Anda di halaman 1dari 2

ETIOLOGI

Penyebab hyperplasia prostat masih belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa hipotesa menyebutkan
bahwa hyperplasia prostat berkaitan teori dihidrotestosteron, adanya ketidakseimbangan antara
estrogen dan testosterone, interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat, serta berkurangnya
kematian sel (apoptosis) dan teori stem sel.

a. Teori dihidrotestosteron
Dihidritestosteron atau DHT merupakan metabolit androgen yang penting bagi pertumbuhan sel-
sel kelenjar prostat. DHT ini dibentuk dari testosterone di dalam sel prostat oleh enzim 5-reduktase
dengan bantuan koenzim NADPH. DHT yang telah terbentuk tersebut kemudian berikatan dengan
reseptor androgen (RA) dan membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel, lalu selanjutnya akan terjadi
sintesis protein growth faktor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat.
Kadar DHT pada BPHtidak jauh berbeda dengan kadar prostat yang normal, tetapi pada BPH
aktivitas enzim 5-reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH sehingga
menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitive terhadap DHT., oleh karena itu terjadi replikasi
sel lebih banyak dibandingkan dengan prostat normal.
b. Ketidakseimbangan antara estrogen dan testosterone
Pada usia yang semakin tua, kadar testosterone menurun, sedangkan kadar estrogen relative
tetap sehinga perbandingan antara estrogen : testosterone relatif meningkat. Estrogen di dalam
prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan
sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormone androgen, meningkatkan jumlah reseptor
androgen dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat. Walaupun rangsangan terbentuknya sel-
sel baru akibat rangsangan testosterone menurun, tetapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai
umur yang lebih panjang sehingga masaa prostat menjadi lebih besar.
c. Interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat
Pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui seuatu
mediator (growth factor) tertentu. Setelah sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol,
kemudian sel-sel stroma mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel
stroma itu sendiri secara intrakrin dan atuokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel secara parakrin.
Stimulasi itulah yang menyebabkan terjadinya proloferasi sel-sel epitel maupun sel stroma.
d. Berkurangnya kematian sel prostat
Pada jaringan normal, terdapat kesimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel. Pada
saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat
baru dengan yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang mengalami
apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga
menyebabkan pertambahan masa prostat.
Diduga hormone androgen dapat menghambat proses kematian sel karena setelah dilakukan
kastrasi, terjadi peningkatan aktivitas kematian sel kelenjar prostat. Estrogen juga diduga mampu
memperpanjang usia sel-sel prostat, sedangkan faktor pertumbuhan TGF berperan dalam proses
apoptosis.
e. Teori stem sel
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk sel-sel baru. Di dalam
kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel yang mempunyai kemampuan untuk berproliferasi
sangat ekstensif. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada keberadaan hormone androgen, sehingga
jika hormone ini kadarnya menurun seperti yang terjadi pada kastrasi, menyebabkan terjadinya
apoptosis. Terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatan aktivitas sel
stem sehingga terjadi produksi sel stroma maupun sel epitel secara berlebihan.