Anda di halaman 1dari 3

Kajian Pustaka

A. Sistem Pencernaan Ikan


Pencernaan pada ikan sama seperti pencernaan dengan hewan pada umumnya yaitu
dimulai dari mulut dan berakhir di anus. Proses pencernaan pada ikan terjadi dalam dua
bentuk yaitu secara mekanik yang terjadi di dalam rongga mulut dan lambung, dan secara
kimiawi yang terjadi di dalam lambung dan usus. Alat-alat pencernaan berfungsi untuk
menghancurkan zat makanan (molekul makro) menjadi zat terlarut (molekul mikro) sehingga
zat makanan tersebut mudah diserap dan kemudian dapat digunakan pada proses
metabolisme di dalam tubuh ikan (Campbell, 2008). Sistem pencernaan ikan umumnya
terdiri dari:

a. Saluran pencernaan (tractus digestivus)


Saluran pencernaan pada ikan terbagi atas :
1. Lidah (lingua), melekat pada dasar mulut dan tidak dapat digerakkan, terdapat banyak
kelenjar lendir (glandula mucosa), akan tetapi pada ikan tidak terdapat kelenjar ludah
(glandula salivales).
2. Pangkal tenggorokan (pharynx), merupakan lanjutan rongga mulut yang terdapat di
daerah sekitar insang.
3. Kerongkongan (esophagus), sangat pendek dan merupakan lanjutan dari pharynx,
berbentuk seperti kerucut dan terdapat di belakang daerah insang.
4. Ventrikulus (lambung), merupakan lanjutan dari esophagus dan berupa saluran
memanjang yang agak membesar. Batas dengan usus tidak terlalu jelas. Pada
beberapa spesies tertentu, di bagian akhir ventrikulus terdapat tonjolan-tonjolan
berbentuk kantong buntu yang disebut pyloric caeca (appendices pyloricae). Kantong
buntu ini berguna untuk memperluas permukaan dinding ventrikulus agar pencernaan
dan penyerapan makanan dapat berlangsung lebih sempurna.
5. Usus (intestinum), berbentuk seperti pipa panjang yang berkelok-kelok dan sama
besarnya, berakhir dan bermuara keluar pada lubang anus. Usus ini diikat oleh suatu
alat penggantung yang disebut mesenterium, yang merupakan derivat dari
pembungkus rongga perut (peritonium).
b. Kelenjar pencernaan (glandula digestoria)
Kelenjar pencernaan pada ikan terdapat hati dan kantung empedu yaitu sebagai
berikut:
1. Hati (hepar), bentuknya besar, berwarna merah kecoklat-coklatan, letaknya di
bagian depan rongga badan dan meluas mengelilingi usus.
2. Kantong empedu (vesica fellea), bentuknya bulat bila berisi penuh, berwarna
kehijau-hijauan, terletak pada bagian depan dari hati, mempunyai saluran yang
disebut ductus cysticus yang bermuara pada usus. Kantong empedu berfungsi
untuk menampung dan menyimpan empedu (bilus) dan mencurahkannya ke
dalam usus bila diperlukan. Empedu berguna untuk mencernakan lemak.

Suatu kelenjar pencernaan lain yang disebut pancreas tidak ditemukan pada ikan
karena bersifat mikroskopis. Limpa atau lien berwarna merah tua, melekat pada
mesenterium di antara usus dan gonad, tidak masuk ke dalam sistem pencernaan
melainkan termasuk dalam systema reticulo-endothelia (Moyle and Ceech, 1997).

B. Empedu (Vesica felea)


Pada pisces terdapat kelenjar pencernaan yang berupa hepar yang terletak dalam
rongga badan sebelah anterior dan mengandung vesica felea yang bersaluran menuju ke
intestinum, sedangkan kelenjar pankreas tidak terpisah dari hati (Jasin, 1984). Empedu tidak
mengandung enzim pencernaan, tetapi mengandung garam empedu, yang bertindak sebagai
deterjen dan membantu dalam pencernaan dan penyerapan lemak. Empedu juga mengandung
pigmen yang merupakan hasil sampingan perusakan sel darah merah dalam hati; pigmen
empedu ini dikeluarkan dari tubuh bersama sama dengan feses. Alamsjah (1974)
menyatakan hidrolisis lemak adalah permasalahan khusus, karena molekul lemak tidak larut
dalam air. Garam empedu dari kantung empedu yang disekresikan ke dalam lapisan
duodenum akan melapisi droplet-droplet lemak yang sangat kecil dan mencegahnya agar
tidak menyatu, suatu proses yang disebut emulsifikasi. Karena droplet itu kecil, maka luas
permukaan lemak yang besar menjadi terpapar ke lipase, enzim yang menghidrolisis molekul
lemak.

Keberadaan cairan empedu dalam saluran pencernaan hewan sangat penting. Cairan
empedu membantu pencernaan semua makanan berbahan dasar lemak dan turunannya. Bila
garam empedu bergabung dengan kolesterol, gliserid, dan asam lemak, maka akan terbentuk
micel yang dapat diserap oleh dinding usus.Proses pembentukan empedu yaitu sebagai
berikut:

Empedu sebagian besar adalah hasil dari excretory dan sebagian adalah sekresi dari
pencernaan. Garam-garam empedu termasuk ke dalam kelompok garam natrium dan kalium
dari asam empedu yang berkonjugasi dengan glisin atau taurin suatu derifat atau turunan dari
sistin,mempunyai peranan sebagai pengemulsi, penghancuran dari molekul - molekul besar
lemak menjadi suspensi dari lemak dengan diameter 1m dan absorpsi dari lemak,
tergantung dari sistem pencernaannya. Terutama setelah garam garam empedu bergabung
dengan lemak dan membentuk Micelles (agergat dari asam lemak, kolesterol dan
monogliserida) , kompleks yang larut dalam air sehingga lemak dapat lebih mudah terserap
dalam sistem pencernaan (efek hidrotrofik).Ukuran lemak yang sangat kecil sehingga
mempunyai luas permukaan yang lebar sehingga kerja enzim lipase dari pankreas yang
penting dalam pencernaan lemak dapat berjalan dengan baik. Kolesterol larut dalam empedu
karena adanya garam-garam empedu dan lesitin (Bevelander and Judith, 1988).

Alamsjah, Z. 1974. Ichthyologi I. Departemen Biologi Perairan. Fakultas Perikanan. Institut


Pertanian Bogor, Bogor.
Bevelander, G dan Judith, A. R. 1988. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga.
Campbell Neil, Jane B. Reece, Lis A. Urry, Michael L. Cain, Steven A. Wasserman, Peter V.
Minorsky, Robert B. Jakson. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Erlangga:
Jakarta
Fujaya, Y. 1999. Fisiologi Ikan. Dasar Pengembangan Teknik Perikanan.Jakarta:Rineka Cipta.

Jasin, Maskoeri. 1984. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Sinar Wijaya: Surabaya.
Moyle, P.B. and J.J. Cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology. Second edition.
Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.