Anda di halaman 1dari 25

CASE REPORT MODUL 3

LESI JARINGAN LUNAK RONGGA MULUT

STOMATITIS APTHOSA REKUREN (SAR) MINOR

Diajukan untuk memenuhi syarat dalam melengkapi

Kepaniteraan Klinik di Bagian Oral Medicine

Oleh

SITI HARDIYANTI MAHLAN

15100707360804037

Pembimbing : drg. Abu Bakar, M.Med.Ed

RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus Stomatitis Apthosa Recurrent (SAR)

Minor untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan kepanitraan klinik modul 3

(Lesi Jaringan Lunak Mulut) dapat diselesaikan.

Dalam penulisan laporan kasus ini penulis menyadari, bahwa semua proses yang telah

dilalui tidak lepas dari bimbingan drg. Abu Bakar, M.Med.Ed, selaku dosen pembimbing,

bantuan, dan dorongan yang telah diberikan berbagai pihak lainnya. Untuk itu penulis

mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.

Penulis juga menyadari bahwa laporan kasus ini belum sempurna sebagaimana mestinya,

baik dari segi ilmiah maupun dari segi tata bahasanya, karena itu kritik dan saran sangat penulis

harapkan dari pembaca.

Akhir kata penulis mengharapkan Allah SWT melimpahkan berkah-Nya kepada kita

semua dan semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat serta dapat memberikan sumbangan

pemikiran yang berguna bagi semua pihak yang memerlukan.

Padang, Februari 2016

Siti Hardiyanti Mahlan


LAPORAN KASUS ORAL MEDICINE

Nama pasien : Megawati Gusnie


Umur : 27 Tahun
Hari/Tgl/Thn : 21 September 2015
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jln. Perdana depan TVRI bypass
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
Agama : Islam
No. Rekam Medik : 036205

Tindakan yang
Hari/ Tgl Kasus Operator
dilakukan
Kamis/ 21 Stomatitis Anamnesa Siti Hardiyanti Mahlan
September Aphtosa Pemeriksaan (15-037)
2015 Rekuren (SAR) klinis
Pemberian obat
Minor
KIE
(Komunikasi,
Informasi dan
Edukasi)

Padang, 21 September 2015

Pembimbing,

(drg. Abu Bakar, M.Med. Ed)


LAPORAN KASUS ORAL MEDICINE

A. Data Pasien
Nama pasien : Megawati Gusnie
Umur : 27 Tahun
Sex : Perempuan
Alamat : Jln. Perdana depan TVRI Bypass
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
No. Rekam Medik : 036205
B. Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama : Pasien datang dengan keluhan rasa tidak nyaman karena
ada sariawan yang terasa sakit diujung pipi bagian
dalam dekat geraham terkakhir rahang bawah kanan
sejak 4 hari yang lalu.
Keluhan tambahan : Rasa sakit semakin meningkat saat membuka mulut dan
makin atau minum yang pedas dan asam. Keluhan seperti
ini sering dijumpai pada masa menstruasi dengan letak
sariawan yang berpindah-pindah.
Lokasi Keluhan : Diujung pipi bagian dalam dekat gigi geraham terakhir
Kuantitas Keluhan: Nyeri Sedang
1. Anamnesa (21 September 2015)
a. Apa keluhan anda datang kemari?
Rasa tidak nyaman karena ada sariawan yang terasa sakit diujung
pipi bagian dalam dekat geraham terkakhir rahang bawah kanan .
b. Sudah berapa lama sariawan tersebut muncul?
Muncul sejak 4 hari yang lalu
c. Apakah sariawan tersebut sering berulang atau baru pertama kalinya?
Sangat sering berulang, hampir setiap bulan pada masa menstruasi
d. Bagaimanakah tanda-tanda awal dari sariawan tersebut? Apakah langsung
terasa sakit atau ada benjolan terlebih dahulu?
Awalnya seperti ada benjolan tetapi lama kelamaan pecah dan
menjadi sangat perih.
e. Apakah ada perubahan dari warna/ bentuk dari sariawannya?
Warnanya hanya terlihat semakin memerah
f. Apakah yang membuat sariawan semakin terasa sakit?
Semakin terasa sakit saat membuka mulut dan makan minum yang
panas dan asam.
g. Bagaimanakah cara sebelumnya untuk mengurangi rasa sakit/ apakah ada
yang menyebabkan rasa sakit semakin berkurang?
Hanya berkumur-kumur saja
h. Apakah sebelumnya sudah pernah minum obat untuk menghilangkan
sariawan?
Kalau sakit kali Cuma dioleskan dengan obat tradisional saja
i. Apakah ada alergi terhadap obat?
Tidak ada
2. Riwayat penyakit yang lalu :-
3. Riwayat penyakit sekarang : Sariawan
4. Riwayat penyakit keluarga :-
C. PEMERIKSAAN KLINIS
1. Ekstra Oral
1. Bentuk wajah : Normal
2. Kulit : Normal
3. Gaya berjalan : Normal
4. Sikap : Normal
5. Kelenjar Submandibula : Tidak Normal
6. Mata : Normal
7. Alergi Obat : Tidak ada
8. Penyakit Sistemik : Tidak ada
9. Golongan Darah : TDL
2. Intra Oral
1. Bibir : Pigmentasi
2. Gingiva : Pigmentasi
3. Palatum Durum : Normal
4. Palatum Molle : Pigmentasi
5. Lidah : Terdapat fissure Tongue
6. Tonsil : Normal
7. Frenulum : Normal
8. Dasar Mulut : Normal
9. Mukosa Bukal : Pigmentasi
10. Gigi

