Anda di halaman 1dari 12

Skenario A Blok 8

Ny. Zubaedah, 48 tahun, berobat di dokter keluarga dengan keluhan utama lemah keempat anggota gerak, dialami sejak 6
bulan sacara perlahan-lahan. Awalnya penderita merasa kesemutan pada lengan bawah dan tungkai bawah, susah tidur akibat
gangguan tersebut. Keluhan ini bertambah berat sehingga mengenai kedua lengan dan bila jongkok sulit untuk berdiri. Dia juga
mengeluh penglihatan kabur dan tidak dikoreksi dengan kacamata. Pola makan Ny. Zubaedah selama ini cukup dan seimbang.

Riwayat kencing manis diderita sejak 12 tahun yang lalu, tapi berobat tidak teratur. Riwayat darah tinggi sejak 5 tahun yang
lalu. Riwayat minum obat-obatan disangkal. Riwayat trauma/jatuh disangkal.

Pemeriksaan fisik :

Kesadaran : compos mentis

Status gizi : baik, IMT 19,5

TD : 160/95 mmHg, N : 84 x/menit, RR : 20x/menit, Suhu 37 C

Pemeriksaan Khusus :

Visus 5/300

Pemeriksaan neurologi didapat : kekuatan pada 4 pada keempat anggora gerak, refleks fisiologis menurun pada kedua lengan dan
nnegatif pada tungkai bawah, gangguan sensibilitas berpola sarung tangan & kaos kaki

Pemeriksaan Laboratorium :

GDS: 280 mg%, ureum: 48 mg/dl, kreatinin: 1,2 mg/dl

Fungsi hati normal.

I. Identifikasi Masalah
1. Ny. Zubaedah, 48 tahun, berobat di dokter keluarga dengan keluhan utama lemah keempat anggota gerak, dialami
sejak 6 bulan sacara perlahan-lahan.
2. Awalnya Ny. Zubaedah merasa kesemutan pada lengan bawah dan tungkai bawah, susah tidur akibat gangguan
tersebut. Keluhan ini bertambah berat sehingga mengenai kedua lengan dan bila jongkok sulit untuk berdiri.
3. Pola makan Ny. Zubaedah selama ini cukup dan seimbang
4. Dia juga mengeluh penglihatan kabur dan tidak dikoreksi dengan kacamata.
5. Riwayat penderita :
Kencing manis di derita sejak 12 tahun,berobat tidak teratur
Darah tinggi sejak 5 tahun yang lalu
Minum obat-obatan disangkal
Trauma/jatuh disangkal
6. Pemeriksaan khusus :
Visus : 5/300
Pemeriksaan neurologi : kekuatan 4 pada keempat anggota gerak, refleks fisiologis menurun pada kedua lengan
dan negatif pada tungkai bawah, gangguan sensibilitas berpola sarung tangan & kaos kaki.
7. Pemeriksaan Laboratorium :
GDS : 280 MG%, ureum : 48 mg%, kreatinin : 1,2 mg/dl

II. Prioritas Masalah

III. Analisis Masalah


1. Ny. Zubaedah, 48 tahun, berobat di dokter keluarga dengan keluhan utama lemah keempat anggota gerak, dialami
sejak 6 bulan sacara perlahan-lahan.
a. Organ atau system apa saja yang terlibat pada keluhan diatas ?
Jawab :
Sistem yang terganggu adalah sistem saraf, system endokrin, sistem muskuloskeletal dan sistem vaskular.
Dimana sistem muskuloskeletal yang mengalami keadaan lemah yang dapat diakibatkan oleh rusaknya sistem
saraf ataupun vaskularisasi yang kurang baik.
b. Bagaimana hubungan usia dengan kasus diatas ?
Jawab :
Umur :
Ny. Zubaedah dengan umur 48 tahun bisa dikategorikan wanita lanjut usia, sehingga ia mengalami penurunan
kekuatan otot. Ditambah lagi Ny. Zubaedah memiliki riwayat kencing manis dan hipertensi selama bertahun-
tahun yang akan menyebabkan penurunan kekuatan tonus otot.
proses penuan degeneratif penyumbatan pembuluh darah sirkulasi O2 dan nutrisi terganggu asupan
untuk syaraf terganggu terganggunya gerak pada keempat anggota gerak.

