Anda di halaman 1dari 15

DEFINISI dan BATASAN ALGA, KLASIFIKASI, dan CIRI-CIRI UMUM ALGA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Protista
yang dibina oleh Ibu Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si,

oleh
Aulia Qori Latifiana (160342606242)
Gufron Alifi (160342606296)
Rizky Rahma (160342606279)
Sulistya Ika R. (160342606299)
Sumardi (160342606238)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Januari 2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai Negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam.
Sebagai Negara dengan luas wilayah lebih dari 70 %, salah satu kekayaan alam yang bisa
kita manfaatkan adalah sumber daya alam hayati. Selain ikan, alternative hasil laut yang
bisa diolah adalah alga meskipun tidak semua alga bisa digunakan.
Alga dalam istilah Indonesia sering disebut sebagai ganggang merupakan
tumbuhan talus karena belum memiliki akar, batang dan daun sejati. Algae (ganggang)
dapat dibedakan menjadi tujuh kelompok yaitu : cyanophyta, cholrophyta, euglenophyta,
pyrrophyta, crysophyta, phaeophyta, rhodophyta.berdasarkan pigmen dominannya
ketujuh kelompok tersebut meliputi: Chrysophyta, Phaeophyta, dan Rhodophyta.

B. Rumusan Masalah
a) Menjelaskan tentang definisi dan batasan alga?
b) Menjelaskan klasifikasi alga?
c) Menjelaskan cirri-ciri umum alga?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi dan Batasan Alga


