Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Pengertian Perusahaan

Perusahaan adalah sebuah organisasi yang beroperasi dengan

tujuan menghasilkankeuntungan, dengan cara menjual produk (barang dan

jasa) kepada para pelanggannya. Tujuan operasional dari sebagian besar

perusahaan adalah untuk memaksimalisasi profit. Disamping itu, ada juga

jenis perusahaan yang memang dalam kegiatan usahanya lebih

diprioritaskan pada pelayanan secara maksimal kepada masyarakat; jenis

organisasi ini dinamakan organisasi nir-laba (non profit). Contoh

organisasi nir-laba adalah yayasan (rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi)

dan badan atau instansi pemerintah.

Ditinjau dari jenis usahanya (produk yang dijual), perusahaan

debedakan menjadi :

Perusahaan manufaktur (Manufacturing Business)

Perusahaan jenis ini terlebih dahulu mengubah (merakit) input

atau bahan mentah (raw material) menjadi output atau barang

jadi (finished goods/final goods), baru kemudian di jual kepada

para pelanggan (distributor). Contoh : perusahaan perakit

mobil, perusahaan pembuatan obat, tas, sepatu, pakaian, dan

sebagainya.

8
9

Perusahaan Dagang (Merchandising Business)

Perusahaan jenis ini menjual produk (barang jadi), akan tetapi

perusahaan tidak membuat/menghasilkan sendiri produk yang

akan dijualnya melainkan memperolehnya dari perusahaan lain.

Contoh: Indomaret, Gramedia, dan lain sebagainya.

Perushaan Jasa (Service Business)

Perusahaan jenis ini tidak menjual barang tetapi menjual jasa

kepada pelanggan. Contoh: perusahaan yang bergerak dibidang

pelayanan transaportasi (jasa angkut), pelayanan kesehatan

(rumah sakit), jasa konsultasi, telekomunikasi, dan lain

sebagainya.

2.1.2. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Fashion di Pontianak Selatan

1. Pengertian UMKM

Terdapat berbagai definisi yang berbeda mengenai UMKM berdasarkan

kepentingan lembaga yang memberi definisi yaitu (Hubeis, 2009; 20) :

1) Badan Pusat Statistik (BPS): UMKM adalah perusahaan atau industri

dengan pekerja antara 5-19 orang.

2) Bank Indonesia: UMKM adalah perusahaan atau industri dengan

karakteristik berupa:

a. Modalnya kurang dari Rp.20.000.000

b. Untuk satu putaran usahanya hanya membutuhkan dana

Rp.5.000.000

c. Memiliki asset maksimum Rp.600.000.000 diluar tanah dan

bangunan
10

d. Omzet tahunan Rp 1 Miliar

Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UU No. 9

Tahun 1995): UMKM adalah kegiatan ekonomi rakyat berskala

kecil dan bersifat tradisional, dengan:

a. Kekayaan bersih Rp.50.000.000 Rp.200.000.000 (tidak

termasuk tanah dan bangunan tempat usaha)

b. Omzet Tahunan 1 Miliar

3) Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2008 menjelaskan

bahwa usaha mikro merupakan usaha produktif milik orang

perorangan dana tau badan usaha perorangan yang memenuhi

kriteria usaha mikro sebagaimana yang diatur dalam Undang-

Undang. Sedangkan untuk usaha kecil adalah usaha ekonomi

produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan oleh orang

perorangan maupun badan usaha yang bukan merupakan anak

perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki,

dikuasai, atau yang menjadi bagian baik langsung maupun

tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan

jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan

sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.

Bentuk UMKM dapat berupa perusahaan perseorangan,

persekutuan, seperti misalnya Firma, CV, maupun perseroan

terbatas. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada

di Kota Pontianak, masing-masing UMKM memiliki aset usaha

dan omzet yang bervariasi. Berdasarkan Undang-Undang


11

Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan

Menengah (UMKM), aset yang dimiliki dan omzet yang

dihasilkan oleh setiap UMKM dapat ditentukan dari jenis dan

kriteria UMKM, antara lain sebagai berikut:

1. Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan

maupun badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria yaitu

memiliki kriteria para pengusaha memiliki aset maksimal

Rp 50.000.000,00 dan menghasilkan omzet maksimal

Rp 300.000.000,00 pertahun.

2. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri

sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan maupun badan

usaha yang bukan anak perusahaan atau bukan cabang

perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian

langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau

usaha besar yaitu memiliki kriteria para pengusaha memiliki

aset Rp 50.000.000,00 sampai dengan Rp 500.000.000,00

dengan omzet sebesar Rp 300.000.000,00 sampai dengan Rp

2.500.000.000,00 pertahun.

3. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri

sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan maupun badan

usaha yang bukan anak perusahaan atau bukan cabang

perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian

langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau


12

usaha besar yaitu memiliki kriteria para pengusaha memiliki

aset Rp 500.000.000,00 sampai dengan Rp 10.000.000.000,00

dengan omset Rp 2.500.000.000,00 sampai dengan Rp

50.000.000.000,00 pertahun.

2. UMKM fashion

Kalimantan Barat khususnya di Pontianak selatan adalah kota yang

berhasil, banyak membuka toko pakaian fashion. Bukti nyata atas

perkembangan pesat usaha dagang di bidang fashion yaitu banyak

masayarakat membuka toko pakaian terutama di jalan Prof..Dr.M.Yamin.

Pesatnya pertumbuhan berbagai macam toko fashion mulai dari toko pakaian

muslin wanita, butik pakaian anak remaja dan dewasa, maupun pakaian

anak-anak, dan juga banyak membuka toko pakaian dibidang distro untuk

kaum pria. hingga toko agen distributor lainnya yang dapat dengan mudah

kita temuin.

Manfaat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah mempunyai

mafaat yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia

dan UMKM juga mampu mengurangi angka pengangguran di

masyarakat. Karena UMKM yang berdiri telah mampu

memperkerjakan jutaan tenaga kerja yang tadinya menjadi

pengangguran. Dan para pengusaha dapat membuka lapangan

pekerjaan.
13

2.1.3. Laporan Keuangan

1. Pengertian Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2012:7), Laporan keuangan adalah laporan yang

menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam

suatu periode tertentu.

Menurut Munawir, (2010:5) Laporan keuangan terdiri dari

neraca dan perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan ekuitas

dimana neraca menunjukkan atau menggambarkan jumlah aset,

kewajiban dan ekuitas dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu,

sedangkan perhitungan laporan laba rugi memperlihatkan hasil-hasil

yang telah dicapai oleh perusahaan serta beban yang terjadi selama

periode tertentu, dan laporan perubahan ekuitas menunjukkan sumber

dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan

ekuitas perusahaan

Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan

bahwa laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi

keuangan dan kinerja perusahaan dalam suatu periode tertentu, terdiri

dari neraca, laporan laba rugi serta perubahan ekuitas yang bertujuan

untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan dan kinerja

keuangan bagi pengguna laporan dalam pengambilan keputusan. Selain

itu laporan keuangan juga berfungsi sebgai bentuk pertanggungjawaban

pihak manajemen.
14

2. Pengguna Laporan Keuangan

Menurut Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan

Keuangan dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) paragraph ke 9

(2009), pengguna laporan keuangan meliputi investor sekarang dan

investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor

usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaga lainnya

dan masyarakat. Mereka menggunakan laporan keuangan untuk

memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda. Beberapa

kebutuhan ini meliputi:

1) Investor

Investor atau owner berkepentingan dengan informasi yang

berhubungan dengan resiko yang terkait dengan investasi modal.

Informasi tersebut akan membantu mengambil keputusan apakah

harus menambah modal, mengurangi atau menjual sahamnya.