Ny.Zubaedah termasuk dalam Tetraparese (kelemahan otot pada yang disebabkan hilang nya sebagian fungsi
motorik pada keempat anggota gerak) dan termasuk dalam Tetraparesis Flaksid terjadi karena kerusakan yang
mengenai lower motor neuron (LMN), sehingga menyebabkan penurunan tonus atot atau hipotoni dan terjadi
lesi perifer.

Jenis kelamin :
wania penimbunan lemak sekitar 2-25 % sedangkan laki-laki 15-20% sehingga memperparah penyumbatan
pembuluh darah yang mengakibatkan kurangnya asupan oksigen dan nutrisi ke syaraf yang akan menggangaggu
gerakan keempat anggota gerak.
c. Apa makna keluhan sejak 6 bulan secara perlahan lahan ?
Jawab :
Lemah anggota gerak ini datang secara perlahan-lahan dikarenakan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh
penyakit yang diderita Ny.Zubaidah ini memang perlu waktu yang lama baru menimbulkan gejala seperti lemah
yang secara perlahan-lahan, tidak dengan waktu yang cepat.
Diabetes Melitus yang telah lama dan tidak terkontrol dapat menyebabkan hiperglikemia, Hiperglikemia ini
akan menyebabkan mitokondria rusak, akan mengaktivasi protein kinase C yang selanjutnya akan menekan
enzim Na-K-ATP ase, meningkatkan Na Intrasellular, hal ini menghambat mioinositol masuk sel sehingga
menghambat tranduksi sinyal pada saraf(neurotransmitter), reticulum sarcoplasma tidak akan mengeluarkan
kalsium, yang pada akhirnya akan menghambat kontraksi otot.
d. Apa saja etiologi dari lemahnya keempat anggota gerak ?
Jawab :
- Kerusakan saraf CNS cedera atau infeksi
- Kondisi herediter tertentu- stroke
- Atrofi otot
- Metabolik
- Neoplasma
- Vaskuler
- Stroke
- Cedera
- Kelainan di otot, tendon, tulang, sendi

2. Awalnya Ny. Zubaedah merasa kesemutan pada lengan bawah dan tungkai bawah, susah tidur akibat gangguan
tersebut. Keluhan ini bertambah berat sehingga mengenai kedua lengan dan bila jongkok sulit untuk berdiri.
a. Apa makna kesemutan dan susah tidur pada kasus ini ?
Jawab :
Ny. Zubaedah termasuk kategori lansia yang dapat mengalami disfungsi neuromuskular yang berkaitan
dengan Restless Legs Syndrome (RLS) dimana perasaan tidak nyaman jika dalam posisi berbaring atau duduk.
Bila dalam keadaan bergerak merasa seperti kesemutan, geli, terbakar, dan sakit. Dan biasanya timbul pada
penderita DM, gagal ginjal, diabetes, anemia kronik, dan gangguan saraf perifer.
Kesemutan (parestesia) membuat rasa nyeri atau gangguan gerak pada tangan dan kaki serta manifestasi
kesemutan terjadi pada malam hari sehingga Ny. Zubaedah mengalami susah tidur karena sensari nyeri tersebut
b. Bagaimana mekanisme kesemutan dan susah tidur
Jawab :
Kesemutan :
Diabetes Melitus selama 12 tahun dan tidak berobat secara teratur hiperglikemia berkepanjangan aktivitas
jalur poliol meningkat (glukosa diubah menjadi sorbitol oleh bantuan enzim aldose reduktase, lalu sorbitol
diubah menjadi fruktosa oleh bantuan enzim sorbitol dehidrogenase) penimbunan sorbitor dan fruktosa di sel
saraf mionositol terhambat masuk dalam sel saraf neuropati perubahan biokimia dalam jaringan saraf
kegiatan metabolik sel-sel Schwann terganggu hilangnya akson kecepatan konduksi motorik akan
berkurang pada tahap dini perjalanan neuropati timbul nyeri dan kesemutan (parestesia).

