Anda di halaman 1dari 27

BAB 8

OPTIKA GEOMETRI

8.1 Pendahuluan

Studi tentang optika meliputi studi propagasi gelombang cahaya dalam medium. Optika (ilmu
cahaya) dibagi atas dua bagian:
a. Optika Geometri; Mempelajari sifat-sifat propagasi cahaya dalam medium, misalnya:
pemantulan, pembiasan, transmisi serta prinsip propagasi cahaya pada alat-alat optik.
b. Optika Fisis; Mempelajari tentang keadaan fisis cahaya serta tingkah laku cahaya sebagai
gelombang, misalnya peristiwa interferensi, difraksi, dispersi, polarisasi serta gagasan-
gagasan mengenai hakekat cahaya.

Optik sebagai salah satu cabang ilmu fisika yang memanfaatkan gelombang elektromagnet dan
gelombang cahaya khususnya saat ini bidang aplikasinya berkembang sangat pesat. Pemanfaatan
sistem optik dalam desain dan konstruksi komponen IC, semakin mengefektifkan dan
mengefesienkan pembuatan peralatan elektronik dan instrumentasi. Dalm sistem komunikasi,
sistem optik ini juga lebih meningkatkabn kemampuan penyaluran dan transformasi informasi.
Demikian dalam sistem pemantauan dengan sistem informasi. Geografi sistem optik ini
meningkatkan kualitas dan kuantitas dari hasil pemantauan sumber daya alam di permukaan
maupun di bawah permukaan bumi. Dalam bidang kesehatan penggunaan spektrum cahaya
(sinar); seperti laser, sinar UV sampai dengan infra merah sangat maju dalam bidang diagnosis
maupun terapi, terlebih dalam aplikasinya dalam bidang spektroskopi sangat berkembang dengan
pesatnya. Dan dalam bidang lain dihampir semua bidang IPA, penggunaan optik ini berkembang
dengan pesat dan diramalkan akan mampu mengungguli penggunaaan material di bidang sistem
informasi dan komunikasi.

Dalam bab ini akan dibahas propagasi cahaya yaitu optika geometri. Pada hakekatnya cahaya
adalah gelombang elektromagnet yang dapat merambat dalam medium dan dalam ruang hampa.
Dalm medium yang bersifar homogen, propagsinya berupa garis lurus. Ada tiga jenis propagasi
berkas cahaya yakni; konvergen (mengumpul), divergen (menyebar), dan pararel (sejajar).

8.2 Refleksi dan Refraksi

8.1.1 Refleksi
8.2.1.1 Refleksi pada Cermin Datar

Jika suatu gelombang cahaya jatuh pada suatu permukaan cermin datar, maka sebagian
dari cahaya akan dipantulkan. Cahaya yang dipantulkan dapat diamati oleh mata karena
cermin yang memantulakan cahaya tersebut dapat membentuk bayangan. Bayangan yang
dibentuk letaknya simetri terhadap kedudukan benda dari cermin. Jika bendanya positif,
maka bayangannya negatif dan sebaliknya. Benda dikatakan positif jika merupakan
perpotongan sinar-sinar datang dan dikatakan negatif jika merupakan perpotongan
perpanjangan sinar datang. Bayangan dikatakan positif jika meruipakan perpotongan
sinar pantul dan dikatakan negatif jika merupakan perpotongan perpanjangan sinar
pantul.

B s s' B'

Gambar 8.1 Pemantulan pada cermin datar


s adalah jarak benda terhadap cermin dan s adalah jarak bayangan terhadap cermin dimana s = s.
Bila dua cermin datar dipasang saling berhadapan hingga membentuk sudut , maka jumlah
bayangan yang terbentuk adalah;
360
n= 1 .................................................................................................... (8.1)

8.2.1.2 Refleksi pada Cermin Lengkung

a. Cermin Cekung
Bagian penting dari suatui dcermin cekung adalah:

III P II F I O IV

SU

Gambar 8.2 Cermin cekung


O = puasat optik; P = pusat kelengkungan cermin; Su = sumbu utama
Jarak OP = jejari cermin; OF = jarak titik api (fokus)

Titik api (fokus) adalah bayangan dari titik cahaya yang letaknya di jauh tak terhingga.
Konveksi sinar utama pada cermin cekung adalah:
1. Sinar datang sejajar sumbu utama dipantulkan lewat titik fokus
2. Sinar datang lewat titik fokus dipantulkan sejajar sumbu utama
3. Sinar datang lewat titik pusat dipantulkan lewat titik itu juga

2
b' P b F O

Gambar 8.3 Pembentukan bayangan pada cermin cekung


O F disebut ruang I; F P disebut ruang II; dari titik P ke kiri disebut ruang III dan dari
O ke kanan disebut ruang IV.

Jika benda tidak terletak di darah transisi maka:


(No) ruang benda + (No) ruang bayangan = 5
Hubungan di atas sangat membantu untuk dapat mengetahui di mana posisi bayangan,
diperkecil atau diperbesar meskipun belum dilukiskan.
Jika (No) ruang bayangan > (No) ruang benda maka bayangan diperbesar
Jika (No) ruang bayangan < (No) ruang benda maka bayangan diperkecil

Jika Ob = s adalah jarak benda dan Ob = s adalah jarak bayangan, maka menurut hukum
Gauss untuk cermin cekung dengan jejari kelengkungan R akan belaku:
1 1 2
..................................................................................................... (8.2)
s s' R
Untuk cermin cekung R = 2f sehinggga persamaan (8.2) dapat pula ditulis sebagai
1 1 1
...................................................................................................... (8.3)
s s' f
Pada pembentukan bayangan ada kemungkinan bayangan diperbesar atau diperkecil.
Perbesaran bayangn M dituliskan sebagai:
s ' h'
M= .................................................................................................... (8.4)
s h
b. Cermin Cembung

F P

Gambar 8.4 Sinar istimewa pada cermin cembung


Sinar datang sejajar sumbu utama dipantulkan seolah berasal dari titik api.
Sinar datang menuju titik api dipantulkan sejajar sumbu utama.