Istilah alga (jamak algae) dalam bahasa Indonesia disebut ganggang,mempunyai
batasan yang bervariasi. Bahkan di kalangan ahli biologi sendiri terdapat perbedaan
dalam memberikan batasan istilah alga. Menurut Smith (1955), Gupta (1981), dan Bold
and Wynne (1985)
Alga adalah organisme berklorofil, tubuhnya merupakan talus (uniseluler atau
multiseluler), alat reproduksi pada umumnya berupa sel tunggal, meskipun juga ada alga
yang alat reproduksinya tersusun dari banyak sel
Menurut Fritsh dalam Gupta (1981), alga mencakup semua organisme yang dapat
melakukan fotosintesis kecuali lumut dan tumbuhan berpembuluh.
Protista adalah kelompok makhluk hidup eukariotik uniseluler atau multiseluler yang
belum terdeferensiasi menjadi jaringan dan mempunyai kemiripan ciri dengan tumbuhan,
hewan ataupun jamur.
Protista dikategorikan dalam 3 kelompok, yaitu :
1. Protista mirip hewan (Protozoa)
2. Protista mirip tumbuhan (Alga)
3. Protista mirip jamur
B. Klasifikasi Alga
1. Euglenophyta. Merupakan ganggang dengan bentuk peralihan dari hewan dan tumbuhan.
Euglenophyta hidup secara autotrof ketika mendapat cahaya cukup dan secaraheterotrof
ketika cahaya kurang.
Ciri Euglenophyta meliputi memiliki pigmen utama klorofil a dan b (hijau), cadangan
makanan disimpan dalam bentuk paramilum, uniseluler, dinding sel berupa selulosa yang
dilengkapi pelikel, bergerak bebas dengan satu atau dua flagella di ujung anterior, memiliki
bintik mata yang tersusun atas pigmen fikobilin (merah-biru), reproduksi secara aseksual dengan
pembelahan biner. Contoh: Euglena viridis (parameter pencemaran).
1. Chlorophyta (ganggang hijau). Merupakan ganggang yang menjadi nenek moyang
tumbuhan utama. Euglenophyta hidup sebagai epifit atau fitoplankton di dalam air.
Ciri Chlorophyta meliputi memiliki pigmen utama klorofil a dan b (hijau), cadangan
makanan disimpan dalam bentuk amilum dan minyak, uniseluler atau multiseluler koloni,
dinding sel berupa selulosa, reproduksi aseksual dengan pembelahan biner, fragmentasi, dan
pembentukan zoospora, reproduksi seksual dengan cara isogami, anisogami dan oogami.
2. Rhodophyta (ganggang merah)
Ciri Rhodophyta meliputi memiliki pigmen utama fikoeritrin (merah), cadangan makanan
disimpan dalam bentuk tepung fluorid, multiseluler bertalus (makroskopis), dinding sel berupa
selulosa dengan lapisan lendir di luar dan miofibril di dalam, reproduksi aseksual dengan
karpospora yang terbentuk dari tetraspora, reproduksi seksual dengan pembentukan zigot dari
gamet jantan yang dihasilkan spermatangium dan gamet betina yang dihasilkan karpogonium.
Contoh: Eucheuma (rumput laut), Palmaria, Gelidium, Gracilaria, Gigartina.
3. Pyrrophyta/Dinoflagellata (ganggang api)
Ciri Pyrrophyta meliputi memiliki pigmen utama karoten (jingga) dan xantofil (kuning)
yang peka terhadap cahaya, cadangan makanan disimpan dalam bentuk amilum/pati, uniseluler,
dinding sel berupa selulosa, tubuhnya mengandung fosfor yang bersifat fluorosens yang dapat
memendarkan cahaya hijau-biru di malam hari, bergerak bebas dengan dua flagella di ujung
anterior dan membentuk pusaran air ketika bergerak, peledakan populasi di perairan hangat
menyebabkan fenomena red tide dan menghasilkan racun.
4. Phaeophyta (ganggang coklat)
Phaeophyta hidup menempel pada substrat dan bagian lainnya mengapung di atas air.
Ciri Phaeophyta meliputi memiliki pigmen utama xantofil (kuning) dan fukosantin (coklat),
cadangan makanan disimpan dalam bentuk laminarin, multiseluler bertalus (makroskopis),
dinding sel berupa selulosa dengan lapisan gumi dan asam alginat di luar, dilengkapi gelembung
udara untuk penyimpanan nitrogen dan mengapung, reproduksi aseksual dengan fragmentasi dan
pembentukan zoospore, reproduksi seksual dengan cara isogami dan oogami. Contoh: Sargassum
vulgare (gulma laut), Turbinaria decurrens, Macrocystis, Fucus serratus, Laminaria.
5. Chrysophyta (alga keemasan/pirang)
Chrysophyta hidup sebagai fitoplankton di perairan tawar. Ciri Chrysophyta meliputi memiliki
