Anda di halaman 1dari 26

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PENUMPANG ANGKUTAN

UMUM PENGANGKUTAN DARAT

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Transportasi atau pengangkutan merupakan bidang kegiatan yang sangat penting
dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pentingnya transportasi bagi masyarakat
Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, keadaan geografis Indonesia
yang terdiri dari ribuan pulau kecil dan besar, perairan yang terdiri dari sebagian besar laut,
sungai dan danau yang memungkinkan pengangkutan dilakukan melalui darat, perairan,
dan udara guna menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Hal lain yang juga tidak kalah pentingnya akan kebutuhan alat transportasi
adalah kebutuhan kenyamanan, keamanan, dan kelancaran pengangkutan yang
menunjang pelaksanaan pembangunan yang berupa penyebaran kebutuhan
pembangunan, pemerataan pembangunan, dan distribusi hasil pembangunan
diberbagai sektor ke seluruh pelosok tanah air misalnya, sektor industri, perdagangan,
pariwisata, dan pendidikan.
Pada umumnya sebagian besar masyarakat sangat tergantung dengan angkutan umum
bagi pemenuhan kebutuhan mobilitasnya, karena sebagian besar masyarakat tingkat
ekonominya masih tergolong lemah atau sebagian besar tidak memiliki kendaraan
pribadi, sehingga angkutan umum merupakan suatu kebutuhan yang sangat vital bagi
sebagian masyarakat tersebut.
Melihat Letak geografis Indonesia yang sangat strategis yakni terletak di antara dua benua
(Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik) menentukan posisi dan peran
Indonesia dalam hubungan antar bangsa, apalagi dengan kekayaan wilayah Indonesia yang
terdiri dari ribuan pulau. Oleh karena itu untuk mempelancar roda perekonomian, menjaga,
dan memperkokoh persatuan dan kesatuan, serta mempelancar hubungan antar pulau maupun
dengan negara lain, dibutuhkan sistem transportasi yang memadai. Dalam sistem transportasi
juga berperan sebagai penunjang, pendorong dan penggerak bagi pertumbuhan daerah yang
berpotensi namun belum berkembang, dalam upaya peningkatan dan pemerataan
pembangunan yang dapat berdampak sistemik.

Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga ;Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998, hlm.7.
Ibid, hlm.8.

1
2

Peran penting jasa transportasi ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya
kebutuhan akan jasa angkutan bagi mobilitas orang serta barang dari dan ke seluruh pelosok
tanah air. Menyadari begitu besarnya peran transportasi, maka transportasi perlu untuk ditata
dalam suatu sistem transportasi nasional yang terpadu untuk mewujudkan tersedianya jasa
transportasi yang aman, nyaman, cepat, teratur, dan dengan biaya yang dapat dijangkau oleh
semua lapisan masyarakat.
Alat transportasi di Indonesia meliputi transportasi darat, laut, dan udara. Ketiga alat
transportasi tersebut memang memegang peranan yang sangat penting dan saling mengisi
dalam menjalankan fungsi sebagai alat angkut orang maupun barang. Pengangkutan dalam
kehidupan masyarakat mempunyai peran yang sangat penting, karena didalam pengangkutan
hampir semua kegiatan ekonomi dan kegiatan masyarakat pada umumnya dapat berjalan
secara lancar.
Peranan pengangkutan di dalam dunia perdagangan bersifat mutlak, sebab tanpa
pengangkutan, perusahaan tidak mungkin dapat berjalan. Barang-barang yang dihasilkan oleh
produsen atau pabrik-pabrik dapat sampai di tangan pedagang atau pengusaha hanya dengan
jalan pengangkutan, dan seterusnya dari pedagang atau pengusaha kepada konsumen juga
harus menggunakan jasa pengangkutan. Pengangkutan di sini dapat dilakukan oleh orang,
kendaraan yang ditarik oleh binatang, kendaraan bermotor, kereta api, kapal laut, kapal
sungai, pesawat udara dan lain-lain.
Masalah yang ada sekarang adalah terkait dengan penyediaan alat transportasi masal
yang memadai, nyaman, aman, murah, serta tepat waktu. Dengan terpenuhinya hal tersebut
maka sudah pasti akan turut meningkatkan kemakmuran masyarakat. Karena dengan hal
tersebut, jasa pengangkutan menjadi lebih efisien dan menghemat waktu.
Pembahasan pembangunan aspek hukum transportasi tidak terlepas dari efektivitas
hukum pengangkutan itu sendiri. Pengangkutan di Indonesia diatur dalam Kitab Undang-
undang Hukum Perdata pada Buku Ketiga tentang perikatan, kemudian dalam Kitab Undang-
undang Hukum Dagang pada Buku III titel ke V. Selain itu pemerintah telah mengeluarkan
kebijakan di bidang transportasi darat yaitu dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 22
Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai Pengganti Undang-undang No.
14 Tahun 1992, serta Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan yang
masih tetap berlaku meskipun PP No. 41 Tahun 1993 merupakan peraturan pelaksanaan dari
Undang-undang No. 14 tahun 1992 dikarenakan disebutkan dalam Pasal 324 Unang-undang
No. 22 Tahun 2009.
3

Adapun Asas penyelenggaraan lalu lintas adalah diatur dalam Pasal 2 Undang-undang
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yakni:

a. asas transparan;
b. asas akuntabel;
c. asas berkelanjutan;
d. asas partisipatif;
e. asas bermanfaat;
f. asas efisien dan efektif;
g. asas seimbang;
h. asas terpadu;
i. asas mandiri.

Sedangkan Pasal 3 Uundang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyebutkan


mengenai tujuan dari Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yakni :

a. Terwujudnya pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang aman, selamat, tertib,
lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain untuk mendorong perekonomian
nasional, memajukan kesejahteraan umum, memperkukuh persatuan dan kesatuan
bangsa, serta mampu menjunjung tinggi martabat bangsa;
b. Terwujudnya etika berlalu lintas dan budaya bangsa; dan
c. Terwujudnya penegakan hukum dan kepastian hukum bagi masyarakat.
Menurut Pasal 4 Uundang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dinyatakan
undang-undang ini berlaku untuk membina dan menyelenggarakan Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan yang aman, selamat, tertib, dan lancar melalui:

a. kegiatan gerak pindah Kendaraan, orang, dan/atau barang di Jalan;


b. kegiatan yang menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendukung Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan; dan
c. kegiatan yang berkaitan dengan registrasi dan identifikasi Kendaraan Bermotor dan
Pengemudi, pendidikan berlalu lintas, Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas, serta
penegakan hukum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Demikian juga dalam Pasal 9 Uundang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
tentang Tata Cara Berlalu Lintas bagi Pengemudi Kendaraan Bermotor Umum serta Pasal
141 Uundang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan tentang standar pelayanan angkutan
4

orang dan masih banyak pasal-pasal lainnya yang terkait dengan adanya upaya memberikan
penyelenggaraan jasa angkutan bagi pengguna jasa atas kenyamanan, keamanan, dan
keselamatan pemakai jasa angkutan.

Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tersebut diharapkan


dapat membantu mewujudkan kepastian hukum bagi pihak-pihak yang terkait dengan
penyelenggaraan jasa angkutan, baik itu pengusaha angkutan, pekerja (sopir/ pengemudi)
serta penumpang. Secara operasional kegiatan penyelenggaraan pengangkutan dilakukan oleh
pengemudi atau sopir angkutan dimana pengemudi merupakan pihak yang mengikatkan diri
untuk menjalankan kegiatan pengangkutan atas perintah pengusaha angkutan atau
pengangkut. Pengemudi dalam menjalankan tugasnya mempunyai tanggung jawab untuk
dapat melaksanakan kewajibannya yaitu mengangkut penumpang sampai pada tempat tujuan
yang telah disepakati dengan selamat, artinya dalam proses pemindahan tersebut dari satu
tempat ke tempat tujuan dapat berlangsung tanpa hambatan dan penumpang dalam keadaan
sehat, tidak mengalami bahaya, luka, sakit maupun meninggal dunia. Sehingga tujuan
pengangkutan dapat terlaksana dengan lancar dan sesuai dengan nilai guna masyarakat.

Namun dalam kenyataannya masih sering pengemudi angkutan melakukan tindakan


yang dinilai dapat menimbulkan kerugian bagi penumpang, baik itu kerugian yang secara
nyata dialami oleh penumpang (kerugian materiil), maupun kerugian yang secara immateriil
seperti kekecewaan dan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh penumpang. Misalnya saja
tindakan pengemudi yang mengemudi secara tidak wajar dalam arti saat menjalani tugasnya
pengemudi dipengaruhi oleh keadaan sakit, lelah, meminum sesuatu yang dapat
mempengaruhi kemampuannya mengemudikan kendaraan secara ugal-ugalan sehingga
menyebabkan terjadinya kecelakaan dan penumpang yang menjadi korban. Hal ini tentu saja
melanggar pasal 23 ayat 1 Uundang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Tindakan
lainnya adalah pengemudi melakukan penarikan tarif yang tidak sesuai dengan tarif resmi,
hal ini tentu saja melanggar pasal 42 Uundang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
tentang tarif. Atau tindakan lain seperti menurunkan di sembarang tempat yang dikehendaki
tanpa suatu alasan yang jelas, sehingga tujuan pengangkutan yang sebenarnya diinginkan
oleh penumpang menjadi tidak terlaksana. Hal ini tentu saja melanggar ketentuan Pasal 45 (1)
Uundang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengenai tanggung jawab pengangkut
terhadap penumpang yang dimulai sejak diangkutnya penumpang sampai di tempat tujuan.
Dan adanya perilaku pengangkut yang mengangkut penumpang melebihi kapasitas
maksimum kendaraan.
5

Dengan melihat kenyataan tersebut, dapat diketahui bahwa dalam sektor pelayanan
angkutan umum masih banyak menyimpan permasalahan klasik. Dan dalam hal ini pengguna
jasa (penumpang) sering menjadi korban daripada perilaku pengangkut yang tidak
bertanggung jawab.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kedudukan hukum pengguna jasa (penumpang) angkutan umum?


2. Bagaimana Upaya Pengguna Jasa Angkutan Umum dalam mendapatkan Perlindungan
Hukum dan ganti rugi?

C. Sistimatika Penulisan

Penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Transportasi
dan asuransi Fakultas Ilmu Hukum Universitas Tama Jagakarsa. Selain itu berdasarkan
permasalahan yang dikemukakan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai oleh penulis
dalam penulisan ini adalah :

1. Untuk mengetahui kedudukan hukum pengguna jasa (penumpang) angkutan umum;


2. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap pengguna jasa (penumpang)
angkutan umum sebagai konsumen fasilitas publik transport;
3. asi berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009;

Sedangkan manfaat dari penulisan ini adalah untuk menambah pengetahuan penulis
dan pembaca tentang bagaimana perlindungan hukum dan hak-hak yang didapatkan oleh
pengguna jasa (penumpang) melalui jalan umum berdasarkan ketentuan undang-undang.
BAB II

TINJAUAN UMUM

A. Pengertian Pengangkutan
Hukum pengangkutan atau hukum transportasi adalah keseluruhan peraturan-
peraturan baik yang telah dikodifkasi atau yang belum dikodifkasi yang mengatur semua hal-
hal yang berkaitan dengan pengangkutan.
Transportasi atau pengangkutan merupakan aktivitas pemindahan barang atau orang
dari suatu tempat ke tempat tujuan dengan selamat. Konsep tersebut kalau dilihat dari
perspektif hukum merupakan suatu perjanjian timbal balik.
Perjanjian timbal balik adalah perjanjian dimana para pihak yang berjanji masing-
masing memiliki hak dan kewajiban.
Angkutan adalah perpindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain
dengan menggunakan Kendaraan di Ruang Lalu Lintas Jalan. Istilah Pengangkutan berasal
dari kata angkut yang berarti mengangkut dan membawa, sedangkan istilah
pengangkutan dapat diartikan sebagai pembawaan barang-barang atau orang-orang
(penumpang).
Fungsi pengangkutan ialah memindahkan barang atau orang dari suatu tempat ke
tempat yang lain dengan maksud untuk meningkatkan daya guna dan nilai.
Pengangkutan adalah perjanjian timbal balik antara pengangkut dengan pengirim
dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang
dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat, sedangkan
pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan.
Pada pokoknya pengangkutan adalah perpindahan tempat, baik mengenai benda-
benda maupun orang-orang, karena perpindahan itu mutlak diperlukan untuk mencapai dan
meninggikan manfaat serta efisiensi.
Kegunaan Transportasi Antara Lain :
1. Lebih efisien waktu

https://id.scribd.com/doc/301973258/2-Hukum-Transportasi diunduh tanggal 23 September 2016 Pukul


13.35 WIB
Loc. Cit.
Pasal 1 (3) UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya
H. M. N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia: Hukum Pengangkutan. (Jakarta:
Djambatan, 2008 cetakan ke 7). hlm. 1
Ibid. hlm. 2

6
7

Masyarakat yang biasanya kerja dengan lokasi yang berada jauh dari rumah tentunya
sangat menyita waktu,tidak jarang dari mereka menyewa tempat tinggal untuk rumah
sementaa mereka. Dengan adanya kendaraaan,masyarakat tidak perlu direpotkan lagi oleh
hal seperti penyewaan rumah.
2. Lebih menghemat uang
Mereka yang seharusnya mengeluarkan uang untuk penyewaan rumah atau semacamnya
akan lebih dimudahkan.
3. Harganya lebih terjangkau
Mengapa tidak, kendaraan itu merupakan suatu barang yang terjangkau karena hampir
semua orang mempunyainya.
Manfaat Transportasi
1. Manfaat Sosial
Transportasi memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan manusia yang meliputi :
Dalam kehidupan sosial / bermasyarakat ada bentuk hubungan yang bersifat resmi,
seperti hubungan antara lembaga pemerintah dengan swasta, maupun hubungan yang
bersifat tidak resmi, seperti hubungan keluarga, sahabat, dan sebagainya. transportasi
sangat membantu dalam menyediakan berbagai fasilitas dan kemudahan, seperti:
a. Pelayanan untuk perorangan maupun kelompok;
b. Pertukaran dan penyampaian informasi;
c. Perjalanan pribadi maupun sosial;
d. Mempersingkat waktu tempuh antara rumah dan tempat bekerja;
e. Mendukung perluasan kota atau penyebaran penduduk menjadi kelompok-
kelompok yang lebih kecil.
2. Manfaat Ekonomi
Manusia memanfaatkan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan pangan,
sandang, dan papan. Sumberdaya alam ini perlu diolah melalui proses produksi untuk
menjadi bahan siap pakai untuk dipasarkan, sehingga selanjutnya terjadi proses tukar
menukar antara penjual dan pembeli. Tujuan dari kegiatan ekonomi adalah memenuhi
kebutuhan manusia dengan menciptakan manfaat. Transportasi adalah salah satu jenis
kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan manusia melalui cara
mengubah letak geografi orang maupun barang. Dengan transportasi, bahan baku
dibawa ke tempat produksi, dan dengan transportasi pula hasil produksi dibawa ke
pasar. Para konsumen datang ke pasar atau tempat-tempat pelayanan yang lain (rumah
8

