Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

SIMBOL MATERIAL HAZARD

DISUSUN OLEH :

RANDI SONATA WERI

BUKU POKOK :

1512006

POLITEKNIK ATI PADANG

KESEHETAN DAN KESELAMATAN KERJA

ANGKATAN 2015/2016
BAB 1

PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang

Pengenalan terhadap bahan kimia merupakan hal yang sangat penting dan suatu keharusan
bagi siapa saja yang berada dalam lingkungan bahan kimia (laboratoriumatau gudang kimia) atau
yang akan mengemas, menggunakan, atau memperlakukan bahan kimia itu dalam pekerjaan
tertentu.

Wujud bahan kimia dapat berupa padatan, cairan maupun gas. Bahan kimia berwujud
padatan dapat bersifat higroskopis seperti NaOH, KSCN, atau bersifat mudah
menguap/menyublim seperti (NH4)2CO3, C10H8 (naphthalene), atau bersifat peka terhadap

cahaya seperti KMnO4, AgNO3, atau bersifat peka terhadap air seperti logam Na, K, atau bersifat

peka terhadap udara/oksigen seperti fosfor.

Bahan kimia berwujud cairan dapat bersifat mudah menguap seperti CHCl 3, CH3COCH3

(acetone), HCl, atau mudah terbakar seperti CH3OH, C6H14 (hexane). Sedangkan bahan kimia

berwujud gas seperti gas H, He, N2.

Sifat bahan kimia terbagi sifat fisis dan sifat kimia. Sifat-sifat ini meliputi wujud, warna,
bau, berat jenis, titik didih, titik lebur, titik nyala, titik bakar, viskositas, higroskopis, kelarutan
dalam air, rumus molekul, dsb. Sebagian bahan kimia merupakan pencemar bagi lingkungan,
sebagian ada yang bersifat mudah terbakar, mudah meledak, korosif, racun, merusak organ tubuh,
atau meracuni organisme.

I.2. Tujuan

Mahasiswa mengenal simbol-simbol bahan kimia berdasarkan sifat dan bahayanya.


BAB II

SIMBOL DAN LABEL BAHAN KIMIA

Referensi Teori

Simbol bahaya digunakan untuk pelabelan bahan-bahan berbahaya menurut Peraturan


tentang bahan berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances). Peraturan tentang bahan
berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances) adalah suatu aturan untuk melindungi/menjaga
bahan-bahan berbahaya dan terutama terdiri dari bidang keselamatan kerja. Arah Peraturan tentang
Bahan Berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances) untuk klasifikasi, pengepakan dan
pelabelan bahan kimia adalah valid untuk semua bidang, area dan aplikasi, dan tentu saja, juga
untuk lingkungan, perlindungan konsumer dan kesehatan manusia.

Bahan berbahaya adalah bahan-bahan yang pembuatan, pengolahan, pengangkutan,


penyimpanan dan penggunaanya menimbulkan atau membebaskan debu, kabut, uap, gas, serat,
atau radiasi sehingga dapat menyebabkan iritasi, kebakaran, ledakan, korosi, keracunan dan
bahaya lain dalam jumlah yang memungkinkan gangguan kesehatan bagi orang yang
berhubungan langsung dengan bahan tersebut atau meyebabkan kerusakan pada barang-barang.
Bahan kimia banyak digunakan dalam lingkungan kerja yang dapat dibagi dalam tiga kelompok
besar yaitu :

Industri Kimia, yaitu industri yang mengolah dan menghasilkan bahan-bahan kimia,
diantaranya industri pupuk, asam sulfat, soda, bahan peledak, pestisida, cat , deterjen, dan lain-
lain. Industri kimia dapat diberi batasan sebagai industri yang ditandai dengan penggunaan
proses-proses yang bertalian dengan perubahan kimiawi atau fisik dalam sifat-sifat bahan
tersebut dan khususnya pada bagian kimiawi dan komposisi suatu zat.

