Anda di halaman 1dari 16

TUGAS FISIOLOGI TUMBUHAN

1. Apakah biji saat masa dormansi atau istirahat dapat berespirasi? Jelaskan!

Biji gandum sendiri, yang mana terdiri dari 90% semua biji yang dibudidayakan.
Perkecambahan termasuk proses dimana dimulainya dengan proses imbibisi air oleh dorman,
biasanya kering, biji dan berakhir dengan proses elongasi dari axis embrionik (H. Lambers et
al., 2008). Biji memiliki cadangan makanan yang membuatnya independen secara luas dari
sumber daya lingkungan untuk bertahan hidup. Perubahan drastis tersebut dalam proses
autotropik yang bergantung kepada suplai cahaya, CO2, air dan nutrisi anorganik dari
sekelilingnya untuk pertumbuhan autotropik. Perkecambahan adalah proses ketika bagian dari
embrio, biasanya radikula, memasuki kulit biji dan mungkin berproses dengan air dan O2 dan
pada temperatur yang stabil. Dormansi didefinisikan sebagai keadaan dari biji dimana tidak
memperbolehkan terjadinya perkecambahan, walaupun kondisi untuk berkecambah sudah
terpenuhi (Tempertur, air dan O2). Dormansi secar efektif menunda proses perkecambahan.
Keadaan diperlukan untuk memecah dormansi dan mengijinkan permintaan akan
perkecambahan sering agak berbeda dari yang keadaan yang menguntungkan untuk tumbuh
atau bertahan hidup dari tingkat kehidupan autotropik dari tanaman (H. Lambers et al., 2008).
Proses Perkecambahan Biji (Jann dan Amen dalam Khan, 1934)
1. Penyerapan air * Masuk air secara imbibisi dan osmosis * Kulit biji * Pengembangan
embrio dan endosperm * Kulit biji pecah, radikal keluar
2. Pencernaan Merupakan proses terjadinya pemecahan zat atau senyawa bermolekul besar
dan kompleks menjadi senyawa bermolekul lebih kecil, sederhana, larut dalam air dan
dapat diangkut melalui membran dan dinding sel. Makanan cadangan utama pada biji yaitu
pati, hemiselulosa, lemak, protein: * tidak larut dalam air atau berupa senyawa koloid *
terdapat dalam jumlah besar pada endosperm dan kotiledon * merupakan senyawa
kompleks bermolekul besar * tidak dapat diangkut (immobile) ke daerah yang memerlukan
embrionikaksis Proses pencenaan dibantu oleh enzim * senyawa organik yang diproduksi
oleh sel hidup * berupa protein * merupakan katalisator organik * fungsi pokok: * enzim
amilase merubah pati dan hemiselulosa menjadi gula * enzim protease merubah protein
menjadi asam amino * enzim lipase merubah lemak menjadi asam lemak dan gliserin *
aktivasi enzim dilakukan oleh air setelah terjadinya imbibisi * enzim yang telah diaktivasi
masuk ke dalam endosperm atau kotiledon untuk mencerna cadangan makanan
3. Pengangkutan zat makanan Hasil pencernaan diangkut dari jaringan penyimpanan
makanan menuju titik-titik tumbuh pada embrionik axis, radicle dan plumulae. Biji belum
punya jaringan pengangkut, sehingga pengangkutan dilakukan secara difusi atau osmosis
dari satu sel hidup ke sel hidup lainnya
4. Asimilasi Merupakan tahapan terakhir dalam penggunaan cadangan makanan. Merupakan
proses pembangunan kembali, misalnya protein yang sudah dirombak menjadi asam amino
disusun kembali menjadi protein baru. Tenaga atau energi berasal dari proses pernapasan
5. Pernafasan (Respirasi) Merupakan proses perombakan makanan (karbohidrat) menjadi
senyawa lebih sederhana dengan membebaskan sejumlah tenaga. Pertama kali terjadi pada
embrionik axis setelah cadangan habis baru beralih ke endosperm atau kotiledon. Aktivasi
respirasi tertinggi adalah pada saat radicle menembus kulit.
6. Pertumbuhan Ada dua bentuk pertumbuhan embrionik axis: Pembesaran sel-sel yang sudah
ada, Pembentukan sel-sel yang baru pada titik-titik tumbuh Dormansi benih berhubungan
dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi
lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Dormansi dapat terjadi
pada kulit biji maupun pada embrio. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah
membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan
dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan
untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi
dormansi embrio. Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-macam kategori
berdasarkan faktor penyebab, mekanisme dan bentuknya. a. Berdasarkan faktor penyebab
dormansi * Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif karena
keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan. * Imnate dormancy (rest): dormansi yang
disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ biji itu sendiri. b. Berdasarkan
mekanisme dormansi di dalam biji Mekanisme fisik Merupakan dormansi yang mekanisme
penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri, terbagi menjadi: * Mekanis:
embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik * Fisik: penyerapan air terganggu
karena kulit biji yang impermeabel * Kimia: bagian biji atau buah yang mengandung zat
kimia penghambat Mekanisme fisiologis Merupakan dormansi yang disebabkan oleh
terjadinya hambatan dalam proses fisiologis, terbagi menjadi: * Photodormancy: proses
fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya * Immature embryo: proses
fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio yang tidak/belum matang *
Termodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh suhu c. Berdasarkan bentuk
dormansi Kulit biji immpermeabel terhadap air (O2) * Bagian biji yang impermeabel:
membran biji, kulit biji, nukleos, pericarp, endocarp. * Impermeabilitas dapat disebabkan
oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
* Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan.
Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skrifikasi mekanisme. * Bagian
biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit biji, raphe/hilum, strophiole,
adapun mekanisme higroskopinya diatur oleh hilum. * Keluar masuknya O2 pada biji
disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya
O2 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan
pemberian larutan kuat. Dalam bergbagai program produksi, kesiapan dari biji untuk
berkecambah. Dormansi biji adalah fenomena alami untuk bertahan hidup pada semak di
dalam ekosistem yang tak terganggu.Biji mungkin memerlukan tipe berbeda dari perlakuan
untuk merusak dormansi biji dan membuat biji lebih siap berkecambah dalam musim
mendatang. Dormansi biji merusak perlakuan dapat diberikan pada biji yang berdasar tipe
dan empat dari dormansi biji (Shanmugavalli, M; Renganayaki, PR; Menaka, C,).