sakit, pusat rekreasi, pusat perbelanjaan dan seterusnya) dengan menggunakan


transportasi
3. Manfaat Politik
Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, transportasi memegang peranan penting.
Beberapa manfaat politik transportasi, adalah:
a. Transportasi menciptakan persatuan nasional yang semakin kuat dengan
meniadakan isolasi;
b. Transportasi mengakibatkan pelayanan kepada masyarakat dapat dikembangkan
atau diperluas secara lebih merata;
c. Keamanan negara sangat tergantung pada transportasi yang efisien untuk
memudahkan mobilisasi kemampuan dan ketahanan nasional, serta
memungkinkan perpindahan pasukan selama masa perang atau untuk menjaga
keamanan dalam negeri;
d. Sistem transportasi yang efisien memungkinkan perpindahan penduduk dari
daerah bencana.

4. Manfaat Fisik
Transportasi mendukung perkembangan kota dan wilayah sebagai sarana
penghubung. Rencana tata guna lahan kota harus didukung secara langsung oleh
rencana pola jaringan jalan yang merupakan rincian tata guna lahan yang
direncanakan. Pola jaringan jalan yang baik akan mempengaruhi perkembangan kota
sesuai dengan rencana tata guna lahan. Ini berarti transportasi mendukung penuh
terhadap perkembangan fisik suatu kota atau wilayah.

Fungsi Transportasi

Fungsi lain transportasi adalah untuk mengangkut penumpang dan barang dari satu
tempat ke tempat lain. Kebutuhan akan angktan penumpang tegantung fungsi bagi
kegunaan seseorang (personal place utility). Peranan transportasi tidak hanya untuk
melancarkan barang atau mobilitas manusia. Tansportasi juga membantu tercapainya
pengalokasian sumber-sumber ekonomi secara optimal. Transportasi berfngsi sebagai
sektor penunjang pembangunan (the promotion sector) dan pemberi jasa (the
servicing sector) bago perkembangan ekonomi.
9

Fungsi transportasi (pengangkutan) memegang peranan penting dalam usaha mencapai


tujuan pengembangan ekonomi dalam suatu bangsa. Adapun tujuan pengembangan
ekonomi yang bisa diperkenankan oleh jasa transportasi adalah:
a. Meningkatkan pendapatan nasional, disertai dengan distribusi yang merata antara
penduduk, bidang usaha dan daerah;
b. Meningkatkan jenis dan jumlah barang jadi dan jasa yang dapat dihasilkan para
konsumen, industri dan pemerintah;
c. Mengembangkan industrial nasional yang dapat menghasilkan devisa serta mensupply
pasaran dalam negeri;
d. Menciptakan dan memelihara tingkatan kesempatan kerja bagi masyarakat. Ada
peranan transportasi dalam kegiatan non-ekonomis yaitu sebagai sarana mempertinggi
integritas bangsa, transportasi menciptakan dan meningkatkan standar kehidupan
masyarakat secara keseluruhan, mempertingi Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia
(Hankamnas) dan menciptakan pembangunan nasional.

Abdulkadir Muhammad menguraikan istilah pengangkutan dengan mengatakan


bahwa pengangkutan meliputi tiga dimensi pokok yaitu : pengangkutan sebagai usaha
(business); pengangkutan sebagai perjanjian (agreement); dan pengangkutan sebagai proses
(process)
Pembagian jenis-jenis pengangkutan pada umunya didasarkan pada jenis alat angkut
yang dipergunakan dan keadaan geografis yang menjadi wilayah tempat berlangsungnya
kegiatan pengangkutan. Menurut H.M.N Purwosutjipto dalam bukunya Pengertian Pokok
Hukum Dagang Indonesia, jenis-jenis pengangkutan terdiri dari pengangkutan darat,
pengangkutan laut, pengangkutan udara, dan pengangkutan perairan darat.
Secara Umum, jenis atau moda pengangkutan ada tiga, yaitu pengangkutan darat,
pengangkutan laut, dan pengangkutan udara.
Dalam makalah ini khusus akan dibahas mengenai perlindungan hukum terhadap
penumpang dalam pengangkutan melalui jalan umum atau angkutan umum, yang tak lain
adalah pengangkutan darat.
Mengenai istilah jalan umum di sini dimaksudkan semua jalan yang bukan jalan
kereta api, yang bisa dilalui oleh umum (setiap orang) dan kendaraan bermotor. Alat
pengangkutan yang dipergunakan di atas jalan umum ini ialah kendaraan bermotor.

Loc. cit
Hasnil Basri, Hukum Pengangkutan. ( Medan: Kelompok Studi Hukum Fakultas Hukum USU, 2002) hlm. 22.
10

B. Perjanjian Pengangkutan

Dalam bahasa Belanda, perjanjian disebut juga overeenkomst dan hukum perjanjian
disebut overeenkomstenrech. Hukum perjanjian diatur dalam buku III BW (KUHPerdata).
Pada pasal 1313 KUHPerdata, dikemukakan tentang defenisi daripada perjanjian. Menurut
ketentuan pasal ini, perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.
Pengangkutan sebagai perjanjian selalu didahului oleh kesepakatan antara pihak
pengangkut dan pihak penumpang atau pengirim. Kesepakatan tersebut pada dasarnya berisi
kewajiban dan hak, baik pengangkut dan penumpang maupun pengirim.
Perjanjian pengangkutan adalah persetujuan di mana pihak pengangkut mengikatkan
diri untuk menyelenggarakan pengangkutan penumpang dan/atau barang dari satu tempat ke
tempat tujuan tertentu dengan selamat dan penumpang atau pemilik barang mengikatkan diri
untuk membayar biaya pengangkutan.
Pasal 90 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) itu menentukan bahwa surat
muatan (vrachtbrief) merupakan perjanjian antara pengirim dan pengangkut. Jadi, menurut
pasal 90 Kitab Undang-undang Hukum Dagang, perjanjian pengangkutan tidak bersifat
konsensuil, tetapi tertulis. Padahal kenyataannya perjanjian pengangkutan itu bersifat
konsensuil, artinya untuk terjadinya perjanjian pengangkutan cukup bila ada persetujuan
kehendak antara pengirim dan pengangkut, tidak perlu surat muatan atau akta lain. Surat
muatan ini hanya merupakan salah satu alat pembuktian tentang adanya perjanjian
pengangkutan.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan para pihak menginginkan perjanjian
pengangkutan dilakukan secara tertulis, yaitu:
a. Kedua belah pihak ingin memperoleh kepastian mengenai hak dan kewajiban masing-
masing;
b. Kejelasan rincian mengenai objek, tujuan, dan beban risiko para pihak;
c. Kepastian dan kejelasan cara pembayaran dan penyerahan barang;
d. Menghindari berbagai macam tafsiran arti kata dan isi perjanjian;
e. Kepastian mengenai waktu, tempat dan alasan apa perjanjian berakhir;
f. Menghindari konflik pelaksanaan perjanjian akibat ketidakjelasan maksud yang
dikehendaki para pihak.

