Anda di halaman 1dari 15

RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA

2016

USULAN PROGRAM KESEHATAN BERBASIS KOMUNITAS PROVINSI DKI


JAKARTA

1. PEMBENTUKAN POSKO KESEHATAN RAKYAT (POSKESRA)


Posko kesehatan rakyat yang dioperasikan oleh masyarakat dan untuk masyarakat
Basisnya adalah budaya Gotong Royong
Pembentukan Pekerja Kesehatan Komunitas
Peningkatan peran aktif masyarakat dalam upaya layanan kesehatan masyarakat
Posko Kesehatan Rakyat menjadi fasilitas kesehatan pelengkap dari faslitas kesehatan
yang ada

2. PEMBENTUKAN PROFESI PARAMEDIS


Belum adanya profesi paramedis di Indonesia
Posisi paramedis sangat penting dalam tata laksana emergensi medis
Banyak institusi yang sangat membutuhkan keahlian seorang paramedic, contohnya
Tim Pemadam Kebakaran, Layanan Ambulans, dsb

3. DATABASE KESEHATAN, PASIEN & PEREDARAN OBAT TERINTEGRASI


Integrasi Sistem Data Kesehatan Seluruh Fasilitas Kesehatan DKI Jakarta
(Termasuk ke dalamnya Ketersediaan Ruang Rawat Inap, Ketersediaan Ambulans,
Jadwal Praktek Dokter, Peredaran Keluar-Masuk Obat)
Data rekam medis individu terintegrasi dengan Kartu Indonesia Sehat

1
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

A. USULAN PEMBENTUKAN POSKO KESEHATAN RAKYAT

I. RINGKASAN EKSEKUTIF

DKI Jakarta merupakan sebuah provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk yang
sangat tinggi (15.000 jiwa/km2). Hal ini tentu menyebabkan munculnya banyak
permasalahan. Salah satu permasalahan utama di provinsi DKI Jakarta muncul dari sisi
kesehatan, di mana timpangnya jumlah penduduk dan jumlah tenaga kesehatan yang ada,
hingga belum meratanya pelayanan kesehatan yang dapat dinikmati oleh penduduk DKI
Jakarta. Tahun 2016 ini, Pemda DKI Jakarta mengalokasikan 18,5% dari APBD untuk
setor kesehatan atau sekitar 11 Triliun rupiah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berusaha
menjawab tantangan di bidang kesehatan masyarakat DKI Jakarta melalui program Kartu
Jakarta Sehat (KJS). Program KJS adalah program yang bertujuan untuk memberikan
layanan kesehatan gratis tersistem khususnya kepada masyarakat kurang mampu yang
memiliki KTP DKI Jakarta. Program ini berusaha mengatasi kesulitan akses kesehatan
masyarakat DKI Jakarta dari sisi finansial/ekonomi.

Perlu diingat bahwa permasalahan kesehatan tidak hanya menyangkut masalah


finansial saja, di mana masih banyak masalah lain yang masih menjadi tantangan untuk
dapat diselesaikan. Sebut saja, masalah timpangnya jumlah tenaga medis dibandingkan
dengan jumlah penduduk, kualitas fasilitas dan layanan kesehatan yang didapatkan
masyarakat, hingga tahapan dan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan layanan
kesehatan. Masalah lain yang juga sangat penting adalah kondisi di mana hingga kini
kesehatan hanya difokuskan pada sisi kuratif/pengobatan saja. Dengan anggaran kesehatan
daerah sebesar 11 triliun Rupiah, aspek-aspek kesehatan lain yaitu promotive, preventif
dan rehabilitative seharusnya juga bisa dioptimalkan, terutama mengingat apabila aspek
promotif dan preventif dapat berhasil dioptimalkan, maka dapat menekan biaya yang
diperlukan dalam pengobatan/kuratif.