3
Sinar datang menuju titik pusat dipantulakn seakan berasal dari titik P juga.
Persamaan yang berlaku pada cermin cekung juga berlaku pada cermin cembung. Yang
membedakannya adalah bahwa fokus dalam cermin cembung dinyatakan dengan bilangan negatif
jadi:
1 1 1
.................................................................................................. (8.5)
s s' f

4
Contoh 1:
Sebuah benda berdiri tegak lurus sumbu utama sejauh 10 cm dari cermin cekung dengan jejari
kelengkungan 40 cm. Jika tinggi benda 2 cm, hitung tinggi bayangan.
Penyelesaian :
Diketahui : s = 10 cm ; R = 40 cm ; t = 2 cm
1 1 2

s s' R
1 1 2 1 2 1 1 2 4
=> atau diperoleh s' = -20 cm
10 s' 40 s' 40 10 s' 40 40
s'
M= = 2 kali
s
t'
M= sehingga t' = 4 cm
t
Contoh 2:

A B

F1 P1 P2 F2

Gambar 8.5 Cermin gabungan


Dua cermin cekung A dan B dipasang berhadapan dengan sumbu utama berimpit, masing-masing
dengan jari-jari 25 dan 60 cm, sebuah benda berdiri tegak lurus sejauh 15 cm dari cermin A. Sinar
datang dari benda ke cermin A dulu kemudian dipantulkan ke cermin B. Bayangn terakhir yang
terbentuk diperbesar 15 kali. Hitung jarak antara kedua cermin tersebut.
Penyelesaian :
Diketahui : fA = RA/2 = 12,5 cm ; fB = RB/2 = 30 cm ; sA = 15 cm ; MT = 15 kali
* Kemungkinan I
Untuk cermin A
1 1 2 1 1 2
sA' = 75 cm
s A s A ' RA 15 s A ' 25
75
Perbesaran bayangan cermin A dalam keadaan seperti ini adalah MA = = 5 kali
15
Karena perbesaran total 15 kali maka perbesaran cermin B = MB = 3 kali
sB '
MB = = 3 kali, sehingga sB' = 3 sB dengan demikian akan diperoleh sebagai
sB
berikut :

5
1 1 1
a. sB' = + 3sB sehingga sB = 45 cm
s B 3s B 30
jarak antara kedua cermin adalah (75 + 45) cm = 120 cm
1 1 1
b. sB' = - 3sB sehingga sB = 20 cm
s B 3s B 30
jarak antara kedua cermin adalah (75 + 20) cm = 95 cm
Kemungkinan I :
A B

F1 P1 P2 F2

(a)
Kemungkinan II

A B

F1 P1 F2

(b)
Gambar 8.5(a) dan (b) Pembentukan bayangan oleh cermin gabungan

8.2.1.3 Kecepatan Bayangan pada Refleksi Cermin

Dalam aplikasinya sering kita menggerakkan benda di depan cermin, ternyata dalam keadaan
seperti ini bayangan juga turut bergerak terhadap cermin. Contoh yang paling sering dijumpai
adalah gerakan kendaraan terhadap kaca spion atau gerak pembeli di suatu super market terhadap
cermin monitor di sekitar pintu keluar toko. Bila waktu gerak benda t maka kecepatan benda
adalah s/t dan kecepatan bayangannya adalah s/t. Perbesaran bayangan adalah:
s'
M= t V ' atau V ' M V ................................................................... (8.6)
s V
t
Jika M < 1 maka V < V, jika M > 1 maka V > 1

6
Contoh 3:
Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan tetap 18 km/jam, jari-jari kaca spionnya adalah 120 cm.
Sebuah sepeda motor dengan laju 90 km/jam ingin mendahului mobil. Berapa kecepatan bayangn
sepeda motor pada saat 12 m di belakang mobil?
Penyelesaian :
Vmobil = VM = 18 km/jam = 5 m/det
Vmotor = Vm = 90 km/jam = 25 m/det
Kecepatan relatif motor terhadap truk adalah : Vm VM = (25 5) m/det = 20 m/det
1 1 1 1 1 1 12
; s' = m
s s' f 12 s' 0.6 21
12
s' 21 1 kali
M=
s 12 21

1
Maka besar kecepatan bayangan mobil adalah 20 m/det = 0,95 m/det
21
8.2.2 Pembiasan (Refraksi)
8.2.2.1 Refraksi pada Medium Plan Pararel

Jika suatu gelombang datar tiba pada bidang batas suatu medium yang kerapatan berbeda, maka
sebagian gelombang akan direfleksikan dan sebagiannya lagi akan diteruskan ke dalam medium
kedua. Karena kerapatan medium pertama dan kedua berbeda, maka arah propagasi gelombang
berubah (terbias).

i i

Gambar 8.7 Pembiasan pada Kaca Plan Pararel


Bila intensitas gelombang datang I0, maka intensitas gelombang yang direfleksikan adalah rI0,
dimana r disebut sebagai koefisien refleksi. Dengan demikian intensitas gelombang yang terbias
diberikan oleh: It = (1 r)I0. Harga r harus memenuhi
1 > r > 0.
Hubungan antara sinar datang dan sinar bias dapat diperoleh sebagai berikut:
Bila kecepatan propagasi gelombang dalam kedua medium masing-masing dinyatakan dengan V1
dan V2, maka menurut hukum Snellius akan berlaku:
sin i V1
...................................................................................................... (8.7)
sin r V2

7
Ini adalah salah satu bentuk hukum pembiasan. Adalah lebih mudah untuk menulis hubungan di
atas dalam indeks bias kedua medium, yakni dengan menulis indeks bias medium pertama dan
kedua sebagai:
c c
ni = dan n2 =
v1 v2
sehingga hukum pembiasan dapat ditulis sebagai:
sin i n 2
atau
sin r n1
n1 sin i = n2 sin r .............................................................................................. (8.8)

8.2.2.2 Refraksi pada Prisma

Biala suatu gelombang cahaya dijatuhkan pada salah satu sisi prisma yang terbuat dari zat optik
dan mempunyai sudut puncak (pembias) seperti pada gambar (9.8).