Susah tidur :
Aliran arah ke syaraf menurun hipoksia syaraf kesemutan (sering terjadi pada malamhari) susah tidur.
c. Apa makna keluhan bertambah berat pada kasus ini
Jawab :
Hiperglikemia yang berkepanjangan aktivasi jalur poliol meningkat glukosa diubah menjadi sorbitol dan
fruktosa akumulasi sorbitol dan fruktosa dalam jaringan saraf mioinositol terhambat masuk ke saraf
aktivasi Protein Kinase C (PKC) penurunan Na-K-ATP-ase menurun Na intraseluler berlebih
gangguan transduksi sinyal pada saraf.
Dalam hal ini, penjalaran penyakit dilakukan secara semetris, dimulai dari bagian distal dari keempat
ekstremitas, kemudian meneruskan kebagian r.genu, sehingga mengakibatkan ketidakmampuan kontraksi otot
ketika mau berdiri.

3. Pola makan Ny. Zubaedah selama ini cukup dan seimbang


a. Kekurangan vitamin apa yang dapat menyebabkan gejala polineuropati ?
Jawab :
Kekurangan vitamin B2
Suplay vitamin B2 sangat mempengaruhi kerja saraf, vitamin B berfungsi melindungi dan meregenerasi saraf.
Vitamin B2 penting dalam pemeliharaan kesehatan kulit, mata, selubungv saraf, otot, dan tulang
b. Bagaimana mekanisme defisiensi vitamin di atas terhadap polineuropati ?
Jawab :
Defisiensi (kekurangan) vitamin B2 akan menimbulkan gejala gejala klinis seperti insomnia, anemia, pusing,
depresi, lebih sensitive terhadap cahaya, mata merah, gatal dan perih, penglihatan kabur, katarak, radang lidah,
dst.
c. Bagaimana pola makan yang seharusnya bagi penderita Diabetes Melitus ?
Jawab :
- Mengatur jadwal makan. Jadwal makan yang dianjurkan bagi penderita diabetes adalah 6 x makan dalam
sehari. Dengan ketentuan 3x makan besar dan 3 kali makan kecil. Hal ini dimaksudkan agar lambung tidak
kosong dan asupan gula dalam tubuh stabil tidak melonjak drastis dan tidak juga turun sangat rendah.
- Jumlah (porsi) makan. Prinsip yang harus dipegang dalam mengatur porsi makanan ini adalah porsi kecil
dan sering. Maksudnya, porsi makanan yang dikonsumsi tidak perlu banyak, namun harus sering. Oleh
karena itu, jadwal makan di atur sedemikian rupa hingga enam kali dalam satu hari.
- Jenis Makan. Pemilihan jenis makanan penyakit diabetes ini berkaitan dengan naik turunnya kadar gula
darah. Karena asupan gula ke dalam tubuh berasal dari makanan yang dikonsumsi. Indeks glikemik adalah
angka yang menunjukkan kecepatan makanan dalam meningkatkan/menaikkan kadar gula dalam darah.
Semakin tinggi indeks glikemik maka kenaikan gula darah setelah mengkonsumsi makanan semakin cepat.

4. Dia juga mengeluh penglihatan kabur dan tidak dikoreksi dengan kacamata.
a. Bagian apa dari organ mata yang terganggu ?
Jawab :
Kerusakan syaraf pada nervus optikus
Kerusakan syaraf pada nervus okulomotorius
Kerusakan syaraf pada nervus abducens

Pada kasus ini syaraf yang terganggu adalah nervus optikus

b. Bagaimana mekanisme keluhan tersebut ?