Berbagai kendala sosial lain juga menjadi kendala dalam upaya pelaksanaan pelayanan
kesehatan masyarakat, antara lain tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi pada
berbagai jenis pengobatan tradisional (baik yang masuk akal ataupun tidak), tidak adanya
regulasi yang mengatur praktik pengobatan tradisional, kurang terkendalinya penjualan

2
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

obat-obatan medis hingga ke penyalahgunaan obat-obatan. Gaya hidup masyarakat yang


beresiko juga perlu diantisipasi. Obesitas yang merupakan faktor predisposisi pada
penyakit-penyakit seperti Penyakit Jantung Koroner, Stroke dan Diabetes Melitus makin
banyak kita temui pada masyarakat; begitu juga dengan penggunaan narkoba dan seks
bebas. Gaya hidup masyarakat yang makin jauh dari gaya hidup bebas akan mengakibatkan
biaya yang sangat tinggi di kemudian hari. Komunikasi merupakan kunci dari terbentuknya
sebuah layanan kesehatan yang tidak hanya terpusat pada pengobatan penyakit saja tetapi
juga pada aspek promosi kesehatan dan tata cara pencegahan/preventif terjadinya penyakit,
dan sistem komunikasi ini hanya dapat terbentuk apabila masyarakat dilibatkan secara aktif
dalam proses pelayanan kesehatan.

Undang-Undang Kesehatan no 36 tahun 2009 mendefinisikan kesehatan sebagai


Keadaan sehat, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap
orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. WHO sendiri mendefinisikan
kesehatan sebagai Suatu keadaan sejahtera (complete well being) baik secara fisik, mental
dan sosial, dan bukan hanya keadaan bebas dari sakit atau penyakit. Kedua definisi
kesehatan tersebut menunjukan bahwa keadaan sehat bukan hanya terbatas pada proses
yang bersifat kuratif saja, melainkan juga harus diperhatikan sisi promotif, preventif hingga
rehabilitatif.

Untuk dapat menciptakan kondisi kesehatan masyarakat yang ideal, perlu dibuat sistem
kesehatan yang berbasis komunitas. Sistem pelayanan kesehatan berbasis komunitas ini
telah berhasil diterapkan di berbagai negara seperti Australia hingga ke Namibia di Afrika.
Indonesia sebenarnya telah memiliki dasar sistem kesehatan komunitas ini yang dapat
dilihat dari sistem kader pada puskesmas-puskesmas. Namun implementasi yang lebih
luas, terstruktur, terencana dan terarah, meliputi proses rekutmen kader, pelatihan kader,
kapasitas kader hingga tanggung jawab dan hak kader, perlu dilakukan. Implementasi ini
kami tuangkan dalam bentuk pembentukan Pos Kesehatan Rakyat (Poskesra).

Poskesra dapat dibentuk sebagai unit-unit kesehatan kecil di tingkat kelurahan yang
tenaga kerjanya terdiri dari masyarakat di mana pos berada, yang kemudian dapat menjadi
Pekerja Kesehatan Komunitas. Tenaga medis profesional harus menjadi
pendamping/Pembina dari setiap Poskesra. Pembinaan dan peningkatan kemampuan

3
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

masyarakat dalam tata laksana emergensi medis, hingga pengetahuan mengenai perilaku
hidup bersih dan sehat harus dimiliki oleh setiap tenaga kerja poskesra. Poskesra ini
diharapkan dapat menjadi jembatan antara masyarakat dengan fasilitas kesehatan formal
yang ada. Poskesra harus dapat memfokuskan diri pada aspek promosi kesehatan dalam
masyarakat, tata laksana gawat-darurat medis, edukasi mengenai cara-cara
pencegahan/preventif sebuah penyakit dan juga memberikan layanan kesehatan home
care pada masyarakat yang membutuhkan.

II. ANALISA MASALAH


Fokus kesehatan masih terpusat pada aspek kuratif
Kurangnya jumlah tenaga medis khususnya dokter dibandingkan jumlah penduduk di
provinsi DKI Jakarta
Jumlah fasilitas kesehatan di provinsi DKI Jakarta masih sangat terbatas
Biaya yang tinggi dan waktu yang lama dibutuhkan untuk menyediakan fasilitas
kesehatan maupun tenaga kesehatan yang cukup untuk seluruh penduduk DKI Jakarta
Rendahnya peran, pengetahuan dan kesadaran masyarakat di bidang kesehatan

III. ALASAN RASIONAL PEMBENTUKAN


Diperlukannya sebuah solusi yang cost effective & time efficient dalam optimalisasi
layanan kesehatan di provinsi DKI Jakarta
Diperlukannya peningkatan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat akan kesehatan
secara keseluruhan untuk dapat mewujudkan kesehatan masyarakat sesuai dengan
definisi Undang-Undang ataupun WHO
Gotong royong merupakan salah satu filosofi dasar bangsa ini, yang dapat
diimplementasikan pada sistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi dari fasilitas
kesehatan yang ada hingga susunan masyarakat terkecil