pigmen utama fukosantin (coklat), karoten (jingga) dan xantofil (kuning), cadangan makanan
disimpan dalam bentuk leukosin dan laminarin, uniseluler atau multiseluler koloni atau filament,
dinding sel berupa hemiselulosa dengan pektin atau silica, bergerak bebas dengan dua flagella di
ujung anterior, reproduksi aseksual dengan cara pembelahan biner dan fragmentasi, reproduksi
seksual dengan pem-bentukan auksospora. Contoh: Mischococcus, Synura, Dinobryon.
C. Ciri-ciri Umum Alga
a. Habitat dan Distribusi
Habitat alga adalah tempat yang berair seperti sungai, kolam, rawa, laut, tanah yang
lembab, pohon dll. Distribusi alga kosmopolit. Alga ditemukan di sumber air panas, salju
daerah kutub dan pincak gunung yang tinggi, bahkan di perairan yang mengandung
boraks di Lamongan juga terdapat alga. Berdasarkan habitatnya, alga dapat
dikelompokkan menjadi:
1. Hidrofit : alga yang hidup mengapung dipermukaan air atau terendam di air. Yang
termasuk dalam hidrofit adalah :
a. Bentofit adalah alga yang tumbuh dan melekat di lumpur atau dasar perairan.
Contoh : Chara dan Nitella.
b. Epaktifit adalah alga yang tumbuh di sepanjang tepian kolam atau danau. Contoh
: Chaetophora, Oedogonium dan Rivularia.
c. Termofit adalah alga yang hidup di air panas dengan suhu antara 70 - 80C.
Beberapa jenis ganggang biru dapat bertahan hidup pada suhu lebih dari 85C
d. Planktofit adalah alga yang hidup melayang di permukaan air. Misalnya diatom,
anggota dari bangsa Chlorococcales, Spirogyra, Zygnema, Nostoc dll.
e. Halofit adalah alga yang hidup di air dengan kadar garam yang tinggi. Contoh :
Prasiola, Enteromorpha, Dunalilella salina.
f. Epifit adalah alga yang hidup menempel pada tumbuhan lain, misalnya
Oedogonium, Rhizoclonium, Bulbochaete, Coleochaeta.
g. Epizofit adalah alga yang hidup menempel pada hewan (cangkang moluska, ikan,
kura-kura). Contohnya: Protoderma menempel pada kura-kura, Charicium
menempel pada kaki depan Branchipus.
2. Edapofit (alga darat) adalah kelompok alga yang hidup di permukaan tanah (saprofit)
atau di bawah permukaaan tanah satu meter atau lebih (kriptofit). Contoh saprofit
adalah Botrydium, Vaucheria, Protosiphon. Sedangkan contoh kriptofit adalah
Chlorella dan berbagai jenis ganggang biru yang lain.
3. Aerofit adalah alga yang tempat hidupnya menyebabkan dominan berinteraksi
dengan udara, misalnya di batu-batuan yang lembab,tembok,patahaan ranting pohon
dan sebagainya. Contohnya adalah Scytonema, Vaucheria, Stigonema dan Calothrix.
4. Kriofit adalah alga yang tumbuh di permukaan es atau salju, memiliki kemampuan
adaptasi pada suhu beku. Warna ganggang ini bervariasi, ada yang merah, kuning,
atau hijau. Warna hijau pada salju di kawasan eropa dan kutub disebabkan oleh
spesies dari marga Chlamydomonas, Ankistrodesmus, dan Mesotaenium. Warna
merah pada salju merupakan warna spesies Chlamydomonas, Scotiella, dan beberapa
jenis diatom.
5. Endofit adalah ganggang yang hidup di dalam tubuh tanaman lain, misalnya
Anabaena Azollae pada tanaman Azolla, Anabaena cycadae. Di dalam akar Cycas,
Nostoc didalam talus Anthoceros, Sphagnum, dan Cycas.
6. Simbiotik adalah beberapa jenis alga hidupnya bersimbiosis dengan jamur, dan
kerjasama ini menghasilkan bentuk tanaman yang di sebut Lichens (lumut kerak).
Jenis alga yang menjadi simbion berasal dari marga Microcystis, Gloeocapsa, Nostoc,
Scytonema, Rivularia, Chlorella, dll.
7. Endozoofit adalah ganggang yang hidup di dalam tubuh hewan. Contohnya
Zoochlorella yang hidip di dalam tubuh Hydra.
8. Parasit adalah ganggang yang hidup pada tanaman lain. Contohnya Chephalueros
yang menyebabkan penyakit cabuk merah pada daun mangga, kopi dan teh.
b. Struktur/Susunan Tubuh
Ganggang uniseluler terbagi menjadi 2 berdasarkan alat geraknya yaitu dapat
bergerak dengan bantuan bulu cambuk (flagel), misalnya Chlamydomonas dan tidak
dapat bergerak, misalnya Chlorella, Synecoccus. Organisasi talus ganggang multiseluler