18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28

48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37 38
AF
D. ETIOLOGI : Belum diketahui secara pasti
E. PREDISPOSISI :

F. DIAGNOSA SEMENTARA : Stomatitis Aphtosa Rekuran Minor


G. DIAGNOSA BANDING : Ulkus traumatikus
H. PEMBAHASAN :
I. TERAPI :
a. Terapi edukasi : Memberikan informasi terhadap keluhan penyakit pasien.
b. Instruksi : pasien disarankan untuk menjaga pola makan dan istirahat yang
cukup
c. Pengobatan :
Becom C 500 mg
Paracetamol 500 m
Resep :

RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT


YAYASAN PENDIDIKAN BAITURRAHMAH
Izin Dinkes : PPK.03.2186 V.2009
Jl. Raya By Pass KM 15 Aie Pacah Padang. Telp. 0751-463871

Dokter : Drg. Abu Bakar, M.Med.Ed


Tanggal : 21 September 2015

R/ Becom C 500 mg No.X


S1dd 1 pc
__________________________
R/ Paracetamol 500 mg No.V
S2dd Pc

Op : Siti Hardiyanti Mahlan


Diagnosa : SAR Minor
Pro : Megawati Gusnie
Umur : 27 Tahun
MODUL 3

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

PADANG

HALAMAN PENGESAHAN

Telah didiskusikan Laporan Kasus Stomatitis Apthosa Rekurent Minor guna melengkapi
persyaratan Kepaniteraan Klinik pada Modul 3.

Padang, Februari 2016

Disetujui Oleh
Dosen Pembimbing

(drg. Abu Bakar, M.Med.Ed)


ABSTRACT

Introduction: Reccurent Aphtosa Stomatitis (RAS) Minor is among the most common oral
mucosal lesion physicians and dentists observe. Minor RAS is the most common variant,
constituting 80% of RAS Ulcers vary from 8 to 10 mm in size. It is most commonly seen in the
nonkeratinized mucosal surfaces like labial mucosa, buccal mucosa, and floor of the mouth.
Ulcers heal within 1014 days without scarring. Objective: to make case report about Reccurent
Aphtosa Stomatitis (RAS) Minor. Case and diagnose : Female patients aged 27 years came to
the Hospital baiturrahmah complaining of pain because there are ulcer sores on the inside of the
cheek end since five days ago and ulcers often occur during menstruation. predisposing factors
of this case are recurrent aphthous stomatitis (SAR) Minor due to the disruption of hormonal
systems. Treatment: The treatments are given education, instruction and medicamentose.

Keywords : Reccurent Aphtosa Stomatitis (RAS) Minor, Diagnostic Criteria, Hormonal Ulcer.

ABSTRAK

Pendahuluan: Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Minor merupakan lesi mukosa mulut yang
paling umum di antara pengamatan para doktrer gigi. Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Minor
adalah varian yang paling umum, dimana 80% dari SAR 80% memiliki ukuran bervariasi dari 8
sampai 10 mm. Hal ini paling sering terlihat pada permukaan mukosa yang tidak berkeratin
seperti mukosa labial, mukosa bukal, dan dasar mulut. Ulkus sembuh dalam 10-14 hari tanpa
bekas luka. Tujuan : untuk membuat laporan kasus tentang Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR)
Minor. Kasus dan Diagnosa: pasien perempuan 27 tahun datang ke RSGM Baiturrahmah
dengan keluhan sakit karena terdapat sariawn pada ujung pipi bagian dalam sejak lima hari yang
lalu dan sariawan tersebut sering terjadi saat menstruasi. faktor predisposisi dari kasus ini adalah
stomatitis aphtosa rekuren (SAR) Minor akibat terganggunya sistem hormonal. Pengobatan:
pengobatan yang diberikan adalah edukasi, instruksi dan medikamentosa.