C.S.T. Kansil, Modul Hukum Perdata Termasuk Asas-Asas Hukum Perdata. (Jakarta: PT. Pradnya Paramita,
2006). hlm. 1
BAB III
KEDUDUKAN HUKUM PENGGUNA JASA (PENUMPANG)
ANGKUTAN UMUM

A. Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Perjanjian Pengangkutan

Dalam pasal 1 angka 25 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan (LLAJ) yang dimaksud penumpang adalah orang yang berada di
Kendaraan selain Pengemudi dan awak Kendaraan. Dengan mengikatkan diri setelah
membayar uang atau tiket angkutan umum sebagai kontraprestasi dalam perjanjian
pengangkutan maka seseorang telah sah sebagai penumpang alat angkutan penumpang umum
yang apabila mengalami kecelakaan diri, yang diakibatkan oleh penggunaan alat angkutan
umum, selama penumpang yang bersangkutan berada dalam angkutan tersebut, yaitu saat
naik dari tempat pemberangkatan sampai turun di tempat tujuan. Tiket penumpang adalah
tanda bukti bahwa seseorang telah membayar uang angkutan dan akibatnya berhak naik
pesawat udara sebagai penumpang. Tiket penumpang juga menjadi tanda bukti telah
ditutupnya perjanjian angkutan udara antara pengangkut dan penumpang. Jadi penumpang
adalah salah satu pihak dalam perjanjian pengangkutan darat, sedangkan pihak lawannya
adalah pengangkut darat. Tiket penumpang merupakan syarat dalam perjanjian pengangkutan
darat, tetapi bukan merupakan syarat mutlak sebab tidak adanya tiket penumpang tidak
berarti tidak adanya perjanjian pengangkutan.
Dengan adanya dasar hukum yakni :
a. UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
b. UU Nomor 33 Tahun 1964 tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang;
c. PP Nomor 17 Tahun 1965 tentang Ketentuan Pelaksanaan Dana Pertanggungan Wajib
Kecelakaan Penumpang;
d. UU Nomor 34 Tahun 1964 tentang Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan;
e. PP Nomor 18 Tahun 1965 tentang Ketentuan Pelaksanaan Dana Kecelakaan Lalu Lintas
Jalan.
Maka penumpang angkutan umum telah mendapat jaminan hukum atas
keselamatannya jikalau pengangkut tidak dapat melaksanakan kewajibannya dalam
pengangkutan orang yakni membawa atau mengangkut penumpang tersebut sampai di tempat
tujuan dengan selamat.

11
12

Subjek hukum adalah pendukung hak dan kewajiban. Subjek hukum pengangkutan
adalah pendukung hak dan kewajiban dalam hubungan hukum pengangkutan, yaitu pihak-
pihak yang terlibat secara langsung dalam proses perjanjian sebagai pihak dalam perjanjian
pengangkutan.
Pihak-pihak yang yang terlibat di dalam perjanjian pengangkutan antara lain:
a. Pihak pengangkut,
Secara umum, di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) tidak
dijumpai defenisi pengangkut, kecuali dalam pengangkutan laut. Akan tetapi, dilihat dari
pihak dalam perjanjian pengangkutan, pengangkut adalah pihak yang mengikatkan diri untuk
menyelenggarakan pengangkutan orang (penumpang) dan/atau barang.
b. Pihak Penumpang,
Peraturan pengangkutan di Indonesia menggunakan istilah orang untuk
pengangkutan penumpang. Akan tetapi, rumusan mengenai orang secara umum tidak
diatur. Dilihat dari pihak dalam perjanjian pengangkutan orang, penumpang adalah orang
yang mengikatkan diri untuk membayar biaya pengangkutan dan atas dasar ini dia berhak
untuk memperoleh jasa pengangkutan.
c. Pihak Pengirim,
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) Indonesia juga tidak mengatur
defenisi pengirim secara umum. Akan tetapi, dilihat dari pihak dalam perjanjian
pengangkutan, pengirim adalah pihak yang mengikatkan diri untuk membayar biaya
pengangkutan barang dan atas dasar itu dia berhak memperoleh pelayanan pengangkutan
barang dari pengangkut. Dalam bahasa inggris, pengirim disebut consigner, khusus pada
pengangkutan perairan pengangkut disebut shipper.
Menurut H.M.N Purwosutjipto, kewajiban-kewajiban dari pihak pengangkut adalah
1. Menyediakan alat pengangkut yang akan digunakan untuk menyelenggarakan
pengangkutan.
2. Menjaga keselamatan orang (penumpang) dan/ atau barang yang diangkutnya.
Dengan demikian maka sejak pengangkut menguasai orang (penumpang) dan/ atau
barang yang akan diangkut, maka sejak saat itulah pihak pengangkut mulai
bertanggung jawab (Pasal 1235 KUHPerdata).
3. Kewajiban yang disebutkan dalam Pasal 470 KUHD yang meliputi:

H. M. N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia: Hukum Pengangkutan. (Jakarta:


Djambatan, 2008 cetakan ke 7). hlm. 33
13

a. Mengusahakan pemeliharaan, perlengkapan atau peranakbuahan alat


pengangkutnya;
b. Mengusahakan kesanggupan alat pengangkut itu untuk dipakai menyelenggarakan
pengangkutan menurut persetujuan;
c. Memperlakukan dengan baik dan melakukan penjagaan atas muatan yang
diangkut.
4. Menyerahkan muatan ditempat tujuan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
dalam perjanjian.

Menurut Pasal 124 ayat (1) UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan, terdapat beberapa kewajiban yang harus dipenuhi pengenudi kendaraan bermotor
umum, yaitu:

1. Mengangkut Penumpang yang membayar sesuai dengan tarif yang telah ditetapkan;
2. Memindahkan penumpang dalam perjalanan ke Kendaraan lain yang sejenis dalam
trayek yang sama tanpa dipungut biaya tambahan jika Kendaraan mogok, rusak,
kecelakaan, atau atas perintah petugas;
3. Menggunakan lajur Jalan yang telah ditentukan atau menggunakan lajur paling kiri,
kecuali saat akan mendahului atau mengubah arah;
4. 4.Memberhentikan kendaraan selama menaikkan dan/atau menurunkan Penumpang;
5. Menutup pintu selama Kendaraan berjalan; dan
6. Mematuhi batas kecepatan paling tinggi untuk angkutan umum.

Selain itu di dalam UU No. 22 tahun 2009 terdapat beberapa kewajiban yang harus
dipenuhi oleh perusahaan angkutan umum, yaitu:
1. Menyerahkan tiket penumpang (Pasal 167 UU No. 22 Tahun 2009);
2. Menyerahkan tanda bukti pembayaran pengangkutan untuk angkutan tidak dalam
trayek (Pasal 167 UU No. 22 Tahun 2009);
3. Menyerahkan tanda pengenal bagasi kepada Penumpang (Pasal 167 UU No. 22
Tahun 2009);
4. Menyerahkan manifes kepada pengemudi Penumpang (Pasal 167 UU No. 22 Tahun
2009);
5. Perusahaan Angkutan Umum wajib mengangkut orang dan/atau barang setelah
disepakati perjanjian angkutan dan/atau dilakukan pembayaran biaya angkutan oleh
Penumpang dan/atau pengirim barang (Pasal 186 UU No. 22 tahun 2009);
14

