Anda di halaman 1dari 13

MANAJEMEN DAN KESEHATANSAPI BALI

DEMODEKOSIS DAN SCABIOSIS

Oleh :

Putu Adrian Junaedi 1409005014


Ni Luh Made Siska Yanti 1409005017
Veronica Vriscilla Yoseph 1409005020
Ni Kadek Muliani 1409005029
Ida Bagus Putu Semaraputra 1409005073

Kelas B

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
2016

1
1.1 Demodekosis Pada Sapi
Demodekosis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau
Demodex sp. Tungau ini termasuk tipe tungau pembuat terowongan dalam kulit
induk semangnya. Tungau ini menyerang semua mamalia termasuk manusia.
Tungau Demodex hidup dalam folikel rambut dan kelenjar sebasea. Spesies
tungau demodex yang telah dilaporkan antara lain Demodex (D.) canis pada
anjing, D.bovis (sapi), D. phyllodes (babi), dan D. folliculorum pada manusia,
D.equi (kuda), D. musculi (tikus), D. caviae (guinea pig). Tungau demodex sp
merupakan flora normal pada kulit, peningkatan populasi tungau ini secara
berlebihan mengakibatkan kerusakan jaringan kulit (I Nyoman Suartha et all
2014)

1.2 Etiologi Demodekosis Pada Sapi Bali


Spesies demodeks yang menyebabkan demodekosis pada sapi bali adalah
demodex bovis dan demodex folliculorum yang hidup dalam folikel rambut dan
kelenjar sebasean. Demodex memiliki 4 pasang kaki pada tungau dewasa dan 3
pasang kaki pada fase larva.( I Wayan Batan et all 2001). Demodex akan
berkembangdengan cepat apabila kondisi tubuh sapi bukang baik.

1.3 Siklus Hidup Demodekosis pada sapi


Siklus hidup demodek dari telur-larva-protonimpa-nimfa-dewasa
berlangsung dalam jangka 18-24 hari. Sedangkan untuk perubahan dari telur
hingga dewasa diperkirakan memerlukan waktu 10-14 hari. Tungau demodex
memiliki daya tahan hidup sangat besar. Bahkan di luar tubuh hospes tungau ini
dappat bertahan hingga berhari-hari jika di dukung dengan kondisi udara dan

2
lingkungan yang lembap. Beberapa sapi yang sehat sering tidak menimbulakan
gejala walaupun telah mengalami infeksi oleh demodex. Hal ini berhibungan
dengan sistem imunitas dari sapi . Namun penularan sangat berbahaya jika pada
sapi yang telah beranak. Anak sapi ( pedet )dapat tertular demodekosis pada
saat menyusui pada induknya.

1.4 Gejala Klinis demodekosis Pada Sapi

Bentuk lesi demodekosis adalah lesi keropeng, noduler, dan plaque sebesar
uang logam (dollar plaque).
Pada sapi bali penderita demodekosis juga menunjukkan adanya kegatalan
pada area lesi. Kegatalan pada sapi demodekosis dapat dilihat dari tingkah
laku sapi yang sering mengibas-ibaskan ekor, menggosokan kepala,
menjilati area yang mengalami gangguan, dan menggosok-gosokkan
badannya ke tiang kandang.
Kerontokan rambut merupakan gejala awal demodekosis sapi .
lesi papula folikuler dan nodul, biasanya banyakditemukan di daerah bagian
atas leher,punggung, dan panggul.
Ukuran nodular bervariasi mulai dari yang kecil sampai berukuran 2 cm.
ukuran nodul bahkan kadang-kadang lebih besar dari 3 cm. Jika nodul yang
baru terbentuk dibelah menggunakan pisau bedah (scalpel) akan muncul
nanah/pus kental dan apabila diperiksa di bawah mikroskup akan ditemukan

3
tungau D. bovis. Namun, pada lesi yang terbentuk lebih lama hanya berisi
jaringan parut (scars) tanpa tungau
Infeksi tungau yang tinggi baru menimbulkan gejala klinis yang nyata
berupa lesi yang bervariasi, dari yang paling sederhana berupa
kerak/keropeng pada kulit, hingga papula yang kecil dan besar atau nodul-
nodul yang dapat diperparah dengan adanya infeksi sekunder oleh bakteri
Sthapyllococcus sp ,sehingga membentuk pustula bernanah.
Adapun persentase distribusin dari lesi yang disebabakan oleh demodex
adalah sebagai berikut: leher 36,84%, punggung 34,21%, leher sampai
punggung 23,68%,leher sampai abdomen 2,63%, kepala sampai punggung
2,63% .