Kata kunci : : Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Minor Kriteria Diagnosa, Hormonal ulcer
PENDAHULUAN

Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) adalah lesi mukosa rongga mulut yang paling sering

terjadi. SAR merupakan keadaan patologik yang ditandai dengan ulser yangn berulang, sakit,

kecil, ulser berbentuk bulat atau oval, dikelilingi oleh pinggiran yang eritematous dengan dasar

kuning keabu-abuan. Frekuensi SAR terjadi hingga 25% pada populasi umum dan 50 % berulang

dalam tiga bulan. SAR merupakan kondisi idiopatik pada sebagian besar penderita. Kemungkinan

disebabkan faktor trauma dan stres. Faktor lain yang berhubungan yaitu penyakit sistemik,

defisiensi nutrisi, alergi makanan, predisposisi genetik, gangguan immunologi, terapi pengobatan

dan infeksi HIV. Walaupun SAR dapat disebabkan akibat penyakit sistemik seperti penyakit

yang muncul bersamaan dengan syndrom Behcets, sebagian besar kasus tidak ada bagian tubuh

lain yang terkena dan pasien tetap fit dan sehat. Semenjak etiologi tidak diketahui, diagnosa

didapat dari sejarah keluarga dan pemeriksaan klinis, serta tidak ada prosedur laboratorium untuk

menunjang diagnosa. Multivitamin herbal, pasta adesif, antiseptik lokal, antibiotik lokal, obat

anti-inflamasi non-steroid topikal, kortikosteroid topikal serta ditambah imunomodulator,

imunosuppresan dan kortikosteroid topikal dan sistemik merupakan perawatan yang diberikan

pada penderita RAS. Sebagian besar tujuanpengobatan jangka pendek adalah untuk mengurangi

rasa sakit, durasi ulser dan mengembalikan fungsi normal mulut. Beberapa perawatan telah

dilakukan untuk mencapai tujuan pengobatan jangka panjang seperti pengurangan frekuensi dan

keparahan RAS serta pengurangan biaya. Refarat ini akan menjelaskankeberhasilan perawatan

RAS dengan vitamin B-complex .

LAPORAN KASUS

Pasien datang ke RSGM Baiturrahmah dengan keluhan rasa tidak nyaman karena ada

sariawan yang terasa sakit diujung pipi bagian dalam dekat geraham terakhir rahang bawah

kanan sejak seminggu yang lalu. Rasa sakit semakin meningkat saat membuka mulut dan makan
atau minum yang pedas dan dingin. Pasien mengatakan bahwa sariawan tersebut sering muncul

ketika akan menstruasi dan Pasien dalam keadaan demam.

Pemeriksaan ektra oral didapatkan lympnode submandibular teraba (tetapi tidak sakit),

bibir mengalami pigmentasi. Hasil pemeriksaan intra oral tampak ulkus yang terdapat pada

arcus palatoglossus dibagian kanan yang berbentuk oval dan dangkal disertai daerah tepi yang

eritem yang mencolok mengelilingi pseudomembran fibrinosa, berwarna putih kekuning-

kuningan dengan diameter 4 mm (Gambar 1).

Gambar 1. Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Minor


(Panah Kuning)

Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan didapatkan diagnosa yaitu Stomatitis

Aphtosa Rekuren (SAR) Minor dengan etiologi tidak diketahui secara pasti. Tetapi, berdasarkan

anamnesa ditemukan pernyataan pasien bahwa sariawan sering timbul saat masa menstruasi,

sehingga didapatkan faktor predisposisinya yaitu gangguan kondisi hormonal. Perawatan yang

dilakukan yaitu: (a).Terapi edukasi, yaitu memberikan informasi terhadap keluhan penyakit

pasien bahwa penyakit tersebut tidak berbahaya, (b).Instruksi, yaitu pasien disarankan untuk

menjaga pola makan dan istirahat yang cukup, (c).Pengobatan : pemberian Becom-C 500 mg
satu kali sehari untuk mempercepat penyembuhan sariawan dan paracetamol 500 mg tida kali

sehari setelah makan bilamana perlu sebagai obat antipeuretik. Stomatitis Aphtosa Rekuren

(SAR) Minor juga dapat sembuh secara spontan tanpa pemberian obat selama 10-14 hari.