Dormansi adalah keadaan dimana perkecambahan dan pertumbuhan terhenti dalam rentang
waktu tertentu akibat adanya faktor faktor internal maupun eksternal. Meskipun
perkecambahan dan pertumbuhan terhenti namun aktivitas metabolik tetap berjalan walaupun
rendah. Dormansi terjadi pada biji, tunas, spora, dan organ organ penyimpan cadangan
makanan seperti umbi, subang, rhizoma, bonggol dan bulbi. Secara umum dormansi
dikelompokkan menjadi 2 tipe, yaitu dormansi primer dan dormansi sekunder. Pada dormansi
primer terdiri dari 2 macam yaitu dormansi eksogen dan dormansi endogen. Dormansi eksogen
merupakan keadaan dimana tidak terjadi perkecambahan akibat tidak memadainya faktor
faktor seperti suhu, cahaya, dan air. Dormansi ini dapat dipatahkan dengan skarifikasi,
pemanasan, pendinginan (chilling), perendaman dalam air mendidih, serta pergantian suhu
drastis. Sedangkan dormansi endogen dapat dipatahkan dengan perubahan fisiologis seperti
pemasakan embrio rudimenter, respon terhadap zat pengatur tumbuh, perubahan suhu, dan
pemberian cahaya.
Dormansi sekunder adalah keadaan biji yang dapat tumbuh normal atau berkecambah,
tetapi apabila diberikan keadaan yang tidak mendukung dalam jangka waktu tertentu maka
akan kehilangan kemampuannnya berkecambah. Dormansi ini disebabkan oleh perubahan fisik
yang terjadi pada kulit yang diakibatkan karena pengeringan yang berlebihan sehingga
pertukaran gas-gas pada saat imbibisi menjadi lebih terbatas.

Dormansi Biji
Dormansi biji merupakan keadaan dimana biji tidak dapat berkecambah meskipun kondisi
untuk berkecambah telah memadai. Hal ini biasanya terjadi karena hal hal berikut :
Adanya pelapis biji yang sulit ditembus air
Biji memiliki pelapis pelapis berupa perikarp, testa, perisperma dan endosperma. Pelapis
pelapis tersebutlah yang mengakibatkan terhalangnya pertukaran oksigen dan penyerapan air.
Selain itu, adanya pelapis pelapis tersebut juga menyebabkan kegagalan dalam memobilisasi
cadangan makanan dari endosperma/ perisperma.

