Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

MASAILUL FIQHIYAH

Oleh :
M. ZIA ULHAQ
M. IDRIS

STIT DARUSSALIMIN NW PRAYA


2017

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah, dan Inayah-Nya
sehingga kami dapat merampungkan penyusunan makalah Masailul Fiqihiya ini.

Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu tidak lupa kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
merampungkan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat
kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan
lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberi
saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini dapat diambil
manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para pembaca untuk mengangkat
permasalahan lain yang relevan pada makalah-makalah selanjutnya.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ i


DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah .......................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................................................... 3
A. Pengertian Masail Fiqhiyah ..................................................................................................... 3
B. Ruang lingkup Masail Fiqiyah ................................................................................................ 3
C. Tujuan Masail Fiqiyah ............................................................................................................. 7
D. Faktor-Faktor Kemunculan Masailul Fiqhiyah ..................................................................... 8
E. Asas dan Cara Penyelesaian Masailul Fiqhiyah .................................................................... 9
BAB III PENUTUP ............................................................................................................................. 12
A. Simpulan .................................................................................................................................. 12
B. Saran........................................................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Berbagai permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat, baik yang
menyangkut masalah ibadah, aqidah, ekonomi, sosial, pangan, kesehatan, dan sebagainya
seringkali meminta jawaban kepastiannya dari sudut hukum.
Dalam keadaan yang dimikian, maka berkembanglah salah satu disiplin ilmu yang dinamakan
ilmu Masail Al-fiqhiyah.
Berbagai masalah yang dibicarakan dalam ilmu ini biasanya amat menarik, unik dan sekaligus
problematik. Hal demikian yang terjadi, karena untuk menjawab berbagai masalah tersebut
telah pula bermunculan berbagai jawaban yang disebabkan karena latar belakang pendekatan
dan sistem pemecahan yang digunakan berbeda-beda.
Pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, umat Islam dalam menghadapi suatu
persoalan langsung menanyakan pada Rosulullah dan Rosulullah lah yang langsung
memberikan jawaban. Sehingga tidak ada masalah yang terlalu rumit untuk tidak dapat
diselesaikan, karena segala sesuatu yang datang dari rosullah adalah wahyu yang haqq dari
Allah, sehingga tidak dapat diragukan lagi kebenarannyaNamun, semuanya berubah setelah
Rosulullah meninggal dunia dan mengakibatkan terputusnya wahyu, sehingga para sahabat
dalam menyelesaikan masalah-masalah yang memerlukan penjelasan hukumnya
Studi yang menyangkut berbagai masalah Fiqhiyah tersebut berkembang seiring
dengan perkembangan masyarakat sebagai akibat dari kemajuan dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi. Banyak hal yang dulu tidak ada kini bermunculan yang selanjutnya
menuntut jawaban dari segi hukum.
Karena dimikian dekatnya masalah hukum ini dengan kehidupan umat islam,
menyebabkan bidang kajian masalah ini sudah akrab dengan masyarakat. Dibandingkan
dengan bidang studi lainnya seperti Tafsir, Hadits, Ilmu Kalam, dan sebagainya. Fiqihlah yang
paling banyak dikenal dan amat popular di masyarakat Indonesia.
Ajaran agama Islam sangat sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk itu perlu
adanya upaya untuk mengaktualisasikan ajaran agama Islam dalam konteks kekinian dan
kemodernan, agar nilai-nilai Islam secara efektif, yang sejalan dengan perkembangan dan
kemajuan dunia modern. Elastisitas dan fleksibilitas hukum islam yang sering didengungkan
makin dituntut pembuktiannya. Oleh karena itu, kajian fiqih Islam mengenai berbagai

1
persoalan (masail fiqhiyyah) yang dihadapi oleh masyarakat modern merupakan kajian yang
menarik dan aktual.
Dengan masalah yang sebagaimana dialami oleh masyarakat itulah peran Masail
Fiqhiyah untuk menjawab dari permasalahan tersebut. Maka dari itu perlu diketahui
sebelumnya tentang arti dari Masail Fiqhiyah itu sendiri, ruang lingkup yang dikaji dan tujuan
dari adanya disiplin ilmu Masail Fiqiyah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian Masail Fiqhiyah ?
2. Bagaimana ruang lingkup Masail Fiqhiyah ?
3. Bagaimana tujuan Masail Fiqhiyah ?
4. Faktor-faktor penyebab masalah fiqhiyah