PEMBAHASAN

Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Minor yaitu suatu kondisi peradangan berupa ulser

pada mukosa rongga mulut dengan karakteristik ulserasi ulang kambuh dan masa bebas ulkus

selama beberapa hari hingga minggu. Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Minor ini merupakan

penyakit rongga mulut yang sangat umum dijumpai pada setiap orang. Etiologinya hingga saat

ini belum diketahui secara pasti, tetapi memiliki faktor predisposisi yaitu: faktor herediter,

defisiensi Fe, B12, Asam folat, gangguan imunologi (alergi), stress, trauma, gangguan hormonal

(menstruasi wanita), infeksi bakteri dan virus serta disebabkan oleh penyakit lain yang belum

diketahui .

Pada kasus diatas operator memilih untuk mengeliminasi setiap faktor predisposisi yang

tidak berhubungan dengan gejala yang ditimbulkan oleh pasien. Stomatitis Aphtosa Rekuren

(SAR) Minor atau sariawan muncul tanpa didahului demam atau malaise, hal ini penting untuk

membedakan apakah sariawan merupakan lesi SAR atau lesi yang disebabkan oleh infeksi virus

dimana diketahui bahwa infeksi virus didahului dengan demam atau malaise, pasien hanya

menyatakan bahwa sariawan duluan timbul daripada demam. Kemudian, kasus diatas juga tidak

menemukan anggota keluarga yang sedarah memiliki riwayat sariawan yang hilang timbul,

sehingga berdasarkan uraian pasien diatas tidak ditemukan keterlibatan faktor genetik. Selain

itu, tidak ditemukan adanya asupan nutrisi yang kurang baik, karena pasien menjaga pola makan

dengan baik, sering mengkonsumsi buah dan sayur, dan selalu istirahat dengan cukup, sehingga

keterlibatan faktor malnutrisi tidak ada. Faktor predisposisi yang lain yaitu gangguan hormonal,
pada kasus pasien menyatakan bahwa sariawan sering timbul saat siklus menstruasi berlangsung

sehingga dapat dihubungkan dengan keterlibatan faktor gangguan hormonal 4.

Pemeriksaan klinis intra oral dilakukan untuk menegakkan diagnosa dengan empat

kriteria minor yang terpenuhi adalah ulkus berbentuk oval, dangkal dengan warna putih keabu-

abuan, diameter 4 mm, tepi ulcer yang eritematosus yang reguler. Selain itu, durasi rekurensi

hampir setiap bulan pada masa menstruasi, dengan lokasi ulcer yang berpindah-pindah tetapi

pada mukosa yang tidak berkeratin, sering sembuh sendiri tanpa diberikan obat, dan pasien tidak

merokok 2 .

Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan, tidak bisa menyembuhkan atau

menghilangkan faktor etiologi seutuhnya tetapi hanya dapat diberikan terapi untuk mencegah

infeksi sekunder serta mempercepat penyembuhan. Hal ini dapat dilakukan dengan

meningkatkan kebersihan rongga mulut melalui tindakan DHE, pemberian suplemen

multivitamin Becom-C dengan dosis 500 mg untuk meningkatkan stamina tubuh, pembersihan

karang gigi , mencabut gigi yang tidak dapat dirawat lagi, dan sebaiknya melakukana rujukan ke

poli bidan untuk mengevaluasi dan mengatasi perubahan hormonal yang mempengaruhi

pemunculan lesi SAR 1,2,3 .

Pada kunjungan berikutnya (6 hari) setelah pemberian terapi, terlihat adanya

penyembuhan yang cukup signifikan, dimana ulser sudah mengecil bahkan tidak tampak lagi

secara visual. Pasien juga merasakan keparahannya berkurang karena tidak terganggunya

membuka mulut dan makan atau minum yang panas dan dingin akibat adanya ulser (Gambar 2).
Gambar 1. Setelah pemberian obat (Panah
Kuning)

DIAGNOSA BANDING

Diagnosa banding untuk Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Minor terdiri dari: Viral

stomatitis, Pemphigus, Pemphigoid, lupus Eritematosus, Penyakit dermatologi, Karsinoma sel

squamosa, Penyakit granulomatosa misalnya sarcoidosis dan penyakit Crohn, Kelainan darah,