Selain itu investor juga perlu menilai kemampuan perusahaan

membayarkan dividen/bagi hasil.

2) Karyawan

Karyawan akan tertarik dengan informasi keuangan yang terkait

dengan stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Hal ini dapat

memberikan gambaran apakah perusahaan mampu memberikan

balas jasa dan menyediakan kesempatan bekerja dan berkarir untuk

jangka waktu yang lama.


15

3) Pemberi Pinjaman

Pihak yang memberi pinjaman berkentingan dengan informasi

yang menunjukkan kemampuan perusahaan membayar hutang

beserta bunganya dengan tepat waktu. Laporan keuangan dapat

membantu mereka untuk menentukan besar plafon, bunga dan

jangka waktu yang diberikan.

4) Pemasok dan Kreditor usaha lainnya

Pihak supplier dan pemberi hutang jangka pendek lainnya

berkepentingan dengan informasi yang menunjukkan kemampuan

perusahaan membayar hutang jangka pendeknya. Informasi

tersebut akan membantu supplier untuk menentukan jumlah

piutang yang diberikan dan jangka waktunya.

5) Pelanggan

Pelanggan memerlukan informasi yang berhubungan dengan

kelangsungan perusahaan, terutama pelanggan yang melakukan

kerjasama jangka panjang. Pelanggan yang loyal membutuhkan

hubungan jangka panjang dan langgeng.

6) Pemerintah

Pemerintah berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan

aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi untuk

mengatur aktivitas perusahaan dan menetapkan kebijakan pajak.


16

7) Masyarakat

Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan

menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan

terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.

3. Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi yang

berguna untuk mengambil keputusan ekonomi. Para pemakai laporan

keuangan menggunakannya untuk meramalkan, membandingkan dan

menilai dampak keuangan yang timbul dari keputusan ekonomis yang

diambilnya. Informasi mengenai dampak keuangan yang timbul sangat

berguna bagi pemakai untuk meramalkan, membandingkan dan menilai

arus kas. Laporan keuangan akan lebih bermanfaat apabila yang

dilaporan tidak hanya aspek kuantitatif saja, tetapi mencakup

penjelasan-penjelasan lainnya yang dirasa perlu. Menurut SAK ETAP

(2009; 2) tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi

posisi keuangan, kinerja keuangan dan laporan arus kas suatu entitas

yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan

keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat

meminta laporan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu.

Dalam memenuhi tujunnya, laporan keuangan juga menunjukkan

apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship) atau

pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan

kepadanya Tujuan Laporan Keuangan menurut SAK ETAP ini sama


17

dengan tujuan laporan keuangan yang terdapat di dalam PSAK umum.

Di dalam PSAK No. 1 Paragraf ke 7 (2009), tujuan laporan keuangan

tersebut lebih dijelaskan lagi yaitu meliputi:

1) Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang

menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi

keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar

pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

2) Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi

kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namu demikian,

laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang

mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan

ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan

dari kejadian di masa lalu dan tidak diwajibkan untuk menyediakan

informasi nonkeuangan.

3) Laporan keuangan juga menunjukkan kegiatan yang telah

dilakukan manajemen (stewardship), atau pertanggungjawaban

manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau

pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka

dapat membuat keputusan ekonomi; keputusan ini mungki

mencakup, misalnya, keputusan untuk menahan atau menjual

investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk

mengangkat kembali atau mengganti manajemen.


