongga dada (
mis ; bagian kepala tempat tidur ditinggikan 45 kecuali ada kontraindikasi [ Collard et
al;2003; Drankulovic et al; 1999).
g. Pengisapan nosafaring atau orofaring untu mengeluarkan secret setiap (sebutkan
freuensinya).
h. Lakukan pengisapan endotrakea atau nosa trakea,jika perlu. (hiperoksigenasi dengan
ambubag sebelum dan setelah pengisapan selang endotrakea atau trakeostomi)
i. Pertahankan keadekuatan hidrasi untuk mengencerkan secret.
j. Singkirkan atau tangani factor penyebab, seperti nyeri,keletihan,dan secret yang kental
k. Perawatan di rumah
l. Instruksikan pasien dan keluarga terlibat dalam pencernaan untuk perawatan di rumah
(mis., medikasi, hidrasi, nebulisasi, peralatan, drainase postural,tanda dan gejala
komplikasi, sumber-sumber di komunitas.
m. Kaji kondisi rumah untuk keberadaan factor, seperti allergen, yang dapat memicu
ketidaefektifan pembersihan jalan nafas.
n. Bantu pasien dan keluarga untuk mengidentifikasi cara menghindari allergen, termasuk
pemajanan terhadap merokok pasif.
o. Untuk bayi dan anak-anak
p. Beri penekanan pada orang tua bahwa batuk sangat penting bagi anak-anak, dan bahwa
batuk tidak selalu harus d redakan dengan obat.
q. Seimbangan kebutuhan terhadap pembersihan jalan nafas dengan kebutuhan untuk
menghindari keletihan akibat batuk ketika batuk menjadi persisten atau merupakan
gejala dispnea.
r. Biarkan anak memegang stetoskop dan mndengarkan bunyi nafasnya sendiri.

6
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah pengumpulan, pengaturan, validasi, dan dokumentasi data (informasi)
yang sistematis dan bersinambungan. Ada empat jenis pengkajian yang berbeda: pengkajian
awal, pengkajian kedaruratan yang berfokus pada masalah, pengkajian kedaruratan, dan
pengkajian kembali dengan jarak waktu. Pengkajian bervariasi sesuai dengan tujuan, waktu,
waktu yang tersedia, dan status klien.
Pengkajian keperawatan berfokus pada respon klien terhadap masalah kesehatan. Pengkajian
keperawatan harus mencakup persepsi kebutuhan klien, masalah kesehatan, pengalaman terkait,
praktik kesehatan, nilai, dan gaya hidup.
Pengkajian keperawatan terhadap status oksigenasi terdiri atas pengkajian riwayat,
pemeriksaan fisik, dan tinjauan data diagnostic yang relevan. Sebuah riwayat keperawatan
koprehensif yang relevan dengan status oksigenasi harus mencakup data tentang masalah
pernapasan saat ini dan masa lalu, gaya hidup, apakah ada batuk sputum (material yang
dibatukkan), nyeri, pengobatan untuk pernapasan, dan apakah ada factor risiko gangguan status
oksigenasi.
Berikut yang dikaji dalam bab pengkajian:
a. Identitas pasien (nama, usia, jenis kelamin, diagnose medis, tanggal pengkajian)
b. Keluhan Utama
Pada keluhan utama ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada pasien yaitu:
Batuk tidak efektif
Dispnea
Gelisah
Kesulitan verbalisasi
Mata terbuka lebar
Ortopnea
Penurunan bunyi napas
Perubahan frekuensi napas
Perubahan pola napas

7
Sianosis
Sputum dalam jumlah berlebihan
Suara napas tambahan
Tidak ada batuk
c. Penyakit saat ini
Pada observasi ini, perawat mengumpulkan data yang penting dan berkaitan tentang
awitan gejala. Perawat menentukan kapan gejala mulai timbul, apakah gejala timbul secara
mendadak atau bertahap, dan apakah gejala selalu timbul atau hilan dan timbul. Perawat juga
menannyakan tentang durasi gejala. Pada bagian tentang riwayat penyakit saat ini, perawat
mencatatkan informasi spesifik seperti letak, intesitas, dan kualitas gejala.
Sebagai contoh, klien menunjukkan adanya sekret di hidung pasien, perawat menanyakan
banyaknya sekret yang keluar, warna, dan kondisi sekret tersebut seperti kental ataukah cair.
Perawat juga melihat kondisi hidung pasien, melakukan pemeriksaan fisik pada hidung
pasien.