Infeksi HIV / AIDS, Ulkus Traumatik. Tetapi berdasarkan pemeriksaan intra oral diagnosa

banding yang paling mendekati adalah ulkus traum atikus, dengan alasan sebagai berikut:

Diagnosa Banding SAR Minor Ulkus Traumaticus


Definisi Kelainan yang di karakteristik lesi sekunder yang berbentuk
kan dengan ulser rekuren yang ulkus, yaitu hilangnya lapisan
terbatas pada mukosa mulut epitelium hingga melebihi
pada pasien tanpa tandatanda membrana basalis dan menge
penyakit lainnya. Terjadi pada nai lamina propria oleh karena
20% populasi 10 . trauma11 .
Etiologi Etiologi belum diketahui Trauma (kimia, thermal,
secara pasti. elektrik, mekanik)12 .
Faktor predisposisi dapat
berupa: genetik, defisiensi
hematinik, abnormalitas
imunologi, faktor lokal
seperti trauma dan merokok,
menstruasi, infeksi
pernafasan atas, alergi
makanan, anxietas, dan
stress psikologi.
Abnormalitas pada cascade
sitokin mukosa menyebab-
kan respom imun yang
dimediasi sel secara
belebihan dan menyebabkan
ulserasi terlokalisasi pada
mukosa.
Berhubungan dengan HLas
tertentu yang berhubungan
dengan penglepasan gen
yang mengontrol sitokin
proinflamasi Interleuken (IL)-
1B dan IL-6
Gambaran Klinis

ulkus yang tunggal atau


multipel, berbentuk simetris
atau asimetris, ukurannya
Ulkus tunggal atau multiple tergantung dari trauma yang
dengan berbentuk bulat atau menjadi penyebab, dan
oval. Setelah beberapa hari, biasanya nyeri. kerusakan
luka tersebut pecah dan pada mukosa dengan batas
menjadi berwarna kuning ke tepi eritema dan di tengahnya
abu-abuan dengan di tengah berwarna putih kekuningan,
nya di batasi dengan daerah bisa tanpa atau disertai rasa
kemerahan, Diameter 0.3 1.0 nyeri dengan dasar induratif
cm, sembuh tanpa jaringan dan tepi yang meninggi.
parut 7
Masa Pemulihan Rasa sakit akibat stomatitis Satu kali kunjungan dengan
yang berukuran kecil biasanya masa pemulihan bila penyebab
akan hilang antara 10-14 hari trauma telah dieliminasi,
dan lesi ini akan sembuh sembuh dalam waktu 3-7 hari.
secara sempurna dalam waktu Untuk ulkus trauma yang
1-2 minggu hingga bulan6,10. sudah kronis perlu waktu lebih
lama, 2-3 minggu11-12.
Predileksi mukosa nonkeratin terutama Sesuai dengan trauma yang
mukosa bukal dan labial terjadi.
Terapi Hilangkan faktor predispo- Sumber ulkus traumatik yang
sisi ditemukan harus dihilangkan
Simptomatik: topikal sumber iritasi nya kemudian
steroid, anastetik topikal, diberikan dyclonine HCl atau
antiseptic Kumur. hydroxylpropyl cellulose
Suportif: multivitamin, untuk menghilang kan rasa
imunomodulator 10 sakit sementara. Jika penyebab
nya tidak ditemukan atau
pasiennya tidak merespon
terapi yang diberikan, maka
diindikasikan untuk melaku-
kan biopsi9.
10
Prognosa Baik Baik 11
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

Recurrent aphthous stomatitis atau stomatitis aphtosa rekuren (SAR) adalah penyakit

rongga mulut yang paling sering dijumpai di masyarakat, dengan prevalensi mencapai 20-25%.

Sebuah penelitian mendapatkan prevalensi yang mencapai 5-66%. Penelitian lain malah

menunjukkan angka kejadian mencapai 90% pada anak yang kedua orangtuanya mengalami

SAR4 . Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Minor yaitu suatu kondisi peradangan berupa ulser

pada mukosa rongga mulut dengan karakteristik ulserasi ulang kambuh dan masa bebas ulkus

selama beberapa hari hingga minggu. Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Minor ini merupakan

penyakit rongga mulut yang sangat umum dijumpai pada setiap orang1.