Industri Pengguna Bahan Kimia, yaitu industri yang menggunakan bahan kimia sebagai bahan
pembantu proses, diantaranya industri tekstil, kulit, kertas, pelapisan listrik, pengolahan logam,
obat-obatan dan lain-lain.

Laboratorium, yaitu tempat kegiatan untuk uji mutu, penelitian dan pengembangan serta
pendidikan. Kegiatan laboratorium banyak dipunyai oleh industri, lembaga penelitian dan
pengembangan, perusahaan jasa, rumah sakit dan perguruan tinggi.

Dalam lingkungan kerja tersebut, banyak bahan kimia yang terpakai tiap harinya sehingga
para pekerja terpapar bahaya dari bahan-bahan kimia itu. Bahaya itu terkadang meningkat dalam
kondisi tertentu mengingat sifat bahan-bahan kimia itu, seperti mudah terbakar, beracun, dan
sebagainya. Dengan demikian, jelas bahwa bekerja dengan bahan-bahan kimia mengandung
risiko bahaya, baik dalam proses, penyimpanan, transportasi, distribusi, dan penggunaannya.
Akan tetapi, betapapun besarnya bahaya bahan-bahan kimia tersebut, penanganan yang benar
akan dapat mengurangi atau menghilangkan risiko bahaya yang diakibatkannya.

Berikut adalah beberapa definisi yang dapat digunakan untuk memahami tentang masalah hukum :

1. Bahan/zat adalah unsur atau senyawa kimia bagaimana terjadinya di alam atau diproduksi
dengan cara sintesis (misalnya asbes, bromin, etanol, timbal, dll)

2. Formulasi adalah paduan, campuran atau larutan dari dua bahan atau lebih (misalnya cat,
larutan formaldehid dll)

3. Produk adalah bahan/zat atau formulasi yang diperoleh atau terbentuk selama proses
produksi. Sifat-sifat ini lebik menentukan fungsi produk daripada komposisi kimianya.

Bahan berbahaya yang didefinisikan di atas memiliki satu sifat atau lebih yang ditandai dengan
simbol-simbol bahaya. Simbol bahaya adalah piktogram dengan tanda hitam pada latar belakang
orange, kategori bahaya untuk bahan dan formulasi ditandai dengan simbol bahaya, yang terbagi
dalam:

1. Resiko kebakaran dan ledakan (sifat fisika-kimia)

2. Resiko kesehatan (sifat toksikologi) atau

3. Kombinasi dari keduanya.

Penandaan dan pemberian label terhadap jenis-jenis bahan kimia diperlukan untuk dapat
mengenal dengan cepat dan mudah sifat bahaya dari suatu bahan kimia. Mengenal dengan label ini
amat penting dalam penanganannya, transportasi dan pengimpanan bahan-bahan atau pergudangan.

1. LABEL ATAU SIMBOL BAHAYA

Label dan simbol bahaya bahan-bahan kimia serta cara penanganan secara umum
sebagai berikut :

a. Explosive (bersifat mudah meledak)


Bahaya : eksplosif pada kondisi tertentu

Contoh : amonium nitrat, nitrodelulosa

Keamanan : hindari benturan, gesekan, loncatan api dan panas.

Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya explosive dapat meledak
dengan pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain. Ledakan akan
dipicu oleh suatu reaksi keras dari bahan. Energi tinggi dilepaskan dengan propagasi
gelombang udara yang bergerak sangat cepat. Resiko ledakan dapat ditentukan dengan metode
yang diberikan dalam Law for Explosive Substances Di laboratorium, campuran senyawa
pengoksidasi kuat dengan bahan mudah terbakar atau bahan pereduksi dapat meledak . Sebagai
contoh, asam nitrat dapat menimbulkan ledakan jika bereaksi dengan beberapa solven seperti
aseton, dietil eter, etanol, dll. Produksi atau bekerja dengan bahan mudah meledak memerlukan
pengetahuan dan pengalaman praktis maupun keselamatan khusus. Apabila bekerja dengan
bahan-bahan tersebut kuantitas harus dijaga sekecil/sedikit mungkin baik untuk penanganan
maupun persediaan/cadangan. Frase-R untuk bahan mudah meledak : R1, R2 dan R3.