Testa merupakan lapisan yang impermeabel terhadap air jika baru dialiri air, oleh karena itu
dormansi di tanah dapat dipertahankan sampai lapisan tersebut dirusak oleh organisme
organisme mikro tanah. Ada pula pada beberapa spesies, air dan oksigen tidak dapat masuk
kedalam biji karena terhalang oleh gabus (sumpal strofiolar). Terhalangnya air dan oksigen
kedalam biji dapat diatasi dengan goncangan dan skarifikasi (penggoresan) Jadi, biji digoncang
goncangkan sampai sumpal strofiolar lepas, selanjutnya air dan oksigen dapat menembus
biji dan biji dapat mulai berkecambah. Skarifikasi (penggoresan) dilakukan dengan pisau, kikir,
dan kertas amplas, sedangkan di alam skarifikasi terjadi akibat kerja mikroba, pada saat biji
melewati pencernaan burung atau hewan lain, terpajan suhu yang tidak menentu, serta terbawa
oleh air melintasi pasir dan batu cadas.
Belum dewasanya embrio
Pada beberapa biji, tidak tejadinya perkecambahan disebabkan karena embrio belum sempurna
pertumbuhannya atau belum matang. Biji biji tersebut memerlukan jangka waktu tertentu
agar dapat berkecambah. Biji biji ini biasanya ditempatkan pada temperatur dan kelembaban
tertentu agar viabilitasnya tetap terjaga sampai embrio terbentuk sempurna dan dapat
berkecambah.

Adanya senyawa senyawa penghambat osmotik dan kimia


Potensial air yang terlalu negatif menyebabkan biji mengalami dormansi. Adapun senyawa
senyawa kimia yang menghambat perkecambahan dan menyebabkan dormansi diantaranya
adalah kompleks pelepas sianida, senyawa pelepas ammonia, lakton tak jenuh, aldehid, minyak
esensial, alkaloid, dan senyawa fenol. Selain senyawa senyawa tersebut, adapula hormon
yang berperan dalam dormansi biji yaitu ABA. ABA eksogen menjadi penghambat yang kuat
bagi perkecambahan biji, dimana hormon ini akan memperlambat pemanjangan radikula. ABA
memang menyebabkan dormansi pada beberapa spesies, namun tidak pada spesies spesies
tertentu. Pada tumbuhan gurun, masa berakhirnya dormansi terjadi ketika hujan lebat
melunturkan ABA dari biji.
Adapun hormon yang berperan dalam mengatasi dormansi biji adalah giberelin. Hormon ini
akan mendorong pemanjangan sel sehingga radilkula dapat menembus endosperm, kulit biji,
atau kulit buah yang membatasi pertumbuhannya.

Interaksi antar hormon


selama dormansi biji dan
pengontroloan perkecambahan
(A) Nicotiana sp.
(B) Brassica napus
Gambar diatas menunjukkan interaksi antar beberapa hormon dalam dormansi pada biji
dan pengontrolan perkecambahan. Perkecambahan pada biji ada 2 tahap yaitu pemecahan testa
dan pemecahan endosperm. Pada gambar A tampak bahwa pemberian cahaya dan GA dapat
meyebabkan testa pecah. Hormon GA, etilen brassinosteroids (BR) membantu pemecahan
endosperm dan menetralkan efek ABA yang bersifat mencegah terjadinya perkecambahan,
dimana hormon ABA menghalangi pemecahan endosperm. Pada gambar B, tampak bahwa
pecahnya testa menyebabkan pemanjangan calon akar (radicle). Pada peristiwa ini, ABA tidak
menghambat pemecahan testa, tetapi menghalangi pertumbuhan calon akar berikutnya.

Dormansi Kuncup
Dormansi kuncup terjadi sebelum munculnya perubahan warna dan mengeringnya daun pada
musim gugur. Pada saat musim panas, kuncup kuncup ini akan berhenti tumbuh dan
kemudian muncul kembali ketika musim dingin. Daun daun akan tetap berwarna hijau dan
melakukan fotosintesis sampai awal musim gugur, dimana nantinya daun akan mengering
akibat respons terhadap siang hari yang pendek, cerah dan dingin. Adanya perlakuan hari
pendek menyebabkan terjadinya pembentukan kuncup dorman dan penghambatan
pemanjangan ruas serta pembesaran daun, contohnya pada mapel merah (Acer rubrum) dan
cemara Norwegia (Picea abies).