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Masail Fiqhiyah


Kata Masail Fiqhiyah ( ) secara etimologi berasal dari bahasa dari bahasa
Arab yang merupakan rangkaian dari dua lafazh, yakni masail dan fiqhiyah. Hubungan dari
kedua lafazh ini dalam nahwu disebut hubungan shifah dan maushuf, atau naat dengan manut.
Lafazh masail ( )adalah bentuk dari jama taksir dari masalah ( )yang bermakna
masalah atau problem. Kata dasarnya adalah saala )(dan bermakna bertanya. Masail
adalah masalah-masalah baru yang muncul akibat pertanyaan-pertanyaan untuk dicari
jawabannya.
Masail fiqhiyah menurut pengertian bahasa adalah permasalahan-permasalahan baru
yang bertalian dengan masalah-masalah atau jenis-jenis hukum (fiqh) dan dicari jawabannya.
Berdasarkan definisi secara kebahasaan di atas, maka secara istilah, masail fiqhiyah adalah
problem-problem hukum islam baru al-waqiiyyah (faktual) dan dipertanyakan oleh umat
jawaban hukumnya karena secara eksplisit permasalah tersebut tidak tertuang di dalam sumber-
sumber hukum Islam. Ia juga berarti persoalan hukum Islam yang selalu dihadapi oleh umat
Islam sehingga mereka beraktivitas dalam sehari-hari selalu bersikap dan berperilaku sesuai
dengan tuntunan Islam.
Jadi masail fiqhiyah merupakan masalah-masalah baru yang muncul setelah turunnya
Al-quran dan hadits dan setelah wafatnya Rasulullah Saw yang belum ada ketentuan hukum
secara pasti, sehingga dalam mencari jawabannya memerlukan kesepakatan para ulama dalam
menentukan hukum yang diambil dari Al-quran, Hadits, Ijma, qiyas.
Masail fiqhiyyah disebut juga masail fiqhiyyah al-haditsah (persoalan hukum Islam
yang baru), atau masail fiqhiyyah al-ashriyyah (persoalan hukum Islam kontemporer).
B. Ruang lingkup Masail Fiqiyah
Hukum Islam terkandung didalamnya sasaran pasti yaitu mewujudkan kemaslahatan.
Tidak ada hal yang sia-sia di dalam syariat melalui Al-Quran dan al-Sunnah kecuali terdapat
kemaslahatan hakiki di dalamnya.
Ruang lingkup pembahasan Masail fiqhiyah meliputi :
1. Hubungan manusia dengan Allah SWT
Ilmu fiqih mengatur tentang ibadah yaitu ibadah mahdzah dan ghairu mahdzah. Ibadah
mahdzah adalah ajaran agama yang mengatur perbuatan-perbuatan manusia yang murni
mencerminkan hubungan manusia itu dengan sang pencipta yaitu Allah SWT. Sedangkan