Bahan kimia bersifat dapat meledak dengan adanya panas, percikan bunga api,
guncangan atau gesekan. Misal KClO3, NH4NO3, C6H2(NO2)3CH3.

b. Oxidizing (pengoksidasi)

Bahaya : oksidator dapat membakar bahan lain, penyebab timbulnya api atau penyebab
sulitnya pemadaman api
Contoh : hidrogen peroksida, kalium perklorat

Keamanan : hindari panas serta bahan mudah terbakar dan reduktor

Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya oxidizing biasanya
tidak mudah terbakar. Tetapi bila kontak dengan bahan mudah terbakar atau bahan sangat
mudah terbakar mereka dapat meningkatkan resiko kebakaran secara signifikan. Dalam
berbagai hal mereka adalah bahan anorganik seperti garam (salt-like) dengan sifat pengoksidasi
kuat dan peroksida-peroksida organik. Frase-R untuk bahan pengoksidasi : R7, R8 dan R9.
Misal KMnO4, H2O2, K2Cr2O7.

c. Flammable (mudah

terbakar)

Bahaya : mudah terbakar

Meliputi :

1. Zat terbakar langsung, contohnya aluminium alkil fosfor, keamanan : hindari campuran
dengan udara.

2. Gas amat mudah terbakar. Contoh : butane, propane. Keamanan : hindari campuran
dengan udara dan hindari sumber api.

3. Zat sensitive terhadap air, yakni zat yang membentuk gas mudah terbakar bila kena air
atau api.

4. Cairan mudah terbakar, cairan dengan titik bakar di bawah 21C. contoh : aseton dan
benzene. Keamanan : jauhkan dari sumber api dan loncatan bunga api.

Jenis bahaya flammable dibagi menjadi dua yaitu Extremely flammable (amat sangat mudah
terbakar) dan Highly flammable (sangat mudah terbakar). Untuk Bahan-bahan dan formulasi
yang ditandai dengan notasi bahaya extremely flammable merupakan liquid yang memiliki

titik nyala sangat rendah (di bawah 0oC) dan titik didih rendah dengan titik didih awal (di

bawah +35oC). Bahan amat sangat mudah terbakar berupa gas dengan udara dapat membentuk
suatu campuran bersifat mudah meledak di bawah kondisi normal. Frase-R untuk bahan amat
sangat mudah terbakar adalah R12. Sedangkan untuk Bahan dan formulasi ditandai dengan
notasi bahaya highly flammable adalah subyek untuk self-heating dan penyalaan di bawah

kondisi atmosferik biasa, atau mereka mempunyai titik nyala rendah (di bawah +21oC).
Beberapa bahan sangat mudah terbakar menghasilkan gas yang amat sangat mudah terbakar di
bawah pengaruh kelembaban. Bahan-bahan yang dapat menjadi panas di udara pada temperatur
kamar tanpa tambahan pasokan energi dan akhirnya terbakar, juga diberi label sebagai highly
flammable. Frase-R untuk bahan sangat mudah terbakar yaitu R11

d. Toxic (beracun)

Bahaya : toksik berbahaya bagi kesehatan bila terhisap, tertelan atau kontak dengan
kulit, dan dapat mematikan.

Contoh : arsen triklorida, merkuri klorida.

Kemananan : hindari kontak atau masuk dalam tubuh, segera berobat ke dokter bila
kemungkinan keracunan.

Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya toxic dapat menyebabkan kerusakan
kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat tinggi jika masuk ke tubuh
melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit.