Sama seperti halnya dormansi biji, kurangnya air pada kuncup juga mempercepat dormansi.
Pengaruh morfologi terhadap dormansi juga mengambil peranan yang penting, dimana pada
kuncup dorman umumnya terdapat sisik kuncup. Sisik kuncup ini merupakan ruas yang
sangat pendek dengan daun yang berubah. Sisik ini berperan dalam mencegah kekeringan dan
membatasi pergerakan oksigen ke jaringan meristem yang ada dibawahnya.

Dormansi kuncup dari tumbuhan berkayu memiliki sejumlah primordial daun yang tidak
membesar dan perkembangan selanjutnya dihentikan oleh awal dormansi. Promordia daun
dapat dikelilingi oleh sisik tunas dengan stipula yang berubah (seperti pada Fagus) atau daun
yang berubah (seperti pada Acer).

Hormon ABA berperan dalam menginduksi dormansi. Awalnya hormon ini disintesis di daun
kemudian dipindahkan ke pucuk untuk menginduksi dormansi. ABA akan berperan secara
langsung dalam memperlambat dan menghentikan pertumbuhan serta perkembangan sisik
kuncup.
Hormon auksin juga ikut berperan dalam hal mematahkan dormansi pada kuncup. Auksin
banyak digunakan dalam kerja mikropropagasi dan bekerja sama dengan medium makanan
(nutrien) untuk memelihara pertumbuhan kalus, suspensi sel atau organ (seperti meristem,
tunas dan ujung akar) dan mengatur morfogenesis. Adanya dominasi apikal menyebabkan
tanaman dapat tumbuh lebih tinggi dan meningkatkan eksposur tanaman terhadap cahaya
matahari. Produksi auksin oleh tunas apikal berdifusi ke arah bawah
tumbuhan dan menghambat pertumbuhan tunas lateral. Pemotongan tunas apikal beserta
hormonnya dapat menyebabkan tunas lateral dorman yang terletak di bawah untuk mulai
tumbuh. Ketika tunas apikal dihilangkan, sumber auksin hilang. Konsentrasi auksin yang jauh
lebih rendah menyebabkan tunas lateral terpacu untuk tumbuh. Tunas lateral akan lebih
sensitive terhadap auksin daripada tunas apikal. Selanjutnya tunas yang berada diantara ketiak
daun dan batang menghasilkan percabangan baru yang akan berkompetisi untuk menjadi titik
tumbuh.

Dormansi tunas apikal

Hubungan Dormansi dengan Respirasi dan Fotosintesis Tumbuhan


Dormansi ternyata menyebabkan aktifitas metabolik menjadi rendah, seperti halnya proses
respirasi. Adanya defisiensi oksigen yang dialami oleh biji dan tunas terutama ditemperatur
yang tinggi akan menyebabkan oksidasi koenzim asetil A menjadi terbatas. Akibatnya senyawa
tersebut dan perantara perantara glikolitik yang lain dialihkan ke proses yang lainnya,
terutama kepada pembentukan asam asam lemak dan lipid. Di lain pihak, peneliti peneliti
bernama Bradbeer dan Colmack mengemukakan bahwa siklus asam trikarboksilat (TCA), jalan
lalu glikolitik dan jalan lalu pentosa posfat semuanya aktif di dalam biji yang dorman.

Pada saat biji atau kuncup mengalami dormansi, proses imbibisi air menjadi terhambat.
Terhambatnya proses ini tentu menyebabkan proses metabolisme cadangan makanan dan
mobilisasi cadangan makanan menjadi terhambat. Tentu hal ini juga akan menghambat proses
respirasi karena pada dasarnya respirasi memerlukan glukosa untuk di ubah menjadi energi.

Tumbuhan yang mengalami dormansi tidak melakukan fotosintesis. Ketika menjelang musim
dingin misalnya tumbuh tumbuhan akan menggugurkan daunnya. Kemudian tumbuh
tumbuhan tersebut akan membentuk kuncup kuncup. Oleh karena itu pada saat tumbuhan
mengalami dormansi di musim dingin tumbuhan tidak melakukan fotosintesis. Adapun
makanan yang digunakan selama fase tidur ini berasal dari cadangan makanan yang tersimpan
dalam tubuh tumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA
Bewley, Derek J. 1997. Seed Germination and Dormancy. The Plant Cell, Vol. 9 1055-1066
America Society of Plant Physiologist.
Lambers, H; Chapin III S. F. And Pons L.T.2008. Plant Physiology Ecology 2rd Edition. 2008
Springer Science and Business Media, LLC. Shanmugavalli, M; Renganayaki, PR; Menka, C.
Seed Dormancy and Germination Improvement Treatment in Fodder Sorghum. An open access
journal published by ICRISAT. Seed Germination and Dormancy

Anonim. Bulb. 18 Juni 2011. 13.54 WIB. http://www.cactus-art.biz/note-book/bulb.htm.