Jawab :

Hiperglikemi berkepanjangan terjadinya peningkatan aktivitas jalur poliol, sintesis advance glycosilation end
products (AGEs), pembentukan radikal bebas dan aktivasi protein kinase C (PKC). Aktivasi berbagai jalur
tersebut berujung pada kurangnya vasodilatasi aliran darah ke saraf menurun dan bersama dengan
rendahnya mioinositol dalam sel neurodiabetik. Neurodiabetik ini kelainan pada saraf.

Proses kejadian ND berawal dari hiperglikemia berkepanjangan yang berakibat terjadinya peningkatan
aktivitas jalur poliol, sintesis advance glycosilation end products (AGEs), pembentukan radikal bebas dan
aktivasi protein kinase C (PKC). Aktivasi berbagai jalur tersebut berujung pada kurangnya vasodilatasi,
sehingga aliran darah ke saraf menurun dan bersama rendahnya mionisitol dalam sel terjadilah ND. Berbagai
penelitian membuktikan bahwa kejadian ND berhubungan sangat kuat dengan lama dan beratnya DM.
c. Apa saja yang menyebabkan penglihatan kabur?
Jawab :
1. Diabetes militus
Gangguan karena diabetes biasanya menyebabkan lensa mata keruh, kekentalan bola mata yang berubah-
ubah dimana penderita mengalami perubahan ukuran yang cukup drastis dalam tempo atau waktu yang
cukup cepat.
2. Genetik
3. Uveitis (radang pada lapisan dalam mata)
4. Infeksi
5. Edema
6. Umur
7. Kekurangan vitamin B
d. Apakah ada hubungan antara penglihatan kabur dengan keluhan utama ?
Jawab :
Hubungan langsung antara penglihatan kabur dengan keluhan utama (lemahnya keempat anggota gerak) tidak
ada. Tetapi penglihatan kabur dan keluhan utama sama-sama merupakan komplikasi dari riwayat DM Ny.
Zubaedah yang telah berlangsung selama 12 tahun.
e. bagaimana anatomi dan fisiologi mata?
Jawab :
Secara structural anatomis, bola mata berdiameter 2,5 cm dimana 5/6 bagiannya terbenam dalam rongga mata,
dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar.

1. Sklera : Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat melekatnya bola mata
2. Otot-otot : Otot-otot yang melekat pada mata :
a. muskulus rektus superior : menggerakan mata ke atas
b. muskulus rektus inferior : mengerakan mata ke bawah
3. Kornea : memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya
4. Badan Siliaris : Menyokong lensa dan mengandung otot yang memungkinkan lensa untuk beroakomodasi,
kemudian berfungsijuga untuk mengsekreskan aqueus humor
5. Iris : Mengendalikan cahaya yang masuk ke mata melalui pupil, mengandung pigmen.
6. Lensa : Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa
7. Bintik kuning (Fovea) : Bagian retina yang mengandung sel kerucut
8. Bintik buta : Daerah syaraf optic meninggalkan bagian dalam bola mata
9. Vitreous humor : Menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata
10. Aquous humor : Menjaga bentuk kantong bola mata