Suatu bahan dikategorikan beracun jika memenuhi kriteria berikut:

- LD50 oral (tikus) 25 200 mg/kg berat badan


- LD50 dermal (tikus atau kelinci) 50 400 mg/kg berat badan

- LC50 pulmonary (tikus) untuk aerosol /debu 0,25 1 mg/L

- LC50 pulmonary (tikus) untuk gas/uap 0,50 2 mg/L

Frase-R untuk bahan beracun yaitu R23, R24 dan R25

e. Harmful irritant (bahaya, iritasi)

Kode Xn (Harmful)

Bahaya : menimbulkan kerusakan kecil pada tubuh

Contoh : peridin

Kemanan : hindari kontak dengan tubuh atau hindari menghirup, segera berobat ke
dokter bila kemungkinan keracunan.

Kode Xi (irritant)

Bahaya : iritasi terhadap kulit, mata, dan alat pernapasan

Contoh : ammonia dan benzyl klorida

Keamanan : hindari terhirup pernapasan, kontak dengan kulit dan mata.


Ada sedikit perbedaan pada symbol ini yaitu dibedakan dengan kode Xn dan Xi. Untuk
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan kode Xn memiliki resiko merusak kesehatan sedangkan
jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit.

Suatu bahan dikategorikan berbahaya jika memenuhi kriteria berikut:

- LD50 oral (tikus) 200-2000 mg/kg berat badan

- LD50 dermal (tikus atau kelinci) 400-2000 mg/kg berat badan

- LC50 pulmonary (tikus) untuk aerosol /debu 1 5 mg/L

- LC50 pulmonary (tikus) untuk gas/uap 2 20 mg/L

Frase-R untuk bahan berbahaya yaitu R20, R21 dan R22.

Sedangkan Bahan dan formulasi dengan notasi irritant atau kode Xi adalah tidak korosif
tetapi dapat menyebabkan inflamasi jika kontak dengan kulit atau selaput lendir. Frase-R untuk
bahan irritant yaitu R36, R37, R38 dan R41.

f. Corrosive (korosif)

Bahaya : korosif atau merusak jaringan tubuh manusia

Contoh : klor, belerang dioksida

Keamanan : hindari terhirup pernapasan, kontak dengan kulit dan mata

Bahan dan formulasi dengan notasi corrosive adalah merusak jaringan hidup. Jika suatu
bahan merusak kesehatan dan kulit hewan uji atau sifat ini dapat diprediksi karena karakteristik
kimia bahan uji, seperti asam (pH <2 atau pH>11,5), ditandai sebagai bahan korosif. Frase-R untuk
bahan korosif yaitu R34 dan R35. Bahan kimia bersifat korosif, dapat merusak jaringan hidup,
menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal bahkan dapat menyebabkan kulit mengelupas. Misal
H2SO4, HNO3, HCl.
g. Dangerous for Enviromental (Bahan berbahaya bagi lingkungan)

Bahaya : bagi lingkungan, gangguan ekologi

Contoh : tributil timah klorida, tetraklorometan, petroleum bensin

Keamanan : hindari pembuangan langsung ke lingkungan

Bahan dan formulasi dengan notasi dangerous for environment adalah dapat menyebabkan efek
tiba-tiba atau dalam sela waktu tertentu pada satu kompartemen lingkungan atau lebih (air, tanah,
udara, tanaman, mikroorganisma) dan menyebabkan gangguan ekologi. Frase-R untuk bahan
berbahaya bagi lingkungan yaitu R50, R51, R52 dan R53. Bahan kimia bersifat berbahaya bagi satu
atau beberapa komponen dalam lingkungan kehidupan. Misal AgNO3, Hg2Cl2, HgCl2.

2. RANKING DAN SIMBOL BAHAYA BAHAN KIMIA

Adapun ranking dan simbol bahaya bahan kimia menurut NFPA-Amerika, sebagai berikut.