18

4. Laporan Keuangan Menurut SAK-ETAP

a. Definisi Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyatakan bahwa

entitas tanpa akuntanbilitas public (ETAP) adalah suatu entitas yang

tidak memiliki akuntanbilitas publik signifikan dan menerbitkan

laporan keuangan untuk tujuan umum (general pupose financial

statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal

adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha,

lembaga pemerintah kredit, dan kreditur

SAK-ETAP sebagai salah satu untuk membantu perusahaan kecil

menengah dalam menyediakan pelaporan keuangan yang tetap andal

dan relevan. SAK-ETAP akan khusus digunakan untuk perusahaan

tanpa akuntabilitas publik yang signifikan. Perusahaan yang terdaftar

dalam bursa efek dan yang memiliki akuntabilitas publik signifikan

tetap harus menggunakan PSAK yang umum.

b. Tujuan Penyusunan SAK-ETAP

SAK-ETAP digunakan oleh perusahaan kecil menengah sebagai

standar akuntansi keuangan perusahaan mereka. Penerapan SAK-

ETAP lebih sederhana dibanding penerapan PSAK umum yang

mengacu pada IFRS karena SAK-ETAP mengacu pada praktik

akuntansi yang saat ini digunakan. (Dwi Martini : 2011)

SAK-ETAP memiliki 30 bab sejumlah 182 lembar yang terdiri dari

ruang lingkup, konsep dan prinsip prevasif, penyajian laporan


19

keuangan, neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas,

laporan arus kas, dan lain-lain. Di dalamnya mencakup juga standar

pelaporan akuntansi untuk masing-masing akun selayaknya SAK

umum.

c. Komponen Laporan Keuangan Menurut SAK-ETAP

Dalam Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa

Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP 2009) suatu perusahaan diwajibkan

untuk menyusun laporan keuangan yang terdiri dari:

1) Neraca

Neraca menyajikan asset, kewajiban dan ekuitas entitas pada

suatu tanggal tertentu akhir pelaporan dan minimal mencakup

pos-pos sebagai berikut :

a) Kas dan setara kas;

b) Piutang usaha dan piutang lainnya;

c) Persediaan;

d) Property investasi;

e) Asset tetap;

f) Asset tidak berwujud;

g) Utang usaha dan utang lainnya;

h) Asset dan kewajiban pajak;

i) Kewajiban diestimasi;

j) Ekuitas
20

SAK-ETAP pada nomor 4 paragraf 4 menyatakan bahwa

entitas harus menyajikan aset dan aset tidak lancar, kewajiban jangka

pendek dan kewajiban jangka panjang, sebagai suatu klafikasi yang

terpisah dalam neraca, dimana klafikasi tersebut adalah sebagai

berikut :

a) Aset

Aset adalah sumber daya yang dikuasai entitas sebagai

akibat dari peristiwa masa lalu dan darimana manfaat ekonomi di

masa depan diharapkan akan diperoleh entitas (SAK-ETAP,

2009:2.12).

Menurut warren (2005:18) asset adalah sumber daya yang

dimilki oleh perusahaan, contohnya: kas, tanah, pabrik, dan

peralatan, serta haka tau klaim property. (cari yang 2010)

Aset Lancar

SAK ETAP (2009:20) menyatakan bahwa entitas

mengklafikasikan asset sebagai asset lancar jika :

1) Diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau

digunakan, dalam jangka waktu siklus operasi normal entitas:

2) Dimiliki untuk diperdagangkan

3) Diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu 12 bulan

setelah akhir periode pelaporan; atau

4) Berupa kas atau setara kas atau setara kas, kecuali jika dibatasi

penggunaannya dari pertukaran atau digunakan untuk


21

menyelesaikan kewajiban setidaknya 12 bulan setelah akhir

periode pelaporan.

Aset tetap

SAK ETAP mendifinisikan asset tetap sebagai asset

berwujud dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau

penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan ke pihak lain,

atau untuk tujuan administrative; dan diharapkan akan

digunakan lebih dari satu periode.

b) Kewajiban

Kewajiaban merupakan kewajiban masa kini entitas yang

timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesaiannya

diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya

entitas yang mengandung manfaat ekonomi (SAK-ETAP),

2009: 2.12).