4
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

IV. DEFINISI
Pos Kesehatan Rakyat (Poskesra) adalah sebuah program yang dibuat untuk
memberikan pelayanan kesehatan masyarakat berbasis komunitas, di mana partisipasi
aktif dari masyarakat tidak menjadi aspek pelengkap saja melainkan menjadi bagian
penting dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang ada. Program ini akan
dioperasikan oleh tim Pekerja Medis Komunitas, yang program kerjanya akan
difokuskan pada aspek promosi kesehatan, penanganan pertama emergensi medis dan
aspek preventif dari kesehatan. Poskesra diharapkan dapat juga menjadi pusat nformasi
kesehatan dan jembatan antara masyarakat dan fasilitas kesehatan formal yang ada
(puskesmas, klinik, rumah sakit, dll).

V. TUJUAN
Terbentuknya sebuah sistem pelayanan kesehatan masyarakat terintegrasi berbasis
komunitas yang mampu memperluas pelayanan kesehatan primer kepada masyarakat
DKI Jakarta dan juga menjadi jembatan antara masyarakat dan fasilitas kesehatan
formal yang dilayani dalam sistem BPJS.

VI. SASARAN
Terbentuknya komunitas-komunitas dalam masyarakat DKI Jakarta yang siap, tanggap
dan kompeten dalam memberikan layanan kesehatan dasar
Terbentuknya sebuah komunitas dalam masyarakat DKI Jakarta yang sadar dan perduli
akan kesehatan dan mampu mempromosikan aspek-aspek kesehatan dalam masyarakat
hingga tata cara pencegahan terjadinya sakit penyakit
Terbentuknya unit tanggap darurat medis dalam komunitas masyarakat DKI Jakarta
yang mampu melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Terbentuknya posko-posko kesehatan di DKI Jakarta yang dioperasikan secara penuh
oleh masyarakat demi kepentingan masyarakat

VII. SUMBER DANA


2 tahun pertama, 100% subsidi APBD dan Donor

5
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

3 tahun selanjutnya, 40% subsidi APBD dan Donor


Target Poskesra Mandiri dalam 10 tahun
Sumber dana awal juga dapat melakukan optimalisasi dana CSR dari perusahaan-
perusahaan

VIII. KEDUDUKAN

Poskesra dapat dijadikan sebagai badan kesehatan masyarakat non-profit ataupun sebagai
bagian dari pemerintahan daerah yang terintegrasi dengan layanan sistem kesehatan
masyarakat untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan primer masyarakat DKI Jakarta.
Poskesra terpisah kedudukannya dengan Koperasi Kesehatan Rakyat yang kemudian dibentuk.

IX. TUGAS

Membentuk pelayanan kesehatan berbasis komunitas melalui pembentukan pos-pos kesehatan


yang dioperasikan oleh pekerja kesehatan komunitas yang dapat berperan aktif pada pelayanan
kesehatan primer khususnya pada aspek promosi kesehatan, tata laksana darurat medis dan
edukasi pencegahan sakit-penyakit, serta sebagai gerbang informasi kesehatan masyarakat
sekaligus jembatan antara masyarakat dan fasilitas kesehatan formal.

X. NILAI-NILAI DASAR
1. Berbasis Komunitas
2. Sustainable
3. Pembangunan Kapasitas Sumber Daya Manusia
4. Kolaborasi dengan Instansi Lain Terkait
5. Terintegrasi dengan Sistem Pelayanan Kesehatan yang Ada

XI. RENCANA KERJA


1. Pembangunan Tim Kerja Poskesra Pusat
2. Penyusunan Rencana Kerja dan Target Poskesra 5 tahun
3. Penyusunan Rencana Anggaran Poskesra 5 tahun

6
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

4. Penyusunan Standar Operasional Prosedur Poskesra


5. Perencanaan Pembangunan Poskesra di 44 Kecamatan dan 276 Kelurahan di DKI Jakarta
6. Penyusunan Modul Pelatihan Pekerja Medis Komunitas