4
Keterangan Gambar:
1. lesi berupa nodular pada leher
2. lesi nodular yang berukuran kecil mulai dari leher sampai punggung.
3. lesi nodular yang pecah membentuk keropeng.
4. lesi berupa dollar plaque

1.5 Diagnosa demodekosis Pada Sapi

Diagnosa berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium untuk


mengidentifikasi adanya tungau demodex sp.Langkah diagnosis yang dapat
dilakukan adalah dengan deep skin scaping atau pengerokan kulit hingga
berdarah. Scraping dilakukan dengan memegang dan menggosok daerah terinfeksi
untuk mengeluarkan tungau dari folikel dengan menggunakan scalpel. Scraping
dilakukan pada beberapa tempat. Setelah hasil scraping didapatkan,hasil tersebut
kemudian diperiksa di bawah microskop. Pemeriksaan histopatologi melalui
biopsi kulit. Melalui biopsi dapat diketahui tingkatan perifolikulitis, folikulitis dan
furunkulitis. Folikel rambut yang menderita akan dipenuhi oleh tungau demodex.
Pada beberapa hewan pada kulitnya ditemukan nodul-nodul atau pustula yang
menonjol. Jika nodul-nodul atau pustula tersebut dipecahkan maka didalamnya
akan terdapat tungau-tungau demodec yang bersarang.

Kerokan dilakukan pada bagian yang mengalami kerontokan, dibantu


dengan larutan basa keras (KOH 10%) yang nantinya akan dilihat di bawah
mikroskop.

1.6 Pencegahan Demodekosis Pada Sapi

Tindakan pencegahan pengendalian demodex dapat dilakukan dengan


menghindari terjadinya kontak antara hewan sehat dengan hewan sakit,serta
menjaga kebersihan kandang dan lingkungan.. Hal lain yang dapat dilakukan
adalah hewan yang mengalami demodecosis general sebaiknya tidak digunakan
untuk breeding karena cenderung memiliki predisposisi genetik dengan

5
sensitivitas terhadap demodex yang sama terhadap turunannya. manajemen stress
pada pada sapi juga berperan penting terhadap perkembangan demodecosis dan
berikut beberapa tips untuk mengurangi faktor stress pada sapi tersebut,
diantaranya :

1. Pemberian pakan yang berkualitas baik untuk mengurangi gangguan penyakit


yang disebabkan oleh ketidaksembangan faktor nutrisi.
2. Menjaga kulit hewan bebas dari parasit, untuk mengurangi tingkat stress karena
iritan maupun kerusakan kulit yang dipelopori oleh kutu, caplak, maupun
jamur.

3. Vaksinasi rutin untuk mengurangi peluang terkena penyakit menular yang dapat
mempengaruhi sistem kekebalan tubuh hewan.

1.7 Pengobatan Demodekosis Pada Sapi

Ivermectin ,dipping akarisida: triclorofon 2% selam 3 hari

Doramectin : dilakukan dengan menyuntikan obat secara intramuscular di daerah


leher pada musculus brahiocepalicus dengan dosis 200g/kg bb.

Daftar Pustaka

Anonim 1981. Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Jilid 1-5. Direktorat
Kesehatan Hewan. Direktorat Jendral Peternakan. Departemen Pertanian.
Jakarta.

Anonim 1999. Manual Standart diagnostic Penyakit Hewan. Direktorat Jendral


Peternakan Dan Japan Internasional cooperation Agency (JICA).

Fadilah,Debby.2007. Pengenalan Demodekosis Pada Anjing.http://ilmuveteriner.com/


pengenalan-demodekosis-pada-anjing/

6
I Nyoman Suartha, Reny Septyawati, I Ketut Gunata.2014. Bentuk dan Sebaran Lesi
Demodekosis pada Sapi Bali. Laboratorium Penyakit Dalam Hewan Besar
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana,Jln Sudirman, Denpasar,
Bali

I Wayan Batan,Ni Wayan Sri Wiyanti,Putu Wirat.2001.Pola Penyebaran Lesi


Demodekosis Sapi Bali dan Efektivitas Pengobatan Doramektin.Laboratorium
Diagnosa Klinik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana,
Jl Goris Denpasar 80 232

2.1 Scabiosis Pada Sapi Bali


Penyakit Scabies sering juga disebut penyakit Kudis atau bulug atau
budug pada sapi. Scabies juga merupakan penyakit zoonoisis dan dapat menular
pada manusia. biasanya disebabkan oleh alat dan kandang yang kotor. Kotoran
tersebut biasanya mengandung tungau sarcoptes scabei. Ternak yang sehat biasanya
tertular jika sudah terjadi kontak lansung dengan ternak atau sapi yang terkena
scabies. biasanya hewan yang terserang skabies terkesan seperti hewan yang gatal-
gatal.