dibedakan menjadi 5 tipe yaitu
1. Koloni Senobium
Koloni yang tersusun dari beberapa sel dengan jumlah tertentu, bentuk dan
ukurannya tetap untuk setiap spesies. Sel-sel ada yang tertanam dalam matriks
bersifat seperti lender (musilagenous) atau setiap sel dilapisi lender kemudian semua
sel menyatu menjadi senobium. Bentuk koloni senobium ada yang dapat bergerak,
seperti Volvox, Pandorina, Eudorina. Sedangkan koloni senobium yang tidak
bergerak, seperti Hydrodiction, Pediastrum, Scenesdesmus.
2. Koloni Agregat
Agregasi sel-sel tidak memiliki bentuk dan ukuran yang tetap. Sel-sel yang
beragregasi tertanam di dalam matriks seperti gelatin dalam susunan yang kurang
teratur. Sel dapat membelah tanpa memecah dinding gelatin. Dua sel hasil
pembelahan kemudian memisah dan menambah jumlah drl dalam agregat. Ada tiga
tipe agregat :
a. Bentuk palmeloid : sel-sel alga tertanam di dalam suatu massa lender yang
tidak teratur. Contoh : Tetraspora, Palmella, Gleocapsa.
b. Koloni dendroid : agregasi sel-sel berbentuk menyerupai pohon. Sel-sel
bersambung dengan perantaraan lendir yang disekresikan oleh sel-sel itu
sendiri. Contoh : Prasinocladus, Chaemosiphon fuscus.
c. Koloni rhizopodial : sel-sel amuboid dengan jumlah yang bervariasi
bergabung dengan perantaraan beberapa tonjolan sitoplasma. Contoh :
Rhizochrysis.
3. Filamen
Filamen dihasilkan dari pembelahan sel yang berulang-ulang dan sel-sel hasil
pembelahan tidak memisah tetapi membentuk rangkaian sel. Bentuk filament atau
benang dibedakan menjadi dua tipe, yaitu
a. Filamen tidak bercabang, misalnya Ulothrix, Spirogyra
b. Filamen bercabang, misalnya Cladophora. Pada Stigeoclonium, Chaetophora,
Ectocarpus, Coleochaete, Draprnaldia, percabangan dibedakan menjadi
bagian/cabang prostat dan cabang tegak (heterotrikus).
4. Sifoneus
Talus mengandung banyak inti (multinukleus) tetapi tidak terbagi-bagi menjadi
sel-sel, kecuali pada waktu membentuk unit-unit reproduktif . Contoh : Bryopsis,
Vaucheria.
5. Parenkimateus ( Seperti jaringan parenkim)
Jika pembelahan sel berlangsung pada lebih dari satu bidang akan menghasilkan
struktur talus seperti parenkim. Contoh : Ulva, Porphyra, Punctaria. Talus seperti
parenkim berkembang bagus pada orde Laminariales dan Fucales. Talus alga coklat
menunjukkan adanya diferensiasi, yaitu adanya pembuluh. Misalnya pada
Macrocystis, Laminaria, dan Sargassum.
c. Susunan sel
Alga merupakan kelompok tumbuhan rendah, terdapat dua tipe sel baik yang bersifat
prokariotik maupun eukariotik. Pada sel prokariotik invaginasi membrane belum
sempurna, oleh karena itu tidak dilengkapi dengan organela. Dengan demikian sel tanpa
dilengkapi plastid, mitokondria, inti, badan golgi, dan flagela. Berbeda dengan sel
prokariotik, sel eukariotik telah dilengkapi organela tersebut di atas.
Sel eukariotik dilindungi oleh dinding sel yang tersusun oleh polisakarida,
sebagian terbentuk atau disekresi oleh badan golgi. Membran plasma (plasmalema),
menyelubungi bagian sel. Beberapa alga memiliki alat gerak, flagel. Flagel diselubungi
oleh membrane plasma dan tersusun oleh mikrotubula yang jumlah dan arah geraknya
tertentu.
Dinding Sel dan Lendir
Pada umumnya dinding sel alga terdiri dari dua komponen. Komponen fibriler
yang akan membentuk rangka dinding dan komponen non fibriler berbentuk matrik. Tipe
umum komponen fibriler adalah mengandung selulosa.Selulosa dilapisi oleh mannan,
misalnya terdapat pada Porphyra dan Bangia (Rhodophyta). Selain itu ada pula yang
diselubungi xylan.
Komponen non fibriler berlendir terdapat pada sebagian besar Phaeophyta dan
Rhodophyta. Komponen tersebut merupakan polisakarida dan telah secara komersial
diperdagangkan. Asam alginat terdapat pada ruang antar sel dan dinding sel phaeophyta.
Garam alginate disektor indusrtri berfungsi sebagai pengental, perekat, dan stabilisator.
Pemanfaatan terutama pada industry makanan, kosmetik, farmasi, kedokteran, dan
tekstil.
Plastida
Tipe plastida yang dijumpai pada alga adalah kloroplas. Proplastida adalah