XII. RENCANA PROGRAM UTAMA AWAL


1. Pekerja Medis Komunitas (PKM)
Pekerja Medis Komunitas merupakan anggota poskesra yang dapat menjadi tenaga
kerja ataupun sebagai tenaga sukarela yang telah melalui pelatihan dan pembinaan
kemampuan sesuai modul standard kemampuan yang disusun oleh tim Poskesra.
Pekerja Medis Komunitas memiliki tugas yang berbeda-beda sesuai dengan
keberadaan poskonya
Pekerja Medis Komunitas harus berasal dan tinggal di wilayah
kecamatan/kelurahan posko berada
Promosi PKM akan dilakukan dengan bekerjasama dengan sekolah, universitas,
pesantren, dsb. Targetnya adalah mendapatkan personil sukarela yang tertarik
untuk menambah pengalaman sekaligus berpartisipasi dalam pelayanan kesehatan
masyarakat di wilayahnya

2. Tim Tanggap Darurat Medis Poskesra


Tim Tanggap Darurat Medis Poskesra merupakan unit kerja Poskesra yang terdiri
dari PKM yang telah melalui pelatihan khusus untuk tatalaksana darurat medis dan
bersertifikat khusus
Tujuan tim ini adalah untuk memberikan pelayanan/penanganan pertama pada
kasus-kasus emergensi medis yang terjadi di wilayah posko sebelum penanganan
lebih lanjut di fasilitas kesehatan
Tim Tanggap Darurat Medis diharapkan dapat berperan dalam memberikan
pelayanan darurat medis yang cepat dan tepat sehingga dapat menurunkan tingkat
kematian akibat darurat medis

7
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

Tim Tanggap Darurat Medis dapat bermitra dengan instansi lainnya seperti
Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana, dll guna meningkatkan
kemampuan, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

3. Program Promosi Kesehatan melalui Optimalisasi PHBS


Poskesra memiliki fungsi utama sebagai ujung tombak dalam aspek promotif dan
preventif dari kesehatan masyarakat, oleh karenanya sosialisasi rutin program
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat wajib dilaksanakan dengan sistem home to home
education
Sosialisasi yang dilakukan tidak terbatas hanya pada presentasi dan pemberian
informasi melainkan juga melakukan survey dan edukasi hingga follow up kepada
masyarakat dari rumah ke rumah secara berkala.
Penilaian individu beresiko (obesitas, Narkoba, dsb) dan tindak lanjut dengan
berkoordinasi dengan puskesmas setempat ataupun instansi terkait lainnnya
Monitoring, evaluasi dan pelaporan berkala kepada puskesmas setempat harus
dilakukan
4. Forum Komunikasi Medis Masyarakat
Forum komunikasi dibentuk dengan tujuan untuk menampung dan menyalurkan
aspirasi masyarkat terkait kesehatan.
Kesulitan apapun yang berhubungan dengan medis dapat disampaikan dalam forum
komunikasi ini. Keluhan ataupun aduan tidak terbatas pada pasien, melainkan juga
pada para dokter dan tenaga medis lainnya
Koordinasi dengan instansi terkait secara berkala terkait massalah-masalah yang
ditemui dalam masyarakat untuk mencari solusi bersama
5. Aplikasi Informasi Kesehatan Komunitas
Masa modern saat ini memungkinkan agar masyarakat dapat mengakses informasi
kesehatan dengan mudah. Pembuatan website yang menarik dan didukung dengan
aplikasi smartphone diharapkan dapat menarik minat dan partisipasi aktif
masyarakat serta meningkatkan kesdaran masyarakat tentang kesehatan.

8
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

Selain itu juga diharapkan masyarakat dapat mengakses informasi terpercaya


terkait kesehatan, contohnya prosedur BPJS, informasi tentang penyakit menular,
program kesehatan puskesmas, dsb.
6. Koperasi Kesehatan Rakyat
Untuk dapat mencapai Poskesra Mandiri, Poskesra perlu mendapatkan sumber
pendapatan tanpa memberatkan masyarakat. Oleh karena itu dibuat Koperasi
Kesehatan Rakyat, yang kemudian akan memiliki cabang di setiap Poskesra di
kecamatan dan kelurahan.
Koperasi Kesehatan Rakyat bertugas membentuk bidang usaha dan menggalang
dana yang hasilnya kemudian digunakan untuk operasional Poskesra
Pembentukan koperasi yang nantinya beranggotakan seluruh komunitas
masyarakat setempat diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan bagi Poskesra
dan juga bagi masyarakat
Kepengurusan Koperasi Pusat dilakukan sesuai prosedur kementrian koperasi dan
juga sesuia dengan SOP Poskesra
Manajemen Keuangan dan Pembagian SHU dilakukan secara transparan dan dapat
dilihat melalui website Poskesra yang dibuat
Koperasi Kesehatan Rakyat menjadi entity terpisah dari Poskesra yang keseluruhan
pelayanannya bersifat non-profit
Bidang Usaha yang dapat dibuat harus berhubungan dengan kesehatan, antara lain:
Klinik Pratama, Layanan Ambulance Motor, Laboratorium, dsb