5. Riwayat penderita :
Kencing manis di derita sejak 12 tahun,berobat tidak teratur
Darah tinggi sejak 5 tahun yang lalu
Minum obat-obatan disangkal
Trauma/jatuh disangkal
a. Apa yang disebut dengan kencing manis dan darah tinggi ?
Jawab :
Kencing manis (Diabetes mellitus)
Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen
dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Jika telah berkembang penuh secara klinis,
maka diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia puasa dan postpradial, aterosklerotik dan penyakit
vaskular mikroangiopati dan neuropati. Manifestasi klinis hiperglikemia biasanya sudah bertahun-tahun
mendahului timbulnya kelainan klinis dari vaskularnya. Pasien dengan kelainan toleransi glukosa ringan
(gangguan glukosa puasa dan gangguan toleransi glukosa) dapat tetap berisiko mengalami komplikasi
metabolik diabetes.
Klasifikasi diabetes militus yang diperkenalkan oleh National Diabetes Data Group of The National
Institutes of Health, berdasarkan pengetahuan muktahir mengenai sindrom diabetes dan gangguan toleransi
glukosa. Berikut adalah klasifikasi diabetes melitus, yaitu:
1) Tipe 1 (tergantung insulin)
Diabetes militus tipe 1 disebabkan kerusakan autoimun produksi insulin pada sel beta pankreas,
sehingga kekurangan insulin menurun sangat cepat sampai akhirnya tidak ada insulin lagi yang
disekresi. Karena itu substitusi insulin tidak dapat dielakan (disebut diabetes yang tergantung insulin).
2) Tipe 2 (tidak tergantung insulin)
Diabetes melitus tipe 2 merupakan tipe diabetes yang lebih umum, lebih banyak penderitanya
dibandingkan diabetes melitus tipe 1. Penderita diabetes melitus tipe 2 mencapai 90-95 % dari
keseluruhan populasi penderita diabetes. Diabetes melitus tipe 2 sering terjadi pada usia di atas 45
tahun, tetapi akhir-akhir ini penderita diabetes melitus tipe 2 di kalangan remaja dan anak-anak
populasinya meningkat. Diabetes melitus tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya insulin, tetapi
karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon insulin secara normal. Keadaan ini
lazim disebut resistensi insulin. Obesitas atau kegemukan sering dikaitkan pada penderita diabetes
melitus tipe 2.

Darah tinggi (Hipertensi)


Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg. Hipertensi diklasifikasikan
atas hipertensi primer (esensial) (90-95%) dan hipertensi sekunder (5-10%). Dikatakan hipertensi primer
bila tidak ditemukan penyebab dari peningkatan tekanan darah tersebut, sedangkan hipertensi sekunder
disebabkan oleh penyakit/keadaan seperti feokromositoma, hiperaldosteronisme primer (sindroma Conn),
sindroma Cushing, penyakit parenkim ginjal dan renovaskuler, serta akibat obat (Bakri, 2008).
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa
terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 seperti yang terlihat
pada tabel 1 dibawah (Gray, et al. 2005).
Klasifikasi Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Tekanan Darah (mmHg) (mmHg)

Normal < 120 < 80

Prahipertensi 120-139 80-89

Hipertensi derajat 140-159 90-99


1

Hipertensi derajat > 160 > 100


2

The Joint National Community on Preventation, Detection evaluation and treatment of High
Blood Preassure dari Amerika Serikat dan badan dunia WHO dengan International Society of Hipertention
membuat definisi hipertensi yaitu apabila tekanan darah seseorang tekanan sistoliknya 140 mmHg atau
lebih atau tekanan diastoliknya 90 mmHg atau lebih atau sedang memakai obat anti hipertensi. Pada anak-
anak, definisi hipertensi yaitu apabila tekanan darah lebih dari 95 persentil dilihat dari umur, jenis kelamin,
dan tinggi badan yang diukur sekurang-kurangnya tiga kali pada pengukuran yang terpisah (Bakri, 2008).

b. Bagaimana mekanisme terjadinya kencing manis dan darah tinggi?