d. Riwayat Kesehatan Masa Lalu


Informasi yang dikumpulkan tentang riwayat masa lalu memberikan data tentang
pengalaman perawatan kesehatan klien. Perawat mengkaji apakah klien pernah dirawat di
rumah sakit atau pernah menjalani operasi. Juga penting dalan merencanakan asuhan
keperawatan adalah deskripsi tentang alergi, termasuk reaksi alergi, termasuk reaksi elrgi
terhadap makanan, obat-obatan, atau polutan. Jika terdapat suatu alergi, reaksi spesifik dan
pengobatan dicatat pada format pengkajian.
Perawat juga mengidentifikasi kebiasaan dan pola gaya hidup. Pada kasus diagnose
ketidakefektifan bersihan jalan nafas, perawat patut bertanya pada klien apakah klien
mengkonsumsi tembakau atau perokok aktif, perokok pasif, dan terpajan asap. Karena pola
hidup tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap pasien yang mengalami gangguan pada
bersihan jalan nafas.

e. Riwayat keluarga
Tujuan dari riwayat keluarga adalah untuk mendapatkan data tentang hubungan
kekeluargaan langsung dan hubungan darah. Sasarannya adalah untuk menentukan apakah

8
klien berisiko terhadap penyakit yang bersifat genetic atau familial dan untuk
mengidentifikasi area tentang promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
f. Pemeriksaan Fisik
Dalam mengkaji status oksigenasi klien, perawat menggunakan 4 teknik pemeriksaan fisik:
inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Perawat pertama kali mengobservasi frekuensi,
kedalaman, irama, dan kualitas pernapasan, dengan memperhatikan posisi klien saat
bernapas. Beberapa klien yang mengalami masalah pernapasan kronis memilih untuk
mencondongkan tubuhnya ke depan dari batas pinggang untuk memudahkan pernapasan
atau memilih duduk bersandar pada meja di depannya karena posisi ini memungkinkan
ekspansi paru yang lebih besar. Posisi telungkup atau miring membatasi ekspansi bagian
torak (bagian yang disandari). Peningkatan ekspansi paru yang relative kecil ini mungkin
sangat penting bagi klien dispnea.
g. Pemeriksaan fungsi paru
Pemeriksaan paru mengukur volume dan kapasitas paru. Klien yang menjalani pemeriksaan
fungsi paru, yang biasanya dilakukan oleh para ahli pernapasan, tidak membutuhkan
anestesi. Klien bernapas ke dalam sebuah mesin. Pemeriksaan ini tidak menyakitkan, tetapi
kerja sama klien sangat penting. Perawat sebelumnya perlu menjelaskan pemeriksaan kepala
individu dan membantu klien untuk beristirahat setelahnya karena karena pemeriksaan
sering kali melelahkan.
Untuk menilai status oksigenasi klien, perawat menggunakan keempat teknik
pemeriksaan fisik, yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
1. Inspeksi. Pada saat inspeksi perawat mengamai tingkat kesadaran klien, penampilan
umum, postur tubuh, kondisi kulit, dan membrane mukosa, dada (kontur rongga
interkosta, diameter anteroposterior [AP], struktur toraks, pergerakan dinding dada), pola
napas (frekuensi dan kedalaman pernapasan, durasi inspirasi, dan ekspirasi), ekspansi
dada secara umum, adanya sianosis, adanya deformitas, dan jaringan parut pada dada,
dan lain-lain.
2. Palpasi. Palpasi dilakukan dengan meletakkan tumit tangan pemeriksa mendatar di atas
dada pasien. Saat palpasi, perawat menilai adanya fremitus traktil pada dada dan
punggung pasien dengan memintanya menyebutkan tujuh-tujuh secara berulang. Jika
pasien mengikuti instruksi tersebut secara tepat, perawat akan merasakan adanya getaran