7
2.2 Etiologi Scabiosis Pada Sapi Bali
Penyakit scabies disebabkan oleh berbagai jenis tangau atau kudis.
Tungau merupakan arthropoda yang masuk dalam kelas Arachnida, sub kelas
Acarina, ordo astigmata, dan family Sarcoptidae. Contoh tungau (acariformis)
astigmata adalah Sarcoptes scabai, Psoroptes ovis, Notoedres cati, Chorioptes sp,
dan Otodectes synotys, Notoedres sp, dan Chonoples sp, umumnya menyerang
kambing, domba, namun terkadang dapat pula menyeragn kerbau,sapi dan kuda.
Sementara Notoedres sp, umumnya menyerang kelinci dan terkadang kucing.

Diantara jenis tungau tersebut, S.scabiei diketahui paling pathogen dan


memiliki cakupan inang luas, Tungau S.scabiei berwarna putih krem dan berbentuk
oval yang cembung pada bagian dorsal dan pipih bagian ventral. Permukaan
tubuhnya bersisik dan dilengkapi dengan kutikula serta banyak dijumpai garis
parallel transfersal. Stadium larva mempunyai 3 pasang kaki, sedangkan stadium
dewasa dan nimpa memiliki 4 pasang kaki yang pendek dan pipih.

Betina berukuran antara (300-600)X(250-400), sedangkan jantan


berukuran antara (200-400)x(150-200). Terdapat beberapa varietas S.scabiei
terhadap inangnya, yaitu S.scabiei var humani pada manusia, S.scabiei var canis
pada anjing, S.scabeie var suis pada babi, S.scabiei var ovis pada domba, S.scabiei
var caprae pada kambing, S.scabiei var equi pada kuda, S.scabiei var bovis pada
sapi. Sarcoptes scabiei bersifat parasite obligat yang artinya mutlak membutuhkan

8
inang untuk bertahan hidup. Perlu diperhatikan scabies pada kambing dan domba
dapat disebabkan juga oleh tungau lain, yaitu Psoroptes ovis.

S.scabiei

2.3 Siklus Hidup Scabiosis Pada Sapi Bali


Infestasi diawali dengan tungau betina atau nimfa stadium kedua yang
aktif membuat liang di epidermis atau lapisan tanduk. Di liang tersebut, sarcoptes
meletakan telurnya. Telurnya tersebut akan menetas dalam 3-4 hari, lalu menjadi
larva berkaki 6. Dalam kurun waktu 1-2 hari larva akan berkembang menjadi nimfa
stadium I dan II yang berkaki 8. Kemudian tungau akan berkembang menjadi
dewasa dan mampu berkembang biak dalam 2-4hari.

9
Siklus hidup S.scabiei

2.4 Gejala Klinis Scabiosis Pada Sapi Bali


Masa inkubasi bervariasi antara 10-42 hari. Pada awal infestasi, kulit
mengalami eritherma, kemudian akan berlanjut dengan terbentuknya papula,
vesikula dan akhirnya peradangan yang diikuti oleh pembentukan eksudat karena
adanya iritasi. Hewan penderita tampak gelisah karena rasa gatal, menggaruk,
mengesekan tubuhnya sehingga terjadi luka dan perdarahan. Eksudat mengendap
pada permukaan kulit dan terbentuk keropeng atau kerak.

Proses selanutnya, akan terjadi keratinasi dan poliferasi yang berlebihan


dari jaringan ikat sehingga menyebabkan penebalan kulit dan pengkeriputan.
Perubahan ini akan mengakibatkan kerokan bulu yang ada pada seluruh permukaan
tubuh. Nafsu makan pada penderita terganggu sehingga menjadi kekurusan dan
akhirnya mati karena kekurangan gizi ( malnufisi ). Apabila pengobatan tidak
dilakukan secara tuntas, maka sering terjadi infeksi sekunder akibat bakteri atau
jamur sehingga timbul abses dan bau busuk. Pada hewan muda, angka kematian
dapat mencapai lebih dari 50% bila diikuti infeksi sekunder.