Anonim. Dormancy. 14 Juni 2011. 12.50 WIB. http://en.wikipedia.org/wiki/dormancy/.
Anonim. Dormancy. 18 Juni 2011. 13.55 WIB. http://cabinetofcuriosities-
greenfingers.blogspot.com/.
Anonim. Dormansi Pada Tumbuhan. 14 Juni 2011. 12.45 WIB. http://www.zonabawah.co.cc
/dormansi-pada-tumbuhan.
Anonim. Dormansi. 14 Juni 2011. 12.45 WIB. http://id.wikipedia.org/wiki/dormansi/.
Anonim. Penghambatan Tumbuh Tunas Lateral dan Dominasi Tunas Apikal. 14 Juni 2011.
12.48 WIB. http://arcturusarancione. wordpress. com/2010/06/28/penghambatan-tumbuh-
tunas-lateral-dan-dominasi-tunas-apikal.
Anonim. Types of Seed Dormancy. 18 Juni 2011. 13.52 WIB. http://www.plant-
pedia.com/2011/02/types-of-seed-dormancy.html.
Hasnunidah, Neni. 2010. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Bandar Lampung : Universitas
Lampung.
Josh Chen. Kentang. 18 Juni 2011. 13.55 WIB. http://baltyra.com/2011/01/24/kentang-1/.
Marufah. Penyimpanan dan Dormansi Benih. 14 Juni 2011. 12.50 WIB.
http://marufah.blog.uns.ac.id/2010/05/25/penyimpanan-dan-dormansi-benih/.
Melinda Purnamasari. Akhir Masa Dormansi. 14 Juni 2011. 12.48.
http://email90.wordpress.com/akhir-masa-dormansi/.
Salisbury, Frank B dan Cleon W Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Bandung : ITB.
Sasmitamihardja, Dardjat dan Arbasyah Siregar. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB.
Satriyas Ilyas. Dormansi Benih. 14 Juni 2011. 12.53 WIB. http://www.google.com/pdf-
dormansi-benih/.
Wilkins, Malmcom B. 1989. Fisiologi Tanaman. Jakarta : Bina Aksara.

2. Bagaimana pembentukan ATP dan NADPH pada Kemiosmosis pada fotosistem I dalam
tahapan Fotosintesis ?

Fotosintesis adalah proses di mana sel-sel menggunakan energi radiasi dari sinar matahari
untuk mensintesis menghasilkan senyawa kimia (seperti karbohidrat) dari sumber karbon
anorganik sederhana. Semua organisme membutuhkan senyawa organik untuk membentuk
protein, karbohidrat, asam nukleat, dan lipid yang merupakan komponen biomolekul dari sel,
membran, dan organelnya. Sementara semua organisme heterotrofik seperti hewan, jamur,
beberapa protista, dan beberapa bakteri harus memenuhi kebutuhan nutrisi dan energi mereka
menggunakan sumber eksternal senyawa organik, organisme autotrofik memiliki kemampuan
untuk menghasilkan molekul organik menggunakan karbon dioksida (CO2) sebagai sumber
karbon utama mereka. Konversi senyawa karbon anorganik menjadi senyawa organik
memerlukan banyak energi.
Organisme fotoautotrof memiliki pigmen khusus yang mampu mengumpulkan energi dari
sumber cahaya dan mengubahnya menjadi bentuk energi kimia yang akan digunakan
organisme tersebut untuk mensintesis senyawa karbon dari CO2 yang diambil dari atmosfer.
Tumbuhan, alga, dan berbagai jenis bakteri mampu melakukan fotosintesis, oleh karena itu
organisme-organisme ini merupakan organisme yang menjadi dasar dari rantai makanan.
Mereka berperan sebagai produsen yang menjadi sumber makanan organisme lain yang tidak
mampu mengolah senyawa anorganik menjadi senyawa organik. Fotosintesis menghasilkan
sekitar 160 miliar metrik ton karbohidrat setiap tahunnya, fotosintesis juga menghasilkan
oksigen di atmosfer kita yang berguna untuk mendukung kehidupan aerobik di bumi.
Proses fotosintesis terdiri dari dua tahap utama. Tahap pertama meliputi reaksi yang
bergantung pada cahaya (reaksi terang), di mana elektron menyerap energi cahaya dari
matahari. Sedangkan pada tahap kedua, yaitu reaksi yang tidak bergantung pada cahaya (reaksi
gelap), sel menggunakan elektron berenergi tinggi untuk membentuk ikatan kovalen antara
atom karbon, membangun karbohidrat sederhana (CH2O)n. Air (H2O) berfungsi sebagai
sumber asli dari elektron energi rendah; sementara molekul oksigen (O2), suatu senyawa yang
sangat penting bagi banyak kehidupan organisme malah merupakan produk limbah dari proses
fotosintesis. Proses keseluruhan ini dapat diringkas menjadi sebagai berikut:
cahaya
CO2 + H2O (CH2O) + O2
Dengan demikian, kita mengetahui bahwa fotosintesis melakukan proses yang berkebalikan
dari proses respirasi sel, yaitu proses pemecahan senyawa organik yang dibantu dengan
kehadiran O2, serta menghasilkan H2O dan CO2 sebagai produk limbahnya.