Jawab :

Diabetes Melitus (kencing manis) :


Normalnya,intake glukosa ke dalam tubuh diserap dalam aliran darah dan diedarkan ke sel-sel di dalam
tubuh.Namun dalam keadaan terjadi resistensi insulin,maka insulin tidak bekerjadengan
normal, maka sel-sel di dalam tubuh tidak terbuka dan glukosa tidak bisa masuk ke dalam
sel dan akhirnya terkumpul da lam darah.
K a d a r g l u k o s a d a r a h d i a t a s 1 0 m m o l p e r l i t e r merupakan kondisi di atas
ambang serap ginjal.
Apabila kadar glukosa dalamdarah berlebihan, maka sebagian glukosa kemudian dibuang
bersama urin.
Peristiwa terbuangnya glukosa bersama-sama urin tersebut dikenal dengan istilah kencing
manis.
Hipertensi :
Hiperglikemi berkepanjangan aktivitas jalur poliol meningkat, produksi radikal bebas oksidatif/ reactive
oxygen spesies (ROS) terangsang kerusakan endotel vaskular & menetralisasi NO vasodilatasi
mikrovaskuler terhalang aliran darah sedikit karena terjadi vasokontriksi tekanan darah tinggi (
hipertensi)

c. Apa hubungan riwayat kencing manis sejak 12 tahun yang lalu dan riwayat hipertensi sejak 5 tahun yang lalu
terhadap keluhan pada kasus ?
Jawab :
Hubungan kencing manis (diabetes mellitus) dengan keluhan yang diderita yaitu:
Dari hiperglikemi berkepanjangan yang berakibat terjadinya peningkatan aktivitas jalur poliol, sintesis advance
glycosilation end products (AGEs), pembentukan radikal bebas dan aktivasi protein kinase C (PKC). Aktivasi
berbagai jalur tersebut berujung pada kurangnya vasodilatasi sehingga aliran darah kesaraf menurun dan
bersama dengan rendahnya mioinositol dalam sel maka terjadilah neurodiabetik. Neurodiabetik ini
menyebabkan kelainan pada saraf.
Riwayat kencing manis dan hipertensi merupakan faktor resiko dari polineuropati diabetik dengan gejala-gejala
seperi pada kasus ini.
d. Obat obat apa saja yang ada hubungan dengan keluhan pada kasus ini (polineuropati) ?
Jawab :

Obat DM
a. Meningkatkan jumlah insulin
b. Sulfonilurea (glipizide GITS, glibenclamide, dsb.)
c. Meglitinide (repaglinide, nateglinide)
d. Insulin injeks
e. Meningkatkan sensitivitas insulin
f. Biguanid/metformin
g. Thiazolidinedione (pioglitazone, rosiglitazone)
h. Memengaruhi penyerapan makanan
i. Acarbose
j. Hati-hati risiko hipoglikemia berikan glukosa oral (minuman manis atau permen)
e. Apa dampak kencing manis yang tidak di obati secara teratur?
Jawab :
Akan terjadi komplikasi Diabetes Melitus apabila tidak diobati secara teratur seperti makroangiopati dan
mikroangiopati (retinopati diabetik, nefropati diabetik dan neuropati diabetik)

6. Pemeriksaan khusus :
Visus : 5/300
Pemeriksaan neurologi : kekuatan 4 pada keempat anggota gerak, refleks fisiologis menurun pada kedua lengan
dan negatif pada tungkai bawah, gangguan sensibilitas berpola sarung tangan & kaos kaki.
a. Apa interpretasi visus 5/300 ?
Jawab :
Pada mata normal di pasang jarak 300 m, sedangkan pasien hanya dapat melihat pada jarak 5 m. Hal ini
menunjukkan bahwa retina pada mata tersebut abnormal/retinopati
b. Apa kemungkinan penyebab penurunan visus pada kasus ini ?
Jawab :
Retina abnormal / retinopati karena diabetes mellitus telah menyerang saraf-saraf ekstraokuler sehingga
mengalami paralisis. Saraf yang mempersarafi okulomotor yang mempersarafi otot lurik m. Levator palpebrae
superior dan otot polos yang berhubungan dengan akomodasi, yaitu m. Sphincter pupillae dan m. Cilliaris
sehingga mmenyebabkan mata tidak bisa bergerak ke segala arah hanya bisa melihat secara lateral yang di kenal
sebagai strabismus externus.
c. Apa makna kekuatan 4 pada keempat anggota gerak, refleks fisiologi menurun pada kedua lengan dan negative
pada tungkai bawah ?
Jawab :