7. Posko Layanan Kesehatan Komunitas Siap Siaga 7-24 (7 Hari, 24 Jam)


Dimiliki oleh Koperasi Kesehatan Rakyat
Pembentukan Posko Layanan Kesehatan yang dibuka terus menerus ini bersifat
semi non-profit
Pelayanan kesehatan sesuai standard klinik pratama
Pelayanan kesehatan tidak gratis, tetapi menggunakan sistem subsidi silang
Bekerjasama dengan BPJS dan KJS/KIS dan program pemerintah lainnya
Pekerja Medis Komunitas dapat bertugas di sini untuk mendapatkan pendapatan
tambahan
9
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

Diharapkan dapat berkembang dan menjadi fasilitas kesehatan yang modern

8. Layanan Ambulans Motor Darurat Medis Berbasis Aplikasi


Dimiliki oleh Koperasi Poskesra dan menjadi fasilitas dari Posko Kesehatan 7-24
Kemacetan dan akses jalan sempit menjadi kesulitan utama ambulans selama ini.
Dengan ambulans motor, penanganan emergensi medis dapat cepat dilaksanakan,
dan dibantu juga dengan adanya Pekerja Medis Komunitas dan Posko Layananan
Kesehatan 7-24
Layanan ini dilengkapi dengan aplikasi smart phone untuk mempermudah akses
saat dibutuhkan
Layanan ini dikerjasamakan dengan fasilitas-fasilitas kesehatan baik tingkat 1,2
atupun 3. Biaya dibebankan kepada pengguna dengan sistem subsidi silang
Kerjasama dengan instansi terkait lainnya

9. Pelaksanaan Program Private Home Care Service


Layanan ini disediakan oleh Posko Kesehatan 7-24 dan diperuntukan bagi
masyarakat yang memerlukan layanan kesehatan di rumahnya bai yang bersifat
emergensi, ataupun tindak lanjut dari penanganan di fasilitas kesehatan, Poskesra
juga menyedikan layanan Private Home Care Unit
Layanan ini bertujuan agar masyarakat dapat mendapatkan standar pelayanan
kesehatan yang baik bahkan setelah pulang dari perawatan di fasilitas kesehatan
lain
Diutamakan untuk orang tua, penderita penyakit yang membutuhkan rawat inap
jangka panjang, ataupun masyarakat yang tidak dapat/tidak mampu untuk dirawat
inap di fasilitas kesehatan lainnya.

XIII. STRUKTUR ORGANISASI


Terlampir

10
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

XIV. SWOT ANALYSIS


STRENGTH (KEKUATAN)
- Solusi penanganan cepat dan tepat untuk emergensi medis karena berada di setiap
kelurahan dan dilengkapi dengan fasilitas ambulans motor yang dapat menerobos
kemacetan ibukota dan jalan-jalan sempit
- Memiliki pos di setiap kelurahan dan kecamatan sehingga akses mudah
- Sumber informasi kesehatan yang akurat bagi masyarakat
- Menjembatani masyarakat dengan fasilitas kesehatan yang ada sehingga dapat
menurunkan tingkat konflik akibat miskomunikasi antara penyelenggara layanan
kesehatan dan pengguna layanan kesehatan
- Poskesra dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam
mewujudkan kesehatan masyarakat
- Dalam jangka panjang akan menekan secara drastis biaya yang dikeluarkan negara
untuk pengobatan kesehatan
- Dalam jangka panjang dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi
masyarakat sekitar, baik berupa lapangan pekerjaan ataupun pembagian SHU dari
Koperasi Kesehatan Rakyat
- Cost Effective & Cost Efficient (Apabila dibandingkan total biaya yang diperlukan
maksimal hanya sebesar 2% dari anggaran kesehatan APBD DKI Jakarta 2016)