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009a: 2.17)

karakteristik esensial dari kewajiban (libility) adalah bahwa

entitas mempunyai kewajiban (obligation) masa kini untuk

bertindak atau untuk melaksanakan sesuatu dengan cara

tertentu. Kewajiban dapat berupa kewajiban hokum dan

kewajiban konstruktif. Kewajiban dapat dipaksakan menurut

hokum sebagai konsekuensi dari kontrak mengikat atau

peraturan perundangan. Kewajiban konstruktif adalah

kewajiban yang timbul dari tindakan entitas ketika :


22

Oleh praktik buku masa lalu, kebijakan yang telah

dipublikasikan atau pernyataan kini yang cukup spesifik,

entitas telah memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa

entitas telah memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa

entitas telah memberikan tanggung jawab tertentu; dan

Akibatnya, entitas telah menimbulkan ekspektasi kuat dan

sah kepada pihak lain bahwa entitas akan melaksanakan

tanggung jawab tersebut.

Penyelesaian kewajiban masa kini biasanya melibatkan

pembayaran kas, penyerahan asset lain, pemberian jasa,

penggantian kewajiban tersebut dengan kewajiban lain, atau

konversi kewajiban menjadi ekuitas. Kewajiban juga dapat

dihapuskan dengan cara lain, seperti kreditur membebaskan

atau membatalkan haknya.

Kewajiban Jangka Pendek

SAK-ETAP (2009:20) menyatakan bahwa entitas

mengklafikasikan kewajiban sebagai kewajiban jangka

pendek jika :

1) Diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu

siklus normal operasi entitas;

2) Dimiliki untuk diperdagangkan;

3) Kewajiban akan diselesaikan dalam jangka waktu 12

bulan setelah akhir periode pelaporan; atau


23

4) Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda

penyelesaian kewajiban setidaknya 12 bulan setelah

akhir periode pelaporan.

c. Ekuitas

(SAK-ETAP, 2009a.2.19). Ekuitas adalah hak sisa pada aset

suatu entitas setelah dikurangi dengan seluruh kewajibannya. Ekuitas

meliputi investasi pemilik entitas, ditambah dengan hasil atas

investasi yang diperoleh melalui operasi yang menguntungkan dan

hasil yang ditahan kembali untuk digunakan dalam operasi entitas

tersebut, dikurangi dengan penurunan atas investasi pemilik sebagai

akibat dari operasi yang tidak menguntungkan dan alokasi kepada

pemilik.

2. Laporan laba rugi

Laporan laba rugi memasukkan semua pos penghasilan beban

yang diakui dalam suatu periode kecuali SAK-ETAP

mensyaratkan lain. SAK-ETAP mengatur perlakuan berbeda

terhadap dampak koreksi atas kesalahan dan perubahan kebijakan

akuntansi yang disajikan sebagai penyesuaian terhadap periode

yang lalu dan bukan sebagai bagian dari laba atau rugi dalam

periode terjadinya perubahan (Ikatan Akuntan Indonesia, 2009a:

5.2). Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos sebagai

berikut:
24

a. Pendapatan;

b. Beban keuangan;

c. Bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan

metode ekuitas;

d. Beban pajak;

e. Laba atau rugi neto.

Pendapatan

Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dalam

pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa dan mengacu pada

beberapa istilah seperti penjualan, imbalan, bunga,

dividen, royalty, dan sewa (SAK-ETAP), 2009a,2.22)

(cari teori terbaru)

Beban

Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama

suatu periode pelaporan dalam bentuk arus keluar atau

penurunan asset, atau terjadinya kewajiban yang

mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak terkait

dengan distribusi kepada penanaman modal. (SAK-ETAP,

2009a.2.20)

SAK ETAP pada nomor 2 paragraf 23 menyatakan

bahwa beban mencakup kerugian dan beban yang timbul

dalam pelaksanaan aktivitas yang biasa.


25

a) Beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas

yang biasa meliputi, misalnya, beban pokok penjualan,

upah, dan penyusutan. Beban tersebut biasanya

berbentuk arus keluar atau berkurangnya asset seperti

kas dan setara kas, persediaan, dan ast tetap.

b) Kerugian mencerminkan pos lainnya yang memenuhi

definisi beban yang mungkin, atau mungkin tidak,

timbul dari pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa.