6. Perusahaan Angkutan Umum wajib mengembalikan biaya angkutan yang telah


dibayar oleh Penumpang dan/atau pengirim barang jika terjadi pembatalan
pemberangkatan (Pasal 187 UU No. 22 tahun 2009);
7. Perusahaan Angkutan Umum wajib mengganti kerugian yang diderita oleh
Penumpang atau pengirim barang karena lalai dalam melaksanakan pelayanan
angkutan (Pasal 188 UU No. 22 tahun 2009);
8. Perusahaan Angkutan Umum wajib mengasuransikan tanggung jawabnya (Pasal 189
UU No. 22 tahun 2009);
Di samping kewajiban yang dibebankan kepada pengangkut oleh undang-undang,
terdapat juga hak-hak yang diberikan kepada pengangkut. Hak-hak yang dimiliki oleh pihak
pengangkut, antara lain:
1. Pihak pengangkut berhak menerima biaya pengangkutan;
2. Pemberitahuan dari pengirim mengenai sifat, macam dan harga barang yang akan
diangkut, yang disebutkan dalam Pasal 469, 470 ayat (2), 479 ayat (1) KUHD;
3. Penyerahan surat-surat yang diperlukan dalam rangka mengangkut barang yang
diserahkan oleh pengirim kepada pengangkut berdasarkan Pasal 478 ayat (1) KUHD.
Selain itu dalam UU No. 22 Tahun 2009 terdapat beberapa hak-hak dari pihak
pengangkut, yaitu:
1. Perusahaan angkutan umum berhak untuk menahan barang yang diangkut jika
pengirim atau penerima tidak memenuhi kewajiban dalam batas waktu yang
ditetapkan sesuai dengan perjanjian angkutan (Pasal 195 ayat (1) UU No. 22 Tahun
2009);
2. Perusahaan angkutan umum berhak memungut biaya tambahan atas barang yang
disimpan dan tidak diambil sesuai dengan kesepakatan (Pasal 195 ayat (2) UU No.
22 Tahun 2009);
3. Perusahaan angkutan umum berhak menjual barang yang diangkut secara lelang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan jika pengirim atau penerima
tidak memenuhi kewajiban (Pasal 195 ayat (3) UU No. 22 Tahun 2009);
4. Jika barang angkutan tidak diambil oleh pengirim atau penerima sesuai dengan batas
waktu yang telah disepakati, perusahaan angkutan umum berhak memusnahkan
barang yang sifatnya berbahaya atau mengganggu dalam penyimpanannya sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 196 UU No. 22 Tahun
2009).
15

Adapun yang menjadi kewajiban utama pihak penumpang dalam perjanjian


pengangkutan adalah membayar biaya pengangkutan. Setelah membayar biaya pengangkutan
kepada pihak pengangkut maka secara otomatis pihak penumpang berhak atas pelayanan
pengangkutan dari pihak pengangkut.
Adapun yang menjadi kewajiban utama pihak pengirim dalam perjanjian
pengangkutan adalah membayar biaya pengangkutan (Pasal 491 KUHD),selain itu pihak
pengirim berkewajiban untuk memberitahukan tentang sifat, macam, dan harga barang yang
akan diangkut (Pasal 469, 470 ayat (2), 479 ayat (1) KUHD), menyerahkan surat-surat yang
diperlukan untuk pengangkutan barang tersebut (Pasal 478 ayat (1) KUHD).
Sedangkan hak-hak yang dimiliki oleh pihak pengirim barang antara lain menerima
barang dengan selamat di tempat yang dituju, menerima barang pada saat yang sesuai dengan
yang ditunjuk oleh perjanjian pengangkutan, dan berhak atas pelayanan pengangkutan
barangnya.
B. Tanggung Jawab Para Pihak dalam Perjanjian Pengangkutan
Prof. Abdulkadir Muhammad, S.H. dalam bukunya Hukum Pengangkutan Niaga
membagi tanggung jawab para pihak dalam perjanjian pengangkutan ke dalam 4 (empat)
bagian yaitu tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan kereta api, tanggung jawab para
pihak dalam pengangkutan darat, tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan perairan,
dan tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan udara. Dan dalam bab ini yang akan
dibahas adalah tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan darat.
Tanggung jawab pada hakikatnya terdiri dari dua aspek, yaitu tanggung jawab yang
bersifat kewajiban yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya (responsibility) dan tanggung
jawab ganti rugi (liability). Perusahaan pengangkutan umum bertanggung jawab atas
kerugian yang diderita oleh penumpang, pengirim atau pihak ketiga karena kelalaiannya
dalam melaksanakan pelayanan pengangkutan. Selama pelaksanaan pengangkutan,
keselamatan penumpang atau barang yang diangkut pada dasarnya berada dalam tanggung
jawab perusahaan pengangkutan umum. Oleh karena itu, sudah sepatutnya apabila kepada
perusahaan pengangkutan umum dibebankan tanggung jawab terhadap setiap kerugian yang
diderita oleh penumpang atau pengirim, yang timbul karena pengangkutan yang
dilakukannya (Pasal 234 UU No. 22 Tahun 2009). Pengemudi Kendaraan Bermotor Umum
dapat menurunkan penumpang dan/atau barang yang diangkut pada tempat pemberhentian

Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga. (Bandung: Citra Aditya Bakti,1998) hlm. 37
Hasim Purba. Hukum Pengangkutan di Laut. (Medan: Pusaka Bangsa, 2005) hlm. 101
16

terdekat jika Penumpang dan/atau barang yang diangkut dapat membahayakan keamanan dan
keselamatan angkutan (Pasal 190 UU No. 22 Tahun 2009).
Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerugian yang diakibatkan oleh
segala perbuatan orang yang dipekerjakan dalam kegiatan penyelenggaraan angkutan. Selain
itu Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh
Penumpang yang meninggal dunia atau luka akibat penyelenggaraan angkutan, kecuali
disebabkan oleh suatu kejadian yang tidak dapat dicegah atau dihindari atau karena kesalahan
Penumpang (Pasal 191 dan Pasal 192 ayat (1) UU No. 22 Tahun 2009).

C. Hal-hal yang Dapat Menyebabkan Kerugian Bagi Pengguna Jasa (Penumpang)


Angkutan Umum Akibat Kesalahan dari Pihak Pengangkut
Pada saat seseorang menjadi penumpang sah dari kendaraan bermotor umum, kereta
api, pesawat udara atau kapal dari perusahaan pengangkutan nasional, dia wajib membayar
iuran (premi) pertanggungan wajib kecelakaan penumpang melalui pengusaha atau pemilik
kendaraan yang bersangkutan (pasal 3 ayat (1) huruf a UU 33/64). Pada saat itu penumpang
yang bersangkutan tidak hanya menutup perjanjian pengangkutan saja, tetapi sekaligus juga
menutup perjanjian pertanggungan wajib kecelakaan penumpang. Sifat wajib ini
menunjukkan unsur dari pemerintah. Unsur paksaan ini tertuju pada sistem jaminan sosial.
Unsur paksaan ini bila sudah menjadi kebiasaan, tidak terasa lagi, sebaliknya tujuan paksaan
ini tercapai yakni suatau sistem jaminan sosial dalam masyarakat Indonesia.
Telah dikatakan di atas bahwa penumpang pada saat yang sama menutup perjanjian
pengangkutan dan perjanjian pertanggungan. Dalam hal menutup perjanjian pertanggungan,
penumpang bertindak sebagai tertanggung, sedangkan yang bertindak sebagai penanggung
adalah perum asuransi kerugian Jasa Raharja (Pasal 8 PP 17/65). Kewajiban tertanggung
ialah membayar iuran (premi) kepada penanggung dengan melalui pengusaha pengangkutan
(Pasal 1 ayat (1) PP 17/65), sedangkan hak tertanggung ialah ganti kerugian, kalau dia
menderita kecelakaan dalam pengangkutan, yakni:
a. Bila penumpang mati; atau
b. Penumpang mendapat cacat tetap akibat dari kecelakaan penumpang;
c. Penumpang mendapat luka-luka.
Kewajiban penanggung ialah memberi ganti kerugian kepada tertanggung
(penumpang), bila dia mati atau mendapat cacat teta akibat kecelakaan penumpang.