Gambar 8.8 Pembiasan pada Prisma

Sudut yang dibentuk antara perpanjangan sudut datang dangan sudut refraksi disebut sudut
deviasi yang besarnya diperoleh sebagai berikut:
Andaikan bahwa = setengah sudut pembias sedang deviasinya sama dengan:
= 2( - ) atau = 0,5 ( + )
besarnya sudut deviasi diperoleh sebagai:

sin
1
n sin ................................................................................ (8.9)
2 2
Jika pada pengukuran dipergunakan sudut pembias yang kecil, sehingga sudut-sdutnya bisa
disamakan dengan perbandingan sudut-sudutnya. Dengan demikian akan diperoleh:

n ............................................................................................... (8.10)
2 2

8
8.2.2.3 Refraksi Oleh Suatu Permukaan Lengkung

B'
B
S S'

Gambar 8.9 Pembiasan pada permukaan bidang lengkung


Bila berkas sinar B memancar menuju permukaan lengkung, maka sinar datang yang melalui P
(pusat kelengkungan), tidak dibiaskan melainkan diteruskan. Sinar bias lain memotong sinar yang
diteruskan di titik B maka B merupakan bayangan dari B. Dalam hal ini berlaku hukum
Snellius:
sin i n
n12 2
sin r n1
Bila diambil sinar paraxial, I dan r kacil, sehingga sin I = tan I dan sin r = tan r = r
n2 i
Jadi dengan i = + dan r = - , selanjutnya akan diperoleh :
n1 r
n1( + ) = n2( - )
n1(tan + tan ) = n2(tan - tan )
h h h h
n1 n2 atau
S R R S'
n1 n2 n2 n1
....................................................................................... (8.11)
S S' R
dimana n1 dan n2 adalah indeks bias medium 1 dan medium 2, S adalah jarak benda, dan S' adalah
jarak bayangan dan R adalah jejari kelengkungan.

8.2.2.4 Pembiasan Oleh Lensa

Lensa adalah suatu benda optik yang dibatasi oleh bidang lengkung atau satu bidang dan satu
bidang datar. Bila suatu berkas cahaya jatuh pada salah satu permukaannya, maka cahaya tersebut
akan terbias keluar dari permukaan lainnya. Dengan sendirinya lensa akan membentuk bayangn
dari berkas tersebut. Pada umumnya lensa digolongkan atas dua jenis, yakni:

a. Lensa Cembung (lensa positif)

Lensa cembung atau lensa konveks atau lensa convergen terdiri dari 3 macam
bentuk, yakni; lensa biconveks, lensa plan konveks, dan lensa konveks-konkav.

9
Bikonveks plan konveks konveks-konkaf
Gambar 8.10 Jenis lensa cembung
Sinar istimewa utama lensa cembung untuk menentukan letak bayangan sebagai berikut:
1. Sinar datang sejajar sumbu utama dibiaskan melalui titik fokus.
2. Sinar datang melalui fokus dibiaskan sejajar sumbu utama.
3. Sinar datang melalui pusat lensa diteruskan dengan arah tetap (tidak dibiaskan)

no n0
B so B'
P1 s P2
s'
R2
R1

Gambar 8.11 Pembiasan pada lensa cembung


Pembentukan bayangan dapat dihitung melalui urutan sebagai berikut:
Untuk permukaan lengkung I
no n n no

S S R1
Untuk permukaan lengkung II
n n n n
o o
S S' R2
Bila kedua persamaan di atas dijumlahkan akan diperoleh:
no n o 1 1
n no
S S' R1 R2
atau secara umum dapat ditulis sebagai:
1 1
no1 1
1 1
....................................................................... (8.12)
S S' R1 R2
dimana: S = jarak benda
S = jarak bayangan
no1 = indeks bias relatif lensa terhadap sekelilingnya
R1 dan R2 = jari-jari kelengkungan 1 dan 2 dari lensa

10
b. Titik Fokus Lensa

Untuk menentukan jarak titik api lensa, benda diandaikan berada di jauh tak terhingga sehingga
berkas-berkas yang jatuh pada permukaan lensa merupakan berkas sejajar dan tentu dibiaskan
menuju titik api (bayangan jatuh di titik fokus lensa). Hubungan tersebut dapat ditulis sebagai:
1 1
no1 1
1 1 1

S' f R1 R2
atau
1 1
no1 1
1
.............................................................................. (8.13)
f R1 R2
sehingga secara umum fokus lensa dapat ditulis sebagai:
1 1 1
.................................................................................................. (8.14)
S S' f

Gambar 8.12 Pembentukan bayangan oleh lensa cembung

c. Lensa Cekung (-)

Lensa cekung atau lensa konkaf atau lensa divergen dapat dilihat seperti pada gambar di bawah
ini:

Bikonkaf Plan konkaf konkaf-konveks


Gambar 8.13 Jenis lensa cekung
Rumus yang berlaku pada lensa cembung berlaku pula untuk lensa cekung, yang membedakan
adalah bahwa titik api lensa cekung adalah fokusnya maya.
Sinar istimewa pada lensa cekung adalah:
1. Sinar yang datang sejajar sumbu utama dibiaskan seakan berasal dari fokus f1
2. Sinar yang datang melalui f2 dibiaskan sejajar sumbu utama
3. Sinar yang lewat titik optik tidak dibiaskan

11
P1 F1 F2 P2

Gambar 8.14 Sinar-sinar istimewa pada lensa cekung


d. Perbesaran Bayangan pada Lensa

Ukuran bayangan yang dihasilkan oleh pembiasan lensa pada umumnya tidak sama bendanya,
sifat bayanagnnya pun bisa bersifat nyata maupun maya. Bayanagn bersifat nyata bila dibentuk
oleh perpotongan sinar-sinar bias dan bersifat maya bila dibentuk oleh perpotongan perpanjangan
sinar bias. Beasarnya bayangan dibandingkan dengan besarnya benda disebut perbesaran dan
dituliskan sebagai:
S ' h'
M= ................................................................................................ (8.15)
S h
Untuk menentukan sifat bayangan dari pembiasan oleh lensa dipergunakan juga rumusan yang
digunakan pada cermin, yakni:
(No) ruang benda + (No) ruang bayangan = 5
Begitu pula unrtuk mengetahui apakah bayangan diperbesar atau diperkecil:
Bila (No) ruang bayangan > (No) ruang benda, maka bayangan diperbesar.
Bila (No) ruang bayangan < (No) ruang benda, maka bayangan diperkecil, tapi untuk lensa ruang
benda dan ruang bayangan dibedakan.