Ketika kerugian diakui dalam laporan laba rugi,

biasanya disajikan secara terpisah karena pengetahuan

mengenai pos tersebut berguna untuk tujusn

pengambilan keputusan ekonomi..

3. Laporan perubahan modal

Laporan perubahan modal menyajikan laba atau rugi

perusahaan untuk suatu periode, pos pendapatan dan beban yang

diakui secara langsung dalam ekuitas untuk periode tersebut,

pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan

yang diakui dalam periode tersebut, dan jumlah investasi oleh,

dan deviden dan disrtibusi lain ke pemilik ekuitas selama periode

tersebut (Ikatan Akuntan Indonesia, 2009:6.2)

4. Laporan arus kas

Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan historis

atau kas dan setara kas entitas, yang menunjukkan secara terpisah
26

perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktivitas operasi,

investasi dan pendanaan (Ikatan Akuntan Indonesia, 2009a: 7.1).

Informasi yang disajikan di dalam laporan arus kas menurut

SAK-ETAP yang dikutip oleh Ranu Agus (2011), yakni sebagai

berikut:

a. Aktivitas Operasi

b. Aktivitas Investasi

c. Aktivitas pendanaan

5. Catatan ata laporan keuangan

(Ikatan Akuntan Indonesia, 2009a:8.1) atas laporan keuangan

berisi informasi sebagai tambahan informasi yang disajikan dalam

laporan keuangan, catatan atas laporan keuangan memberikan

penjelasan naratif atau rincian jumlah yang disajikan dalam

laporan keuangan dan informasi pos-pos yang tidak memenuhi

kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

Catatan atas laporan keuangan harus:

a. Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan

keuangan dan kebijakan akuntansi tertentu.

b. Mengungkapkan informasi yang diisyaratkan dalam

SAK-ETAP tetapi tidak disajikan dalam laporan

keuangan.
27

c. Memberikan informasi tambahan yang tidak diasajikan

dalam laporan keuangan, tetapi relevan untuk memahami

laporan keuangan.

d. Pengakuan Unsur Laporan Keuangan Menurut SAK-ETAP

Menurut SAK-ETAP nomor 2 paragraf 24, pengakuan unsur

laporan keuangan merupakan proses pembentukan suatu pos dalam

neraca atau laporan laba rugi yang memenuhi definisi suatu unsur dan

memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan

pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam entitas; dan

2. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur

dengan andal.

Penjelasan pengakuan unsur laporan keuangan dalam SAK

ETAP 2009 sebagai berikut :

1) Pengakuan aset

(Ikanatan Akuntan Indonesia, 2009a:2.34), Aset diakui

dalam neraca jika kemungkinan manfaat ekonominya di

masa depan akan mengalir ke entitas dan asset tersebut

mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan

andal. Asset tidak diakui dalam neraca jika pengeluaran

telah terjadi dan manfaat ekonominya dipandang tidak

mungkin mengalir ked ala entitas setelah periode pelaporan


28

berjalan. Sebagai alternative transaksi tersebut

menumbulkan pengakuan beban dlam laporan laba rugi.

2) Pengakuan kewajiban

(Ikatan Akuntan Indonesia, 2009a:2.35) kewajiban

diakui dalam neraca jika kemungkinan pengeluaran sumber

daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan

untuk menyelesaikan kewajiban masa kini dan jumlah yang

harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.

3) Pengakuan penghasilan

Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari

pengakuan asset dan kewajiban. Penghasilan diakui dalam

laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi di masa

depan yang berkaitan dengan peningkatan asset atau

penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara

andal. (Ikatan Akuntan Indonesia, 2009a:2.36)

4) Pengakuan beban

Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari

pengakuan aset dan kewajiban. Beban diakui dalam laporan

laba rugi jika penurunan manfaat ekonomi masa depan yang

berkaitan dengan penurunan aset atau peningkatan

kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal.