3
ibadah ghairu mahdzah adalah ajaran agama yang mengatur perbuatan antar manusia itu
sendiri serta manusia dengan lingkungan.
Contoh masail fiqhiyyah yang berhubungan dengan ibadah yaitu hukum fiqh menyikapi
shalat jumat lebih dari satu tempat (taadud al jumat). Pada zaman sekarang dalam
pelaksanaan shalat jumat sering memunculkan beberapa fenomena menarik. Semisal aturan
lokasi pelaksanaan shalat jumat yang menurut sebagian kalangan harus terpusat di satu tempat.
Hal ini terkadang menimbulkan masalah disaat keadaan menuntut sebagian masyarakat
membuat lokasi alternatif. Mungkin anggapan mereka hal itulah yang terbaik dengan alasan
kondisi pemukiman, kapasitas tempat peribadatan dan interaksi sosial di tengah-tengah mereka
adalah faktor-faktor potensial pemicu kejadian semacam itu. Menyikapi perkembangan di atas,
statement mayoritas ulama secara tegas menghukumi wajib melakukan shalat jumat di satu
tempat dalam sebuah balad atau qaryah. Al-Syafii dalam hal ini berpendapat bahwa shalat
jumat jelas tidak diperkenankan lebih dari satu tempat, baik ada hajat atau tidak. Namun
istinbath (penggalian) dari ulama syafiiyyah dalam permasalahan ini akhirnya
memperbolehkan dengan batas hajat tertentu.
Faktor pemicu terjadinya taadud al-jumat di atas sangat luas pemahamannya apabila kita
dalami satu persatu. Hanya saja syariat mempermudah kita dengan memberikan sebuah
standar yang lebih fokus dengan mengembalikan kepada batasan urfi (tradisi mayoritas
masyarakat) yang ditopang rasionalisasi tinggi, yaitu semua faktor yang sudah sampai pada
tingkat kesulitan yang diluar batas kemampuan. Artinya semisal konflik masyarakat dalam satu
daerah sudah sampai menyebabkan antar pihak sulit berkumpul hingga pada taraf hampir
mustahil atau semisal kapasitas tempat shalat yang terbatas dan tidak memungkinkan
menampung seluruh masyarakat di daerah tersebut, disitulah taadud al-jumat diperbolehkan.
2. Hubungan manusia dengan sesama manusia
Sebagai contoh masail fiqhiyyah yang mengatur hubungan manusia dengan sesama
manusia yaitu mendonorkan organ tubuh. Pendapat pertama mengatakan bahwa transplantasi
seperti hukumnya haram. Meskipun pendonoran tersebut untuk keperluan medis bahkan
sekalipun telah sampai dalam kondisi darurat.
Dalil pendapat yang pertama yang Artinya adalah : Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu
membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Kelompok kedua berpendapat bahwa transplantasi hukumnya jaiz (boleh) namun memiliki
syarat-syarat tertentu, diantaranya adalah : adanya kerelaan dari si pendonor, kondisi si
4
pendonor harus sudah baligh dan berakal, organ yang didonorkan bukanlah organ vital yang
menentukan kelangsungan hidup seperti jantung dan paru-paru serta merupakan jalan terakhir
yang memungkinkan untuk mengobati orang yang menderita penyakit tersebut.
Dalil pendapat kedua yang artinya adalah : Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-
binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, Padahal Sesungguhnya
Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang
terpaksa kamu memakannya. dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar
hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.
Dari fatwa Majelis Ulama Indonesia menyatakan bahwa dalam kondisi tidak ada pilihan
lain yang lebih baik, maka pengambilan organ tubuh orang yang sudah meninggal untuk
kepentingan orang yang masih hidup dapat dibenarkan oleh hukum Islam dengan syarat ada
izin dari yang bersangkutan dan izin dari keluarga atau ahli waris.
3. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri
Contoh masail fiqhiyyah yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri yaitu
tentang hukum rebonding. Rebonding adalah meluruskan rambut agar rambut jatuh lebih lurus
dan lebih indah. Prosesnya dua tahap. Pertama, rambut diberi krim tahap pertama untuk
membuka ikatan protein rambut. Kemudian rambut dicatok, yaitu diberi perlakuan seperti
disetrika dengan alat pelurus rambut bersuhu tinggi. Kedua, rambut diberi krim tahap kedua
untuk mempertahankan pelurusan rambut.
Proses rebonding melibatkan proses kimiawi yang mengubah struktur protein dalam
rambut. Proses rebonding menghasilkan perubahan permanen pada rambut yang terkena
aplikasi. Namun rambut baru yang tumbuh dari akar rambut akan tetap mempunyai bentuk
rambut yang asli. Jadi, rebonding bukan pelurusan rambut biasa yang hanya menggunakan
perlakuan fisik, tapi juga menggunakan perlakuan kimiawi yang mengubah struktur protein
dalam rambut secara permanen. Inilah fakta (manath) rebonding.
Rebonding hukumnya haram, karena termasuk dalam proses mengubah ciptaan Allah
(taghyir khalqillah) yang telah diharamkan oleh nash-nash syara. Dalil keharamannya adalah
keumuman firman Allah.

