Anda di halaman 1dari 6

Nama : Agustina Adhi Suryani

NIM : 4401412055
BK Rombel : 46

ANALISIS JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING

Disiplin Siswa di Sekolah dan Implikasinya


dalam Pelayanan Bimbingan dan Konseling

Fani Julia Fiana, Daharnis , Mursyid Ridha

RESUME
Pendahuluan
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran aturan yang berlaku di sekolah
berupa penerapan disiplin siswa yaitu disiplin dalam berpakaian, kehadiran,
pengaturan waktu untuk belajar dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Salah satu upaya agar dilaksanakan oleh siswa adalah dengan pemberian
pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Fungsi layanan bimbingan
dan konsleing adalah fungsi pemeliharaan dan pengembangan. Dengan
pemberian layanan ini diharapkan siswa dapat mematuhi peraturan atau siswa
dapat berperilaku disiplin di sekolah.
Kedisiplinan penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tapi
sering menjadi masalah di sekolah karena hampir setiap hari ada saja siswa
yang melanggar disiplin. Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi sudah
dianggap barang biasa dan untuk memperbaiki keadaan yang demikian tidaklah
mudah. Hal ini diperlukan kerja keras dari berbagai pihak untuk mengubahnya
salah satunya adalah penerapan disiplin yang dilakukan oleh guru terhadap siswa,
sehingga berbagai jenis pelanggaran terhadap tata tertib sekolah dapat dicegah dan
ditangkal.
Hasil observasi terhadap para siswa di SMA Pembangunan Laboratorium
Universitas Negeri Padang yang dilaksanakan pada tanggal 27 Maret 2012 tentang
keadaan disiplin siswa di sekolah terlihat bahwa terdapat para siswa yang masih
melanggar disiplin di sekolah seperti: siswa sering datang terlambat kesekolah,
siswa sering duduk di kantin diluar lingkungan sekolah pada jam pelajaran dan
terdapatnya para siswa yang merokok di dalam kantin di luar sekolah di saat jam
istirahat berlangsung. Selanjutnya panulis melakukan wawancara terhadap lima
orang siswa SMA Pembangunan Laboratorium Universitas Negeri Padang, yang
mana tiga orang siswa menyatakan mereka merasa penerapan disiplin di sekolah
belum begitu dapat membuat mereka untuk lebih disiplin dan mematuhi aturan-
aturan yang berlaku disekolah, hal ini mereka rasa dikarenakan mereka sendiri
belum mau untuk mematuhi aturan yang berlaku di sekolah.
Hasil wawancara di lakukan terhadap para guru BK (FD) yang ada di
sekolah tersebut terungkap bahwa penerapan disiplin dan penginformasian
tentang aturan dan tata tertib yang ada di sekolah telah diberikan kepada
para peserta didik, namun masih terdapat peserta didik yang masih
melanggar aturan dan tata tertib di sekolah. Seorang guru BK pernah bertanya
kepada para siswa ananda, mengapa kamu berpakaian seperti itu, siswa tersebut
menjawab ibuk tidak gaul, dan tidak mengerti perkembangan model ya,
begitulah siswa tersebut menjawab pertanyaan dari guru.
Dari kutipan percakapan di atas, timbullah pertanyaan dari penulis apa siswa
tersebut memahami apa maksud dan fungsi dari peraturan yang telah disepakati
bersama disaat mereka memasuki lingkungan sekolah.
Berdasarkan permasalahan yang telah ditekemukakan maka fokus dalam
penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan pelaksanaan disiplin siswa di SMA
Pembangunan Laboratorium Universitas Negeri Padang, 2) Implikasinya dalam
pelayanan bimbingan dan konseling mengatasi pelanggaran disiplin di sekolah.

Hasil
Disiplin dalam kelakuan
Berdasarkan data yang disajikan menunjukkan bahwa pelaksanaan disiplin
siswa dalam aspek kelakuan adalah 75,4%. Hal ini berarti siswa sudah
melaksanakan disiplin sekolah dalam aspek kelakuan itu pada kategori cukup
baik. Namun bagi siswa yang belum melaksanakan disiplin dalam kelakuan
menyatakan bahwa peraturan sekolah dalam kegiatan belajar selama ini
terlalu mengekang, tidak ada manfaatnya, merepotkan siswa dan
menghambat ekspresi siswa. Dilihat dari fenomena di sekolah yaitu masih ada
siswa yang sering keluar masuk kelas ketika guru sedang menerangkan pelajaran,
siswa terlambat menyerahkan tugas yang diberikan guru, cabut dalam belajar dan
memakan makanan ringan di kelas, serta tindakan lainnya.
Sikap siswa seperti ini yang menjadikan disiplin di sekolah tidak berjalan
dengan maksimal. Disiplin siswa di sekolah dapat berjalan dengan maksimal
apabila semua pendidik mengambil bagian di dalam menjaganya, sesuai dengan
fungsi yang ditentukan.