Reaksi Terang
Pada sel eukariotik, fotosintesis terjadi di organel yang disebut kloroplas. Sebuah
membran ganda membungkus kloroplas, dengan membran bagian luar yang mengandung pori-
pori yang memungkinkan untuk lewatnya molekul tertentu serta membran bagian dalam yang
relatif kedap air. Stroma, ruang yang dibatasi oleh membran ganda ini mengandung tilakoid -
kantung pipih yang tersusun dalam struktur yang disebut grana yang bentuknya menyerupai
tumpukan pancake.
Sistem membran tilakoid mengandung pigmen, yaitu molekul berwarna yang menyerap
cahaya dari panjang gelombang tertentu. Klorofil menyerap cahaya dengan karakteristik
panjang gelombang cahaya violet-biru dan merah, yaitu cahaya yang akan memantulkan
cahaya hijau itulah kenapa kebanyakan tanaman dan ganggang (alga) tampak hijau. Jenis lain
dari pigmen, seperti karotenoid, menyerap panjang gelombang cahaya yang berbeda; pigmen
ini memberikan warna merah, kuning, ataupun oranye pada beberapa tanaman dan alga.
Credit: BlueRidgeKitties / Flickr (modifikasi)

Pigmen klorofil bekerja sama dengan molekul lain dalam pengaturan yang disebut
fotosistem yang tertanam dalam membran tilakoid. Ketika cahaya mengenai molekul klorofil,
pigmen klorofil akan menyerap foton yang merupakan paket energi radiasi lalu memasuki
keadaan tereksitasi. Pigmen yang tereksitasi ini kemudian mentransfer energi ke serangkaian
pigmen lain dan akhirnya ke pusat reaksi yang berisi akseptor elektron primer. Ketika energi
cahaya mencapai pusat reaksi, ia akan meningkatkan elektron dari molekul khusus klorofil
dekat akseptor elektron primer ke tingkat energi yang lebih tinggi.
Semua molekul klorofil kemudian kembali ke fase istirahat mereka, sementara elektron
yang tereksitasi ini berlanjut untuk mendorong terjadinya sintesis nikotinamida adenin
dinukleotida fosfat (NADPH) dan adenosin trifosfat (ATP). Dua jenis fotosistem bekerja
sama dalam reaksi terang: fotosistem I (PS I) dan fotosistem II (PS II). Molekul klorofil
keduanya memiliki jenis yang sama, klorofil a, namun molekul yang berbeda di sekitar mereka
mempengaruhi distribusi elektron mereka sehingga memberi mereka sifat yang sedikit berbeda
satu sama lain. PS I menyerap cahaya dengan panjang gelombang 700 nanometer dan PS II
menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer.
Jalur dari sebuah elektron yang tereksitasi dapat berupa non-siklik atau siklik. Aliran
elektron non-siklik lebih umum dan dimulai ketika akseptor elektron primer menangkap sebuah
elektron tereksitasi dari molekul klorofil a dari PS II. Enzim lalu memotong molekul H2O
menjadi satu atom oksigen (O), dua ion hidrogen (H+), dan dua elektron (e-). Atom oksigen
ini kemudian bergabung dengan atom oksigen yang telah dibebaskan dari molekul air lain
untuk membentuk O2 yang merupakan produk limbah dari reaksi terang. Elektron dari molekul
air menggantikan elektron yang hilang dari klorofil PS II. Sementara itu, elektron yang asli
telah menuju ke rantai transpor elektron, dari satu akseptor elektron ke akseptor elektron lain
pada tingkat energi yang lebih rendah.
Molekul yang membawa elektron dari PS II termasuk di antaranya plastoquinone,
kompleks sitokrom, dan plastocyanin. Elektron akhirnya mencapai molekul klorofil PS I