FAKTOR PREDISPOSISI

Sampai saat ini, etiologi yang pasti dari SAR belum diketahui secara pasti. Tetapi para ahli

mengatakan terdapat beberapa faktor yang turut berperan dalam timbulnya lesi-lesi SAR. Faktor-

faktor tersebut terdiri dari faktor: herediter, infeksi bakteri dan virus, psikologi, alergi, gangguan

hormonal, penyakit gastrointestinal, penyakit darah contohnya defisiensi fe, defisiensi B12 dan

defisiensi asam folat, dan gangguan sistem imun yang sampai sekarang belum juga dietahui

penyebabnya5.

Banyaknya laporan mengenai rekurensi penyakit ini pada masa sebelum, saat, dan pasca

menstruasi memunculkan dugaan adanya pengaruh hormon terhadap terjadinya SAR. Meskipun

masih kontroversi, namun beberapa penelitian diantaranya Jones dan Mason melaporkan adanya

hubungan antara SAR dengan siklus menstruasi dan jumlah penderita wanita yang mencapai dua

kali disbanding laki-laki. Croley dan Miers juga meneliti pengaruh hormone estrogen yang
ternyata merangsang maturasi lengkap sel epitel mukosa mulut dan progesterone yang

menghambatnya4.

GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis SAR penting untuk diketahui karena tidak ada metode diagnose

laboratorium yang spesifik yang dapat diandalkan untuk dapat menegakkan diagnose SAR. SAR

diawali dengan gejala prodromal yang digambarkan sebagai rasa sakit, terbakar, atau tertusuk-

tusuk 24-48 jam sebelum ulser. SAR terdiri dari empat tahap yaitu premonitory, pre-ulseratif,

ulseratif dan penyembuhan. Tahap premonitory terjadi pada 24 jam pertama perkembangan lesi

SAR. Pada waktu prodromal, pasien akan merasakan sensasi rasa mulut terbakar ditempat

timbulnya ulser. Secara mikroskopis sel-sel mononuclear akan menginfeksi epithelium dan

oedema akan mulai berkembang2,5.

Tahap pra ulserasi terjadi pada 18-72 jam perkembangan lesi SAR. Pada tahapa ini, macula

dan papula akan berkembang dengan tepi eritematous. Intensitas rasa nyeri akan meningkat saat

tahap pre-ulserasi. Tahap ulserasii akan berlanjut selama beberapa hari hingga 2 minggu. Pada

tahap ini papula-papula akan berulserasi dan ulser itu akan akan diselaputi oleh lapisan

fibromembranous yang akan diikuti oleh intensitas nyeri yang berkurang. Tahap penyembuhan

terjadi pada hari ke-4 hingga 35. Ulser tersebut akan ditutupi oleh epithelium. Penyembuhan luka

terjadi dan selalu tidak meninggalkan jaringan parut dimana lesi SAR pernah muncul. Oleh

karena itu, semua lesi SAR menyembuh dan lesi baru ulser berkembang5.
KLASIFIKASI SAR

Berdasarkan gambaran klinis, SAR dibagi menjadi tiga, yang terdiri dari:

1. SAR Tipe Minor

Merupakan SAR yang paling banyak ditemui, sekitar 70 sampai 90 persen dibandingkan

tipe SAR yang lainnya. Pada stadium awal SAR tipe minor timbul rasa sakit dan terbakar

pada mukosa 1 sampai 2 hari sebelum ulser terlihat, kadang-kadang dapat diketahui

adanya vesikel. Epithelium hilang dan dalam beberapa jam dapat terlihat papula kecil

berwarna putih. Dalam 2 sampai 3 hari terjadi ulserasi yang berangsur-angsur membesar

dengan rasa yang sangat sakit, terutama jika terkena lidah, rangsangan atau makanan.

Pasien mengalami demam ringan, malaise atvaupun pembesaran kelenjar limpa. Lesi

bentuknya bundar atau ovaldengan diameter <1 cm. Permukaan abu-abu sampai kuning.

Tepi lesi dikelilingi jaringan eritematous menggembung dengan lesi yang dangkal.

Jumlah lesi 2 sampai 6 dan kadang-kadangn bisa sampai 8. Dengan lokasi didaerah

bukal, dasar mulut, ataupun lidah. Penyembuhan dapat terjadi dalam beberapa hari

hingga 2 minggu dan tanpa meninggalkan jaringan parut2,3,4,5.