H. M. N. Purwosutjipto, Op. cit. hlm. 64


17

Sedangkan hak penaggung ialah mendapat premi dari tertanggung dengan melalui pengusaha
pengangkutan bersangkutan .
Berbeda dengan pertanggungan biasa yang sifatnya bebas bagi setiap orang untuk
menutup perjanjian pertanggungan atau tidak, maka menutup perjanjian pertanggungan wajib
kecelakaan penumpang ini sifatnya mutlak bagi setiap penumpang kendaraan umum.
Istilah ganti kerugian bagi penumpang yang mati itu sesungguhnya tidak tepat, sebab
hilangnya nyawa seorang peumpang tidak dapat dinilai dengan uang, jadi tidak dapat diganti
rugi dengan uang. Mengenai istilah ganti rugi bagi si mati tersebut saya lebih suka
menggantinya dengan istilah uang duka.
Mengenai peristiwa yang sering terjadi akhir-akhir ini yakni pemerkosaan sopir
angkutan umum terhadap penumpangnya di kendaraan angkutan mereka. Peristiwa ini
merupakan tindak pidana yang kasusnya setelah dilaporkan akan ditindak oleh kepolisian.
Sang sopir melakukan pertanggung jawaban pidana secara pribadi.

Loc. cit
BAB IV
UPAYA PENGGUNA JASA ANGKUTAN UMUM DALAM
MENDAPATKAN PERLINDUNGAN HUKUM DAN GANTI RUGI

A. Perlindungan Hukum Dan Ganti Rugi

Seperti dikatakan di atas, bahwa dengan melakukan kewajibannya yakni membayar


uang atau tiket kepada pengangkut maka dengan sendirinya penumpang tersebut dengan
sendirinya telah mendapat perlindungan atas keselamatannya yang dijamin oleh hukum.
Bila seorang penumpang mengajukan tuntutan ganti rugi karena luka atau lain-lainnya
kepada pengangkut, cukuplah bila dia mendalilkan bahwa dia menderita luka disebabkan
pengangkutan itu. Jika tuntutan itu dibantah oleh pengangkut, maka pengangkut harus
membuktikan bahwa kelalaian atau kesalahan tidak ada padanya. Bila pembuktian
pengangkut ini berhasil, maka giliran penumpang yang harus membuktikan adanya kelalaian
atau kesalahan pada pengangkut.
Jadi kalau ada tuntutan ganti rugi dari penumpang yang menderita luka-luka, maka
beban pembuktian terletak di atas pundak pengangkut, bahwa dia tidak lalai atau salah.
Dari uraian tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan adanya azas bahwa pengangkut
berkewajiban untuk mengangkut orang atau penumpang dengan selamat sampai di tempat
tujuan (pasal 522 KUHD), sehingga dia bertanggung jawab atas segala kerugian atau luka-
luka yang diderita oleh penumpang, yang disebabkan karena atau berhubung dengan
pengangkutan yang diselenggarakan itu, kecuali bila pengangkut dapat mendiskulpir dirinya
(pasal 1339 KUHPER bsd. Pasal 522 ayat (2) KUHD).
Di samping pendapat bahwa kewajiban pengangkut adalah mengangkut penumpang
sampai di tempat tujuan dengan selamat atau dengan cara yang aman. Ada pendapat yang
menetapkan kewajiban pengangkut hanya mengangkut penumpang sampai di tempat tujuan.
Jadi, unsur dengan selamat atau dengan cara yang aman tidak termasuk dalam kewajiban
pengangkut. Tetapi menurut pendapat yang kedua ini, pengangkut wajib secara pantas dan
cukup berikhtiar untuk mencegah kecelakaan. Bila terjadi apa-apa yang merugikan
penumpang, maka pengangkut dianggap berbuat melawan hukum terhadap penumpang. Dan
penumpang yang menderita kerugian itu dapat menuntut ganti rugi kepada pengangkut
berdasar pasal 1365 KUHPER.

H. M. N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia: Hukum Pengangkutan. (Jakarta:


Djambatan, 2008 cetakan ke 7). hlm. 52

18
19

Ketentuan bahwa pengangkut wajib secara pantas dan cukup berikhtiar untuk
mencegah kecelakaan ini sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam pasal 1602-w, ayat
(1) KUHPER yang berbunyi Majikan diwajibkan untuk mengatur dan memelihara ruangan-
ruangan, alat-alat atau perkakas-perkakas, dalam mana atau dengan mana ia menyeluruh
melakukan pekerjaannya, begitu pula mengenai hal melakukan pekerjaan, majikan wajib
mengadakan aturan-aturan dan memberikan petunjuk-petunjuk sedemikian rupa, sehingga si
buruh terlindung terhadap bahaya-bahaya uang mengancam jiwa, kehormatan dan harta
bendanya, begitu jauh bagaimana dapat dituntut sepantasnya berhubung dengan sifat
pekerjaan yang dihadapinya. Dari ketentuan itu dapat disimpulkan bahwa majikan
berkewajiban secara pantas dan cukup berikhtiar untuk mencegah kecelakaan. Sedang pasal
1602-w ayat (2) KUHPER berbunyi Apabila majikan tidak memenuhi kewajibannya seperti
tersebut dalam ayat (1) di atas, dan kelalaian mana mengakibatkan kerugian bagi si buruh,
maka majikan wajib memberi ganti rugi, kecuali bila majikan dapat membuktikan bahwa
wanprestasinya itu disebabkan karena kelalaian si buruh sendiri. Jadi, beban pembuktian ada
pada majikan, untuk mendiskulpir dirinya
Syarat mutlak yang harus ada pada setiap tuntutan ganti rugi terhadap pengangkut
ialah bahwa kerugian itu disebabkan oleh pengangkutan atau hal yang erat hubungannya
dengan pengangkutan.
Mengenai besarnya jumlah ganti rugi, belaku azas-azas yang tercantum dalam pasal
1246, 1247, dan 1248 KUHPER, yang pada pokoknya mengganti yang hilang dan laba yang
tidak diperolehnya, dengan batasan bahwa kerugian itu layak dapat diperkirakan pada saat
perjanjian pengangkutan itu dibuat dan lagi pula kerugian itu harus merupakan akibat
langsung dari wanprestasi pengangkut. Bagi kerugian yang tidak dapat dinilai dengan uang,
misalnya cacat badan, cacat pada mukanya dan lain-lain, bekas penumpang itu tetap berhak
untuk menuntut ganti rugi kepada pengangkut. Sudah tentu kalau perselisihan tentang
besarnya jumlah ganti rugi, hanya hakimlah yang berwenang menentukannya.
Tuntutan untuk pembayaran asuransi dari kewajiban kita membayar tiket atau iuran
kepada pengangkut yang disetor kepada Jasa Raharja ditujukan kepada Perum Asuransi
Kerugian Jasa Raharja atau kepada instansi pemerintah lain yang ditunjuk oleh menteri
keuangan (pasal 16 PP 18/65). Adapun peraturan pembuktian dalam hal tuntutan pembayaran
dana menurut hukum acara perdata biasa, kecuali dalam hal-hal:
20