9
pada telapak tangannya. Normalnya, fremitus taktil akan terasa pada individu yang sehat,
dan akan meningkat pada kondisi konsolidasi. Selain itu, palpasi juga dilakukan untuk
mengkaji temperature kulit, pengembangan dada, adanya nyeri tekan, thrill, titik impuls
maksimum, abnormalitas massa dan kelenjar, sirkulasi perifer, denyut nadi, pengisian
kapiler, dan lain-lain.
3. Perkusi. Secara umum, perkusi dilakukan untuk menentukan ukuran dan bentuk organ
dalam serta untuk mengkaji adanya abnormalitas, cairan, atau udara di dalam paru.
4. Auskultasi. Proses mendengarkan suara yang dihasilkan di dalam tubuh. Auskultasi
dapat dilakukan langsung atau dengan menggunakan stetoskop. Bunyi yang terdengar
digambarkan berdasarkan nada, intesitas, durasi, dan kualitasnya. Pada pemeriksaan fisik
paru, auskultasi dilakukan untuk mendengarkan bunyi napas vasikular, bronkial,
bronkovesikular, rales, ronki, juga untuk mengetahui adanya perubahan bunyi napas
serta lokasi dan waktu terjadinya.

2.2 Diagnosa
Diagnosis keperawatan memiliki 3 komponen: Masalah dan definisi, etiologic, dan batasan
karakteristik. Tiap komponen mempunyai tujuan tertentu.
Masalah (Judul Diagnosis) dan Definisi
Pernyataan masalah atau judul diagnosis, menjelaskan masalah kesehatan klien atau respon
yang memunculkan terapi keperawatan. Judul diagnosis menggambarkan status kesehatan
klien dengan jelas dan singkat dalam beberapa kata tujuan judul diagnosis juga dapat
menunjukkan beberapa intervensi keperawatan.
Guna bermanfaat secara klinis, judul diagnosis harus spesifik, ketika kata Sebutkan
mengikuti judul NANDA, perawat menyatakan area terjadinya masalah, misalnya Definisi
Pengetahuan (medikasi) atau Defisiensi Pengetahuan (Penyesuaian Diet).
NANDA memasukkan label diagnostic berikut ini untuk klien yang mengalami masalah
oksigenasi, khususnya yang mengalami gangguan pada bersihan jalan nafas.
Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas, Ketidakmampuan membersihkan sekret atau
sumbatan dari saluran pernapasan untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.

Diagnosis keperawatan tersebut juga dapat menjadi etiologic dari diagnosis keperawatan
lain, contohnya sebagai berikut:

10
Ansietas yang berhubungan dengan ketidakefektifan bersihan jalan napas dan
perasaan tercekik (sufokasi)
Etiologi (Faktor yang Berhubungan dan Faktor Risiko)
Komponen etiologic diagnosis keperawatan mengidentifikasi satu atau lebih penyebab
masalah kesehatan yang mungkin, memberikan petunjuk untuk terapi keperawatan yang
diperlukan, dan memungkinkan perawat menegkhususkan keperawatan klien. Membedakan
antara penyebab yang mungkin pada diagnosis keperawatan sangat penting karena tiap
penyebab mungkin memerlukan intervensi keperawatan yang berbeda.
Untuk etiologic atau factor yang berhubungan pada diagnosis keperawatan ketidakefektifan
bersihan jalan sebagai berikut:
Lingkungan
s. Perokok
t. Perokok pasif
u. Terpanjan asap

Obstruksi Jalan Napas

v. Adanya jalan napas buatan - Mukus Berlebihan


w. Benda asing dalam jalan napas - Penyakit paru obstrukti kronis
x. Eksudat dalam alveoli - Sekresi yang tertahan
y. Hyperplasia pada dinding bronkus - Spasme jalan napas

Fisiologis

z. Asma - Infeksi
aa. Disfungsi neuromuskuler - Jalan napas alergik
Batasan Karakteristik
Batasan karakteristik adalah kelompok tanda dan gejala yang menunjukkan adanya judul
diagnosis tertentu. Untuk diagnosis keperawatan actual, batasan karakteristik adalah tanda
dan gejala klien. Untuk diagnosis keperawatan risiko, tidak ada tanda subjektif dan objektif.
Dengan demikian, factor yang menyebabkan klien lebih rentan dibanding keadaan normal
terhadap masalah membentuk etiologic diagnosis keperawatan risiko.