Gambar 2. Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR)


Minor
2. SAR Mayor

Stomatitis tipe ini disebut juga Reccurent Scarring Aphtousa Ulser. Kira-kira berkisar 10

sampai 15 persen dari kasus SAR adalah stomatitis aphtosa tipe mayor. Pada stadium

permulan berupa nodul atau plak yang kecil, lunak merah dan sakit yang jika pecah akan

menjadi ulser yang sangat sakit. Lesi >1 cm dapat dan dapat mencapai hingga 5 cm. tepi

lesinya lesinya meninggi dan erythematous. Lesi berbentuk kawah warna abu-abu dank

eras jika di palpasi. Tipe ini sering diragukan dengan squamous karsinoma . masa

penyembuhan sekitar 3-6 minggu lesi yang sembuh akan meninggalkan parut5.

Gambar 3. Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR)


Mayor

3. SAR Herpetiform

Stomatitis tipe ini sangat jarang terjadi, biasanya sekitar 5-10 persen dari kasus SAR yang

terjadi . ukurannya lebih kecil, sebesar ujung peniti dan dapat terbentuk berkelompok-

kelompok bahkan dapat terbentuk 30buah sekaligus pada mulut. Selain ukurannya yang

kecil, sariawan juga terasa sangat sakit dan dapat membuat mulut penderita terasa sangat

tidak enak karena jumlahnya ayg banyak dan dapat mencapai 50 sampai 100.

Permukaanya berwarna abu-abu dan tepinya tidak eritematous5


Gambar 4. Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR)
Herpetiform

DIAGNOSA

Diagnosis SAR didasarkan pada anamnesa dan gambaran klinis dari ulser. Biasanya pada

anamnesa, pasien akan merasakan sakit dan terbakar pada mulutnya, lokasi ulser berpindah-

pindah dan sering berulang. Harus ditanyakan sejak dari umur berapa terjadi, lama (durasi), serta

frekuensi ulser. Setiap hubungan dengan faktor predisposisi juga harus dicatat. Pada pemeriksaan

fisik dapat ditemukan ulser pada bagian mukosa mulut dengan bentuk yang oval dengan lesi 1

cm yang jumlahnya sekitar 2-6. Pemeriksaan tambahan diperlukan seperti pemeriksaan sitologi,

biopsi, dan kultur bila ulser tidak kunjung sembuh2,4.

PERAWATAN

Dalam upaya melakukan perawatan terhadap pasien SAR, tahapannya adalah :

1. Edukasi bertujuan untuk memberikan informasi mengenai penyakit yang dialami yaitu

SAR agar mereka mengetahui dan menyadarinya.

2. Instruksi bertujuan agar dapat dilakukan tindakan pencegahan dengan menghindari faktor-

faktor yang dapat memicu terjadinya SAR.

3. Pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala yang dihadapi agar pasien dapat

mendapatkan kualitas hidup yang menyenangkan.


Tindakan pencegahan timbulnya SAR dapat dilakukan diantaranya dengan menjaga

kebersihan rongga mulut, menghindari stres serta mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama

yang mengandung vitamin B12 dan zat besi. Menjaga kebersihan rongga mulut dapat juga

dilakukan dengan berkumur-kumur menggunakan air garam hangat atau obat kumur. SAR

juga dapat dicegah dengan mengutamakan konsumsi makanan kaya serat seperti sayur dan

buah yang mengandung vitamin C, B12, dan mengandung zat besi.

tujuan untuk mengurangi gejala, mengurangi jumlah dan ukuran ulkus, dan meningkatkan

periode bebas penyakit.Bagi pasien yang mengalami stomatitis aftosa rekuren mayor, perawatan

diberikan dengan pemberian obat untuk penyembuhan ulser dan diinstruksikan cara pencegahan.

Bagi pasien yang mengalami SAR akibat trauma pengobatan tidak diindikasikan6.

Pasien yang menderita SAR dengan kesakitan yang sedang atau parah, dapat diberikan

obat kumur yang mengandung benzokain dan lidokain yang kental untuk menghilangkan rasa

sakit jangka pendek yang berlangsung sekitar 10-15 menit. Bagi menghilangkan rasa sakit yang

berlangsung sehingga enam jam, dapat diberikan zilactin secara topikal. Zilactin dapat lengket

pada ulser dan membentuk membran impermeabel yang melindungi ulser dari trauma dan iritasi

lanjut. Dapat juga diberikan ziladent yang juga mengandung benzokain untuk topikal analgesia.

Selain itu, dapat juga menggunakan larutan betadyne secara topikal dengan efek yang sama.

Dyclone digunakan sebagai obat kumur tetapi hanya sebelum makan dan sebelum tidur.