Kekuatan 4 pada anggota gerak :disamping dapat melawangaya berat,ia dapat pula mengatasi sedikit
tahanan yangdiberikanRefleks fisiologis menurun pada kedua lengan (tertraparsis).
negatif pada tungkai bawah:negatif artinya tidak ada refleks sama sekali (tipe flaksid).
Gangguan sensibilitas berpola sarung tangan dan kaos kaki;kaki dan tangan terasa tebal seolah memakai
kaos kaki sehingga kepekaan berkurang.

d. Apa penyebab tetraparesis tipe flaksid ?


Jawab :
Tetraparese flaksid terjadi karena kerusakan yang mengenai lower motor neuron (LMN), sehingga
menyebabkan penurunan tonus atot atau hipotoni dan terjadi lesi perifer

e. Apa makna gangguan sensibilitas berpola sarung tangan dan kaos kaki ?
Jawab :
Gangguan sensibilitas berpola sarung tangan dan kaos kaki;kaki dan tangan terasa tebal seolah memakai kaos
kakisehingga kepekaan berkurang.

Mekanisme
Bermula dari hiperglikemia yang berkepanjangan, hiperglikemia yang persisten menyebabkan jalur poliol
meningkat, dimana terjadi aktivasi enzim aldose reduktase , yang merubah glukosa menjadi sorbitol ,yang
kemudian di metabolisasi oleh sorbitol dehidroginase menjadi fruktosa.akumulasi sorbitol dalam sel syaraf
menyebabkankeadaan hipertonik intraseluler sehingga menyebabkan edemsyaraf. Penurunan mioinositol dan
akumulasi sorbitol secaralangsung menimbulkan stress osmotik yang akan merusak mitokondria dan akan
menstimulasi protein kinase C (PKC).aktivasi PKC ini akan menekan fungsi Na-K-ATP ase,sehingga kadar
Na intraselular menjadi berlebihan yangmengakibatkan terhambatnya mioinositol masuk ke dalam selsyaraf
sehingga terjadi gangguan transduksi sinyal pada syaraf hal inilah yang menyebabkan Ny. Zubaedah mengalami
gangguan sensibilitas dan motorik.

7. GDS : 280 mg %, ureum : 48 mg %, kreatinin : 1,2 mg/dl


a. Apa interpretasi GDS : 280 mg %
Jawab :
GDS
Interpretasi: GDS normal 140- 200 mg% jadi dalam kasus ini Ny. Zubaedah mengalami hiperglikemia
dengan GDS 280 mg%.
Mekanisme: Keerbatasan jumlah insulin /kurang efektifnya keja insulin metabolisme glukosadalam darah
terganggu penumpukan glukosa dalam darah
Ureum
Interpretasi: kadar ureum normal 15-40 mg/ dL jadi dalam kasus menglami azotemia dengan kadar ureum
48mg/ dL.
Mekanisme: Metabolisme yang menggunakan lemak dalam tubuh (lipolisis) menghasilkan hasil sampingan
benda keton yang kemudian akan diubah menjadi ureum sehingga kadar ureum meningkat.
Kreatinin
Interpretasi: kadar normal kreatinin adalah 0,7- 1,5 mg/ dL jadi dalam kasus ini kadar kreatinin masih
normal yaitu 1,2 mg/dL.