+
[IV]

[III] [II] [I]

P1 F1 F2 P2
{4} {1} {2} {3}

-
[IV]

[III] [II] [I]

P1 F1 F2 P2
{4} {1} {2} {3}

Gambar 8.15 Posisi ruang benda dan ruang bayangan

12
[ ] = Posisi ruang benda
{} = Posisi ruang bayangan

e. Kekuatan Lensa

Biasanya untuk menyatakan ukuran lensa tidak dinyatakan dengan jarak titik apinya, tetapi
dengan kekuatannya. Yang dimaksud dengan kekuatan lensa adalah suatu besaran yang
kuantitasnya sebagai kebalikan jarak titik api 1/f(m). Jika fokus lensa dinyatakan dengan meter,
kekuatan lensa dinyatakan dengan dioptri dengan rumus:
1
P= ..................................................................................................... (8.16)
f ( m)
dimana: P = kekuatan lensa dalam dioptri
f = jarak titik api dinyatakan dalam meter

f. Lensa Gabungan

Bila beberapa lensa saling diimpitkan dengan sumbu utama berimpit, maka disebut lensa
gabungan. Untuk kasus ini akan berlaku:

S'1 = -S2
S1
S'2

Gambar 8.16 Pembentukan bayangan oleh lensa gabungan


Untuk Lensa I
1 1 1

f1 S1 S '1
Untuk Lensa II
1 1 1 1 1

f 2 S 2 S ' 2 S '1 S ' 2
dan bila keduanya dijumlahkan, maka akan diperoleh:
1 1 1 1

f 1 f 2 S1 S ' 2
Jika Lensa I dan II dianggap sebagai 1 lensa, maka S1 = S dan S2 = S, sehingga persamaan
terakhir menjadi:
1 1 1 1 1

f 1 f 2 S1 S ' 2 f total
atau

13
n
1 1
............................................................................................... (8.17)
f total 1 fn

Contoh 4:
Sebuah aquarium berbentuk bola dengan jari-jari 60 cm berisi air dengan indeks bias 4/3, di
dalam aquarium terdapat seekor ikan yang berjarak 30 cm dari dinding aquarium. Seorang yang
berjarak 80 cm dari dinding tadi mengamati ikan tersebut, maka tentukan:
a. dimana bayangan ikan dilihat ikan
b. dimana bayangan orang dilihat ikan
Penyelesaian:
Diketahui Sikan = 30 cm; Sorang = 80 cm; R = 60 cm dan n = 4/3
a. Orang melihat ikan
n a nu n na
u disini R dinyatakan dengan besaran negatif
S i S 'i R
4 1 1 8 1 1
3
S'i = -25,7 cm
30 S 'i 180 180 S 'i 180
b. Ikan melihat orang
R positif terhadap orang
nu n a n nu 1 4 1
a 3
S o S 'o R 80 S ' o 180
S'o = - 192 cm

Contoh 5:
Sebuah benda berdiri 8 cm di depan sebuah permukaan lengkung suatu kaca panjang dengan
jejari 6 cm dan berindeks bias 1,5. Tentukan:
a. Posisi bayangan benda dalam cermin
b. Pertanyaan seperti a tetapi sistem tersebut berada dalam air yang indeks biasnya 4/3.
Penyelesaian:
1 1.5 1.5 1
a. maka s' = -36 cm
8 s' 6
4 3 3 4
b. 3 2 2 3 maka s' = -10,8 cm
8 s' 6

Contoh 6:
Sebuah lensa konveks-konkaf dengan jejari berturut-turut 40 cm dan 80 cm dengan indeks bias
1,5. Sebuah benda diletakkan sejauh 48 cm di depan lensa. Hitunglah:
a. Jarak titik fokus lensa
b. Perbesaran bayanagn lensa
c. Perbesaran bayangan jika sistem lensa diletakkan dalam bensin yang indeks biasnya 1,2.

14
Penyelesaian:
1 1
1,5 1 maka f = 160 cm
1
a.
f 40 80
1 1 1
b. maka s' = -68,57 cm
48 s' 160
1 1
1,5 1,2 maka s' = -54,47 cm
1,2 1,2
c.
48 s' 40 80

Contoh 6:
Dua buah lensa A dan B masing-masing kekuatannya 10 D dan 25/3 D dipasang sejajar dengan
sumbu utama berimpit. Sebuah benda dengan tinggi 2 cm berada 15 cm di depan lensa A. Sinar
dari benda menuju lensa A kemudian lensa B. Bila jarak kedua lensa 38 cm, maka tentukanlah:
a. Jarak bayangan
b. Tinggi bayangan akhir yang terbentuk
Penyelesaian:
1 1 25 3
=10 maka fA = 10 cm ; maka fB = m = 12 cm
f A ( m) f B ( m) 3 25
untuk lensa A
1 1 1
maka s'A = 30 cm
15 s' A 10
sB = d s'A = 38 cm 30 cm = 8 cm
1 1 1
a. ; S'B = -24 cm
8 S ' B 12
30 24
b. M = M 1 M 2 = 6x tinggi bayangannya adalah 6 x 2 = 12 cm
15 8

8.2.2.5 Kesalahan Bayangan pada Lensa

Bayangan yang dibentuk oleh lensa pada umumnya terdapat kesalahan pembentukan bayangan
yakni:

a. Abrasi Sferis
Abrasi sferis adalah suatu gejala kesalahan pembentukan bayangan karena bentuk lengkungan
dari lensa, sehingga sinar sejajar sumbu utama yang datang pada lensa tidak semuanya terbias
pada satu titik. Kesalahan ini dapat dihindari dengan menggunakan lensa gabungan aplanatis
(dua lensa dengan jenis kaca berlainan). Atau dengan menggunakan diafragma.