yang telah kehilangan elektron ketika ia menangkap foton cahaya. Elektron tereksitasi dari PS
I juga membuat jalan menuruni rantai transpor elektron yang mencakup elektron pembawa
protein, ferredoksin. Pada akhir rantai kedua ini, enzim nADP+ reduktase mentransfer dua
elektron ke nADP+ sehingga menghasilkan bentuk NADPH dan berhasil mencapai salah satu
tujuan dari reaksi terang.
Reaksi terang juga memproduksi ATP. Saat elektron jatuh dan menurunkan tingkat
energi secara terus-menerus, energi yang dilepaskan digunakan untuk mengangkut H+, yaitu
proton yang dilepaskan dari pemisahan H2O. Proton H+ ini diangkut dari stroma kloroplas
melintasi membran tilakoid ke dalam ruang tilakoid. Dalam proses yang disebut kemiosmosis,
kekuatan gradien transportasi H+ kembali melintasi membran dalam stroma melalui saluran
yang memiliki aktivitas sintesis ATP. Saat H+ berdifusi kembali melintasi membran, sintase
ATP akan menempelkan fosfat anorganik pada molekul adenosin difosfat (ADP) untuk
menghasilkan ATP.
Aliran elektron non-siklik menghasilkan jumlah molar yang sama dari NADPH dan
ATP, tetapi reaksi terang memanfaatkan lebih banyak ATP daripada NADPH. Aliran elektron
siklik akan mengkompensasi permintaan ATP tambahan ini. Dengan merute ulang lalu lintas
elektron dari PS I kembali ke kompleks sitokrom yang terletak di antara PS II dan PS I, NADH
reduktase dalam prosesnya tidak pernah mendapatkan akses ke elektron. Namun,
pengangkutan elektron melalui jalur siklik ini masih memungkinkan untuk gradien yang akan
dibuat, sehingga mendorong produksi ATP oleh kemiosmosis.

Reaksi Terang pada Fotosintesis


Credit: wikipedia (modifikasi)
Organisme prokariotik fotosintetik memiliki beberapa perbedaan kecil dalam reaksi
terang mereka. Cyanobacteria, bakteri belerang hijau dan ungu, dan bakteri nonsulfur hijau dan
ungu semuanya mampu melakukan fotosintesis, Tetapi sebagai sel prokariotik, mereka tidak
memiliki kloroplas atau organel membran-terikat lainnya; fotosintesis mereka berlangsung
dalam sistem membran internal yang dibentuk oleh invaginasi luas dari membran sel. Hal ini
meningkatkan area tempat pigmen fotosintesis dan rantai transpor elektron berada. Sistem
membran internal dapat terdiri dari vesikel, membran tubular, atau lamellae (membrane
lapisan yang tipis dan datar).
Bakteri sulfur hijau dan bakteri nonsulfur hijau memiliki kromosom, struktur berbentuk
elips yang sebagian besar terdiri dari pigmen pemanen cahaya yang dikelilingi oleh lipid lapis
tunggal. Dua jenis fotosintesis terjadi pada prokariot, oksigenik dan anoksigenik.
Cyanobacteria melakukan fotosintesis oksigenik di mana air berfungsi sebagai donor elektron
dan klorofil a serta fikobiliproteins (jenis yang unik pigmen yang menempel pada protein)
memanen energi dari cahaya. Bakteri fotosintetik lain sisanya melakukan jenis fotosintesis
anoksigenik; mereka memanfaatkan senyawa selain air (seperti hidrogen sulfida, sulfur,
hidrogen, atau molekul organik tertentu) sebagai donor elektron dan oleh karena itu mereka
tidak menghasilkan oksigen sebagai produk sampingan. Bakteri fotosintetik anoksigenik
utamanya lebih memanfaatkan bakterioklorofil daripada klorofil.