organela yang tak berwarna, lebih kecil dari kloroplas dan tidak mempunyai grana.
Proplastida dianggap sebagai plastida muda atau belum dewasa, meskipun beberapa
alga heterotrof tetap menjadi proplastida.
Pigmentasi
Pigmen yang paling banyak dalam kloroplas adalah klorofil. Jenis klorofil yang
terdapat pada alga adalah klorofil a, b, c, dan d. klorofil a adalah pigmen fotosintesis
utama pada semua alga berperan sebagai reseptor cahaya dalam fotosintesis 1 dari
reaksi cahaya. Beebeda dengan klorofil a yang merupakan pigmen fotosintesis utama
pada semua alga. Klorofil b ditemukan pada Euglenophyta dan Chlorophyta. Klorofil c
ditemukan pada Dinophyceae, Bacillariophyceae, Xanthophyceae dan Phaeophyta.
Klorofil d adalah komponen minor yang dapat dijumpai pada Rodhopyta fungsi dalam
fotosintesis belum diketahui.
Cadangan makanan
Cadangan makan pada alga utamanya disimpan di dalam sitoplasma dan ada
beberapa di kloroplas, tempat berlangsunganya fotosintesis. Cadangan makanan yang
paling umum adalah tepung, senyawa mnyerupai tepung,lemak atau minyak. Cadangan
makanan pada alga di kelompokkan sebagai berikut :
Komponen yang mengandung berat molekul besar:
1.Ikatan glukan - 1,4
Tepung florideae
Teoung myxophycin
Tepung
2. Ikatan glukan - 1,3
Laminarin
Krisolaminarin (leukosin)
Paramylon
3.Fruktosan
Acetabularian (Chlorophyta) mmempunyai cadangan makanan seperti inulin
Fruktosan di jumpai pada Cladophorales
Bahan yang mengandung berat molekul rendah:
Gula
Glikosida
Polyol
4.Inti
Pada inti alga di selubungi oleh membrane dan berisi DNA.
Pada Dinophyceae dan Euglenophyta mempunyai inti yang disebut tipe mesokariotik
dengan cirri sebagai berikut :
1. Mempunyai kromosom yang secara permanen kondensasi selama siklus mitosis.
2. Nukleous (endosom) tidak hilang selama pembelahan inti.
3. Ukuran inti besar.
4.Komponen melekat pada membtran Inti dan tidak ada benang spindlen (mikrotubula)
dari dalam inti.
5. Membran inti tetap utuh selama siklus mitosis.
Sedangkan pada alga yang bersifat eukariotik dengan cirri sebagai berikut :
1. Kromosom terjadi kondensasi pada propase dan hilang selama telopase
2. Nukleous hilang selama propase
3. Inti kecil
4. Kromosom melekat pada benang spindle
5. Kemungknan membrane inti hilang atau tetap selama pembuahan inti
Vakuola
Vakuola berperan dalam hubungan osmotic. Kemampuan sel alga untuk mengatur
perubahan salinitas dari medium adalah aspek penting dari fisiologis sel. Padas el yang
dilengkapi dinding, osmoregulasi diatur dengan adanya tekanan turgor. Sedangkan sel
yang tidak berdinding diatur oleh vakuola kontraktil. Banyak alga yang berflagel
mempunyai dua vakuola kontraktil terletak dibagian ujung anterior sel. Vakuola kontraktil
akan penuh dengan larutan encer atau diastole dan kemudian mengeluarkan larutan encer
dari sel serta mengkerut atau sistol. Vakuola kontraktil secara bersamaan berulang-ulang
melakukan proses tersebut. Apabila terdapat dua vakuola kontraktil, biasanya isinya yang
penuh dan kosong berganti secara bergantian. Vakuola kontraktil terjadi lebih sering pada
alga air tawar daripada alga air laut.
Mitokondria.
Mitokondria pada sel alga terdapat 2 tipe :
1. Mitokondria dengan kristae lamelar. Kristae lamelar dihubungkan dengan alga yang
mempunyai pigmen fikobiliprotein atau klorofil a dan b bersama-sama. Contohnya
Rhodophyceae, Euglenophyyta, dan Charophyta.
2. Mitokondria dengan kritae tubular. Kritae tubular tidak mempunyai fikobiliprotein
atau klorofil a dan b bersama-sama. Contohnya Chrysophyta.
Flagela
Flagela terdiri dari aksonema yang terletak di bagian pusat yang di selubungi oleh
selubung plasma. Dalam irisan melintang aksonema tersusun oleh 9 dublet. Mikrotubula
mengelilingi bagian tengah terdapat 2 singlet mikrotubulus. Struktur semacam ini dikenal
sebagai susunan 9+2. Susunan 9+2 adalah struktur dalam flagel sel eukariotik ditemukan
pada sel motil pada semua organisme kecuali bakteri.