15
b. Koma
Yakni pembagian cahaya pada suatu penampang tidak sama rata. Sinar-sinar yang berasal
dari titik cahaya yang terletak di luar lensa tidak menghasilkan sebuah bayangan titik akan
tetapi berbentuk koma. Berkas sinar yang datang pada daerah tepi lensa membentuk
bayangan lingkaran.

c. Astimatisme
Bidang horisontal dan vertikal tidak membentuk bayangan yang sama, sehingga bidang
vertikal nampak, sedang bidang horisontalnya tidak nampak.

d. Distorsi
Distorsi adalah gejala terbentuknya bayangan palsu. Hal ini terjadi bila pembentukan
bayangan pada lensa dilakukan dengan menggunakan diafragma atau celah.

e. Abrasi Kromatik
Hal ini terjadi kareana setiap berkas sinar monokromatik mempunyai titik api sendiri-sendiri,
karena indeks bias setiap berkas sinar berbeda. Hal ini akan menyebabkan berkas
polikhromatik setelah melewati lensa akan terurai menjadi beberapa warna.

Mata manusia dan kamera (fotografi) memiliki kesamaan yakni keduanya membentuk bayangan
nyata terbalik. Cahaya masuk ke dalam mata melalui selaput tipis (kornea) yang menutupi
tonjolan transparan pada bola mata. Jumalah cahaya yang masuk ke dalam mata lewat pupil diatur
oleh iris (serupa dengan diafragma lensa) dengan mengatur ukurannya. Pada kornea terjadilah
pembelokan cahaya terbesar karena perubahan indeks bias yang besar (nudara = 1 dan ncairan =
1,336).

16
8.3 Mata

Mata kita mempunyai bentuk seperti bola, seperti ditunjukkan pada gambar 13.1 di bawah ini:
Bagian-bagian mata:
K = Kornea
A = Aqueous lumor
A
O L = Lensa kristalis
BK
P O = Otot pemegang lensa
I = Iris
L
K
P = Pupil
So R
I Bk = Bintik kuning
R = Retina
So= Syaraf optik
Gambar 2.17 Bola Mata
Agar dapat melihat suatu benda dengan jelas, suatu bayangan yang tegak lurus dapat terbentuk
pada retina, terutama pada lekukan yang disebut bintik kuning yang merupakan bagian yang
paling peka pada retina.

Di dalam retina urat syaraf optik berakhir pada benda-benda berbentuk batang, atau pada benda-
benda berbentuk kerucut. Batang-batang dan kerucut ini beserta cairan berwarna kebiru-biruan
yang disebut rodopsin, menuerap cahaya yang masuk ke dalam mata. Informasi tentang intensitas
dan warna cahaya diterima oleh batang-batang dan kerucut-kerucut, dan diteruskan ke otak
melalui syaraf mata. Pada penerangan yang kurang, penerima cahaya yang aktif adalah batang-
batang, sedangkan informasi tentang warna dan pada keadaan penerangan yang cukup, kerucut-
kerucutlah yang aktif.

Pada bagian tengah retina ada satu lekungan yang disebut bintik kuning. Pada bagian ini tidak
terdapat batang-batang, tetapi hanya terdapat kerucut-kerucut, dan merupakan bagian yang paling
peka pada retina. Otot-otot yang menggerakkan mata selalu memutar biji mata agar bayangn
benda yang sedang kita perhatikan jatuh di daerah bintik kuning.

Pada darah dimana syaraf optik meninggalkan mata tidak ada batang ataupun kerucut, sehingga
bayangan yang terbentuk di daerah ini tidak dapat dilaporkan ke otak, dan kita tidak dapat melihat
benda yang terletak pada arah yang memberi bayangan pada tempat ini. Daerah ini disebut titik
buta.

Iris berfungsi sebagai diafragma yang mengatur lebar celah mata. Fungsi pupil ialah untuk
mengatur jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata. Pupil secara otomatis membesar jika cahaya

17
kurang, dan memgecil jika cahaya banyak. Proses ini disebut adaptasi. Akan tetapi jangkauan
perubahan intensitas cahaya dengan adaptasi hanyalah sebesar empat kali, sedangkan jangkauan
perubahan intensitas yang dapat diproses oleh mata adalah 100.000 kali.

Agar dapat melihat suatu benda dengan jelas, suatu bayangan yang tegas harus dapat terbentuk
pada retina. Jika semua bagian mata terpasang kaku maka hanya ada satu harga jarak benda untuk
dapat terbentuknya suatu bayanagn tegas pada retina. Akan tetapi suatu mata yang normal dapat
melihat dengan tegas setiap objek yang terletak di antara jarak tak berhingga sampai jarak kira-
kira 25 cm di depan mata. Hal ini disebabkan pengaturan bentu lensa kristalin oleh otot-otot
lensa. Dalam keadaan kendor, mata yang normal akan terfokus pada objek yang terletak pada
jarak yang tak berhingga, artinya dalam keadaan ini suatu objek yang teletak pada jarak tak
berhingga akn membentuk bayangan tegas pada retina. Jadi titik fokus sistem lensa yang terdiri
dari cairan air di belakang kornea, dan lensa kristalin mempunyai titik-titik fokus kedua tepat
pada retina. Jika kita ingin melihat suatu benda pada jarak tak berhingga, otot0otot pengatur lensa
akan menegang, sehingga jarak fokus lebih pendek, dan suatu bayangan yang tegas dapat terjadi
pada retina. Proses ini disebut akomodasi.

Harga-harga ekstrim dari jangkau jarak dalam mata kita dapat melihat dengan jelas disebut titik
jauh dan titik dekat. Untuk mata normal titik jauh terletak pada jarak tak berhingga. Letak titik
dekat bergantung pada berapa jauh lengkungan permukaan lensa kristalin yang dapat dihasilkan
dengan akomodasi. Jangkau jarak yang dapat dicapai dengan akomodasi berubah dengan umur.
Berkurangnya jarak titik dekat dengan umur disebut presbiopia, dan kejadian ini bukanlah cacat
penglihatan, sebab hal ini terjadi dengan laju yang sama untuk semua mata normal. Jarak titik
dekat untuk beberap umur diberikan dalm Tabel 13.1.