Artinya : Dan aku (syaithan) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu mereka
benar-benar mengubahnya. (QS An-Nisaa` [4] : 119).
Ayat ini menunjukkan haramnya mengubah ciptaan Allah, karena syaitan tidak menyuruh
manusia kecuali kepada perbuatan dosa. Mengubah ciptaan Allah (taghyir khalqillah)
5
didefinisikan sebagai proses mengubah sifat sesuatu sehingga seakan-akan ia menjadi sesuatu
yang lain (tahawwul al-syai` an shifatihi hatta yakuna ka`annahu syaiun akhar), atau dapat
berarti menghilangkan sesuatu itu sendiri (al-izalah).
Dari definisi tersebut, berarti rebonding termasuk dalam mengubah ciptaan Allah (taghyir
khalqillah), karena rebonding telah mengubah struktur protein dalam rambut secara permanen
sehingga mengubah sifat atau bentuk rambut asli menjadi sifat atau bentuk rambut yang lain.
Dengan demikian hukum rebonding adalah haram.
Selain dalil di atas, keharaman rebonding juga didasarkan pada dalil Qiyas. Dalam hadis
Nabi SAW, diriwayatkan oleh Ibnu Masud RA, dia berkata,Allah melaknat wanita yang
mentato dan yang minta ditato, yang mencabut bulu alis dan yang minta dicabutkan bulu
alisnya, serta wanita yang merenggangkan giginya untuk kecantikan, mereka telah mengubah
ciptaan Allah. (HR Bukhari).
Sebagian ulama telah menyimpulkan adanya illat dalam hadis tersebut, sehingga mereka
mengambil kesimpulan umum dengan jalan Qiyas, yaitu mengharamkan segala perbuatan yang
memenuhi dua unsur illat hukum, yaitu mengubah ciptaan Allah dan mencari kecantikan. Abu
Jafar Ath-Thabari berkata dalam hadis terdapat dalil bahwa wanita tidak boleh mengubah
sesuatu dari apa saja yang Allah telah menciptakannya atas sifat pada sesuatu itu dengan
menambah atau mengurangi, untuk mencari kecantikan, baik untuk suami maupun untuk selain
suami. (Imam Syaukani, Nailul Authar, 10/156; Ibnu Hajar, Fathul Bari, 17/41; Tuhfarul
Ahwadzi, 7/91).
Adapun meluruskan atau mengeriting rambut tanpa perlakuan kimiawi yang mengubah
struktur protein rambut secara permanen, yakni hanya menggunakan perlakuan fisik, seperti
menggunakan rol plastik dan yang semisalnya, hukumnya boleh. Sebab tidak termasuk
mengubah ciptaan Allah, tapi termasuk tazayyun (berhias) yang dibolehkan bahkan dianjurkan
syara, dengan syarat tidak boleh ditampakkan kepada yang bukan mahrom.
4. Hubungan manusia dengan alam sekitar
Islam menekankan umatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan berlaku arif
terhadap alam (ecology wisdom). Akan tetapi, doktrin tersebut tidak diindahkan. Perusakan
lingkungan tidak pernah berhenti. Eksplorasi alam tidak terukur dan makin merajalela.
Dampaknya, ekosistem alam menjadi limbung. Ini tentunya sangat mengkhawatirkan. Alam
akam menjadi amcaman yang serius. Fiqh Islam pun tumpul. Fiqh belum mampu menjadi
jembatan yang mengantarkan norma Islam kepada perilaku umat yang sadar lingkungan.
Sampai saat ini, belum ada fiqh yang secara komprehensif dan tematik berbicara tentang
persoalan lingkungan. Fiqh-fiqh klasik yang ditulis oleh para imam mazhab hanya berbicara
6
persoalan ibadah, muamalah, jinayah, munakahat dan lain sebagainya. Sementara, persoalan
lingkungan (ekologi) tidak mendapat tempat yang proporsional dalam khazanah islam klasik.
Karena itulah, merumuskan sebuah fiqh lingkungan (fiqh al-biah) menjadi sebuah kebutuhan
yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Yaitu, sebuah fiqh yang menjelaskan sebuah aturan tentang
perilaku ekologis masyarakat muslim berdasarkan teks syari dengan tujuan mencapai
kemaslahatan dan melestarikan lingkungan.
Di kalangan NU masail fiqhiyyah dibahas dalam forum khusus yang disebut Bahtsul
Masail. Bahtsul masail atau lembaga bahtsul masail diniyah (lembaga masalah-masalah
keagamaan) di lingkungan NU adalah sebuah lembaga yang memberikan fatwa-fatwa hukum
keagamaan kepada umat Islam.
Rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar dalam penetapan hukum adalah :
1. Tidak boleh merusak akidah
2. Tidak boleh mengurangi/menghilangkan martabat manusia
3. Tidak boleh mendahulukan kepentingan peroangan atas kepentingan umum
4. Tidak boleh mengutamakan hal-hal yang masih samar-samar kemanfaatanyya atas hal-hal
yang sudah nyata kemanfaatannya
5. Tidak boleh melanggar ketentuan dasar akhlaq al-karimah (moralitas manusia).