1. Dalam hal ada kematian


a. Proses perbal polisi lalu lintas atau pejabat lain yang berwenang tentang kecelakaan
yang telah terjadi dengan alat angkutan lalu lintas jalan yang bersangkutan, yang
menyebabkan kematian si pewaris menuntut
b. Putusan hakim atau pihak berwajib lain yang berwenang tentang pewarisan yang
bersangkutan
c. Surat keterangan dokter dan bukti lain yang dianggap perlu guna pengesahan fakta
kematian yang terjadi. Hubungan sebab musabab kematian tersebut dengan
penggunaan alat angkutan lalu lintas jalan dan hal-hal lain yang berguna bagi
penentuan jumlah pembayaran dana yang harus diberikan (pasal 17 ayat (2) PP
18/65).
2. Dalam hal si korban mendapat cacat tetap atau cedera
a. Proses perbal dari polisi lalu lintas atau pejabat lainnya yang berwenang tentang
memproses perbal kecelakaan yang telah terjadi dengan alat angkutan lalu lintas jalan
yang bersangkutan yang mengakibatkan cacat tetap pada si korban atau penuntut
b. Surat keterangan dokter tentang jenis cacat tetap atau cedera yang telah terjadi sebagai
akibat kecelakaan lalu lintas jalan
c. Surat-surat bukti lain yang diangga perlu untuk pengesahan fakta cacat tetap atau
cedera yang terjadi. Hubungan sebab musabab antara cacat tetap dengan penggunaan
alat angkutan lalu lintas jalan dan hal-hal lain yang berguna bagi penentuan jumlah
pembayaran dana yang harus diberikan kepada si korban (pasal 17 ayat (2) b PP
18/65)

Tuntutan ganti rugi ini ada pengecualiannya, yaitu:

a. Jika korban atau ahli warisnya telah memperoleh jaminan berdasarkan UU


34/1964
b. Bunuh diri, percobaan bunuh diri atau sesuatu kesengajaan lain pada pihak korban
atau ahli waris
c. Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi pada waktu korban sedang dalam keadaan
mabuk atau tak sadar, melakukan perbuatan kejahatan ataupun diakibatkan oleh
atau terjadi karena korban memiliki cacat badan atau keadaan badaniah atau
rohaniah biasa lain.
21

B. Jaminan Asuransi Atau Jaminan Pihak Ketiga

Menurut Undang-Undang No.2 Tahun 1992 Pasal 1 :


Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana
pihak Penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi,
untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga
yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti,
atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya
seseorang yang dipertanggungkan.Pada hakekatnya asuransi adalah suatu perjanjian antara
nasabah asuransi (tertanggung) dengan perusahaan asuransi (penanggung) mengenai
pengalihan resiko dari nasabah kepada perusahaan asuransi.
Setiap asuransi pasti bermanfaat, yang secara umum manfaatnya adalah :
1. Memberikan jaminan perlindungan dari risiko-risiko kerugian yang diderita satu
pihak.
2. Meningkatkan efisiensi, karena tidak perlu secara khusus mengadakan
pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan
banyak tenaga, waktu dan biaya.
3. Transfer Resiko; Dengan membayar premi yang relatif kecil, seseorang atau
perusahaan dapat memindahkan ketidakpastian atas hidup dan harta bendanya
(resiko) ke perusahaan asuransi.
4. Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya
tertentu dan tidak perlu mengganti/membayar sendiri kerugian yang timbul yang
jumlahnya tidak tentu dan tidak pasti.
5. Dasar bagi pihak bank untuk memberikan kredit karena bank memerlukan
jaminan perlindungan atas agunan yang diberikan oleh peminjam uang.
6. Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar kepada pihak asuransi akan
dikembalikan dalam jumlah yang lebih besar. Hal ini khusus berlaku untuk
asuransi jiwa.
7. Menutup Loss of Earning Power seseorang atau badan usaha
Jenis asuransi dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Asuransi kebakaran

http://ananlisa.blogspot.co.id/2012/11/pengertian-manfaat-dan-jenis-asuransi.html diunduh tanggal 23


September 2016 Pkl. 07.50 WIB
22

Asuransi kebakaran ialah asuransi yang mempertanggungkan kerugian akibat


kebakaran yang terjadi di daratan.Kalau suatu bangunan telah diasuransikan
terhadap bencana kebakaran, maka dicantumkan dalam perjanjian.
2. Asuransi pengangkutan
Asuransi pengangkutan adalah asuransi yang mempertanggungkan kemungkinan
resiko terhadap pengangkutan barang.
Asuransi pengangkutan dapat dibagi menjadi:
a. Asuransi pengangkutan darat - sungai
b. Asuransi pengangkutan laut
c. Asuransi pengangkutan udara.
3. Asuransi jiwa
Persetujuan antara kedua pihak, yang di dalamnya tercantum pihak mana yang
berjanji akan membayar premi dan pihak lain yang berjanji akan membayar
sejumlah uang yang telah ditentukan jika seseorang tertanggung meninggal atau
selambat-lambatnya pada waktu yang ditentukan.
4. Asuransi kredit
Mempertanggungkan kemungkinan resiko pemberian kredit kepada orang lain.
Dalam hal ini asuransi hanya mengganti kerugian setinggi-tingginya 75% dari
kerugian.Di negara kita pernah ada LJKK (Lembaga Jaminan Kredit Koperasi)
yang memberi jaminan kepada Bank, terhadap pinjaman koperasi.
5. Asuransi kecurian
Yang termasuk dalam asuransi kecurian ini harus disebutkan satu persatu barang
yang diasuransikan itu. Apabila terjadi resiko, maka barang-barang tersebut akan
diganti.
6. Asuransi perusahaan
Pertanggungan kerugian ini menyangkut perusahaan yang dirugikan oleh suatu
sebab yang dapat menghentikan/menghambat kegiatan perusahaan.Ganti
kerugiannya biasanya didasarkan kepada keuntungan kotor yang terlepas karena
terhentinya kegiatan perusahaan tersebut.
7. Asuransi mobil
Resiko yang dipertanggungkan dalam asuransi kendaraan bermotor ini antara lain:
kerugian atau kerusakan kendaraan yang disebabkan oleh tabrakan, benturan,
terbalik, tergelincir dijalan, oleh sebab apapun juga, karena perbuatan jahat orang
23

lain, pencurian, kebakaran, sambaran petir, juga termasuk kerugian karena adanya
uru hara, dan total lost dari kendaraan.
8. Asuransi terhadap tanggung jawab karena hokum
Asuransi yang dilakukan untuk menjaga kalau-kalau kita berbuat kesalahan yang
dapat merugikan seseorang atau harta benda seseorang.
9. Asuransi tenaga kerja (Astek)
Asuransi tenaga kerja yaitu usaha asuransi yang dibentuk oleh pemerintah untuk
menanggung resiko yang menimpa tenaga kerja diperusahaan/pabrik.Dengan jasa
asuransi ini para pengusaha dan masyarakat umumnya dapat
mengurangi/meringankan malapetaka.Selain itu dengan asuransi diharapkan
perlindungan ekonomi, finansial dengan menyediakan fasilitas yang dapat
membantu kepentingan orang banyak.

Kehadiran PT Jasa Raharja (Persero) sebagai Asuransinya Masyarakat Indonesia,


memberikan perlindungan kepada masyarakat melalui 2(dua) program asuransi sosial, yaitu
Asuransi Kecelakaan Penumpang Alat Angkutan Umum yang dilaksanakan berdasarkan
Undang-Undang No. 33 Tahun 1964 tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan
Penumpang serta Asuransi Tanggung Jawab Menurut Hukum Terhadap Pihak Ketiga yang
dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang No. 34 Tahun 1964 tentang Dana Kecelakaan
Lalu Lintas Jalan.