Tabel 8.1 Jarak titik dekat untuk berbagai umur


Umur (tahun) Titik dekat (cm)
10 7
20 10
30 14
40 22
50 40
60 200

Cacat Penglihatan

Mata yang tidak mengalami cacat penglihatan dikatakan normal atau emetropik, dan titik jauhnya
terletak pada jarak tak berhingga. Jika titik jauh terletak pada jarak berhingga, maka mata
dikatakan bersifat ametropik, sedang kejadian ini ametropia.

18
a. Hiperopia (terang jauh)

Yaitu bola mata terlalu pendek sehingga sinar-sinar


sejajar sumbu akan membentuk bayangan di belakang
retina. Dengan akomodasi, sinar-sinar sejajar dapat
membentuk bayangan di retina. Titik dekat mata ini lebih
jauh dari mata normal.
Gambar 8.18 hiperopia
Kacamata untuk presbiopia dan hiperbioa:
Agar dapat melihat objek pada jarak baca normal (25 cm)
titik dekat mata maka di depan mata dipasang lensa yang dibuat
sedemikian rupa agar bayangan maya terbentuk pada
jarak titik dekat mata, sehingga mata dapat melihat
dengan akomodasi normal. Jadi untuk itu diperlukan
25 cm suatu lensa positif.
Gambar 8.19 Lensa positif untuk mata hiperopia

b. Miopia (terang dekat)


Di sini bola mata terlalu panjang sehingga sinar-sinar
sejajar membentuk bayanagn di depan retina. Jadi titik
jauh terletak pada jarak berhingga dan titik dekat mata
ini lebih pendek dari titik dekat mata normal dengan
akomodasi. Kacamata untuk miopia adalah kacamata
Gambar 2.20 Mata miopia dengan lensa negatif. Agar bayangan dari benda yang
terletak di tak berhingga jatuh pada titik jauh mata
(berhingga).
c. Astigmatisma

Pada bidang horisontal, lengkungan membentuk bayangan pada retina, tetapi pada bidang vertikal
untuk benda yang sama lengkungan kornea tidak dapat membentuk bayangan pada retina. Cacat
mata ini ditolong dengan lensa silindris, ditunjukkan pada gambar Gambar 2.21. Sifat
konvergensi dan divergensi lensa kacamata biasanya dinyatakan dengan daya lensa yang
besarnya sama dengan 1/fokus dan mempunyai satuan dioptri.

(a) tampak atas (b) tampak samping

(c) tampak atas (d) tampak samping


Gambar 8.21 Koreksi cacat penglihatan astigmatisma dengan lensa silindris

19
Contoh 7:
Titik jauh seseorang adalah 1 m di depan matanya.
a. Berapa kekuatan lensa kacamata yang dibutuhkannya agar ia dapat melihat dengan jelas
benda yang jauh sekali?
b. Jika pakai lensa tersebut, titik dekatnya 25 cm. Berapa jarak titik dekatnya tanpa lensa
tersebut?
Jawab:
1 1 1
a. P = ; S = ; S' = -1 m
f S S'
1 1 1
P= = -1 dioptri
f 1m
1 1 1
b. ; f = -1 m = -100 cm ; S = +25 cm
f S S'
1 1 1
S' = -20 cm
100 25 S '
Jadi jarak titik dekatnya tanpa lensa adalah 20 cm di depan matanya.

Contoh 8:
Seseorang presbiopia dapat melihat dengan jelas pada jarak 2 m, sedang jarak titik dekat matanya
50 cm. Apabila ia ingin membaca pada jarak 40 cm, berapa kekuatan kacamata yang harus
digunakan?
Jawab:
Titik dekat matanya = S' = -50 cm
Jarak bacanya = S = 40 cm
1 1 1 1 1 1 1 1
Jadi jarak fokusnya :
S S' f 40 50 f f 200
atau f = 200 cm = 2 m (lensa positif)
Akibatnya kekuatan lensa kacamatanya = dioptri

2.4 Kaca Pembesar (Loupe)

Suatu benda tampak besar atau kecil bergantung pada besar atau kecilnya bayangan yang
terbentuk retina. Sedang besar bayangan yang terbentuk pada retina bergantung pada besar sudut
yang dibentuk oleh sinar datang dengan sumbu lensa. Bila kita ingin melihat benda kecil, mata
kita dekatkan agar terbentuk bayangan besar di retina, atau sudut yang dibentuk oleh sumbu mata
mempunyai nilai maksimum. Dengan memasang lensa konvergen di depan mata, maka daya
akomodasi mata dapar diperbesar dan dusut pandang dapat lebih besar lagi sehingga okyek yang
terletak lebih dekat dari titik mata dapat diamati. Pada gambar 13.6 sudut yang dibentuk antara
sinar sejajar dengan sumbu optik tanpa menggunakan kaca pembesar adalah , dan sudut yang
dibentuk sinar sejajar dengan sumbu dengan menggunakan kaca pembesar adalah .

20
25 cm

Gambar 8.22 Penggunaan kaca pembesar


Jadi pembesaran adalah M:
' 25
M= ................................................................................................ (8.18)
f
dimana : f = fokus dinyatakan dalam cm.
Dari persamaan (8.18) dapat kita lihat bahwa M dapat dibuat sebesar mungkin dengan
memperkecil f, tetapi M dibatasi oleh aberasi lensa, sehingga perbesaran hanya berkisar 2 atau 3
kali.