C. Tujuan Masail Fiqiyah


Masa'il fiqhiyah termasuk menghubungkan seuatu hukum dengan hukum lainya yang
belum ada nashnya dan didasari atas kumpulan hasil pemahaman para mujtahid terhadap Al-
qur'an dan hadits.
Dengan lahirnya masail fiqihiyah atau persoalan-persoalan kontemporer, baik yang
sudah terjawab maupun sedang diselesaikan bahkan prediksi munculnya persoalan baru
mendorong kaum muslimin belajar dengan giat mentelaah berbagai metodologi penyelesaian
masalah mulai dari metode ulama klasik sampai metode ulama kontemporer.
Dari penjelasan di atas maka tujuan dari Masa'il fiqhiyah secara umum adalah untuk
menjawab dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan baru yang muncul dalam
masyarakat di kehidupan modern yang sering kali jadi pertanyaan-pertanyaan sehingga
membutuhkan jawaban-jawaban logis tentang kepastian hukum. Sedangkan tujuan khususnya
mempelajari Masail Fiqhiyah bagi kita calon-calon pendidik adalah agar nantinya ketika
mengajar kita sudah siap dan dapat menjawab dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan
serta pertanyaan-pertanyaaan yang mungkin muncul dari peserta didik.
Tujuan lain dari adanya masail fiqhiyah adalah :

7
1. Sebagai sebuah disiplin ilmu, Masail Fiqiyah termasuk bidang studi yang paling banyak
mengandung perdebatan, nuansa dan sekaligus keuntungan. Semua itu akan menjadi
hikmah dan rahmat, manakala disikapi secara adil, obyektif, kritis dan dinamis.
2. Adanya ilmu Masail Fiqiyah ini menunjukkan kepedulian yang kuat dan mendalam dari
kalangan para ahli hukum islam untuk memberikan jawaban terhadap berbagai masalah
yang berkembang.
3. Berbagai jawaban yang mereka berikan itu dapat digunakan sebagai bahan perbandingan
dan menambah memperkaya khazanah inteletual.
4. Ilmu Masail Fiqiyah juga menunjukkan adanya kebebasan berfikir secara tanggung jawab
di kalangan umat islam dan sekaligus toleransi dan kedewasaan sikap dalam menghadapi
berbagai perbedaan pendapat.
5. Dengan keilmuan masail fiqhiyyah diharapkan mampu memahami dengaan baik tentang
problema-problema yang timbul dalam Fiqh Islam, memberikan kemampuan untuk
membahas dan memecahkan masalah-masalah Fiqh yang actual dan memasyarakatkannya
dengan pendekatan yang luas, yang tidak hanya terfokus pada teks-teks fiqih klasik akan
tetapi juga pada pendekatan-pendekatan rasional.

D. Faktor-Faktor Kemunculan Masailul Fiqhiyah

1. Kondisi Geografis
Setiap daerah di belahan dunia ini pasti memiliki kondisi geografis yang berbeda. Ada
yang memiliki udara tropis, subtropics dan sebagainya.
Perbedaan kondisis seperti ini lah yang akan memunculkan masalah yang berbeda-beda
pula, terutama fiqh. Contohnya, pada kondisi daerah yang abnormal, persoalan yang muncul
dari keadaa dan letak geografis itu antara lain:

Hukum bertayamum pada daerah yang kekeringan(tandus) yang kesulitan air.


Hukum atau tehnik pelaksanaan sholat dan puasa pada geografis yang abnormal dalam
hal penentuaan waktu.
Pelaksanaan pernikahan via telfon, internet, transaksi muamalat dan seterusnya pada
kondisi yang tidak memungkinkan untuk bertemu langsung.

2. Struktur dan pola budaya masyarakat

8
Keberadaan suatu kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari masyarakat dan dengan
demikian kehadiran syariat dalam hal ini hukum Islam (fiqh) tidak serta merta menggantikan
posisi kebudayaan yang telah melekat pada masyarakat. Didalam masyarakat yang sangat
kental dengan nilai-nilai budayanya sangat sulit diterapkan nilai-nilai agama terutama sudut
fiqihnya.
Apabila terjadi pembenturan antara keduanya, maka akan timbul persoalan baru yang
kemudian disebut masailul fiqhiyah. Beberapa contoh dalam masalah ini antara lain;

Masalah pembagian harta warisan pada daerah tertentu.