(Ikatan Akuntan Indonesia, 2009a:2.37)


29

e. Pengukuran Laporan Keuangan Menurut SAK-ETAP

Menurut SAK-ETAP nomor 2 paragraf 30 menjelaskan bahwa

pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang yang digunakan entitas

untuk mengukur aset, kewajiban, penghasilan, dan beban dalam laporan

keuangan. Proses ini termasuk pemilihan dasar tertentu.

Dasar pengukuran yang umum adalah biaya historis dan nilai wajar :

1. Biaya historis. Asset adalah jumlah kas atau setara kas yang

dibayarkan atau nilai wajar dari pembayaran yang diberikan untuk

memperoleh aset pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar kas

atau setara kas yang, atau diterima atau sebesar nilai wajar dari ast

non-kas yang diterima sebagai penukar dari kewajiaban pada saat

terjadinya kewajiban.

2. Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu

aset, atau untuk menyelesaikan suatu kewajiban, antar pihak-pihak

yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan yang memadai dalam

suatu transaksi dengan wajar.

f. Penyajian Laporan Keuangan Menurut SAK-ETAP

Pada SAK-ETAP penyajian dan klafikasi pos-pos dalam laporan

keuangan antar periode harus konsisten kecuali :

1. Terjadi perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas atau

perubahan penyajian atau pengklafikasian bertujuan menghasilkan

penyajian lebih baik sesuai kriteria pemilihan dan penerapan kebijakan

akuntansi
30

2. SAK-ETAP mensyaratkan suatu perubahan penyajian. Perihal

informal komperatif, dalam SAK-ETAP nomor 3 paragraf 9

menyatakan bahwa informasi harus diungkap secara komperatif

dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK-ETAP

(termasuk informasi dalam laporan keuangan dan catatan atas laporan

keuangan). Entitas memasukkan informasi komperatif untuk informasi

naratif dan deskriptif jika relevan pemahaman laporan keuangan

periode berjalan.

Entitas harus mengidentifikasi secara jelas setiap kompenen

laporan keuangan termasuk catatan atas laporan arus kas. Jika laporan

keuangan termasuk kompenen dari laporan lain, maka laporan

keuangan harus dibedakan dari informasi lain dalam laporan tersebut.

Disamping itu, informasi berikut ini disajikan dan diulangi, bilamana

perlu pada setiap halaman laporan keuangan (Ikatan Akuntan

Indonesia, 2009a:3.16).

1) Nama entitas pelaporan dan perubahan dalam nama tersebut

sejak laporan periode terakhir;

2) Tanggal dan periode yang dicakup oleh laporan keuangan,

mana yang lebih tepat bagi setiap komponen laporan keuangan;

3) Mata uang pelaporan

4) Pembulatan angka yang digunakan dalam penyajian laporan

keuangan.
31

2.2 Penelitian Terdahulu

YUSTIRAH (2016) melakukan penelitian dengan judul Analisis Preses

Penyususnan Laporan Keuangan Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan

Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik (SAK-ETAP) Studi Kasus Pada UMKM

Di Kec. Sungai Raya Kakap Kab.Kubu Raya) penelitian ini menggunakan

penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Langkah-langkah yang

dilakukan untuk memperoleh data dan informasi adalah dengan wawancara

dan dokumentasi.