Contoh 9:
Panjang fokus lup 12,5 cm.
a. Berapa perbesaran sudutnya jika bayangan benda terletak di tak berhingga?
b. Berapa perbesaran sudutnya, jika bayangan benda berada 25 cm di depan mata?
Jawab:
25 25
a. = 2
f (cm) 12,5
25
b =
S
1 1 1
; S' = -25 cm
f S S'
1 1 1 1 3 25
S cm
12,5 S 25 S 25 3
25 25
Jadi, = 3
S (cm) 25 / 3
1. Mata normal mengamati arloji dengan memakai loupe yang titik apinya 50 cm. Berapa
perbesaran sudutnya?
Jawab:
Jarak fokus = 50 cm
25 25 1
Perbesaran sudut : M = kali
f 50 2

21
2.5 Mkroskop

Mikroskop ini digunakan untuk memperoleh perbesaran yang lebih besar daripada yang didapat
pada kaca pembesar. Lensa obyektif dalam mikroskop membentuk bayangan nyata pada I dan
lensa okuler membentuk bayangan maya I. Bayangan ini harus terletak antara jarak titik dekat
dan titik jauh mata, agar supaya dapat diamati. Karena lensa obyektif hanyalah membentuk
bayangan nyata yang diperbesar, yang kemudian diamati oleh lensa okuler, maka perbesaran total
M meruapakan hasil kali perbesaran lateral M1 dan perbesaran sudut M2 dari okuler.

+ obyektif + okuler

I
I' f'1 f2
f1 f'2

Gambar 8.23 Mikroskop


x'
Perbesaran lateral: M =
f1
25
Perbesaran sudut: M =
f2
x' 25
Jadi: M = M1 M2 =
f1 f 2
Besaran x, f1, dan f2 dinyatakan dalam cm.

Contoh 10:
Kekuatan lensa obyektif sebuah mikroskop 160 dioptri dan kekuatan lensa okulernya 20 dioptri.
Mata di belakang okuler mengamati bayangan obyaktif dengan akomodasi sekuat-kuatnya. Jika
jarak tobus mikroskop 85/6 cm dan jarak titik dekat mata 25 cm, hitunglah perbesaran mikroskop
jika jarak benda 2/3 cm di depan lensa obyektif dan lukiskan jalannya sinar!
Jawab:
Lensa obyektif : daya lensa = 160 dioptri
1 100 5
fob = cm
160m 160 8
Lensa okuler : daya lensa = 20 dioptri
1 100
fob = 5 cm
20m 20
Letak bayangan okuler : Sok = -25 cm

22
1 1 1 1 1 1 1 1 1 6
Jadi :
S 2 S 2 ' f ok S 2 25 5 S 2 5 25 25
25
S2 =
6
Jarak tobus mikroskop : d = S1' + S2
85 25 85 25 60
S1 ' S1 ' = 10 cm
6 6 6 6 6
Jadi pembesaran mikroskop : M = Mob Mok

S1 ' 25 10 25 30 25
M = 1 1 2 5 1 90 kali
S1 f ok 2 3 5
Jalannya sinar adalah sebagai berikut :

+ obyektif + okuler

fob' fok'

fob fok

2.6 Daya Pisah Alat Optik

Aberasi membatasi kemampuan suatu alat optik untuk mendapatkan gambar yang baik, baik
dalam bantuk maupun dalam ketajaman gambar. Akan tetapi meskipun semua aberasi lensa sudah
dikoreksi, lensa tetap tidak akan mampu untuk membentuk bayangan berupa titik dari sinar-sinar
yang berasal dari suatu benda titik. Bayangan yang terjadi akan barupa lingkaran dengan jejari
tidak sama dengan nol. Lingkaran ini tidak lain adalah lingkaran airy, dan disebabkan oleh
difraksi yang dialami oleh cahaya. Hal ini langsung berhubungan dengan kemampuan alat untuk
memisahkan dua bagian okyek yang sangat berbeda, jadi berhubungan dengan daya pisah alat
optik.
lingkaran airy
n n' P2'
p2
P1
R
Z'
Z P 1'
p1

S S'

Gambar 8.24 Daya pisah alat optik

23
Jika pengaruh difraksi diabaikan, maka seberkas sinar paraksial yang sejajar sumbu lensa akan
memberikan bayangan berupa sebuah titik. Akan tetapi jika terjadi difraksi, maka bayangan tidak
lagi berupa titik, akan tetapi berupa lingkaran airy, yaitu distribusi intensitas karena difraksi oleh
celah bentuk lingkaran. Sudut , yaitu sudut antara sinar utama pada sumbu lensa dengan jejari
lingkaran airy, yang tidak lain adalah minimum pertama pada pola difraksi, diberikan oleh
hubungan sin sin = 1,22 /D. D adalah garis tengah apertur alat.

Contoh 11:
Sebuah alat optik dngan garis tengah apertur 3 cm, dan jarak fokus 10 cm, sedang cahaya yang
digunakan mempunyai panjang gelombang sebesar 6000 Ao, maka tentukanlah jejari lingkaran
airy yang terbentuk!
Jawab:

r = f .tg. f . 1,22
. f
122
6000 10 10cm = 2,4410
8
-3
mm
D 3cm

Contoh 12:
Misalkan sebuah mikroskop dengan apertur obyektif sebesar 3 mm. Jika digunakan cahaya
kuning dengan panjang gelombang 6000 Ao, D = 0,3 cm, dan jarak antara obyek dan lensa
obyektif L = 5 mm, maka tentukanlah jarak dua benda yang dapat dipisahkan oleh mikroskop
tersebut.
Jawab:
Sudut pisah : sin = 1,22/D