Upacara sesajen untuk keselamatan dan berkah.
Budaya dangdutan yang dipaksakan demi khormatan sampai-sampai menghutang
untuk resepsi pernikahan.
Budaya tukar cincin sebelum khitbah (lamaran) yang telah dianggap telah sah bergaul
bebas.

3. Perkembangan Teknologi
Dewasaini kemajuan ilmu pengetahuan menunjukan prestasi yang cukup signufikan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern selalu aktif menuju sasaran tepat dan
berdampak positif sekaligus negative. Hasil kemampuan IPTEK dalam sekop umuum adalah
salah satunyya computer. Alat ini dapat menunjukan arah kiblat, puasa, perhitungan zakat,
warisan dan lainnya.

E. Asas dan Cara Penyelesaian Masailul Fiqhiyah

Asas berarti dasar (sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat)
Dalam langkah-langkah penyelesaian masailul fiqhiyah, terdapat dasar-dasar penyelesaian
masalah dalam bentuk beberapa kaidah penting, yaitu:
1. Kaidah pertama : Menghindari sifat taqlid dan fanatisme
Upaya menghindarkan diri dari fanatisme mazhab tertentu dan taqlid buta terhadap
pendapat ulama klasik seperti pendapat Umar bin al-Khattab, Zaid bin Tsabit atau pendapat
ualama modern, kecuali ia adalah seorang yang bodoh dan telah melakukan kesalahan.
Pelakunya disebut muqallid yang dilawankan dengn muttabi. Yaitu muttabi dengan kriteria
sebagai berikut:

9
a. Menetapkan suatu pendapat yang dianutnya dengan dalil-dalil yang kuat, diakui dan
tidak mengundang kontroversi.
b. Memiliki kemampuan untuk mentarjih beberapa pendapat yang secara lahiriyah terjadi
perbedaan melalui perbandingan dalil-dalil yang digunakan masing-masing.
c. Diharapkan memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan berijtihad terhadap
hukum persoalan tertentu yang tidak didapati jawabannya pada ulama terdahulu.

2. Kaidah kedua : Prinsip mempermudah dan menghindarkan kesulitan


Kaidah ini patut diperlakukan sepanjang tidak bertentangan dengan nash qathi atau
kaidah syariat yang bersifat pasti. Dengan dua pertimbangan sebagai berkut:
a. Bahwa keberadaan syariat didasarkan kepada prinsip mempermudah dan
menghindarkan kesulitan manusia seperti sakit, dalam perjalanan, lupa, tidak tahu dan
tidak sempurna akal. Taklif Allah atas hambanya disesuaikan dengan kadar
kemampuan yang dimiliki.
b. Memahami situasi dan kondisi suatu zaman yang dialami pada saat munculnya persoalan.
Adapun kriteria maslahat sebagaimana yang biasa dikenal adalah menrealisasikan lima
kepentingan pokok dan disebut dengan darurat khomsa, yaitu memelihara agama,
memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara harta, memelihara keturunan.
3. Kaidah ketiga : Berdialog dengan masyarakat melalui bahasa kondisi masanya dan melalui
pendekatan persuasif aktif serta komunikatif
Ketentuan hukum yang akan diputuskan harus disesuaikan masyarakat yang diinginkannya
dan menggunakan bahasa layak sebagaimana bahasa masyarakat dimana persoalan itu muncul.
Bahasa masyarakat yang ideal :
a. Bahasa yang dapat dipahami sebagai bahasa sehari-hari dan mampu menjangkau
pemahaman umum.
b. Menghindarkan istilah-istilah rumit yang mengundang pengertian kontroversi.
c. Ketetapan hukum bersifat ilmiah karena didasarkan pertimbangan hikmah, illat, filisofis
dan Islami.
4. Kaidah keempat : Bersifat moderat terhadap kelompok tekstualis (literalis) dan kelompok
kontekstualis

Dalam merespon persoalan baru yang muncul, ulama bersandar kepada al-nash sesuai
bunyi literal ayat tanpa menginterpretasi lebih lanjut diluar teks itu. Dipihak lain, kelompok
kontekstualis lebih berani menginterprestasikan produk hukum al-nash dengan melihat kondisi
10
zaman dan lingkungan. Sementara kelompok ini dinilai terlalu berani bahkan dianggap
melampaui kewenangan ulama salaf yang tidak diragukan kehandalannya dalam masalah ini.
Menurut mereka perbedaan masa, masyarakat, geografis, pemerintahan dan perkembangan
teknologi moderen patut dipertimbangkan serta layak mendapat perhatian.