8. Gangguan apa yang mungkin terjadi pada kasus ini?


Jawab :
- Polineuropati Diabetik
- Sindroma Guilane Barre
- Miopati

9. Data tambahan apa lagi yang harus dibutuhkan untuk memastikan penyebab gangguan ini ?
Jawab :
Laboratorium klinik
Memeriksa kadar vitamin B Ny. Zubaedah, karena seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa vitamin b sangat
berpengaruh dalam kerja saraf. Dan apabila terjadi defisiensi vitamin B maka akan timbul gejala yang salah
satunya dialami Ny. Zubaedah (pengkihatan kabur, lemah anggota gerak)
Neurologifisiologi
ENMG (Elektroneuromiografi)
ENMG merupakan suatu pemeriksaan yang non-invasi dan dipergunakan untuk memeriksa keadaan saraf
perifer dan otot. Dan merupakan pelengkap dari pemeriksaan klinis neurologis maupun pemeriksaan penunjang
lain (mis. MRI), sehingga dari hasil-hasil pemeriksaan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan.
Jangkauan pemeriksaan ENMG adalah sesuai dengan gangguan Lower Moto Neuron (LMN) yang meliputi
cornu anterior, radiks, pleksus, saraf perifer, paut saraf otot, dan otot.
10. Bagaimana mengatasinya secara komprehensif ? (Tatalaksana)
Jawab :
a. Penanganan terhadap diabetes mellitus
langkah awal adalah memperbaiki metabolism penerita DM dan biasanya dengan perbaikan metabolic dan
pengendalian hiperglikemia, maka keluhan neuropati dapat berkurang
- Terapi DM non farmako :
terapi gizi medis meliputi menurunkan BB, tekanan darah, kadar glukosa, kemudian memperbaiki jumlah
koagulasi darah dan profil lipid.
Mengatur jenis bahan makanan dan perhitungan jumlah kalori olah raga.
- Terapi DM farmako : asetoheksamid, kloropopamid, tolazamid,tolbutamid, gliburide, glipizid, glibornurid.
b. Penanganan neuropati diabetika berdasarkan etiopatofisiologi
sebaiknya semua faktor risiko harus dihilangkan atau setidaknya dikurangi, misalnya menghindari alcohol, diet
cukup protein dan pembatasan karbohidrat dan kalori. Pemberian vitamin B1 dosis tinggi sering digunakan,
namun demikian bukti ilmiah masih dikontroversial
c. Penanganan terhadap keluhan
nyeri seringkali menjadi keluhan utama. Untuk ini dapat diberikan analgesic, dan bila perlu dapat ditambahkan
antidepresan dan /atau karbamazepin. Untuk gastroparesis dan keluhan esophagus dapat diberikan
metoklopramida. Pada gustatory sweating dapat diberikan obat antikolinergik

11. Apa yang akan terjadi bila keadaan ini tidak diatasi secara komprehensif ? (Komplikasi)
Jawab :
infeksi tulang
kematian jaringan
charcot joint ( perusakan sendi karena kerusakan saraf )
Retinopati, kebutaan
Hipertensi
Jantung koroner
Stroke
Abnormalitas pada kaki
Disfungsi seksual
Neuropati
Ulkus
12. Bagaimana KDU pada kasus ini ?
Jawab :
3a. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang
di minta oleh dokter (misalnya: pemeriksaan laboratorium sederhana/ X-ray). Dokter dapat memutuskan dan
memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus yang gawat darurat).

13. Bagaimana prognosis pada kasus ini ?


Jawab :

Madu mengandung obat bagi manusia terutama pada penderita Diabetes Militus sesuai firman Allah SWT didalam
Al-Quran :

Pandangan Islam :

Artinya :

Kemudian makanlah dari tiap-tiap buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan . Dari perut
lebah itu ke luar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang memikirkan.(QS
An-Nahl: 68-69)

IV. Kesimpulan
Ny. Zubaedah, 48 tahun, mengalami polineuropati dan tetraparesis tipe flaksid akibat komplikasi kencing manis

V. Kerangka Konsep
Faktor penyebab (kencing manis, usia) hipertensi gangguan sirkulasi darah ploneuropati (gangguan
sensorik : kesemutan, motorik : lemah, otonom : susah tidur)