Faktor-faktor yang mendukung disiplin


(a) Dukungan dari Diri Sendiri.
Pelaksanaan disiplin ini seperti mengikuti proses pembelajaran dengan baik,
dan menjalani aturan-aturan di sekolah dengan baik tanpa menjadikannya
suatu beban. Dengan adanya kesadaran diri siswa untuk melaksanakan
disiplin membuat siswa belajar bertanggung jawab, dan menumbuhkan rasa
kebersamaan.
(b) Dukungan dari Teman Sebaya
Pelaksanan disiplin siswa di sekolah sudah baik karena siswa tidak
dipengaruhi oleh ajakan cabut oleh teman pada saat jam belajar berlangsung,
tidak takut diolok teman-teman lain apabila mentaati peraturan, tidak takut
dikucilkan oleh teman-teman apabila mematuhi aturan di sekolah. Hal ini
dapat berjalan dengan baik karena siswa dapat menyesuaikan diri dengan baik
dengan lingkungannya sehingga mampu menolak pengaruh-pengaruh negatif
dari teman sebaya. Proses hubungan interaksi sosial yang terjadi tersebut
mempengaruhi, mengubah, dan meperbaiki kelakuan individu yang lain.
Pengaruh teman sebaya dapat menjadi positif jika siswa dapat menyesuaikan
diri dengan baik dan menolak pengaruh buruk yang datang padanya.
(c) Dukungan dari Lingkungan
Pelaksanaan disiplin siswa di sekolah cukup baik baik karena siswa tidak
terpengaruh dengan situasi lingkungan belajar yang tidak kondusif siswa tetap
mengikuti proses pembelajaran di sekolah, tidak terlambat datang kesekolah
meskipun jarak rumah yang cukup jauh. Hal ini dikarenakan siswa memiliki
kesadaran untuk mematuhi peraturan dalam kegiatan belajar tanpa adanya
paksaan dari pihak lain. Siswa yang terbiasa belajar teratur baik dirumah
maupun disekolah maka akan terlatih terus untuk belajar mandiri, tertib dan
bertanggung jawab dalam kegiatan belajarnya.

Implikasinya dalam Pelayanan BK untuk Penanganan Disiplin Siswa


Layanan yang dapat dilaksanakan dalam penanganan disiplin siswa
diantaranya adalah: 1) Layanan Orientasi, 2) Layanan Informasi, 3)
Layanan Konseling Individual, 4) Layanan Bimbingan Kelompok, 5)
Layanan Konseling Kelompok
ANALISIS DAN REFLEKSI

Ditinjau dari isi atau kontennya, sudah sesuai dengan teori yang saya
pelajari. Hanya saja, pelayanan BK yang diberikan seharusnya tidak hanya
meliputi fungsi pemeliharaan dan pengembangan saja tetapi juga memerlukan
fungsi pemahaman, pencegahan, dan pengentasan. Karena layanan yang diberikan
meliputi layanan orientasi, layanan informasi, layanan konseling perorangan,
layanan bimbingan kelompok, dan layanan konseling kelompok, dimana layanan
tersebut juga menerapkan fungsi pemahaman, pencegahan, dan pengentasan.

Sedangkan apabila ditinjau dari kesesuaian judul dengan isi masih kurang.
Sebagian besar isi jurnal membahas tentang kedisiplinan siswa di sekolah,
sedangkan pembahasan mengenai implikasinya terhadap pelayanan BK masih
kurang mendalam.

Menurut saya, layanan BK yang diberikan memang sudah sesuai dengan


masalah yang sedang dihadapi oleh pihak sekolah, yaitu masalah kedisiplinan
siswa dalam berbagai aspek. Inti dari layanan-layanan tersebut yaitu memberikan
gambaran/pandangan, pemahaman, serta membekali siswa tentang berbagai hal
yang berguna bagi siswa untuk menjalani kehidupan di lingkungan sekolah.
Tujuannya agar siswa tidak melakukan hal-hal yang melanggar peraturan yang
telah ditentukan oleh sekolah.

Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa masih sering terjadi


pelanggaran kedisiplinan setiap harinya dan bahkan sudah menjadi hal yang biasa.
Padahal menurut guru BK, penerapan disiplin dan penginformasian tentang aturan
dan tata tertib yang ada di sekolah telah diberikan kepada para peserta didik.
Kenyataan tersebut memberikan sebuah pertanyaan bagi saya, mengapa peristiwa
semacam itu bisa terjadi. Hal tersebut perlu ditinjau kembali apakah guru BK
telah berperan dan memberikan layanan dengan baik atau belum. Serta bagaimana
cara guru BK memberikan informasi mengenai tata tertib sekolah, apakah layanan
dilakukan secara kontinyu atau tidak, karena seharusnya penginformasian dan
penyuluhan kepada siswa yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkelanjutan
akan memberikan dampak yang positif. Memang, dalam memberikan layanan
tidaklah mudah dilakukan, membutuhkan waktu lama dan dukungan dari semua
pihak yang terlibat, tidak hanya guru BK.

Selain itu, mungkin pemberian sanksi bagi para siswa yang hanya berupa
peringatan secara lisan langsung kepada siswa atau peringatan tertulis kepada
pelajar dengan tembusan kepada orang tua/wali, kurang memberikan efek jera
bagi siswa yang melakukan pelanggaran. Apabila orang tua siswa tidak ikut
berperan besar dalam membimbing anaknya, maka peran guru BK di sekolah bisa
jadi sia-sia. Oleh karena itu, selain diperlukan dukungan dari diri sendiri, teman
sebaya, dan lingkungan, diperlukan juga dukungan dari orang tua siswa.

Menurut siswa yang sering melakukan pelanggaran, peraturan sekolah


dalam kegiatan belajar selama ini terlalu mengekang, tidak ada manfaatnya,
merepotkan siswa dan menghambat ekspresi siswa. Dalam hal ini, peran guru
pembimbing dalam penerapan disiplin sekolah justru tidak boleh berfungsi
sebagai pemegang kuasa, jadi tidak boleh menguji, mengadili atau menilai anak
sehingga siswa tidak merasa dikekang atau bahkan tertekan.

Guru BK ataupun guru pembimbing harus mempunyai keterampilan khusus


dan pengalaman yang lebih mendalam mengenai memahami perasaanan
kepribadian siswa, mampu menolong dan melayani semua pihak, menjadi orang
yang dapat dipercaya oleh siswa dengan rahasia-rahasia yang tidak dapat
dikemukakan kepada orang lain. Dengan begitu, kemungkinan pelanggaran yang
dilakukan oleh siswa menjadi berkurang.