5. Kaidah kelima : Ketentuan hukum bersifat jelas tidak mengandung interpretasi


Bahasa hukum relatif tegas dan membutuhkan beberapa butir alternatif keterangan dan
diperlukan pengecualian-pengecualian pada bagian tersebut. Pengecualian ini merupakan
langkah elastis guna menjangkau kemungkinan lain diluar jangkauan ketentuan yang ada.
Misalnya ketentuan hukum potong tangan terhadap pencuri sebuah barang yang telah mencapai
nisab. Umar bin Khatthab pernah tidak memberlakukan hukum hadd atau potong tangan
terhadap pencuri barang tuannya, karena sang tuan pelit, dan tidak membayar upah si pelayan,
maka ia mencuri barang sang tuan demi kebutuhan mendesak yaitu kelaparan
Hal tersebut di atas adalah asas-asas dan langkah-langkah dalam penyelesaian masalah-
masalah fiqh atau masailul fiqhiyah yang perlu dipahami.

11
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Masail fiqhiyah merupakan masalah-masalah baru yang muncul setelah turunnya Al-quran
dan hadits dan setelah wafatnya Rasulullah Saw yang belum ada ketentuan hukum secara
pasti, sehingga dalam mencari jawabannya memerlukan kesepakatan para ulama dalam
menentukan hukum yang diambil dari Al-quran, Hadits, Ijma, qiyas.
2. Ruang lingkup pembahasan masail fiqhiyah meliputi
a. Hubungan manusia dengan Allah SWT
b. Hubungan manusia dengan manusia
c. Hubungan manusia dengan diri sendiri
d. Hubungan manusia dengan alam sekitar
3. Tujuan masail fiqhiyah
tujuan dari Masa'il fiqhiyah secara umum adalah untuk menjawab dan menyelesaikan
permasalahan-permasalahan baru yang muncul dalam masyarakat di kehidupan modern yang
sering kali jadi pertanyaan-pertanyaan sehingga membutuhkan jawaban-jawaban logis tentang
kepastian hukum. Sedangkan tujuan khususnya mempelajari Masail Fiqhiyah bagi kita calon-
calon pendidik adalah agar nantinya ketika mengajar kita sudah siap dan dapat menjawab dan
menyelesaikan permasalahan-permasalahan serta pertanyaan-pertanyaaan yang mungkin
muncul dari peserta didik.

B. Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan yang sudah barang tentu banyak
kekeliruan baik dari segi materi maupun penyampain kami. Kami sadar bahwa kami adalah
manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan. Maka kami mohon akan kritik
dan saran anda semua serta masukan-masukan yang bersifat membangun demi masa depannya.
Semoga makalah yang kami berikan ini bermanfaat bagi pemakalah sendiri dan untuk
pembaca.

12
DAFTAR PUSTAKA

Ash-shiddiq, Hasby, Falsafah Hukum Islam, Bulan Bintang, Yogyakarta, 1974.


Kasdi, Abdurrohman, Masail Fiqhiyyah Kajian Fiqih atas Masalah-masalah
Kontemporer, Nora Media Enterprise, Kudus, 2011.
Nata, Abuddin, Masail Al-fiqiyah, Preneda Media, Jakarta, 2003.
Rahmat, Imdadun, Kritik Nalar Fiqih NU : Transformasi Paradigma Bahtsul Masail, Lakperdas,
Jakarta, 2002.
Qomaruzzaman, Paradigma Fiqh Masail Kontekstualisasi Hasil Bahtsul Masail, Tim
Pembukuan Manhaji Bahtsul Masail, Kediri, 2003.
Ardiansyah, velliez, 2012, http://velliezardiansyah.blogspot.com/2012/11/masail
fiqhiyyah.html, diakses pada tanggal 02 September 2015 pada pukul 19.22 WIB.

13