11
Daftar batasan karakteristik NANDA masih terus disusun dan diperbaiki. Karakteristik
dicantumkan secara terpisah berdasarkan sifat subjektif atau objektif karakteristik tersebut.
Untuk batasan karakteristik masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan napas,
dapat dilihat sebagai berikut:
bb. Batuk yang tidak efektif - Perubahan frekuensi napas
cc. Dispnea - Perubahan pola napas
dd. Gelisah - Sianosis
ee. Kesulitan verbalisasi - Sputum dalam jumlah yang berlebihan
ff. Mata terbuka lebar - Suara napas tambahan
gg. Ortopnea - Tidak ada batuk
hh. Penurunan bunyi napas

KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN


DIAGNOSA KEPERAWATAN
NAFAS

Dapat dihubungkan dengan: Bronkospasme


Peningkatan produksi sekret, sekret tertahan,
tebal, sekresi kental
Penurunan energy/kelemahan

Kumungkinan dibuktikan oleh: Pernyataan kesulitan bernapas


Perubahan kedalaman/kecepatan pernapasan,
penggunaan otot aksesori.
Bunyi napas tak normal, misalnya: mengi,
ronki, krekels
Batuk (menetap), dengan/tanpa prosukdi
sputum

12
2.3 Intervensi
Tujuan keseluruhan untuk seorang klien yang mengalami masalah oksigenasi adalah:
Mempertahankan kepatenan jalan napas.
Meningkatkan kenyamanan dan kemudahan pernapasan.
Mempertahankan atau meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi.
Meningkatkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik.
Mencegah risiko yang berhubungan dengan masalah oksigenasi seperti kerusakan kulit dan
jaringan, sinkop, ketidakseimbangan asam basa, dan perasaan putus asa serta isolasi sosial.

Contoh intervensi keperawatan untuk memfalitasi ventilasi paru dapat terdiri atas
memastikan ketetapan jalan napas, mengatur posisi, mendorong pengambilan napas dalam dan
batuk, dan memastikan keadekuatan hidrasi. Intervensi keperawatan lain yang bermanfaat untuk
ventilasi adalah pengisapan, teknik inflasi paru, pemberian analgesic sebelum napas dalam dan
batuk, drainase postural, dan perkusi serta vibrasi. Strategi keperawatan untuk menfasilitasi
difusi gas melalui membrane alveolar terdiri atas menganjurkan batuk, pernapasan dalam, dan
melaksanakan aktivitas yang sesuai. Rencana asuhan keperawatan klien juga harus memasukkan
intervensi keperawatan mandiri yang tepat seperti terapi oksigen, perawatan trakeostomi, dan
perawatan slam dada.

Menurut NANDA (2003), diagnose keperawatan untuk klien dengan masalah oksigenasi meliputi
ketidakefektifan bersihan jalan napas, ketidakefektifan pola napas, gangguan pertukaran gas, dan
intoleransi aktivitas.
Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan:
1. Sekret yang berlebihan dan kental, sekunder akibat (infeksi, inflamasi, alergi, merokok,
penyakit jantung, atau paru).
2. Imobilitas, statis sekret, dan batuk tak efektif, sekunder akibat (penyakit pada SSP,
depresi SSP/trauma kepala, cidera serebrovaskular).
3. Supresi refleks batuk, sekunder akibat (sebutkan)
4. Efek trakeostomi (perubahan sekret),
5. Imobilitas, sekunder akibat (pembedahan atau trauma, nyeri, ansietas, kelemahan,
gangguan persepsi/kognitif),

13
6. Kelembapan yang sangat tinggi atau sangan rendah,
7. Terpajan udara dingin, tertawa, menangis, allergen, merokok.

TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Kaji kepatenan jalan nafas Obstruksi dapat disebabkan oleh akumulasi
sekret, perlengketan mukosa, pendarahan,
spasme bronkus, dan/atau masalah dengan
posisi trakeostomi/selang endrotrakeal.

Evaluasi gerakan dada dan auskultasi untuk Gerakan dada simetri dengan bunyi napas
bunyi napas bilateral. melalui area paru menunjukkan letak selang
tepat/tak menutup jalan napas. Obstruksi jalan
napas bawah (mis: pneumonia/atelectasis)
menghasilkan perubahan pada bunyi napas
seperti ronki, mengi.
Awasi letak selang endotrakeal. Catat tanda Selang endotrakeal dapat masuk ke bronkus
garis bibir dan bandingkan dengan letak yang kanan, sehingga menghambat aliran udara ke
diinginkan. Amankan selang dengan hati-hati paru kiri dan pasien berisiko untuk
dengan plaster atau penahan selang. Cari pneumotorak tegangan.
bantuan bila mengganti plester selang.

Catat batuk berlebihan, peningkatan dispnea, Pasien intubasi baisanya mengalami reflek
bunyi alarm tekanan tinggi pada ventilator, batuk tak efektif, atau pasien dapat mengalami
sekret terlihat pada selang gangguan neuromuskuler atau neurosensory.
endotrakeal/trakeostomi, peningkatan ronki. Gangguan kemampuan untuk batuk. Pasien ini
tergantung pada pilihan seperti penghisapan
pada pembuangan sekret.

Hisap sesuai kebutuhan, batasi penghisapan 15 Penghisapan tidak harus rutin, dan lamanya

14
detik atau kurang. Pilih kateter penghisap yang harus dibatasi untuk menurunkan bahaya
tepat, isikan cairan garam faal steril, bila hipoksia. Kateter penghisap diameternya harus
diindikasikan. Hiperventilasi dengan kantung kurang dari 50% diameter dalam
sebelum penghisapan, gunakan oksigen 100% endotrakeal/trakeostomi untuk mencegah
bila ada. hipoksia tiba-tiba.

Anjurkan pasien melakukan teknik batuk Meningkatan keefektifan upaya bantuk dan
selama penghisapan contoh menekan, napas pembersihan sekret.
pada waktunya, dan batuk segiempat sesuai
indikasi.

Ubah posisi/berikan cairan dalam kemampuan Meningkatkan drainase sekret dan ventilasi
individu. pada semua segmen paru, menurunkan risiko
atelectasis.

Dorong/berikan cairan dalam kemampuan Membantu mengencerkan sekret,


pasien. meningkatkan pengeluaran

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bersihan Jalan nafas tidak efektif merupakan ketidak mampuan dalam membersihkan
sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk menjaga bersihan jalan nafas. Pada pasien
dengan masalah ketidakefektifan bersihan jalan napas, memiliki beberapa factor yang
berhubungan dengan masalah keperawatan tersebut, seperti lingkungan (perokok, perokok pasif,
terpajan asap), Obstruksi jalan napas, dan karena fisiologis. Tetapi beberapa kasus menyebutkan
bahwa sebagian banyak klien yang memiliki masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan
jalan napas adalah pasien yang memiliki riwayat gaya hidup yang tidak baik, seperti perokok
aktif ataupun pasif. Sehingga menumpuknya secret pada saluran pernapasan dan menganggu
proses jalannya inspirasi dan ekspirasi.

16
Daftar Pustaka
Barbara Kozier, G. E. (2010). Fundamental Keperawatan. jakarta.

International, N. (2015). Diagnosa Keperawatan. jakarta.

Marilyn E. Doenges, M. F. (n.d.). Rencana Asuhan Keperawatan.

Wahit Iqbal Mubarak, L. I. (2015). Ilmu Keperawatan Dasar. Jakarta Selatan.

17