1,226 10 5 radial = 2,44 10 4 radial
0,3
d L = 0,5 2,44 10 4 cm = 1,22 m

Contoh 13:
Kamera pada sistem optik satelit dilengkapi dengan sistem lensa agar dapat memisahkan jarak
sebesar 100 m pada permukaan bumi. Satelit terletak p[ada ketinggian 300 km. Tentukan besar
garis tengah apertur pada sistem optik yang digunakan.
Jawab:
d = L = (3 105m) = 100 m
= 3,33 10 4

sin

1,22 1,22 6 107 cm
=3,3 10 4
D D
D = 2,2 mm

24
8.4 Soal-soal Latihan

1. Sebuah benda berdiri tegak lurus sumbu utama sebuah cermin cekung yang berjejari 15
cm. Ternyata cermin membentuk bayangan dengan perbesaran 5 kali. Hitung jarak
benda dan jarak bayangan benda dari cermin.
Kunci: s = 9 cm; s = 45 cm atau s = 6 cm; s = -30 cm
2. Dua cermin cekung A dan B berjejari masing-masing 16 dan 24 cm, dipasang saling
berhadapan dengan sumbu utama berimpit. Suatu benda tegak lurus sumbou utama berada
10 cm dari cermin A. Bila sinar datang dari benda ke cermin A lebih dulu kemudian
dipantulkan ke cermin B hingga terjadi bayangan akhir dengan perbesaran 8 kali. Hitung
jarak kedua cermin yang memenuhi!
Kunci: 58 cm atau 46 cm
3. Sebuah truk bergerak dengan kecepatan tetap 36 km/jam mempunyai jari-jari kaca spion
80 cm. Pada saat yang bersamaan sebuah mobil bergerak dari belakang mau menyalip
truk dengan kecepatan 90 km/jam. Berapa kecepatan bayangan mobil pada saat 20 m di
belakang truk dihitung dari kaca spion yang dilihat sopir?
Kunci: 0,3 m/det.
4. Seorang perenang A berada dalam kolam melihat perenang lainnya B berada tepat
vertikal di atasnya dan akan terjun ke kolam. Jarak A dan B masing-masing dari
permukaan air adalah 4 m dan 6 m. Bila indeks bias air 4/3, hitunglah:
a. Jarak bayangan B terhadap permukaan air yang teramati oleh A
b. Jarak bayangan A terhadap permukaan air yang teramati oleh B
Kunci: a) 8 m b) 3 m
5. Seberkas cahaya datang pada sudut 400 pada satu sisi prisma kaca yang sudut puncaknya
600 dan indeks biasnya 1,5, hitunglah:
a. sudut bias berkas datang ke dalam prisma
b. susut datang sinar pada sisi prisma yang lain
c. sudut deviasi antara berkas datang dan berkas ke luar dari prisma
Kunci: (a) 25,40 (b) 34,60 (c) 38,60
6. Sebuah benda berada 21 cm di depan lensa yang jarak titik apinya 14 cm, tentukan:
a. Jarak bayangan
b. Hitung perbesaran bayangan
Kunci: (a) 42 cm (b) 2 kali
7. Sebuah kamera dengan telefot mempunyai jarak titik api 450 mm, mengambil gambar
sebuah benda sejauh 60 m. Berapa jauh dari benda seharusnya sebuah lensa dengan jarak
fokus 50 mm berada untuk membentuk bayangan dengan ukuran sama pada film?
Kunci: 6,67 m

25
8. Dua buah lensa masing-masing kekuatannya 10 D dan 5 D saling dipasang dengan
sumbu utama berimpit. Berkas datang sejajar sumbu utama mengenai lensa I dan
meninggalkan lensa II dalam bentuk sinar sejajar, hitung jarak antara kedua lensa!
Kunci: 30 cm

9. Tiga buah lensa A, B dan C saling dilekatkan menjadi satu, masing-masing merupakan
lensa bikonvek, bikonkaf, dan plan konvek dengan jejari bagian lengkung sama yakni 10
cm, sedang indeks biasnya masimg-masing 1,5, 1,6 dan 1,4. Hitung jarak titik api
gabuangan dan kekuatan lensa!
Kunci: 50 cm
10. Dua buah lensa A dan B masing-masing jarak titik apinya 20 cm dan 60 cm, diletakkan
sejajar dengan sumbu utama berimpit. Sebuah benda bercahaya setinggi 2 cm diletakkan
sejauh 25 cm di muka lensa A, bila bayangan akhir yang dibentuk oleh lensa B
diperbesar 8 kali. Hitung jarak antara kedua lensa dan tinggi bayangannya!
Kunci: 190 cm atau 70 cm dan 16 cm.
11. Titik dekat mata seseorang adalah 2 m. Berapa kekuatan dioptri kuat kacamata yang
diperlukan?
Kunci: 3,5 dioptri.
12. Titik jauh mata miopia terletak pada jarak 1 meter di depan mata. Berapa panjang fokus
lensa yang harus digunakan agar mata dapat melihat benda pada jarak tak berhingga.
Kunci: f = -1 m.
13. Seseorang mempunyai daerah akomodasi dari 25 cm sampai daerah yang tak berhingga.
Dalam batas-batas mana dia bisa melihat jika dia memakai kacamata:
a. 4 dioptri
b. 3 dioptri
Kunci: a. 12,5 cm x 25 cm b. 0,33m x 1 m
14. Sebuah mikroskop mempunyai lensa obyektif dan okuler dengan panjang fokus masing-
masing 3 cm dan 4 cm. Benda terletak pada jarak 4 cm di depan lensa obyektif dan
berjarak 12 cm dari lensa okuler. Hitung perbesaran totalnya!
Kunci: M = 0,5
15. Panjang fokus obyektif dan okuler sebuah mokroskop masing-masing 10 mm dan 4 cm.
Tentukan perbesaran yang dihasilkan untuk mata yang tidak berakomodasi jika sebuah
benda diletakkan 11 mm di depan obyektifnya!
Kunci: 62,5 kali
16. Sebuah mikroskop dilengkapi dengan lensa obyektif yang jarak fokusnya 16 mm dan 1,6
mm. Obyektif-obyektif ini membentuk bayangan nyata sejauh 160 mm dari titik
fokusnya. Okuler mikroskop mempunyai perbesaran 5 kali dan 10 kali. Tentukanlah
perbesaran maksimum mikroskop ini!
Kunci: Mmax = 1000 kali.
17. Sebuah lensa dengan garis tengah 5 cm dipergunakan untuk memfokuskan sinar laser (
= 5000 Ao). Jika jarak fokus lensa adalah 10 mm, maka tentukanlah jejari lingkaran airy
yang terbentuk!

26
Kunci: d = 1,22 x 10-3 mm.

27

Anda mungkin juga menyukai