WEAKNESS (KELEMAHAN)

- Butuh waktu untuk membangun keseluruhan Posko di kecamatan dan kelurahan


DKI Jakarta, terutama dari sisi regulasi dan koordinasi dengan instansi terkait
- Butuh proses kualifikasi melalalui standarisasi dan sertifikasi untuk kemampuan
Pekerja Medis Komunitas dan Tim Tanggap Darurat Medis
- Kemungkinan keterbatasan sumber daya manusia yang mampu melewati proses
kualifikasi
- Butuh biaya awal yang cukup besar mengingat cakupan yang luas dan berkaitan
dengan kesehatan sehingga proses perencanaan harus matang dan menyeluruh
- Belum adanya profesi paramedis di Indonesia, sehingga pembentukan sistem
sertifikasi lebih sulit

11
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

- Investasi pada Komunitas selalu beresiko tinggi, karena banyaknya faktor yang
tidak dapat diprediksi (cth: sulitnya perubahan karakter masyarakat, dsb)
- Supervisi dan monitoring yang relative lebih sulit karena banyaknya titik posko
dengan masalah yang berbeda-beda

OPPORTUNITY (KESEMPATAN)
- Kondisi sosial masyarakat DKI Jakarta yang cocok dengan sistem Pelayanan
Kesehatan Berbasis Komunitas
- Masyarakat DKI Jakarta khususnya remaja dan dewasa muda sudah kenal baik
dengan sistem organisasi, di mana sistem yang digunakan mirip dengan sistem
Pramuka ataupun Karang Taruna
- Kesempatan mendapat dukungan dari NGO internasional besar, mengingat
program Poskesra ini arahnya sesuai dengan WHO untuk mewujudkan Universal
Health Care
- Kesempatan untuk mengoptimalkan dana CSR dari perusahaan-perusahaan di DKI
Jakarta, di mana umumnya CSR yang dilakukan hanya bersifat insidentil

THREAT (ANCAMAN)
- Koordinasi harus dilakukan multi-departemen. Kesulitan dalam birokrasi dapat
mengakibatkan terhambatnya ataupun terhentinya program ini
- Budaya masyarakat DKI Jakarta yang sudah mengakar menyebabkan tidak
tentunya keberhasilan implementasi program-program yang bersifat promotif dan
preventif
- Banyaknya masyarakat ataupun donator yang menginginkan hasil instan yang tidak
mungkin dapat didapatkan melalui program ini
- Kemungkinan penolakan-penolakan dari instansi lain akibat kemungkinan
terjadinya overlapping tugas dan fungsi (cth puskesmas dan klinik-klinik pratama)
- Apabila sistem manajemen tidak baik, rentan terjadi penyalahgunaan anggaran

B. PEMBENTUKAN PROFESI PARAMEDIS DI DKI JAKARTA

12
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

I. LATAR BELAKANG
Paramedis (paramedic) adalah profesi yang memberikan pelayanan medis pra-rumah sakit
dan gawat darurat. Sedangkan Ilmu yang mempelajarinya disebut paramedicine
Di Indonesia, paramedis belum diakui sebagai sebuah profesi, dan belum memiliki definisi
yang jelas.
Sejarah paramedic di Indonesia:
- 1960-an
Pemerintah menggunakan kata paramedis dalam UU no. 18 tahun 1964 tentang
wajib kerja tenaga paramedis.
a. UU no 18 tahun 1964 pasal 1 berbunyi :
Yang dimaksudkan dengan tenaga Para-medis dalam Undang-undang ini adalah
Tenaga Kesehatan Sarjana Muda, menengah dan rendah sebagaimana tersebut dalam
pasal 2 nomor II Undang-undang No. 6 tahun 1963 (Lembaran-Negara tahun 1963
No. 79) tentang Tenaga Kesehatan.
b. UU no. 6 tahun 1963 pasal 2 no II berbunyi :
Tenaga Kesehatan sarjana-muda, menengah dan rendah:
a. di bidang farmasi : asisten-apoteker dan sebagainya;
b. di bidang kebidanan: bidan dan sebagainya;
Bila merunut kedua undang-undang tersebut maka yang dimaksud dengan
paramedis adalah asisten apoteker, bidan, dsb.