Informasi yang dihasilkan dari proses akuntansi adalah sebuah laporan

keuangan, laporan keuangan disajikan sebagai benuk pertanggungjawaban

pengelolaan keuangan bagi manajemen, san sebagai salah satu bahan dalam

pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berekepentingan. Oleh karena

itu pelaporan keuangan yang disajikan dapat memenuhi kebutuhan

penggunaan sesuai dengan kepentingannya. UMKM sebagai salah satu entitas

tanpa akuntanbilitas public yang diwajibkan untuk menyususn laporan

keuangan sesuai dengan SAK-ETAP, dengan adanya SAK-ETAP ini

diharapkan UMKM mampu melakukan pembukuan akuntansi, untuk

menyajikan laporan keuangan yang lebih informative dengan tujuan tentunya

memberikan kemudahan bagi para pengusaha UMKM untuk melakukan

pengembangan usaha. Namun, dalam implementasinya pencatatan keuangan

yang dilakukan oleh UMKM yang berada di Pontianak selatan masih jauh

dari SAK-ETAP, mereka hanya melakukan pencatatan keuangan secara

sederhana yaitu hanya mencatat jumlah pendapatan dan pengeluarannya saja,


32

bahkan ada juga UMKM yang tidak melakukan pencatatan keuangan

walaupun dalam bentuk yang sederhana.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa; Pencatatan keuangan yang

dilakukan UMKM yang berada di Kec. Sungai Raya Kakap Kab. Kubu Raya

masih jauh dari SAK-ETAP, mereka hanya melakukan pecatatan keuangan

secara sederhana yaitu dengan mencatat jumlah pengeluarannya dan jumlah

pendapatannya saja, 2). Hasil dari penyusunan laporan keuangan UMKM

yang berada di Kec. Sungai Raya Kakap Kab. Kubu Raya bersadarkan SAK-

ETAP berupa laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Modal, Neraca, dan

Arus kas.

Arlyndo Zackaria (2016) Penelitian ini berjudul Analisis Proses

Akuntansi pada Percetakan Harapan Masa Kota Singkawang. Penelitian ini

dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui proses akuntansi yang

dilaksanakan pada Percetakan Harapan Masa dan untuk mengetahui faktor-

faktor yang mempengaruhi belum terlaksananya proses akuntansi pada

Percetakan Harapan Masa.

Penelitian ini berbentuk deskriptif analitis yaitu penelitian yang bertujuan

untuk mengetahui dan menggambarkan fakta yang terjadi dilapangan

khususnya tentang penerapan proses akuntansi pada Percetakan Harapan

Masa. Teknik pengumpulan data dilakuakan dengan observasi, wawancara

serta studi dokumentasi dan kuesioner.


33

Hasil penelitian menunjukan bahwa proses akuntansi pada pada

Percetakan Harapan Masa Kota Singkawang belum dilaksanakan sesuai

dengan standar akuntansi keuangan yang sesungguhnya. Belum

terlaksananya penyusunan laporan keuangan pada Percetakan Harapan Masa

Kota Singkawang dikarenakan pengelolaan yang dilakukan secara

kekeluargaan sehingga mereka tidak memerlukan penyusunan laporan

keuangan.

2.3 Kerangka Penelitian

Perusahaan dagang khususnya toko pakaian WAWA shop merupakan

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu unit usaha

yang dikelola oleh kelompok masyarakat maupun keluarga. UMKM

mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional.

karena selain memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di

Indonesia, UMKM juga dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang

besar.

Oleh karena itu UMKM perlu menyusun laporan keuangan yang sesuai

dengan SAK-ETAP agar pemilik usaha dapat melihat dan memantau

perkembangan dari usahanya, mengetahui posisi keuangan, menghitung pajak

serta sebagai persyaratan dalam pengajuan kredit untuk penambahan modal

usaha agar usahanya dapat berkembang. Untuk membantu dalam memahami

proses penyusunan laporan keuangan berdasarkan SAK-ETAP pada UMKM

yang berada di Kalimantan Barat Pontianak Selatan di perlukan suatu

kerangka pemikiran. Dari landasan teori yang telah diuraikan diatas kemudian
34

digambarkan dalam kerangka teoritis yang merupakan alur pemikiran dari

penelitian yang disusun sebagai berikut.

Gambar 2.1
Skema Kerangka Pemikiran

PROSES AKUNTANSI : UMKM

Bukti Transaksi

Jurnal

Buku Besar

Laporan
Keuangan