Anda di halaman 1dari 2

Nama : RR Dwina Ayu M

NRP : 25 2014 127


Kelas : D

Sejarah Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Indonesia


Sejarah keselamatan kerja di Negara Indonesia (K3) dimulai setelah Belanda datang ke
Indonesia pada abad ke-17. Pada saat itu, masalah keselamatan kerja di wilayah Indonesia
mulai terasa untuk melindungi modal yang ditanam untuk industri, sehingga muncullah
undang undang mengenai Kerja Ketel Uap di tahun 1853.

Kemudian, pada tahun 1890 dikeluarkan ketetapan tentang pemasangan dan pemakaian
jaringan listrik di wilayah Indonesia. Lalu, pada tahun 1905 dikeluarkan Veiligheids
Reglement dan pengaturan khusus sebagai pelengkap peraturan pelaksanaanya dan direvisi
pada tahun 1910. Undang undang pengawasan kerja yang memuat kesehatan dan
keselamatan kerja (K3) dikeluarkan pada tahun 1916 tentang kesehatan dan keselamatan
tambang.

Sejak jaman kemerdekaan, sejarah keselamatan kerja berkembang sesuai dengan dinamika
bangsa Indonesia. Beberapa tahun setelah proklamasi, UU kerja dan UU kecelakaan
(terutama menyangkut masalah kompensasi) mulai dibuat. Berikutnya pada tahun 1969,
berdirilah ikatan Higiene Perusahaan, Kesehatan dan keselamatan kerja, dan dibangun pula
laboratorium keselamatan kerja. Di tahun 1957 didirikanlah Lembaga Kesehatan dan
Keselamatan Kerja. Sedangkan di tahun 1970, Undang undang no I tentang Keselamatan
Kerja dibuat. Undang undang ini sendiri dibuat sebagai pengganti Veiligheids Reglement
tahun 1910. Di tahun 1957, diadakan seminar nasional Higiene Perusahaan dan Keselamatan
Kerja dengan tema penerapan Keselamatan Kerja Demi Pembangunan.

Latar Belakang dan Perkembangan K3 di Indonesia


Atas dasar pemerintah RI pada saat itu, di tahun 1953 dilakukan survei oleh seorang ahli dari
International Labor Organization (ILO), yaitu Dr. Thiis Evenson. Hasil survei tersebut
menyatakan bahwa inspeksi industri dilakukan hanya oleh Departemen Perburuhan dan
Veiligheids Reglement yang dibuat pada tahun 1910. Setelah survei tersebut dilakukan oleh
ILO, disadari pentingnya kesehatan kerja sehingga ditempatkan seorang dokter ahli di
Departemen Perburuhan yang berwenang melakukan inspeksi. Kemudian, dibentuk
Lembaga K3 di bawah Departemen Perburuhan yang saat ini menjadi Lembaga Nasional
K3. Lembaga nasional ini mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan, penelitian, publikasi,
pelayanan indusindustry sebagai badan penghubung dengan organisasi internasional.