Flagela di hubungkan dengan struktur yang sangat halus disebut apparatus


neuromotor, merupakan granula pada pangkal dari setiap flagella disebut blepharoplas.
Granula tersebut masing-masing di hubungkan oleh benang yang letaknya melintang disebut
paradesmo . Rhizhoplas merupakan benang tegak dan lurus menghubungkan salah satu dari
granula( blepharoplas) dengan struktur intranuklear dari inti di sebut sentrosom.

Flagela adalah alat gerak dan letaknya dapat apical, subapikal atau lateral . Sel motil alga
dapat mempunyai perbedaan susunan berdasarkan jumlahnya. Jika flagella hanya satu di
sebut tipe monokon. Flagela tersusun oleh dua flegela dengan panjang yang sama disebut
isokon.

Pada selubung plasma dari flagella sering terdapat struktur berambut disebut
mastigonem. Berdasarkan ada atau tidaknya mastigonem dibedakan dua tipe flagella.

1. Tipe whiplash (acronematic)


Flagella tipe ini, permukaan selubung plasmanya halus tanpa dilengkapi mastigonem.
2. Tipe tinsel (pantonematic)
Pada permukaan selubung plasmanya terdapat struktur seperti rambut, melekatntya
lateral. Struktur seperti rambut tersebut berasal dari aksonem. Rambut atau bulu halus
(mastigonem) yang terdapat pada flagella berperan untuk menambah luas bidang
permukaan dan membantu gerakan flagella sebagai pendorong.
Stigma atau bintik mata

Pada alga uniseluler yang mati atau seniobium mempunyai organela berpigmen yang
dikenal sebagai stigma. Stigma sebenarnya adalah plastida yang berubah stuktur dan fungsi
menjadi semacam lensa. Perannya adalah untuk mengetahui ada tidaknya cahaya.