Aphthasol merupakan pasta oral amlexanox yang mirip dengan zilactin yang digunakan untuk

mengurangi rasa sakit dengan membentuk lapisan pelindung pada ulser5,6.

Bagi mempercepat penyembuhan ulser, glukokortikoid, baik secara oral atau topikal

adalah andalan terapi. Topikal betametason yang mengandung sirup dan fluocinonide ointment

dapat digunakan pada kasus SAR yang ringan. Pemberian prednison secara oral ( sampai 15 mg /

hari) pada ksaus SAR yang lebih parah. Hasil terapeutik dalam dilihat dalam satu minggu. Karena
penyebab SAR sulit diketahui maka pengobatannya hanya untuk mengobati keluhannya saja.

Perawatan merupakan tindakan simtomatik dengan Thalidomide adalah obat hipnotis yang

mengandung imunosupresif dan anti-inflamasi. Obat ini telah digunakan dalam pengobatan

stomatitis aftosa rekuren mayor, sindrom Behcet, serta eritema nodosum. Namun, resiko pada

teratogenesis telah membatasi penggunaannya5.

Klorheksidin adalah obat kumur antibakteri yang mempercepatkan penyembuhan ulser

dan mengurangi keparahan lesi SAR. Selain itu, tetrasiklin diberikan sesuai dengan efek anti

streptokokus, tetrasiklin 250mg dalam 10 cc sirup direkomendasikan sebagai obat kumur, satu

kali sehari selama dua minggu. Levamisol telah dianjurkan sebagai perawatan yang mungkin

untuk SAR, namun oleh karena efek samping immunostimulatornya, pemakaian obat ini kurang

diindikasikan5.

Pemberian obat-obatan tertentu yang tidak diperbolehkan hanya dapat merusak jaringan

normal disekeliling ulser dan bila pemakaiannya berlebihan maka akan mematikan jaringan dan

dapat memperluas ulser5.

KESIMPULAN

Pada kasus diatas dapat didiagnosis pasien mengalami Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR)

Minor karena ditemukan didaerah arcus palatoglossus ulser berbentuk oval, dangkal, berwarna

putih kekuningan dengan pinggir eritematous, berukuran 4 mm dan terasa tidak nyaman

karena terasa sakit saat membuka mulut atau makan dan minum makanan yang panas dan dingin.

Penyebab Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Minor tidak diketahui secara pasti tetapi faktor

predisposisi pada kasus ini disebabkan oleh gangguan hormonal pada masa menstruasi karena

pasien sedang mengalami menstruasi dan sering berulang ulang setiap akan menstruasi. Terapi

yang diberikan pada pasien adalah edukasi, instruksi dan pengobatan. Menemukan dan
melakukan eliminasi atau perbaikan seluruh faktor predisposisi akan menurunkan frekuensi dan

keparahan lesi SAR.


DAFTAR PUSTAKA

1. Ilia Volkov, Inna Rudoy, Roni Peleg, and Yan Press. Successful treatment of recurrent
aphthous stomatitis of any origin with vitamin B12 (irrespective of itsblood level): [internet].
Available from: http://www.ispub.com
2. Porter S, Scully C. 2004. Apthous Ulcers (recurrent). Clin Evid. 2.
3. Arma, U.2009. Ilmu Penyakit Mulut. Padang: Universitas Baiturrahmah.
4. Langlais, R. P. 2000. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang Lazim. Jakarta:
Hipokrates. Hlm: 94.
5. Banuarea, THP. 2009. Prevalensi Terjadinya Stomatitis Aphtosa Rekuren (SAR) Pada
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara Yang Berpengalaman SAR. Medan : Universitas
Sumatera Utara.
6. Lewis MAO, Lamey PJ. Tinjauan klinis penyakit mulut. Jakarta: Widya Medika; 1998. p.48-
49.
7. Katherinearta. Stomatitis Apthosa Rekuren. Available from:
http://one.indoskripsi.com/click/9141/. Akses 02 Januari 2011
8. Apriasari ML, Tuti H. Stomatitis aftosa rekuren oleh karena anemia. Dentofasial Jurnal
Kedokteran Gigi 2010; 9(1) : 44-45
9. Penyebab trauma di rongga mulut. Available from: http://www.ayahbunda.com. Akses 20
Desember 2010.
10. Greenberg, Glick, Ship. Burkets Oral Medikine 11th ed. 2008.
11. McLeod I. Practical Oral Medikine. 2006.
12. Cawson RA, Odell EW. Essentials of Oral Pathology and Oral Medikine 7th ed.