UU No 33 Tahun 1964 Jo PP No 17 Tahun 1965 tentang Dana Pertanggungan Wajib


Kecelakaan Penumpang Umum menjelaskan korban yang berhak atas santunan adalah setiap
penumpang sah dari alat angkutan penumpang umum yang mengalami kecelakaan diri, yang
diakibatkan oleh penggunaan alat angkutan umum, selama penumpang yang bersangkutan
berada dalam angkutan tersebut, yaitu saat naik dari tempat pemberangkatan sampai turun di
tempat tujuan. Bagi penumpang kendaraan bermotor umum (bus) yang berada di dalam
tenggelamnya kapal ferry, maka kepada penumpang bus yang menjadi korban diberikan
santunan ganda. Sedangkan bagi korban yang jasadnya tidak diketemukan dan/atau hilang,
penyelesaian santunan didasarkan kepada Putusan Pengadilan Negeri.

www.jasaraharja.co.id/ di unduh tanggal 16 September 2016


www.jasaraharja.co.id/ di unduh tanggal 16 September 2016
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Tiket penumpang adalah tanda bukti bahwa seseorang telah membayar uang angkutan
dan akibatnya berhak naik pesawat udara sebagai penumpang. Tiket penumpang juga
menjadi tanda bukti telah ditutupnya perjanjian angkutan udara antara pengangkut dan
penumpang. Jadi penumpang adalah salah satu pihak dalam perjanjian pengangkutan
darat, sedangkan pihak lawannya adalah pengangkut darat. Tiket penumpang merupakan
syarat dalam perjanjian pengangkutan darat, tetapi bukan merupakan syarat mutlak sebab
tidak adanya tiket penumpang tidak berarti tidak adanya perjanjian pengangkutan.
Subjek hukum pengangkutan adalah pendukung hak dan kewajiban dalam hubungan
hukum pengangkutan, yaitu pihak-pihak yang terlibat secara langsung dalam proses
perjanjian sebagai pihak dalam perjanjian pengangkutan.
Pihak-pihak yang yang terlibat di dalam perjanjian pengangkutan antara lain:
a. Pihak pengangkut;
b. Pihak Penumpang;
c. Pihak Pengirim.
Tanggung jawab para pihak pada hakikatnya terdiri dari dua aspek, yaitu tanggung jawab
yang bersifat kewajiban yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya (responsibility) dan
tanggung jawab ganti rugi (liability). Selama pelaksanaan pengangkutan, keselamatan
penumpang atau barang yang diangkut pada dasarnya berada dalam tanggung jawab
perusahaan pengangkutan umum. Oleh karena itu, sudah sepatutnya apabila kepada
perusahaan pengangkutan umum dibebankan tanggung jawab terhadap setiap kerugian
yang diderita oleh penumpang atau pengirim, yang timbul karena pengangkutan yang
dilakukannya (Pasal 234 UU No. 22 Tahun 2009). Kerugian yang diderita oleh
penumpang akibat kelalaian berupa kecelakaan, yang dapat mengakibatkan :
a. Bila penumpang mati; atau
b. Penumpang mendapat cacat tetap akibat dari kecelakaan penumpang;
c. Penumpang mendapat luka-luka.

2. Seperti dikatakan di atas, bahwa dengan melakukan kewajibannya yakni membayar uang
atau tiket kepada pengangkut maka dengan sendirinya penumpang tersebut dengan
sendirinya telah mendapat perlindungan atas keselamatannya yang dijamin oleh hukum.

24
25

Bila seorang penumpang mengajukan tuntutan ganti rugi karena luka atau lain-lainnya
kepada pengangkut, cukuplah bila dia mendalilkan bahwa dia menderita luka disebabkan
pengangkutan itu. Jika tuntutan itu dibantah oleh pengangkut, maka pengangkut harus
membuktikan bahwa kelalaian atau kesalahan tidak ada padanya. Bila pembuktian
pengangkut ini berhasil, maka giliran penumpang yang harus membuktikan adanya
kelalaian atau kesalahan pada pengangkut.
Ketentuan bahwa pengangkut wajib secara pantas dan cukup berikhtiar untuk mencegah
kecelakaan ini sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam pasal 1602-w, ayat (1)
KUHPER yang berbunyi Majikan diwajibkan untuk mengatur dan memelihara ruangan-
ruangan, alat-alat atau perkakas-perkakas, dalam mana atau dengan mana ia menyeluruh
melakukan pekerjaannya, begitu pula mengenai hal melakukan pekerjaan, majikan wajib
mengadakan aturan-aturan dan memberikan petunjuk-petunjuk sedemikian rupa, sehingga
si buruh terlindung terhadap bahaya-bahaya uang mengancam jiwa, kehormatan dan harta
bendanya, begitu jauh bagaimana dapat dituntut sepantasnya berhubung dengan sifat
pekerjaan yang dihadapinya.
Kehadiran PT Jasa Raharja (Persero) sebagai Asuransinya Masyarakat Indonesia,
memberikan perlindungan kepada masyarakat melalui 2(dua) program asuransi sosial,
yaitu Asuransi Kecelakaan Penumpang Alat Angkutan Umum yang dilaksanakan
berdasarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 1964 tentang Dana Pertanggungan Wajib
Kecelakaan Penumpang serta Asuransi Tanggung Jawab Menurut Hukum Terhadap
Pihak Ketiga yang dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang No. 34 Tahun 1964 tentang
Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

B. Saran
Sebaiknya penumpang atau ahli waris penumpang tidak usah takut lagi kalau
menuntut ganti rugi atas kecelakaan yang terjadi di dalam atau diakibatkan angkutan umum.
Karena hal tersebut merupakan hak mereka dan upaya yang dilakukan seperti yang telah
diuraikan di atas cukup mudah serta mempunyai dasar hukum yang kuat. Apabila laporan
atau tuntutan ganti rugi tidak digubris oleh penyelenggara jasa angkutan, atau pihak asuransi
pertanggungan kecelakaan akibat angkutan umum, khususnya pihak asuransi Jasa Raharja
sebaiknya pihak keluarga atau ahli waris dapat melaporkan hal tersebut kepada komisi
Odbudsman Republik Indonesia ataupun instansi terkait untuk hal itu.
DAFTAR PUSTAKA

Basri, Hasnil. 2002. Hukum Pengangkutan. Medan: Kelompok Studi Hukum Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.

Kansil, C. S. T. 2006. Modul Hukum Perdata Termasuk Asas-Asas Hukum Perdata. Jakarta: PT.
Pradnya Paramita.

Muhammad, Abdulkadir. 1998. Hukum Pengangkutan Niaga. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Purba, Hasim. 2005. Hukum Pengangkutan di Laut. Medan: Pusaka Bangsa.

Purwosutjipto, H. M. N. 2008. Pengantar Pokok Hukum Dagang Indonesia 3: Hukum


Pengangkutan. Jakarta: Djambatan.

Hukum-Transportasi, https://id.scribd.com/doc/301973258/2- diunduh tanggal 23 September 2016


Pukul 13.35 WIB.
pengertian-manfaat-dan-jenis-asuransi.html, http://ananlisa.blogspot.co.id/2012/11/ diunduh
tanggal 23 September 2016 Pkl. 07.50 WIB.
www.jasaraharja.co.id/ di unduh tanggal 16 September 2016.

26