Perkembangbiakan Alga

Pada tumbuhan tingkat rendah khususnya alga ada 3 cara perkembangbiakan,


yaitu :
1. Cara vegetatif
Perkembangbiakan ini tanpa pembentukan sel khusus.
a. Pembelahan sel
Pembelahan sel seringkali dilakukan oleh alga yang berbentuk sel tunggal.
Pembelahan terjadi dalam serangkaian yang cepat, membelah menjadi bentuk
individu baru seperti sel induknya. Proses ini seringkali disebut pembelahan biner.
b. Fragmentasi
Pada umumnya pembelahan ini dilakukan oleh alga yang susunan
tubuhnya berbentuk filamen (benang). Benang dapatterputus menjadi dua atau
beberapa bagian untuk tumbuh menjadi individu baru.
c. Pembentukan tunas
2. Cara sporik
Sejumlah alga, melakukan perkembangbiakan dengan cara membentuk sel khusus
(spora). Spora mampu tumbuh menjadi individu baru, tanpa adanya persatuan sel
kelamin jantan dan betina. Pada jenis tertentu spora terbentuk didalam sel vegetatif
khusus yang disebut sporagia, sedangkan pembentukan spora terjadi melalui proses
sporogenesis.
3. Cara gametik
Cara ini terjadi melalui pembentukan sel khusus (gamet) dan akan terbentuk
individu baru apabila terjadi persatuan gamet jantan dan gamet betina melalui proses
fertilisasi. Pada jenis homotalik (monoeci) gamet jantan dan betina dibentuk pada
tumbuhan yang sama. Sedangkan jenis heterotalik (dioeci) gamet jantan dan betina
dibentuk pada tumbuhan yang berbeda. Gamet terbentuk didalam alat kelamin yang
disebut gametangium melalui proses gametogenesis.
Berdasarkan sifat gamet yang beranekaragam, maka timbul beberapa
perkembangbiakan gametik, yaitu :
a. Isogami : persatuan antar dua gamet yang mempunyaiukuran dan bentuk yang
sama antara yang satu dengan yang lainnya.
b. Anisogami : Persatuan antara dua gamet yang tidak sama ukurannya tetapi
bentuknya sama. (gamet yang lebih kecil ukurannya biasanya dianggap gamet
jantan).
c. Oogami : persatuan antara antherozoid (gamet jantan yang berflagela dan aktif
bergerak) dengan sel telur (ovum). Sel telur ukurannya relatif lebih besar dan
tidak bergerak.
Isogami, anisogami, dan oogami menunjukkan suatu seri yang progesif dalam
diferensiasi gamet. Oogami dianggap tipe yang paling maju dan isogami dianggap
tipe yang paling primitif.
Pada beberapa kasus, gamet tidak bersatu untuk membentuk zigot. Tetapi mampu
berkecambah secara partenogenesis, untuk membentuk tumbuhan baru seperti
induknya.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Alga adalah organisme berklorofil, tubuhnya merupakan talus (uniseluler atau
multiseluler), alat reproduksi pada umumnya berupa sel tunggal, meskipun juga ada alga
yang alat reproduksinya tersusun dari banyak sel. Habitat alga pada dasarnya berada di
tempat yang berair. Distribusi alga kosmopolit. Berdasarkan alat geraknya ganggang
uniseluler ada yang dapat bergerak dengan bantuan bulu cambuk (flagel), misalnya
Chlamydomonas dan ada yang tidak dapat bergerak, misalnya Chlorella, Synecoccus.
Pada umumnya dinding sel alga terdiri dari komponen fibriler yang akan membentuk
rangka dinding dan komponen non fibriler berbentuk matrik. Perkembangbiakan alga
dapat dilakukan dengan cara vegetative, cara sporik, dan cara gametik.
DAFTAR RUJUKAN

M Susriati, P I Triastono, Saptari Murni.2007. Buku Ajar Botani Tumbuhan Bertalus

Alga. Malang. Universitas Negeri Malang

Gerung, S Grevo, Tampubolon Agrialin, Wagey Billy.2013. Biodiversitas Alga Makro di Lagun
Pulau Pasige Kecamtan Tagulandang Kabupaten Sitaro. Manado. Program Study Ilmu
Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Sam Ratulangi Manado