Perjalanan penyakit terbagi dalam 3 fase, Fase peratama terjadi 1-2 hari
setelah infestasi. Saat ini tungau mulai menembus lapisan epidermis sehingga pada
permukaan kulit terdapat banyak lubang kecil. Pada fase kedua, tungau telah berada
dibawah lapisan keratin, permukaan kulit telah ditutup oleh kerak/keropeng yang

10
tebal dan kerontokan bulu. Fase ketiga ini terjadi 7-8 minggu setelah infestasi.
Adapun pada fase ketiga yang terjadi 7-8 minggu setelah infestasi, kerak mulai
mengelupas sehingga pada permukaan kulit kembali terlihat lubang kecil, dan pada
saat itu beberapa tungau meninggalkan bekas lubang tersebut.

Bentuk lesi scabies sama pada berbagai jenis hewan, namun lokasi lesi
bervariasi. Pada sapi lesi banyak dijumpai pada kulit di daerah leher, punggung dan
pangkal ekor. Penderita scabies yang kronis lesi dijumpai pada kulit di daerah
abdomen dan ambing.

2.5. Diagnose Scabiosis Pada Sapi Bali


Diagnosa dapat ditetapkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan
kerokan kulit. Kerokan kulit diambil pada bagian sekitar lesi, dan kulit dikerok
sehingga berdarah. Hasil kerokan diletakan pada kaca objek dan ditetesi KOH 10%,
kemudian ditutup dengan kaca penutup. Setelah 15 menit, dapat diamati di
mikroskop.

Tes tinta pada terowongan di dalam kerokan kulit dilakukan dengan


cara menggosok papula menggunakan ujung pena yang berisi tinta. Papula yang
telah tertutup dengan tinta didiamkan selama 20-30 menit, kemudian tinta
diusap/hapus dengan kapas yang dibasahi alkohol. Tes finyatakan positif bila tinta
masuk ke dalamterowongan dan membentuk gambaran khas berupa garis zig zag.
Visualisasi terowongan yang dibuat tungau juga dapat dilihat menggunakan
mmineral oil atau fluorescence tetracycline test.

Kedua metode diagnosis diatas memiliki kekurangan khususnya pada


kasus yang baru terinfeksi S.scabiei. Tungau akan sukit untuk diisolasi dari kerokan
kulit dan gejala klinis yang ditunjukan mempunyai persamaan dengan penyakit
kulit lainnya. Oleh karena itu, para ahli mengembangkan teknik diagnosis
berdasarkan produksi antibody.

11
2.6 Pencegahan Scabiosis Pada Sapi Bali
Jaga kebersihan kandang dan lingkungannya, awasi dengan cermat
ternak yang masuk kedalam peternakan, dan populasi ternak agar disesuaikan
dengan luas lahan/kandang yang tersedia, sehingga tidak terlalu padat.

2.7 Pengobatan Scabiosis Pada Sapi Bali


Penderita scabies dapat diobati secara langsung dengan
( perendamaan/dipping, disikat/brushing, penyemprotan/spraying ), oral dan
parenteral. Pengobatan sebaiknya diulang sampai 2-3 kali dengan interval 1-2
minggu, untuk memutuskan siklus hidup tungau.

Obat yang digunakan secara langsung pada kulit : larutan coumaphos


0,1%, benzene chloride ( 1 larutan yang berisi serbuk BHC dengan kadar 0,625%),
emulasi benzyk benzoate 25%, kombinasi benzyl berzoate dan HBC, phosmet 20%,
odylen 20% (dimenthyl-diphenylene disulphidae), lindane 20%, amitraz 0,1%,
malathion, phoxim.

Obat yang bersifat sistemik dan cukup ampuh adalah ivermectin,


diberikan secara subkutan dengan dosis 200mg/kgbb. Secara oral ivermectin tablet
diberikan dengan dosis 100-200 mg/kg/bb setiap hari selama 7 hari.

12
DAFTAR PUSTAKA
Wardhana AH, Manurung J dan T Iskandar. 2006. Skabies: Tantangan Penyakit
Zoonosis Masa Kini dan Masa Datang. Wartazoa 16 (1) : 40-52

Pudjiatmoko, dkk. 2006. Manual Penyakit Hewan Mamalia. Tani Jaya (2) : 431-439

13

Anda mungkin juga menyukai