Reaksi Gelap
Pada reaksi terang, kloroplas menangkap energi dari sinar matahari, transpor elektron
memindahkan elektron berenergi rendah dari air ke keadaan energi potensial yang lebih tinggi
di NADPH, kemiosmosis mensintesis ATP, dan O2 diproduksi sebagai produk limbah. Pada
tahap selanjutnya ada proses yang dinamakan reaksi gelap; walaupun disebut reaksi gelap,
mereka dapat terjadi dengan ada atau tidak adanya cahaya. Reaksi ini terjadi pada stroma dari
kloroplas. Selama reaksi gelap, kloroplas menggunakan energi kimia yang dibuat oleh reaksi
terang untuk mensintesis gula dari CO2. Penggabungan karbon dari sumber anorganik (CO2)
menjadi molekul organik (seperti gula) disebut fiksasi karbon, proses ini membutuhkan
banyak energi.
Enzim seluler dapat dengan mudah mengakses energi kimia yang tersimpan dalam ATP
dengan menghidrolisis ikatan energi tinggi yang menghubungkan kelompok fosfat terakhir
dengan kelompok fosfat yang berdekatan. Proses pemecahan ikatan ini melepaskan energi yang
dapat segera dimanfaatkan untuk kebutuhan seluler lainnya. Energi yang tersimpan dalam
NADPH dan pembawa elektron lainnya berada pada kondisi potensi terjadi pengurangan
(reduksi) molekul. Proses reduksi akan menambah elektron, sementara oksidasi
menghilangkan elektron. Proses ini selalu disertai oleh satu sama lain - elektron bergerak dari
satu molekul (donor teroksidasi saat ia kehilangan elektron) ke molekul lain (akseptor
mendapatkan elektron).
Saat membawa elektron, NADPH memiliki kemampuan untuk mengurangi molekul
lain, maka dari itu ia memiliki elektron berenergi tinggi yang tersedia untuk disumbangkan ke
molekul lain. Elektron energi tinggi berkontribusi pada akseptor elektron yang berpartisipasi
dalam ikatan kimia yang menyimpan energi hingga proses katabolik memecah ikatan yang baru
terbentuk. Molekul organik, seperti glukosa, dikurangi senyawa karbonnya yang menyimpan
energi untuk sel untuk mendapatkan energi. Ketika sel membutuhkan ATP, molekul organik
yang teroksidasi akan menerima elektron, sementara energi yang dilepaskan digunakan untuk
menghasilkan ATP.
Siklus Calvin
Credit: wikipedia (modifikasi)

Siklus pentosa fosfat reduktif atau yang lebih dikenal sebagai siklus Calvin, adalah jalur
siklik biokimia yang menghasilkan produksi karbohidrat tiga karbon, gliseraldehida 3-fosfat.
Siklus ini meregenerasi semua intermediet lain tetapi mengkonsumsi tiga molekul CO2, enam
molekul NADPH, dan sembilan molekul ATP untuk setiap molekul gliseraldehida 3-fosfat
yang dihasilkan. Tiga tahap utama siklus Calvin meliputi fiksasi karbon, reduksi, dan
regenerasi ribulosa bifosfat.

Siklus Calvin dimulai ketika enzim ribulosa bifosfat karboksilase (Rubisco) menambahkan
satu molekul CO2 ke gula lima karbon, ribulosa bifosfat (RuBP), lalu membentuk gula enam
karbon yang cepat terdegradasi menjadi dua molekul 3-fosfogliserat. Fiksasi dari tiga molekul
CO2 berturut-turut menghasilkan pembentukan enam molekul tiga karbon, pengurangan utama
yang mengarah pada penciptaan satu molekul tiga karbon dari gliseraldehida 3-fosfat. Lima
molekul tiga karbon ini terus bersiklus dan berpartisipasi dalam regenerasi RuBP, di mana lebih
banyak CO2 yang ditambahkan.
Setelah karbon menetap, atau dimasukkan ke dalam senyawa organik gliseraldehida 3-fosfat,
enzim lain mengubahnya menjadi glukosa dan senyawa organik lainnya. Proses mentransfer
energi dari sinar matahari menjadi energi kimia yang tersimpan dalam senyawa organik
sekarang telah lengkap. Sel dapat menggunakan senyawa organik sebagai bahan bakar yang
dapat dibakar yang diperlukan untuk menghasilkan ATP atau sebagai komponen struktural
untuk membangun bagian-bagian sel baru selama pertumbuhan.

Referensi:

Cullen, Katherine E. (2009). Encyclopedia of Life Science. New York: Facts On File, Inc.