BAHAYA BAHAYA
BAHAYA
KESEHATAH REAKTIVITAS
RANGKING KEBAKARAN(FIRE)
(HEALTH) (REACTIVITY)
(Kotak atas, merah)
(kotak kiri, biru) (Kotak kanan, kuning)
Penyebab kematian, Segera menguap dalam Mudah meledak atau
cedera fatal meskipun keadaan normal dan diledakkan, sensitif
4 ada pertolongan dapat terbakar secara terhadap panas dan
cepat. mekanik.
Berakibat serius pada Cair atau padat Mudah meldak tetapi
keterpaan singkat, dinyatakan pada suhu memerlukan penyebab
3 meskipun ada biasa. panas dantumbukan
pertolongan. kuat.
Keterpaan intensif dan Perlu sedikit pemanasan Tidak stabil, bereaksi
terus menerus berakibat sebelum bahan dapat hebat tetapi tidak
2 serius, kecuali ada dibakar. meledak.
pertolongan
Penyebab iritasi atau Dapat dibakar, tetapi Stabil pada suhu
1 cedera ringan memerlukan pemanasan
lebih dahulu.
normal, tetapi tidak
stabil pada suhu tinggi.
Tidak berbahaya Bahan tidak dapat Stabil, tidak reaktif,
terhadap kesehtah dibakar sama sekali. meskipun kena panas
0 meskipun kena atau suhu tinggi.
panas(api)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Potensi bahaya di tempat kerjaatau laboratorium yang berhubungan langsung dengan bahan-bahan
kimiayang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dapat dikelompokkan antara lain sebagai
berikut :

1. Potensi bahaya fisik, yaitu potensi bahaya yang dapat menyebabkan gangguan-
gangguan kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar, misalnya: terpapar kebisingan
intensitas tinggi, suhu ekstrim (panas & dingin), intensitas penerangan kurang
memadai, getaran, radiasi.

2. Potensi bahaya kimia,yaitu potesni bahaya yang berasal dari bahan-bahan kimia yang
digunakan dalam proses produksi. Potensi bahaya ini dapat memasuki atau
mempengaruhi tubuh tenga kerja melalui : inhalation (melalui pernafasan), ingestion
(melalui mulut ke saluran pencernaan), skin contact (melalui kulit). Terjadinya
pengaruh potensi kimia terhadap tubuh tenaga kerja sangat tergantung dari jenis bahan
kimia atau kontaminan, bentuk potensi bahaya debu, gas, uap. asap; daya acun bahan
(toksisitas); cara masuk ke dalam tubuh.

3. Potensi bahaya biologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh
kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara yang berasal dari atau bersumber pada
tenaga kerja yang menderita penyakit-penyakit tertentu, misalnya : TBC, Hepatitis A/B,
Aids,dll maupun yang berasal dari bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi.

4. Potensi bahaya fisiologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau yang disebabkan oleh
penerapan ergonomi yang tidak baik atau tidak sesuai dengan norma-norma ergonomi
yang berlaku, dalam melakukan pekerjaan serta peralatan kerja, termasuk : sikap dan
cara kerja yang tidak sesuai, pengaturan kerja yang tidak tepat, beban kerja yang tidak
sesuai dengan kemampuan pekerja ataupun ketidakserasian antara manusia dan mesin.

5. Potensi bahaya Psiko-sosial, yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh
kondisi aspek-aspek psikologis keenagakerjaan yang kurang baik atau kurang
mendapatkan perhatian seperti : penempatan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan
bakat, minat, kepribadian, motivasi, temperamen atau pendidikannya, sistem seleksi dan
klasifikasi tenaga kerja yang tidak sesuai, kurangnya keterampilan tenaga kerja dalam
melakukan pekerjaannya sebagai akibat kurangnya latihan kerja yang diperoleh, serta
hubungan antara individu yang tidak harmoni dan tidak serasi dalam organisasi kerja.
Kesemuanya tersebut akan menyebabkan terjadinya stress akibat kerja.

6. Potensi bahaya dari proses produksi, yaitu potensi bahaya yang berasal atau
ditimbulkan oleh bebarapa kegiatan yang dilakukan dalam proses produksi, yang sangat
bergantung dari: bahan dan peralatan yang dipakai, kegiatan serta jenis kegiatan yang
dilakukan.