- 2012
Banyak pihak yang masih menggunakan UU no 18 tahun 1964[4] sebagai acuan, bahkan
lebih meluas yaitu dengan memasukkan perawat, nutrisionis dan lain-lainnya sebagai
paramedis. Pihak yang lain memaknai paramedis sebagai profesi tersendiri, bukan
bidan atau apoteker. Agustus 2012, sebagian pihak yang memaknai paramedis sebagai
profesi tersendiri, membentuk Panitia Pembentukan Asosiasi Paramedis Indonesia
(PPAPI), mereka membuat forum online http://forum.paramedis.org dan mengundang
siapa saja untuk bergabung.

Namun usaha yang dilakukan nampaknya tidak berhasil dan saat ini website
tersebut juga sudah tidak aktif. Badan PPAPI ini juga sudah tidak terdengar lagi

13
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

beritanya.

Menjadi Paramedis, seorang paramedis harus memiliki izin/lisensi paramedis,


izin/lisensi tersebut diperoleh melalui serangkaian uji teori dan praktik.
Sebagai bekal untuk menghadapi ujian, bisa dengan mengikuti pelatihan selama 2-
4 tahun yang terbagi ke dalam beberapa jenjang, atau mengikuti pendidikan formal
paramedicine di perguruan tinggi. Izin/lisensi paramedis diperbaharui secara
berkala guna menjaga kualitas paramedis, diselenggarakan dalam bentuk uji
resertifikasi/refresher.

JENJANG
Jenjang paramedis umumnya terbagi menjadi tiga:
1. Primary Care Paramedic
2. Advance Care Paramedic
3. Critical Care Paramedic
Ada juga negara yang menggolongkan menjadi EMT-B, EMT-A dan EMT-P

Paramedis bertugas mempersiapkan perawatan gawat darurat segera, krisis


intervensi, stabilisasi penyelamatan hidup, dan mengangkut pasien yang sakit atau
terluka ke fasilitas perawatan gawat darurat dan bedah seperti rumah sakit dan pusat
trauma bila memungkinkan. Paramedis juga seringkali bekerja pada instansi yang
berhubungan dengan emergensi medis, antara lain, tim pemadam kebakaran, badan
SAR, dll.

II. PENTINGNYA PARAMEDIS


Di tengah keterbatasan jumlah dokter dan tenaga medis lainnya, profesi paramedis
menjadi sangat penting untuk dibuat. Penanganan emergensi medis adalah
penanganan pertama yang dilakukan dan sangat krusial dalam menentukan tindak
lanjut dan prognosis dari semuah kejadian emergensi medis.

14
RELAWAN KESEHATAN RAKYAT BANTENG JAKARTA RAYA
2016

Proses pelatihan tenaga paramedic yang lebih singkat dan sederhana, menjadikan
penambahan jumlah tenaga paramedis lebih dapat dilaksanakan dibandingkan
dengan penambahan tenaga medis lainnya, khususnya dokter. Banyak negara maju
yang telah merasakan manfaat dari peran penting seorang paramedis. Khususnya di
DKI Jakarta, di tengah berbagai masalah kemacetan, diperlukan kehadiran
paramedic terlatih yang mampu menstabilkan kondisi seorang pasien dalam
perjalanannya menuju fasilitas kesehatan.

Program Poskesra yang juga memfokuskan diri pada penanganan darurat medis,
akan sangat terbantu dengan kehadiran profesi paramedis, di mana paramedis dapat
menjadi pembina terhadap komunitas tanggap darurat medis dari Poskesra.
Peningkatan kemampuan tata laksana darurat medis dirasakan sangat perlu dan
akan memegang peranan penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat secara
keseluruhan.

Hampir semua negara di dunia memiliki tim paramedis yang bersertifikat, namun
hingga kini Indonesia masih belum memiliki tenaga paramedis, sehingga akibat
keterbatasan jumlah dokter, banyak kasus emergensi medis tidak tertangani dengan
optimal. Jika kita melihat negara lain, contohnya Filipina, bahkan supir ambulans
harus melalui pelatihan paramedic. Hal tersebut menunjukan betapa penting
sebenarnya posisi seorang paramedic dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, kami mengusulkan untuk disahkannya paramedis sebagai sebuah
profesi tersendiri dalam dunia kesehatan. Hal ini kamu yakini dapat membawa
dampak positif dalam proses tata laksana emergensi medis di DKI Jakarta.

15